Anda di halaman 1dari 39

SEDIAAN LARUTAN ELIXIR INDOMETASIN 50mg/5ml

I.

TUJUAN PERCOBAAN
- Menentukan formulasi yang tepat pada sediaan larutan elixir dengan bahan
-

II.

aktif Indometasin
Mampu membuat sediaan larutan elixir dengan bahan aktif Indometasin
Mampu mengevaluasi sediaan larutan elixir dengan bahan aktif Indometasin

LATAR BELAKANG
Pada zaman sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
semakin berkembang dengan pesat, salah satunya di bidang Kefarmasian. Hal ini
dapat dilihat dari sediaan obat yang bermacam-macam yang dibuat oleh tenaga
farmasis, diantaranya yaitu ada sediaan padat (solid), setengah padat (semisolid),
dan cair (liquid).
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang saling bercampur (Farmakope Indonesia edisi IV, 1995).
Dibuat sediaan larutan karena larutan mempunyai beberapa keunggulan,
diantaranya lebih mudah ditelan untuk anak-anak atau orang dewasa yang sulit
menelan tablet, mengurangi resiko iritasi pada lambung, dan segera diabsorpsi
karena sudah berada dalam bentuk larutan. Sedangkan penggunaan larutan
sediaan yang dibuat yaitu untuk oral. Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat
untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan
pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolvenair (Farmakope Indonesia edisi IV, 1995). Banyak larutan oral yang
mengandung etanol sebagai kosolven dinyatakan sebagai Eliksir. Dapat
digunakan kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol, untuk mengurangi
jumlah etanol yang diperlukan. Untuk dapat dinyatakan sebagai Eliksir, larutan
harus mengandung etanol (Farmakope Indonesia edisi IV, 1995).
Sediaan yang akan dibuat berupa larutan elixir dengan bahan aktif
Indometasin dengan dosis untuk dewasa yaitu 3 x 1 sendok takar @2,5-5 ml.
Sedangkan khasiat dari Indometasin yaitu sebagai analgesik (Farmakologi dan
Terapi edisi V, 2011). Analgesik (penghilang rasa nyeri) yaitu zat-zat yang
mengurangi atau menghindari rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran (Obat-Obat Penting edisi VI, 2007), Efek samping Indometasin pada

saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, pendarahan lambung dan pankreatis
analgesik (Farmakologi dan Terapi edisi V, 2011). Indometasin tidak
dianjurkan diberikan kepada anak, wanita hamil, pasien dengan gangguan
psikiatri dan pasien dengan penyakit lambung analgesik (Farmakologi dan
Terapi edisi V, 2011).
Bahan aktif praktis tidak larut dalam air, kelarutan di alkohol 1:50
(Martindale 36, 2009), maka dibuat sediaan berupa larutan elixir. Bahan aktif
mempunyai rasa yang pahit (Farmakope Indonesia edisi V, 2014) sehingga akan
menurukan akseptabilitas terhadap pasien, maka dari itu dalam sediaan
ditambahkan pemanis (sweetening agent) yaitu sirupus simplex (HOPE 6th
Edition, 2009) untuk menghilangkan rasa pahit pada sediaan dan meningkatkan
akseptabilitas terhadap pasien. Bahan aktif praktis tidak stabil atau tidak larut
dalam air (Martindale 36, 2009), maka dalam pembuatan digunakan pelarut
kosolven yaitu air, etanol, dan propilen glikol agar bahan aktif dapat larut dengan
sempurna. Bahan aktif memiliki pH yang tidak stabil berada di bawah 6
(Martindale 36, 2009), maka pH sediaan dibuat di atas 6, yaitu 6,5. Bahan aktif
tidak stabil terhadap cahaya (The Pharmaceutical Codex 15th edition, 1994),
baik dalam keadaan padat dan dalam larutan air, maka digunakan botol kaca
berwarna coklat saat penyimpanan.
III.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Bahan aktif (Indometasin)
Zat Aktif

Indometasin
(Farmakope Indonesia edisi V hal 566)

Struktur kimia

(Farmakope Indonesia edisi IV hal 461)


Rumus molekul

C19H16ClNO4
(Farmakope Indonesia edisi V hal 566)

Titik lebur

Melebur pada sekitar 219 C


(Martindale 36 hal 1558)

Pemerian

Serbuk hablur, polimorf; kuning pucat hingga kuning


kecoklatan; tidak berbau atau hamper tidak berbau. Peka
terhadap cahaya; meleleh pada suhu lebih kurang 1620
(Farmakope Indonesia edisi V hal 566)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air, larut 1:50 di alcohol, 1:30 di


kloroform, dan 1:40 di eter.
(Martindale 36 hal 66)

Stabilitas

Cahaya: Indometasin tidak stabil terhadap cahaya, baik dalam


keadaan padat dan dalam larutan air (TPC, 1994, hal 913)
Air: Praktis tidak larut dalam air (Martindale 36 hal 66)
pH: Indometasin tidak stabil dengan pH di bawah 6
(Martindale 36 hal 66)
Panas: Tidak ditemukan di pustaka Journal Penelitian, ObatObat Penting, Materia Medika Indonesia edisi 1, Martindale
36, Farmakope Indonesia edisi IV, Farmakope Indonesia edisi
V, British Pharmacopoeia 2009, Japanese Pharmacopoeia 15th
Ed, USP NF 2009 (United States Pharmacopoeia 32 National Formulary 27), dan European Pharmacopoeia 5th Ed.

Inkompatibilita

Tidak ditemukan di pustaka Journal Penelitian, Obat-Obat

Penting, Materia Medika Indonesia edisi 1, Martindale 36,


Farmakope Indonesia edisi IV, Farmakope Indonesia edisi V,
British Pharmacopoeia 2009, Japanese Pharmacopoeia 15th
Ed, USP NF 2009 (United States Pharmacopoeia 32 National Formulary 27), dan European Pharmacopoeia 5th
Ed.

Keterangan lain

lndometasin mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak


lebih dari 101,0% C19H16ClNO4, dihitung tethadap zat yang

telah dikeringkan.
(Farmakope Indonesia edisi V hal 566)
Penyimpanan

Dalam wadah tidak tembus cahaya.


(Farmakope Indonesia edisi V hal 567)

Kadar

Tidak ditemukan di pustaka Journal Penelitian, Obat-Obat

penggunaan

Penting, Materia Medika Indonesia edisi 1, Martindale 36,


Farmakope Indonesia edisi IV, Farmakope Indonesia edisi V,
British Pharmacopoeia 2009, Japanese Pharmacopoeia 15th
Ed, USP NF 2009 (United States Pharmacopoeia 32 National Formulary 27), dan European Pharmacopoeia 5th
Ed.

2. Sukrosa
Zat

Sucrose (HOPE 6th Edition page 703)

Sinonim

Beet sugar; cane sugar; a-D-glucopyranosyl-b-Dfructofuranoside; refined sugar; saccharose; saccharum; sugar.
(HOPE 6th Edition page 703)

Struktur

(HOPE 6th Edition page 703)


Rumus
molekul
Titik lebur

C12H22O11 (BM = 342,30)


(HOPE 6th Edition page 703)
160186oC (with decomposition)

(HOPE 6th Edition page 704)


Pemerian

Hablur putih atau tidak berwarna ; massa hablur atau


berbentuk kubus atau serbuk hablur putih ; tidak berbau ; rasa
manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus
( FI. IV halaman 762)

Kelarutan

Sangat mudah larut dalam air ; lebih mudah larut dalam air
mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam
kloroform dam dalam eter.
(FI. IV halaman 762)

Stabilitas

Sukrosa memiliki stabilitas yang baik pada suhu ruangan dan


pada kelembaban yang relatif kecil. Menyerap 1% uap air yang
mana

dilepaskan

pada

pemanasan

90oC

Sukrosa

mengkaramel pada suhu 160oC. Larutan sukrosa dapat


berfermentasi oleh mikroorganisme tapi dapat resisten pada
konsentrasi yang tinggi. Konsentrasi 50-67%
(HOPE 6th halaman 704)
Inkompabilita

Sukrosa bisa mengandung logam ringan, yang mana dapat

menjadi inkompatibilitas dengan bahan lain. Sukrosa juga


dapat mengandung sulfit dari proses penyulingan. Dengan
kadar sulfit yang tinggi akan mengakibatkan perubahan warna
pada larutan.
(HOPE 6th, 2009. Halaman 706)

Keterangan

Sebagai bahan dasar gula, coating agent (penyalut), membantu

lain

proses granulasi, suspending agent, pemanis, pengikat, tablet,


pengencer, tablet dan kapsul, tablet filler, pengental,
theurapeutic agent. Sebagai sweetening agent = 67 %
(HOPE 6th Edition page 703)

Penyimpanan

Dalam wadah yang tertutup, sejuk dan kering


(HOPE 6th Edition page 706)

Kadar

Formulasi sirup oral : 67 %

penggunaan

Sweetening agent : 67 %
Tablet binder (dry granulation) : 220 %
Tablet binder (wet granulation) : 5067 %
Tablet coating (syrup) : 5067 %
(HOPE 6th halaman 704)

3. Methyl Paraben
Zat

Methyl Paraben (HOPE 6th Edition page 441)

Sinonim

Aseptoform

M;

hidroksibenzoat

CoSept
ester;

M;

E218;

metagin;

Metil

Methyl

asam

4-

Chemosept;

parahydroxybenzoas methylis; methyl p-hydroxybenzoate;


Methyl Parasept; Nipagin M; Solbrol M; Tegosept M; Uniphen
P-23.
(HOPE 6th Edition page 441)
Struktur

(HOPE 6th Edition page 441)


Rumus
molekul
Titik lebur

C8H8O3 (BM = 152,15)


( HOPE 6th Edition page 441 )
125-1280C
(HOPE 6th Edition page 442)

Pemerian

Kristal berwarna atau kristal putih. Tidak berbau atau hampir


tidak berbau dan memiliki sedikit rasa

(HOPE 6th Edition page 442)


Kelarutan

Etanol 1 di 2, Etanol (95%) 1 dari 3, Etanol (50%) 1 dari 6,


Eter 1 dari 10, Gliserin 1 di 60, Minyak mineral praktis tidak
larut, Minyak kacang tanah 1 dari 200, Propilen glikol 1 dari 5,
Air 1 di 400, 1 dari 50 di 500C, 1 di 30 di 800C.
(HOPE 6th Edition page 443)

Stabilitas

Larutan Methylparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan


autoklaf pada suhu 1200C selama 20 menit, tanpa dekomposisi.
Larutan pada pH 3-6 stabil (kurang dari 10% dekomposisi)
sampai sekitar 4 tahun pada suhu kamar, sedangkan larutan
pada pH 8 atau di atas 8 terjadi hidrolisis cepat. pH aktivitas
antimikroba: 4-8
(HOPE 6th Edition page 443)

Inkompabilita

Aktivitas antimikroba Methylparaben dan paraben lain sangat

kurang

dengan

adanya

surfaktan

nonionic.

Namun

propilenglikol (10%) telah terbukti mempotensiasi aktivitas


antimikroba dari paraben dan mencegah interaksi pada
Methylparaben

dan

polisorbat.

Inkompatibel

dengan

magnesium trisilikat, tragakan, natrium alginate, sorbitol,


minyak esensial, dan atropine.
(HOPE 6thEdition page 443)
Keterangan

Digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik,

lain

produk makanan, dan formulasi farmasi.


(HOPE 6th edition page 441)

Penyimpanan

Methylparaben harus disimpan dalam wadah yang tertutup


dalam sejuk dan kering.
(HOPE 6th edition page 443)

Kadar
penggunaan

IM, IV, SC injections= 0.065%0.25%


Inhalation solutions= 0.025%0.07%

Intradermal injections= 0.10%


Nasal solutions= 0.033%
Ophthalmic preparations= 0.015%0.2%
Larutan oral dan suspensi= 0.015%0.2%
Rectal preparations= 0.1%0.18%
Topical preparations= 0.02%0.3%
Vaginal preparations= 0.1%0.18%
(HOPE 6th Edition page 442)

4. Propyl Paraben
Zat

Propyl Paraben (HOPE 6th Edition page 596)

Sinonim

Aseptoform P; CoSept P; E216; Propil asam 4-hidroksibenzoat


ester; Nipagin P; Nipasol M; propagin; Propyl Aseptoform;
propil

butex;

parahydroxybenzoas;

Propyl

Chemosept;

propil

phydroxybenzoate;

Parasept; Solbrol P; Tegosept P; Uniphen P-23.


(HOPE 6th Edition page 596)
Struktur

(HOPE 6th Edition page 596)


Rumus
molekul
Titik lebur

C10H12O3 (BM= 180,20)


(HOPE 6th Edition page 596)
96.0099.080C

propylis
Propyl

(HOPE 6th Edition page 596)


Pemerian

Kristal putih, tidak berbau, tidak berasa


(HOPE 6th Edition page 596)

Kelarutan

Mudah larut di aseton dan eter, larut di Ethanol (95%) 1:1,1,


Ethanol (50%) 1:5,6 , Glycerin 1:250, minyak air 1:3330,
minyak kacang 1:70, Propylene glycol 1:3,9, Propylene glycol
(50%) 1:110, Air 1:4350, pada suhu 1580C 1:2500 dan 1:225
pada suhu 800C
(HOPE 6th Edition page 597)

Stabilitas

Larutan Propylparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan


autoklaf pada suhu 1200C selama 20 menit, tanpa dekomposisi.
pH aktivitas antimikroba= 4-8
(HOPE 6th Edition page 597)

Inkompabilita

Tidak kompatibel dengan alumunium silikat, magnesium

trisilikat, oksida besi kuning dan biru akan mengurangi


pengawet. Propylparaben dapat berubah warna dengan adanya
besi dan terjadi hidrolisis oleh alkali lemah dan asam kuat.
(HOPE 6thEdition page 597)

Keterangan

Digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik,

lain

produk makanan, dan formulasi farmasi.


(HOPE 6th edition page 596)

Penyimpanan

Propylparaben harus disimpan dalam wadah yang tertutup


dalam sejuk dan kering.
(HOPE 6th edition page 597)

Kadar
penggunaan

IM, IV, SC injections= 0.005%0.2%


Inhalation solutions= 0.015%
Intradermal injections= 0.02%0.26%

Nasal solutions= 0.017%


Ophthalmic preparations 0.005%0.01%
Larutan oral dan suspensi= 0.01%0.02%
Rectal preparations= 0.02%0.01%
Topical preparations= 0.01%0.6%
Vaginal preparations= 0.0%20.1%
(HOPE 6th Edition page 596)

5. CMC Na
Zat

Karboksimetilselulosa Natrium
(Farmakope Indonesia edisi V hal 620)

Sinonim

Carboxymethylcellulose Sodium; Carboxymethylcellulosum


Na- tricum; Carmellose sodique; Carmellosum natricum;
Carmelosa sdica; Cellulose Gum; E466; Karmelioze s natrio
druska; Karmel- loosinatrium; Karmellosnatrium; Karmellzntrium; Karmelosa sodn sl; Karmeloza sodowa; Natrii
Carmellosum; SCMC; Sodi- um Carboxymethylcellulose;
Sodium Cellulose Glycollate..
(Martindale 36 hal 2412)

Struktur

(HOPE 6th Edition page 118)


Rumus
molekul

CMC Na

(HOPE 6th Edition page 118)


Titik lebur

2270C
(HOPE 6th Edition page 119)

Pemerian

Serbuk atau granul, putih sampai krem; higroskopik.


(Farmakope Indonesia edisi V hal 620)

Kelarutan

Mudah terdispersi dalam air dan membentuk larutan koloidal;


tidak larut dalam etanol, eter dan pelarut organik lain.
(Farmakope Indonesia edisi V hal 620)

Stabilitas

Carboxymethylcellulose Sodium stabil meskipun higroskopis.


Pada

kelembapan

yang

tinggi,

Carboxymethylcellulose

Sodium dapat mengabsorpsi air dalam jumlah besar (>50%).


Kelarutan air stabil pada pH 2-10. Pengendapan dapat terjadi
pada pH di bawah 2. Dan viskositas larutan dapat menurun
dengan cepat pada pH di atas 10. Umumnya, larutan
menunjukkan viskositas maksimal dan stabil pada pH 7-9.
Carboxymethylcellulose Sodium dapat disterilisasi dalam
keadaan kering pada suhu 1600C selama 1 jam. Namun, proses
ini

menghasilkan

penurunan

yang

signifikan

terhadap

viskositas dan beberapa sifat penurunan larutan yang dibuat


dari bahan yang disterilkan
(HOPE 6th Edition page 120)
Inkompabilita

Carboxymethylcellulose Sodium inkompatibel dengan larutan

asam kuat, dengan larutan garam besi, dan dengan beberapa


logam lainnya, seperti alumunium, merkuri, dan zink.
Carboxymethylcellulose Sodium inkompatibel juga dengan
xanthan gum.
(HOPE 6th Edition page 120)

Keterangan

Coating agent; bahan penstabil; suspending agent; tablet and

lain

capsule disintegrant; pengikat tablet; bahan peningkat


kekentalan; bahan penyerap air.

(HOPE 6th Edition page 120)


Penyimpanan

Dalam wadah yang tertutup, sejuk dan kering


(HOPE 6th Edition page 120)

Kadar
penggunaan

Emulsifying agent= 0.25%1.0%


Gel-forming agent= 3.0%6.0%
Injeksi= 0.05%0.75%
Larutan oral= 0.1%1.0%
Pengikat tablet= 1.0%6.0%
(HOPE 6th Edition page 120)

6. Etanol
Zat

Alkohol (HOPE 6th Edition page 17)

Sinonim

Ethanolum (96%); ethyl alcohol; ethyl hydroxide; grain


alcohol; methyl carbinol.
(HOPE 6th Edition page 17)

Struktur

(HOPE 6th Edition page 17)


Rumus
molekul
Titik lebur

C2H6O (BM=46.07)
(HOPE 6th Edition page 17)
-1120 C
(HOPE 6th Edition page 18)

Pemerian

Cairan bening, tidak berwarna, mudah menguap, bau yang


khas, dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah
(HOPE 6th Edition page 17)

Kelarutan

Larut dalam kloroform, eter, gliserin, dan dalam air.

(HOPE 6th Edition page 17)


Stabilitas

Larutan etanol dapat disterilisasi dengan autoklaf atau dengan


filtrasi
(HOPE 6th Edition page 17)

Inkompabilita

Dalam keadaan asam, larutan etanol dapat bereaksi dengan

bahan oksidasi. Campuran dengan alkali dapat berubah


menjadi hitam karena reaksi dari aldehid. Larutan etanol juga
inkompatibel dengan wadah alumunium dan dapat berinteraksi
dengan beberapa obat.
(HOPE 6th Edition page 17)

Keterangan

Alkohol digunakan sebagai antimikroba, pelarut, desinfektan.

lain

Digunakan dalam formulasi farmasi dan dalam kosmetik.


(HOPE 6th Edition page 17)

Penyimpanan

Dalam wadah kedap udara dan di tempat sejuk.


(HOPE 6th Edition page 17)

Kadar
penggunaan

Pengawet antimikroba= >=10%


Desinfektan= 6090%
Extracting solvent in galenical manufacture= sampai 85%
Solvent in film coating= Variable
Pelarut di larutan injeksi= Variable
Pelarut di larutan oral= Variable
Pelarut di produk topikal= 6090%
(HOPE 6th Edition page 17)

7. Propilen Glikol
Zat

Propylene Glycol
( HOPE 6th Edition Page 592 )

Sinonim

1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol; methyl


ethyleneglycol;

methyl

glycol;

propane-1,2-

diol;propylenglycolum.
(HOPE 6th Edition page 592)
Struktur

( HOPE 6th Edition Page 592 )


Rumus

C3H8O2 (BM= 76.09)

molekul

(HOPE 6th Edition page 592)

Titik lebur

-590C

Pemerian

( HOPE 6th Edition Page 592 )


Cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak
berbau, rasa sedikit pedas menyerupai glycerin.
( HOPE 6th Edition Page 592 )

Kelarutan

Dapat

bercampur

dengan

aseton,

kloroform,

etanol

(95%),gliserin, dan air; larut pada 1 pada 6 bagian eter; tidak


larutdengan minyak minyak atau mineral tetap ringan, tetapi
akan larut beberapaminyak esensial.
( HOPE 6th Edition Page 592 )
Stabilitas

Pada suhu dingin, propilen glikol stabil dalam tertutup


kontainer, tetapi pada suhu tinggi, di tempat terbuka, ia
cenderung untuk mengoksidasi,sehingga menimbulkan produk
seperti propionaldehida, asam laktat, piruvatasam, dan asam
asetat. Propylene glycol stabil secara kimiawi saatdicampur
dengan etanol (95%), gliserin, atau air; larutan airdapat
disterilkan dengan autoklaf.

(HOPE 6th halaman 593)


Inkompabilita

Propylene glycol tidak kompatibel dengan reagen pengoksidasi

sepertikalium permanganat.
(HOPE 6th halaman 593)

Keterangan

Propylene glycol telah banyak digunakan sebagai pelarut,

lain

ekstraktan,dan

pengawet.

Propylene

glycol

umumnya

digunakan sebagai plasticizer dalam air. Propylene glycol juga


digunakan dalam kosmetik dan makananindustri sebagai
pembawa untuk emulsifier, sebagai kendaraan untuk rasa
dipreferensi untuk etanol, pengawet antimikroba; desinfektan;
humektan;

plasticizer;pelarut;

penstabil

agen;

air-larut

cosolvent.
(HOPE 6th halaman 592)
Penyimpanan

Propylene glycol bersifat higroskopis dan harus disimpan di


wadah tertutup baik, lindungi dari cahaya, dalam keadaan
dingin, dan tempat kering.
(HOPE 6th halaman 593)

Kadar
penggunaan

Humektan topikal 15%


Solusi pengawet, semisolids 15-30%
Solvent atau cosolvent solusi Aerosol 10-30%
Larutan oral 10-25%
Parenteral 10-60%
Topikal 5-80%
(HOPE 6th halaman 592)

8. Aquadest
Zat

Water (HOPE 6th Edition page 766 )

Sinonim

Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide.


(HOPE 6th Edition page 766 )

Struktur

(HOPE 6th Edition page 766 )


Rumus
molekul
Titik lebur

H2O
(HOPE 6th Edition page 766 )
0oC
(HOPE 6th Edition page 766 )

Pemerian

Air adalah cairan bening, berwarna tidak berbau, tidak berasa.


(HOPE 6th Edition page 766 )

Kelarutan

Larut dengan sebagian besar pelarut polar


(HOPE 6th Edition page 766 )

Stabilitas

Secara kimia air stabil di semua bentuk fisikanya yaitu (uap,


air, cairan)
(HOPE 6th Edition page 766 )

Inkompabilita

Dalam formula farmasi, air dapat bereaksi dengan obat

obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis pada


saat suhu ditinggikan. Air bereaksi secara kuat dengan logam
alkali dan bereaksi cepat dengan alkali tanah dengan
oksidasinya seperti kalsium oksida dan magnesium oksida. Air
juga bereaksi dengan garam tidak hidrat menjadi garam hidrat
dengan berbagai komposisi dan bahan organic dan kalsium
karbida.
(HOPE 6th halaman 768)

Keterangan

Air sebagai bahan mentah, bahan dan pelarut pada suatu

lain

proses, formula dan pembuatan dari produk kefarmasian,

bahan aktif farmasi, perantara analisis bahan reaksi.


(HOPE 6th Edition page 766 )
Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat.


(HOPE 6th Edition page 768 )

Kadar

Nilai khusus air yang digunakan untuk aplikasi tertentu dalam

penggunaan

konsentrasi hingga 100%


(HOPE 6th Edition page 766 )

IV.

TINJAUAN PUSTAKA ELIXIR


Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang saling bercampur. Larutan oral adalah sediaan cair yang
dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa
bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran
kosolven-air. Banyak larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven
dinyatakan sebagai Eliksir. Dapat digunakan kosolven lain seperti gliserin dan
propilen glikol, untuk mengurangi jumlah etanol yang diperlukan. Untuk dapat
dinyatakan sebagai Eliksir, larutan harus mengandung etanol (Farmakope
Indonesia edisi IV, 1995).

V.

PENDEKATAN FORMULA
No

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Indometasin

1% b/v

Sirupus simplex

25% b/v

Zat aktif
Pemanis dan pengental

Methyl paraben

0,015%b/v

Propyl paraben

0,01%b/v

CMC Na

0,5% b/v

.
1

(HOPE 6th Edition page 703)


Pengawet
(HOPE 6th edition page 441)
Pengawet
(HOPE 6th edition page 596)
Pengental

(HOPE 6th Edition page 120)


Pelarut

Etanol

10% v/v

Propilen Glikol

24% b/v

Garam phospat

0,007%b/v

(Farmakope Indonesia edisi V

Pasta Jeruk

1 tetes

10

Oleum aurantii

1 tetes

hal 1727)
Pewarna
Odoris/pewangi

11

Aquadest

Ad 100% v/v

1.
2.
3.
4.
5.
6.

(HOPE 6th Edition page 17)


Kosolven
(HOPE 6th halaman 592)
Dapar

(Martindale 36 hal 2357)


Pelarut
(HOPE 6th Edition page 766 )

Spesifikasi
Bentuk sediaan: Sirup larutan elixir dengan bahan aktif Indometasin
Warna : Orange
Rasa : Manis dengan bau jeruk
pH : 6,5
Kadar : 1 %
Volume
: 60 ml/ botol
7. Viskositas
: 0,89 mPa s (0,89 cP) pada suhu 25oC
(mengikuti viskositas air) (HOPE 6th Edition page 766)

Perhitungan ADI Propilen Glikol


ADI= 25 mg/kgBB (HOPE 6th Edition page 592)
Rata-rata BB dewasa= 70 kg
25 mg/kgBB x 70 kg= 1750 mg= 1,75 g
Propilen glikol yang digunakan untuk sediaan 280ml= 76,8%
Propilen glikol untuk 60ml (per botol)
76,8 g
100 ml

x=

x
60 ml

76,8 g x 60 ml
100 ml

x= 46,08 g

Propilen glikol yang digunakan per botol (60ml)

Dosis sehari= 7,5 ml


Propilen glikol yang digunakan tiap 7,5 ml
46,08 g
60 ml

x=

x
7,5 ml

46,08 g x 7,5 ml
60 ml

x= 5,76 g
ADI=

dalam 7,5ml mengandung 5,76 g propilen glikol


5,76 g
70 kg

x=

x
1 kg

5,76 g x 1 kg
70 kg

x= 0,08g= 80mg
Jadi, penggunaan propilen glikol melampaui kadar ADI

VI.

PENIMBANGAN
Dibuat sediaan 4 botol (@60 ml) = 240 ml
Tiap botol dilebihkan 2%
= 60 ml + (2% x 60 ml)
= 61,2 ml
Total 4 botol
= 4 x 61,2 ml = 244,8ml
Total 4 botol dilebihkan 10%
= 244,8 ml + ( 10% x 244,8 ml )
= 269,28ml 280 ml
Perhitungan KD Indometasin
KD air= 78,5
Vol. air= ad 100%
KD etanol= 25,7
Vol. etanol= 10%
KD propilen glikol= 32,0
Vol. propilen glikol= x
KD indometasin= 37,5
KD indometasin = KD sistem

KD indometasin=

( KD air x Vol . air ) + ( KD etanol x Vol . etanol ) +(KD propilen glikol x Vol . propilen glikol )
100
37,5 =

( 78,5 x ( 90x ) ) + ( 25,7 x 10 )+(32,0 x x )


100

3750 = 7065 78,5x + 257 + 32x


3750 = 7322 46,5x
3572
x = 46,5
x= 76,8 %

Perhitungan Dapar
pH sediaan= 6,5
pKa phospat= 7,21

- Massa garam = M x BM
Na 2 HP O4
(
= 0,00048 M x

142
pH= pKa + log
6,5 = 7,21 + log
log

( garam)
(asam)

( garam)
(asam)
( garam)
(asam)

= 0,068 g
- Konversi untuk optimasi 61 ml

= -0,71

Massa

0,246 g = 0,015 g
( garam)
(asam) = 0,19

asam=

Kadar=

0,024%
[garam]= 0,19 [asam]
0,004 g

- = 2,3C x

Ka

+
H 3 O

+
H 3 O

Ka+

Ka

= antilog (-pKa)

Massa garam=

Kadar=

0,004 g
61 ml

61ml
1000 ml

0,015 g
61 ml

x 100% =

61ml
1000 ml

x 0,068g=

x 100% = 0,006 %

- Sediaan 4 botol

7,21

= antilog (-7,21) = 10
+

[H ]

- Massa asam
280 ml
1000 ml

= antilog (-pH)
6,5

= antilog (-6,5) = 10

- Kadar

10
(7,21)(106,5 )
0,1 = 2,3C x [ (107,21+ 106,5)2 ]

0,068 g
280 ml

1,94 x 1014
0,1 = 2,3C x [ 0,142 x 1014 ]

280 ml
1000 ml
- Kadar
0,02 g
280 ml

C= 3,18 x 10

x 100% = 0,0246%

- Massa garam

0,1 = 2,3C x [13,66]


0,1 = 31,42C
0,1
C = 31,42

x 0,246 g= 0,068 g

x 0,068 g= 0,02 g

x 100% = 0,007%

= 0,00318

- C= [garam] + [asam]
3
0,003 M= x + 2,52 x 10
M
x= 0,003 0.00252
4
x= 4,8 x 10
M= 0,00048 M
- Massa asam = M x BM
= 0,00252 M x 98

H 3 P O4

= 0,0246 g

No

Nama Bahan

Jumlah yang Ditimbang

.
1

Indometasin

1g
100 ml

Sirupus simplex

25 g
100 ml

Methyl paraben

0,015 g
100 ml

x 280 ml= 0,042 g

Propyl paraben

0,01 g
100 ml

x 280 ml= 0,028 g

x 280 ml= 2,8 g


x 280 ml= 70 g

VII.

CMC Na

0,5 g
100 ml

Etanol

10 ml
100 ml

x 280 ml= 28 ml

Propilen Glikol

24 g
100 ml

x 280 ml= 67,2 g

Garam phospat

9
10
11

Pasta Jeruk
Oleum aurantii
Aquadest

0,007 g
100 ml

x 280 ml= 1,4 g

x 280 ml= 0,0196 g


1 tetes
1 tetes
Ad 280 ml

PROSEDUR PEMBUATAN
A. Pembuatan aqua bebas CO2 (FI IV hal 1124)
1. Ambil 1 L air ke dalam beaker glass 1 L
2. Masukkan ke dalam Erlenmeyer 1 L, lalu panaskan di atas hot plate
3. Setelah air mendidih, kemudian tunggu sampai 5 menit atau lebih
4. Setelah mencapai waktu yang ditentukan, erlemeyer 1 L ditutup
5.

menggunakan gumpalan kapas


Jika sudah tertutup rapat, matikan api, dinginkan

B. Kalibrasi
Kalibrasi botol coklat 60 ml
1. Masukkan air keran sebanyak 61 ml ke dalam gelas ukur 250 ml
2. Tuangkan air dalam gelas ukur ke dalam botol coklat 60 ml
3. Tandai batas kalibrasi dan buang air, keringkan, botol siap dipakai

Kalibrasi beaker glass utama


1. Masukkan air keran sebanyak 280 ml ke dalam gelas ukur 500 ml
2. Tuangkan air dalam gelas ukur ke dalam beaker glass 500 ml
3. Tandai batas kalibrasi dan buang air, keringkan, beaker glass siap
dipakai

Kalibrasi beaker glass untuk sirupus simplex


1. Masukkan air keran sebanyak 100 ml ke dalam gelas ukur 100 ml
2. Tuangkan air dalam gelas ukur ke dalam beaker glass 250 ml
3. Tandai batas kalibrasi dan buang air, keringkan, beaker glass siap
dipakai

C. Penimbangan bahan
1. Timbang Indometasin sebanyak 2,8 g dengan menggunakan kertas
perkamen di atas timbangan analitik.

2. Timbang Sukrosa sebanyak 65 g dengan menggunakan kertas perkamen


besar di atas timbangan analitik.
3. Timbang Methyl paraben sebanyak 0,042 g dengan menggunakan kertas
perkamen di atas timbangan analitik.
4. Timbang Propyl paraben sebanyak 0,028 g dengan menggunakan kertas
perkamen di atas timbangan analitik.
5. Timbang CMC Na sebanyak 1,4 g dengan menggunakan kertas perkamen
di atas timbangan analitik.
6. Ukur Etanol (96%) sebanyak 28ml dengan menggunakan gelas ukur
100ml, masukkan ke dalam beaker glass 50ml
7. Timbang Propilen glikol sebanyak 67,2 g menggunakan beaker glass 100
ml dengan menggunakan timbangan analitik.
8. Timbang Garam phospat sebanyak 0,0196 g dengan menggunakan kertas
perkamen di atas timbangan analitik.
D. Pembuatan sirupus simplex
1. Masukkan sukrosa yang telah ditimbang (65 g) ke dalam beaker glass
yang telah dikalibrasi (250 ml).
2. Tambahkan aquadest hingga batas kalibrasi.
3. Panaskan dalam hot plate hingga sukrosa melarut dengan sempurna
sambil sesekali diaduk dengan menggunakan batang pengaduk.
4. Serkai larutan selagi panas dengan kain batis, sisihkan hingga dingin.
5. Timbang larutan sirupus simplex sebanyak 70 g dengan beaker glass 100
ml di atas timbangan analitik.
E. Pembuatan Dapar phospat
1. Masukkan garam phospat yang telah ditimbang sebanyak 0,0196 g ke
dalam beaker glass 50 ml.
2. Tambahkan aquadest sebanyak 2 ml
3. Aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga larut.
F. Pembuatan gel CMC Na
1. Siapkan mortir. Isi dengan aquadest secukupnya.
2. Taburkan CMC Na yang telah ditimbang sebanyak 1,4 g secara perlahanlahan sedikit demi sedikit ke dalam mortir.
3. Biarkan hingga CMC Na terbasahi air. Jika ada yang belum terbasahi,
teteskan dengan aquadest menggunakan pipet tetes sampai seluruh CMC
Na terbasahi
4. Aduk dnegan cepat dengan menggunakan stamper, tambahkan aquadest
sedikit demi sedikit menggunakan pipet tetes sambil diaduk hingga
homogen dan terbentuk massa gel CMC Na.

G. Pembuatan larutan elixir Indometasin 1%


1. Siapkan beaker glass yang telah dikalibrasi sebelumnya.
2. Masukkan etanol yang telah diukur sebanyak 28ml ke dalam beaker glass
utama.
3. Encerkan sebagian Propilen glikol yang telah ditimbang (67,2 g) dengan 5
ml aquadest, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
homogen, masukkan ke dalam beaker glass utama, bilas beaker glass yang
digunakan dengan aquadest sebanyak 2x2 ml, hasil bilasan dimasukkan ke
dalam beaker glass utama.
4. Tambahkan aquadest sebanyak 40% dari volume sediaan ke dalam beaker
glass utama, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
homogen.
5. Masukkan Indometasin yang telah ditimbang sebanyak 2,8 g ke dalam
beaker glass utama, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
larut dengan sempurna.
6. Larutkan Methyl paraben yang telah ditimbang sebanyak 0,042 g dengan
sebagian propilen glikol yang telah ditimbang sebelumnya di dalam
beaker glass 50 ml, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
larut. Masukkan ke dalam beaker glass utama, bilas beaker glass yang
digunakan dengan aquadest sebanyak 2x2 ml, hasil bilasan dimasukkan ke
beaker glass utama.
7. Larutkan Propyl paraben yang telah ditimbang sebanyak 0,042 g dengan
sebagian propilen glikol yang telah ditimbang sebelumnya di dalam
beaker glass 50 ml, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
larut. Masukkan ke dalam beaker glass utama, bilas beaker glass yang
digunakan dengan aquadest sebanyak 2x2 ml, hasil bilasan dimasukkan ke
beaker glass utama.
8. Encerkan Sirupus simplex yang telah ditimbang sebanyak 70 g dengan 5
ml aquadest, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
homogen, masukkan ke dalam beaker glass utama, bilas beaker glass yang
digunakan dengan aquadest sebanyak 2x2 ml, hasil bilasan dimasukkan ke
beaker glass utama.
9. Masukkan sebagian larutan sediaan dalam beaker glass sedikit demi
sedikit ke dalam mortir yang berisi CMC Na yang telah dikembangkan.
Aduk dengan menggunakan stamper hingga homogen. Jika telah homogen
masukkan ke dalam ke dalam beaker glass utama.

10. Masukkan dapar phospat yang telah dibuat ke dalam beaker glass utama.
Bilas beaker glass yang digunakan dengan aquadest sebanyak 2x2 ml,
hasil bilasan dimasukkan ke beaker glass utama. Aduk larutan dengan
menggunakan batang pengaduk hingga homogen.
11. Tambahkan aquadest ke dalam beaker glass utama hingga 80% batas
kalibrasi, aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga homogen.
12. Lakukan pengujian pH larutan, apakah sudah sesuai dengan pH sediaan
yang diinginkan, jika belum tambahkan adjust pH (NaOH 0,1 N atau HCl
0,1 N) secukupnya hingga mencapai pH sediaan yang diinginkan
13. Tambahkan pewarna Pasta jeruk sebanyak 1 tetes ke dalam beaker glass
utama sambil diaduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga
warna larutan menjadi orange.
14. Tambahkan Oleum aurantii sebanyak 1 tetes ke dalam beaker glass utama
sambil diaduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga bau khas zat
aktif hilang.
15. Tambahkan aquadest ke dalam beaker glass utama hingga batas kalibrasi,
aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga homogen
16. Masukkan ke dalam botol-botol yang telah dikalibrasi hingga batas
kalibrasi (61ml), tutup botol, beri etiket lalu masukkan ke dalam kemasan
sekunder beserta brosur dan sendok takar.
VIII. DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN
No
Jenis evaluasi
1.

Prinsip
evaluasi

Jumla
h

1.2

1.3

Syarat

sampel

FISIKA
Evaluasi

1.1

Hasil pengamatan

Organoleptik

meliputi uji
bau,rasa dan

Pengukuran

warna
Pengukuran pH

pH

dilakukan
menggunakan

Kejernihan

indikator.
Bandingkan

larutan

larutan uji

Sediaan memiliki bau


3 botol

jeruk, rasa pahit, dan


warna orange

Bau= jeruk
Rasa= manis
Warna=
orange

3 botol

6,5

pH= 6,5

3 botol

Larutan jernih tidak ada

Suatu cairan

partikel melayang

dinyatakan

jernih jika
kejernihanny

dengan larutan
(FI V hal 154)

a sama

suspense

dengan air

padanan yang

atau pelarut

dibuat segar.

yang
digunakan
Volume ratarata tidak
kurang dari

Volume
1.4

terpindahkan

Tuang isi

100% dan

perlahan-lahan

tidak ada

dari tiap wadah

satu wadah

ke dalam gelas

pun

ukur kering dan

3 botol

60,67ml

volumenya

telah dikalibrasi

kurang dari

secara hati-hati

95% dari

(FI V halaman

volume yang

1614)

tertera pada
etiket ( FI V
halaman

1.5

Bobot jenis

Gunakan

3 botol

1,05 g/ml

1615)
Bobot jenis

piknometer

suatu zat

yang bersih dan

adalah hasil

kering, timbang

yang

piknometer

diperoleh

kosong (W1)

dengan

lalu isi dengan

membagi

air suling dan

bobot zat

timbang (W2).

dengan

Buang air

bobot air

suling tersebut,

dalam

keringkan

piknometer.

piknometer lalu
isi dengan
cairan yang
akan diukur BJ
nya dan

(FI V hal

timbang (W3).

1553)

Hitung dengan
rumus :
dt =

w3w1
w2w1

Pengujian
dilakukan
menggunakan
viscometer
kapiler.
Pengukuran

1.6

kekentalan

Viskositas

meliputi

sediaan

penetapan

mendekati

waktu yang

viskositas

Viskositas

dibutuhkan oleh

air (0,89

(FI V hal

sejumlah

1562)

volume tertentu

cP) pada

untuk mengalir

suhu 25oC)

melalui kapiler.

(HOPE 6th

Hitung dengan

Edition

rumus :

page 766)

n1
n2

1 . t 1
2 t 2
(FI V hal 1562)

3 botol

0,41 cP

mPa s (0,89

Dengan
menyimpan

Penentuan
1.7

retained sample

stabilitas

pada

sediaan

3 botol

temperature
kamar

2.

KIMIA
Dengan

2.1

Identifikasi

menggunakan

sediaan

HPLC
(FI V hal 567)
Dengan cara

Penetapan
2.2

kadar zat aktif


sediaan

3.

3 botol

kromatografi
lapis tipis

3 botol

(FI V hal 567)

BIOLOGI
Pengujian
dilakukan

Kurang dari

dengan metode
Jumlah
3.1

10 mikroba

penyaringan
membrane atau

cemaran

salah satu

mikroba

per gram
3 botol

atau ml
specimen

metode

(FI V hal

lempeng yang

1343)

sesuai (FI V hal


1343)

Koloni tidak
Uji efektivitas
3.2

pengawet
(FI V hal
1355)

Pengujian

mengikat

dilakukan

dari jumlah

dengan

3 botol

hitung awal

menggunakan

sampai hari

uji mikroba uji

ke-4 dan ke28

Perhitungan Volume Terpindahkan


Volume botol 1= 60 ml
Volume botol 2= 61ml

Volume botol 3= 61ml


60 ml +61 ml+61 ml
Rata-rata =
3
= 60,67ml

Perhitungan Bobot Jenis


W1 = 31,217 g
W2 = 39,812 g
40,33 g+ 40,41 g +40,41 g
W3 =
3
121,15 g
3

w3w1
w2w1

dt =

= 40,3 g

40,3 g31,217 g
39, 812 g31,217 g

9,083 g
8,595 g

= 1,05 g/ml

Perhitungan Viskositas
n1= 0,89 mPa s (0,89 cP)
n2= ?
1= 1 g/ml

= 1,05 g/ml

t1=

7,09+ 6,71+7,08
3

= 6,96 s

t2=

3,04 +3,12+3,23
3

= 3,13 s

n1
n2
0,89
n2

1 . t 1
2 t 2

=
=

1 x 6,96
1,05 x 3,13

n2 x 6,96 = 2,92
2,92
n2= 6,96 = 0,41 cP

IX.

PEMBAHASAN

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang saling bercampur (FI IV hal 15). Dibuat sediaan larutan
karena larutan mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya lebih mudah ditelan
untuk anak-anak atau orang dewasa yang sulit menelan tablet, mengurangi resiko
iritasi pada lambung, dan segera diabsorpsi karena sudah berada dalam bentuk
larutan. Sedangkan penggunaan larutan sediaan yang dibuat yaitu untuk oral.
Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung
satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna
yang larut dalam air atau campuran kosolven-air (FI IV hal 15). Banyak larutan
oral yang mengandung etanol sebagai kosolven dinyatakan sebagai Eliksir. Dapat
digunakan kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol, untuk mengurangi
jumlah etanol yang diperlukan. Untuk dapat dinyatakan sebagai Eliksir, larutan
harus mengandung etanol (FI IV hal 15).
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan larutan elixir dengan bahan aktif
Indometasin. Formula yang digunakan yaitu Indometasin sebanyak 1%, Sirupus
simplex sebanyak 25%, Methyl paraben sebanyak 0,015%, Propyl paraben
sebanyak 0,01%,CMC Na sebanyak 0,5%, Etanol sebanyak 10%, Propilen Glikol
sebanyak 24%, Garam phospat sebanyak 0,007%, Pasta Jeruk sebanyak 1 tetes,
Oleum aurantii sebanyak 1 tetes, dan Aquadest Ad 100%.
Sediaan yang akan dibuat berupa larutan elixir dengan bahan aktif
Indometasin dengan dosis untuk dewasa yaitu 3 x 1 sendok takar @2,5-5 ml.
Sedangkan khasiat dari Indometasin yaitu sebagai analgesik (Farmakologi dan
Terapi ed. V hal 241). Analgesik (penghilang rasa nyeri) yaitu zat-zat yang
mengurangi atau menghindari rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran (Obat-Obat Penting ed. 6 hal 30)
Indometasin merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal
sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini
efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin
memiliki efek antiinflamasi dan analgesik-antipiretik yang kira-kira sebanding
dengan aspirin. Telah terbukti bahwa Indometasin memiliki efek analgesik perifer
maupun sentral. Seperti kolkisin, Indometasin menghambat motilitas leukosit
polimorfonuklear. Absorpsi Indometasin setelah pemberian oral cukup baik; 9299% indometasin terikat pada protein plasma. Metabolismenya terjadi di hati.
Indometasin diekskresi dalam bentuk asal maupun metabolit melalui urin dan

empedu. Waktu paruh plasma kira-kira 2-4 jam. Efek samping indometasin
tergantung dosis dan insidensnya cukup tinggi. pada dosis terapi, sepertiga pasien
menghentikan pengobatan karena efek samping. Efek samping saluran cerna
berupa nyeri abdomen, diare, pendarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala
hebat dialami oleh kira-kira 20-25% pasien dan sering disertai pusing, depresi dan
rasa bingung. Karena toksisitasnya, Indometasin tidak dianjurkan diberikan
kepada anak, wanita hamil, pasien dengan gangguan psikiatri dan pasien dengan
penyakit lambung. Penggunaannya kini dianjurkan hanya bila AINS lain kurang
berhasil (Farmakologi dan Terapi ed. V hal 241).
Bahan aktif praktis tidak larut dalam air, kelarutan di alkohol 1:50
(Martindale 36 hal 66), maka dibuat sediaan berupa larutan elixir. Bahan aktif
mempunyai rasa yang pahit (Farmakope Indonesia edisi V hal 566) sehingga
akan menurukan akseptabilitas terhadap pasien, maka dari itu dalam sediaan
ditambahkan pemanis (sweetening agent) yaitu sirupus simplex (HOPE 6th
Edition page 703)

untuk menghilangkan rasa pahit pada sediaan dan

meningkatkan akseptabilitas terhadap pasien. Sirupus simplex dibuat dari sukrosa


65g+aquadest ad 100ml yang dipanaskan hingga sukrosa melarut dengan
sempurna. Sediaan disimpan dalam jangka waktu lama sebagai multiple dose, dan
sediaan terkandung sukrosa dan air sebagai nutrisi dan medium pertumbuhan
mikroba, dengan demikian akan rentan terkontaminasi mikroba, maka sediaan
ditambahkan pengawet, yaitu pengawet Methyl paraben dan Propyl paraben
(HOPE 6th edition page 441 & 596). Agar pengawet dapat bekerja dengan efektif
maka dikombinasikan pengawet Methyl paraben dan Propyl paraben. Bahan aktif
memiliki pH yang tidak stabil berada di bawah 6 (Martindale 36 hal 66), maka
pH sediaan dibuat di atas 6, yaitu 6,5. Digunakan pengawet Methyl paraben dan
Propyl paraben karena menyesuaikan dengan pH sediaan yang dibuat yaitu 6,5
dengan pH aktivitas antimikroba Methyl paraben dan Propyl paraben yaitu 4-8
(HOPE 6th edition page 441 & 596). Bahan aktif praktis tidak stabil atau tidak
larut dalam air (Martindale 36 hal 66), maka dalam pembuatan digunakan
pelarut kosolven yaitu air, etanol, dan propilen glikol agar bahan aktif dapat larut
dengan sempurna. Bahan aktif tidak stabil terhadap cahaya, baik dalam keadaan
padat dan dalam larutan air (TPC, 1994, hal 913), maka digunakan botol kaca
berwarna coklat saat penyimpanan. Sediaan dibuat dalam bentuk sirup, larutan

sirup memiliki viskositas yang lebih tinggi dari air (Farmakope Indonesia edisi
V hal 15), maka ditambahkan CMC Na sebagai pengental untuk meningkatkan
viskositas sediaan (HOPE 6th Edition page 120). Untuk mencapai pH sediaan
yang diinginkan, ditambahkan adjust pH HCl 0,1 N atau NaOH 0,1 N (jika perlu).
Untuk mempertahankan pH sediaan yang diinginkan, ditambahkan Dapar Phospat
untuk mempertahankan pH sediaan (Farmakope Indonesia edisi V hal 1727).
Agar warna sirup lebih menarik, ditambahkan colouring agent Pasta Jeruk. CO 2
dapat mempengaruhi pH sediaan karena dapat terlarut ke dalam air dan
membentuk ion H+ sehingga dapat mengubah pH sediaan, maka digunakanlah
pelarut air bebas CO2. Pada pembuatan sediaan tiap botol dilebihkan 2% yaitu
menjadi 61,2ml, ini dilakukan untuk menjamin kehilangan volume pada setiap
botol sesuai yang tertera pada label dan etiket dan memenuhi syarat volume
terpindahkan. Untuk volume total juga dilebihkan sebanyak 10% untuk menjamin
agar tidak terjadi kehilangan volume total sediaan.
Eksipien yang digunakan terdiri dari Sirupus simplex 25%, Methyl paraben
0,015%, Propyl paraben 0,01%, CMC Na 0,5% , Etanol 10% , Propilen Glikol
24% , Garam phospat 0,007%, Pasta Jeruk qs, Oleum aurantii qs, dan Aquadest
ad 100%.
Sediaan dibuat secara berurutan mulai dari pembuatan air bebas CO 2, kalibrasi
yang terdiri dari: kalibrasi botol coklat 60ml, beaker glass utama (500 ml), dan
kalibrasi beaker glass untuk sirupus simplex (250ml), lalu dilanjutkan dengan
penimbangan formula atau bahan-bahan yang telah dilakukan perhitungan
sebelumnya, pembuatan sirupus simplex, pembuatan dapar phospat, pembuatan
gel CMC Na, dan pembuatan larutan elixir Indometasin 1%. CMC Na dibuat di
dalam motir karena CMC Na mudah terdispersi dalam air dan membentuk larutan
koloidal (Farmakope Indonesia edisi V hal 620).
Pada perhitungan ADI Propilen glikol, penggunaan propilen glikol melampaui
kadar ADI sehingga formula yang didapatkan melalui perhitungan KD tidak bisa
digunakan. Maka dari itu kadar kosolven (propilen glikol) dikurangi jumlahnya
sampai tidak melampaui kadar ADI dari propilen glikol.
Selama praktikum saya melakukan kalibrasi botol kaca berwarna coklat
sebanyak 61 ml, kalibrasi beaker glass utama 500 ml, kalibrasi beaker glass untuk

membuat sirupus simplex, dan pembuatan larutan elixir indometasin 1%. Pada
saat memasukkan sebagian larutan sediaan dalam beaker glass sedikit demi
sedikit ke dalam mortir yang berisi CMC Na yang telah dikembangkan dan
diaduk dengan menggunakan stamper, untuk menjadi homogennya sedikit sulit,
masih ada gumpalan dari gel CMC Na yang tidak menyatu dengan larutan
sediaan. Karena penggunaan CMC Na dalam jumlah yang besar membuat sulit
homogen dengan cepat, CMC Na akan homogen dengan sendirinya jika dibiarkan
semalam. Jika penggunaannya sedikit akan homogen dengan cepat dan lebih
mudah.
Setelah sediaan dibuat dan dimasukkan ke masing-masing botol yang telah
dikalibrasi sebelumnya dan ditutup rapat dilakukan evaluasi, diantaranya ada
evaluasi organoleptik, yaitu meliputi evaluasi bau, rasa dan warna. Sediaan yang
telah jadi memiliki bau jeruk, rasa pahit, dan warna orange. Pada evaluasi
organoleptik, syarat untuk rasa sediaan yaitu manis, sedangkan berdasarkan hasil
pengamatan didapatkan rasa yang pahit. Dihasilkan rasa yang pahit karena
penggunaan sweetening agent hanya 25% dan hanya memakai pemanis dari
sirupus simplex, tidak ditambahkan sweetening agent yang lain, maka dari itu
rasa manis yang didapatkan hanya sedikit dan masih dominan rasa pahit dari zat
aktifnya. Pada organoleptik bau awalnya didapatkan bau yang sangat khas dari
zat aktifnya, kemudian ditambahkan odoris atau pewangi yaitu oleum aurantii
untuk menghilangkan bau khas dari zat aktif tersebut agar akseptabilitas terhadap
pasien juga meningkat.
Yang kedua yaitu evaluasi evaluasi pengujian pH sediaan. Sediaan diukur
pHnya menggunakan pH indikator dengan cara mencelupkan indikator ke dalam
sediaan yang telah dibuat 80% dari volume keseluruhan dan disamakan warnanya
dengan pH yang tersedia, pH yang didapat yaitu 6,5.
Yang ketiga yaitu evaluasi kejernihan larutan (FI V hal 154). Sediaan diamati
di tempat terang dan dinyatakan sudah jernih terbebas dari partikel-partikel
melayang, kejernihannya sama dengan air.
Yang keempat yaitu evaluasi volume terpindahkan ( FI V halaman 1615). 3
botol masing-masing dipindahkan ke dalam gelas ukur 500 ml, ditutup dengan
kertas perkamen, dan dibiarkan selama 30 menit. Setelah 30 menit, diukur
masing-masing volume dalam gelas ukur, dijumlahkan lalu dirata-ratakan.
Diperoleh volume rata-rata yaitu 60,67ml. Pada evaluasi volume terpindahkan,
syaratnya yaitu volume rata-rata tidak kurang dari 100% dan tidak ada satu wadah

pun volumenya kurang dari 95% dari volume yang tertera pada etiket (FI V
halaman 1615). Hasil yang diperoleh yaitu volume rata-rata= 60,67ml (kurang
dari 100%). Sedangkan berdasarkan syarat volume rata-rata tidak kurang dari
100%. Ini terjadi karena volume berkurang bisa karena terjadi penguapan pada
sediaan yang mengandung alkohol, masih adanya sisa larutan yang tertinggal
dalam botol saat dituangkan ke dalam gelas ukur 100ml. Dan untuk volume tiap
wadah syaratnya tidak ada satu wadahpun volumenya kurang dari 95% dari
volume yang tetera pada etiket (FI V halaman 1615), ketiga wadah sediaan
volumenya tidak kurang dari 95% dan dapat dinyatakan memenuhi syarat
evaluasi.
Yang kelima yaitu evaluasi bobot jenis (FI V hal 1553). Piknometer yang
bersih dan kering ditimbang di atas timbangan analitik saat kosong sebagai W 1,
saat diisi aquadest sebagai W2, dan saat diisi sediaan sebagai W3. Lalu dihitung
menggunakan rumus perhitungan bobot jenis, diperoleh bobot jenis sediaan yaitu
1,05 g/ml.
Yang keenam yaitu evaluasi viskositas (FI V hal 1562). Pengujian dilakukan
menggunakan viscometer kapiler. Ukur 10 ml aquadest lalu masukkan ke dalam
pipa kecil viscometer. Pipet dengan karet penghisap hingga melewati batas.
Lepaskan karet penghisap perlahan biarkan air turun sampai tanda batas.
Kemudian buka lubang pipa, biarkan aquadest turun hingga mencapai batas yang
dibawah, hitung lamanya waktu selama aquadest mengalir. Lakukan hal yang
sama pada ketiga sediaan masing-masing botol dan hitung rata-rata waktu
sediaan. Kemudiaan hitung viskositas sediaan dengan rumus perhitungan
viskositas, viskositas sediaan yang diperoleh yaitu 0,41 cP.
Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan sediaan dinyatakan memenuhi
syarat yang ditentukan walaupun terdapat hasil evaluasi yang tidak memenuhi
persyaratan namun merupakan parameter kritis.
Penggunaan dapar phospat berfungsi untuk mempertahankan pH sediaan
larutan yang dibuat. Digunakan dapar phospat karena pKa dapar phospat (7,21)
berdekatan dengan pH sediaan (6,5). Dapar phospat dibuat dari asam kuat dan
basa konjugasi. Namun pada praktikum kali ini hanya dibuat garam phospatnya
saja dikarenakan asam kuat (asam phospat)nya tidak tersedia di laboratorium.
Tetapi pada pengujian pH menggunakan pH indikator, pH yang didapatkan yaitu
6,5 (sesuai dengan spesifikasi sediaan). Seharusnya tidak sesuai, pH sediaan
berubah bisa naik atau turun dari spesifikasi sediaan karena dapar yang dibuat

hanya dari garam phospatnya saja tidak memakai asam kuatnya juga. Fungsi dari
dapar yaitu untuk mengatur dan mempertahankan pH, memperbesar potensial
pengawet, dan meningkatkan kelarutan (Pharmaceutics, The Science of Dosage
Form Design, ME. Aulton, hal 277).

X.

KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.
No

Nama Bahan

Jumlah

Kegunaan

Indometasin

1% b/v

Sirupus simplex

25% b/v

Zat aktif
Pemanis dan pengental

Methyl paraben

0,015%b/v

Propyl paraben

0,01%b/v

CMC Na

0,5% b/v

Etanol

10% v/v

Propilen Glikol

24% b/v

Garam phospat

0,007%b/v

(Farmakope Indonesia edisi V


hal 1727)
Pewarna
Odoris/pewangi

.
1

Pasta Jeruk

1 tetes

10

Oleum aurantii

1 tetes

(HOPE 6th Edition page 703)


Pengawet
(HOPE 6th edition page 441)
Pengawet
(HOPE 6th edition page 596)
Pengental
(HOPE 6th Edition page 120)
Pelarut
(HOPE 6th Edition page 17)
Kosolven
(HOPE 6th halaman 592)
Dapar

(Martindale 36 hal 2357)

Dari hasil sediaan yang didapat sediaan memiliki bau jeruk, rasa pahit, dan
warna orange. Pada pengujian pH didapatkan pH 6,5. Sediaan memiliki dosis
untuk dewasa yaitu 3 x 1 sendok takar @2,5-5 ml. Sedangkan khasiat dari
Indometasin yaitu sebagai analgesik (Farmakologi dan Terapi ed. V hal 241).

Analgesik (penghilang rasa nyeri) yaitu zat-zat yang mengurangi atau


menghindari rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Obat-Obat
Penting ed. 6 hal 30). Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan sediaan
dinyatakan memenuhi syarat yang ditentukan walaupun terdapat hasil evaluasi
yang tidak memenuhi persyaratan namun merupakan parameter kritis.
XI.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Goeswin. 2012. Sediaan Farmasi Likuida-Semisolida. Bandung: Penerbit
ITB
BMJ Group. 2009. British National Formulary (BNF). London: BMJ Group and
the Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.
Council of Europe. 2001. European Pharmacopoeia, Fifth Edition. Europe:
Directorate for The Quality of Medicines of The Council of Europe (EDQM)
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia,edisi IV,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia,edisi V,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Lawrence. 2007. United States Pharmacopeia 30 - National Formulary 25. United
States:
Rowe, Raymond C.2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed.,London
: Pharmaceutical Press.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale 36 The Complete Drug Reference. London:
Pharmaceutical Press.
Syarif, Amir, dkk. 2012. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
The Council of The Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. 1994. The
Pharmaceutical Codex, 12th ed, Principles and Practice of Pharmaceutik. London:
Pharmaceutical Press.
The Departemen of Health, Social Service and Public Safety. 2009. British
Pharmacopoeia. London: Pharmaceutical Press.

The Minister and Health. 2006. The Japanese Pharmacopoeia fifteenth. Japan:
Ministry of Health.
Tjay Tan , dan Tahardha Kirana. 2007. Obat-Obat Penting (Khasiat, Cara,
Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya) Edisi keenam. Jakarta: PT. ELEX
MEDIA KOMPUTINDO.

XII.

LAMPIRAN
KEMASAN

ETIKET

Indoxir

Indometasin
KOMPOSISI
Tiap 5ml mengandung :
Indometasin........ 50mg
FARMAKOLOGI

BROSUR

Indoxir

mengandung Indometasin yang berkhasiat sebagai analgesik.

Analgesik (penghilang rasa nyeri) yaitu zat-zat yang mengurangi atau


menghindari rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
Indometasin merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal
sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun
obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi.
Indometasin memiliki efek antiinflamasi dan analgesik-antipiretik yang
kira-kira sebanding dengan aspirin. Telah terbukti bahwa Indometasin
memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. Seperti kolkisin,
Indometasin menghambat motilitas leukosit polimorfonuklear. Absorpsi
Indometasin setelah pemberian oral cukup baik; 92-99% indometasin
terikat pada protein plasma. Metabolismenya terjadi di hati. Indometasin
diekskresi dalam bentuk asal maupun metabolit melalui urin dan empedu.
Waktu paruh plasma kira-kira 2-4 jam.
INDIKASI
Analgesik (penghilang rasa nyeri)
CARA PAKAI
Untuk Dewasa:
Sehari 3 x 1 sendok takar @2,5-5ml
KONTRAINDIKASI
Anak, wanita hamil, penderita gangguan psikiatri, dan penderita penyakit lambung.
EFEK SAMPING
Nyeri abdomen, diare, sakit kepala, depresi, dan rasa bingung.
SIMPAN DI BAWAH SUHU 250C DALAM BOTOL TERTUTUP RAPAT.
LINDUNGI DARI CAHAYA.

KOCOK
HARUS DENGAN RESEP
No. Reg. DKL 1500600334A1
PT. PHARAFAM FARMA
BANDUNG INDONESIA

Anda mungkin juga menyukai