Anda di halaman 1dari 24

MINI PROJECT

Hubungan Faktor Lingkungan, Keluarga, Dan Pribadi Dalam Menyebabkan


Kejadian Gangguan Jiwa Di Desa Pesinggahan Barat

Disusun oleh:

Yos akbar irmansyah

H1A010057

Nurul hidayati

H1A010053

Ela noviana

H1A009012

Laila nurmala

H1A010058

Rian azhadi

H1A009003

Ida bagus indra nugraha sudewa

H1A010036

Ni made febriani suprapti

H1A010055

Rian segal hidajat

H1A010056

Nabila wahida

H1A009007

Luh ratna oka rastini

H1A010059

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2013

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Gangguan jiwa adalah suatu sindroma atau pola psikologis atau perilaku yang penting
secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distress (misalnya,
gejala nyeri) atau disabilitas (yaitu kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting)
atau disertai peningkatan risiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disabilitas, atau sangat
kehilangan

kebebasan

(American

Psychiatric

Association,1994).

Gangguan

jiwa

menyebabkan penderitanya tidak sanggup menilai dengan baik kenyataan, tidak dapat lagi
menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain atau merusak/menyakiti dirinya
sendiri (Baihaqi, 2005). Gangguan jiwa sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah
lainnya. Hanya saja gangguan jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti
rasa cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau kita kenal sebagai gila
(Hardianto, 2009).
Kecendrungan gangguan jiwa akan semakin meningkat seiring dengan terus
berubahnya situasi ekonomi dan politik kearah tidak menentu, prevalensinya bukan saja pada
kalangan menengah kebawah sebagai dampak langsung dari kesulitan ekonomi, tetapi juga
kalangan menengah keatas sebagai dampak langsung atau tidak langsung ketidakmampuan
individu dalam penyesuaian diri terhadap perubahan sosial yang terus berubah (Rasmun,
2001).
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita gangguan jiwa di dunia
pada 2001 adalah 450 juta jiwa. Dengan mengacu data tersebut, kini jumlah itu diperkirakan
sudah meningkat. Diperkirakan dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 50 juta
atau 22 persennya, mengidap gangguan kejiwaan (Hawari, 2001). Peningkatan jumlah
penderita gangguan jiwa juga terjadi di Sumatera Utara, jumlah pasien meningkat 100 persen
dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.Pada awal 2008, RSJ Sumut menerima sekitar 50
penderita per hari untuk menjalani rawat inap dan sekitar 70-80 penderita untuk rawat
jalan.Sementara pada 2006-2007, RSJ hanya menerima 25-30 penderita per hari (Sitompul,
2008).
Pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa di Indonesia mempunyai rata-rata lama hari
rawat yang tinggi yaitu 54 hari, dan yang paling lama dirawat adalah pasien dengan diagnosa
skizofrenia. Data rumah sakit jiwa pusat Bogor 2001, menunjukkan rata-rata lama hari rawat
adalah 115 hari dan untuk pasien perilaku kekerasan 42 hari (Keliat, 1992).

Sedangkan, untuk di Puskesmas Pagesangan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara


Barat, angka kejadian gangguan jiwa yang diterima oleh Puskesmas ini dari bulan Oktober
2013 hingga Desember 2013 berkisar 35 orang. Puskesmas Pagesangan memiliki cakupan
wilayah
Ketika penderita gangguan jiwa melakukan rawat jalan atau inap di rumah sakit jiwa,
keluarga harus tetap memberikan perhatian dan dukungan sesuai dengan petunjuk tim medis
rumah sakit. Dukungan keluarga sangat diperlukan oleh penderita gangguan jiwa dalam
memotivasi mereka selama perawatan dan pengobatan. Jenis-jenis dukungan keluarga seperti
dukungan pengharapan, dukungan nyata, dukungan informasi dan dukungan emosional
(Friedman,1998).
Tetapi kenyataannya, belum banyak keluarga memiliki kepedulian tentang ini.Banyak
keluarga

yang

menyerahkan

sepenuhnya

penyembuhan

penderita

kepada

petugas

kesehatan.Banyak pasien gangguan jiwa justru ditelantarkan keluarganya.Keluarga telah


melupakan mereka.Banyak yang tidak mengurusnya lagi saat dimasukkan ke rumah sakit
jiwa.Padahal, jika keluarga mereka rajin mengunjungi dan memberikan dukungan bagi pasien
gangguan jiwa, ini merupakan salah satu terapi yang jitu untuk kesembuhan mereka. Namun,
jika keluarga mereka tidak peduli, tingkat kesembuhan pasien makin lama karena pasien
merasa tidak diperhatikan lagi oleh keluarganya (Yosep, 2007).
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah masalah yang dihadapi masyarkat lingkungan Pesinggahan Barat yang
menyebabkan prevalensi gangguan mental cukup banyak terjadi?
2. Tindakan intervensi apakah yang tepat untuk dapat menurunkan insidensi gangguan
mental di lingkungan Pesinggahan Barat?
1.3. Pertanyaan Mini Project :
1. Masalah-masalah medis apakah yang dihadapi oleh puskemas Pagesangan?
2. Diantara masalah-masalah medis tersebut, apakah ada masalah tertentu yang menjadi
3.
4.
5.
6.
7.
8.

perhatian khusus oleh puskemas?


Apakah masalah medis tersebut sudah ditelusuri oleh puskemas?
Bagaimana peran puskemas dalam mengintervensi masalah medis tersebut?
Apa halangan dari puskemas dalam melakukan intervensi tersebut?
Langkah-langkah puskemas dalam mengatasi halangan tersebut?
Bagaimana langkah mahasiswa dalam menggali masalah medis yang terjadi?
Apa intervensi yang bisa diusulkan mahasiswa dalam mengintervensi masalah medis
tersebut?

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gangguan kejiwaan
2.1.1. Definisi gangguan jiwa
Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh
seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang
kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001).
Gangguan jiwa adalah gangguandalam cara berpikir (cognitive), kemauan
(volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep, 2007).
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahanpada fungsi jiwa
yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada
individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran social.
Konsep gangguan jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III adalah sindrom atau
pola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan yang secara
khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability)
di dalamsatu atau lebih fungsi yang penting dari manusia (Maslim, 2002).
2.1.2. Penyebab umum ganguan kejiwaan
Biarpun gejala utama atau gejala yang menonjol terdapat pada unsure kejiwaan tetapi
penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik),dilingkungan sosial (sosiogenik , di
psike(psikogenik) ataupun cultural atau tekanan kebudayaan dan spiritualatau tekanan
keagamaan. Mungkin dari salah satu

unsur ada satu penyebab yang menonjol. Namun

biasannya tidak terdapat penyebab tunggal, tetapi beberapa penyebab-penyebab dari badan,
jiwa dan lingkungan serta cultural spiritual sekaligus timbul atau kebetulan terjadi
bersamaaan.Lalu timbullah gangguan badan atau jiwa. Berikut ini akan dijelaskan 2 faktor
utama yang menyebabkan terjadinya gangguan kejiwaan
A. Perkembangan badani yang salah
Prilaku kita berdasarkan juga pada kualitas dan keutuhan fungsi susunan saraf dan
perlengkapan badani yang lain. Setiap faktor yang menggangu perkembangan badani yang
normal dianggap sebagai suatu faktor yang dapat menjadi penyebab prilaku yang abnormal.
Faktor faktor ini mungkin dari keturunan ataupun dari lingkungan

1. Faktor keturunan
- Pada mongolisme atau sindrom down (retardasi mental dengan mata sipit, muka
datar, telinga kecil dan jari-jari pendek. Terdapat trisomi (yaitu tiga buah ,normal dua
-

pada pasangan kromosom no 21


Sindrom turner ( dengan cirri-ciri khas tubuh pendek,leher melebar, infantilisme

sexual ternyata berhubungan dengan jumlah kromosom sex yang abnormal.


Fenilketonuria yang terdapat pada anak-anak dengan kekurangan enzim untuk
menghancurkan fenilalanin, suatu asam amino dalam makanan yang mengandung
protein. Bila tidak diketahui sehingga tidak diberi diet, maka terkumpullah

fenilalanin di dalam otak dan merusak otak.


2. Faktor konstitusi
Konstistusi umumnya menunjukkan kepada keadaan manusia seluruhnya termasuk
baik yang diturunkan maupun yang diperoleh kemudian (hasil interaksi anatara genotif
dan fenotif misalnya bentuk badan (perawakan), sex, temperamen, fungsi endokrin dan
uraf saraf serta jenis darah.
3. Cacat congenital
Cacat congenital dapat mempengaruhi perkembangan kiwa anak, terlebih bila
berat akan tetapi pada umumnya apakah gangguan jiwa karena cacat akan timbul
tergantung

terutama pada individu, bagaimana ia menilai dan menyesuaikan diri

terhadap kecacatam itu.


B. Perkembangan psikologi yang salah
Dalam masa kanak-kanak diletakkan dasar bagi masa dewasa, bagaimana
lingkungan dan diri kita dinilai, bagaimana kebiasaan berpikir da pola reaksi kita,
bagaimana lingkungan cultural dan spiritual. Pada umumnya perkembagan psikologi yang
salah mencakup
-

Ketidakmatangan atau fixasi yaitu individu gagal berkembang lebih lanjut ke fase

berikutnya
Titik-titik lemah yang ditinggalkan oleh epengalaman traumatik menjadi kepekaan

kita terhadap jenis stressor dan stress tertentu


Distorsi,yaitu bila kita ingin mengembangkan sikap atai pola reaksi yang tidak
sesuai.
Berikut ini akan dijelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan

psikologis yang tidak sehat


a. Deprivasi diri

Makin lama makin nyata bahwa deprivasi diri (ketidakperolehan biologis atau
psikologis pada waktu bayi dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat
diperbaiki lagi. Deprivasi maternal atau asuhan ibu di rumah sendiri,terpisah dengan
ibu atau tinggal di asrama, dapat menimbulkan perkembangan yang abnormal.
Deprivasi rangsangan umum dari lingkungan, bila sangat berat ternyata berhubungan
dengan retardasi mental.Deprivasi atau frustasi diri ini dapat menimbulkan titik-titik
lemah pada jiwa juga dapat mengakibatkan perkembangan yang salah ataupun
perkembangan yang berhenti.
b. Pola keluarga yang patogenik
Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranan penting dalam
pembentukan kepribadian. Hubungan orang tua dan anak yang salah atau interaksi
yang patogenik dalam keluarga sering merupakan sumber gangguan penyesuaian diri
c. Masa remaja
Masa remaja dikenal sebagai mas gawat atau masa badai dan stress dalam
perkembangan kepribadian. Dalam masa ini individu dihadapi dengan pertumbuhan
bertambah besar dan perkembanagn ( perubahan-perubahan badani dan pematangan
sexual yang cepat. Pada waktu yang sama status sosialnya juga mengalami perubahan.
Bila dahulu ia sangat tergantung pada orangtuanya / orang lain sekarang ia harus
belaar berdiri sendiri dan belajar bertanggungjawab atas perbuatannya sampai dengan
pernikahan. Perubahan-perubahan ini akan mengakibatkan bhwa ia harus mengubah
konsep tentang dirinya. Tidak jarang terjadi krisis idenditas
C. Faktor Sosiologi perkembangan yang salah
Telah diketahui bahwa bila seseorang berada di tengah-tengah kebudayaan asing.Ia
dapat mengalami gangguan jiwa karena pengaruh kebudayaanyang serba baru dan asing
baginya. Hal ini dinamakan shock kebudayaan.
Dari berbagai penelitian terdapat perbedaan antara gejala-gejala gangguan kejiwaan
yang disebabkan oleh perbedaan budaya dan lingkungan sosial. Biarpun faktor-faktor
patogenetik (yang apat juga berkembang ke arah menyebabkan ) mungkin sama akan tetapi
faktor patoplastik ( yang membentuk, memberirupaatau warna ) berbeda-beda.

Seperti seorang individu suata masyarakat secara keseluruhan dapat juga


berkembang ke rah yang tidak baik.Hai ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan fisik ataupun
oleh keadaan socialmasyarakat itu sendiri.

2.1.3 Dampak Gangguan Jiwa pada Keluarga


Gangguan jiwa berdampak pada kehidupan keluarga meliputi:
1. Dampak psikologis: keluarga menjadi stress, bingung, marah, cemas, tak berdaya,
menyalahkan satu sama lain, malu yang sering disebut sebagai beban subjektif
keluarga. Dampak yang dialami keluarga saat ada anggota keluarga mengalami
gangguan jiwa sbb:
a. Pada awal terjadinya gangguan jiwa, keluarga mengingkari (denial) dan berharap
keluarga yang dicintainya keluar dari masalah (gangguan jiwanya).
b. Belajar Mengatasi; keluarga mulai menerima penyakit yang dialami keluarganya.
Reaksi emosi dalam bentuk marah, rasa bersalah, berduka.
c. Upaya beradvokasi. Pemahaman dan penerimaan tentang penyakit jiwa yang
dialami keluarganya membuat keluarga mau memberikan dukungan keluarga lain
yang menghadapi masalah yang sama.
2. Dampak fisik: perilaku pasien yang sering tidak terkendali mengakibatkan keluarga
mengalami kerugian secara fisik, seperti cedera maupun kerusakan barang baik milik
keluarga maupun lingkungan.
3. Dampak sosial: hubungan antar keluarga dan lingkungan dapat terganggu. Hal ini
terjadi jika masyarakat masih memberikan stigma negatif kepada pasien dan
keluarganya.
4. Dampak kultural: banyak budaya yang masih menganggap gangguan jiwa bukan
merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Stigma negatif gangguan jiwa dari
masyarakat misalnya sebagai penyakit kutukan, kerasukan roh jahat, membuat
keluarga enggan untuk berinteraksi dengan lingkungan budayanya.
5. Dampak spiritual: gangguan jiwa yang terjadi pada anggota keluarga dapat membuat
keluarga merasa berdosa sehingga mengganggu kehidupan

spiritual misalnya

menyalahkan Tuhan, malas beribadah dsb.


6. Dampak ekonomi: biaya perawatan dan pengobatan pasien gangguan jiwa yang
berlangsung lama dapat menjadi beban bagi keluarga ditambah dengan berkurangnya
anggota keluarga yang mencari nafkah (pasien tidak bekerja dan mungkin anggota
keluarga yang sehat harus menyediakan waktu untuk merawat pasien) mengakibatkan
beban ekonomi keluarga.

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.

Desain Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Objek dalam

penelitian ini terdiri dari 7 pasien yang mengalami gangguan jiwa yang diambil dengan
cara purposive sampling.Responden diperoleh dengan cara melakukan pertanyaan skrening
pada sejumlah pasien yang mengalami gangguan jiwa dan keluarga pasien sendiri hingga
diperoleh 7 pasien yang mengalami gangguan jiwa dan sesuai kriteria yang ditentukan.
3.2.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Lingkungan Pesinggahan Barat, Kelurahan Pagesangan


Barat.Penelitian dilaksanakan Desember 2013.
3.3

Populasi dan Sampel

3.3.1

Populasi
Populasi penelitian adalah warga yang mengalami gangguan psikiatri di Lingkungan

Pesinggahan Barat.
3.3.2

Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini terdiri semua pasien yang ditemui dan mengalami gangguan

psikiatri di Lingkungan Pesinggahan Barat yang terdata di Puskesmas Pagesangan dan


berdasarkan hasil survey lapangan serta laporan warga Desa Pesinggahan Barat.
3.4

Tahap Penelitian
1
2

3.5

Tahap Persiapan
a Pendekatan pada instansi yang berwenang.
b Peninjauan lokasi penelitian.
Tahap Pelaksanaan
a Pengambilan data sekunder di Puskesmas Pagesangan
b Pendataan ke rumah warga dengan wawancara menggunakan kuesioner
c Analisis data
Alat, Sumber dan Metode Pengumpulan Data

Alat Pengumpulan Data


Alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
terkait dengan status psikiatri responden. Selain data status psikiatri, akan ditanyakan
juga mengenai bagaimana perkembangan kehidupan sehari-hari pasien mulai dari
sebelum mengalami gangguan sampai setelah mengalami gangguan, serta bagaimana
keseharian pasien baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat

sekitarnya.
b Jenis dan Sumber Data
Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth
interview) terhadap responden baik pasien yang bersangkutan, ataupun keluarga
pasien. Selain itu, informasi tambahan didapat dari informan yaitu Puskesmas
Pagesangan, Ketua RT Desa Pesinggahan Barat.
c

Metode Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data primer yang digunakan dalam penelitian adalah
dengan metode wawancara mendalam.Dalam pengambilan data dari sampel penelitian
ini, peneliti akan mewawancarai responden secara langsung ataupun keluarga terdekat
selaku walinya jika tidak memungkinkan mewanwancarai respondennya. Peneliti akan

menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuisioner. Setelah selesai diisi,


semua lembaran tersebut akan dikembalikan ke peneliti untuk dianalisis lebih lanjut
dan data hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.
3.6

Jadwal Pelaksanaan

Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan


Uraian
4

Desember 2013
10
14
18
21

28

Proposal
Penelitian
Analisis hasil
Presentasi hasil

BAB 4
HASIL PENELITIAN
Kasus gangguan jiwa yang tercatat pada puskesmas ini ialah 35 orang, dengan
kejadian kasus sebagai berikut:

14
12
10
8
6
4
2

Jumlah

Gambar 4.1. Diagram jumlah penyakit gangguan jiwa yang terdata di Puskesmas Pagesangan
Barat.
Dari grafik di atas didapatkan penderita skizofrenia, anxietas, psikosomatis, gangguan
tidur, dan penyalahgunaan obat/zat berturut turut ialah 13, 9, 4, 5, dan 4 orang (Data
Puskesmas Pagesangan, 2013). Kejadian tersebut tersebar dari beberapa daerah yang pernah
berobat ke Puskesmas Pagesangan, dari kunjungan tersebut, kami menemukan 4 kasus
gangguan jiwa di desa pesinggahan barat. Angka ini memang tidak cukup tinggi, namun
menurut Kepala Puskesmas Pagesangangan Barat, masih banyak kasus gangguan jiwa yang
belum terdata, sebab masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan kejadian
gangguan jiwa ke Puskesmas.
Dalam penelitian yang kami lakukan di desa Pesinggahan Barat, kami menemukan 10
kasus gangguan jiwa, namun yang berhasil kami temui ialah sebanyak 7 orang, sedangkan 3
lainnya sedang mendapatkan perwatan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB.
Dari ketujuh pasien tersebut, kami melakukan wawancara langsung untuk menentukan
faktor-faktor yang paling berperan dalam menyebabkan kejadian gangguan jiwa di Desa
Pesinggahan Barat. Berikut karakteristik pasien yang mengalami gangguan jiwa:
Tabel 4.1. Karakteristik pasien gangguan jiwa Desa Pesinggahan Barat.
Variabel

Jumlah (n=7)

Jenis Kelamin
a. Pria
b. Wanita
Umur
a. Usia muda (18-50 tahun)
b. Usia Tua (>50 tahun)
Pendidikan Terakhir
a. SD
b. SMP
c. SMA
Sumber: Data Primer

6 (85%)
1 (15%)
6 (85%)
1 (15%)
3 (42%)
1 (16%)
3 (42%)

Berdasarkan karakteristik pasien di atas, kejadian gangguan jiwa lebih banyak terjadi
pada pria yaitu 85% dibandingkan dengan wanita 15%, dengan kelompok usia yang lebih
banyak mengalami gangguan jiwa ialah kelompok usia muda yaitu 18-50 tahun dengan
presentase 85%.
Untuk keadaan lingkungan tempat tinggal pasien, pasien rata-rata tinggal dalam
lingkungan yang sangat padat, terlebih dalam 1 keluarga, terdiri atas beberapa anggota
keluarga. Pasien yang kami temui juga, rata-rata hampir memiliki banyak saudara, berikut
data kepemilikan jumlah saudara:

29%

4 saudara
71%

<4 saudara

Gambar 4.2.Presentase jumlah saudara yang dimiliki oleh pasien gangguan jiwa.
Dari data tersebut terlihat, 71% pasien yang memiliki gangguan jiwa memiliki saudara
4 orang, sedangkan 29% memiliki jumlah saudara <4 orang. Selain itu, dari hasil
pemeriksaan yang kami lakukan melalui anamnesis dan hetero anamnesis, kami mendapatkan
data-data sebagai berikut:

4.5
4
3.5
3
2.5

Ada

Tidak

1.5
1
0.5
0

Stressor

Faktor Organik

Gambar 4.3.Diagram jumlah pasien gangguan jiwa Desa Pesinggahan Barat yang mengalami
stressor dan riwayat gangguan organik.
Dari data di atas didapatkan dari ketujuh pasien yang berhasil di temui, pasien pasien
tersebur hampir sebagian besar mengalami stressor yang cukup tinggi (4:3) dan memiliki
riwayat penyakit organik (4:3) sebelumnya, baik seperti riwayat kejang, demam tinggi, dan
trauma. Sedangkan untuk pola asuh sendiri, didapatkan:

29%
Permisif
57%

Demokratis
Otoriter

14%

Gambar 4.4.Diagram jumlah presentase tipe pola asuh yang pernah di alami oleh pasien
gangguan jiwa desa Pesinggahan Barat.
Dari pola asuh sendiri, didapatkan 4 orang mengalami pola asuh permisif atau sekitar
57%, 2 orang mengalami pola asuh otoriter atau 29%, dan 1 orang diasuh dengan pola asuh

demokratis atau sekitar 14%. Sedangkan, untuk kepribadian pasien sendiri yang kami
dapatkan dari hasil heteroanamnesis pada keluarga pasien, kami mendapatkan:

43%
57%

Introvert
Ekstrovert

Gambar 4.5. Diagram gambaran kepribadian pasien gangguan jiwa Desa Pesinggahan Barat.
Dari diagram di atas terlihat, pasien dengan kepribadian terbuka/ekstrovert ialah 4
orang atau 57%, sedangkan dengan kepribadian tertutup ialah 3 orang atau sekitar 43%.
Dari data-data yang di sajikan di atas, kami mengelompokkannya menjadi 3 faktor
utama, yaitu keluarga, lingkungan, dan diri pasien sendiri, adapun pertanyaan-pertanyaan
yang kami berikan saat wawancara ialah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Daftar pertanyaan yang digunakan untuk menentukan faktor penyebab gangguan
jiwa di Desa Pesinggahan Barat.
Pertanyaan
Lingkungan
Apakah pasien terbuka dengan lingkungan tempat tinggal
Apakah pasien musuh dengan masyarkat sekitar
Apakah pasien senang dengan lingkungan tempat tinggal
Pasien
Apakah pasien mengalami gangguan organik
Apkah pasien pernah mengalami stress/tekanan tinggi ditandai
dengan pasien berdiam diri, mengamuk / berteriak
Apakah pasien suka berdiam diri
Bagaimana pendapat pasien terhadap diri sendiri,apakah percaya diri
dalam menghadapi sesuatu
Apakah pasien pernah ditinggal oleh keluarga yang dekat
Apakah pasien memiliki keinginan yang belum tercapai
Keluarga
Apakah pasien memiliki hubungan bak dengan saudara/keluarga lain
Apakah pasien pernah mengalami masalah dengan keluarga
Apakah hubungan pasien dengan keluarga harmonis

Ya

Tidak

5
0
7

2
7
0

4
2

3
5

3
5

4
2

4
5

3
2

6
3
5

1
4
2

Dari hasil anamnesis berdasarkan kuisioner tersebut, kami mendapatkan hasil bahwa
dari ketujuh pasien, tidak ada yang memiliki masalah dengan lingkungan tempat tinggal
sebelumnya, namun disini terlihat, pasien lebih banyak mengalami gangguan berasal dari
faktor diri pasien itu sendiri, dibuktikan dengan adanya riwayat gangguan organic dan riwayat
ditinggal oleh keluarga/kerabat yang dekat sehingga menyebabkan terjadinya gangguan jiwa.
Sedangkan dari faktor keluarga ini, merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan jiwa,
ditandai dengan pola asuh permisif dan diktator memiliki nilai yang sama dari hasil anamnesis
baik dengan pasien ataupun dengan keluarga pasien.
Sehingga, kami berkesimpulan, faktor pribadi menjadi faktor resiko utama dalam
kejadian gangguan jiwa di Desa Pesinggahan Barat, disusul dengan faktor keluarga, dan
faktor lingkungan.

BAB 5
PEMBAHASAN
Gangguan jiwa adalah suatu sindroma atau pola psikologis atau perilaku yang penting
secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distress (misalnya,
gejala nyeri) atau disabilitas (yaitu kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting)
atau disertai peningkatan risiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disabilitas, atau sangat
kehilangan kebebasan (American Psychiatric Association,1994).
Konsep gangguan jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III adalah sindrom atau
pola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan yang secara
khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability)
didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia (PPDGJ, 2003).
Kecendrungan gangguan jiwa akan semakin meningkat seiring dengan terus
berubahnya situasi ekonomi dan politik kearah tidak menentu, prevalensinya bukan saja pada
kalangan menengah kebawah sebagai dampak langsung dari kesulitan ekonomi, tetapi juga
kalangan menengah keatas sebagai dampak langsung atau tidak langsung ketidakmampuan
individu dalam penyesuaian diri terhadap perubahan sosial yang terus berubah (Rasmun,
2001).
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita gangguan jiwa di dunia
pada 2001 adalah 450 juta jiwa. Dengan mengacu data tersebut, kini jumlah itu diperkirakan
sudah meningkat. Diperkirakan dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 50 juta
atau 22 persennya, mengidap gangguan kejiwaan (Hawari, 2001).
Dari data yang kami dapatkan pada kunjungan di daerah Pesinggahan Barat, kami
menemukan 10 kasus gangguan jiwa, namun yang berhasil kami temui ialah sebanyak 7
orang, sedangkan 3 lainnya sedang mendapatkan perwatan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
NTB., hal tersebut menunjukan tingkat kejadian gangguan jiwa yang cukup tinggi yang
ditangani oleh Puskesmas Pagesangan dengan jenis gangguan jiwa seperti skizofrenia,
anxietas, psikosomatis, gangguan tidur, dan penyalahgunaan obat. Namun menurut Kepala
Puskesmas Pagesangangan Barat, masih banyak kasus gangguan jiwa yang belum terdata,
sebab masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan kejadian gangguan jiwa ke
Puskesmas (Data Puskesmas Pagesangan, 2013).

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan yaitu penyebab gangguan jiwa adalah
adanya riwayat gangguan organik dan riwayat ditinggal oleh keluarga/kerabat yang dekat
sehingga menyebabkan terjadinya gangguan jiwa. Sedangkan dari faktor keluarga ini,
merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan jiwa, ditandai dengan pola asuh permisif
dan diktator memiliki nilai yang sama dari hasil anamnesis baik dengan pasien ataupun
dengan keluarga pasien. Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa
penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi
bersamaan, lalu timbulah gangguan badan ataupun jiwa.
Karakteristik pasien berdasarkan data di atas yaitu kejadian gangguan jiwa lebih
banyak terjadi pada pria yaitu 85% dibandingkan dengan wanita 15%, dengan kelompok usia
yang lebih banyak mengalami gangguan jiwa ialah kelompok usia muda yaitu 18-50 tahun
dengan presentase 85% hal ini sesuia dengan data yang didapatkan pada American Psychiatric
Association tahun 1994, menunjukan persentase kejadian gangguan jiwa lebih tinggi pada
laki-laki dibandingkam wanita.
Untuk tingkat pendidikan, tingkat pendidikan pasien rata-rata adalah maksimal tamat
SMA (42%), SMP (16%), dan SD (42%). Hal ini menyebabkan tingkat penderita gangguan
jiwa yang rendah, menyebabkan adanya kontribusi perilaku pada pasien yang masih
menganggap dirinya seperti anak-anak. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Sulaemana (2013) yang mendapati dari 106 responden gangguan jiwa, 54% diantaranya
tamat SMA, dan sisanya memiliki pendidikan yang lebih rendah.
Dari pola asuh sendiri, didapatkan 4 orang mengalami pola asuh permisif atau sekitar
57%, 2 orang mengalami pola asuh otoriter atau 29%, dan 1 orang diasuh dengan pola asuh
demokratis atau sekitar 14%. Anak yang tidak mendapat kasih sayang dari orang tua mereka
cendrung tidak memiliki panutan, pertengkaran dan keributan orang tua akan menimbulkan
rasa cemas serta rasa tidak aman atau tidak nyaman bagi anak, hal-hal ini merupakan dasar
yang kuat untuk timbulnya tuntutan tingkah laku dan gangguan kepribadian pada anak
dikemudian hari (American Psychiatric Association,1994).
Cinta dan kasih sayang orang tua akan memberikan rasa hangat/ aman bagi anak dan
dikemudian hari menyebabkan kepribadian yang hangat, terbuka dan bersahabat. Sebaliknya,
sikap orang tua yang dingin acuh tak acuh bahkan menolak, maka dikemudian hari anak akan
berkembang menjadi kepribadian yang bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan
(American Psychiatric Association,1994). Sebab, tingkat stress/tekanan yang diberikan orang

tua kepada anak, memainkan pola sangat penting dalam pembentukkan karakter dari individu
tersebut.
Dari berbagai pendapat mengenai penyebab terjadinya gangguan jiwa seperti yang
dikemukakan diatas disimpulkan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh karena ketidak
mampuan manusia untuk mengatasi konflik dalam diri, tidak terpenuhinya kebutuhan hidup,
perasaan kurang diperhatikan (kurang dicintai) dan perasaan rendah diri.
Menurut Henuli (2013) banyak faktor yang mempengaruhi seseorang mengalami
gangguan jiwa. Hingga saat ini diyakini terdapat tiga faktor utama sebagai penyebabnya.
Pertama, faktor organobiologi seperti faktor keturunan (genetik), adanya ketidakseimbangan
zat zat neurokimia di dalam otak. Kedua, faktor psikologis seperti adanya mood yang labil,
rasa cemas berlebihan, gangguan persepsi yang ditangkap oleh panca indera kita (halusinasi).
Dan yang ketiga adalah faktor lingkungan (sosial) baik itu di lingkungan terdekat kita
(keluarga) maupun yang ada diluar lingkungan keluarga seperti lingkungan kerja, sekolah.
Lingkungan sebenarnya memiliki peran yang cukup tinggi, sebab lingkungan
memainkan peran dalam pembentukkan karakter seseorang. Lingkungan yang padat
penduduk, bising, dan tidak sehat dapat memberikan dampak bagi kesehatan jiwa seseorang
(Sulaemana, 2013). Lingkungan dapat memberikan kontribusi gangguan jiwa kurang dari
50% (Charles, 2013), hal ini sesuai dengan hasil penelitian kami, bahwa dari ke-7 responden,
hanya 2 orang yang tidak terbuka dengan lingkungannya.
Yang sangat berperan penting dalam menyebabkan gangguan jiwa ialah dari faktor
individu tersebut, baik faktor genentik yang dimiliki, ataupun akibat kehilangan seseorang
(sensation of feeling loss). Hal ini sesuai dengan penelitian bahwa, ditemuka 4 orang atau
57% pasien yang mengalami gangguan jiwa di desa ini, memiliki riwayat ditinggal oleh
keluarga/kerabat yang sangat dekat. Ini dapat menyebabkan keadaan depresi atau stress berat
yang mengakibatkan seseorang tersebut menarik diri dari lingkungan, akibat tidak ada lagi
sosok kerabat/keluarga yang dapat dipercaya. Sehingga menimbulkan rasa cemas yang
berlebihan, rasa tidak aman, yang menyebabkan keadaan gangguan jiwa pada seseorang
(Charles, 2013).
Sehingga, tidak ada 1 faktor tunggal yang dapat menyebabkan kejadian gangguan
jiwa, semua faktor dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kejadian gangguan
jiwa. Dalam penelitian ini juga didapatkan adanya hubungan yang cukup berpengaruh antara

faktor individu yang memiliki kontribusi paling tinggi, kemudian disusul oleh keluarga, dan
lingkungan. Seperti yang disebutkan oleh Sun Meilan (2013) dalam penelitiannya, bahwa
dalam faktor individu (56%) yang terdiri atas Childhood experiences, traumatic experiences,
self confidence, genetics yang tidak bisa dipisahkan oleh family treatment (29%), dan
Enviornment treatment (15%). Maka, dalam upaya menurunkan angka kejadian jiwa tersebut,
dapat dilakukan intervensi kepada 3 faktor (Individu, Keluarga, dan Lingkungan) tersebut.

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap pasien gangguan jiwa di desa
Pesinggahan Barat dapat diidentifikasi beberapa faktor penyebab terkait gangguan jiwa yang
dialami tersebut. Tingginya kejadian gangguan jiwa di desa Pesinggahan Barat dapat
dipengaruhi beberapa faktor terutama meliputi faktor keluarga dan faktor lingkungan tempat
tinggal. Banyak pasien mengalami gangguan jiwa yang awalnya disebabkan karena kondisi
psikologis pasca ditinggal meninggal oleh orang terdekat terutama orang tua mereka. Banyak
dari mereka juga mengalami gangguan jiwa akibat adanya keinginan atau harapan yang tidak
bisa tercapai salah satunya karena pola didikan keluarga atau masalah keluarga. Dari hasil
pengamatan yang telah dilakukan diperoleh bahwa keluarga pasien cenderung hanya
membiarkan kondisi pasien yang mengalami gangguan jiwa tersebut. Kurangnya perhatian
keluarga terhadap kondisi pasien mungkin terkait dengan jumlah anggota keluarga yang
banyak, status pendidikan serta sosialekonomi yang rendah pula. Sedangkan dari segi
lingkungan didapatkan bahwa lingkungan desa Pesinggahan Barat adalah lingkungan dengan
penduduk yang sangat padat dilihat dari rumah yang sempit namun dihuni oleh banyak
anggota keluarga. Lingkungan yang padat juga dapat menjadi sumber stressor bagi pasien.
Selain itu, terdapat juga faktor organik yang menyebabkan gangguan jiwa seperti yang
dialami salah satu pasien di daerah pesinggahan. Pasien tersebut mengalami gangguan jiwa
akibat cidera pada kepalanya.
Saran
Saran penelitian :
a. Diharapkan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui faktor lain yang
menyebabkan tingginya kejadian gangguan jiwa di desa Pesinggahan Barat.
b. Diharapkan penelitian lebih lanjut mengenai faktor yang mempengaruhi tingkat
kesembuhan pasien gangguan jiwa di desa Pesinggahan Barat.

Saran untuk Puskesmas :


a. Diharapkan puskesmas melalui kadernya bisa lebih berperan aktif dalam menjaring
masyarakatnya yang mengalami gangguan jiwa sehingga dapat diketahui dengan pasti
jumlah orang dengan gangguan jiwa di lingkungan tersebut.
b. Diharapkan puskesmas lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan terkait gangguan
jiwa terhadap masyarakatnya agar masyarakat bisa mengerti mengenai penyebab dan
cara pencegahan serta penanggulangan terhadap kasus tersebut.
c. Diharapkan puskesmas melalui tenaga kesehatannya diharapkan mampu untuk
melakukan edukasi kepada pasien maupun keluarganya agar melakukan pengobatan
dengan tuntas.

DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Assiciation. 1994. Diagnostic and statistical manual of mental
disorders. 4th Ed. Washington DC : American Psychiatric Assiciation. Dilihat di
http://upetd.up.ac.za/thesis/submitted/etd07252005115242/unrestricted/03back.pdf.
.(diakses : 27 Desember 2013).
Baihaqi MIF, dkk. 2005. Psikiatri : Konsep Dasar Dan Gangguan- Gangguan. Bandung : PT
Refika aditama.
Charles. 2013. Enviornmental Connections: A Deeper Look into Mental Illness. National
Institute of Enviornmental Health Science, Vol. 115, No. 8. Pubmed: US.
Friedman, Marlyn M. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik/ Marilyn M. Friedman;
alih bahasa, Ina Debora R.L.,Yoakim Asy; Editor, Yasmin Asih, Setiawan, Monica
Ester.Ed 3.-Jakarta : EGC Marramis Willy,F.2009.Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2.

Airlangga University press, Surabaya,Indonesia 157-168


Hawari, Dadang. 2001. Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa, Skizofrenia. Jakarta : FKUI.

Henuhili ,Supiyani. 2013. Mari Kenali Kesehatan Jiwa! . medistra Hospital. Dilihat di
http://www.medistra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=177.
(diakses : 26 Desember 2013.
Keliat, Budi Ana. 1992. Peran Serta Keluarga dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa
.Jakarta: EGC.
Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis gangguan jiwa PPDGJ III. Jakarta : bagian ilmu kedokteran
jiwa FK-unika Atmajaya.
Meilan. 2013. The Factors that Influences Mental Health Problems. Living Healthy.
(Available on: www.livinghealthy360.com/index.php/what-influences-mentalhealth-problems-79982/ diakses pada 24 Desember 2013).

Permana, Bhakti. 2012. Pengalaman Keluarga Dalam Penanganan Penderita Gangguan


Jiwa Di Desa Kersamanah Kabupaten Garut. Universitas Padjajaran. Dilihat di
http://pustaka.unpad.ac.id/archives/118501/. (diakses : 26 Desember 2013).
Rasmun. 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga. Edisi I.
Jakarta : CV. Sagung Seto.
Sulaemana. 2013. Faktor-Faktor Presipitasi yang Berhubungan Dengan Timbulnya Halusinasi
Pada Klien Gangguan Jiwa di BPRS Makassar. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sam Ratulangi Manado: Manado.

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Editor: Aep Gunarsa. Bandung. PT. Refika Aditama.