Anda di halaman 1dari 12

RINGKASAN MATERI BAB 9

MATERIALITAS DAN RESIKO


DISUSUN OLEH

KELOMPOK 5 kelas G
ANGGOTA :
1. DHEA MEZITA PUTRI (1202112575)
2. MAYA HARYANTI (1202112557)
3. VIVID ANNISA (1202112592)

AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU

Statement of Authorship
Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa
RMK/makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri.
Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/ digunakan sebagai bahan untuk
makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan
jeals bahwa kami menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya
plagiarism.

Mata Kuliah

: Pemeriksaan Akuntansi 1

Judul RMK : MATERIALITAS DAN RESIKO


Tanggal

: 11 May 2014

Nama

1. DHEA MEZITA PUTRI (1202112575)


2. MAYA HARYANTI (1202112557)
3. VIVID ANNISA (1202112592)

Tanda Tangan :

DHEA MEZITA PUTRI


ANNISA
1202112575
1202112592

MAYA HARYANTI
1202112557

VIVID

MATERIALITAS DAN RESIKO


A. MATERIALITAS
Materialitas merupakan pertimbangan utama dalam menentukan
laporan audit yang tepat untuk diterbitkan. FSAB mendefinisikan
materialitas sebagai besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji
informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupnya dapat
mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan
orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena
adanya penghilangan atau salah saji tersebut
B. MENETAPKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL
PSA 25 (SA 312) mengharuskan auditor untuk memutuskan jumlah
gabungan salah saji dalam laporan keuangan yang akan mereka anggap
material di awal pengauditan bersamaan dengan ketika mereka
mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Kita mengacu hal
tersebut
sebagai pertimbangan
materialitas
awal.Dinamakan
pertimbangan materialitas awal, karena meskipun merupakan opini
profesional, penilaian tersebut dapat berubah selama kontrak kerja.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Penilaian
Beberapa faktor yang memengaruhi auditor dalam melakukan
pertimbangan materialitas awal dalam laporan keuangan. Hal-hal yang
sangat penting untuk diperhatikan dalam konsep materialitas adalah
sebagai berikut:
1. Materialitas merupakan konsep relatif, bukan absolut sebuah
salah saji dengan besaran tertentu dapat menjadi material bagi
suatu perusahaan kecil, sebaliknya dengan jumlah salah saji yang
sama dapat menjadi tidak material bagi perusahaan yang besar.
Sehingga tidak mungkin untuk menentukan semua acuan nilai
nominal untuk pertimbangan materialitas awal yang dapat
diterapkan untuk semua klien audit.
2. Dibutuhkan dasar untuk mengevaluasi materilaitas. Karena
materialitas adalah konsep yang relatif, sehingga sangat penting
untuk memilki dasar dalam menentukan apakah suatu jumlah
tertentu material atau tidak.
3. Faktor-faktor
kualitatif
juga
memengaruhi
materialitas. Beberapa salah saji kemungkinan menjadi lebih
penting dibandingkan salah saji lainnya bagi para pengguna
laporan, meskipun nilai nominalnya sama. Berikut contohnya:
- Jumlah yang melibatkan kecurangan biasanya dianggap lebih
penting daripada kesalahan yang tidak disengaja untuk jumlah
nominal uang yang sama karena kecurangan merefleksikan
kejujuran dan keandalan manajemen atau personel lainnya yang
terlibat.

Salah saji yang dianggap tidak penting dapat menjadi material


jika terdapat kemungkinan akibat-akibat yang ditimbulkan dari
kewajiban kontraktual tersebut.
Salah saji yang dianggap tidak maaterial dapat menjadi material
jika salah saji tersebut berpengaruh pada tren laba.

C. MENGALOKASIKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL KE


SETIAP BAGIAN (SALAH SAJI YANG DAPAT DITERIMA)
Pengalokasian pertimbangan material awal kesetiap bagian
merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena auditor
mengumpulkan bukti audit perbagian dibandingkan dengan laporan
keuangan secara keseluruhan. Jika para auditor memiliki penilaian
materialitas awal untuk setiap bagian, hal itu akan membantu mereka
dalam memutuskan bukti audit yang tepat untuk dikumpulkan.
Ketika auditor mengalokasikan pertimabngan materialitas awal pada
saldo-saldo akun, materialitas yang dialokasikan kesetiap saldo akun yang
dimaksudkan dalam PSA 25 (SA 312) sebagai salah saji yang dapat
diterima.
Auditor menghadapi tiga kesulitan utama berikut dalam menalokasikan
materialitas kedalam akun-akun neraca.
1. Auditor memperkirakanakun-akun tertentu memilki salah saji yang
lebih banyak dibandingkan dengan akun-akun lainnya.
2. Baik lebih saji maupun kurang saji harus dipertimbangkan.
3. Biaya audit relatif memengaruhi alokasi tersebut.
Ilustrasi Alokasi
Pendekatan dalam pengalokasikan yang dilakukan oleh senior, Mira
Abadi, untuk PT Perkakas Prima. Pendekatan ini mengikhtisarkan
neraca,gabungan beberapa akun, menunjukkan alokasi total materialitas
yang dilakukan oleh Mira, menggunakan penilaian dalam pengalokasian,
yang menggunakan dua ketentuan subjektif yang ditentukan oleh
Budiman, Jumadi & Rekan.
- Salah saji yang dapat diterima untuk setiap akun tidak boleh
melebihi 60 persen dari penilaian awal (60 persen dari Rp
442.000.000 = Rp 265.000.000- dibulatkan )
- Jumlah dari semua salah saji yang dapat diterima tidak boleh lebih
dari dua kali pertimbangan materialitas awal (2 x Rp. 442.000.000 =
Rp884.000.000).
Ketentuan pertama digunakan untuk memastikan agar auditor tidak
mengalokasikan semua materialitas total kedalam satu akun. Jika,
misalnya semua penilaian awal sebesar Rp442.000.000 dialokasikan pada
akun piutang dagang sa;lah saji sebesar Rp442.000.000 dalam
akuntersebut dapat diterima. Namun , salah saji yang sangat besar dalam
satu akun tersebut mungkin tidak dapat diterima, dan meskipun diterima,
hal ini menyebabkan tidak diperbolehkan adanya salah saji di akun-akun
lain.

Terdapat dua alasan untuk ketentuan kedua, yang mengizinkan


jumlah total salah saji yang dapat diterima untuk melebihi materialitas
keseluruhan.
- Tidak mungkin semua akun akan salah saji sebesar jumlah total
salah saji yang dapat diterima.
- Beberapa akun kemungkinan mengalami lebih saji, sedangkan
lainnya kemungkinan menagalami kurang saji, yang mengakibatkan
jumlah bersihyang mungkin lebih kecil daripada yang diperkirakan
dalam penilaian awal.
D. MEMPERKIRAKAN SALAH
DENGAN PENILAIAN AWAL

SAJI

DAN

MEMBANDINGKANNYA

Ketika para auditor malakukan prosedur audit untuk setiap bagian


pengauditan, mereka menyimpan kertas kerja dari semua salah saji yang
ditemukan. Salah saji dalam suatu akun dapat berbentuk satu dari dua
jenis, yaitu salahsaji yang diketahui, dan salah saji yang mungkin. Salah
saji yang diketahui adalah salah saji diman auditor dapat menentukan
jumlah salah saji dalam akun tersebut. Terdapat dua jenis salah saji
yang mungkin. Pertama, salah saji yang muncul karena adanya
perbedaan antara penilaian manajemen dan penilaian auditor mengenai
estimasi saldo akun. Kedua adalah proyeksi salah saji berdasarkan
pengujian auditor atas sampel yang diambil dari populasi.
E. RISIKO
Ilustrasi Terkait dengan Risiko dan Bukti Audit
Auditor menggunakan model risiko audit untuk mengidentifikasikan
lebih lanjut potensi salah saji dalam laporan keuangan secara keseluruhan
dan saldo-saldo akun tertentu, kelompok- kelompok transaksi dan
pengungkapan.
F.

MODEL RISIKO AUDIT DAN PERENCANAAN


Auditor menangani risiko dalam perencanaan bukti audit umumnya
dengan menggunakan model risiko audit. Model ini berasal dari
literatur profesional dalam PSA 26 (SA 350) tentang pengujian sampel
audit dan dalam PSA 25 (SA 312) tentang materialitas dan risiko.
Model risiko audit membantu auditor untuk menentukan seberapa banyak
dan jenis bukti apakah yang harus dikumpulkan auditor untuk setiap
siklusnya.

G. JENIS-JENIS RISIKO
Masing-masing dari keempat risiko dalam model audit cukup
penting untuk dibahas secara terperinci.
1. Risiko Deteksi yang Direncanakan ( Planned Detection Risk)

Risiko deteksi yang direncanakan merupakan risiko dimana


bukti audit untuk suatu bagian tidak mampu mendeteksi salah saji
yang melebihi salah saji yang dapat diterima.
Risiko deteksi yang direncanakan menentukan jumlah bukti
substantif yang direncanakan dikumpulkan oleh auditor, yang
berbanding
terbalik
dengan
ukuran
risiko
deteksi
yang
direncanakan. Jika risiko audit yang direncanakan dikurangi, maka
auditor harus mengumpulkan lebih banyak bukti audit untuk
mencapai pengurangan risiko yang direncanakan.
2. Risiko Bawaan ( Inherent Risk)
Risiko bawaan mengukur penilaian auditor atas kemungkinan
terdapatnya salah saji material (baik kecurangan maupun
kesalahan)
dalam
sebuah
bagian
pengauditan
sebelum
mempertimbangkan efektivitas pengendalian internal klien. Jika
auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan salah saji adalah tinggi.
Risiko bawaan berbanding terbalik dengan risiko deteksi yang
direncanakan dan berbanding lurus dengan bahan bukti.
3. Risiko Pengendalian (Control Risk)
Risiko pengendalaian mengukur penilaian auditor mengenai
apakah salah saji melebihi jumlah yang dapat diterima di suatu
bagian pengauditan akan dapat dicegah atau dideteksi dengan
tepat waktu oleh pengendalian internal klien.
Model risiko audit menunjukkan hubungan yang erat antara risiko
bawaan dengan risiko pengendalian. Menurut PSA 25 (SA 312) ,
gabungan
dari
risiko
pengendalian
dan
risiko
bawaan
dinamakan risiko salah saji material ( risk of material
misstatement). Auditor dapat melakukan penilaian secara
terpisah untuk risiko bawaan dan risiko pengendalian.
4. Risiko audit Yang Dapat Diterima (Acceptable Audit Risk)
Risiko audit yang dapat diterima mengukur tingkat kesediaan
auditor untuk menerima kemungkinan adanya salah saji dalam
lapooran keuangan setelah audit telah selesai dijalankan dan opini
wajar tanpa pengecualian telah diterbitkan.
Sering kali, auditor menggunakan istilah keyakinan audit (disebut
jugakeyakinan keseluruhan atau tingkat keyakinan, dibandingkan
istilah risiko audit yang dapat diterima. Keyakinan audit atau istilah
lain yang sejenis merupakan pelengkap dari risiko audit yang dapat
diterima, yaitu satu dikurangi dengan risiko audit yang dapat
diterima.
Perbedaan Antara Risiko-Risiko Dalam Model Risiko Audit
Terdapat perebedaan yang penting mengenai bagaimana auditor
menilai keempat faktor risiko dalam model risiko audit. Untuk risiko audit
yang dapat diterima, auditor memutuskan risiko yang sanggup
diterima oleh KAP bahwa terdapat salah saji dalam laporan keuangan
setelah audit diselesaikan, berdasarkan beberapa faktor terkait klien.
Risiko bawaan dan risiko pengendalian ditetapkan berdasarkan ekspektasi
atau prediksi auditor terhadap kondisi klien. Risiko deteksi sepenuhnya

sangat bergantung pada tiga faktir risiko lainnya. Risiko deteksi hanya
dapat ditentukan setelah auditor menilai ketiga risiko lainnya.
H. MENILAI RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA
Dampak Risiko Kontrak Kerja Terhadap Risiko Audit Yang Dapat
Diterima
Risiko kontrak kerja (engagement risk) adalah risiko dimana auditor
KAP akan mendapatkan masalah setelah audit diselesaikan, meskipun
laporan audit sudah benar. risiko kontrak kerja sangat terkaiterat dengan
risiko bisnis klien.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Risiko Audit
Ketika auditor memodifikasi bukti untuk risiko kontrak kerja, hal ini
dilakukan dengan mengendalikan risiko audit yang dapat diterima.
o Tingkat
ketergantungan
pengguna
eksternal
laporan
keuangan.
Ketika pengguna eksternal sangat mengandalkan laporan keuangan,
maka sangat tepat untuk menurunkan risiko audit yang dapat
diterima. Ketika laporan keuangan menjadi sangat diandalkan,
masalah sosial yang besar dapat terjadi jika salah saji yang
signifikan tetap tidak terdeteksi dalamlaporan keuangan. Beberapa
faktor berikut meruapakan indikator yang baik untuk menilai tingkat
ketergantungan para pengguna terhadap laporan keuangan.
- Ukuran klien. Umumnya, makin besar kegiatan operasi klien,
makin luas pengguna laporan keuangan.
- Distribusi kepemilikan. Laporan keuangan perusahaan publik
umumnya
diandalkan
oleh
lebih
banyak
pengguna
dibandingkan dengan perusahaan tertutup lainnya
- Sifat dan jumlah liabilitas. Ketika laporan memeilki sejumlah
besar liabilitas, kreditor yang ada atau pun para calon kreditor
dibandingkan dengan perusahaan yang memilki lebih sedikit
liabilitas.
o Kemungkinan klien akan mengalami kesulitan keuangan
setelah laporan audit diterbitkan.
Jika klien terpaksa mengumumkan kebangkrutannya atau
mengalami kerugian yang sangat besar setelah audit selesai
dilaksanankan, auditor akan mengahadapi kemungkinan yang lebih
besar untuk mempertahankan kualitas auditnya dibandingkan jika
klien tidak mengahdapi kesulitan keuangan.
- Posisi likuiditas. Jika klien terus menerus kekurangan kas dan
modal kerja, hal ini mengindikasikan adanya masalah dimasa
mendatang dalam pembayaran utang-utangnya.
- Laba rugi ditahun-tahun sebelumnya. Ketika suatu perusahaan
secara cepat mengalami penurunan laba atau peningkatan
kerugian dalam beberapa tahun, auditor harus mengenali
adanya masalah dalam kemampuan perusahaan dalam

melunasi kewajiban-kewajiban yang kemungkinan akan


dihadapi oleh klien.
- Metode
pertumbuhan
pembiayaan.
Makin
tinggi
ketegantungan
klien
terhadap
utang
sebagai
alat
pembiayaan, makin besar risiko kegagalan keuangan jika
kegiatan operasi klien mengalami penurunan.
- Sifat kegiatan operasi klien. Beberapa jenis bisnis secara
alamiah lebih berisiko dibandingkan dengan bisnis lainnya.
- Kompetensi manajemen. Manajemen yang kompeten secara
terus menerus akan mewaspadai adanya potensi kesulitan
keuangan dan memodifikasinya dengan berbagai metode
operasi untuk meminimalkan pengaruh dari masalah jangka
pendek.
o Evaluasi auditor terhadap intergritasmanajemen
Perusahaan- perusahaan dengan integritas yang rendah sering kali
menjalankan aktivitas bisnis mereka dengan cara-cara yang dapat
menimbulkan konflik dengan para pemgang sahamnya, pemerintah
dan pelanggannya. Pada akhirnya konflik tersebut sering kali
tercermin dalam persepsi pengguna terhadap kualitas audit dan
dapat mengakibatkan adanya tuntutan hukum dan ketidak setujuan
lainnya.
Membuat keputusan risiko audit yang dapat diterima
Untuk menilai risiko audit yang dapat diterima, auditor pertama kali
harus menilai setiap faktor yang memengaruhi risiko audit yang dapat
diterima. Evaluasi yang biasanya dilakukan untuk risiko audit yang dapat
diterima adalah tinggi, sedang, atau rendah, dimana risiko audit yang
dapat diterima rendah berarti bagi klien yang berisiko harus
mendapatkan bukti yang lebih banyak, penugasan staf audit yang lebih
berpengalaman, dan/ atau penelaahan yang lebih mendalam atas
dokumentasi audit.
I.

MENILAI RISIKO BAWAAN (INHEREN)

Masuknya risiko bawaan dalam model risiko audit merupakan salah satu
konsep penting dalam pengauditan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko bawaan
Auditor harus meniali faktor-faktor yang menyusun risiko dan
memodifikasi bukti audit yang akan dijadikan bahan pertimbangan.
Auditor harus mempertimbangkan beberapa faktor utama berikut ketiak
menilai risiko pengendalian.
- Sifat bisnis klien. Risiko bawaan untuk beberapa akan
dipengaruhi oleh sifat bisnis klien.
- Hasil pengauditan sebelumnya. Salah saji yang ditemukan
dalam pengauditan tahun sebelumnya memiliki kecenderungan
untuk terjadi lagi dalam audit tahun berjalan, karena banyak jenis
salah saji yang bersifat sistemis, dan perusahaan cenderung lambat
dalam melakukan perusahaan untuk menghilangkan kesalahan
tersebut.

Kontrak kerja yang pertama atau kontrak kerja yang


berulang. auditor mendapatkan pengalaman dan pengetahuan
atas kemungkinan salah saji setelah mengaudit suatu klien selama
beberapa tahun.
Pihak-pihak yang terkait. Transaksi antara induk dan anak
perusahaan, dan antara manajemen dengan entitas perusahaan,
merupakan contoh transaksi dengan pihak-pihak yang istimewa
sebagaimana yang didefinisikan dalam PSAK 57.
Transaksi nonrutin. Transaksi yang tidak biasa bagi klien
cenderung untuk dicatat dengan tidak benar dibandingkan dengan
transaksi yang sifatnya rutin karena sering kali tidak memiliki
pengalaman dalam mencatat transaksi yang tidak biasa tersebut.
Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo akun
dan transaksi dengan benar. Banyak saldo akun seperti
penyisihan piutang tak tertagih, persediaan yang usang, liabilitas
garansi, perbaikan besar dibandingkan dengan penggantian
sebagian atas aset-aset, dan kerugian cadangan pinjaman bank
yang memerlukan banyak penilaian manajemen dan estimasi.
Unsur-unsur populasi. Setiap unsur yang membentuk populasi
juga memengaruhi espektasi auditor terhadap salah saji
material.sebagian auditor menetapkan resiko bawaan yang tinggi
untuk akun piutang dahang yang sebagian besar saldonya melebihi
tanggal tempo di bandingkan dengan jika saldonya sebagian besar
belum jatuh tempo.
Faktor-faktor yang berterkaitan dengan pelaporan keuangan
yang curang dan penyalahgunaan aset. Resiko kecurangan
dapat di ukur untuk keseluruhan pengauditan atau persiklus akun
dan tujuannya, sebagai contoh, adanya insentif yang kuat untuk
manajemen untuk mencapai espektasi laba yang telalu agresif
dapat memengaruhi penaguditan secara keseluhan, sedangkan
kerentanan persediaan untuk di curi hanya akan berpengaruh pada
akun persediaan.

Membuat keputusan risiko bawaan


Auditor harus mengevaluasi informasi yang dapat memengaruhi resiko
bawaan dan memengaruhi faktor resiko bawaan yang tepat untuk setiap
siklus, akun dan untuk setiap tujuan audit.
Mendapatkan informasi untuk menilai risiko bawaanAuditor mulai
melakuka penilaian atas resiko bawaan selama fase perencanaa dan
memperbarui penilaian tersebut di sepanjang pengauditan.
J.

HUBUNGAN RISIKO DENGAN BUKTI AUDIT DAN FAKTOR-FAKTOR


YANG MEMENGARUHI RISIKO
Umumnya auditor menangani resiko dengan cara mengubah keluasan
pengujian dan jenis prosedur audit, termasuk menerapkan ketidakpastian
dalam prosedur audit yang di gunakan.Selain melakukna modifikasi buikti
audit,terdapat dua cara lain dimana auditor dapat mengubah auditnya
untuk menangani resiko-resiko.

1. Konrak kerja munkin memerlukan lebih banyak staf yang


berpengalaman. KAP harus menugaskan staf yang kompoten dalam
semua kontrak kerja.untuk klien dengan resiko audit yang dapat
diterima rendah, perhatian khusus sangat tepat di berikan pada
penugasan staf, dan pentingnya skeptisme profesional harus di
tekankan.
2. Kontrak kerja harus di telah dengan hati-hati dari pada biasanya.KAP
harus yaki bahwa penelahan yang memadai atas arsip-arsip audit
yang mendokumentasikan perencanaan auditor, pengumpulan bukti
dan pengumpulan bukti dan kesimpulankesimpulan dan hal-hal
dalam pengauditan.jika resiko audit yang dapat diterima rendah,
penelahan yang lebih meluas sering kali sangat diperlukan,
termasuk penelahan yang dilakukan oleh personel yang tidak di
tugaskan dalam konrak kerja tersebut. jika resiko salah saji material
(gabungan antara resiko pengendalain dengan resiko bawaan)
adalah
tinggi
untuk
beberapa
akun,
besar
kemungkian
menelahharus meluangkan lebuh banyak waktu untuk meyakinkan
bahwa bukti auditnya sudah tepat dan sudah di evaluasi dengan
benar.
Resiko Audit Untuk Setiap Bagian
Resiko audit yang dapat di terima biasnya di ukur oleh auditor selam fase
perencanaan dan tetap konstan untuk setiap siklus dan akun
utama,.auditor biasanya menggunakaan resiko audit yang dapa di terima
yang sama untuk setiap bagian karena faktor-faktor memengaruhi resiko
audityang dapat diterima terkait dengan keseluruhan pengauditan, bukan
pada masing-masing akun.sebagai contoh, tingkat ketergantungan para
pengguna external yang tinggi terhadap laporan keuangan biasanya
terkait dengan laporan keuangan secara keseluruhan, bukan hanya bsatu
atau dua akun saja.
Menghubungkan Salah Saji dan Resiko Yang Dapat Diterima
dengan Tujuan Audit Terkait Saldo
Merupakan suatu hal yang umum dalam praktinya untuk mengukur resiko
bawaan dan resiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait saldo,
namun tidak laim untuk mengalokasikan materialitas ke dalam setiap
tujuan tersebut.
Keterbatasan dalam Pengukuran
Salah satu kekurangan dalam penerapan model resiko audit adalah
kesulitan dalam pengukuran komponen-kemponen resiko dalam model
tersebut.
Pengujian Terperinci Kertas Kerja Perencanaan-Bukti
Dalam prakteknya auditor mengembangkan beragam kertas kerja untuk
membantu
dalam
mengaitkan
pertimbangan-pertimbangan
yang
memengaruhi bukti audit dengan pengumpulan bukti yang tepat.

Salah saji yang dapat diterima .pengukuran materialitas awal


ditetapkan sebesar Rp442.000.000 (sekitar 6 persen dari laba
operasi Rp7.370.000.)ia mengalokasikan Rp265.000.000 untuk audit
atas piutang dagang .
Risiko audit yang dapat diterima.Mira menilai risiko audit yang dapat
diterima tinggi karena kondisi keuangan perusahan yang baik
,integritas manajemen yang tinggi ,dan pengguna laporan keuangan
yang relatif sedikit jumlah nya.
Risiko bawaan. Mira menilai risiko bawaan sedang untuk tujuan nilai
keberadaan dan pisah batas, karena perhatian utamanya pada
pengakuan pendapatan.

K. HUBUNGAN ANTARA
BUKTI AUDIT

RISIKO

DAN

MATERIALITAS

DENGAN

Konsep materialitas dan resiko dalam udit sangat berkaitan erat dan tidajk
dapt di pisahkan.Resiko merupakan ukuran atas ketidakpasian. Sedangkan
materialitas merupakan ukuran besaran atau tinggi rendahny.bersamasama keduanya mengukur jumlah ketidakpastian dala suatu besaran
tertentu.
L. MENGEVALUASI HASIL
Setelah auditor melakukan perencanaan penugasan dan mengumpulkan
bukti audit, hasil-hasil audit dapat dinyatakan dalam sejumlah istilah dari
versi evaluasi atas model risiko audit. Antara lain:
AcAR = IR x CR x AcDR
Dimana:
AcAR = Risiko audit yang dicapai (Achieved Audit Risk )
Yaitu sebuah ukuran risiko yang diambil audit bahwa satu akun dalam
L/K secara material salah saji setelah auditor mengumpulkan bahan
bukti audit.
IR
= Risiko bawaan ( Inherent Risk )
Yaitu faktor risiko bawaan yang telah dibahas dalam perencenaan
kecuali telah direvisi sebagai hasil dari informasi baru.
CR = Risiko pengendalian ( Control Risk )
Yaitu risiko pengendalian yang sama yang telah dibahas kecuali telah
direvisi selama audit.
AcDR = Risiko penemuan yang dicapai ( Achieved Detection Risk )
Yaitu sebuah ukuran dari risiko bahwa bukti audit untuk suatu segmen
tidak mendeteksi salah saji melebihi jumlah yang dapat ditoleransi, jika
salah saji tersebut ada. Auditor dapat mengurangi risiko deteksi yang
dicapai hanya dengan mengumpulkan bahan bukti.

Rumusan itu menunjukan bahwa terdapat tiga cara utnuk mengurangi


tingkat risiko audit yang tercapai hingga mencapai suatu tingkat risiko
yang dapat diterima:
1. Mengurangi risiko bawaan. Karena risiko bawaan dinilai oleh
auditor berdasarkan kondisi klien, penilaian ini diselesaikan selama
perencanaan dan biasanya tidak berubah kecuali fakta-fakta baru
terbuka saat audit berjalan.
2. Mengurangi risiko pengendalian. Risiko pengendalian yang
dinilai, dipengaruhi oleh pengendalian internal dari klien dan
pengujian auditor terhadap pengendalian itu.
3. Mengurangi risiko deteksi dengan meningkatkan uji audit
substantif. Auditor mengurangi risiko deteksi yang dicapai dengan
mengumpulkan bukti menggunakan prosedur analitis, tes
substantive dari transaksi dan tes dari rincian saldo.
Merevisi Risiko dan Bukti
Model risiko audit adalah sebuah model perencanaan dan selanjutnya
dapat dipergunakan secara terbatas dalam melakukan evaluasi atas hasilhasil audit.
Dalam situasi ini auditor sebaiknya mengikuti pendekatan dua langkah,
antara lain:
1. Auditor harus merevisi penilaian awal tentang risiko yang wajar.
Adalah pelanggaran jika membiarkan penilaian awal tidak diubah
jika auditor tahu itu adalah tidak wajar.
2. Auditor harus mempertimbangkan dampak revisi tersebut terhadap
bukti
yang
diharuskan, tanpa
penggunaan
model
risiko
audit. Penelitian dalam bidang audit telah menunjukkan, jika risiko
yang direvisi digunakan dalam model risiko audit untuk menentukan
risiko deteksi yang direncanakan, yang juga telah direvisi, ada
bahaya dari tidak meningkatkannya bukti secara memadai
Referensi:
http://irwan-adab.blogspot.com/2013/12/makalah-akuntansi-materialitasdan.html

BUKU ARENS