Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Kimia Fisik II

Kelarutan sebagai Fungsi Temperatur

Nama :BayuMegananda
Nim: 2013/347298/Pa/15187
Hari/Tanggal :25 mei 2015
Kelompok: Siang
Asistent :Wahyu Dwi W

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
Intisari

Oleh
Bayu Megananda
13/347298/Pa/15187

Pada percobaan ini dilakukan percobaan Temperatur sebagai fungsi kelarutan ,dengan
tujuan memahami pengertian larutan jenuh,menentukan harga kelarutan dan penentuan pengaruh
temperature terhadap kelarutan suatu zat ,dan menghitung panas pelarutan suatu zat.
Di mana metode yang di gunakan adalah dengan menggunakan metode menghitung
kelarutan asam oksalat pada suhu 15,20,25,30, dan 35 derajat celcius.Kelarutan di hitung dengan
menggunakan titrasi NaOH 0,5 M,lalu di buat grafik ln S vs 1/T untuk menentukan nilai panas
pelarutan zat tersebut.Di mana gradiennya merupakan - H / R .
Nilai kelarutan yang di peroleh pada percobaan ini dalam proses kenaikan pada suhu
15,20,25,30.35 derajat celcius secara berurutan 1,2235 mol/1000 gram ; 1,3849 mol/1000 gram ;
1,5520 mol/1000 gram;1,4985 mol /1000 gram ; 1,4825 mol /1000 gram,Sedangkan pada proses
penurunan pada suhu 15,20,25,30,35 derajat celcius secara berurutan sebesar 1,7490 mol/1000
gram; 1,5577 mol/1000 gram ;1,8027 mol/1000 gram ; 1,6968 mol /1000 gram ; 1,8217 mol /
1000 gram.Untuk nilai H yang di peroleh untuk kenaikan sebesar 6863 J/mol dan untuk
kenaikan 2458,69 J/mol.
Kata Kunci : Kelarutan ,Titrasi ,Temperatur.

Kelarutan sebagai Fungsi Temperatur

Bab I.Tujuan
1.Memahami pengertian larutan jenuh
2.Menentukan harga kelarutan dan penentuan pengaruh temperature terhadap kelarutan suatu zat
3.Menghitung panas pelarutan suatu zat
Bab II.Dasar Teori
Kelarutan dari suatu zat dalam suatu pelarut adalah banyaknya suatu zat yang dapat larut
secara maksimum dalam suatu pelarut pada kondisi tertentu. Biasanya dinyatakan dalam satuan
mol/ liter. Jadi bila batas kelarutan tercapai, maka zat yang dilarutkan itu dalam batas
kesetimbangan, artinya bila zat terlarut ditambah, maka akan terjadi larutan yang belum jenuh.
Dan kesetimbangan tergantung pada suhu pelarutan (Hoedijono, 1990).
Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah
yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat larut dan zat tak larut.Pembentukan
larutan jenuh dapat dipercepat dengan pengadukan yang kuat dari zatt erlarut yang berlebih.
Banyaknya zat terlarut yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu, untuk menghasilkan
suatu larutan jenuh disebut kelarutan zat terlarut. Lazimnya kelarutan dinyatakan dalam gram zat
terlarut per 100 cm atau 100 gram pelarut pada temperatur yang sudah ditentukan (Keenan,
1991).

Beberapa faktor yang berhubungan dengan kelarutan antara lain:


1.

Sifat alami dari solute dan solvent

Substansi polar cenderung lebih miscible atau soluble dengan substansi polar lainnya. Substansi
non polar cenderung untuk miscible dengan substansi nonpolar lainnya, dan tidak miscible
dengan substansi polar lainnya.
2.

Efek dari temperature terhadap kelarutan

Kebanyakan zat terlarut mempunyai kelarutan yang terbatas pada sejumlah solvent tertentu dan
pada temperatur tertentu pula. Temperature dari solvent memiliki efek yang besar dari zat yang
telah larut. Untuk kebanyakan padatan yang terlarut pada liquid, kenaikkan temperatur akan
berdampak pada kenaikkan kelarutan (Solubilitas).
3.

Efek tekanan pada kelarutan

Perubahan kecil dalam tekanan memiliki efek yang kecil pada kelarutan dari padatan dalam
cairan tetapi memiliki efek yang besar pada kelarutan gas dalam cairan. Kelaruatn gas dalam
cairan berbanding langsung pada tekanan dari gas diatas larutan. Sehingga sejumlah gas yang
terlarut dalam larutan akan menjadi dua kali lipat jika tekanan dari gas diatas larutan adalah dua
kali lipat.

4.

Kelajuan dari zat terlarut

a.

Ukuran partikel

b.

Temperatur dari solvent

c.

Pengadukan dari larutan

d.

Konsentrasi dari larutan (Sukardjo, 1997).

Bahwa reaksi Eksoterm sebagai reaksi yang membebaskan kalor, sedangkan Reaksi
Endoterm sebagai reaksi yang menyerap kalor.
Pada reaksi Endoterm, sistem menyerap energi. Oleh karena itu, entalpi sisitem akan
bertambah, artinya entalpi produk (Hp) lebih besar daripada antalpi pereaksi . Akibatnya,
perubahan entalpi yaitu selisih antara entalpi produk dengan entalpi pereaksi (Hp Hr) bertanda
positif.
Reaksi Endoterm: H = Hp Hr > 0 (bertanda positif)
Sebaliknya, pada reaksi Eksoterm, sistem membebaskan energi , sehingga entalpi sistem akan
berkurang , artinya entalpi produk lebih kecil dari pada entalpi pereaksi . Oleh karena itu,
perubahan entalpinya bertanda negatif.
Reaksi Eksoterm: H = Hp Hr < 0 (Chang,2005).
Asas La Chatelier menyatakan: Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka
sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu menjadi sekecilkecilnya. Perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan kesetimbangan yang baru
akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar itu dikenal dengan pergeseran kesetimbangan.
Pengaruh temperatur dalam kesetimbangan kimia ditentukan denganHo dengan
persamaan
ln K H
=
T
R T2
yang disebut persamaan vant hoff. Pada reaksi endoterm konstanta kesetimbangan akan naik
seiring dengan naiknya termperatur. Pada reaksi eksoterm konstanta kesetimbangan akan turun
dengan naiknya temperature (Alberty, 1996).
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan
zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya.Titrasi dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang
terlibat didalam proses titrasi,sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam dan basa dan disebut
sebagai asam titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi redoks,reaksi kompleks simetris
untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
Zat yang akan ditentukan kadarnya sendiri disebut dengan titrasi (titran) dan
biasanyadiletakan di dalam tabung elenmeyer seangkan zat yang telah diketahui senidri
konsentrasinya disebut sebagai (titer) dan biasanya diletakkan didalam buret baik titer ataupun

titran biasanya didalam bentuk larutan.Suatu penerapan stoikiometri dilaboratorium adalah


analisa untuk unsur-unsur guna menentukan komposisinya penguraian yang dilakukan atau yang
digunakan berdasarkan volumetrinya dan pengukuran yang dilakukan dinamakan volumetri atau
titrasi.Dalam percobaan ini teknik analitis volumetri ditetapkan pada analisis contoh yang
mengandung asam.Titrasi asam basa melibatkan asam dan basa sebagai titer ataupun
titran.Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan kadar larutan asam ditentukan dengan
menggunkan kelarutan bebas sebagian,begitu juga sebaliknya(Brady,2003).
Bab III.Metode Percobaan
1.Alat dan Bahan
Alat-alat yang diperlukan dalam percobaan ini meliputi thermostat 0 50 C,
thermometer -10 50 C, buret 50 ml, Erlenmeyer 250 ml, gelas takar 250 ml, pipet volume 5
ml,pipet Pumb 10 ml, pengaduk, dan tabung reaksi. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan
dalam percobaan ini meliputi larutan asam oksalat jenuh, larutan NaOH 0,5 M, indicator PP, es
batu, dan garam dapur.
2.Cara Kerja
Larutan asam oksalat jenuh secukupnya di masukan kedalam tabung reaksi,kemudian di
siapkan thermostat berupa wadah yang berisi campuran air dan garam dapur (2-3 sendok makan)
dan di beri pecahan es batu atau di atur suhunya sampai suhu yang sesuai suhu yang di atur
dalam thermostat adalah 15,20,25,30,35 derajat celcius. Larutan asam oksalat jenuh kemudian di
masukan kedalam thermostat sampai suhunya sesuai yang di inginkan, lalu apabila suhunya telah
sesuai di ambil sebanyak 10 ml Larutan asam oksalat (Kristal asam oksalat jangan sampai
terhisap) dan di titrasi dengan NaOH 0,5 M dengan di tetesi indikator PP dua tetes. Titrasi di
lakukan sampai warna berubah menjadi merah jambu .Titrasi di lakukan 2 kali.
3.Skema Alat