Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

ABORTUS

Disusun Oleh :
Amelia Lestari

1410221037

Pembimbing :
dr. Harry Purwoko, SpOG, KFER

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN


KEBIDANAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
PERIODE 05 Januari 14 Maret 2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat
dan RahmatNya pula saya dapat menyelesaikan Referat ini. Adapun
penulisan Referat ini berjudul Abortus yang merupakan bagian dari
tugas Kepaniteraan Klinik di Bagian Obstetri dan Ginekologi di RSUD
Ambarawa.
Ucapan terima kasih saya kepada: dr. Hary Purwoko, SpOG
selaku pembimbing yang telah memberikan arahan hingga terselesaikan
penulisan Referat ini, dan kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penulisan Referat ini.
Saya menyadari Referat ini masih banyak kekurangan, untuk itu
saya mohon kritik maupun saran yang bersifat membangun. Sebagai
penutup semoga kiranya Referat ini dapat bermanfaat bagi kita
khususnya dan kepada dunia kesehatan pada umumnya.
Wasalammualaikum Wr. Wb

Ambarawa, Februari 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................

DAFTAR
ISI ................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................

1
2

Definisi ................................................................................................... 2
Klasifikasi ............................................................................................... 2
Etiologi ................................................................................................... 3
Patogenesis .............................................................................................. 9
Gambaran Klinis ..................................................................................... 9
Diagnosis ............................................................................................... 10
Diagnosis Banding ................................................................................ 12
Penatalaksanaan ................................................................................... 12
Pemantauan Pascaabortus ..................................................................... 14
Komplikasi ........................................................................................... 14
Prognosis ............................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN
Aborsi di dunia dan di Indonesia khususnya tetap menimbulkan banyak
persepsi dan bermacam interpretasi, tidak saja dari sudut pandang kesehatan,
tetapi juga dari sudut pandang hukum dan agama. Aborsi merupakan masalah
kesehatan masyarakat karena memberi dampak pada kesakitan dan kematian ibu.
Sebagaimana diketahui penyebab kematian ibu yang utama adalah perdarahan,
infeksi dan eklampsia.(9,10)
Diperkirakan diseluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kasus aborsi tidak
aman, 70 ribu perempuan meninggal akibat aborsi tidak aman dan 1 dari 8
kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. 95% (19 dari 20 kasus aborsi
tidak aman) dintaranya bahkan terjadi di negara berkembang. (9,10)
Di Indonesia setiap tahunnya terjadi kurang lebih 2 juta kasus aborsi,
artinya 43 kasus/100 kelahiran hidup (sensus 2000). Angka tersebut memberikan
gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup besar (Wijono 2000).
Suatu hal yang dapat kita tengarai, kematian akibat infeksi aborsi ini justru
banyak terjadi di negara-negara dimana aborsi dilarang keras oleh undangundang. (9,10)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Definisi

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin berkembang


sepenuhnya dan dapat hidup di luar kandungan dan sebagai ukuran digunakan
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.1,3,4,5
II.2

Klasifikasi
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu menurut terjadinya abortus

dan menurut gambaran klinis. Menurut terjadinya dibedakan atas abortus


spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja dan tanpa
menggunakan tindakan apa-apa sedangkan abortus provokatus adalah abortus
yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.6
Abortus provokatus dibagikan lagi menjadi abortus medisinalis atau
abortus therapeutica dan abortus kriminalis. Pada abortus medisinalis, abortus
yang terjadi adalah karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Abortus
kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak
legal

atau

tidak

berdasarkan

indikasi

medis.6

Menurut gambaran klinis abortus dapat dibedakan kepada:


a. Abortus imminens yaitu abortus tingkat permulaan (threatened
abortion) dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih
tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.5
b. Abortus insipiens (inevitable abortion) yaitu abortus yang sedang
mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah
membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri.5
c. Abortus inkomplit (incomplete abortion) yaitu jika hanya sebagian hasil
konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.5
d. Abortus komplit (complete abortion) artinya seluruh hasil konsepsi telah
keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga rahim kosong.5
e. Missed abortion adalah abortus dimana fetus atau embrio telah
meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi

hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6


minggu atau lebih.5
f. Abortus habitualis (recurrent abortion) adalah keadaan terjadinya
abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.5
g. Abortus infeksius (infectious abortion) adalah abortus yang disertai
infeksi genital.5
h. Abortus septik (septic abortion) adalah abortus yang disertai infeksi
berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinnya kedalam peredaran
darah atau peritonium.5
II.2

Etiologi

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya abortus yaitu :


a. Faktor genetik
Ada banyak sebab genetik yang berhubungan dengan abortus.
Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip dari
embrio.3Data ini berdasarkan pada 50% kejadian abortus pada trimester
pertama merupakan kelainan sitogenetik yang berupa aneuploidi yang
bisa disebabkan oleh kejadian nondisjuction meiosis atau poliploidi dari
fertilas abnormal dan separuh dari abortus kerana kelainan sitogenetik
pada trimester pertama berupa trisomi autosom.3
Triplodi ditemukan pada 16% kejadian abortus di mana terjadi
fertilisasi ovum normal oleh 2 sperma (dispermi). 3 Insiden trisomi
meningkat dengan bertambahnya usia. Trisomi (30% dari seluruh trisomi)
adalah penyebab terbanyak abortus spontan diikuti dengan sindroma
Turner (20-25%) dan Sindroma Down atau trisomi 21 yang sepertiganya
bisa bertahan sehingga lahir.3 Selain kelainan sitogenetik, kelainan lain
seperti fertilisasi abnormal iaitu dalam bentuk tetraploidi dan triploid
dapat dihubungkan dengan abortus absolut.3

Kelainan dari struktur kromosom juga adalah salah satu penyebab


kelainan sitogenetik yang berakibat aborsi dan kelainan ini sering
diturunkan oleh ibu memandangkan kelainan struktur kromoson pada pria
berdampak pada rendahnya konsentrasi sperma, infertelitas dan faktor
lainnya yang bisa mengurangi peluang kehamilan.3
Selain itu, gen yang abnormal akibat mutasi gen bisa mengganggu proses
implantasi dan mengakibatkan abortus seperti mytotic dystrophy yg
berakibat pada kombinasi gen yang abnormal dan gangguan fungsi
uterus.3 Gangguan genetik seperti Sindroma Marfan, Sindroma EhlersDanlos,

hemosistenuri

dan

pseusoxantoma

elasticum

merupakan

gangguan jaringan ikat yang bisa berakibat abortus. 3 Kelainan


hematologik seperti pada penderita sickle cell anemia, disfibronogemi,
defisiensi faktor XIII mengakibatkan abortus dengan mengakibatkan
mikroinfak pada plasenta.3
b. Faktor anatomi
Defek anatomi diketahui dapat menjadi penyebab komplikasi
obstetrik terutamanya abortus. Pada perempuan dengan riwayat abortus,
ditemukan anomali uterus pada 27% pasien.3 Penyebab terbanyak abortus
kerana kelainan anatomik uterus adalah septum uterus akibat daripada
kelainan duktus Mulleri (40-80%), dan uterus bicornis atau uterus
unicornis (10-30%).3 Mioma uteri juga bisa mengakibatkan abortus
berulang dan infertilitas akibat dari gangguan passage dan kontraktilitas
uterus.3 Sindroma Asherman bisa mengakibatkan abortus dengan
mengganggu tempat impalntasi serta pasokan darah pada permukaan
endometrium.3 Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan
aliran darah endometrium dapat juga berpengaruh. 3 Selain itu, kelainan
yang didapat misalnya adhesi intrauterin (synechia), leimioma, dan
endometriosis mengakibatkan komplikasi anomali pada uterus dan dapat
mengakibatkan abortus.6
Selain kelainan yang disebut di atas, serviks inkompeten juga
telah terbukti dapat meyebabkan abortus terutama pada kasus abortus
7

spontan.1 Pada kelainan ini, dilatasi serviks yang silent dapat terjadi
antara minggu gestasi 16-28 minggu.1 Wanita dengan serviks inkompeten
selalu memiliki dilatasi serviks yang signifikan yaitu 2cm atau lebih
dengan memperlihatkan gejala yang minimal. 1 Apabila dilatasi mencapai
4 cm atau lebih, maka kontraksi uterus yang aktif dan pecahnya membran
amnion akan terjadi dan mengakibatkan ekspulsi konsepsi dalam rahim. 1
faktor-faktor yang mengakibatkan serviks inkompeten adalah kehamilan
berulang, operasi serviks sebelumnya, riwayat cedera serviks, pajanan
pada dietilstilbestrol, dan abnormalitas anatomi pada serviks.1
Sebelum kehamilan atau pada kehamilan trimester pertama, tidak
ada metoda yang bisa digunakan untuk mengetahui bila serviks akan
inkompeten namun, setelah 14-16 minggu, USG baru dapat digunakan
untuk menilai anatomi segmen uterus bahagian bawah dan serviks untuk
melihat pendataran dan pemendekan abnormal serviks yang sesuai
dengan inkompeten serviks.1
c. Faktor endokrin
Ovulasi, implantasi dan kehamilan dini sangat bergantung pada
koordinasi sistem pengaturan hormonal martenal yang baik. Perhatian
langsung pada sistem humoral secara keseluruhan, fase luteal, dan
gambaran hormon setelah konsepsi terutamanya kadar progesteron sangat
penting dalam mengantisipasi abortus.3
Pada diabetes mellitus, perempuan dengan kadar HbA1c yang
tinggi pada trimester yang pertama akan berisiko untuk mengalami
abortus dan malformasi janin. IDDM dengan kontrol yang tidak adekuat
berisiko 2-3 kali lipat untuk abortus.3
Kadar progesteron yang rendah juga mempengaruhi resptivitas
endometrium terhadap implantasi embrio. Kadar progenteron yang rendah
diketahui dapat mengakibatkan abortus terutamanya pada kehamilan 7
minggu di mana trofoblast harus menghasilkan cukup steroid untuk
menunjang kehamilan. Pengangkatan korpus luteum pada usia 7 minggu
8

akan berakibat abortus dan jika diberikan progesteron pada pada pasien
ini, maka kehamilan dapat diselamatkan.3
Penelitian pada perempuan yang mengalami abortus berulang,
didapatkan 17% kejadian defek luteal iaitu kurangnya progesteron pada
fase luteal. Namum pada saat ini, masih blum ada metode yang bisa
terpercaya untuk mendiagnosa kelainan ini.3
Faktor humoral terhadap imunitas desidua juga berperan pada
kelangsungan kehamilan. Perubahan endometrium menjadi desidua
mengubah semua sel pada mukosa uterus.3 Perubahan morfologi dan
fungsional ini mendukung proses implantasi, proses migrasi trofoblas,
dan mencegah invasi yang berlebihan pada jaringan ibu. 3 Di sini interaksi
antara trofoblas ekstravillus dan infiltrasi leukosit pada mukosa uterus
berperan penting di mana sebahagian besar leukosit adalah large granular
cell, dan makrofag dengan sedikit sel T dan sel B. 3 Sel NK dijumpai
dalam jumlah yang banyak terutama pada endometrium yang terpapar
progesteron.3 Perannya adalah pada trimester 1 adalah akan terjadi
peningkatan sel NK untuk membunuh sel target dengan sedikit atau tiada
ekspresi HLA.3 Trofoblast ekstravillous tidak bisa dihancurkan oleh sel
NK kerana sifatnya yang cepat menghasilkan HLA1 sehingga terjadinya
invasi optimal untuk plasentasi yang optimal oleh trofoblas extravillous.3
Maka, gangguan pada sistem ini akan berpengaruh pada kelangsungan
kehamilan.
Selain itu, hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, dan sindrom
polikistik ovarium dapat merupakan faktor kontribusi pada keguguran
dengan menggangu balans humoral yang penting pada kelangsungan
kehamilan.6
d. Faktor infeksi
Ada pelbagai teori untuk menjelaskan keterkaitan infeksi dengan
kejadian abortus. Antaranya adalah adanya metabolik toksik, endotoksin,
eksotoksin, dan sitokin yang berdampak langsung pada janin dan unit
9

fetoplasenta.3 Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin dan cacat
berat sehingga janin sulit untuk bertahan hidup.3
Infeksi plasenta akan berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut
kematian janin.3 Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman
genetalia bawah yang bisa mengganggu proses implantasi. Amnionitis
oleh kuman gram positif dan gram negatif juga bisa mengakibatkan
abortus.3 Infeki virus pada kehamilan awal dapat mengakibatkan
perubahan genetik dan anatomik embrio misalnya pada infeksi rubela,
parvovirus, CMV, HSV, koksakie virus, dan varisella zoster.3
Di sini adalah beberapa jenis organisme yang bisa berdampak pada
kejadian abortus:
1) Bakteria: listeria monositogenes, klamidia trakomatis, ureaplasma
urealitikum, mikoplasma hominis, bakterial vaginosis.3
2) Virus: CMV, HSV, HIV dan parvovirus.3
3) Parasit: toksoplasma gondii, plasmodium falsifarum.3
4) Spirokaeta: treponema pallidum.3
e. Faktor imunologi
Beberapa penyakit berhubungan erat dengan kejadian abortus.
Antaranya adalah SLE dan Antiphospholipid Antibodies (aPA).3 ApA
adalah antibodi spesifik yang ditemukan pada ibu yang menderita SLE. 3
Peluang terjadinya pengakhiran kehamilan pada trimester 2 dan 3 pada
SLE adalah 75%.3 Menurut penelitian, sebagian besar abortus
berhubungan dengan adanya aPA yang merupakan antibodi yang akan
berikatan

dengan

sisi

negatif

dari

phosfolipid. 3

Selain

SLE,

antiphosfolipid syndrome (APS) dapat ditemukan pada preemklamsia,


IUGR, dan prematuritas.3 Dari international consensus workshop pada
tahun 1998, klasifikasi APS adalah:3

10

1) trombosis vaskular (satu atau lebih episode trombosis arteri, venosa


atau kapiler yang dibuktikan dengan gambaran Doppler, dan
histopatologi)3
2) komplikasi kehamilan (3 atau lebih abortus dengan sebab yang tidak
jelas, tanpa kelainan anatomik, genetik atau hurmonal/ satu atau lebih
kematian janin di mana gambaran sonografi normal/ satu atau lebih
persalinan prematur dengan gambaran janin normal dan berhubungan
dengan preeklamsia berat,atau insufisiensi plasenta yang berat)3
3) kriteria laboratorium (IgG dan atau IgM dengan kadar yang sedang
atau tinggi pada 2 kali atau lebih dengan pemeriksaan jarak lebih dari
1 atau sama dengan 6 minggu)3
4) antobodi fosfolipid (pemanjangan koagulasi fospholipid, aPTT, PT,
dan CT, kegagalan untuk memperbaikinya dengan pertambahan
dengan plasma platlet normal dan adanya perbaikan nilai tes dengan
pertambahan fosfolipid)3
aPA ditemukan 20% pada perempuan yang mengalami abortus dan
lebih dari 33% pada perempuan yang mengalami SLE. Pada kejadian
abotus berulang, ditemukan infark plasenta yang luas akibat adanya
atherosis dan oklusi vaskular.3
f. Faktor trauma
Trauma abdominal yang berat dapat menyebabkan terjadinya
abortus yang yang diakibatkan karena adanya

perdarahan, gangguan

sirkulasi maternoplasental, dan infeksi.1 Namun secara statistik, hanya


sedikit insiden abortus yang disebabkan karena trauma .1
g. Faktor nutrisi dan lingkungan
Diperkirakan 1-10% malformasi janin adalah akibat dari paparan
obat, bahan kimia atau radiasi yang umumnya akan berakhir dengan
abortus.6 faktor-faktor yang terbukti berhubungan dengan peningkatan
insiden abortus adalah merokok, alkohol dan kafein.
Merokok telah dipastikan dapat meningkatkan risiko abortus
euploid.1 Pada wanita yang merokok lebih dari 14 batang per hari, risiko
abortus adalah 2 kali lipat dari risiko pada wanita yang tidak merokok. 1
Rokok mengandung ratusan unsur toksik antara lain nikotin yang
mempunyai sifat vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta. 6
Karbon monoksida juga menurukan pasokan oksigen ibu dan janin dan
11

dapat mamacu neurotoksin.6 Meminum alkohol pada 8 minggu pertama


kehamilan dapat meningkatkan risiko abortus spontan dan anomali fetus. 1
Kadar abortus meningkat 2 kali lipat pada wanita yang mengkonsumsi
alkohol 2 kali seminggu dan 3 kali lipat pada konsumsi tiap-tiap hari
dibandingkan dengan wanita yang tidak minum.1
Mengkonsumsi kafein sekurangnya 5 gelas kopi perhari atau
500mg caffiene satu hari dapat sedikit menambah risiko abortus dan pada
mereka yang meminum lebih dari ini, risikonya meningkat secara linier
dengan tiap jumlah tambahan gelas kopi. 1 Pada penelitian lain, wanita
hamil yang mempunyai level paraxantine (metabolit kafine), risiko
abortus spontan adalah 2 kali lipat daripada kontrol.1
h. Faktor kontrasepsi berencana
Kontrasepsi oral atau agen spermicidal yang digunakan pada salep
dan jeli kontrasepsi tidak berhubungan dengan risiko abortus. 1 Namun,
jika pada kontrasepsi yang menggunakan IUD, intrauterine device gagal
untuk mencegah kehamilan, risiko aborsi khususnya aborsi septik akan
meningkat dengan signifikan.1
II.3

Patogenesis
Abortus dimulai dari perdarahan ke dalam decidua basalis yang diikuti

dengan nekrosis jaringan disekitar perdarahan.1 Jika terjadi lebih awal, maka
ovum akan tertinggal dan mengakibatkan kontraksi uterin yang akan berakir
dengan ekpulsi karena dianggap sebagai benda asing oleh tubuh. 1 Apabila
kandung gestasi dibuka, biasanya ditemukan fetus maserasi yang kecil atau tidak
adanya fetus sama sekali dan hal ini disebut blighted ovum.1
Pada abortus yang terjadi lama, beberapa kemungkinan boleh terjadi. Jika
fetus yang tertinggal mengalami maserasi, yang mana tulang kranial kolaps,
abdomen dipenuhi dengan cairan yang mengandung darah, dan degenarasi organ
internal.1 Kulit akan tertanggal di dalam uterus atau dengan sentuhan yang sangat
minimal.1 Bisa juga apabila cairan amniotik diserap, fetus akan dikompress dan
mengalami desikasi, yang akan membentuk fetus compressus.1 Kadang-kadang,
fetus boleh juga menjadi sangat kering dan dikompres sehingga menyerupai
kertas yang disebut fetus papyraceous.1

12

Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan


seluruhnya, karena vili korialis belum menembus desidua terlalu dalam;
sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu, vili korialis telah masuk agak dalam,
sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal. 6 Perdarahan yang
banyak terjadi karena hilangnya kontraksi yang dihasilkan dari aktivitas
kontraksi dan retraksi miometrium.6

II.4

Gambaran klinis
Gejala abortus berupa amenorea, sakit perut kram, dan mules-mules.1,2,3,4

Perdarahan pervaginam bisa sedikit atau banyak dilihat dari pads atau tampon
yang telah dipakai, dan biasanya berupa darah beku tanpa atau desertai dengan
keluarnya fetus atau jaringan.6 Ini penting untuk melihat progress abortus.6 Pada
abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus sering terjadi
infeksi yang dilihat dari demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus
membesar dan lembek, nyeri tekan,dan luekositosis.6 Pada pemeriksaan dalam
untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang
dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta
uterus berukuran kecil dari seharusnya.6 Pada pemeriksaan USG, ditemukan
kantung gestasional yang tidak utuh lagi dan tiada tanda-tanda kehidupan dari
janin.6
II.5

Diagnosis

a. Anamnesis
Tiga gejala utama (postabortion triad) pada abortus adalah nyeri di perut
bagian bawah terutamanya di bagian suprapubik yang bisa menjalar ke
punggung,bokong dan perineum, perdarahan pervaginam dan demam
yang tidak tinggi.7 Gejala ini terutamanya khas pada abortus dengan hasil
konsepsi yang masih tertingal di dalam rahim.7 Selain itu, ditanyakan
adanya amenore pada masa reproduksi kurang 20 minggu dari HPHT.6
Perdarahan pervaginam dapat tanpa atau disertai jaringan hasil konsepsi.
Bentuk jaringan yang keluar juga ditanya apakah berupa jaringan yang
lengkap seperti janin atau tidak atau seperti anggur. Rasa sakit atau keram
bawah perut biasanya di daerah atas simpisis.6
13

Riwayat penyakit sekarang seperti IDDM yang tidak terkontrol, tekanan


darah tinggi yang tidak terkontrol, trauma, merokok, mengambil alkohol
dan riwayat infeksi traktus genitalis harus diperhatikan. 6 Riwayat
kepergian ke tempat endemik malaria dan pengambilan narkoba malalui
jarum suntik dan seks bebas dapat menambah curiga abortus akibat
infeksi.7
b. Pemeriksaan Fisik
Bercak darah diperhatikan banyak, sedang atau sedikit.4 Palpasi abdomen
dapat memberikan idea keberadaan hasil konsepsi dalam abdomen
dengan pemeriksaan bimanual. Yang dinilai adalah uterus membesar
sesuai usia gestasi, dan konsistensinya.4 Pada pemeriksaan pelvis, dengan
menggunakan spekulum keadaan serviks dapat dinilai samaada terbuka
atau tertutup , ditemukan atau tidak sisa hasil konsepsi di dalam uterus
yang dapat menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.4

Pemeriksaan fisik pada kehamilan muda dapat dilihat dari table di bawah ini:4

Perdarahan

Serviks

Tertutup

Uterus

Sesuai dengan
usia gestasi

Bercak sedikit

Gejala dan tanda

Diagnosis

Kram

perut

bawah,

uterus

lunak

Abortus
immines

Sedikit/tanpa

hingga sedang
Tertutup/terbuka

Lebih kecil dari


usia gestasi

nyeri
bawah,
ekspulsi

perut
riwayat
hasil

konsepsi

14

Abortus
komplit

Kram atau nyeri


perut

bawah,

belum

terjadi

ekspulsi
Terbuka

Sesuai dengan
usia kehamilan

hasil

Kram atau nyeri


bawah,

ekspulsi
sebahagian

masif

insipien

konsepsi

perut
Sedang hingga

Abortus

hasil

Abortus
incomplit

konsepsi
Mual/muntah,
kram
Terbuka

perut

Lunak dan

bawah, sindroma

lebih besar dari

mirip PEB, tidak

usia gestasi

ada janin, keluar


jaringan

seperti

anggur

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit,
waktu bekuan, waktu perdarahan, trombosit, dan GDS. Pada pemeriksaan
USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi dalam
uterus.6

II.6

Diagnosis banding.2
1) kehamilan ektopik tertanggu
15

Abortus mola

2)
3)
4)
5)
II.7

perdarahan anovular pada wanita yang tidak hamil


abortus mola hidatidosa
polip endoserviks
karsinoma serviks

Penatalaksanaan
a. Abortus Imminens.4
Pada abortus imminens, tidak perlu pengobatan khusus atau tirah
baring total dan pasien dilarang dari melakukan aktivitas fisik
berlebihan ataupun hubungan seksual. Jika terjadi perdarahan
berhenti, asuhan antenatal diteruskan seperti biasa dan penilaian
lanjutan dilakukan jika perdarahan terjadi lagi. Pada kasus yang
perdarahan terus berlansung, kondisi janin dinilai dan konfirmasi
kemungkinan adanya penyebab lain dilakukan dengan segera. Pada
perdarahan berlanjut khususnya pada uterus yang lebih besar dari
yang diharapkan, harus dicurigai kehamilan ganda atau mola.
b. Abortus insipiens.4
Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi uterus
dilakukan dengan aspirasi vakum manual. Jika evakuasi tidak dapat
segera dilakukan maka, Ergometrin 0,2 mg IM atau Misopristol
400mcg per oral dapat diberikan. Kemudian persediaan untuk
pengeluaran hasil konsepsi dari uterus dilakukan dengan segera.
Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu, ekpulsi spontan hasil
konsepsi ditunggu, kemudian sisa-sisa hasil konsepsi dievakuasi. Jika
perlu, infus 20 unit oxytoxin dalam 500cc cairan IV (garam fisiologik
atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit
diberikan

untuk

membantu

ekspulsi

hasil

konsepsi.

Setelah

penanganan, kondisi ibu tetap dipantau.


c. Abortus inkomplit.4
Jika perdarahan tidak beberapa banyak dan kehamilan kurang dari
16 minggu, evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan
cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui
serviks. Jika perdarahan berhenti, Ergometrin 0,2 mg IV atau
misoprostol 400mcg per oral diberikan.
Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung, dan usia
kehamilan kurang dari 16 minggu, hasil konsepsi dievakuasi dengan
aspirasi vakum manual. Evakuasi vakum tajam hanya digunakan jika
16

tidak tersedia aspirasi vakum manual (AVM). Jika evakuasi belum


dapat dilakukan dengan segera, Ergometrin 0,2mg IM atau
Misoprostol 400mcg per oral dapat diberikan.
Jika kehamilan lebih dari 16 minggu, infus oksitosin 20 unit
diberikan dalam 500ml cairan IV (garam fisiologik atau RL) dengan
kecepatan 40 tetes per menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi.
Jika perlu Misoprostol 200mcg pervaginam diberikan setiap 4 jam
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi. Hasil konsepsi yang tertinggal
dalam uterus segera dievakuasi.
d. Abortus komplit.4
Pada kasus ini, evakuasi tidak perlu dilakukan lagi. Observasi
untuk melihat adanya perdarahan yang banyak perlu diteruskan dan
kondisi ibu setelah penanganan tetap dibuat. Apabila terdapat anemia
sedang, tablet sulfas ferrosus 600mg/hari selama 2 minggu diberikan,
jika anemia berat diberikan transfusi darah. Seterusnya lanjutkan
dengan konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut jika
perlu.
e. Abortus septik/infeksius.3
Pengelolaan pasien pada abortus septik harus mempertimbangkan
keseimbangan cairan tubuh dan perlunya pemberian antibiotika yang
mencukupi sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas kuman yang
diambil dari darah dan cairan flour yang keluar pervaginam. Untuk
tahap pertama dapat diberikan Penisillin 4x 1juta unit atau ampicillin
4x 1gram ditambah gentamisin 2x80mg dan metronidazol 2x1gram.
Selanjutnya, antibiotik dilanjutkan dengan hasil kultur.
Tindakan kuretase dilaksanakan bila tubuh dalam keadaan
membaik minimal 6 jam setelah antibiotika adekuat telah diberikan.
Pada saat tindakan, uterus harus dilindungi dengan uterotonik untuk
mengelakkan komplikasi. Antibiotik harus dilanjutkan sampai 2 hari
bebas demam dan bila dalam waktu 2 hari pemberian tidak
memberikan respons harus diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai
dah kuat. Apabila ditakutkan terjadi tetanus, injeksi ATS harus
diberikan dan irigasi kanalis vagina/uterus dibuat dengan larutan
peroksida H2O2. Histerektomi harus dibuat secepatnya jika indikasi.
II.8

Pemantauan Pascaabortus.4
17

Sebelum ibu diperbolehkan pulang, diberitahu bahwa abortus spontan hal


yang biasa terjadi dan terjadi pada paling sedikit 15% dari seluruh kehamilan
yang diketahui secara klinis. Kemungkinan keberhasilan untuk kehamilan
berikutnya adalah cerah kecuali jika terdapat sepsis atau adanya penyebab
abortus yang dapat mempunyai efek samping pada kehamilan berikut.
Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya
setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang ke rumah. Kecuali
bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat
atau infeksi. Pasien dianjurkan istirahat selama 1 sampai 2 hari. Pasien
dianjurkan kembali ke dokter bila pasien mengalami kram demam yang
memburuk atau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih
berat.13 Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Sebelum
dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menandatangani surat persetujuan
tindakan.
II.9

Komplikasi

1) Perdarahan.6
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan. Perdarahan
yang berlebihan sewaktu atau sesudah abortus bisa disebabkan oleh atoni
uterus, laserasi cervikal, perforasi uterus, kehamilan serviks, dan juga
koagulopati.
2) Perforasi.6
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus
provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya
perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya
perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain. Pasien
biasanya datang dengan syok hemoragik.
3) Syok.6

18

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat. Vasovagal syncope yang diakibatkan stimulasi
canalis sevikalis sewaktu dilatasi juga boleh terjadi namum pasien
sembuh dengan segera.
4) Infeksi.6
Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang
merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu
staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma,
Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas
vaginalis,

sedangkan

pada

vagina

ada

lactobacili,streptococci,

staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides


sp, Listeria dan jamur. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas
padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi
menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium.
Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap
infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus,
Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus,
dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah
Neisseria

gonorrhoeae,

Streptococcus

pyogenes

Pneumococcus
potensial

dan

berbahaya

Clostridium
oleh

tetani.

karena

dapat

membentuk gas.
5) Efek anesthesia.7
Pada penggunaan general anestesia, komplikasi atoni uterus bisa terjadi
yang

berakibatkan

perdarahan.

Pada

kasus

therapeutic

abortus,

paracervical blok sering digunakan sebagai metode anestesia. Sering


suntikan intravaskular yang tidak disengaja pada paraservikal blok akan
mengakibatkan komplikasi fatal seperti konvulsi, cardiopulmonary arrest
dan kematian.
6) Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC).7

19

Pasien dengan postabortus yang berat terutamanya setelah midtrimester


perlu curiga DIC. Insidens adalah lebih dari 200 kasus per 100,000 aborsi.

II.10 Prognosis.6
Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi spontan
sebelumnya. Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abortus
yang rekuren mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %. Pada wanita
keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui, kemungkinan keberhasilan
kehamilan sekitar 40-80 %. Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah
pemeriksaan aktivitas jantung janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada
wanita dengan 2 atau lebih aborsi spontan yang tidak jelas.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. F. G Cunningham, KJ. Leveno, SL. Bloom. Abortion in William
Obstetrics, 22nd edition. Mc-Graw Hill, 2005
2. McPhee S, Obsterics and obstretrics disoders,Current medical diagnosis
and treatment, 2009 edition, Mc Graw Hill, 2008
3. Sarwono prawiroharhdjo.Perdarahan pada kehamilan muda dalam Ilmu
Kandungan, edisi 2008
4. Saifuddin A. Perdarahan pada kehamilan muda dalam Buku Panduan
Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,2006 Hal M9-M17
5. Standard Pelayanan Medis Ilmu Kebidanan dan Kandungan, RS Efarina
Etaham, 2008, ms 33-35
6. Abortus

Incomplete.

Available

at

http://www.jevuska.com/2007/04/11/abortus-inkomplit
7. Gaufberg

F,

Abortion

Treatened,

Available

at

http://emedicine.medscape.com/article/795359-overview
8. Gaufberg

F,

Abortion

Septic,

Available

at

http://emedicine.medscape.com/article/795439-overview
9. Kontroversi

Seputar

Aborsi,

available

at

http

//www.kesrepro.info.gendervaw/Mei/ 2003/gendervaw 02. htm


10. Aborsi dan Hak Atas Pelayanan Kesehatan, available at http :
//www.theceli.com/opik/Aborsi.htm

21