Anda di halaman 1dari 13

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan

Pada Anak Dengan Demam Thypoid

Oleh :
Dewa Ayu Lydia Citra Dewi
(1302105089)

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Universitas Udayana
2014

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi Pengertian
Tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu
minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa
gangguan kesadaran. Tifoid adalah penyakit sistemik akut akibat infeksi Salmonella
typhi yang ditandai dengan malaise (Corwin, 2000)
Febris typhoid adalah merupakan salah satu penyakit infeksi akut usus halus yang
menyerang saluran pencernaan disebabkan oleh kuman Salmonella typhi dari
terkontaminasinya air/makanan yang biasa menyebabkan enteritis akut disertai
gangguan kesadaran (Suriadi&Yuliani, R., 2001)
Demam tifoid adalah penyakit menular yang biasanya ditemukan di daerah beriklim
tropis yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem
retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi nodus
peyer di distal ileum (Soegeng Soegijanto, 2002).
2. Epidemiologi
Data World Health Organization (WHO) tahun 2009, memperkirakan terdapat sekitar
17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian
tiap tahun. Insidens rate demam tifoid di Asia Selatan dan Tenggara termasuk China
pada tahun 2010 rata-rata 1.000 per 100.000 penduduk per tahun. Insidens rate
demam tifoid tertinggi di Papua New Guinea sekitar 1.208 per 100.000 penduduk per
tahun. Insidens rate di Indonesia masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk
pedesaan dan 810 per 100.000 penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata kasus
per tahun 600.000-1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di Indonesia
masih tinggi dengan CFR sebesar 10% (Nainggolan, R, 2011).
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam
tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah
sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan
pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%,
urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan jumlah kasus 77.539 dengan proporsi
3,01% (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan penelitian Cyrus H. Simanjuntak., di Paseh (Jawa Barat) tahun 2009,
insidens rate demam tifoid pada masyarakat di daerah semi urban adalah 357,6 per
100.000 penduduk per tahun. Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan
biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan; di daerah Jawa Barat, terdapat 157 kasus
per 100.000 penduduk sedangkan di daerah urban di temukan 760-810 per 100.000
penduduk. Perbedaan insiden di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air

bersih yang belum memadai serta sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah
yang kurang memenuhi sarat kesehatan lingkungan (Simanjuntak, C.H, 2009).
3. Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A,
Salmonella paratyphi B, dan Salmonella paratyphi C dari Genus Salmonella. Bakteri
ini berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan
mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini dapat hidup sampai
beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri ini
dapat mati dengan pemanasan (suhu 54,4C selama 1 jam atau suhu 60C selama 15
menit), pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi. Salmonella typhi mempunyai 3
macam antigen, yaitu :
a. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga
endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan
terhadap formaldehid.
b. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
c. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat
melindungi kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh akan menimbulkan pula
pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin (Mansjoer, A. 2000).
4. Patofisiologi
Masa inkubasi tifoid umumnya 10-20 hari. Inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60
hari. Masa inkubasi ini bergantung pada jumlah bakteri yang tertelan dan faktor host.
Bakteri Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau
minuman yang terkontaminasi. Setelah bakteri masuk ke saluran pencernaan manusia
dan sampai di lambung maka timbul usaha pertahanan non spesifik yang bersifat
kimiawi yaitu dengan adanya suasana asam oleh asam lambung dan enzim yang
dihasilkannya. Keadaan asam lambung tersebut menghambat multiplikasi Salmonella
dan pada pH 2,0 sebagian besar bakteri akan mati dengan cepat sedangkan sebagian
bakteri yang tidak mati akan mencapai usus halus. Selain itu, adanya bakteri anaerob
di usus juga menghalangi pertumbuhan bakteri dengan pembentukan asam lemak
rantai pendek yang akan menimbulkan asam.

Apabila bakteri mampu mengatasi mekanisme pertahanan tubuh maka bakteri akan
melekat pada permukaan usus. Kemudian bakteri akan menembus ke epitel usus,
selanjutnya berkembang biak dan akan difagositosis oleh monosit dan makrofag.
Namun demikian, Salmonella typhi dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam
fagosit karena adanya perlindungan oleh kapsul bakteri. Bakteri masuk ke dalam
peredaran darah melalui pembuluh limfe usus halus hingga mencapai organ hati dan
limpa. Bakteri yang tidak dihancurkan akan berkembang biak di dalam hati dan limpa
sehingga terjadi pembesaran pada organ-organ tersebut disertai rasa nyeri pada
perabaan. Kemudian bakteri Salmonella typhi masuk kembali ke dalam peredaran
darah (bakteriemia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar
limfoid usus halus menimbulkan tukak. Tukak tersebut dapat mengakibatkan mual
dan muntah.
Jika demikian keadaannya maka kotoran dan air seni penderita akan mengandung S.
typhi yang siap menginfeksi orang lain melalui makanan ataupun minuman yang
dicemari. Pada penderita yang tergolong carrier, bakteri dapat terus menerus berada di
kotoran dan air seni sampai bertahun-tahun. Oleh karena itu, apabila bakteri S. thypi
masuk ke dalam saluran cerna maka bakteri tersebut akan masuk ke dalam saluran
darah dan tubuh akan merespon dengan menunjukkan beberapa gejala seperti demam.
5. Gejala Klinis
Gejala-gejala yang timbul sangat bervariasi. Perbedaan tersebut tidak saja antara
berbagai bagian dunia tetapi juga di daerah dari waktu ke waktu. Gambaran penyakit
juga bervariasi mulai dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis sampai gambaran
penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian.
Pada minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala pada saat masuk rumah sakit
hampir sama dengan infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, nyeri
otot, badan lesu, anoreksia, mual, muntah serta diare. Pada pemeriksaan fisik hanya
didapatkan peningkatan suhu tubuh. Suhu tubuh meninggi secara bertingkat dari suhu
normal sampai mencapai 38-40C. Suhu tubuh lebih tinggi pada sore hari dan malam
hari dibandingkan pada pagi hari. Demam tinggi biasanya disertai nyeri kepala hebat
yang menyerupai gejala meningitis. Pada saluran pencernaan terjadi gangguan seperti
bibir kering dan pecah-pecah, lidah terlihat kotor dan ditutupi selaput putih (coated
tongue). Terjadi juga reaksi mual berat sampai muntah. Hal ini disebabkan bakteri
Salmonella typhi berkembang biak di hati dan limpa. Selanjutnya terjadi
pembengkakan yang menekan lambung hingga menimbulkan rasa mual. Mual yang

berlebihan menyebabkan makanan tidak dapat masuk secara sempurna dan biasanya
keluar melalui mulut. Pada beberapa kasus Tifoid, penderita disertai dengan gejala
diare. Namun dalam beberapa kasus lainnya penderita mengalami konstipasi (sulit
buang air besar). Gejala lain yang dapat dilihat dari penderita Tifoid berupa bintikbintik di dada dan perut (rose spot) yang akan menghilang 2-5 hari.
Setelah minggu kedua maka tanda-tanda klinis semakin jelas berupa demam remiten,
hepatomegali (pembesaran hati), splenomegali (pembesaran limpa) meteorismus
(perut kembung), dan dapat disertai gangguan kesadaran ringan sampai berat. Dalam
minggu ketiga apabila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan
temperatur mulai menurun. Meskipun demikian, pada stadium ini komplikasi
perdarahan dan perforasi cenderung terjadi akibat lepasnya kerak dari ulkus. Jika
keadaan penderita memburuk maka akan terjadi tanda-tanda yang khas berupa
delirium atau stupor, inkontinensia alvi dan inkontinensia urin diikuti peningkatan
tekanan abdomen serta nyeri perut. Apabila denyut nadi penderita semakin meningkat
disertai peritonitis lokal maupun umum maka hal ini menunjukkan telah terjadinya
perforasi usus, penderita akan mengalami kolaps. Sedangkan keringat dingin, gelisah,
sukar bernapas dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran
adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan penyebab umum dari
terjadinya kematian penderita tifoid pada minggu ketiga. Pada minggu keempat
merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai
adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.
6. Pemeriksaan Diagnostik
Ada dua cara untuk mendiagnosis penyakit tifoid yaitu secara klinis dan pemeriksaan
laboratorium. Diagnosis klinis sering tidak tepat karena gejala klinis khas tifoid tidak
ditemukan atau gejala yang sama terdapat pada penyakit lain. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pemeriksaan laboratrium untuk membantu menegakkan diagnosis tifoid.
a. Pemeriksaan Darah Tepi
Diagnosis tifoid dengan pemeriksaan darah tepi akan mendapatkan gambaran
lekopenia dan limfositosis relatif pada permulaan sakit. Disamping itu, pada
pemeriksaan ini kemungkinan terdapat anemia dan trombositopenia ringan.18
Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa jumlah dan jenis leukosit
serta laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai
ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita tifoid

atau bukan. Akan tetapi, adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi
dugaan kuat diagnosis tifoid.
b. Pemeriksaan Bakteriologis
Diagnosis pasti tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi dalam
biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose
spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit maka bakteri akan lebih mudah
ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada
stadium berikutnya di dalam urine dan feses. Hasil biakan yang positif dapat
memastikan tifoid akan tetapi hasil negatif belum tentu tidak menderita tifoid
karena tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
biakan antara lain : penggunaan antibiotika, jumlah bakteri yang sangat minimal
dalam darah, volume spesimen yang tidak mencukupi, dan waktu pengambilan
spesimen yang tidak tepat. Walaupun spesifisitasnya tinggi, pemeriksaan kultur
mempunyai sensitivitas yang rendah dan adanya kendala berupa lamanya waktu
yang dibutuhkan (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi
bakteri sehingga tidak praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode
diagnosis baku dalam pelayanan penderita.
c. Pemeriksaan Serologis
Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis tifoid dengan
mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S. typhi maupun
mendeteksi antigen itu sendiri. Beberapa uji serologis yang dapat digunakan pada
tifoid ini meliputi : 1) uji Widal; 2) tes TUBEX ; dan 3) metode enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA).
1)
Uji Widal
Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak
tahun 1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi
aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbedabeda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam
jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Namun demikian uji Widal
memiliki kelemahan seperti rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta
sulitnya melakukan interpretasi hasil sehingga membatasi penggunaannya
dalam penatalaksanaan penderita tifoid. Pemberian antibiotika sebelum
pengambilan serum dapat memberikan hasil negatif palsu sedangkan
kesamaan antigen O dan H yang dimiliki S. typhi dengan salmonella lain,
bahkan kesamaan epitop dengan Enterobactericeae lain dapat menyebabkan
hasil positif palsu. Hingga saat ini walaupun telah digunakan secara luas di

seluruh dunia, manfaat test Widal masih diperdebatkan dan sulit dijadikan
pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off
point). Untuk mencari standar titer uji Widal harus ditentukan titer dasar
(baseline titer) pada anak sehat di populasi. Meskipun pemeriksaan Widal
memiliki banyak keterbatasan namun pemeriksaan ini masih dianjurkan untuk
dilakukan
2)

karena

proses

pengerjaannya

cepat,

tidak

membutuhkan

instrumental dan relatif murah.


Tes TUBEX
Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang
sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan partikel yang berwarna
untuk meningkatkan sensitivitas. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi
akut karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi
antibodi IgG. Penelitain oleh Olsen,Sonja et al, 2004 menyebutkan perbedaan
antara tes TUBEX dan uji Widal yaitu sensitivitas (78/64), spesifisitas
(94/76). Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal karena memiliki
keunggulan yang lebih baik daripada tes Widal dan dapat menutupi kelemahan

3)

tes Widal.
Metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dipakai untuk melacak
antibodi IgG, IgM dan IgA terhadap antigen LPS O9. Antigen ini mampu
membedakan organisme ini >99% dari serotype bakteri salmonella yang lain,
sehingga tes ini sangatlah spesifik terhadap salmonella serotype thypi. Tes
diagnostik ELISA memiliki keunggulan dari tes lainnya karena uji ini dapat
digunakan pada fase akut danmemiliki nilai yang akurat dengan hanya satu
kali pemeriksaan serta memiliki sensitifitas dan spesififitas yang jauh lebih
baik daripada uji Widal. Adapun kelemahan uji ELISA antara lain dilakukan
dengan sistem multistep, menggunakan enzim konjugat dan proses pembacaan
sampel menggunakan media elektronik sehingga harga uji ini menjadi mahal.

7. Penatalaksanaan
Menurut Soedarto, 2007 penatalaksanaan tifoid dibagi menjadi 2 :
a. Penatalaksanaan keperawatan
- Mengawasi kondisi klien dengan pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6
jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau dan
apakah anak mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang
terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak, karena terputusnya

suplai oksigen ke otak berakibat rusaknya sel-sel otak yag menyebabkan


-

terganggunya fungsi intelektual tertentu.


Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak

yang akan berakibat rusaknya sel-sel otak.


Berikan minum sebanyak-banyaknya. Minuman yang diberikan dapat berupa
air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh. Tujuannnya
adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh

memperoleh gantinya.
Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang.
Kompres dengan air hangat pada dahi, ketiak, lipat paha. Tujuannya untuk
menurunkan suhu dipermukaan tubuh anak yang diakibatkan karena panas
tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Di samping itu
lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit
melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit
terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh. Jangan
menggunakan air es karena justru akan membuat pembuluh darah menyempit
dan panas tidak dapat keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi

dan intoksikasi (keracunan).


b. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di
hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin
dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus
direndahkan kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas
diatas normal dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi.
Penderita tifus perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi (agar penyakit ini tidak
menular ke orang lain). Penderita harus istirahat total minimal 7 hari bebas panas.
Istirahat total ini untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus. Makanan yang
dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan serat
kasar seperti daun singkong harus dihindari, jadi harus benar-benar dijaga
makanannya untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan.
8. Komplikasi
Komplikasi tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:
a. Komplikasi Intestinal

Perdarahan usus
Terjadi pada 10-15%, sekitar 25% penderita tifoid dapat mengalami perdrahan
minor yang tidak membutuhkan transfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi
hingga penderita mengalami syok tetapi bisa sembuh dengan sendirinya.

Perforasi usus
Terjadi pada sekitar 1-5% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada
minggu ketiga, tetapi dapat terjadi pada minggu pertama. Penderita tifoid
dengan perforasi usus mengeluh nyeri perut yang hebat dapat disertai dengan
tekanan darah turun nadi bertambah cepat bahkan sampai syok.

b. Komplikasi Ekstraintestinal
-

Komplikasi kardiovaskuler: miokarditis, trombosis, tromboflebitis, syok.

Komplikasi

hematologi:

anemia

hemolitik,

koagulasi

intravaskuler

diseminata (KID), trombositopenia.


-

Komplikasi respirasi: bronkitis, pneumonia, empiema, dan pleuritis.

Komplikasi neuropsikiatri: delirium, ensefalopati, psikotik, meningitis,


gangguan koordinasi.

Komplikasi tulang: osteomielitis, periositis dan arthritis.

Komplikasi hepar dan kandung empedu: hepatitis dan kolesistitis.

Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas klien
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
Pendidikan
:
Alamat
:
Pekerjaan
:
Agama
:
Suku
:
Tanggal Masuk RS
:
Nomor Register
:
Penanggung jawab
Nama
Usia
Jenis kelamin
Pekerjaan
Hubungan dengan klien

:
:
:
:
:

b. Riwayat penyakit
-

Keluhan utama

Pasien

demam sejak 8 hari yang


lalu disertai mual dan muntah
Riwayat penyakit sekarang : Thypoid
Riwayat penyakit dahulu
:

mengalami

Ibu

pasien

mengatakan pasien pernah dirawat


karena DB
- Riwayat penyakit keluarga : Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon :
a. Pola persepsi kesehatan
Mengkaji bagaimana tindakan keluarga saat ada salah satu keluarga terserang
penyakit, apakah dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat atau tidak.
b. Pola nutrisi dan metabolik
Mengkaji pasien dengan tifoid apakah mengalami penurunan nafsu makan, mual
dan muntah atau tidak.
c. Pola eliminasi
Mengkaji apakah pasien mengalami konstipasi ataukah diare.
d. Pola aktivitas dan latihan
Mengkaji apakah pasien tifoid mengalami penurunan aktivitas fisik
e. Pola istirahat tidur
Mengkaji bagaimana pola tidur pasien, apakah pasien bisa tidur dengan nyaman.
f. Pola persepsi, sensori dan kognitif
Mengkaji apakah keluarga maupun pasien sudah mengerti tentang keadaanya.
g. Pola persepsi diri dan konsep diri
Mengkaji apakah keluarga dan pasien mengalami peningkatan rasa kekhawatiran
tentang penyakit yang dideritanya
h. Pola hubungan dengan orang lain
Mengkaji bagaimana pola hubungan pasien dengan kelurga, pasien lain, dan
perawat.
i. Pola reproduksi / seksual
Kaji apakah pasien mengalami gangguan pada pola/proses reproduksinya.
j. Pola mekanisme koping
Mengkaji apakah pasien maupun keluarga dapat melalui proses pengobatan dan
bagaimana tanggapan dalam menghadapi masalah.
k. Pola nilai kepercayaan / keyakinan
Kaji apakah pasien selama di rumh sakit rutin melakukan ibadah sesuai
kepercayaannya.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah
: ...mmHg
Nadi
: ...x/menit
Respirasi
: ...x/menit
Pernapasan
: x/menit

Status Pernapasan (frekuensi, irama dan ke dalaman, bunyi napas, dan efektifitas
upaya batuk)

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan penyakit yang ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh di atas kisaran normal.
b. Kekurangan volume cairan kehilagan cairan aktif yang ditandai dengan penurunan
turgor kulit, kelemahan, dan membran mukosa kering.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan ketidakmampuan untuk mengabsoprsi nutrien ditandai dengan membran
mukosa pucat dan kurang minat pada makanan.
d. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen dan kurang aktivitas
fisik yang ditandai dengan pasien mengeluh tidak bisa BAB, mual, dan muntah.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Terlampir.
4. Evaluasi
a. Hipertermi berhubungan dengan penyakit yang ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh di atas kisaran normal
S : Ibu pasien mengatakan pasien sudah tidak panas lagi
O : suhu 36,2C
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi
b. Kekurangan volume cairan kehilagan cairan aktif yang ditandai dengan penurunan
turgor kulit, kelemahan, dan membran mukosa kering
S : Ibu pasien mengatakan pasien sudah mau minum banyak
O : turgor <2 detik, membran mukosa lembab.
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan ketidakmampuan untuk mengabsoprsi nutrien
S : Ibu pasien mengatakan dapat menghabiskan makanan dari porsi
disediakan
O : Berat badan pasien terkontrol
A : Masalah teratasi sebagian
P : Pertahankan intervensi
d. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen dan kurang aktivitas
fisik yang ditandai dengan pasien mengeluh tidak bisa BAB, mual, dan muntah
S : Ibu pasien mengatakan BAB pasien sudah lancar
O : Konsistensi feses lunak dan frekuensi BAB dalam rentang normal
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi

DAFTAR PUSTAKA
Corwin. 2000. Hand Book Of Pathofisiologi. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008. Depkes RI,
Jakarta.
Joanne & Gloria. 2004. Nursing Intervension Classification Fourth Edition, USA : Mosby
Elsevier
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius.
FKUI
Nainggolan, R. 2011. Karakteristik Penderita Demam Tifoid. Medan: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Simanjuntak, C. H, 2009. Demam Tifoid, Epidemiologi dan Perkembangan Penelitian.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83.
Soedarto. 2007. Sinopsis Kedokteran Tropis. Surabaya: Airlangga Universitas Press.
Soegeng Soegijanto. 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Jakarta:
Salemba Medika.
Sue, Marion, Meridean, Elizabeth. 2008. Nursing Outcomes Classification Fourth Edition.
USA : Mosby Elsevier
Suriadi & Rita Yuliani. 2001. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan Pada
Anak Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto.
T. Heather Herdman. 2011. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092014. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38885/3/Chapter%20ll.pdf (diakses tanggal
24 November 2014)