Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS PANGAN

PENENTUAN KADAR PROTEIN DALAM DAGING


KAMBING DENGAN METODE KJELDAHL
Disusun oleh :
Eli Fatihatul Hasanah

24030111130060

Septiatun Khasanah

24030113120018

Biqis Soraya

24030113130114

Setya Nata Mahardika

24030112130050

Rani Fajar

24030113120059

Ghina Labiebah

24030113140115

Fandu Edu. W

24030113120030

Brian Yudo Pratama

24030112140032

Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Diponegoro
Semarang
2015

PENENTUAN KADAR PROTEIN DARI DAGING KAMBING


DENGAN METODE KJELDAHL
I.

Tujuan Percobaan

Menentuan kadar protein total dari daging kambing dengan


metode kjeldhal.
II.

Dasar Teori
Protein berasal dari bahasa Yunani protos, yang berarti

yang paling utama. Protein merupakan senyawa organik


kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer
dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan
satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein
mengandung komposisi rata-rata unsur kimia yaitu karbon
50%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 26%, dan kadang
kala sulfur 0-3% serta fosfor 0-3%. Protein merupakan
komponen utama sel hewan dan manusia. Proses kimia
dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya
enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator.
Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah atau
eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari
paru-paru ke seluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis
protein. Terdapat ikatan kimia lain dalam protein yaitu
ikatan

hidrogen,

ikatan

hidrofob,

ikatan

ion/ikatan

elektrostatik, dan ikatan Van Der Waals. Protein dapat tidak


stabil terhadap beberapa faktor yaitu pH, radiasi, suhu,
medium pelarut organik, dan detergen.
Protein adalah makromolekul yang paling berlimpah di
dalam sel hidup dan merupakan 50% atau lebih berat kering

sel. Protein ditemukan dalam semua sel dan semua bagian


sel. Protein juga amat bervariasi, ratusan jenis yang
berbeda dapat ditemukan dalam satu sel. Semua protein,
baik yang berasal dari bakteri yang paling tua atau yang
berasal dari bentuk kehidupan tertinggi, dibangun dari
rangkaian dasar yang sama dari 20 jenis asam amino yang
berikatan kovalen dalam urutan yang khas. Karena masingmasing asam amino mempunyai rantai samping yang
khusus,

yang

memberikan

sifat

kimia

masing-masing

individu, kelompok 20 molekul unit pembangun ini dapat


dianggap sebagai abjad struktur protein. Yang paling
istimewa adalah bahwa sel dapat merangkai ke-20 asam
amino dalam berbagai kombinasi dan urutan, menghasilkan
peptida

dan

protein

yang

mempunyai

sifat-sifat

dan

aktivitas berbeda. Dari unit pembangun ini organisme yang


berbeda dapat membuat produk-produk yang demikian
bervariasi, seperti enzim, hormon, lensa protein pada mata,
bulu ayam, jaring laba-laba, dan sebagainya (Lehninger,
1982).
Secara kimiawi, protein merupakan senyawa polimer
yang

tersusun

monomernya.

atas

Protein

asam-asam
adalah

suatu

amino

sebagai

polipeptida

yang

memiliki lebih dari 100 residu asam amino. Protein alamiah


memiliki 20 jenis asam amino. Untuk setiap protein tertentu,
urutan dan jenis-jenis asam amino yang menyusun sangat
spesifik. Suatu protein yang hanya tersusun atas asam
amino dan tidak mengandung gugus kimia lain disebut
protein sederhana. Contohnya enzim ribonuklease dan

khimotripsinogen.

Namun,

banyak

protein

yang

mengandung bahan lain selain asam amino seperti derivat


vitamin, lipid, atau karbohidrat, protein ini disebut protein
konjugasi. Bagian yang bukan asam amino dari jenis protein
disebut gugus prostetik. Contohnya lipoprotein mengandung
lipid dan glikolipid mengandung gula.
Protein merupakan makromolekul (BM besar 50001.000.000) yang umumnya terdiri dari 20 macam asam
amino. Protein merupakan polimer yang terdiri dari satu
asam amino yang terikat secara kovalen.

Asam amino berikatan secara kovalen satu dengan


yang

lain

dalam

variasi

urutan

bermacam-macam,

membentuk rantai polipeptida. Ikatan antara asam amino


disebut ikatan peptide.

Ikatan peptide adalah ikatan antara gugus -karboksil dari


asam amino 1 dengan gugus -amino dari asam amino lain.

Dalam struktur protein terdapat ikatan kimia lain


diantaranya

ikatan

hidrogen,

ikatan

hidrofob,

ikatan

ion/ikatan elektrostatik, ikatan van der Waals dan Ikatan


sulfhidril. Struktur tidak stabil terhadap beberapa faktor
seperti pH, radiasi, suhu, medium pelarut organic dan
detergen. Protein umumnya reaktif dan sangat spesifik
karena terdapat gugus samping yang reaktif (dapat berupa
kation, anion, hidroksil aromatik, hidroksil alifatik, amin,
amida, tiol, heterosiklik) dan memiliki susunan khas struktur
maromolekul.

Macam-macam Protein

Pepsin termasuk protein katalitik (enzim pada lambung)


yang berfungsi mencerna protein, memungkinkan protein
dapat dipecah menjadi asam amino, digunakan dalam
seluruh metabolisme hidup manusia.
Kolagen termasuk protein structural, contoh serat
kolagen pada organ kulit. Kolagen berfungsi memberikan
ketahanan struktural dan elastisitas pada kulit sehingga
kulit tidak mudah rusak, tampak kencang. Kolagen juga
merupakan salah satu protein structural terkuat, contohnya
sutra yang dihasilkan oleh laba-laba Nephila sp., yang juga
merupakan protein, adalah serat terkuat yang pernah
ditemukan bahan baku rompi anti peluru.
Aktin & Myosin, termasuk protein yang memiliki fungsi
mekanik,

merupakan

protein

manusia

&

berfungsi

hewan,

kontraktil

pada

melakukan

sel

kerja

otot
yang

menghasilkan kontraksi otot, misalnya pada otot polos &


otot jantung, aktin & myosin bekerja terus-menerus, bila
kerja terganggu bias berakibat fatal.
Ferritin,

termasuk

protein

penyimpan,

misalnya

menyimpan Fe dalam sel. Ferritin berfungsi memberikan


cadangan Fe saat sel memerlukannya untuk memproduksi
senyawa

ber-Fe.

Fe

merupakan

salah

satu

molekul

terpenting dalam kehidupan manusia. Fe terdapat pada


hemoglobin. Kekurangan Fe dapat menyebabkan anemia.
Hemoglobin, termasuk protein yang berperan sebagai
pengangkut,

membawa

Hemoglobin

memiliki

oksigen
gugus

pada

darah

non-asam

manusia.

amino

pada

strukturnya, memiliki cincin porfirin Fe yang berfungsi

sebagai gugus pengikat oksigen. Perubahan urutan satu


asam

amino

Glu

menjadi

Val

pada

hemoglobin

mengakibatkan penyakit sickle cell anemia.


Insulin,

termasuk

protein

pengatur/hormon

yang

berfungsi menurunkan kadar gula darah. Insulin dihasilkan


oleh sel-sel Langerhans pada pancreas. Kekurangan insulin
mengakibatkan tidak dapat menurunkan kadar gula darah
sehingga menyebabkan diabetes insulin dependent, untuk
mengatasinya harus disuntik insulin.
Imunoglobulin, termasuk protein pertahanan/perlindungan,
berfungsi mengenali dan memberikan perlawanan terhadap
materi asing, terdapat pada membran sel darah putih,
reaktif terhadap ancaman, merupakan bodyguard alami
yang diciptakan & bekerja tanpa disadari.
Toksin

dari

bisa

ular

(neurotoksin,hemotoksin),

termasuk protein toksin misalnya pertahanan diri ular dari


musuh, senjata untuk mendapat makanan.
Uji kuantitatif dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah
kandungan protein dalam suatu bahan salah satunya
metode

Kjeldahl.

Metode

Kjeldahl

dugunakan

untuk

menentukan kadar protein total, biasanya diaplikasikan


pada makanan. Dengan metode ini dapat dihitung kadar
protein kasar (crude protein) karena yang dihitung adalah
total N, sehingga akan ikut terhitung senyawa lain yang
mengandung N namunbukan merupakan protein.
Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana
untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein
dan

senyawa

yang

mengandung

nitrogen.

Sampel

didestruksi dengan H2SO4 dan dikatalisis dengan katalisator


yang sesuai sehingga akan menghasilkan (NH 4)2SO4. Setelah
pembebasan

dengan

alkali/basa

kuat,

ammonia

yang

terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan


penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah
banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan
secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel
dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek.
Kentungan menggunakan Metode Kjeldahl,diantaranya :
Secara internasional dan masih merupakan metode standar
untuk perbandingan terhadap semua metode lainnya.
presisi tinggi dan baik reproduktifitas telah membuat
metode utama untuk estimasi protein dalam makanan.
Kerugian menggunakan Metode Kjeldahl,diantaranya :
Memberikan ukuran protein yang benar, karena semua
nitrogen dalam makanan tidak dalam bentuk protein.
Protein yang berbeda memerlukan faktor koreksi yang
berbeda karena mereka memiliki urutan asam amino yang
berbeda.
Penggunaan

asam

sulfat

pekat

pada

suhu

tinggi

menimbulkan bahaya yang cukup besar, seperti halnya


penggunaan

beberapa

kemungkinan

katalis

teknik

ini

memakan waktu untuk membawa keluar.


Analisis protein dengan metode Kjeldahl pada dasarnya
dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu proses destruksi,
destilasi dan titrasi.
1. Proses destruksi

Pada tahap ini, sampel dipanaskan dalam H 2SO4 pekat


sehingga terjadi penguraian sampel menjadi unsur-unsurny.
Elemen karbon, hydrogen teroksidasi menjadi CO, CO 2 dan
H2O. Sedangkan nitrogen akan berubah menjadi (NH 4)2SO4.
Untuk

mempercepat

proses

destruksi

ditambahkan

katalisator berupa campuran Na 2SO4 (Sodium sulfate) dan


HgO

(Merkuri

oksida)

20

1.

Gunning

mengajurkan

menggunakan K2SO4 (Kalium sulfat) atau CuSO4. Dengan


penambahan katalisator tersebut titik didih H2SO4 akan
dipertinggi sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Selain
katalisator yang telah disebutkan tadi, kadang-kadang juga
diberikan Selenium (Se) yang dapat mempercepat proses
oksidasi karena zat tersebut selain menaikkan titik didih
juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke
valensi rendah atau sebaliknya.
N organik + H 2 SO4 ( NH 4 )2 SO4 + H 2 O+CO 2+ hasil lain

2. Proses destilasi
Pada tahap ini sampel dipanaskan dalam H 2SO4 dipecah
menjadi (NH4)2SO4 dengan penambahan NaOH sampai akalis
dan dipanaskan. Ammonium yang dibebaskan selanjutnya
akan ditangkap oleh H3BO3 4 % 50 ml. Agar kontak antara
asam dan ammonia lebih baik maka diusahakan ujung
tabung destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam.
Untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebihan maka
diberi indicator misalnya BCG MR (campuran brom cresol
green dan methyl red) atau PP (phenol pthalein).
++ Na 2 SO 4 +2 H 2 O
( NH 4 )2 SO 4 +2 NaOH 2 NH 3

3. Proses Titrasi
Titrasi merupakan tahap akhir dari seluruh metode
Kjeldahl pada penentuan kadar protein dalam bahan pangan
yang dianalisis. Apabila penampung destilat digunakan HCl
maka sisa HCl yang bereaksi dengan

+
NH 4

dititrasi dengan

NaOH standar (0,1 N). Titik akhir titrasi ditandai dengan


tempat perubahan warna larutan menjadi merah muda dan
tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indicator PP.

N=

14 g /mol x ml titran HCl x ( N titran)


x 100
berat sampel ( g ) x 1000

Apabila penampungan destilasi digunakan H3BO3 maka


banyaknya H3BO3 yang bereaksi dengan

+
NH 4

dapat

diketahui dengan titrasi menggunakan HCl 0,1 N dengan


indicator (BCG-MR). Titik akhir titrasi ditandai dengan
perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda.
+ : HBO3 + H 3 B O3 ( hijau muda )
NH 3 + H 3 BO 3 NH 4
+ : HBO3 + HCl NH 4 Cl+2 H 3 BO 3( hijauungu ungu muda)
2 NH 4

Setelah

diperoleh

%N,

selanjutnya

dihitung

kadar

proteinnya dengan mengalikan suatu factor. Besarnya factor

perkalian N menjadi protein ini tergantung pada persentase


N yang menyusun protein dalam suatu bahan.
Protein mengandung 16% nitrogen, sehingga perhitungan
kadar protein total:
protein=

III.

100
x N =6,25 x N
16

Metode Percobaan

3.1.1. Alat & bahan


3.1.1

Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalahKjeldahl


Flask,

alat

destilasi,

Erlenmeyer

flask,

beaker

glass,

graduated cylinder (gelas ukur), thermometer, medicine


dropper (pipet tetes) dan heater (alat pemanas).
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sampel
daging kambing, Na2SO4(Potassium sulfate), H2SO4 (Sulfuric
acid), CUS04NaOH 0,1N (Sodium hydroxide), HCl 0,1N
(hydrochloric acid), indicator mo, Aquadest dan Air es
a. Prosedur kerja
1.

Proses Destruksi

a. Ditimbang

bahan

daging

kambing

yang

telah

dihaluskan, masukkan dalam labu Kjeldahl


b. Kemudian ditambahkan Na2SO4 10 g, CuSO4 1 g dan 25 ml
ml asam sulfat pekat.
c. Dipanaskan semua bahan dalam labu Kjeldahl sampai
berhenti

berasap

dan

diteruskan

pemanasan

sampai

mendidih

dan

cairan menjadi

hijau

jernih.

dimatikan

pemanasan dan dibiarkan sampai dingin.


d. Selanjutnya ditambahkan 100 ml aquadest dalam labu dan
biarkan sampai satu hari satu malam.
2.

Proses Destilasi

a. Menyiapkan alat destilasi, kemudian tambahkan NaOH


sampai

larutan

menjadi

jenuh

yang

ditandai

dengan

terbentuk warna coklat.


b. Dipasang labu Kjeldahl dengan segera pada alat destilasi.
Dipanaskan labu Kjeldahl yang telah berisi larutan hasil
destruksi tadi perlahan-lahan sampai dua lapis cairan
tercampur, kemudian dipanaskan dengan cepat sampai
mendidih.
c. Destilat ditampung dalam Erlenmeyer yang telah diisi
dengan larutan baku yang berupa asam borat 0,01 M
sebanyak 0,2 g diencerkan sampai 50 ml.
d. Proses destilasi selesai jika destilat yang ditampung lebih
kurang 75 ml.
3.

Proses Titrasi

Hasil destilasi tadi di titrasi menggunakan HCl 0,1 M. Titik


akhir titrasi tercapai jika terjadi perubahan warna larutan
dari merah menjadi pink. Lakukan titrasi blanko.
Adapun penentuan kadar protein kasar :
Protein Kasar = [HCl] X titran HCl X 14 g/mo X 6,25 X 100%
Berat Sampel (x) g
IV.

Pembahasan
Analisa

protein

dapat

dilakukan

dengan

metode

kualitatif dan metode kuantitatif. Pada praktikum ini akan

dilakukan penentuan kadar protein dalam bahan pangan


dengan menggunakan metode Kjedahl dimana menurut
literatur yang ada menyebutkan bahwa metode ini untuk
penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan
senyawa

yang

mengandung

nitrogen.

Prinsip

Metode

kjedahl yaitu reaksi oksidasi dari sampel oleh H 2SO4 dengan


menggunakan katalisator sehingga protein dan asam amino
menjadi

(NH4)2SO4. Prinsip kerja dengan metode kjedahl

yaitu protein dan komponen organik dalam sampel akan


didestruksi dan hasil destruksi akan dinetralkan melalui
proses destilasi. Destilat kemudian di tampung dan di titrasi
dengan HCl. Proses lanjut menghitung kadar protein kasar
(crude protein).
Tahapan pertama penentuan kadar protein ini yaitu
destruksi,

destruksi

protein

meliputi

gangguan

dan

kerusakan yang mungkin terjadi pada struktur protein yaitu


pemutusan ikatan peptide pada asam amino. Pada tahap
destruksi, sampel yang berupa daging kambing 1 g, Na2SO4
10 gr, CuSO4 1g kemudian dilakukan pemanasan setelah
ditambahkan 25 ml H2SO4 pekat sehingga

merupakan

proses pengubahan terjadi penguraian sample menjadi


unsur-unsurnya.

Elemen

karbon,

hidrogen

teroksidasi

menjadi CO, CO2 dan H2O. Sedangkan nitrogennya (N) akan


berubah menjadi (NH4)2SO4 dan unsur N yang dihasilkan
akan dipakai untuk menentukan kadar protein. Tujuan
ditambahkan katalisator yaitu CuSO4 untuk mempercepat
proses

destruksi.

Dengan

penambahan

Na2SO4

akan

mempercepat proses destruksi dengan menaikan titik didih

H2SO4.Tiap

Asam

Sulfat

sebagi

oksidator

yang

dapat

mendigesti makanan. Penambahan. Dari proses ini semua


ikatan N dalam bahan pangan akan menjadi

(NH 2)2 SO 4

kecuali ikatan N=N; NO; dan NO 2. Ammonia (NH3)dalam


H2SO4terdapat dalam bentuk

(NH 2)2 SO4 . Pada tahap ini

juga menghasilkan CO2, H2O, dan SO2 yang terbentuk


adalah

hasil

reduksi

dari

sebagian

asam

sulfat

dan

menguap.
Reaksi yang terjadi selama destruksi
HgO+H 2 SO 4 Hg SO 4 +H 2 O
2 Hg SO 4 Hg 2 SO 4 + SO 2 +2 On
Hg2 SO 4 +2 H 2 SO 4 2 Hg 2 SO 4 +2 H 2 O+ SO2

( CHON )+ On+ H 2 SO 4 CO 2 + H 2 O+( NH 2)2 SO 4

Selama proses destruksi, akan dihasilkan gas SO 2 yang


berbau menyengat dan dapat membahayakan jika dihirup
dalam jumlah relative banyak. Menurut literature proses ini,
gas yang di hasilkan ini akan bergerak ke atas (tersedot
penutup) dan disalurkan ke alat penetral. Alat ini terdiri dari
dua larutan, yaitu NaOH dan Aquadest. Awalnya, gas SO2
akan masuk ke dalam tabung yang berisi NaOH, kemudia
gasr hasil penetralan tahap pertama masuk ke dalam
tabung keedua yang berisi aquadest. Dalam tabung ini,
kembali terjadi penetralan, sehingga diharapkan semua gas
SO2 telah ternetralkan. Selain dibebaskan gas SO2, juga di

bebaskan gas CO2, serta H2O. Hal ini sesuai dengan reaksi
sebagai berikut :
Bahan organik + H 2 SO 4 CO2 +SO 2 + ( NH 4 )2 SO 4 + H 2 O

Hasil proses destruksi larutan menjadi berwarna jernih, ini


menunjukkan bahwa semua partikel bahan padat telah
terdestruksi menjadi bentuk partikel yang larut tanpa ada
partikel padat padat yang tersisa. Larutan jernih ini
mengandung

senyawa

( NH 4 )2 SO4 .

Proses

selanjutnya

larutan hasil destruksi didinginkan, tujuannya supaya suhu


sampel sama dengan suhu ruangan dan bisa di lakukan
proses selanjutnya yaitu proses destilasi.
Larutan sampel jernih yang telah dingin, ditambahkan
dengan aquadest untuk melarutkan sampel hasil destruksi
yang bertujuan agar hasil destruksi dapat didestilasi dengan
sempurna, serta untuk lebih memudahkan proses analisis.
Pada tahap destilasi, amonium sulfat akan di pecah
menjadi amonia (NH3) dari penambahan NaOH yang akan
menyebabkan reaksi antara NaOH dengan amonium sulfat.
Dan proses lanjutnya dilakukan pemanasan labu Kjeldahl
perlahan-lahan sampai dua lapisan cairan tercampur, dan
dipanaskan sampai mendidih. Untuk tabung erlenmeyer di
masukkan larutan baku yaitu Asam Borat 0,2 g 0,01 N dan
ditambahkan indikator berupaa Mo diletakkan pada ujung
pipa kaca destilator yang dipastikan ujung pipa kaca
destilator penggunaan larutan baku ini yang berada di
dalam erlenmeyer, ini bertujuan agar penangkapan destilat
amonia (NH3) dapat ditangkap secara maksimal. Sehingga

dapat ditentukan jumlah protein yang sesuai kadar protein


yang

tergantung

dalam

bahan.

Digunakan

indikator

phenolphthalein untuk mengetahui asam dalam keadaan


berlebih. Hasil destilasi (uap NH3 dan air) ditangkap oleh
larutan asam borak yang terdapat dalam labu erlenmeyer
dan

membentuk

senyawa

NH4Cl.

Senyawa

ini

dalam

suasana basa akan melepaskan NH 3. Penyulingan atau


destilasi dihentikan jika semua N sudah tertangkap oleh
asam klorida dalam labu erlenmeyer yang akan berubah
menjadi berwarna biru karena berada dalam suasana basa
akibat menangkap amonia. Amonia yang terbentuk dalam
destilasi

dapat

ditangkap

sebagai

destilat

setelah

diembunkan (kondensasi).
Reaksi yang terjadi:
(NH4)SO4 + NaOH

Na2SO4 + 2 NH4OH

2NH4OH 2NH3 + 2H2O


4NH3 + 2HCl 2(NH4)Cl +H2

Kemudian larutan dalam erlenmeyer dilakukan titrasi.


Titrasi merupakan tahap akhir pada penentuan kadar
protein dalam bahan pangan yang dianalisis. Dengan
melakukan titrasi, dapat diketahui banyaknya asam klorida
yang bereaksi dengan ammonia. Untuk tahap titrasi, destilat
dititrasi dengan HCl yang telah distandardisasi. Titik akhir
titrasi dihentikan sampai larutan berubah warna menjadi
merah muda atau pink. Di dapat jumlah titran yaitu 9 ml,

maka di dapat nilai % N yaitu

1,26

dan di dapat kadar

protein dari metode ini adalah 7,8 .


V.

Kesimpulan
Berdasarkan

praktikum

analisa

kadar

protein

dengan

metode Kjeldhal yang sudah dilakukan, didapatkan adalah


7,8 .

Daftar pustaka
Lehninger,

A.

L.,

1982,

Dasar-dasar

Biokimia

jilid

1,

Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.
Almatsier, Sunita. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Wirahadikusumah, M., 2001, Biokimia : Protein, Enzim, dan
Asam Nukleat, Penerbit ITB, Bandung
Wirahadikusuma, M., 1985, Biokimia : Metabolisme Energi,
Karbohidrat, dan Lipid, Penerbit ITB, Bandung.
Page, Davis S., 1989. Prinsip-prinsip Biokimia edisi ke-2,
Erlangga, Jakarta.

LAMPIRAN PERHITUNGAN
Ditany: % N

%N = [HCl] x V. HCl Titrasi x 14 gr x100%


g sampel
%N= 0,1 M X 9 ml x 14 x100 %
1 x 10-3 mg
% N = 1,26%
% Protein = F x % N
% Protein = 6,25 x 1,26 %
= 7,8 %