Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

SEDIAAN DEKOK KULIT BUAH DELIMA (Punica granatum)

Disusun oleh:
Kelompok B-3
Anggota:
1. Yayan Ika R.

122210101024

2. Elivia Rosa A.

122210101028

3. Nanda Suryaning R.

122210101032

4. Yasmin

122210101034

5. Masuliatin Nasucha

122210101036

6. Mia Riswani

122210101042

7. Wilda Zidni Ilma

122210101044

8. Choirul Umam

122210101046

9. Mufitriatus S.

122210101048

10. Galuh Sinoarsih

122210101050

11. Faizah Oktaviana

122210101064

12. Rani Firda N. I. A.

122210101066

13. Ifa Rosi M.

122210101068

BAGIAN BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Buah delima (Punica granatum) merupakan salah satu sumber antioksidan dari
tumbuh-tumbuhan dengan kandungan polifenol dan antosianin yang cukup tinggi. Pigmen
antosianin bertanggung jawab untuk warna merah, ungu dan biru dari buah, sayuran dan
bunga. Antosianin merupakan salah satu antioksidan kuat yang mampu mencegah berbagai
kerusakan akibat stress oksidatif sehingga mampu melindungi sel dari radikal bebas.
Beberapa flavonoid yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan memiliki khasiat sebagai
antioksidan. Salah satu komponen flavonoid dari tumbuh-tumbuhan yang dapat berfungsi
sebagai antioksidan adalah zat warna alami yang disebut antosianin. Warna merah pada
delima disebabkan oleh kandungan antosianin yang cukup tinggi pada buah delima merah
antara lain delpherildin 3-glucoside dan 3,5 diglucoside, guanidin 3-glucoside dan 3,5
diglucoside, pelargonidin 3-glucoside dan 3,5 diglucoside. Rasa kesat pada buah delima
disebabkan oleh kandungan flavonoid (golongan polifenol) yang tinggi. Salah satu peran dari
flavonoid yang penting adalah sebagai antioksidan. Flavonoid dapat menstabilkan senyawa
oksigen reaktif yang dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan radikal bebas.
Buah delima juga kaya akan fitosterol. Fitosterol merupakan komponen biokimia
yang mempunyai fungsi berlawanan dengan kolesterol bila dikonsumsi manusia. Selain itu,
fitosterol juga tahan terhadap oksidasi, sehingga dapat digolongkan antioksidan pangan.
Kulit delima putih memiliki kandungan alkaloid dan flavonoid yang mempunyai
aktivitas antimikroba terhadap Candida albicans. Kemudian yang bertanggung jawab
menghambat pertumbuhan Candida albicans adalah komponen tannin.
Delima telah lama dimanfaatkan buahnya untuk dikonsumsi dan beberapa bagian dari
tanaman delima dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit. Semua bagian tanaman
bersifat antivirus dan antibakteri. Sebagai anti bakteri, beberapa senyawa fitokimia
dilaporkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Salah satunya adalah
kandungan ellagitanin dari tanaman Delima yang terutama terdapat dalam bagian kulit
buahnya (Henriettes Herbal., 2000). Selain ellagitanin, kulit buah delima juga mengandung
flavonoid, triterpenes dan phenol yang terbukti memiliki efek antibakteri terhadap
Escherichia coli (Supayang, dkk., 2005).
Terdapat penelitian terdahulu yang mengatakan bahwa buah delima dapat
dimanfaatkan kulitnya dan buahnya sebagai agen atibakteri. Menurut Syamsu Hidayat dan
Hutapes (2001). Reynald (2003), kulit buah delima mengandung zat tanin yang bersifat

antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus dan Staphylococcus.


Menurut Fransiska (2009) ekstrak etanol kulit buah delima putih dapat menghambat
pertumbuhan Bacillus subtilis dan Escherichia coli secara in vitro.
Menurut Anita (2009) dan Irene (2011) ekstrak buah delima dapat menghambat
pertumbuhan

Streptococcus

mutans

dan

menghambat

pembentukan

biofilm

pada

Staphylococcus aureus secara in vitro. Hal ini disebabkan oleh kandungan flavonoid dan
tanin yang tinggi di dalam buah delima dan berfungsi sebagai agen antibakteri, sehingga
dapat menghambat pelekatan bakteri pada permukaan gigi.
Aksi farmakologi dan fitokimia sebagian besar komponen buah delima di duga
memiliki aplikasi klinis untuk terapi dan pencegahan terhadap kanker dan penyakit lain yang
disebabkan oleh reaksi antiinflamasi kronis (Lansky dan Newman, 2007)
Berbagai penelitian terhadap aktivitas buah delima telah membuktikan bahwa buah
delima memiliki kemampuan antibakteri, antioksidan, antiinflamasi dan antikanker, serta
aktivitasnya dalam meregulasi proses fibrosis (Jurenka, 2008). Kandungan senyawa yang di
duga aktif debagai antibakteri pada daun delima yaitu alkaloid dan tanin. Hal ini sejalan
dengan penelitian sebelumnya oleh Ismail (2011) mengemukakan bahwa senyawa aktif
sebagai antibakteri terhadap E.coli pada kulit buah delima adalah alkaloid dan tanin. Rosidah
dan Wila (2012) juga menambahkan bahwa tumbuhan lain yang bersifat antibakteri terhadap
E.coli karena mengandung tanin dan alkaloid adalah daun jambu biji yang merupakan satu
ordo dengan delima (ordo Myrtales).
Melanjutkan dari penelitian mengenai antibakteri dari kulit buah Punica granatum,
Jang-Gi Choi dkk, penelitu yang berasal dari Korea melakukan penelitian mengenai hal ini.
Obat tradisional di Korea sering menggunakan buah Punica granatum debagai antibakteri.
Penelitian ini dilakukan secara in vitro maupun in vivo aktivitas antibakteri dari kulit
P.granatum yang diekstraksi dengan EtOH (PGPE) yang diperoleh hasil penelitian bahwa
ekstrak tersebut dapat melawan 16 macam bakteri Salmonella (Jang-Gi Choi, et.all., 2011).
Penelitian selanjutnya, Punica granatum diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi.
Telah banyak digunakan serta telah bertahun-tahun digunakan pericarpium Granati ini untuk
mengobati diare, perdarahan dan mastitis pada pengobatan di China. Pericarpium Granati
mengandung jumlah tinggi senyawa fenolik seperti tanin, antosianin dan flavonoid
(Madrigal-Calballo et.all., 2009 dan Ozkal & Dinc., 1994).
Baru-baru ini beberapa peneliti asal China meneliti tentang aktivitas antiinflamasi
pada pericarpium Granati aqueous (APG). APG ini dapat melawan karagenan yang

diinduksikan pada tikus. Hasilnya menunjukkan bahwa APG berperan dalam pencarian
radical, aktivitas penurunan dan aktivitas perlindungan liposom dalam sistem aseluler.
Selain sebagai antiinflamasi, antibakteri dan antioksidan, Punica granatum digunakan
sebagai pengobatan tradisional untuk pengobatan disentri, diare, cacingan dan penyakit
pernafasan (D. Ricci, et.all., 2006). Kulit dari Punica granatum digunakan untuk mengobati
infeksi yang ditemukan dalam organ sexual manusia seperti mastitis, acne, alergi kulit,
folliculitis (R.P. Singh, Chidambara dan Jayaprakasha, 2002).
Pada praktikum kali ini, delima akan dibuat menjadi sediaan Dekokta (Dekok). Dekok
adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan air pada suhu
90C selama 30 menit. Ekstrak yang sudah berupa larutan dilakukan dengan penguapan
berputar dengan pengurangan tekanan yaitu rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak
yang kental.
Delima dibuat sediaan dekok disebabkan kita memakai simplisia dari kulit buah
delima. Kulit buah delima merupakan salah satu bagian berupa bahan keras. Oleh sebab itu
dibuat sediaan dekok yang cocok untuk simplisia berupa bahan keras. Sedangkan infusa
dibuat untuk bahan simplisia berupa simplisia sediaan yang lunak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Delima
Buah Delima atau Punica granatum merupakan buah yang sejak dulu digunakan

sebagai bahan alternatif untuk selalu menjaga kesehatan tubuh. Akan tetapi, pola hidup
sebagian masyarakat Indonesia yang serba instan ternyata menimbulkan banyak masalah
kesehatan. Oleh karena itu buah delima mengandung banyak sekali manfaat, hendaknya
masyarakat kembali menengok kandungannya dan mengkonsumsi buah ini.
Buah delima (Punica granatum) merupakan tanaman semak atau perdu yang dapat
tumbuh dengan tinggi mencapai 5-8 meter. Klasifikasi ilmiah buah delima sendiri adalah:
-

Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Subkelas

: Rosidae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Punicaceae

Genus

: Punica

Species

: Punica granatum

Naman binomial

: Punica granatum L.

Sinonim

: Punica malus

Daging buah delima mengandung banyak air, serta memiliki rasa manis keasaman
yang menyegarkan. Kandungan kimia kulit buah delima mengandung alkaloid polletierene,
granati, betolic acid, ursolic acid isoquercetin, elligatanin, resin, triterpenoid, kalsium dan
pati. Kulit buah dan kulit kayu delima juga astrigent yang kuat sehingga digunakan untuk
pengobatan diare. Kandungan lainnya adalah gula inversi 20% (5-10% diantaranya
merupakan glukosa), asam sitrat (0,5-3,5%), asam borat, dan asam malat. Buah delima
mengandung antioksidan tiga kali lebih banyak dibandingkan wine dan teh hijau dengan
kandungan flavonoid yang berperan penting dalam tubuh, sekaligus memperbaiki sel-sel
tubuh yang rusak serta memberikan perlindungan kulit.
Antioksidan buah delima membantu mencegah oksidasi LDL atau kolesterol jahat
yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah. Buah delima mengandung zat tanin
yang tinggi, yaitu salah satu senyawa yang terdapat pada tanaman yang merupakan salah satu
komponen astrigen dengan kemampuan mengikat dan mengendapkan protein sehingga bisa

diaplikasikan dalam pengobatan perdarahan (hemostatik), ulkus peptikum (luka terbuka pada
lapisan lambung atau usus 12 jari), wasir dan diare dengan cara menyusutkan selaput lendir
usus sehingga cairan diare berkurang.
Manfaatnya pada gigi yaitu delima memiliki bahan antibakteri dan antivirus yang
dapat membantu untuk mengurangi efek plak pada gigi. Tanaman yang memiliki nama
Punica granatum ini mengandung beberapa zat aktif seperti:
1. Alkaloid, yang dapat menetralisir racun dalam tubuh.
2. Saponin, yang berfungsi sumber anti bakteri dan antivirus, meningkatkan vitalitas,
mengurangi kadar gula dalam darah, dan mengurangi penggumpalan darah.
3. Flavonoid, melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah
terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, mengurangi kandungan kolesterol
serta mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner, mengandung
antiinflamasi (antiradang), berfungsi sebagai antioksidan, membantu mengurangi
rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan.
4. Polifenol berfungsi sebagai anti histamin (antialergi).
Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Metode ekstraksi tanaman kulit
buah Delima (Punicae Granati pericarpium) terpilih adalah Dekok.
Tanaman ini dapat pula dibuat untuk tingtur dimana adalah sediaan cair yang dibuat
dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing-masing
monografi kecuali dinyatakan lain, tingtur digunakan menggunakan 20% zat khasiat dan 10%
zat berkhasiat keras (DIRJEN POM, 1979).
Tingtur adalah larutan yang mengandung etanol dan hidroalkohol yang dibuat dari
bahan tumbuhan atau senyawa kimia (FI IV, 1995).
Metode ekstraksi Dekok yang digunakan yaitu ekstraksi dengan pelarut air pada
temperatur 900C selama 15 menit. Penguapan ekstrak larutan dilakukan dengan penguapan
berpusing dengan pengurangan tekanan yaitu rotatory evaporator sehingga diperoleh ekstrak
yang kental (Harborne, 1987).
Metode ini menggunakan pelarut air sehingga aman untuk dikonsumsi dibanding
tingtur. Selain itu, tannin dan senyawa polifenol yang ada pada kulit buah delima yang
memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi lebih mudah terekstraksi pada pelarut air. Pada
penelitian yang dilakukan Rajan, et.all., 2011. Ekstrak air mengandung tanin 114,23 12,16
mg/g dan fenol 176,005 5,29 mg/g dan ekstrak etanol mengandung tanin 81,66 3,51 mg/g
dan fenol 122,33 6,42 mg/g.

Metode analisis senyawa marker dalam ekstrak atau sediaan secara Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) Densitometer. Berikut beberapa metode analisis ekstrak buah Punica
granatum dengan kondisi analisis yang berbeda dengan buku petunjuk:

Lempeng KLT dikembangkan dengan eluen (fase gerak) air : asama asetat (3:2)
dan di scanning dengan panjang gelombang 254 dan 366 nm. Untuk mengetahui
adanya noda, lempeng KLT yang sudah dieluasi, disemprotkan dengan reagen
FeCl3 5% (Jain et.all., 2012).

Analisis dengan menggunakan KLT, lempeng yang digunakan adalah lempeng


selulosa dengan fase gerak asam asetat 7% dan visualisasi noda dengan
menggunakan radiasi UV (254 nm) atau dengan disemprot larutan FeCl 3
(Tadataka, 1993).

Analisis TLC menggunakan lempeng selulosa dengan fase gerak air : asam asetat
(4 : 1). Visualisasi noda dengan menggunakan reagen NaNO 2 sehingga
menghasilkan warna ungu dan senyawa marker yang digunakan adalah
ellagitanin (Machado et.all., 2002).

Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan lempeng silika gel 60 F254
dengan fase gerak BAW (n-butanol : asam asetat : air = 4 : 1 : 0,5). Uap yodium
digunakan untuk memvisualisasi noda pada lempeng (Mohan et.all., 2010).

Teknik Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dua arah biasanya digunakan untuk
pendahuluan ellagitanin. Jika hanya menggunakan KLT satu arah, hasil
pemisahan kurang maksimal akibat adanya bercak yang masih menyatu.
Lempeng yang digunakan dalam KLT adalah selulosa, misalnya Mn 300
(polyethylene glycol) dengan pengembang I dari asam asetat 2% v/v dan
pengembang II dari campuran butanol : asam asetat : air (12 : 3 : 5). Penyemprot
yang digunakan untuk ellagitanin adalah reagen vanilin / HCl dan reagen NaNO2.

Bentuk sediaan: Dekokta (Dekok)


Dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan
air pada suhu 90C selama 30 menit.
-

Pembuatan:
Mencampur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air
secukupnya, panaskan di atas tangas api selama 30 menit terhitung mulai suhu 90C
sambil sekali-kali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air

panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume dekok yang dikehendaki,
kecuali dekok dari simplisia Condurango Corteks yang harus diserkai setelah
didinginkan terlebih dahulu. Jika tidak ditentukan perbandingan yang lain dan tidak
mengandung bahan berkhasiat keras, maka untuk 100 bagian dekok harus
dipergunakan 10 bagian dari bahan dasr atau simplisia. Untuk bahan berikut,
digunakan sejumlah yang tertera: Bunga artilas 4 bagian, Daun Digitalis 0,5 bagian,
kulit akar Ipeka 0,5 bagian, Kulit Kina 6 bagian, Daun Kumis Kucing 0,5 bagian dan
akar Senega 4 bagian.
-

Pembuatan dekok dau Kersen


Daun Kersen dicuci bersih dan ditiriskan hingga bebas air, daun Kersen yang telah
kering dicincang melintang dan membujur, kemudian direbus dengan air mendidih
selama 15 menit dengan perbandingan 500 gram daun Kersen, 50 ml air untuk
konsumsi 50%. Setelah 15 menit rebusan tersebut didinginkan. Setelah dingin daun
Kersen konsentrasi 50% dapat digunakan untuk membuat larutan konsentrasi 10%,
20%, 30% dan 40% dengan pengenceran menggunakan aquabidest.

BAB III
METODE
3.1

Alat dan Bahan

3.1.1

Alat

Panci infus

Ayakan

Corong gelas

Batang pengaduk

Timbangan analitik

Penangas air

Termometer

3.1.2

Bahan

Kulit buah delima

Air

Feriklorida 1%

Asam galat 0,1% dalam air

Kloroform

Metanol

3.2

Cara Kerja Sediaan Dekok Kulit Buah Delima (Punica granatum)

3.2.1

Pembuatan Dekok
Dekok kulit buah delima kadar 10%.

Kulit buah delima diserbuk halus dan ditimbang 10 g panci infus.

Ukur 100 ml air dimasukkan panci infus yang berisi serbuk simplisia.

Panci infus dipanaskan di atas penangas air dengan suhu mencapai 90C.

Panci infus diangkat lalu diserkai dekok dalam botol yang telah dikalibrasi.

Add volume dekok 100 ml.

3.2.2

Analisis dengan KLT


Ditotolkan pada lempeng KLT 10 l dekok.

Membuat larutan pembanding asam galat 0,1% atau kuersetin 0,1% dalam etanol.

Ditotolkan pada lempeng KLT dan dieluasi ke dalam chamber yang eluennya sudah jenuh.

Lempeng KLT dikeluarkan dan dikeringkan.

Diamati pada UV dan dihitung Rf nya.

Disemprot dengan Feriklorida 1% sehingga warna noda menjadi ungu tua/ hitam.

Sedangkan untuk analisa senyawa tanin menggunakan uji Feriklorida dan uji gelatin.
Sampel + FeCl3 hijau kehitaman = (+) tannin
Sampel + gelatin + 5 ml NaCl 10% endapan putih = (+) tanin
Untuk uji kandungan alkaloid dengan KLT
Sampel + 5 ml HCl 2 N, panaskan. Bila sudah dingin + 0,3 g NaCl, aduk dan saring
filtrat.
Filtrat + 5 ml HCl + NH4OH 28% ekstraksi dengan 5 ml kloroform bebas air, saring dan
uapkan.
Fase diam

: Kiesel gel GF 254

Fase gerak

: etil asetat : metanol : air (9 : 2 : 2)

Penampak noda

: pereaksi dragendorff

Bila timbul warna jingga (+) alkaloid


3.3

Evaluasi

3.3.1

Organoleptis = meliputi bantuk, warna, bau, rasa

3.3.2

Uji pH dengan pH meter


Elektroda di cuci dan dikeringkan.

Kalibrasi elektroda dengan elektroda dapar pH.

Elektroda dikeringkan kemudian dicuci lalu dicelupkan dalam larutan sampel.

3.3.3

Densitas dengan alat piknometer yang dilengkapi dengan termometer.

Setarakan suhu piknometer sesuai dengan suhu yang tertera pada alat dengan cara
dicelupkan dalam air es.

Timbang piknometer kosong.

Isi dengan larutan sampel dan setarakan suhu.

Timbang piknometer + sampel.

Hitung berat jenis.

3.3.4

Viskositas kinematik dengan alat viskometer

Memasukkan sampel dalam tabung 4 melalui pipa 3 sehingga permukaan cairan berada
antara 2 garis batas M.

Pipa 1 ditutup dengan jari dan pipa 2 dihubungkan dengan selang.

Hisap cairan sampai bola 9 penuh.

Jari dan selang dilepas.

Hitung waktu selama cairan pindah M1-M2.

Diulangi 3x.

3.3.5

Volume sedimentasi dengan gelas ukur.


Isi gelas ukur 100 ml dengan sampel suspensi ad volume 100 ml.

Diamati endapan dalam waktu tertentu dan dicatat.

Hitung F= Vu/V0 --> F = volume sedimentasi, Vu = volume sedimentasi sistem flokulasi


dan V0 = volume suspensi mula-mula.

3.3.6

Ukuran partikel dengan mikrometer okuler pada mikroskop


Kalibrasi skala okuler terhadap skala obyektif.

Teteskan 1 tetes sediaan pada obyek glass dan diamati di bawah mikroskop.

Catat ukuran partikelnya.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Penotolan

: Sampel 4 l dekok Punica granati pericarpium


: Standar 2 l asam galat

Fase gerak

: Kloroform : metanol : air (61 : 32 : 7)

Fase diam

: silika gel 60 F254

Deteksi

: Feri klorida 1%

Warna noda

: ungu tua/ hitam (+) mengandung asam galat

Rf

: (-) karena tailing

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan formulasi sediaan dekok dari kulit buah delima
(Punica granatum). Buah delima merupakan tanaman semak atau perdu yang dapat tumbuh
dengan tinggi mencapai 5-8 m. Klasifikasi ilmiah dari buah delima sendiri adalah: kingdom
plantae, divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Myrtales, famili Punicaceae, genus
Punica, dan spesies Punica granatum.
Secara tradisional tanaman delima putih (Punica granatum L) sering digunakan
sebagai obat oleh masyarakat di Indonesia. Setiap bagian tanaman mempunyai khasiat

tertentu, misalnya bunganya untuk radang selaput lendir gusi, tubuh terlalu gemuk; buahnya
untuk disentri, diare (mencret), radang amandel, cacingan, sebagai astringen; kulit akar untuk
obat cacing pita, cacing tambang, sedangkan kulit buahnya untuk keputihan, disentri, diare.
Dalam kulit buah delima terkandung zat-zat tanin, alkaloid, (peletierina, isopeletierina, metil
peletierina, pseudopeletierina), kalium oksalat, asam elogat, asam ursulat, asam betulat dan
pati.
Dekokta (Dekok)
Dekokta dapat diartikan sebagai sari-sari dalam air yang dibuat dari bahan-bahan alam
yang direbus pada suhu 900 980 C. perbedaannnya dengan infusa adalah dekokta
penyariannya selama 30 menit sedangkan infuse hanya sekitar 15 menit dengan suhu yang
sama. Untuk membuat infuse dan dekokta ditentukan oleh sifat dari bahan/sampel. Yang pada
bahan-bahan tdak terdapat minyak atsiri, dan pada bahan bahan dimana bagian-bagiannya
tahan terhadap penghangatan.
Pembuatan dekok atau infusa ditentukan oleh jenis bahan bahan yang digunakan
Dekokta

Bahan bahan yang keras (tidak lunak)


Bahan bahan yang tidak memiliki minyak atsiri
Bahan bahan yang tahan terhadap pemanasan

Infusa

Bahan bahan yang lunak


Bahan bahan yang memiliki minyak atsiri
Bahan bahan dengan kandungan yang tidak kurang tahan terhadap adanya
pemanasan, seperti Ipecacuanha Radix, Hydratis Rhizoma dan bahan bahan yang
menganduk pati, seperti Liquiritiae Radix, Rhei Radix, dan sebagainya
Menurut Acuan Sediaan Herbal (BPOM RI, 2010), dalam penyarian bahan berkhasiat

yang terdapat dalam bahan tumbuhan obat, derajat kehalusan merupakan hal yang terpenting.
Namun, derajat kehalusan bukan merupakan faktor tunggal yang mempengaruhi proses
pelepasan bahan berkhasiat, tetapi jumlah dan sifat alami dari bahan pendamping/metabolit
primer lain yang terdapat dalam bahan obat juga memegang peranan penting.

Berdasarkan metode kerja yang telah dipaparkan, maka pembuatan dekokta dengan
mencampur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya,
panaskan diatas tangas air selama 30 menit terhitung mulai suhu 900C sambil sekali-sekali
diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui
ampas hingga diperoleh volume dekok yang dikehendaki. Jika tidak ditentukan perbandingan
yang lain dan tidak mengandung bahan berkhasiat keras, maka untuk 100 bagian dekok harus
dipergunakan 10 bagian dari bahan dasar atau simplisia.
Derajat kehalusan untuk dekokta harus sesuai, semakin halus simplisia, maka proses
dekok tidak efektif karena simplisia akan mengapung. Begitupula sebaliknya, semakin kasar
derajat kehalusannya, proses dekokta juga kurang efektf karena kandungan yang diambil
kurang efektif akibat kecilnya luas penampang yang kontak dengan solvent.
Hasil dekokta yang didapatkan ialah berwarna coklat jernih. Hal ini sesuai dengan
yang diharapkan. Apabila warna dekok kurang gela, maka ekstrak yang didapat kurang
sempurna. Sebaliknya, jika berwarna coklat pekat, maka ekstarksi berjalan dengan sempurna.
Berwarna jernih, karena adanya penyaringan.
Analisis Kromatografi Lapit Tipis (KLT)
Setelah itu larutan tesebut diserkai dalam keadaan panas menggunakan kain flanel.
Sediaan dekok yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan metode KLT
(Kromatografi Lapis Tipis). Metode KLT merupakan metode pemisahan analit berdasarkan
perbedaan adsorbsi dan partisi pada fase diam dibawah pengaruh fase gerak. Pada praktikum
kali ini fase gerak yang digunakan adalah kloroform : metanol : air (61:32:7) yang bersifat
non polar. Sedangkan fase diam yang digunakan yaitu silika gel 60 F254 yang bersifat polar.
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini bersifat non polar, sehingga ketika dieluasi
maka analit dalam sampel akan terbawa oleh fase gerak.
Ketika akan dilakukan penotolan pada lempeng KLT, dekok diencerkan terlebih
dahulu menggunakan metanol. Hal ini dikarenakan pelarut disesuaikan dengan jenis eluen
yang digunakan yaitu perbandingan antara kloroform, metanol dan air, sehingga analit dapat
terpisah hingga terbentuk noda hitam setelah di semprot dengan penampak noda FeCL 3.
Pengenceran dilakukan dua kali replikasi dengan perbandingan 1 : 2 dan 1 : 4 (dekok :
metanol). Namun ketika sampel dekok ditambahkan pelarut metanol di dapatkan bentuk yang
menyerupai sediaan gel dan sulit untuk melarutkannya. Sehingga berpengaruh terhadap hasil
KLT (terjadi fronting). Setelah dekok diencerkan dengan metanol, dekok di totolkan ke
lempeng KLT sebanyak satu kali penotolan (2l). Setelah ditotolkan, dilanjtkan dengan

mengeuasi lempeng dengan eluan yang sudah disediakan terlebih dahulu. Lempeng di eluasi
sampai analit dapat dipisahkan (noda menuju ke atas lempeng). Kemudian, lempeng yang
sudah tereluasi, di ambil dari chamber dan dikeringka terlebih dahulu dengan cara di anginanginkan, baru setelah itu di semprot dengan penampak noda FeCl3 untuk menampakkan
noda analit (noda bewarna hitam).
Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi senyawa.
Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa standar.
Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi
dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh karena itu bilangan Rf selalu
lebih kecil dari 1,0.

Perhitungan nilai Rf didasarkan atas rumus :


Rf =

jarak yang ditempuh oleh komponen


jarak yang ditempuh oleh pelarut

Nilai Rf dinyatakan hingga angka 1,0 beberapa pustaka menyatakan nilai Rf yang
baik yang menunjukkan pemisahan yang cukup baik adalah berkisar antara 0,2-0,8.
Pada praktikum ini, kami tidak bisa menentukan nilai Rf karena noda yang dihasilkan
pada lempeng mengalami fronting. Hal ini disebabkan karena sampel yang kita gunakan
terlalu pekat atau kurangnya proses pengenceran sehingga fase gerak tidak mampu membawa
sampel bergerak keatas dan akhirnya tidak terjadi pemisahan komponen-komponen secara
sempurna.

Daun Jambu Biji sebagai Anti Diare


Diare adalah defekasi yang sering dalam sehari dengan feses yang lembek atau cair,
terjadi karena chymus yang melewati usus kecil dengan cepat kemudian feses melewati usus
besar dengan cepat pula sehingga tidak cukup waktu untuk absorpsi, hal ini menyebabkan
dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Dehidrasi adalah suatu keadaan kekurangan
cairan, kekurangan kalium (hypokalemia) dan adakalanya acidosis (darah menjadi asam),
yang tidak jarang berakhir dengan shock dan kematian terutama bagi bayi dan anak kecil
karena mereka memiliki cadangan intraseluler yang lebih sedikit sedangkan cairan
ekstraselnya lebih mudah lepas daripada orang dewasa (Adnyana dkk, 2004).
Salah satu penyebab terjadinya diare antara lain karena infeksi kuman penyebab diare.
Ada 12 jenis bakteri penyebab diare, antara lain: Staphylococcus aureus, Bacillus cereus,
Clostridium perferingens, Escherichia coli, Vibrio cholera, Shigella sp., Salmonella sp.,
Clostridium difficile, Campylobacter jejuni, Yersinia enterolitica, Klebsiella pnemoniae,
Vibrio haemolyticus. Namun kasus diare di Indonesia lebih sering disebabkan oleh
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Vibrio cholera, dan Salmonella sp. (Ajizah, 2004)
Pengobatan diare dilakukan dengan pengobatan simtomatik dan pengobatan kausatif.
Pengobatan kausatif dilakukan dengan mematikan kuman penyebab diare dengan antibakteri
(Ajizah, 2004). Salah satunya dengan memberi dekok kulit buah delima yang banyak
mengandung banyak zat kimia yang dapat mematikan bakteri yang menyebabkan terjadinya
diare. Kandungan tanin yang merupakan senyawa antibakteri yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus dan Streptococcus. Selain itu kandungan flavonoid,

triterpene dan fenol dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Bacillus subtilis
dimana bakteri-bakteri tersebut merupakan beberapa dari penyebab pada sebagian besar
kasus diare di masyarakat.
Serkai
Serkai merupakan tahap penting yang harus diperhatikan dalam membuat sediaan
infus maupun dekok. Pada umumnya infus harus diserkai selagi panas, kecuali infus simplisia
yang mengandung minyak atsiri, diserkai setelah dingin. Infus daun sena, infus asam jawa
dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Untuk dekokta
Condurango diserkai dingin, karena zat berkhasiat yang terkandung didalamnya akan larut
dalam keaadaan panas, dan akan mengendap pada keadaan dingin. Sedangkan infus daun
sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat
menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas, tetapi tidak larut dalam air dingin.
Untuk asam jawa sebelum dibuat infus dibuang bijinya dan diremas dengan air hingga
massanya seperti bubur.
Dosis
Setelah dibuka, masukkan ke dalam lemari es atau dikonsumsi pada hari yang sama.
Ukuran / Derajat Kehalusan Simplisia
Dalam penyarian bahan berkhasiat yang terdapat dalam bahan tumbuhan obat, derajat
kehalusan merupakan hal yang penting. Derajat kehalusan bukan merupakan faktor tunggal
yang mempengaruhi proses pelepasan bahan berkhasiat, tetapi jumlah dan sifat alami dari
bahan pendamping/ metabolit primer lain yang terdapat dalam bahan obat juga memegang
peranan penting. Derajat kehalusan ini harus di sesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat
yang terkandung tersebut untuk disari. Semakin halus simplisianya itu akan mempermudah
proses penyarian, ataupun sebaliknya semakin sukar disari maka simplisia harus dibuat
semakin halus. Untuk beberapa simplisia:

Daun, bunga dan herba: rajangan kasar dengan ukuran lebih kurang 4 mm.

Kayu, kulit dan akar, rajangan agak kasar dengan ukuran lebih kurang 2,5 mm

Buah dan biji digerus atau diserbuk kasar dengan ukuran lebih kurang 2 mm

Simplisia yang mengandung alkaloid dan saponin: serbuk agak halus dengan ukuran
lebih kurang 0,5 mm.

Klasifikasi
Serbuk
Sangat Kasar
Kasar
Setengah Kasar
Halus
Sangat Halus

Simplisia Nabati dan Simplisia


Hewani
Batas derajat halus2
Nomor
Nominal
Nomor
%
1
Serbuk
Pengayak
8
20
60
20
40
60
40
40
80
60
40
100
80
100
80

Bahan Kimia
Nomor
Nominal
Serbuk1
20
40
80
120

Batas derajat halus2


Nomor
%
Pengayak
60
60
60
100

40
60
120
120

Keterangan :
1

semua partike

batas persentase yang melewati pengayak dengan ukuran yang telah ditentukan.

l serbuk melewati pengayak dengan nomor nominal tertentu

Pengawet untuk Sediaan Dekok


Asam benzoat/ asam benzene karboksilat/ asam phenil karboksilat (C 7H6O2 atau
C6H5COOH) merupakan suatu senyawa kimia yang umum digunakan sebagai bahan
pengawet yang dianggap GRAS oleh FDA, dan secara kimia dapat dihasilkan melalui
oksidasi fase cair dari toluena (Srour, 1989; WHO, 2000). Asam benzoat memiliki bentuk
serbuk kristal padat, tidak berwarna, tidak berbau, sedikit terlarut didalam air, tetapi larut
dalam etanol dan sangat mudah larut dalam benzena dan aseton.

Struktur asam benzoat


Asam benzoat, dalam bahan pangan umum digunakan sebagai bahan pengawet.
Namun diluar itu, juga dapat dimanfaatkan sebagai penghambat korosi (WHO, 2000). Dalam
beberapa penelitian menunjukan bahwa senyawa benzoat dapat ditemukan secara alami pada
beberapa jenis tanaman dan juga produk hewani baik dalam bentuk bebas maupun dalam
bentuk terikat. Asam benzoat dalam tanaman seperti pada beberapa tanaman berry (500

mg/kg) seperti cranberry (V.vitis idaea) dan bilberry (V.macrocarpon) dengan kandungan
sebesar 300 1300 mg/kg buah ditemukan dalam bentuk glikosida (Hegnauer, 1996). Selain
tanaman berry, Asam benzoat juga teridentifikasi pada beberapa spesies fitofag dan omnivora
seperti pada (lagopus mutus) (Hegnauer, 1989).maupun pada muskox jantan (Ovibos
moschatus) (Flood et al, 1989)

Penyimpanan
Menurut Acuan Sediaan Herbal (BPOM RI, 2010), sediaan yang berbeda dapat
bertahan untuk jangka waktu yang berbeda sebelum mulai berkurang/kehilangan kandungan
bahan berkhasiatnya. Simpanlah infus atau dekok didalam lemari pendingin atau pada tempat
yang teduh. Infus harus dibuat segar setiap hari (24 jam) dan dekok harus digunakan dalam
waktu 48 jam.
Sediaan yang berbeda dapat bertahan untuk jangka waktu yang berbeda sebelum
mulai berkurang/kehilangan kandungan bahan berkhasiatnya. Simpanlah infus atau dekok
didalam lemari pendingin atau pada tempat yang teduh. Infus harus dibuat segar setiap hari
(24 jam) dan dekok harus digunakan dalam waktu 48 jam. Tingtur dan sediaan cair lannya
seperti sirup dan minyak atsiri perlu disimpan dalam botol berwarna gelap pada tempat yang
teduh terlindung dari cahaya matahari dan dapat bertahan selama beberapa bulan atau tahun.

BAB VI
KESIMPULAN
Dari praktikum pembuatan sediaan dekok kulit buah delima (Punica granatum) ini
dapat diambil kesimpulan bahwa:
6.1

Rf dari hasil KLT tidak dapat dianalisis karena tailing, dimana sampel terlalu pekat
dan tidak diencerkan sehingga fase gerak tidak mampu membawa sediaan secara
sempurna.

6.2

Noda yang dihasilkan berwarna ungu kehitaman yang berarti bahwa sampel kami
mengandung flavonoid.

DAFTAR PUSTAKA

Apriliana, Dian. 2010. Aktivitas Hepatoproteksi Ekstrak Polifenol Buah Delmia (Punica
granatum L.) terhadap Tikus Putih yang Diinduksi Parasetamol. Departemen
Biokimia. Fakultas MIPA Bogor: IPB Press.
BPOM RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal Vol. 5 Ed 1. Jakarta: BPOM RI
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia III. Jakarta: Depekes RI.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Depkes RI.
Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia, Ed II. Bandung: ITB Press.

Heryani. 2010. Aktivitas Fraksi Polifenol Buah Delima (Punica granatum L.) terhadap
Peroksidasi Lipid Darah Tikus yang Diinduksi Parasetamol. Departemen Biokimia.
Fakultas MIPA Bogor: IPB Press.
Jain, V., et.all. 2012. Isolation of Antidiabetic Principle From Fruit Rinds of Punica
granatum. Evidance Based Complementary and Alternative Medicine.
Machada, T., et.all. 2001. Antimicrobial Ellagitanninn of Punica granatum fruits. Journal of
the Brazilian Chemical Society.
Mohan, M., et.all. 2010. Cardioprotective Potential of

Punica granatum Extract in

Isoprotenol-Induced Myocardial Infarction in Wistar Rats. Journal of Pharmacology:


Pharmacotherapeutics.
Purwantini, Indah dan Subagus W. 2000. Isolasi dan Indentifikasi Senyawa Anti-Jamur
(Candida aidicans) dari Kulit Buah Delima (Punica granatum). Majalah Farmasi
Indonesia. Yogyakarta: UGM.
Rajan, S., dkk. 2011. Antioxidant Potentials of Punica granatum Fruit rind Extract.
International Journal of Pharmacy & Pharmaceutics Science.
Todaka, No. R. 1993. Carbonic Anhydrate Inhibitor from the pericarps of Punica granatum.
Brol. Pharm Bull.