Anda di halaman 1dari 18

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15

BAB I. PENDAHULUAN
Kata anestesi diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan
tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien.1
Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi menghilangkan nyeri
dan rumatan pasien sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Definisi anestesiologi
berkembang terus sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran. Definisi yang ditegakkan oleh
The American Board of Anestesiology pada tahun 1989 ialah mencakup semua kegiatan profesi
atau praktek yang meliputi hal-hal sebagai berikut :1
1. Menilai, merancang,menyiapkan pasien untuk anesthesia
2. Membantu pasien menghilangkan nyeri pada saat pembedahan,persalinan atau pada saat
dilakukan tindakan diagnostic terapeutik.
3. Memantau dan memperbaiki homeostatis pasien perioperatif dan pada pasien dalam
4.
5.
6.
7.

keadaan kritis.
Mendiagnosis dan mengobati sindroma nyeri.
Mengelolah dan mengajarkan resusitasi jantung paru ( RJP )
Membuat evaluasi fungsi pernafasan dan mengobati gangguan pernafasan.
Mengajarkan, member supervise dan mengadakkan evaluasi tentang penampilan personel
paramedic dalam bidang anesthesia, perawatan pernafasan dan perawatan pasien dalam

keadaan kritis.
8. Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untuk menjelaskan dan
memperbaiki perawatan pasien terutama tentang fungsi fisiologis dan respon terhadap
obat.
9. Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit, pendidikan kedokteran dan fasilitas
rawat jalan yang diperlukan untuk implementasi pertanggung jawaban.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1. Definisi
KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Kata anestesi berasal dari bahasa yunani yang berarti keadaan tanpa rasa sakit. Anestesia adalah
suatu keadaan depresi dari pusat-pusat saraf tertentu yang bersifat reversible, dimana seluruh
perasaan dan kesadaran hilang. Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari
berbagai tindakan yang meliputi pemberian anestesi ataupun analgesi,pengawasan keselamatan
pasien dioperasi atau tindakan lainnya, bantuan hidup (resusitasi), pearawatan intensif pasien
gawat, pemberian terapi inhalasi, dan penanggulangan nyeri manahun.2,3
II.2. Jenis-jenis anestesi
Secara garis besar dibagi atas :
1.

Anestesi umum : tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai


hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible). Komponen trias ideal terdiri
dari hipnotik,analgesi, dan relaksasi otot. 2,3
Cara pemberian anestesi umum :
-

Parenteral (IM/IV). digunakan untuk tindakan yang singkat atau induksi anestesi.
Umumnya diberikan thiopental, namun pada kasus tertentu dapat digunakan ketamin,
diazepam, dll. Untuk tindakan yang lama anestesi parenteral dikombinasikan dengan
cara lain. 3

Perektal. Dapat dipakai pada anak untuk induksi anestesi atau tindakan singkat. 3

Anestesi inhalasi, yaitu anestesi dengan menggunakan gas atau cairan anesetsi yang
mudah menguap sebagai zat anestetik melalui udara pernafasan. Zat anestetik melalui
udara pernapasan. Zat anestetik yang digunakan berupa cam;puran gas (dengan O2)
dan konsentrasi zat anestetik tersebut tergantung dari tekanan parsialnya. 3

2.

Anestesi Lokal : tindakan menghilangkan nyeri/sakit secara local tanpa disertai hilangnya
kesadaran. Pemberian anestetik local dapat dengan cara : 3

KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


-

anestesi permukaan : pengolesan atau penyemprotan analgetik local diatas selaput


mukosa seperti mata, hisung atau faring.

Anestesi infiltrasi : penyuntikan larutan analgetik local langsung diarahkan di sekitar


tempat lesi, luka atau insisi, Cara infiltrasi yang sering digunakan adalah blockade
lingkar dan obat disuntikkan intradermal atau subkutan.

Anestesi blok : penyuntikan analgetika local langsung kesaraf utama atau pleksus
saraf. Misalnya anestesi spinal, anestesi epidural, anestesi kaudal.

Anatesi regional intravena. yaitu penyuntikan larutan analgetik local intravena.


Ekstremitas dieksanguinasi dan diisolasi bagian proksimalnya dari sirkulasi sistemik
dengan torniket.

II.3. Penilaian dan persiapan pra anestesi


Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan factor penyumbang sebab-sebab
terjadinya kecelakaan anestesi. Dokter spesialis anestesiologi seyogyanya mengunjungi pasien
sebelum pasien dibedah, agar ia dapat menyiapkan pasien, sehingga pada waktu pasien dibedah
dalam keadaan bugar. 1,2,3
Maksud kunjungan pra anestesi ;1,2,3
1. menentukan keadaan physis penderita
2. Mermilih teknik dan obat-obatan anestesi yang sesuai dengan keadaan penderita dan
macam operasi.
3. Memperhitungkan bahaya/resiko anestesi yang mungkin terjadi
Penilaian pra bedah :1,2,3
-

Anamnesis ; identifikasi pasien, keluhan pasien, riwayat penyakit yang sedang /pernah
diderita yang dapat menjadi penyulit anestesi seperti alergi,DM,penyakit paru. Riwayat
penggunaan obat-obatan. riwayat operasi. Riwayat kebiasaan seperti merokok. Riwayat
penyakit keluarga.

KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


-

Pemeriksaan fisik ; tinggi dan berat badan, vital sign, jalan nafas, jantung, paru-paru,
abdomen,ekstremitas,punggung dan neurologis.

Pemeriksaan laboratorium

Rutin

: Darah, urin, foto dada, EKG (untuk pasien berusia diatas 40 tahun)

Khusus

: dilakukan bila ada indikasi seperti spirometri pada psaien tumor paru,

fungsi hati pada ;pasien ikterus. Fungsi ginjal pada pasien hipertensi.
Tindakan-tindakan yang dilakukan : 2,3
1) Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan :
-

Puasa ( 6-10 jam pada dewasa. 2-4 jam pada anak-anak )

Pemberian laxansia dan clysma

2) Membersihkan jalan nafas


3) Mencegah retensi urin

II.4. Klasifikasi Status fisik


Berdasarkan American Society of Anesthesiologists ( ASA ) membuat klasifikasi pasien
menjadi kelas-kelas :3,4
1 Pasien normal dan sehat fisis dan mental
2 Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan fungsional
3 Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan keterbatasan
fungsi
4 Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan menyebabkan
keterbatasan fungsi.
5 Pasien yang tidak dapat hidup/bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa operasi
KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


6 Pasien mati otak yang organ tubuhnya dapat diambil
E Bila operasi yang dilakukan darurat (emergency) maka penggolongan ASA diikuti
huruf E ( misalnya 1E )
II.5. Anestesi Umum
Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri secara sentral yang disertai
hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel). Komponen anestesi ideal (trias
anestesi) terdiri dari hipnotik, analgesi, dan relaksasi otot. Trias anestesi ini dapat dicapai dengan
menggunakan obat yang berbeda secara terpisah. Teknik ini sesuai untuk pembedahan abdomen
yang luas, intraperitonium, toraks, intrakranial, pembedahan yang berlangsung lama, dan operasi
dengan posisi tertentu yang memerlukan pengendalian pernapasan.3
Stadium Anestesi
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium (stadium III dibagi
menjadi 4 plana), yaitu: 3,5

Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya
kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi
(hilangnya rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi
kelenjar, dapat dilakukan pada stadium ini. 3,5

Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan refleks
bulu mata sampai pernafasan kembali teratur. Pada stadium ini terlihat adanya eksitasi
dan gerakan yang tidak menurut kehendak, pasien tertawa, berteriak, menangis,
menyanyi, pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnoe dan hiperpnu, tonus otot
rangka meningkat, inkotinensia urin dan alvi, muntah, midriasis, hipertensi serta
takikardia. Stadium ini harus cepat dilewati karena dapat menyebabkan kematian. 3,5

Stadium III

KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan
spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana, yaitu: 3,5
-

Plana I : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan
bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil miosis, refleks cahaya ada, refleks
lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan belum tercapai
relaksasi otot lurik yang sempurna ( tonus otot mulai menurun). 3,5

Plana II : Pernapasan teratur, spontan, perut dada, volume tidak menurun,


frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak, terfiksasi di tengah, pupil
midriasis, refleks cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang dan refleks laring
hilang sehingga dapat diketjakan intubasi. 3,5

Plana III : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis,
lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan peritonium
tidak ada,relaksasi otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin menurun). 3,5

Plana IV: Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total,
pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfingter ani dan kelenjar air
mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun). 3,5

Stadium IV
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan perut
dibanding stadium III plana IV. Pada stadium ini tekanan darah tidak dapat diukur,denyut
jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium
ini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan. 3,5

Peralatan
Peralatan anestesi adalah alat-alat anestesi yang digunakan umtuk menghantarkan
oksigen dan obat anastetik inhalasi, mengontrol ventilasi, serta memonitor fungsi peralatan
tersebut. 3

KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Mesin anestesi merupakan peralatan anestesi yang sering digunakan. Secara umum mesin
anestesi terdiri dari 3 komponen yang saling berhubungan, yaitu: 3
1. Komponen 1: Sumber gas, penunjuk aliran gas (flow meter), dan alat penguap (vaporizer)
2. Komponen 2: Sistem napas, yang terdiri dari sistem lingkar dan sistem magill.
3. Komponen 3: Alat yang menghubungkan sistem napas dengan pasien, yaitu sungkup
muka (face mask), pipa endotrakea (endotrakeal tube).
Semua komponen mesin anestesi harus tersedia tanpa memperhatikan teknik anestesi
yang akan dipakai sebagai persiapan untuk kemungkinan pemakaian anestesi umum, selain itu
sumber oksigen dan peralatan bantu ventilasi (self- inflating bag seperti ambu bag) harus tersedia
untuk semua prosedur anestesi. 3
Tahapan
Persiapan Praanestesi
Keadaan fisis pasien telah dinilai sebelumnya pada kunjungan praanestesi meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dll. Saat masuk ruangan operasi pasien dalam
keadaan puasa. Identitas pasien harus telah ditandatangani sesuia dengan rencana operasi dan
informed consent. 3
Dilakukan penilaian praoperasi. Keadaan hidrasi pasien dinilai, apakah terdapat
hipovolemia, perdarahan, diare, muntah, atau demam. Akses intavena dipasang untuk pemberian
cairan infus, transfusi dan obat-obatan. Dilakukan pemantauan elektrogradiografi (EKG),
tekanan darah (tensi meter), saturasi oksigen (pulse oxymeter), kadar CO2 dalam darah
(kapnograf), dan tekanan vena sentral (CVP). Premedikasi dapat diberikan oral, rectal,
intramuskular, atau intravena. 3

Induksi Anestesi
Premedikasi
Tujuan :
-

Menimbulkan rasa nyaman pada pasien

KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


-

Memudahkan/memperlancarkan induksi,rumatan, dan sadar dari anestesi


Mengurangi jumlah obat-obatan anestesi
Mengurangi timbulnya hipersalivasi,bradikardi,mual,muntah
Mengurangi stress fisiologi
Mengurangi keasaman lambung

Obat-obat yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah: 5


1. Obat antikholinergik
2. Obat sedatif
3. Obat analgetik narkotik.
Pasien diusahakan tenang dan diberikan oksigen melalui sungkup muka. Obat-obat induksi

diberikan secara intravena seperti tiopental, ketamin, diazepam, midazolam, dan propofol. Jalan
napas dikontrol dengan sungkup muka atau pipa napas orofaring/nasofaring. Setelah itu
dilakukan intubasi trakea. Setelah kedalaman anestesi tercapai, posisi pasien disesuaikan dengan
posisi operasi yang akan dilakukan, misalnya telentang, telungkup, litotomi, miring, duduk, dll. 3
1. OBAT GOLONGAN ANTIKHOLINERGIK
Obat
golongan
antikholinergik
adalah

obat-obatan

yang

berkhasiat

menekan/menghambat aktivitas kholinergik atau parasimpatis. 5


Tujuan utama pemberian obat antikholinergik untuk premedikasi adalah:
1. Mengurangi sekresi kelenjar:saliva,saluran cerna dan saluran nafas
2. Mencegah spasme laring dan bronkus.
3. Mencegah bradikardi
4. Mengurangi motilitas usus
5. Melawan efek depresi narkotik terhadap pusat nafas.
Obat golongan antikholinergik yang digunakan dalam praktik anastesia adalah
preparat ALKALOID BELLADONA,yang turunnya adalah: 5
1. Sulfas atropine
2. Skopolamin
Mekanisme Kerja
Menghambat mekanisme kerja asetil kholin pada organ yang diinervasi oleh serabut saraf
otonom para simpatis atau serabut saraf yang mempunyai neurotransmitter asetil kolin. 5
Alkaloid belladona menghambat muskarinik secara kompetitif yang ditimbulkan oleh
asetil kholin pada sel efektor organ terutama pada kelenjar eksokrin,otot polos dan otot
KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


jantung.Khasiat sulfas atropine lebih dominan pada otot jantung ,usus dan bronkus,sedangkan
skopolamin lebih dominan pada iris,korpus siliare dan kelenjar. 5
Efek terhadap susunan saraf pusat
Sulfas atropine tidak menimbulkan depresi susunan saraf pusat,sedangkan skopolamin
mempunyai efek depresi sehingga menimbulkan rasa ngantuk,euporia,amnesia dan rasa lelah. 5
Efek terhadap respirasi
Menghambat sekresi kelenjar pada hidung,mulut,faring trakea,dan bronkus,menyebabkan
mukosa

jalan

nafas

kekeringan,menyebabkan

relaksasi

otot

polos

bronkus

dan

bronkhioli,sehingga diameter lumennya melebar akan menyebabkan volume ruang rugi


bertambah. 5
Efek terhadap kardiovaskular
Menghamabat aktivitas vagus pada jantung ,sehingga denyut jantung meningkat,tetapi
tidak berpengaruh langsung pada tekanan darah.pada hipotensi karena reflex vegal,pemberian
obat ini akan meningkatkan tekanan darah. 5

Efek terhadap saluran cerna


Menghambat
menelan,mengurangi

sekresi
sekresi

kelenjar
getah

liur

sehingga

lambung

mulut

sehingga

terasa

kering

keasaman

dan

sulit

lambung

bisa

dikurangi,mengurangi tonus otot polos sehingga motilitas usus menurun. 5


Efek terhadap kelenjar keringat.
Menghambat sekresi kelenjar keringat,sehingga menyebabkan kulit kering dan badan
terasa panas akibat pelepasan panas tubuh terhalang melalui proses evaporasi, 5
Cara pemberian dan dosis

KKS Anestesi

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


1.
2.

Intramuscular,dosis 0,01 mg/kg BB,diberikan 30-45 menit sebelum induksi.


Intravena,dengan dosis 0,005 mg/kg BB,diberikan 5-10 menit sebelum induksi. 5

Induksi kontra
Alkaloid

belladona

ini

tidak

diberikan

pada

pasien

yang

menderita:demam,takikardi,glaucoma dan tirotoksikasis. 5


Kemasan dan sifat fisik
Dikemas dalam bentuk ampul 1 ml mengandung 0,25 dan 0,50 mg,tidak berwarna dan
larut dalam air. 5
2.OBAT GOLONGAN SEDATIF/TRANKULIZER
Obat golongan sedative adalah obat-obat yang berkhasiat anti cemas dan menimbulkan
rasa kantuk. 5
Tujuan pemberian obat golongan ini adalah untuk memberikan suasana nyaman bagi
pasien prabedah,bebas dari rasa cemas dan takut,sehingga pasien menjadi tidak peduli dengan
linkungannya. 5

Untuk keperluan ini,obat golongan sedative/trankulizer yang sering digunakan adalah:


1. Derivate fenothiazin.
Derivate fenothiasin yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah propetazin.obat
ini pada mulanya digunakan sebagai antihistamin. 5
Khasiat farmakologi.
Terhadap saraf pusat . Menimbulkan depresi saraf pusat,bekerja pada formasioretikularis
dan hipotalamus menekan pusat muntah dan mengatur suhu obat ini berpotensi dengan
sedative lainnya. 4
Terhadap respirasi. Menyebabkan dilatasi otot polos saluran nafas dan menghambat
sekresi kelenjar. 5
KKS Anestesi

10

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Terhadap kardiovaskular. Menyebabkan vasodilatasi sehingga dapat memperbaiki perfusi
jaringan. 5
Terhadap saluran cerna efek lain. Menurunkan peristaltik usus,mencegah spasme
mengurangi sekresi kelenjar,efek lainnya adalah menekan dekresi ketekolamin dan sebagai
antikholinergik. 5
Dengan demekian dapat disimpulkan bahwa khasiat propethazin sebagai obat
premedikasi adalah sebagai:sedative,antiemetic,antikhonergik,antihistamin,bronkodilator dan
antipiretika. 5
Cara pemberian dan dosis
1. Intramuskular dosis 1 mg/kg BB dan diberikan 30-45 menit sebelum induksi.
2. Intravena,dengan dosis 0,5 mg/kg BB diberikan 5-10 menit sebelum induksi.
Kemasan dan sifat fisik. Dikemas dalam bentuk ampul 2 ml mengandung 50 mg tidak
berwarna dan larut dalam air. 5

2. Derivat benzodiazepine
Derivat benzodiazepine yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah diazepam
dan midazolam.derivat yang lain adalah:klordiazepoksid,nitrazepam dan oksazepam. 5
Khasiat farmakologi5
Terhadap saraf pusat dan medulla spinalis.
Mempunyai khasiat sedasi dan anti cemas yang bekerja pada system limbic dan pada
ARAS serta bisa menimbulkan amnesia antero grad. Sebagai obat anti kejang yang bekerja
pada kornu anterior medulla spinalis dan hubungan saraf otot.pada dosis kecil bersifat
sedative,sedangkan dosis tinggi sebagai hipnotik. 5
Terhadap respirasi

KKS Anestesi

11

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Pada dosis kecil (0,2 mg/kg BB)yang diberikan secara intravena,menimbulkan
depresi ringan yang tidak serius. Bila dikombinasikan dengan narkotik menimbulkan
depresi nafas yang lebih berat. 5
Terhadap kardiovaskular
Pada dosis kecil,pengaruhnya kecil sekali pada kontraksi maupun denyut
jantung,akan tetapi pada dosis besar menimbulkan hipotensi yang disebabkan oleh efek
dilatasi pembuluh darah. 5
Terhadap saraf otat
Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat supra spinal dan
spinal,sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita kekakuan otot rangka seperti
pada tetanus. 5
Penggunaan klinis
Dalam praktik anastesia obat ini digunakan sebagai: 5
1. Premedikasi,diberikan intramuscular dengan dosis 0,2 mg/kg BB atau peroral
dengan dosis 5-10 mg.
2. Induksi,diberikan intravena dengan dosis 0,2-0,6 mg/kg BB.
3. Sedasi pada analgesia regional,diberikan intravena.
4. Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin.
Penggunaan lainnya,adalah ; 5
1. Antikejang pada kasus-kasus epilepsy,tetanus dan eklampsi
2. Sedasi pasien rawat inap
3. Sedasi pada tindakan kardioversi atau endoskopi
Pada pemberian intramuscular atau intravena ,obat ini tidak bisa dicampur dengan obat
lain karena bisa terjadi resipitasi. 5
Jalur vena yang dipilih sebaiknya melalui vena-vena besar untuk mencegah
flebitis.Pemberian intramuscular kurang disenangi oleh karena menimbulkan rasa nyeri pada
daerah suntikan. 5
Kemasan injeksi berbentuk larutan emulsi dalam ampul 2 ml yang mengandung 10 mg
,berwarna kuning ,sukar larut dalam air dan bersifat asam .kemasan oral dalam bentuk tablet 2
dan 5 mg,disamping itu ada kemasan supositoria atau pipa rectal (rectal tube)yang diberikan

KKS Anestesi

12

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


pada anak-anak . sedangkan midazolam yang ada dipasaran adalah hanya dalam bentuk larutan
tidak berwarna,mudah larut dalam air dan kemasan dalam ampul (3 dan 5 ml)yang mengandung
5 mg/ml. 5
3.Derivat butirofenon
Derivat ini disebut juga obat golongan neroleptika,karena sering digunakan sebagai
nerolitik.derivat butirofenon yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah
dehidrobenzperidol atau popular disebut DHBP. 5
Efek farmakologi
Terhadap saraf pusat
Berkhasiat sebagai sedative atau trankulizer.disamping itu mempunya khasiat khusus
sebagai anti muntah yang bekerja pada pusat muntah di chemoreceptor trigger zone. Efek
samping yang tidak dikehendaki adalah timbulnya rangsangan ekstrapiramidal sehingga
menimbulkan gerakan tak terkendali (Parkinson)yang bisa diatasi dengan pemberian obat anti
Parkinson. 5
Terhadap respirasi
Menimbulkan sumbatan jalan nafas akibat dilatasi pembuluh darah rongga hidung.juga
menimbulkan dilatasi pembuluh darah paru. Sehingga kontraindikasi pada pasien asma. 5
Terhadap sirkulasi
Menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah perifer,sehingga sering digunakan sebagai
anti syok.tekan darah akan turun tetapi perfusi dapat dipertahankan selama volume sirkulasi
adekuat. 5
Penggunaan klinik
1. Premedikasi diberikan intramuscular,dosis 0,1 mg/kg BB.
2. Sedasi untuk tindakan endoskopi dan analgesia regional
3. Anti hipertensi
4. Anti muntah
5. Suplemen anastesia.
Kemasan:
Dalam bentuk ampul 2 ml dan 10 ml,mengandung 2,5 mg/ml . Tidak berwarna dan bisa
dicampur dengan obat lain. 5
4. Derivate barbiturate
Derivate barbiturate yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah
:pentobarbital dan sekobarbital. Digunakan sebagai sedasi dan penenang pra bedah,terutama
pada anak-anak. Pada dosis lazim,menimbulkan depresi ringan pada respirasi dan sirkulasi.
Sebagai premedikasi diberikan intramuscular dengan dosis 2 mg /kg BB atau per oral. 5

KKS Anestesi

13

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


5. Preparat Antihistamin
Obat golongan ini yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah derivate
defenhidramin. Khasiat yang diharapkan adalah sedative, anti muntah ringan, dan anti piretik,
sedangkan efek sampingnya adalah hipotensi yang sifatnya ringan. 5

GOLONGAN ANALGETIK NARKOTIK ATAU OPIOID


Berdasarkan struktur kimia, analgetik narkotik atau opioid, dibedakan menjadai 3
kelompok : 5
1. Alkaloid opium (natural) : morfin dan kodein
2. Derivate semi sintetik : diasetilmorfin (heroin), hidromorfin, oximorfon, hidrokodon dan
oxikodon.
3. Derivate sintetik
3.1.
Fenipiperidine : pethidin, fentanil, sulfentanyl, dan alfentanyl.
3.2.
Benzmorfan : pentazosid, fenazosin dan siklazosin.
3.3.
Morfinan : lavorvanol
3.4.
Propionanilides ; methadone
3.5.
Tramadol
Sebagai analgetik, opioid bekerja secara sentral pada reseptor-reseptor opioid yang
diketahui ada 4 reseptor, yaitu ; 5
1. Reseptor Mu
Morfin bekerja secara agonis pada reseptor ini. stimulasi pada reseptor ini akan
menimbulkan analgesia, rasa segar, euphoria, dan depresi respirasi
2. Reseptor Kappa
Stimulasi reseptor ini menimbulkan analgesia, sedasi dan anastesia. Morfin bekerja pada
reseptor ini.
3. Reseptor sigma
Stimulasi reseptor ini menimbulkan perasaan disforia, halusinasi, pupil midriasis, dan
stimulasi respirasi.
4. Reseptor delta
KKS Anestesi

14

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Pada manusia reseptor ini belum diketahui dengan jelas.
Golongan narkotik ysng sering digunakan sebagai premedikasi adalah: pethidin dan
morfin. Sedangkan fentanyl digunakan sebagai suplemen anesthesia. 5

Efek farmakologi
Terhadap susunan saraf pusat
Sebagai analgetik, obat ini bekerja pada thalamus dan subtansia gelatinosa medulla
spinalis, disamping itu narkotik juga mempunyai efek sedasi.5
Terhadap respirasi
Menimbulkan depresi pusat nafas terutama pada bayi dan orang tua. Efek ini semakin
manifest pada keadaan umum pasien yang buruk sehingga perlu pertimbangan seksama dalam
penggunaannya. Namun demikian efek ini dapat dipulihkan dengan nalorfin atau nalokson. 5
Terhadap bronkus, pethidin menyebabkan dilatasi bronkus, sedangkan morfin
menimbulkan constriksi akibat pengaruh pelepasan histamine. 5
Terhadap sirkulasi
Tidak menimbulkan depresi system sirkulasi, sehingga cukup aman diberikan pada semua
pasien kecuali oada bayi dan orang tua. 5
Pada

kehamilan,

narkotik

dapat

melewati

barier

plasenta

sehingga

dapat

menimbulkandepresi nafas pada bayi baru lahir. 5


Terhadap system lain
Merangsang pusat muntah, menimbulkan spasme spincter kandung empedu sehingga
menimbulkan kolok abdomen. Morfin merangsang pelepasan histamine sehingga dapat
menimbulkan rasa gatal seluruh tubuh atau minimal pada daerah hidung, sedangkan pethidin,
pelepasan histaminnya bersifat local ditempat suntikan. 5

KKS Anestesi

15

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Indikasi kontra
Pemberian narkotik harus hati-hati pada pasien orang tua atau bayi dan keadaan umum
yang buruk. Tidak boleh diberikan pada pasien yang mendapatkan preparat pengghambat
monoamine oksidase, pasien asma dan penderita penyakit hati. 5

Efek samping atau tanda-tanda intoksikasi : 5


1.
2.
3.
4.
5.

Memperpanjang masa pulih anesthesia


Depresi pusat nafas sehingga pasien bisa henti nafas
Pupil miosis
Spasme bronkus pada pasien asma terutama akibat morfin
Kolik bdomen akibat spasme spingter kandung empedu.

Rumatan Anestesi
Selama operasi berlangsung hal-hal yang dipantau adalah fungsi vital, pernapasan,
tekanan darah, nadi dan kedalaman anestesi, misalnya adanya gerakan, batuk, mengedan,
perubahan pola napas, takikardia, hipertensi, keringat, air mata, midriasis. 3
Ventilasi pada anestesi umum dapat secara spontan, bantu, atau kendali tergantung jenis
lama dan posisi operasi. Cairan infus diberikan dengan memperhitungkan kebutuhan puasa
rumatan perdarahan evaporasi dan lain-lain. Jenis cairan yang dapat diberikan dapat berupa
kristaloid (Ringer Laktat, NaCl, Dextrosa 5%), koloid ( plasma expander, albummin 5%) atau
trensfusi darah bila perdarahan terjadi lebih dari 20% volume darah. 3
Pemulihan Pasca-Anestesi
Setelah operasi selesai pasien dibawa ke ruang pemulihan (recovery room) atau ke ruang
perawatan intensif (bila ada indikasi). Secara umum ekstubasi dilakukan pada saat pasien dalam
anestesi ringan atau sadar. Di ruang pemulihan dilakukan pemantauan keadaan umum,
kesadaran, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, sensibilitas nyeri, perdarahan dari drainage,
dll. 3

KKS Anestesi

16

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15


Pemeriksaan tekanan darah, frekuensi nadi dan frekuensi pernapasan dilakukan paling
tidak setiap 5 menit dalam 15 menit pertama atau hingga stabil, setelah itu dilakukan setiap 15
menit.Pulse oxymetri dimonitor hingga pasien sadar kembali.Pemeriksaan suhu juga dilakukan. 3
Seluruh pasien yang sedang dalam pemulihan dari anestesi umum harus dapat oksigen
30-40% selama pemulihan karena dapat terjadi hipoksemia sementara. Pasien yang memiliki
resiko tinggi hipoksia adalah pasien yang mempunyai kelainan paru sebelumnya atau yang
dilakukan tindakan operasi di daerah abdomen atau di daerah dada. 3

KKS Anestesi

17

Prolaps Cerebri + Head Injury GCS15

DAFTAR RUJUKAN

1. Latief S.A, Suryadi K.A, Dachlan M.R. Petunjuk Praktis Anestesiologi edisi II.
Jakarta:FKUI.2009. Halaman 29-32.
2. Oloan S.M. Anestesi Umum dan Anestesi Lokal. Medan:FKUMI. 2012. Halaman 1-5, 4347.
3. Mansjoer A, Supro Haita, Wardani, dkk. Kapita Selekta kedokteran edisi 3 jilid II.
Jakarta:FKUI. 2005. Halaman 241-242, 250-256.
4. Lunn,John N. Catatan Anestesi edisi 4. Jakarta:FKUI. Halaman 5-17.
5. mangku Gde,dkk. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta : Indeks. 2010.
6. http.Fkunmul04.Files.Wordpress.Com.200811.Annestesiologi.Pdf
7. Dobson B Michel. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta:EGC. Halaman 75-79

KKS Anestesi

18