Anda di halaman 1dari 24

BAB II

II. 1 DEFINISI
Migren adalah serangan nyeri kepala berulang, dengan karakteristik
lokasi unilateral, berdenyut dan frekuensi, lama serta hebatnya rasa
nyeri yang beraneka ragam.2,3,5Blau mengusulkan definisi migren
sebagai berikut nyeri kepala yang berulang-ulang dan berlangsung
2-72 jam dan bebas nyeri antara serangan nyeri kepalanya harus
berhubungan dengan gangguan visual atau gastrointestinal atau
keduanya.2
Angka kejadian
Migren dapat terjadi pada anak-anak sampai orang dewasa,
biasanya jarang terjadi setelah berumur lebih dari 50 tahun. Angka
kejadian migren dalam kepustakaan berbeda-beda pada setiap
negara, umumnya berkisar antara 5 6 % dari populasi. Di
Indonesia belum ada data secara kongkret. Pada wanita migren
lebih banyak ditemukan dibanding pria dengan skala 2:1. Wanita
hamil tidak luput dari serangan migren, pada umumnya serangan
muncul pada kehamilan trimester I.
II. 2 KLASIFIKASI
Klasifikasi migren menurut International Headache Society (IHS):
1. Migrain tanpa aura (common migraine)- Nyeri kepala selama 4-72
jam tanpa terapi. Sekurang-kurangnya 10 kali serangan. Pada anakanak kurang dari 15 tahun, nyeri kepala dapat berlangsung 2-48
jam.
- Nyeri kepala minimal mempunyai dua karakteristik berikut ini:
Kuafitas berdenyutLokasi unilateral
Intensitas sedang sampai berat yang menghambat aktivitas sehari-

hari.
Diperberat dengan naik tangga atau aktivitas fisik rutin.8 - Selama
nyeri kepala, minimal satu dari gejala berikut muncul:
Mual dan atau muntah
Fotofobia dan fonofobia- Minimal terdapat satu dari berikut:
Riwayat dan pemeriksaan fisik tidak mengarah pada kelainan lain.
Riwayat dan pemeriksaan fisik mengarah pada kelainan lain, tapi
telah disingkirkan dengan pemeriksaan penunjang yang memadai
(mis: MRI atau CT Scan kepala)
2. Migrain dengan aura (classic migraine)
- Terdiri dari empat fase yaitu: fase prodromal, fase aura, fase nyeri
kepala dan fase postdromal.
- Aura dengan minimal 2 serangan
- Terdapat minimal 3 dari 4 karakteristik sebagai berikut :
Satu gejala aura atau lebih mengindikasikan disfungsi CNS fokal
(mis: vertigo, tinitus, penurunan pendengaran, ataksia, gejala visual
pada hemifield kedua mata, disartria, diplopia, parestesia, paresis,
penurunan kesadaran) Gejala aura timbul bertahap selama lebih
dari 4 menit atau dua atau lebih gejala aura terjadi bersama-sama
Tidak ada gejala aura yang berlangsung lebih dari 60 menit; bila
lebih dari satu gejala aura terjadi, durasinya lebih lama
Nyeri kepala mengikuti gejala aura dengan interval bebas nyeri
kurang dari 60 menit, tetapi kadang-kadang dapat terjadi sebelum
aura.
- Sekurang-kurangnya terdapat satu dari yang tersebut dibawah
ini :
Riwayat dan pemeriksaan fisik tidak mengarah pada kelainan lain.
Riwayat dan pemeriksaan fisik mengarah pada kelainan lain, tapi
telah disingkirkan dengan pemeriksaan penunjang yang memadai

(mis: MRI atau CT Scan kepala)


3. Migraine with prolonged aura
- Memenuhi kriteria migren dengan aura tetapi aura terjadi selama
lebih dari 60 menit dan kurang dari 7 hari.
4. Basilar migraine (menggantikan basilar artery migraine)
- Memenuhi kriteria migren dengan aura dengan dua atau lebih
gejala aura sebagai berikut: vertigo, tinnitus, penurunan
pendengaran, ataksia, gejala visual pada hemifield kedua mata,
disartria, diplopia, parestesia bilateral, paresis bilateralda
penurunan derajat kesadaran.
5. Migraine aura without headache (menggantikan migraine
equivalent atau achepalic migraine)
- Memenuhi kriteria migren dengan aura tetepi tanpa disertai nyeri
kepala
6. Benign paroxysmal vertigo of childhood- Episode disekuilibrium,
cemas, seringkali nystagmus atau muntah yang timbul secara
sporadis dalam waktu singkat.
- Pemeriksaan neurologis normal.
- Pemeriksaan EEG normal
7. Migrainous infraction (menggantikan complicated migraine)
- Telah memenuhi kriteria migren dengan aura.
- Serangan yang terjadi sama persis dengan serangan yang
sebelumnya, akan tetapi defisit neurologis tidak sembuh sempurna
dalam 7 hari dan atau pada pemeriksaan neuroimaging didapatkan
infark iskemik di daerah yang sesuai- Penyebab infark yang lain
disingkirkan dengan pemeriksaan yang memadai.
8. Migren oftalmoplegik dengan ciri-ciri:
Migren yang dicirikan oleh serangan berulang-ulang yang
berhubungan dengan paresis

Tidak ada kelainan organik.


Paresis pada saraf otak ke III, IV, VI
9. Migren hemiplegic familial
- migren dengan aura termasuk hemiparesis dengan criteria klinik
yang sama seperti migren aura dan sekurang-kurangnya seorang
keluarga terdekat memiliki riwayat migren yang sama
10. Migren retinal dengan ciri-ciri:
Terjadi berulang kali dalam bentuk buta tidak lebih dari 1 jam.
Gangguan okuler dan vaskuler tidak dijumpai.
11. Migren yang berhubungan dengan intrakranial dengan ciri-ciri:
Gangguan intrakranial berhubungan dengan awitan secara
temporal.
Aura dan lokasi nyeri kepala berhubungan erat dengan jenis lesi
intrakranial.
Aura ialah gejala fokal neurologi yang komplek dan dapat timbul
sebelum, pada saat atau setelah serangan nyeri kepala
II. 3 ETIOLOGI DAN FAKTOR PENCETUS
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti faktor penyebab
migren, di duga sebagai gangguan neurobiologis, perubahan
sensitivitas sistim saraf dan avikasi sistem trigeminal-vaskular,
sehingga migren termasuk dalam nyeri kepala primer.
Diketahui ada beberapa faktor pencetus timbulnya serangan migren
yaitu:
1. Menstruasi biasa pada hari pertama menstruasi atau
sebelumnya/ perubahan hormonal.
Beberapa wanita yang menderita migren merasakan frekuensi
serangan akan meningkat saat masa menstruasi. Bahkan ada
diantaranya yang hanya merasakan serangan migren pada saat

menstruasi. Istilah menstrual migraine sering digunakan untuk


menyebut migren yang terjadi pada wanita saat dua hari sebelum
menstruasi dan sehari setelahnya. Penurunan kadar estrogen dalam
darah menjadi biang keladi terjadinya migren.
2. Kafein
Kafein terkandung dalam banyak produk makanan seperti minuman
ringan, teh, cokelat, dan kopi. Kafein dalam jumlah sedikit akan
meningkatkan kewaspadaan dan tenaga, namun bila diminum
dalam dosis yang tinggi akan menyebabkan gangguan tidur, lekas
marah, cemas dan sakit kepala
3. Puasa dan terlambat makan
Puasa dapat mencetuskan terjadinya migren oleh karena saat puasa
terjadi pelepasan hormon yang berhubungan dengan stress dan
penurunan kadar gula darah. Hal ini menyebabkan penderita
migren tidak dianjurkan untuk berpuasa dalam jangka waktu yang
lama.
4. Makanan misalnya akohol, coklat, susu, keju dan buah-buahan.
Cokelat dilaporkan sebagai salah satu penyebab terjadinya migren,
namun hal ini dibantah oleh beberapa studi lainnya yang
mengatakan tidak ada hubungan antara cokelat dan sakit kepala
migren. Anggur merah dipercaya sebagai pencetus terjadinya
migren, namun belum ada cukup bukti yang mengatakan bahwa
anggur putih juga bisa menyebabkan migren. Tiramin (bahan kimia
yang terdapat dalam keju, anggur, bir, sosis, dan acar) dapat
mencetuskan terjadinya migren, tetapi tidak terdapat bukti jika
mengkonsumsi tiramin dalam jumlah kecil akan menurunkan
frekuensi serangan migren. Penyedap masakan atau MSG
dilaporkan dapat menyebabkan sakit kepala, kemerahan pada
wajah, berkeringat dan berdebar debar jika dikonsumsi dalam

jumlah yang besar pada saat perut kosong. Fenomena ini biasa
disebut Chinese restaurant syndrome. Aspartam atau pemanis
buatan yang banyak dijumpai pada minuman diet dan makanan
ringan, dapat menjadi pencetus migren bila dimakan dalam jumlah
besar dan jangka waktu yang lama.
5. Cahaya kilat atau berkelip.
Cahaya yang terlalu terang dan intensitas perangsangan visual
yang terlalu tinggi akan menyebabkan sakit kepala pada manusia
normal. Mekanisme ini juga berlaku untuk penderita migren yang
memiliki kepekaan cahaya yang lebih tinggi daripada manusia
normal. Sinar matahari, televisi dan lampu disko dilaporkan sebagai
sumber cahaya yang menjadi faktor pencetus migren.6. Psikis baik
pada peristiwa duka ataupun pada peristiwa bahagia (stress)
7. Banyak tidur atau kurang tidur
Gangguan mekanisme tidur seperti tidur terlalu lama, kurang tidur,
sering terjaga tengah malam, sangat erat hubungannya dengan
migren dan sakit kepala tegang, sehingga perbaikan dari
mekanisme tidur ini akan sangat membantu untuk mengurangi
frekuensi timbulnya migren. Tidur yang baik juga dilaporkan dapat
memperpendek durasi serangan migren.
8. Faktor herediter
9. Faktor kepribadian
II. 4 GEJALA DAN TANDA
1. Jenis nyeri kepala berdenyut-denyut adalah khas untuk
menunjukan nyeri kepala vaskuler, selain itu terasa tertusuk-tusuk
atau kepala mau pecah.
2. Migren merupakan nyeri kepala episodik berlangsung selama 5
20 jam tetapi tidak lebih dari 72 jam.3. Puncak nyeri 1-2 jam

setelah awitan dan berlangsung 6 36 jam.


4. Waktu terjadinya migren dapat muncul sewaktu-waktu baik siang
maupun malam, tetapi sering kali mulai pada pagi hari.
5. Lokasi migren sering bersifat unilateral (satu sisi) biasanya pada
daerah frontal, temporal, namun suatu saat dapat menyeluruh.
6. Nyeri berdenyut dari migren sering ditutupi oleh perasaan nyeri
yang bersifat terus menerus.
7. Gejala yang menyertai migren adalaho Mual, muntah, dan
anoreksia.
o Gejala visual baik yang positif dan negatif.
o Gejala hemiferik.
1. Hemiparesis
2. Parestesia
3. Gangguan berbahasa.
4. Gangguan batang otak:
1. Vertigo
2. Disartria3. Ataksia4. Diplopia
5. Kuandriparesis
8. Aktivitas bekerja memperberat terjadinya migren.
9. Migren mereda apabila dipakai untuk istirahat, menghindari
cahaya dan tidur.
Migren merupakan suatu penyakit kronis, bukan sekedar sakit
kepala. Secara umum terdapat 4 fase gejala, meskipun tak semua
penderita migren mengalami keempat fase ini. Keempat fase
tersebut adalah : fase prodromal, aura, serangan, dan postdromal.
A. Fase Prodromal
Fase ini terdiri dari kumpulan gejala samar / tidak jelas, yang dapat
mendahului serangan migren. Fase ini dapat berlangsung selama

beberapa jam, bahkan dapat 1-2 hari sebelum serangan. Gejalanya


antara lain:
o Psikologis : depresi, hiperaktivitas, euforia (rasa gembira yang
berlebihan), banyak bicara (talkativeness), sensitif / iritabel, gelisah,
rasa mengantuk atau malas.
o Neurologis : sensitif terhadap cahaya dan/atau bunyi (fotofobia &
fonofobia), sulit berkonsentrasi, menguap berlebihan, sensitif
terhadap bau (hiperosmia)
o Umum : kaku leher, mual, diare atau konstipasi, mengidam atau
nafsu makan meningkat, merasa dingin, haus, merasa lamban,
sering buang air kecil.
B. Aura
Umumnya gejala aura dirasakan mendahului serangan migren.
Secara visual, aura dinyatakan dalam bentuk positif atau negatif.
Penderita migren dapat mengalami kedua jenis aura secara
bersamaan.Aura positif tampak seperti cahaya berkilauan, seperti
suatu bentuk berpendar yang menutupi tepi lapangan
pengelihatan. Fenomena ini disebut juga sebagai scintillating
scotoma (scotoma = defek lapang pandang). Skotoma ini dapat
membesar dan akhirnya menutupi seluruh lapang pandang. Aura
positif dapat pula berbentuk seperti garis-garis zig-zag, atau
bintang-bintang.
Aura negatif tampak seperti lubang gelap/hitam atau bintik-bintik
hitam yang menutupi lapangan pengelihatannya. Dapat pula
berbentuk seperti tunnel vision; dimana lapang pandang daerah
kedua sisi menjadi gelap atau tertutup, sehingga lapang pandang
terfokus hanya pada bagian tengah (seolah-seolah melihat melalui

lorong).
Beberapa gejala neurologis dapat muncul bersamaan dengan
timbulnya aura. Gejala-gejala ini umumnya: gangguan bicara;
kesemutan; rasa baal; rasa lemah pada lengan dan tungkai bawah;
gangguan persepsi penglihatan seperti distorsi terhadap ruang; dan
kebingungan (confusion).
C. Fase Serangan
Tanpa pengobatan, serangan migren umumnya berlangsung antara
4-72 jam. Migren yang disertai aura disebut sebagai migren klasik.
Sedangkan migren tanpa disertai aura merupakan migren umum
(common migraine). Gejala-gejala yang umum adalah:
1. Nyeri kepala satu sisi yang terasa seperti berdenyut-denyut atau
ditusuk-tusuk. Nyeri kadang-kadang dapat menyebar sampai terasa
di seluruh bagian kepala
2. Nyeri kepala bertambah berat bila melakukan aktivitas
3. Mual, kadang disertai muntah
4. Gejala gangguan pengelihatan dapat terjadi
5. Wajah dapat terasa seperti baal / kebal, atau semutan
6. Sangat sensitif terhadap cahaya dan bunyi (fotofobia dan
fonofobia)
7. Wajah umumnya terlihat pucat, dan badan terasa dingin
8. Terdapat paling tidak 1 gejala aura (pada migren klasik), yang
berkembang secara bertahap selama lebih dari 4 menit. Nyeri
kepala dapat terjadi sebelum gejala aura atau pada saat yang
bersamaan.
D. Fase Postdromal
Setelah serangan migren, umumnya terjadi masa prodromal,

dimana pasien dapat merasa kelelahan (exhausted) dan perasaan


seperti berkabut.
II. 5 PATOFISIOLOGI
Dulu migren oleh Wolff disangka sebagai kelainan pembuluh darah
(teori vaskular). Sekarang diperkirakan kelainan primer di otak.
Sedangkan kelainan di pembuluh darah sekunder. Ini didasarkan
atas tiga percobaan binatang2:1. Penekanan aktivitas sel neuron
otak yang menjalar dan meluas (spreading depression dari Leao)
Teori depresi yang meluas Leao (1944), dapat menerangkan
tumbuhnya aura pada migren klasik. Leao pertama melakukan
percobaan pada kelinci. Ia menemukan bahwa depresi yang meluas
timbul akibat reaksi terhadap macam rangsangan lokal pada
jaringan korteks otak. Depresi yang meluas ini adalah gelombang
yang menjalar akibat penekanan aktivitas sel neuron otak spontan.
Perjalanan dan meluasnya gelombang sama dengan yang terjadi
waktu kita melempar batu ke dalam air. Kecepatan perjalanannya
diperkirakan 2-5 mm per menit dan didahului oleh fase rangsangan
sel neuron otak yang berlangsung cepat. Jadi sama dengan
perjalanan aura pada migren klasik.
Percobaan ini ditunjang oleh penemuan Oleson, Larsen dan
Lauritzen (1981). dengan pengukuran aliran darah otak regional
pada penderita-penderita migren klasik. Pada waktu serangan
migren klasik, mereka menemukan penurunan aliran darah pada
bagian belakang otak yang meluas ke depan dengan kecepatan
yang sama seperti pada depresi yang meluas. Mereka mengambil
kesimpulan bahwa penurunan aliran darah otak regional yang
meluas ke depan adalah akibat dari depresi yang meluas.
Terdapat persamaan antara percobaan binatang oleh Leao dan
migren klinikal, akan tetapi terdapat juga perbedaan yang penting,

misalnya tak ada fase vasodilatasi pada pengamatan pada


manusia, dan aliran darah yang berkurang berlangsung terus
setelah gejala aura. Meskipun demikian, eksperimen perubahan
aliran darah memberi kesan bahwa manifestasi migren terletak
primer di otak dan kelainan vaskular adalah sekunder.

2. Sistem trigemino-vaskular
Pembuluh darah otak dipersarafi oleh serat-serat saraf yang
mengandung. substansi P (SP), neurokinin-A (NKA) dan calcitonin-

gene related peptid (CGRP).


Semua ini berasal dari ganglion nervus trigeminus sesisi SP, NKA.
dan CGRP menimbulkan pelebaran pembuluh darah arteri otak.
Selain ltu, rangsangan oleh serotonin (5hydroxytryptamine) pada
ujung-ujung saraf perivaskular menyebabkan rasa nyeri dan
pelebaran pembuluh darah sesisi.
Seperti diketahui, waktu serangan migren kadar serotonin dalam
plasma meningkat. Dulu kita mengira bahwa serotoninlah yang
menyebabkan penyempitan pembuluh darah pada fase aura.

Pemikiran sekarang mengatakan bahwa serotonin bekerja melalui


sistem trigemino-vaskular yang menyebabkan rasa nyeri kepala dan
pelebaran pembuluh darah. Obat-obat anti-serotonin misalnva
cyproheptadine (Periactin) dan pizotifen (Sandomigran,
Mosegor) bekerja pada sistem ini untuk mencegah migren.
3. lnti-inti syaraf di batang otak
Inti-inti saraf di batang otak misalnya di rafe dan lokus seruleus
mempunyai hubungan dengan reseptor-reseptor serotonin dan

noradrenalin.

Juga dengan

pembuluh darah otak yang letaknya lebih tinggi dan sumsum tulang
daerah leher yang letaknya lebih rendah. Rangsangan pada inti-inti
ini menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak sesisi dan
vasodilatasi pembuluh darah di luar otak. Selain itu terdapat
penekanan reseptor-reseptor nyeri yang letaknya lebih rendah di
sumsum tulang daerah leher. Teori ini menerangkan vasokonstriksi

pembuluh darah di dalam otak dan vasodilatasi pembuluh darah di


luar otak, misalnya di pelipis yang melebar dan berdenyut.

Faktor pencetus timbulnya migren dapat dibagi dalam faktor


ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor ekstrinsik, misalnya
ketegangan jiwa (stress), baik emosional maupun fisik atau setelah
istirahat dari ketegangan, makanan tertentu, misalnya buah jeruk,
pisang, coklat, keju, minuman yang mengandung alkohol, sosis
yang ada bahan pengawetnya. Lain-lain faktor pencetus seperti
hawa terlalu panas, terik matahari, lingkungan kerja yang tak
menyenangkan, bau atau suara yang tak menyenangkan. Faktor
intrinsik, misalnya perubahan hormonal pada wanita yang nyeri
kepalanya berhubungan dengan hari tertentu siklus haid. Dikatakan
bahwa migren menstruasi ini jarang terdapat, hanya didapatkan
pada 3 dari 600-700 penderita. Pemberian pil KB dan waktu
menopause sering mempengaruhi serangan migren.
Mual dan muntah mungkin disebabkan oleh kerja dopamin atau
serotonin pada pusat muntah di batang otak (chemoreseptor trigger
zone/ CTZ). Sedangkan pacuan pada hipotalamus akan
menimbulkan fotofobia. Proyeksi/pacuan dari LC ke korteks serebri
dapat mengakibatkan oligemia kortikal dan mungkin menyebabkan
penekanan aliran darah, sehingga timbulah aura7.
Pencetus (trigger) migren berasal dari:
1. Korteks serebri: sebagai respon terhadap emosi atau stress,
2. Talamus: sebagai respon terhadap stimulasi afferen yang
berlebihan: cahaya yang menyilaukan, suara bising, makanan,
3. Bau-bau yang tajam,
4. Hipotalamus sebagai respon terhadap 'jam internal" atau

perubahan "lingkungan" internal (perubahan hormonal),


5. Sirkulasi karotis interna atau karotis eksterna: sebagai respon
terhadap vasodilator, atau angiografi.

II. 6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Banyak dokter yang meminta suatu serial pemeriksaan darah untuk
pemeriksaan penyakit kelenjar gondok, anemia atau infeksi yang
dapat menyebabkan sakit kepala. Kadang-kadang diperlukan
pemeriksaan sken otak seperti computed tomographic scan (CTscan) atau magnetic resonance imaging (MRI) untuk menepis
gangguan otak yang serius. Jika dicurigai adanya aneurisma
pembuluh darah otak, perlu dilakukan pemeriksaan angiogram.
Untuk mendiagnosis migren tidak selalu mudah, terutama pada
pasien-pasien yang memiliki gejala yang tidak jelas.
Elektroensefalogram (EEG) dilakukan untuk mengukur aktivitas
kerja otak. EEG ini dapat mengidentifikasi suatu malfungsi saraf
otak, tetapi tidak dapat menunjukkan secara tepat masalah yang
menyebabkan suatu sakit kepala.
Termografi, suatu teknik percobaan yang sedang dikembangkan
untuk mendiagnosis sakit kepala dan menjanjikan untuk menjadi
alat klinis yang berguna dikemudian hari. Pada termografi, sebuah
kamera infra merah akan mengubah temperatur kulit menjadi suatu
gambar yang berwarna atau suatu termogram dengan berbagai
warna yang berbeda sebagai akibat tingkat pemanasan yang
berbeda.
Temperatur kulit ini dipengaruhi oleh aliran darah. Para saintis
menemukan termogram pada pasien-pasien yang menderita sakit
kepala menunjukkan pola panas yang berbeda sangat menyolok

dari mereka yang tidak pernah atau jarang mengalami sakit kepala.
II. 7 DIAGNOSIS
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis migren. Untuk
menentukan sakit kepala yang diklasifikasikan sebagai migren
adalah setelah dilakukan pencatatan riwayat penyakit (anamnesis)
dan pemeriksaan fisik yang lengkap. Dokter akan menanyakan
penderita mengenai gejala-gejala yang dialaminya. Misalnya berapa
sering sakit kepala terjadi, lokasi nyeri kepala, lamanya dan gejala
lainnya yang timbul sebelum, selama atau setelah sakit kepala
tersebut.
Perlu suatu catatan harian yang mencatat karakteristik dari sakit
kepala tersebut yang dihubungkan dengan gaya hidup, diet,
menstruasi dan penggunaan obat.
BAB III
III. 1 PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan migrain secara garis besar dibagi atas mengurangi
faktor resiko, terapi farmaka dengan memakai obat dan terapi
nonfarmaka. Terapi farmaka dibagi atas dua kelompok yaitu terapi
abortif (terapi akut) dan terapi preventif (terapi pencegahan), walau
pada terapi nonfarmaka juga dapat bertujuan untuk abortif dan
pencegahan. Terapi abortif merupakan pengobatan pada saat
serangan akut yang bertujuan untuk meredakan serangan nyeri dan
disabilitas pada saat itu dan menghentikan progresivitas. Pada
terapi preventif atau profilaksis migrain terutama bertujuan untuk
mengurangi frekwensi, durasi dan beratnya nyeri kepala.1,4
1. Mengurangi faktor risiko/pencetus

- Stres dan kecemasan


- Kurang atau telalu banyak tidur, perubahan jadwal seperti jetlag.
- Hipoglikemia (terlambat makan)
- Kelelahan
- Perubahan hormonal seperti haid, obat hormonal
dapat dilakukan dengan menghentikan pil KB atau obat-obat
pengganti estrogenKadar estrogen yang berfluktuasi
- Diet
Menghindari makanan tertentu cukup membantu pada 25-30%
penderita migrain. Secara umum, makanan yang harus dihindari
adalah: MSG, beberapa minuman beralkohol (anggur merah, prot,
sherry, scotch, bourbon), keju (Colby, Roquefort, Brie, Gruyere,
cheddar, bleu, mozzarella, Parmesan, Boursault, Romano), coklat,
dan aspartame.
Diet dilakukan selama 1 bulan. Apabila setelah 1 bulan gejala
tidak membaik, berarti modifikasi diet tidak bermanfaat. Apabila
makanan menjadi pencetus gejala, maka jenis makanan tersebut
harus diidentifikasi dengan cara menambahkan satu jenis makanan
sampai gejala muncul. Sebaiknya dibuat diari makanan selama
mengidentifikasi makanan apa yang menjadi pencetus migrain,
karena beberapa jenis makanan dapat langsung menimbulkan
gejala (anggur merah, MSG), sementara makanan lain baru
menimbulkan gejala setelah 1 hari (coklat, keju).2
2. Terapi farmaka migrain
Terapi Abortif
Pada terapi abortif dapat diberikan analgesia nonspesifik yaitu
analgesia yang dapat diberikan pada kasus nyeri lain selain nyeri
kepala, dan atau analgesia spesifik yang hanya bekerja sebagai
analgesia nyeri kepala. Secara umum dapat dikatakan bahwa terapi

memakai analgesia nonspesifik masih dapat menolong pada


migrain dengan intensitas nyeri ringan sampai sedang. Pada kasus
sedang sampai berat atau berespons buruk dengan OAINS
pemberian analgesia spesifik lebih bermanfaat.
Domperidon atau metoklopramid sebagai antiemetik dapat
diberikan saat serangan nyeri kepala atau bahkan lebih awal yaitu
pada saat fase prodromal. Fase prodromal migrain dihubungkan
dengan gangguan pada hipotalamus melalui neurotransmiter
dopamin dan serotonin. Pemberian antiemetik akan membantu
penyerapan lambung di samping meredakan gejala penyerta
seperti mual dan muntah. Kemungkinan timbulnya efek samping
antiemetik seperti sedasi dan parkinsonism pada orang tua patut
diperhatikan.
Analgesik nonspesifik
Yang termasuk analgesia nonspesifik adalah asetaminofen
(parasetamol), aspirin dan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS).
Pada umumnya pemberian analgesia opioid dihindari. Beberapa
obat OAINS yang telah diteliti diberikan pada migrain antara lain
adalah:
- Diklofenak.
- Ketorolak.
- Ketoprofen.
- Indometasin.
- Ibuprofen.
- Naproksen.
- Golongan fenamat.
Ketorolak IM membantu pasien dengan mual atau muntah yang
berat. Kombinasi antara asetaminofen dengan aspirin atau OAINS
serta penambahan kafein dikatakan dapat menambah efek

analgetik, dan dengan dosis masing-masing obat yang lebih rendah


diharapkan akan mengurangi efek samping obat. Mekanisme kerja
OAINS pada umumnya terutama menghambat enzim
siklooksigenase sehingga sintesa prostaglandin dihambat.1
Pasien diminta meminum obatnya begitu serangan migrain terasa.
Dosis obat harus adekuat baik secara obat tunggal atau kombinasi.
Apabila satu OAINS tidak efektif dapat dicoba OAINS yang lain. Efek
samping pemberian OAINS perlu dipahami untuk menghindari halhal yang tidak diinginkan. Pada wanita hamil hindari pemberian
OAINS setelah minggu ke 32 kehamilan. Pada migrain anak dapat
diberikan asetaminofen atau ibuprofen.
Analgesik spesifik
Yang termasuk analgesik spesifik yang sering digunakan adalah
ergotamin, dihidroergotamin (DHE) dan golongan triptan yang
merupakan agonis selektif reseptor serotonin pada 5-HT1, terutama
mengaktivasi reseptor 5HT I B / 1 D. Di samping itu ergotamin dan
DHE juga berikatan dengan reseptor 5-HT2, 1dan 2nonadrenergik dan dopamin.1
Analgesik spesifik dapat diberikan pada migrain dengan nyeri
sedang sampai berat. Pertimbangan harga kadang menjadi
penghambat dipakainya analgesia spesifik ini, walaupun golongan
ini merupakan pilihan sebagai antimigren. Ergot lebih murah
dibanding golongan triptan tetapi efek sampingnya lebih besar.
Penyebab lain yang menjadi penghambat adalah preparat ini di
Indonesia hanya tersedia dalam bentuk oral dan dari golongan
triptan hanya ada sumatriptan. Ergotamin dan DHE diberikan pada
migrain sedang sampai berat apabila analgesia nonspesifik kurang
terlihat hasilnya atau memberi efek samping. Dosis dan cara

pemberian ergotamin dan DHE harus diperhatikan. Kombinasi


ergotamin dengan kafein bertujuan untuk menambah absorpsi
ergotamin selain sebagai analgesik pula. Hindari pada kehamilan,
hipertensi tidak terkendali, penyakit serebrovaskuler, kardiovaskuler
dan penyakit pembuluh perifer (hati-hati pada pasien > 40 tahun)
serta gagal ginjal, gagal hati dan sepsis. Efek samping yang
mungkin timbul antara lain mual, dizziness, parestesia, kramp
abdominal. Ergotamin biasanya diberikan pada episode serangan
tunggal. Dosis dibatasi tidak melebihi 10 mg/minggu.1
Sumatriptan dapat meredakan nyeri, mual, fotofobia dan fonofobia
sehingga memperbaiki disabilitas pasien. Diberikan pada migrain
berat atau pasien yang tidak memberikan respon dengan analgesia
nonspesifik dengan atau tanpa kombinasi. Dosis awal sumatriptan
adalah 50 mg dengan dosis maksimal dalam 24 jam 200 mg. Kontra
indikasi antara lain adalah pasien, yang berisiko penyakit jantung
koroner, penyakit serebrovaskuler, hipertensi yang tidak terkontrol,
migrain tipe basiler. Efek samping berupa dizziness, heaviness,
mengantuk, nyeri dada non kardial, disforia.
Golongan triptan generasi kedua (zolmitriptan, eletriptan,
naratriptan, rizatriptan) yang tidak ada di Indonesia sebenarnya
mempunyai respons yang lebih baik, rekurensi nyeri kepala yang
lebih rendah dan lebih dapat ditoleransi.
Nama obat CaraPemberian
Sumatriptan 6 mg SC
Rizatriptan 10 mg oral
Eletriptan 80 mg oral
Zolmitriptan 5 mg oral
Eletriptan 40 mg oral

Sumatriptan 20 mg intranasal
Sumatriptan 100mg oral
Rizatriptan 2,5 mg oral
Zolmitriptan 2,5 mg oral
Sumatriptan 50 mg oral
Naratriptan 2,5 mg oral
Eletriptan 20 mg oral .
Tabel 1. Analgesik triptan pada migraine
III. 2 TERAPI PROFILAKSIS
Terapi preventif harus selalu diminum tanpa melihat adanya
serangan atau tidak. Pengobatan dapat diberikan dalam jangka
waktu episodik, jangka pendek (subakut) atau jangka panjang
(kronis). Terapi episodik diberikan apabila faktor pencetus nyeri
kepala dikenal dengan baik sehingga dapat diberikan analgesia
sebelumnya. Terapi preventif jangka pendek berguna apabila pasien
akan terkena faktor risiko yang telah dikenal dalam jangka waktu
tertentu seperti pada migrain menstrual. Terapi preventif kronis
akan diberikan dalam beberapa bulan bahkan tahun tergantung
respons pasien. Biasanya diambil patokan minimal dua sampai tiga
bulan.
- Indikasi:
Penyakit kambuh beberapa kali dalam sebulan
Penyakit berlangsung terus menerus selama beberapa minggu atau
bulan
Penyakit sangat mengganggu kuafitas/gaya hidup penderita.
Adanya kontra indikasi atau efek samping yang tidak dapat
ditoleransi terhadap terapi abortif.
Kecenderungan pemakaian obat yang berlebih pada terapi abortif.

- Terapi profilaksis lini pertama: calcium channel blocker


(verapamil), antidepresan trisiklik (nortriptyline), dan beta blocker
(propanolol)
- Terapi profilaksis lini kedua: methysergide, asam valproat,
asetazolamid.
- Mekanisme kerja obat-obat tersebut tidak seluruhnya dimengerti.
Diduga obat tersebut menghambat pelepasan neuropeptida ke
dalam pembuluh darah dural melalui efek antagonis pada reseptor
5-HT2. Satu jenis obat profilaksis tidak lebih efektif daripada obat
yang lain. oleh karena itu, bila tidak ada kontraindikasi, verapamil
lebih sering digunakan pada awal terapi karena efek sampingnya
paling minimal dibandingkan yang lain.
- Apabila dizziness tidak dapat dikontrol dengan satu obat, gunakan
jenis obat yang lain. Bila dizziness sudah terkontrol, obat diberikan
terus menerus selama minimal 1 tahun (kecuali methysergide yang
memerlukan interval bebas obat selama 3-4 minggu pada bulan ke6 terapi). Obat dapat diberikan ulang pada tahun berikutnya apabila
dizziness muncul lagi setelah terapi dihentikan.
Nama obat ____Dosis____
Propranolol 40-240 mg/hari
Nadolol 20-160 mg/ hari
Metoprolol 50-100 mg/ hari
Timolol 20-60 mg/ hari
Atenolol 50-100 mg/ hari
Amitriptilin 10-200 mg/ hari
Nortriptilin 10-150 mg/ hari
Fluoksetin 10-80 mg/ hari
Mirtazapin 15-45 mg/ hari
Valproat 500-1500 mg/ hari

Topiramat 50-200 mg/ hari


Gabapentin 900-3600 mg/ hari
Verapamil 80-640 mg/hari
Flunarizin 5-1 0 mg/hari
Nimodipin 30-60 mg qid___
Tabel 2. Terapi farmaka pencegahan migrain
Terapi nonfarmaka
Walaupun terapi farmaka merupakan terapi utama migren, terapi
nonfarmaka tidak bisa dilupakan. Pada kehamilan terapi
nonfarmaka bahkan diutamakan. Terapi nonfarmaka dimulai dengan
edukasi dan menenangkan pasien (reassurance). Pada saat
serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi sensoris
berlebihan. Bila memungkinkan beristirahat di tempat gelap dan
tenang dengan dikompres dingin. Menghindari faktor pencetus
mungkin merupakan terapi pencegahan yang murah.
Intervensi terapi perilaku (behaviour) sangat berperan dalam
mengatasi nyeri kepala yang meliputi terapi cognitive-behaviour,
terapi relaksasi serta terapi biofeedback dengan memakai alat
elektromiografi atau memakai suhu kulit atau pulsasi arteri
temporalis. Olahraga terarah yang teratur dan meningkat secara
bertahap umumnya sangat membantu. Beberapa penulis
mengusulkan terapi alternatif lain seperti meditasi, hipnosis,
akupunktur dan fitofarmaka. Pada migrain menstrual dapat
dianjurkan mengurangi garam dan retensi cairan.
KESIMPULAN
1. Migren merupakan nyeri kepala primer dengan serangan nyeri

kepala berulang, dengan karakteristik lokasi unilateral, berdenyut


dan frekuensi, lama serta hebatnya rasa nyeri yang beraneka
ragam dan diperberat dengan aktifitas.
2. Klasifikasi migrain menurut International Headache Society (HIS):
- Migrain tanpa aura (common migraine)
- Migrain dengan aura (classic migraine)
- Migraine with prolonged aura
- Basilar migraine (menggantikan basilar artery migraine)
- Migraine aura without headache (menggantikan migraine
equivalent atau achepalic migraine)
- Benign paroxysmal vertigo of childhood
- Migrainous infraction (menggantikan complicated migraine)
- Migren hemiplegic familial
- Migren oftalmoplegik
- Migren retinal
- Migren yang berhubungan dengan gangguan intrakranial
3. Penatalaksaan migrain secara garis besar dibagi atas:
a. Mengurangi faktor resiko,
b. Terapi farmaka dengan memakai obat.
c. Terapi nonfarmaka.
Terapi farmaka dibagi atas dua kelompok yaitu terapi abortif (terapi
akut) dan terapi preventif (terapi pencegahan). Walaupun terapi
farmaka merupakan terapi utama migren, terapi nonfarmaka tidak
bisa dilupakan. Bahkan pada kehamilan terapi nonfarmaka
diutamakan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sadeli H. A. 2006. Penatalaksanaan Terkini Nyeri Kepala Migrain.

Dalam Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional II


Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Airlangga University
Press. Surabaya.
2. Harsono. 2005. Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. Gajahmada
University Press. Yogyakarta.
3. Dahlem M., Podoll K. 2007. Migraine Headache.
http://www.migraine-aura.com/content/e27892/index_en.html
4. Purnomo H. 2006. Migrainous Vertigo. Dalam Kumpulan Makalah
Pertemuan Ilmiah Nasional II Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia. Airlangga University Press. Surabaya.
5. Benson AG, Robbins W. 2006. Migraine Associated Vertigo.
http.www.emedicine.com/ent/topic727.htm
6. Zuraini, Yuneldi anwar, Hasan Sjahrir. 2005. Karakteristik Nyeri
Kepala Migren dan Tension Type Headeche Di Kotamadya Medan,
Neurona, Vol 22 No. 2
7. Wibowo S., Gofir A. 2001. Farmakologi dalam Neurologi. Salemba
Medika. Jakarta.