Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH BIOLOGI MOLEKULER

PROTEIN

Oleh: HG 6
Aulia Rahmi (1206247631)
Fhani Meliana (1206212413)
Haqqyana (1206262090)
Ranee Devina Rusli Putri (1206212483)
Sri Dwi Aryani (1206212395)

TEKNOLOGI BIOPROSES
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA


MARET, 2014

STRUKTUR PROTEIN
Sri Dwi Aryani (1206212395) Teknologi Bioproses

Abstrak

Protein memiliki empat tingkatan struktur yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan
kuartener. Dalam suatu protein, didalamnya terdapat konformasi ikatan-ikatan yang
mempengaruhi strukturnya. Konformasi tersebut adalah ikatan hydrogen, interaksi hidrofobik,
interaksi elektrostatik, dan interaksi van der walls. Protein merupakan polimer atau gabungan
dari monomer-monomer asam amino. Struktur, gugus fungsi, dan sifat fisika dari asam amino
juga akan berpengaruh pada struktur protein yang akan dibentuk. Asam amino ini juga
terklasifikasi menjadi beberapa golongan, yaitu esensial dan nonesensial menurut
pembentukannya, dan polar, nonpolar, aromatic, asam dan basa menurut gugus fungsi dari
asam amino tersebut. Struktur protein juga dipengaruhi oleh proses denaturasi dan renaturasi
yang terjadi. Struktur protein dapat berubah juga tergantung pada molekul apa dia berikatan.

Kata Kunci: Amfoter, Zwitterion, Struktur Primer, Struktur Sekunder, Struktur Tersier, Struktur
Kuartener, Ikatan Hidrogen, Interaksi Ionik, Gaya Dispersi Van Der Walls, Jembatan Sulfida,
Denaturasi, Renaturasi, Asam Amino, Asam Amino Esensial, Asam Amino Nonesensial,
Glikoprotein, Lipoprotein.

1.

Asam Amino

Monomer yang membentuk protein disebut asam amino. Asam amino merupakan
senyawa yang mempunyai gugus amino NH2 dan gugus asam karboksilat COOH. Ketika
banyak asam amino menghubungkan bersama-sama, mereka membuat dengan polimer
disebut polipeptida, yang akan membangun protein. Polipeptida bukanlah hal yang persis sama
sebagai protein, namun. Hal ini karena beberapa protein yang dibangun dari lebih dari satu
polipeptida.
1.1 Sifat Kimia dan Fisik Asam Amino
1.2.1 Amfoter
Asam amino mempunyai gugus fungsional karboksil dan amina. Baik Karboksil maupun
amina, keduanya memengaruhi sifat keasaman asam amino. Asam amino bersifat amfoter atau
amfiprotik karena dapat bereaksi dengan asam maupun basa. Sifat amfoter ini tampak pada
asam amino yang hanya mengikat satu gugus -COOH dan satu gugus -NH2. Adapun asam
amino yang mengikat lebih dari satu gugus -COOH dan hanya satu gugus -NH2, akan lebih
bersifat asam.
1.2.2 Ion Zwitter
Pada asam amino, ada gugus yang dapat melepaskan ion H+ dan ada gugus yang
dapat menerima ion H+. Akibatnya, terbentuk molekul yang memiliki dua jenis muatan, yaitu
1

muatan positif dan muatan negatif. Molekul seperti ini,


dikenal sebagai ion zwitter atau kadang-kadang
disebut juga sebagai ion dipolar.

Gambar Dua bentuk asam amino,


(1) tidak terionisasi; (2) ion zwitter.

1.2.3 Optis Aktif


Semua asam amino kecuali glisin, memiliki atom C
asimetris atau atom C kiral, yaitu atom C yang mengikat empat
gugus yang berbeda (gugus -H, -COOH, -NH2, dan -R). Oleh
karena itu, semua asam amino (kecuali glisin) bersifat optis aktif.
Artinya, senyawa tersebut dapat memutar bidang polarisasi
cahaya.

1.2.4

Gambar Pasangan
isomer optis dari
alanin; D-alanin & Lalanin.

Sifat Fisik

Asam amino berbentuk kristal padat dengan titik leleh yang tinggi. Dekomposisi dan
suhu yang dibutuhkan oleh asam amino untuk mencair adalah 200-300OC. Transfer ion dari
gugus COOH ke gugus NH2 yang terjadi disebut zwitterion. Zwitter-ion adalah senyawa
dengan tidak bermuatan listrik secara keseluruhan, tetapi yang mengandung bagian-bagian
terpisah yang positif dan negative.

1.2.5

Kelarutan

Asam amino umumnya larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut non-polar organik
seperti hidrokarbon. Hal ini mencerminkan adanya zwitter. Dalam air, interaksi ionik antara ionion itu dalam asam amino padat digantikan oleh interaksi yang kuat antara molekul air polar dan
zwitterion.
1.3

Klasifikasi Asam Amino

Klasifikasi berdasarkan pada jenis golongan (R group) hadir asam amino diklasifikasikan
sebagai alifatik, aromatik, asam, basa, asam Amida, sulfur dan asam amino siklik. Berdasarkan
karakteristik kelompok fungsional asam amino diklasifikasikan sebagai asam amino polar dan
non-polar. Mereka juga diklasifikasikan sebagai Alfa, beta, gamma dan delta asam amino
berdasarkan situs lampiran dari kelompok fungsional.
1.3.1

Berdasarkan Gugus Fungsi

Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut
menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah,
basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.
2

1.3.1.1 Asam Amino Polar


Asam amino yang memiliki rantai samping R tidak bermuatan akan cenderung bersifat
polar. Selain bersifat polar, asam amino ini bersifat hidrofilik, yaitu tidak mudah larut dalam air
dan terdapat di bagian luar protein. Asam amino yang termasuk kedalam jenis ini adalah serin,
threonine, sistein, metionin, asparagine, dan glutamin. Sistein berbeda dengan yang lain,
karena rantai samping R terionisasi pada pH tinggi (pH = 8.3) sehingga dapat mengalami
oksidasi dengan sistein membentuk ikatan disulfide. Ikatan antara sitein dengan sistein tidak
termasuk dalam asam amino standar, karena selalu terjadi dari 2 buah molekul sistein dan tidak
dikode oleh DNA.
Asam amino rantai samping yang mempunyai gugus amida atau gugus hidroksil dapat
diklasifikasikan kedalam jenis alifatik, polar, dan asam amino yang tidak bermuatan. Asparagine
dan glutamine merupakan amida dari asam amino aspartate dan glutamate. Gugus hidroksil
dan amida pada rantai samping memungkinkan asam amino ini untuk membentuk ikatan
hydrogen dengan air.
1.3.1.2 Asam Amino Non Polar
Asam amino yang termasuk kedalam asam amino non polar biasanya merupakan asam
amino yang mempunyai rantai samping R alifatik. Berkebalikan dengan asam amino polar,
asam amino non polar bersifat hidrofobik dan berada di bagian dalam protein. Umumnya
banyak terdapat pada protein yang berinteraksi dengan lipid. Contoh dari asam amino golongan
ini adalah glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin dan prolin.
1.3.1.3 Asam Amino Gugus Aromatik
Asam amino yang mempunyai gugus aromatic akan bersifat relative non polar dan
hidrofobik. Asam amino aromatik mampu menyerap sinar UV 280 nm, sehingga sering
digunakan utk menentukan kadar protein. Contoh asam amino yang mempunyai gugus
aromatic adalah fenilalanin, tirosin dan triptofan. Fenilalanin merupakan asam amino yang
paling hidrofobik. Tirosin mempunyai gugus hidroksil, dan triptofan mempunyai cincin indol,
sehingga mampu membentuk ikatan hidrogen --> penting untuk menentukan struktur enzim.
Asam amino aromatic dikelompokkan karena mempunyai struktur melingkar namun
berbeda polaritas. Cincin aromatic mempunyai 6 atom karbon dengan 3 buah rantai ganda.
Substituen dari rantai tersebut menentukan apakah asam amino rantai samping tersebut polar
atau hidrofobik. Pada phenylalanine, cincinnya tidak mengandung substituent apapun dan
elektronnya hanya dipakai bersama oleh antar atom karbon, sehingga menghasilkan struktur
yang sangat non-polar hidrofobik. Pada tyrosine, gugus hidroksil pada cincin fenil membentuk
ikatan hydrogen, dan rantai sampingnya menjadi lebih polar dan hidrifilik. Pada tryptophan,
terdapat atom nitrogen, sehingga dapat membentuk ikatan hydrogen dan menjadi lebih polar
daripada phenylalanine.
1.3.1.4 Asam Amino Bermuatan Positif (+)
Asam amino yang bermuatan positif biasanya mempunyai gugus yang bersifat basa
pada rantai sampingnya. Asam amino ini bersifat polar dan dapat mengikat air sehingga terletak
di permukaan. Contoh asam amino yang termasuk kedalam golongan ini adalah lisin, arginin,

dan histidin. Histidin sering berperan dalam reaksi enzimatis yang melibatkan pertukaran
proton, karena dapat terionisasi pada pH mendekati pH fisioligis.
1.3.1.5 Asam Amino Bermuatan Negatif (-)
Asam amino bermuatan negative karena mempunyai gugus karboksil pada rantai
sampingnya. Contoh nya adalah aspartat dan glutamate.
1.3.2

Berdasarkan Pembentukkan

Berdasarkan pembentukkannya oleh tubuh, asam amino diklasifikasikan menjadi 3 jenis,


yaitu asam amino esensial, asam amino non esensial, dan asam amino esensial bersyarat.
1.3.2.1 Asam Amino Esensial
Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh,
sehingga harus didapat dari konsumsi makanan (dietary essential amino acid atau
indespensible amino acid). Asam amino yang termasuk dalam kelompok ini adalah metionin,
arginin, treonin, triptofan, histidin, isoleusin, leusin, lisin, valin dan fenilalanin.
1.3.2.2 Asam Amino Non Esensial
Asam amino non-esensial adalah asam amino yang bisa diprosuksi sendiri oleh tubuh,
sehingga memiliki prioritas konsumsi yang lebih rendah dibandingkan dengan asam amino
esensial, tetapi apabila esensial untuk metabolisme maka disebut pula sebagai asam amino
esensial metabolik (metabolic essential amino acid atau dispensible amino acid). Asam amino
yang termasuk kelompok ini adalah alanin, asam aspartat, asam glutamat, glutamin,
hidroksiprolin, glisin, prolin dan serin.
1.3.2.3 Asam Amino Esensial Bersyarat
Asam amino esensial bersyarat adalah kelompok asam amino non-esensial, namun
pada saat tertentu, seperti setelah latihan beban yang keras, produksi dalam tubuh tidak
secepat dan tidak sebanyak yang diperlukan sehingga harus didapat dari makanan maupun
suplemen protein.
2. PROTEIN
2.1 Tingkatan Struktur Protein
2.1.1 Struktur Primer
Secara sederhana, struktur primer protein adalah istilah yang
digunakan untuk mengurutkan asam amino penyusun protein yang
bergabung bersama-sama. Asam amino ini disebutkan dari kiri (Nterminal) ke kanan (C-terminal). Struktur dasar dari protein biasanya
ditulis dengan menggunakan singkatan yang terdiri dari 3 huruf. Jadi
untuk gambar di atas bisa ditulis seperti ini:
Gly-Pro-Thr-Gly-Thr-Gly-Glu-Ser-Lys-Cys-Pro-Leu-Met-Val-Lys-ValLeu-Asp-Ala-Val-Arg-Gly-Ser-Pro-Ala

Struktur Primer Protein


(Image from
w3.hwdsb.on.ca)

Struktur primer terbentuk karena ikatan peptida selama proses biosintesis protein atau
translasi. Urutan asam amino dapat ditentukan dengan metode Degradasi Edman atau Tandem
Mass Spectrophotometry. Atau bisa juga dari hasil translasi in silico gen pengkode protein
tersebut. Pada struktur primer protein, semua ikatan antar peptidenya merupakan ikatan
kovalen.
2.1.2 Struktur Sekunder
Dalam suatu rantai panjang protein terdapat region dimana rantai-rantai tersebut
disusun menjadi struktur regular yang dilengkapi dengan sudut-sudut geometri tertentu. Dua
susunan struktur sekunder utama tersebut adalah alfa-helix dan beta-pleated sheet. Dua jenis
struktur sekunder tersebut terbentuk karena adanya ikatan Hidrogen.

Struktur Sekunder Protein


(Image from uic.edu)

Pada gambar sebelah kiri, terlihat bahwa struktur


alfa-helix terbentuk oleh backbone ikatan peptida
yang membentuk spiral dimana jika dilihat tegak lurus
dari atas, arah putarannya adalah searah jarum jam
menjauhi pengamat (dinamakan alfa). Satu putaran
terdiri atas 3.6 residu asam amino dan struktur ini
terbentuk karena adanya ikatan hidrogen antara atom
O pada gugus CO dengan atom H pada gugus NH
(ditandai dengan garis warna oranye).

Seperti halnya alfa-helix, struktur beta-pleated sheet juga terbentuk karena adanya ikatan
hidrogen, namun seperti terlihat pada gambar sebelah kanan, ikatan hidrogen terjadi antara dua
bagian rantai yang pararel sehingga membentuk lembaran yang berlipat-lipat. Tidak semua
bagian protein membentuk struktur alfa-helix dan beta-sheet, pada bagian tertentu mereke tidak
membentuk struktur yang reguler.
2.1.3

Struktur Tersier

Struktur tersier menjelaskan bagaimana seluruh rantai


polipeptida melipat dengan sendirinya sehingga membentuk struktur
3 dimensi. Pelipatan ini sering disederhanakan menjadi model
seperti yang terlihat pada gambar diatas. Pelipatan ini dipengaruhi
oleh interaksi antar gugus samping (R) satu sama lain.

2.1.4

Struktur Quartener

Struktur Quartener Protein


Hemoglobin
(Image from sciencecases.org)

Struktur Tersier Protein


Dihydrofolatreductase
(Image from uic.edu)

Protein atau polipeptida yang sudah memiliki


struktur tersier dapat saling berinteraksi dan bergabung
menjadi suatu multimer. Protein pembentuk multimer
dinamakan subunit. Jika suatu multimer dinamakan dimer
jika terdiri atas 2 subunit, trimer jika 3 subunit dan
tetramer untuk 4 subunit. Multimer yang terbentuk dari
subunit-subunit identik disebut dengan awalan homo,
sedangkan jika subunitnya berbeda-beda dinamakan
hetero. Misalnya hemoglobin yang terdiri atas 2 subunit
5

alfa dan 2 subunit beta dinamakan heterotetramer. Perlu diketahui bahwa beberapa protein
dapat berfungsi sebagai monomer sehingga ia tidak memiliki struktur quartener.
2.2

KONFORMASI PROTEIN

2.2.1 Interiaksi ionik


Beberapa asam amino mempunyai gugus COOH
tambahan. Beberapa asam amino lainnya, seperti lysine
mempunyai gugus NH2 tambahan. Transfer ion hydrogen dari
gugus COOH ke gugus NH2 mungkin terjadi untuk membentuk
zwitterions seperti pada asam amino sederhana. Jika protein
melipat, akan terlihat ikatan ionic tersebut.

Ikatan Ionik
(Image from uic.edu)

2.2.2 Ikatan hidrogen


Jika pada struktur sekunder ikatan hidrogen terjadi pada
backbone, maka ikatan hidrogen yang terjadi antar gugus samping
akan membentuk struktur tersier. Karena pada gugus samping bisa
banyak terdapat gugus seperti OH, COOH, CONH2 atau NH2
yang bisa membentuk ikatan hidrogen.
Ikatan hidrogen
(Image from uic.edu)

2.2.3 Gaya Dispersi Van Der Waals


Beberapa asam amino memiliki rantai karbon yang cukup
panjang pada gugus sampingnya (R). Nilai dipol yang berfluktuatif
dari satu gugus samping dapat membentuk ikatan dengan dipol
berlawanan pada gugus samping lain.

Ikatan Van Der Waals


(Image from uic.edu)

2.2.4 Jembatan Sulfida


Cysteine memiliki gugus samping SH dimana dapat membentuk
ikatan sulfida dengan SH pada cystein lainnya, ikatan ini berupa
ikatan kovalen sehingga lebih kuat dibanding ikatan-ikatan lain yang
sudah disebutkan di atas.

Jembatan Disulfida
(Image from
altabioscience.bham.ac.uk)

2.3 Denaturasi dan Renaturasi


Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan pada struktur
tersier maupun kuartener dari protein. Pada struktur tersier protein, terdapat empat jenis
interaksi pada rantai yaitu, ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida, dan interaksi non
polar pada bagian non hidrofobik. Penyebab dari denaturasi protein antara lain, panas, alkohol,
asam-basa, dan logam berat. Ciri-ciri suatu protein yang mengalami denaturasi adalah, protein
mengalami pembukaan lipatan pada bagian-bagian tertentu. Selain itu, protein yang
terdenaturasi akan berkurang kelarutannya. Lapisan molekul yang bagian hidrofobik akan
mengalami perubahan posisi dari dalam ke luar, begitupun sebaliknya.
Selain itu, masing-masing penyebab denaturasi protein juga mengakibatkan ciri
denaturasi yang spesifik. Misalnya panas, panas dapat mengacaukan ikatan hidrogen dari
protein namun tidak akan mengganggu ikatan kovalennya. Hal ini dikarenakan dengan
meningkatnya suhu akan membuat energi kinetik molekul bertambah. Dengan naiknya suhu,
akan membuat perubahan entalpi sistem naik. Selain itu bentuk protein yang terdenaturasi dan
tidak teratur juga sebagai tanda bahwa entropi bertambah. Pemanasan juga dapat
mengakibatkan kemampuan protein untuk mengikat air menurun dan menyebabkan terjadinya
koagulasi. Selain oleh panas, asam dan basa juga dapat membuat protein terdenaturasi.
Seperti telah diketahui bahwa protein dapat membentuk struktur zwitter ion. Protein juga
memiliki titik isoelektrik dimana jumlah muatan positif dan muatan negatif pada protein adalah
sama. Pada saat itulah, protein dapat terdenaturasi yang ditandai dengan membentuk
gumpalan dan larutannya menjadi keruh. Selain itu, alkohol juga dapat mendenaturasi protein.
Alkohol seperti kita ketahui umumnya terdapat kadar 70% dan 95%. Alkohol 70% bisa masuk
ke dinding sel dan dapat mendenaturasi protein di dalam sel. Sedangkan alkohol 95%
mengkoagulasikan protein di luar dinding sel dan mencegah alkohol lain masuk ke dalam sel
melalui dinding sel.
Logam-logam berat akan membentuk kompleks garam protein-logam. Kompleks inilah
yang membuat protein akan sulit untuk larut. Protein bermuatan negatif atau protein dengan pH
larutan di atas titik isoelektrik akan diendapkan oleh ion positif atau logam lebih mudah. Contoh
ion-ion positif yang dapat mengendapkan protein misalnya Ag+, Ca2+, Zn2+, Hg2+, Fe2+, Cu2+, dan
Pb2+. Dan contoh ion-ion negatif yang dapat mengendapkan protein misalnya ion salisilat,
trikloroasetat, piktrat, tanat, dan sulfosalisilat. Gangguan pada ikatan disulfida selain
disebabkan oleh logam berat juga dapat disebabkan oleh agen-agen pereduksi. Agen pereduksi
ini bisa menyebabkan ikatan disulfida putus dan dapat membentuk gugus tiol (-SH) dengan
penambahan atom hidrogen. Selain ikatan disulfida, ikatan lain yang apabila terganggu dapat
menyebabkan denaturasi protein adalah ikatan hidrogen. Dengan adanya alkohol dapat
merusak ikatan hidrogen antar rantai samping dalam struktur tersier suatu protein.
Kehadiran logam-logam berat, asam-basa tertentu, alkohol dan bahan-bahan lain yang
dapat memicu terjadinya denaturasi (atau dapat disebut sebagai bahan denaturan) dapat
mengganggu kestabilan protein yang pada umumnya berada pada keadaan folded.
Keberadaan denaturan yang mengikat pada protein folded tersebut dapat menaikkan entropi
dari rantai protein sehingga terjadi reaksi dari bentuk folded menjadi unfolded. Namun
sebenarnya perubahan dari keadaan folded menjadi unfolded tidak sepenuhnya diakibatkan
keberadaan denaturan.
Pada keadaan protein terlipat atau folded, bagian yang hidrofilik akan berada di luar
sedangkan bagian yang hidrofobik akan berada di bagian dalam. Hal ini memungkinkan protein
dapat larut dalam pelarut polar seperti air. Namun saat protein terdenaturasi, terjadi pembalikan
posisi menjadi bagian hidrofobik yang berada di luar. Pada saat inilah protein tidak bisa larut
7

dalam air dan berada pada kondisi energi yang tinggi karena air akan berusaha melarutkan
bagian yang hidrofobik tersebut padahal karena perbedaan kepolaran air dan bagian hidrofobik
itu tidak akan larut. Oleh karena itu protein terdenaturasi akan berusaha segera kembali ke
keadaan stabil atau energi rendah kembali. Apabila struktur protein tersebut terlalu kompleks,
salah satu jalan untuk membuat kondisi energinya menjadi rendah kembali adalah dengan
menggumpalkan dirinya. Dengan konformasi tergumpal, maka seluruh bagian hidrofobik dari
protein tidak akan berinteraksi lagi dengan air yang terus berusaha melarutkannya, sehingga
dapat dikatakan konformasi seperti ini lebih stabil.
Kemudian seperti telah dibahas sebelumnya bahwa proses perubahan dari folded ke
unfolded berjalan reversibel namun sangat lambat berarti memungkinkan terjadi proses
renaturasi. Proses renaturasi atau pengembalian struktur dari struktur protein terdenaturasi
menjadi struktur protein awal bisa saja terjadi. Namun, perlu diingat apabila struktur protein
awal terlalu kompleks, maka proses renaturasi atau refolding tersebut akan berlangsung sangat
lambat dan sulit. Contohnya seperti pada protein yang terdapat pada telur. Apabila protein
tersebut telah terdenaturasi, maka akan sulit untuk mengembalikan ke kondisi naturalnya.
2.4 Interaksi Protein dengan Molekul Lain
2.4.1 Glikoprotein
Glikoprotein terdiri dari polipeptida kovalen dengan
karbohidrat. Glikoprotein yang berbeda memiliki rasio karbohidrat
dan protein yang berbeda. Satu kelompok adalah glycans O-linked,
dimana karbohidrat yang menempel asam amino serin treonin atau
pada protein. Yang lainnya adalah glycans N-linked, di mana
karbohidrat melekat asam amino asparagin.

Struktur N-Linked dan


O-Linked Glikoprotein
(Sumber:
www.cs.stedwards.edu)

2.4.2

LIPOPROTEIN

Ukuran partikel lipoprotein berkisar antara 10


sampai dengan 1000 nm. Densitas lipoprotein
meningkat seinring dengan rasio protein/lipid.
Umumnya ketika densitas lipoprotein meningkat,
ukuran partikelnya menurun. Lapisan luar lipoprotein
terdiri atas lapisan hidrofilik dari apolipoprotein,
fosfolipid dan kolesterol. Bagian pusat dalam
lipoprotein terdiri dari kolesteril ester, trigliserida, asam
lemak, dan vitamin larut lemak seperti vitamin E.

Struktur Lipoprotein
(Sumber: Zamora A., 2007
8

Tabel 1. Keterangan Gambar Struktur Lipoprotein


Apolipoprotein
Sebuah protein yang terikat pada lipid
Cholesteryl Ester Sebuah senyawa dari kolesterol dan asam lemak
Triglyceride

Sebuah senyawa dari gliserol dan tiga asam lemak, merupakan


sebuah molekul lemak yang umum

Phospholipid

Sebuah senyawa dari gliserol, dua asam lemak, dan kolin fosfat,
merupakan sebuah emulgator seperti lesitin

Kesimpulan
Struktur dan sifat kimia maupun fisis dari suatu protein ditentukan oleh asam-asam
amino yang menyusunnya. Struktur dari asam amino juga ditentukan oleh ikatan-ikatan peptide
yang terdapat didalamnya. Berdasarkan tingkatan strukturnya, protein mempunyai struktur
primer, sekunder, tersier, dan kuartener. Protein dapat mengalami denaturasi apabila terkena
panas, asam dan basa, alcohol dan logam berat. Namun protein juga dapat melakukan folding
ulang melalui proses renaturasi. Protein dapat berikatan kovalen dengan molekul lain seperti
lipid dan glukosa.
Daftar Pustaka
Jim Clark, 2012. Introducing Amino Acids. [online] Available at:
<http://www.chemguide.co.uk/organicprops/aminoacids/background.html> [Accessed 17 March
2014]
Jim Clark, 2007. The Structure of Proteins. [online] Available at:
<http://www.chemguide.co.uk/organicprops/aminoacids/proteinstruct.html> [Accessed 17 March
2014]
Gottschalk, Alfred. Glycoproteins. Their Composition, Structure, and function. Elsevier
Publishing Company: New York, 1972.
Lieberman, M. 2007. Marks Basic Medical Biochemistry 4th edition. [e-book] USA: Wolter
Kluwer. Available at: <https://www.inkling.com/read/marks-medical-biochemistry-liebermanmarks-4th/chapter-6/ii--classification-of-amino> [Accessed 17 March 2014]

FUNGSI PROTEIN
Haqqyana, 1206262090
Prodi S-1 Teknologi Bioproses, Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia, Kampus UI-Depok

Abstrak
Protein merupakan suatu makromolekul yang terdiri dari satu atau lebih suatu rantai polipetida yang membentuk
konformasi tiga dimensi secara spesifik. Setiap jenis rantai polipeptida memiliki urutan asam amino yang juga
spesifik. Setidaknya terdapat 20 macam asam amino dalam satu rantai polipeptida penyusun protein.
Perbedaan urutan asam amino ini menentukan perbedaan jenis dan fungsional dari masing-masing protein.
Protein memiliki peranan penting bagi organisme hidup. Hampir semua fungsi protein menjadi basis suatu
sistem biologis dari sel hidup. Fungsi utama protein antara lain sebagai elemen struktural, transpor substansi
dan penyimpanan cadangan asam amino, regulasi dan mekanisme pertahanan tubuh, persinyalan, kontraktil,
hormonal, dan fungsi enzimatik. Berdasarkan pembagian fungsi tersebut, dapat diklasifikasikan tiap jenis
protein.
Kata Kunci: Protein, Asam Amino, Polipetida, Fungsi Spesifik
Pendahuluan

Protein Struktural

Protein merupakan suatu zat yang terdiri dari satu


atau lebih rantai polipeptida yang berlipat
membentuk suatu konformasi tiga dimensi yang
spesifik. Protein merupakan molekul yang dikenal
memiliki struktur paling rumit dibandingkan
makromolekul yang lain. Struktur protein berbeda
menyebabkan fungsi berbeda yang spesifik.
Meskipun protein beragam, molekul protein
merupakan polimer yang dibangun dari kumpulan
20 asam amino yang disebut dengan polipeptida.
Setiap jenis rantai polipeptida memiliki urutan asam
amino yang spesifik. Meskipun polipeptida harus
memiliki urutan asam amino yang sesuai untuk
dapat melakukan fungsinya, urutan asam amino
tidak menjadi jaminan suatu polipeptida dapat aktif
secara biologis. Polipeptida haruslah membentuk
suatu konformasi tiga dimensi secara spesifik
terlebih dahulu sebelum dapat menjalankan
fungsinya. Ketika polipeptida telah terlipat menjadi
bentuk aktifnya, barulah suatu polipetida dapat
disebut sebagai protein.

Protein struktural biasanya berbentuk serat dan


benang untuk memberikan dukungan terhadap
bentuk dari suatu sel. Protein ini akan membentuk
sel , jaringan, dan organ hingga penampakan fisik
suatu individu. Fungsi protein struktural adalah
sebagai penyangga dan pembangun struktur biologi
makhluk hidup. Beberapa contoh protein struktural
akan dijelaskan sebagai berikut,

Bentuk dan ukuran protein bermacam-macam.


Konformasi spesifik suatu protein akan menentukan
bagaimana protein tersebut bekerja. Banyak
terdapat protein berbentuk globuler, agak bulat,
berfungsi sebagai enzim, transpor proein, atau
antibodi, sedangkan protein yang berbentuk seperti
serat biasanya memiliki fungsi struktural dan
mekanis. Protein berserat cenderung tidak dapat
larut dalam air, lain halnya dengan bentuk globuler
yang dapat larut dalam air. Protein dapat digunakan
untuk dukungan struktural, transpor substansi dan
penyimpanan, persinyalan, pergerakan, regulasi
dan pertahanan, hormon, serta katalisis.

Keratin adalah protein yang berfungsi untuk


melindungi jaringan epitel dari kerusakan dan
tegangan yang mengganggu lapisan sel
tersebut. Protein jenis ini tidak reaktif secara
kimiawi dan dapat tahan lama secara mekanik.
Keratin terdapat dalam semua vertebrata tingkat
tinggi. Selain itu, karakteristik keratin juga tidak
dapat larut pada larutan asam, alkali, air, dan
pelarut organik, melainkan dapat larut pada
urea.
Serat keratin terdiri dari berkas fibril. Setiap fibril
terdiri atas 3 rantai polipeptida. Dalam suatu
jaringan mungkin terdapat 7 macam rantai
polipeptida yang membentuk fibril. Polipeptida
keratin terdiri dari tiga domain: kepala aminoterminal, domain batang pusat, dan karboksilterminal ekor. Bentuk keseluruhan dari protein
keratin memanjang, yang merupakan ciri khas
dari protein berserat. Domain batang pusat
terdiri dari heliks yang terdiri dari unit berulang
tujuh residu, lebih dari 300 residu panjang.
Kolagen adalah protein yang berfungsi sebagai
pembentuk jaringan ikat, penyusun tulang, gigi,
kulit, dan pembuluh darah. Kolagen merupakan
material yang mempunyai kekuatan rentang dan
struktur yang berbentuk serat. Hampir sepertiga
protein dalam tubuh vertebrata berada sebagai

10

kolagen (Katili, A. Sidik, 2009). Kolagen


mengandung sedikitnya 35% glisin dan kurang
lebih sekitar 11% alanin. Yang paling menonjol
dalam kolagen adalah kandungan prolin dan 4hidroksiprolin yang tinggi. Jenis asam amino
tersebut merupakan jenis yang jarang ditemui di
protein lain selain pada kolagen dan elastin.

merupakan material umum yang sering


digunakan pada bio-industry.
Sklerotin adalah suatu jenis protein penyusun
eksoskeleton Arthropoda. Fungsi dari protein ini
adalah untuk membuat struktur menjadi keras,
kuat, dan kaku. Selain dapat menyusun rangka
luar, protein ini juga biasa ditemukan sebagai
penyusun dari sayap-sayap serangga.
Protein Transpor Substansi dan Penyimpanan

Gambar 1. Stuktur 3-D Protein Kolagen (sumber: David


Goodsell, 2000)

Elastin adalah protein yang berfungsi sebagai


penyusun jaringan tendon, ligamen, dan
pembuluh darah. Selain itu, elastin dapat
berguna sebagai penyusun jaringan kulit,
sehingga
kencang
dan
elastis.
Elastin
merupakan komponen jaringan ikat. Rantai
elastin tidak membentuk helix tripel. Struktur
keseluruhan elastin mirip struktur amorf karet yg
mudah berubah bentuk. Pada elastin, banyak
terkandung asam amino glisin, alanin, valin,
serta beberapa lisin dan prolin.
Tubulin merupakan suatu protein yang
membentuk
polimer
sehingga
menyusun
filamen-filamen
(13
filamen)
penyusun
mikrotubulus. Mikrotobuli merupakan komponen
penting dari susunan intrasel, seperti pada
gelendong mitosis dan kerangka sel. Tubulin
terdapat pada hampir seluruh sel eukariota.
Fibroin adalah protein dengan struktur
dominannya berupa konformasi- yang saling
antiparalel dan bertumpuk. Sifat fibroin adalah
sulit merenggang, tetapi masih tetap fleksibel.
Fibroin banyak mengandung alanin dan glisin
yang salin berulang. Kestabilan yang terjadi
pada struktur fibroin disebabkan adanya ikatanH antar polipeptida pada tiap lembaran-, serta
terdapat suatu ikatan Van der Waals antar tiap
lembar atau lapisan. Fungsi dari protein ini
adalah sebagai komponen penyusun sutra dan

Suatu membran sel bersifat permeabel terhadap ion


dan molekul polar spesifik. Adanya bilayer lipid
menyebabkan substansi hidrofilik menghindari
kontak dengan cara melewati membran melalui
protein transpor yang melintangi membran.
Sejumlah protein transpor dapat berfungsi
dikarenakan mempunyai saluran hidrofilik yang
dapat digunakan oleh molekul-molekul tertentu
sebagai saluran untuk melewati membran.
Beberapa protein transpor lainnya mengikat
senyawa
yang
dibawa
dan secara fisik
menggerakkannya melintasi membran. Setiap
protein transpor bersifat spesifik untuk substansi
yang digerakkannya (translokasi). Dengan demikian
permeabilitas selektif membran dapat bergantung
pada rintangan pembeda yang terdapat pada
bilayer lipid maupun protein transpor spesifik yang
ada dalam membran. Salah satu contoh protein
transpor adalah hemoglobin yang merupakan
protein dengan kandungan besi dalam darah.
Hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru ke
bagian tubuh lainnya.
Protein dapat juga berfungsi sebagai penyimpanan.
Fungsi umum dari protein ini adalah sebagai
cadangan asam amino. Beberapa karakteristik yang
mencirikan protein simpanan adalah sebagai berikut
1) Pada protein tidak terjadi reaksi enzimatik, 2)
berperan sebagai sumber nitrogen pada biji
berkecambah, 3) dapat ditemukan secara alami
pada keadaan agregat dalam membran yang
dikelilingi vesikel (badan protein, aleuron biji-bijian),
dan 4) disusun dari sejumlah rantai polipeptida yang
berbeda (Anonim, 2004). Contoh protein yang
termasuk dalam protein simpanan adalah
ovalbumin, kasein, biji tumbuhan, feritin, dan
myoglobin.
Ovalbumin adalah protein utama dalam telur
yang digunakan sebagai sumber asam amino
bagi embrio yang sedang berkembang. Protein
ini termasuk ke dalam kelompok serpin.
Kasein adalah protein susu yang menjadi
sumber asam amino, utamanya pada bayi
mamalia. Protein ini termasuk golongan
fosfoprotein yang merupakan kumpulan ikatan
hidrogen yang mengandung asam fosfat.

11

Biji tumbuhan adalah penyimpan


protein
nutrient yang berfungsi untuk menyediakan
cadangan makanan pada masa pertumbuhan
dan perkembangan embrio tumbuhan.
Feritin adalah suatu protein yang berfungsi
sebagai tempat penyimpanan dan melepaskan
ion besi serta membantu tubuh untuk melakukan
regulasi akibat kelebihan ion besi. Protein ini
terletak di limpa dan memiliki bentuk spherical,
dengan zat besi tersimpan di dalamnya sebagai
mineral. Apabila pada suatu kondisi, tubuh
membutuhkan adanya zat besi, ferritin berubah
dari Fe(III) menjadi Fe(II) sehingga zat besi
dapat lepas melalui struktur spheric ferritin.
Myoglobin adalah protein globuler yang
memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan
dan transportasi oksigen. Setiap myoglobin
mengandung suatu polipeptida dengan gugus
prostetic dan heme.
Protein Regulasi dan Pertahanan
Pengendalian siklus sel diperlukan untuk beberapa
alasan. Pertama, jika siklus sel tidak diatur, sel-sel
dapat
secara
terus-menerus
mengalami
pembelahan sel. Meskipun hal ini mungkin
bermanfaat bagi sel-sel tertentu, pada reproduksi
secara keseluruhan kejadian ini justru akan
merugikan. Kedua, regulasi internal siklus sel
diperlukan sebagai jalur sinyal dari satu tahap ke
tahap berikutnya pada waktu yang tepat. Regulasi
ini tidak dapat dicapai melalui kendala waktu yang
ketat, melainkan dengan umpan balik dari sel.
Terdapat dua protein utama yang berperan dalam
regulasi sel, yakni cyclin-dependent protein kinases
(Cdks) dan cyclin.

Gambar 2. Fungsi Cyclin E (sumber: Caldon and Musgrove,


2010)

Cyclins adalah suatu protein regulasi yang telah


melalui siklus sintesis dan degradasi yang
konstan, selama pembelahan sel. Ketika
disintesis, cyclin berfungsi sebagai protein
pengaktivasi dan berikatan dengan Cdks
membentuk kompleks cyclin-Cdks. Kompleks ini
kemudian bertindak sebagai sinyal terhadap sel
untuk dapat melewati tahap siklus sel
selanjutnya. Akhirnya, cyclin terdegradasi,
menonaktifkan Cdk, dengan demikian memberi
sinyal untuk keluar dari fase tertentu. Terdapat
dua jenis cyclin, yaitu mitotic cyclins dan G1

cyclin.

Cyclin-dependent protein kinases (Cdks)


adalah suatu enzim yang menambahkan fosfat
bermuatan negatif kepada molekul lain dalam
proses fosforilasi. Melalui proses ini, Cdks
meberikan sinyal pada sel bahwasannya telah
siap utnuk melewati tahap berikutnya dalam
siklus sel. Sesuai dengan namanya, cyclindependent protein kinases tergantung pada
cyclin, yang merupakan protein regulasi lainnya.
Cyclin terikat pada Cdks, mengatifkan Cdks
untuk memfosforilasi molekul-molekul lain.
Gambar 3. Siklus Regulasi Sel (sumber: Hardin, Bertoni &
Kleinsmith, 2012)

Protein membentuk antibodi yang dapat membantu


mencegah terjadinya infeksi dan penyakit. Pada
mekanisme pertahanan tubuh, protein biasanya
bekerja sama dengan sistem imun sel lainnya.
Antibodi adalah suatu protein berbentuk Y yang

12

diproduksi oleh limfosit-B. Antibodi digunakan oleh


sistem imun tubuh kita untuk mengidentifikasi dan
menetralisir antigen yang merupakan objek-p\objek
asing seperti bakteri dan virus. Antigen ini tidak
hanya berbentuk virus atau bakteri patogen, tetapi
juga dapat berbentuk jaringan cangkokan yang
tidak cocok ataupun sel-sel darah yang
ditransfusikan. Antigen juga dapat berbentuk protein
asing seperti racun lebah atau serbuk sari yang
dapat menyebabkan alergi atau hipersensitivitas.
Stuktur antibodi terdiri dari 4 polipeptida- 2 rantai
berat dan 2 rantai ringan. Kedua rantai tersebut
diikat oleh ikatan disulfida dan membentuk bentuk
yang simetris. Dua rantai berat yang identik
berbentuk batang dan sebagiannya lagi merupakan
bagian dari lengan Y. Pada kedua bagian yang
berbentuk Y, terdapat daerah variabel (V) rantai
berat dan rantai ringan. Daerah ini memiliki urutan
asam amino yang bervariasi dari satu antibodi
dengan antibodi yang lain. Antibodi atau sering juga
disebut sebagai immunoglobulin terdiri dari 82-96%
polipeptida dan 4-18% karbohidrat. Terdapat 5
kelas immunoglobulin yakni IgG, IgD, IgE, IgA, dan
IgM.
IgG adalah jenis immunoglobulin yang paling
versatil disebabkan kemampuannya untuk
melakukan semua fungsi molekul-molekul
immunoglobulin. Antibodi ini merupakan 75%
penyusun dari keseluruhan immunoglobulin. IgG
juga merupakan satu-satunya immunoglobulin
yang dapat melewati plasenta.
IgM secara alami berbentuk pentamer (19S
immunoglobulin) tapi dapat juga berbentuk
monomer. Pada bentuk pentamer, masingmasing rantai berat dan rantai ringan yang
dimiliki saling identik. IgM merupakan Ig pertama
yang dibuat fetus dan virgin B cells ketika
terstimulasi antigen.
IgA adalah Ig yang paling banyak ditemukan
pada sekresi. Serum IgA berbentuk monomer
namun IgA hasil sekresi ditemukan dalam
bentuk dimer. Saat igA keluar dalam bentuk
dimer, rantai J ikut terikat padanya.
IgD hanya terdapat dalam bentuk monomer.
Biasanya ditemukan pada permukaan sel B dan
berfungsi sebagai reseptor antigen. IgD pada
permukaan sel B memiliki asam amino berlebih
pada ujung C-terminal untuk menempel pada
membran.
IgE terdapat dalam bentuk monomer dan
memiliki domain tambahan pada daerah
konstan. IgE terlibat dalam reaksi alergi dan
berperan
dalam
penyakit
helminth

parasit.

Gambar 4. Lima Kelas Immunoglobulin (sumber:


Anonim, 2014)

Terdapat empat tahap yang dapat dilakukan


antibodi untuk menonaktifkan antigen. Keempat
tahapan tersebut adalah 1) netralisasi, 2)
penggumpalan, 3) pengendapan, dan 4) aktifase
komplemen. Tahap 1, 2, dan 3 menyebabkan
antigen terlarut dan mengalami fagositosis,
sedangkan tahapan keempat menyebabkan lisis
sel.
Protein Pergerakan (Kontraktil)
Beberapa
protein
dapat
berkontraksi
dan
memanjang sehingga dapat menimbulkan adanya
suatu gerakan. Contoh dari protein ini adalah aktin
dan myosin yang dapat ditemukan pada otot serta
dienin yang membentuk struktur dari silia dan
flagella. Berikut akan dijelaskan mengenai
beberapa contoh protein kontrakttil.
Aktin berfungsi sebagai pembentuk filamen tipis
pada sarkomer, merupakan protein globuler
dengan jumlah sekitar 20% dari protein myofibril.
Myosin merupakan salah satu protein
penggerak molekuler yang mengubah hasil
energi hidrolisis ATP menjadi suatu gerakan
komponen sel. Myosin merupakan protein
penting dalam pembelahan sel serta terlibat
dalam pergerakan sitoplasma.

Gambar 5. Kontraksi Sarkomer (sumber: Franziska SchniAffolter, 2005)

13

Dienin adalah kompleks protein multi-subunit


yang memiliki gugus yang berperan sebagai
ATPase sehingga bertanggung jawab terhadap
terjadinya hidrolisis ATP agar dapat menginisiasi
suatu gerakan. Tersusun atas dua atau tiga
rantai tebal serta berhubungan dengan beberapa
macam rantai tipis. Terdapat dua macam dienin,
yakni aksonemal dan sitoplasmik.
Protein Hormonal dan Enzimatik
Protein terlibat dalam pembentukan beberapa
hormon. Bahkan, hormon tertentu merupakan
protein secara alamiah. Substansi ini membantu
dalam melakukan kontrol fungsi tubuh yang
melibatkan interkasi beberapa organ. Insulin, suatu
protein kecil, merupakan salah satu contoh protein
hormonal yang dapat meregulasi gula darah.
Proses regulasi tersebut melibatkan interaksi antar
organ seperti pankreas dan hati. Sekretin, yang
juga merupakan contoh lain suatu protein hormonal
membantu proses pencernaan dengan mentimulasi
pankreas dan usus halus untuk menghasilkan sari
pencernaan yang penting. Hormon oksitosin
mampu menstimulasi terjadinya kontraksi pada
wanita saat melahirkan, sedangkan somatrotopin
dapat menstimulasi produksi protein pada sel otot.
Salah satu fungsi protein adalah sebagai zat
katalitik. Protein yang memiliki fungsi katalitik
disebut enzim. Sebagai katalis, enzim berfungsi
untuk mempercepat laju suatu reaksi kimiawi
secara selektif. Bahkan, sebagian besar reaksi
kimia yang diperlukan dalam tubuh tidak akan
efisien berjalan tanpa enzim. Sebagai contoh, satu
jenis enzim berfungsi untuk membantu dalam
mencerna molekul protein besar, karbohidrat dan
lemak menjadi molekul yang lebih kecil, sementara
yang lain membantu penciptaan DNA. Terdapat
enam klasifikasi enzim, yakni
Oksidoreduktase adalah suatu enzim yang
berperan sebagai katalis dalam reaksi oksidasi
dan reduksi. Reaksi tersebut merupakan suatu
reaksi pemindahan elektron, hidrogen, maupun
oksigen. Enzim ini merupakan enzim yang
memiliki peranan penting dalam banyak proses
metabolisme, khususnya pada suatu reaksi
anaerobik dan aerobik. Oksidoreduktase dibagi
lagi dalam beberapa klasifikasi enzim, yakni 1)
hidrolase (menambah gugus hidroksil pada
substrat), 2) oksidase (oksigen intramolekuler
yang merupakan penerima hidrogen atau
elektron, 3) dehidrogenase (mengoksidasi
substrat dengan mentransfer satu atu lebih ion
hidrida H-), 4) peroksidase (reduksi peroksida
hidrogen), 5) oksigenase (menggabungkan
oksigen intarmolekuler dengan substrat organik),
dan 6) reduktase (mengkatalis reduksi).

Transferase adalah suatu enzim yang berfungsi


untuk memindahkan gugus fungsional antara
pendonor dan penerima. Terdapat tiga macam
enzim transferase yakni 1) transaminase
(transferase gugus amina), 2) transfosforilase
(transferase gugu fosfat), dan 3) transasilase
(transferase gugus asil).
Hidrolase merupakan enzim yang mengkatalisis
reaksi-reaksi hidrolisis. Beberapa contohnya
adalah karboksilesterase, lipase, dan peptidase.
Liase
adalah
enzim
yang
berfungsi
menambahkan atau meindahkan unsur-unsur
air, amonia, atau karbon dioksida. Contohnya
adalah dehidratase dan L malat hidroliase.
Ligase berperan dalam proses sintesis dengan
2 molekul digabungkan dengan energi dari
ikatan fosfat berenergi tinggi dari ATP. Enzim ini
antara lain meliputi polimerase.
Isomerase berperan dalam katalisis reaksi
isomerisasi. Beberapa contohnya adalah cistrans isomerase, rasemase, dan epimerase.
Protein Persinyalan
Persinyalan sel merupakan mekanisme komunikasi
sel yang melibatkan berbagai molekul dan protein.
Secara umum, persinyalan sel dibagi dalam tiga
tahapan yakni 1) penerimaan, 2) transduksi, dan 3)
respons. Dalam persinyalan sel, protein berperan
sebagai reseptor untuk mengikat molekul sinyal dari
luar sel kemudian mengubahnya menjadi urutan
sehingga dapat dilakukan internal signaling
pathways. Membran reseptor dibagi dalam tiga jenis
berdaasarkan
mekanisme
perubahan
sinyal
eksternal menjadi internal. Reseptor-reseptor
tersebut adalah 1) G-protein-coupled receptors,2)
ion channel receptors, dan 3) enzyme-linked
receptors. Selain reseptor, terdapat beberpa
macam protein yang memiliki fungsi beragam dalam
persinyalan intraseluler di antaranya adalah
Protein adaptor menghubungkan komponen
pada jalur persinyalan dengan bertindak sebagai
tambahan protein utama pada transduksi sinyal.
Protein amplifier meningkatkan penerimaan
sinyal dengan memproduksi second messenger
dalam jumlah besar.
Protein anchoring membatasi luas kerja
molekul untuk mengarahkan enzim pada
substrat.
Protein bifurikasi menyebarkan sinyal dari satu
jalur ke jalur yang lain.
Protein efektor meregulasi aktivitas protein.
Protein integrator berfungsi mengubungkan
beberapa jalur dan melanjutkan sinyal pada
suatu jalur.
Protein messenger membawa sinyal dari suatu
bagian sel ke bagian yang lain.

14

Latent gene regulatory proteins menstimulasi


transkripsi gen.
Protein modulatorcmeregulasi aktivitas protein
lainnya.
Protein relay mengirimkan pesan pada
komponen persinyalan selanjutnya.
Protein scaffold merupakan tempat melekatnya
protein kinase dan mengatur alur aktivasi kinase
Protein transducer mengubah bentuk sinyal ke
bentuk lain.
Kesimpulan
Protein merupakan suatu makromolekul yang
berbahan dasar asam amino. Asam amino
penyusun protein memiliki rantai samping yang
berbeda-beda sehingga mencirikan sifat kimia dari
masing-masing asam amino. Perbedaan jenis asam
amino yang menyusun suatu protein serta jenis
gugus alkilnya lah yang menyebabkan protein
memiliki berbagai jenis dan fungsi berbeda. Hal ini
disebabkan struktur konformasi spesifik suatu
protein akan menentukan bagaimana protein
tersebut bekerja. Protein dapat berfungsi sebagai
elemen struktural, transpor suatu substansi dan
penyimpanan/cadangan, persinyalan, pergerakan,
regulasi dan pertahanan, hormon, serta fungsi
katalisis (enzimatik).
Daftar Pustaka
Anonim, [n.d.]. Protein III: Struktur dan Fungsi [pdf].
Terdapat pada: <
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/biokimia
/bab%207.pdf> [diakses pada 17 Maret 2014]
Anonim, [n.d.]. Cell Cycle Regulation. [online]
Terdapat pada:
<http://www.sparknotes.com/biology/cellreproductio
n/cellcycle/section3.rhtml> [diakses pada 18 Maret
2014]
Anonim, [n.d.]. Control of Protein Function [pdf].
Terdapat pada: <
http://www2.uah.es/farmamol/New_Science_Press/
nsp-protein-3.pdf> [diakses pada 17 Maret 2014]

pada: <
http://papers.xtremepapers.com/Edexcel/Advanced
%20Level/Biology/Resources/80_FUNCTION_OF_
PROTEINS.PDF> [diakses pada 17 Maret 2014]
Campbell N.A, Jane B. Reece, Lawrence G.
Mitchell, 2000. Biologi. Edisi 5, jilid I. Jakarta:
Erlangga.
Essential Biochemistry,[n.d.].Keratin.[online]
Terdapat pada: <
http://www.wiley.com/college/pratt/0471393878/stud
ent/structure/keratin_collagen/tutorial_keratin.html>
[diakses pada 18 Maret 2014]
Katili, A. Sidik, 2009. Struktur dan Fungsi Protein
Kolagen [pdf] Jurnal Pelangi Ilmu. Terdapat pada: <
http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JPI/article/view/58
7> [diakses pada 18 Maret 2014]
Mayer, Gene, 2009. Immunology - Chapter Four:
Immunoglobulins - Structure and Function. [online]
Terdapat pada:
<pathmicro.med.sc.edu/mayer/igstruct2000.htm>
[diakses pada 18 Maret 2014]
Rose, William C., 1933. The Role of Proteins in
Metabolism [pdf] Ohio Journal of Science. Terdapat
pada: <
https://kb.osu.edu/dspace/bitstream/handle/1811/26
50/V33N05_372.pdf;jsessionid=CFDEBB07500ECA
71140150F95ADB64C9?sequence=1> [diakses
pada 17 Maret 2014]
Tropp, Burton E., 2012. Molecular Biology Genes to
Proteins, Fourth Edition [pdf] Jones&Bartlett
Learning. Terdapat pada: <
http://samples.jbpub.com/9781449600914/86632_C
H02_027_074.pdf> [diakses pada 17 Maret 2014]
van den Heuvel, Sander, 2005. Cell-cycle
Regulation. [online] Terdapat pada: <
http://www.wormbook.org/chapters/www_cellcyclere
guln/cellcyclereguln.html> [diakses pada 18 Maret
2014]

Anonim, [2004]. Storage Protein. [online] Terdapat


pada: < http://www.biologie.uni-hamburg.de/bonline/e17/17i.htm> [diakses pada 17 Maret 2014]
Bailey, Regina, [n.d.]. Protein Function. [online]
Terdapat pada:
<http://biology.about.com/od/molecularbiology/a/aa1
01904a.htm> [diakses pada 17 Maret 2014]
Bio Factsheet, 2001. Structure and Biological
Functions of Protein [pdf] Bio Factsheet. Terdapat

15

SINTESIS PROTEIN

Transkripsi
Proses transkripsi adalah proses dimana urutan nukleotida yang terdapat pada molekul DNA
disalin menjadi urutan nukleotida pada RNA.
a) Prokariot
Pada makhluk prokariot, tahap transkripsi dibagi menjadi tiga macam, yakni inisiasi, elongasi,
dan terminasi.
Inisiasi
RNA polimerase holoenzim menempel di bagian promotor suatu gen yang keadaanya
masih tertutup.
RNA polimerase holoenzim lama-kelamaan akan terikat kuat dan ikatan hidrogen DNA
akan terbuka sehingga menyebabkan bagian promotor terbuka.
Bagian DNA yang terbuka, setelah penempelan enzim polimerase, biasanya akan
membentuk untai tunggal dan membentuk suatu gelembung transkripsi.
RNA polimerase akan menggabungkan nukleotida RNA menjadi bentuk transkrip RNA
dengan menggunakan urutan DNA sebagai cetakkannya.
Setelah proses ini selesai, subunit akan terlepas dari enzim inti dan digunakan lagi oleh
RNA polimerase selanjutnya
Proses inisiasi dapat dihambat dengan keberadaan antibiotik rifampisin.
Elongasi
Pada bagian gelembung transkrip, basa RNA membentuk hibrid dengan DNA.
Ketika RNA polimerase bergerak, hibrid tersebut akan terlepas dan DNA akan tertutup
kembali.
RNA polimerase bergerak untuk membaca DNA cetakan sehingga terjadi proses
pemanjangan untaian RNA dimana RNA polimerase membuka untaian DNA, sehingga
bagian depan DNA cetakan bergerak lurus dan di bagian belakang terpuntir kembali.
Dalam pemanjangan transkrip, ujung 3 molekul RNA terbentuk, karena penambahan
nukleotida yang bersifat komplementer dengan nukleotida cetakan DNA.
Proses elongasi dapat terhambat oleh keberadaan antibiotik streptolidigin.
Terminasi
RNA polimerase pada akhirnya akan mencapai ujung gen.
Terminator ada dua macam, yakni terminator yang tidak tergantung protein rho (berakhir
karena adanya suatu urutan nukleotida) dan terminator yang bergantung pada protein rho
(berakhir karena adanya protein rho).
Terminator yang tidak tergantung protein rho terjadi apabila terdapat daerah yang
mengandung urutan GC yang bisa membuat struktur batang dan lengkung, sehingga
menyebabkan RNA polimerase berhenti dan merusak 5 dari hibrid RNA-DNA.
Terminator yang bergantung pada protein rho terjadi apabila protein rho ikut terikat
mengikuti pergerakan RNA polimerase yang berhenti pada daerah sesaat mensintesis
lengkungan RNA. Hal ini menyebabkan destabilitas RNA-DNA sehingga transkrip terlepas
dari DNA cetakan.
b) Eukariot
Transkripsi pada makhluk eukariot, mekanismenya nyaris sama dengan prokariot yang
membedakannya adalah pada eukariot RNA polimerase tidak langsung menempel pada
16

daerah promotor di DNA, tetapi menggunakan protein-protein lain sebagai faktor transkripsi
(TF) sebagai perantaranya.
Pada eukariot, transkripsi gen dibagi menjadi tiga kelas, yakni transkripsi gen kelas I,
transkripsi gen kelas II, dan transkripsi gen kelas III. Ketiga kelas tersebut memiliki faktor
transkripsi (TF) yang berbeda-beda.
Pada transkripsi gen kelas I , faktor transkripsinya adalah SL1 dan UBF
Pada transkripsi gen kelas II, faktor transkripsinya adalah TFIIA, TFIIB,TFIID,TFIIE,TFIIH, dan
TFIIJ.
Pada transkripsi gen kelas III, faktor transkripsinya adalah TFIIIA, TFIIIB, TFIIIC dan protein
TBP.

Translasi
Translasi adalah proses ketika urutan nukleotida pada molekul mRNA diterjemahkan menjadi
rangkaian asam-asam amino selaku penyusun polipeptida atau protein. Molekul mRNA berfungsi
sebagai salinan urutan DNA penyusun suatu gen yang berbentuk ORF (open reading frame /
kerangka baca terbuka). Open Reading frame adalah suatu wilayah sekuen dari nukleotida yang
dimulai dengan start codon (ATG) dan berakhir dengan stop codons (TAA, TAG, TGA). Suatu ORF
dicirikan,yakni :

Kodon inisiasi translasi (urutan ATG pada DNA atau AUG pada mRNA)
Serangkaian urutan nukleotida yang menyusun banyak kodon
Kodon terminasi translasi (TAA,TAG, TGA pada DNA / UAA,UAG,UGA pada mRNA)

1. Tahapan Proses Translasi


Translasi terbagi menjadi tiga proses, yakni:
Initiation: Ketika subunit kecil ribosom bekerja dengan tRNA
dan asam amino metionin menjumpai mRNA, ia memasukan
dan memulai untuk mengaktifkan sinyal awal (start signal).

gambar 1.1 inisiasi


Elongation: tRNA dan asam amino masuk ke ribosom, pada
kodon berikutnya dari kodon AUG.

gambar 1.2 elongasi


Terminasi : Ketika ribosom mencapai satu dari tiga kodon
stop, sehingga tidak ada tanggapan lagi dari tRNAs untuk
sekuen tersebut.

gambar 1.3 terminasi


17

2. Faktor Translasi
Faktor translasi adalah faktor pembantu dalam pelaksanaan proses translasi. Makhluk
prokariot memiliki faktor translasi yang berbeda dengan makhluk eukariot seperti table dibawah ini.

Tabel 2.1 faktor translasi


3. Proses Translasi pada Prokariot dan Eukariot
Tahapan pada proses translasi terbagi
menjadi tiga tahapan, yakni inisiasi, elongasi, dan
terminasi. Ketiga tahapan tersebut terdapat pada
proses translasi makhluk eukariot dan pada proses
translasi makhluk prokariot. Namun, terdapat
perbedaan di keduanya pada tahapan inisiasi, yang
akan dijabarkan di bawah ini.
a) Inisiasi
Prokariot
Dengan faktor IF-1, terjadilah proses
disosiasi yakni pengubahan ribosom 70 S
menjadi subunit 50S dan 30S.
Faktor IF-3 melakukan proses pengikatan
dengan subunit 30S
Proses pengikatan IF-1, IF-2, dan GTP
dilakukan bersama-sama dengan IF-3
Selanjutnya terjadi pengikatan mRNA dan
fmet-tRNAf untuk membentuk kompleks
inisiasi 30S.
Lalu, terjadi proses pengikatan subunit 50S,
IF-1 dan IF-3
18

Kemudian IF-2 terlepas dari kompleks bersamaan dengan hidrolisis GTP membentuk
kompleks inisiasi 70S.
Eukariot
Ribosom berikatan dengan tRNAi pada ujung 5
kemudian melakukan scanning ke arah hilir
hingga menemukan kodon awal.
Mengubah subunit kecil ribosom 40S menjadi
bentuk yang siap menerima aminoasil-tRNA
pertama dengan elF-3
Membentuk kompleks 43S setelah aminoasil
tRNA pertama melekat dengan elF-2
Pelekatan mRNA ke kompleks 43S untuk
membentuk kompleks 48S dengan elF-4
Subunit besar melekat membentuk kompleks
80S dengan elF-5
faktor anti-asosiasi mencegah subunit 60S
berasosiasi dengan subunit 40S dengan elF-6
Proses stimulasi inisiasi translasi dengan elF4F

b) Elongasi
Melakukan pengikatan aminoasil tRNA
pada sisi A yang ada di ribosom
Terjadi pemindahan rantai polipeptida yang
terdapat pada tRNA yang ada pada sisi P
ke arah sisi A dengan membentuk ikatan
peptide
Mentranslokasi ribosom sepanjang mRNA
ke posisi kodon selanjutnya yang ada di
sisi A
c) Terminasi
Proses translasi berakhir ketika salah satu
dari
ketiga
kodon
terminasi
(UAA,UGA,UAG) yang ada pada mRNA
mencapai posisi A pada ribosom.
Pada prokariot terdapat dua releasing
faktor untuk mengenali kodon stop, yakni
RF1 yang mengenali kodon UAA atau UAG
dan RF2 akan mengenali kodon UAA atau
UGA.
Pada eukariot hanya terdapat satu eRF
yang mengenali ketiga kondon terminasi.

Gambar 3.2 Elongasi (kiri) dan Terminasi (kanan)

19

Sumber :
Yuwono, Triwibowo. 2008. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK9849/ (Translation of mRNA)
http://www.pearsonhighered.com/mathews/ch28/c28et.htm (Eukaryotic vs Prokaryotic Translation)
https://www.rpi.edu/dept/bcbp/molbiochem/MBWeb/mb2/part1/translate.htm (Translation: Protein
Synthesis)

20

Metode Deteksi Protein


Ranee Devina Rusli Putri
(1206212483- Teknologi Bioproses)

ABSTRAK
Protein merupakan makromolekul biokimia yang penting untuk kehidupan sel. Protein meliputi lebih
dari 50% bobot kering sebagian besar sel, dan molekul ini sangat berguna sebagai alat bantu
dalam hampir setiap hal yang dilakukan oleh organisme. Protein merupakan suatu molekul yang
dikenal mempunyai struktur paling rumit. Sesuai dengan fungsinya yang beragam, molekul protein
sangat beragam strukturnya. Pada makalah ini, dijelaskan berbagai metode untuk mendeteksi
keberadaan protein, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Makalah disusun berdasarkan
penelusuran jurnal- jurnal, buku, dan juga situs- situs yang membahas tentang metode deteksi
protein. Dalam makalah ini, juga dijelaskan metode deteksi asam amino.

Kata Kunci
Protein, FTIR (Fourier Transform Infrared), Metode Biuret, Spektroskopi NMR, Kjeldahl, Lowry,
Bradford, Kristalisasi X-ray, Xanthoproteic, Ninhidrin, CD Spektroskopi, Western Blotting.

1. KUANTITATIF
Metode kuantitatif berkaitan dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu yang ada
dalam sampel. Metode kuantitatif yang dapat digunakan untuk menentukan kadar protein
dalam suatu sampel antara lain: metode spektroskopi, FTIR, metode Biuret, Lowry, Kjeldahl.
i.

FTIR (Fourier Transform Infrared)


Spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) merupakan salah satu metode
baku untuk mendeteksi struktur molekul senyawa melalui identifikasi gugus fungsi
penyusun senyawa. Identifikasi protein dilakukan dengan menganalisis serapan gugus
fungsi dengan Fourier Transform Infrared (FTIR).
Dalam spektroskopi inframerah, sinar inframerah dilewatkan pada sampel lalu
diukur fraksi radiasi yang terabsorbsi pada rentang panjang gelombang menghasilkan
spektrum yang menunjukkan informasi kualitatif dari protein. Struktur kimia dan bentuk
ikatan molekul serta gugus fungsional tertentu sampel yang diuji menjadi dasar bentuk
spektrum yang akan diperoleh dari hasil analisis. Daerah panjang gelombang yang
digunakan spektroskopi inframerah adalah panjang gelombang 2,5-50 m atau pada
bilang gelombang 4000-200 cm-1. Vibrasi yang digunakan untuk identifikasi adalah
vibrasi bengkokan, khususnya goyangan (rocking), yaitu yang berada di daerah
bilangan gelombang 2000-400 cm-1. Karena di daerah antara 4000-2000 cm-1
merupakan daerah yang khusus yang berguna untuk identifikasi gugus fungsional.
Oleh karena itu daerah 2000-400 cm-1 tiap senyawa organik mempunyai absorbsi yang
21

unik, sehingga daerah tersebut sering disebut sebagai daerah sidik jari (fingerprint
region).Gugus karbonil yang teroksidasi teridentifikasi pada bilangan gelombang 17201710 cm-1 yang termasuk dari wilayah daerah infra merah pertengahan.
Cara kerja spektroskopi inframerah adalah sampel di scan, yang berarti sinar
inframerah akan dilakukan ke sampel. Gelombang yang diteruskan oleh sampel akan
ditangkap oleh detektor yang terhubung ke komputer, yang akan memberikan
gambaran spektrum sampel yang di uji. Struktur kimia dan bentuk ikatan molekul serta
gugus fungsional tertentu sampel yang di uji menjadi dasar bentuk spektrum yang akan
diperoleh dari hasil analisis.
Analisis menggunakan spektrofotometer ini memiliki dua kelebihan utama
dibandingkan metoda konvensional lainnya, yaitu:

Tabel 1. Gugus fungsi spesifik pada bilangan


gelombang tertentu. Sumber: (Sari, Mayang. 2011.
Identifikasi Protein Menggunakan Fourier Transform
Infrared (FTIR))

ii.

Dapat digunakan pada semua frekuensi dari sumber cahaya secara


simultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada
menggunakan cara sekuensial atau pemindaian.
Sensitifitas dari metoda spektroskopi FTIR lebih besar daripada cara
dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistem detektor lebih banyak
karena tanpa harus melalui celah.

Metode Biuret

Gambar 1. Kompleks tembaga dan ikatan


peptida pada protein. Sumber: (Ninfa,
Alexander.J;
Ballou,
David.P;
Benore,
Marilee. 2009. Fundamental Laboratory
Approaches
for
Biochemistry
and
Biotechnology)

Pada kondisi alkali, tembaga (II) akan


berikatan dengan peptida nitrogen dari
protein, dan bentuk ini akan menyerap
cahaya maksimal pada 550 nm (Gornall et al,
1949). Berdasarkan pernyataan ini, pada
reaksi Biuret beberapa Cu2+ tereduksi
menjadi Cu1+ pada reaksi kedua dengan
protein: hal ini digunakan pada deteksi
protein bicinchonicnic acid (BCA). Karena
tembaga bereaksi dengan ikatan peptida,
22

terdapat sedikit gangguan dari asam amino bebas. Beberapa buffer, seperti tris, dan
amonia, bereaksi dengan tembaga (II), sehingga mereka juga mengganggu uji Biuret
ini. Gangguan dari ammonia membuat metode ini tidak praktis untuk sampel protein
yang mengandung ammonia dalam konsentrasi tinggi. Metode ini membutuhkan jumlah
protein yang cukup banyak (1- 20 mg protein/mL) untuk deteksi.
iii.

Metode Lowry
Metode Lowry telah banyak digunakan
sebagi metode untuk mengetahui jumlah protein
dalam sampel. Metode Lowry (uji Lowry) adalah uji
kolorimetrik kuantitatif yang paling sensitif untuk
deteksi protein. Uji ini hanya memerlukan 0,005
hingga 0,3 mg protein/ mL untuk deteksi. Metode ini
merupakan modifikasi dari metode Biuret. Dasar dari
metode Lowry ialah menentukan konsentrasi protein
berdasarkan reaktivitas peptida nitrogen dengan ion
tembaga II dalam keadaan alkali, dan reduksi FolinCiocalteay phosphomolybdic phosphotungstic acid
menjadi heteropolymolybdenum blue dari oksidasi
copper-catalyzed. Jumlah protein pada sampel
dapat diketahui dengan membaca absorbansi (pada
750 nm) pada produk akhir reaksi Folin terhadap
kurva standar dari larutan protein standar.
Metode Lowry sensitif terhadap perubahan pH,
karena itu pH harus dipertahankan pada 10- 10,5.
Berbagai senyawa dapat mengganggu metode
Lowry, antara lain turunan asam amino, lipid, gula,
garam, dan reaktan sulphydryl (Dunn, 1992). Ion
ammonium, dan komponen thiol juga dapat
mengganggu metode Lowry. Substansi tersebut
harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum
melakukan uji Lowry.

Gambar 2. Langkah metode Lowry.


Sumber:(http://web.itu.edu.tr/~dulekgur
gen/Proteins.pdf)

23

iv.

Metode Bradford (Dye-Binding)

Ikatan Coomasie Blue G250 dengan protein


menyebabkan perubahan absobsi maksimum
reagen dari 465 nm (merah) menjadi 595 nm (biru)
pada larutan asam (Bradford, 1976; Sedmark dan
Grossberg, 1977). Reagen ini membentuk kompleks
yang kuat, dan nonkovalen dengan protein dengan
interaksi elektrostatik dengan grup amino dan grup
karboksil dan karena gaya Van der Waals. Metode
ini adalah prosedur 1 langkah yang mudah, dimana
reagen
ditambahkan
kepada
sampel,
dan
absorbansi dapat diukur pada 595 nm.
Gambar 3. Coomassie Brilliant Blue G-250.
Semakin
banyak
konsentrasi
protein,
Sumber: (Ninfa, Alexander.J; Ballou, David.P;
semakin intens warna biru yang terjadi. Metode ini
Benore, Marilee. 2009. Fundamental Laboratory
lebih cepat, dan kurang rentan terhadap zat- zat
Approaches for Biochemistry and Biotechnology)
mengganggu dibandingkan metode Biuret dan
Lowry. Warna akan terjadi sekitar 2-5 menit, dan
stabil hingga 24 jam. Karena alasan inilah, metode Bradford menjadi metode yang
paling popular untuk identifikasi protein.
v.

Metode Kjeldahl
Metode ini ditemukan oleh Johan Kjeldahl pada tahun 1880-an. Terdapat tiga
langkah metode ini:
Protein + H2SO4  CO2 + (NH4)2SO4 + SO2
(NH4)2SO4 + 2NaOH  Na2SO4 +NH3 + 2H20
NH3 +H3BO3 NH4 + + H2BO3H2BO3- + H+ H3BO3

Tabel 2. Prosedur Metode Kjeldahl untuk


deteksi protein. Sumber: (Ninfa, Alexander.J;
Ballou, David.P; Benore, Marilee. 2009.
Fundamental Laboratory Approaches for
Biochemistry and Biotechnology)

Destruksi(1)
Destilasi(2)
(3)
Titrasi(4)

Asam amino merupakan materi


pembentuk protein, dan mengandung
karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dan
nitrogen (Tabel 2). Metode Kjeldahl
akan
mendeteksi
keberadaan
nitrogen. Nitrogen yang ditemukan,
dikalikan dengan 5,7 (untuk gandum),
dan 6,25 untuk biji- bijian lainnya
(contoh: padi). Prosedur metode
Kjeldahl menggunakan asam sulfat
dengan konsentrasi tinggi, dan caustic
kuat.

24

Prosedur metode Kjeldahl antara lain:


Tumbuk, dan timbang 1 gram (~ 1/28 oz) biji- bijian.
Campurkan pada asam sulfat konsentrasi tinggi, untuk mengubah
protein nitrogen menjadi amoni (NH3).
Tambahkan 50 % caustic untuk membuat amonia volatil.
Panaskan ammonia hingga mendidih, dan kumpulkan dengan distilasi.
Ukur jumlah ammonia yang diperoleh dengan titrasi.
2. KUALITATIF
Beberapa metode telah digunakan untuk mengetahui struktur protein, termasuk
kristalisasi x-ray, spektroskopi NMR, dan mikroskopi elektron. Tiap metode memiliki kelebihan
dan kekurangannya masing- masing. Pada setiap metode, ilmuwan menggunakan banyak
informasi untuk membuat model protein yang utuh. Pertama- tama, ilmuwan melakukan
eksperimen tentang struktur molekul. Untuk kristalisasi x-ray ialah pola difraksi, untuk
spektroskopi NMR ialah informasi penyesuaian lokal, dan jarak antara atom- atom yang
berdekatan satu sama lain. Pada mikroskopi elektron yaitu gambaran keseluruhan bentuk
molekul.
Pada banyak kasus, informasi yang diperoleh dari eksperimen tidaklah cukup untuk
membuat model atom dari sebuah goresan. Pengetahuan tambahan tentang stuktur molekular
sangat dibutuhkan. Sebagai contoh, kita sudah mengetahui tentang sequence asam amino
pada protein, dan kita dapat mengetahui bentuk geometri atom masing- masing protein seperti
panjang ikatan, sudut ikatan). Informasi ini membantu ilmuwan untuk membentuk model yang
konsisten, baik dengan data eksperimen, komposisi yang diharapkan, dan geometri dari
molekul.
i.

Kristalisasi X-ray
Sebagian besar struktur yang terdapat pada
PDB (Protein Databank) diperoleh dengan metode
kristalisasi X-ray. Pada metode ini, protein dibersihkan,
dan dikristalisasi, kemudian dipaparkan sinar X-ray.
Protein pada kristal mendifraksi sinar X-ray kepada
karakteristik pola satu sama lain, yang kemudian
dianalisis untuk menentukan distribusi elektron pada
protein.
Hasil
pemetaan
elektron
kemudian
diinterpretasikan untuk menentukan lokasi masingmasing atom.

Gambar 4. Eksperimen densitas elektron


pada
struktur
DNA.
Sumber:
(www.rscb.org/pdb/101/static101.do?p=educ
tion_discussion/Looking-atStructures/methods.html)

Kristalisasi X-ray dapat menyediakan informasi


atomik yang sangat detil, memperlihatkan setiap atom
yang terdapat pada protein atau asam nukleat,
bersama dengan detil atom seperti ligand, inhibitor,
ion, dan molekul lainnya yang bersatu menjadi sebuah
kristal. Namun, proses kristalisasi cukup sulit, dan
dapat menurunkan limit jenis protein yang dipelajari
25

melalui metode ini. Protein fleksibel lebih sulit dipelajari melalui metode ini
karena kristalisasi mengandalkan banyak molekul berada pada satu garis pada
orientasi yang sama, seperti pola ulangan sebagai latar belakang. Bagian
fleksibel dari protein akan tak terlihat pada pemetaan densitas elektron
kristalisasi, karena densitas elektronnya tersebar pada tempat yang luas.
ii.

Spektroskopi NMR
Spektroskopi NMR dapat digunakan untuk
menentukan struktur protein. Protein dibersihkan, dan
ditempatkan pada suatu tempat dengan energi
magnetik yang kuat, dan diselidiki dengan gelombang
radio. Resonansi khusus yang terobservasi dapat
dianalisis untuk memberikan list atom nukleus yang
berdekatan
satu
sama
lain,
dan
untuk
mengkarakterisasi penyesuan lokal dari atom- atom
yang terikat bersama. List ini kemudian digunakan ntuk
membuat model protein yang memperlihatkan lokasi
dari setiap atom. Teknik ini terbatas hanya untuk
protein kecil, dan sedang, karena protein besar

Gambar 5. Beberapa restrain


digunakan
untuk
memecahkan
struktur
untuk
monomeric
hemoglobin
kecil.
(Sumber:(www.rscb.org/pdb/101/sta
tic101.do?p=
eduction_discussion/Looking-atStructures/methods. html)

mengalami permasalahan dengan overlapping peaks


pada spektrum NMR.

Keuntungan utama dari metode spektroskopi


NMR ini ialah metode ini menyediakan informasi
protein, dan spektroskopi NMR merupakan metode
utama untuk mempelajari stuktur atom protein
fleksibel. Struktur NMR yang khusus dapat meliputi
struktur protein yang konsisten dengan list observasi.
iii.

Gambar 7. The tail of the T4 bacteriophage


has been examined by combining electron
microscopy and atomic structures. Sumber :
(www.rscb.org/pdb/101/static101.do?p=e

duction_discussion/Looking-at
Structures/ methods.html)

Mikroskopi Elektron

Sinar
elektron
digunakan
untuk
menggambarkan molekul secara langsung. Beberapa
trik dapat digunakan untuk membuat gambar 3D.
Apabila protein dapat diubah menjadi bentuk kristal
kecil, atau apabila mereka terbungkus secara simetris
pada memban, difraksi elektron dapat digunakan
untuk memetakan densitas 3D, dengan menggunakan
metode yang mirip dengan difraksi X-ray. Apabila
molekulnya sangat simetris, seperti kapsid virus,
banyak gambar- gambar terpisah yang dapat
diperoleh, dengan berbagai sudut pandang. Gambargambar tersebut kemudian diluruskan dan dirataratakan untuk membentuk informasi 3D. Tomografi
elektron mendapatkan banyak gambar dengan
memutar spesimen dan mengambil beberapa electron
26

micrograph. Kemudian gambar- gambar ini diproses untuk memberikan


informasi 3D.
Metode mikrografi elektron seringkali digabungkan dengan informasi
dari kristalisasi X-ray atau spektroskopi NMR untuk menghasilkan detail atom.
Struktur atom dikaitkan dengan pemetaan densitas elektron untuk membentuk
model dari kompleks. Metode ini telah terbukti berguna untuk struktur
multimolekular seperti ribosom, tRNA, dan struktur actomyosin otot.
iv.

Circular Dichroism (CD) Spektroskopi


CD spektroskopi merupakan metode analisis yang
sensitif untuk struktur protein. Metode ini dapat
mendeteksi struktur sekunder dan tersier dari protein.
UV jauh: = 190-250 nm (untuk mengetahui struktur
sekunder dari protein). UV jauh membutuhkan 20-200
L larutan yang mengandung 1 mg/mL hingga 50
g/mL, pada buffer yang tidak memiliki absorbansi
tinggi pada region spektrum ini (seperti histidine,
dithiothreitol, atau imidazole dengan konsentrasi
tinggi.

Gambar 8. Circular Dichroism (CD)


spectroscopy . Sumber: (brown.edu)

UV dekat: = 250-320 nm (untuk mengetahui struktur


tersier dari protein). UV dekat sensitif terhadap
perubahan struktur tersier berdasarkan interaksi antar
protein, dan atau perubahan kondisi pelarut. Kekuatan sinyal pada UV dekat
sangat lemah dibandingkan sinyal pada UV jauh. UV dekat membutuhkan
sekitar 1 mL larutan protein ( 0,5 hingga 1 mg/mL protein).

3. ANALISIS ASAM AMINO

i.

Uji Ninhidrin

Gambar 8. Reaksi uji ninhidrin. (Sumber: http://amrita.


vlab.co.in/)

27

Reaksi antara -amino acid dan ninhidrin membentuk perubahan warna yang
dapat dijelaskan dengan 5 langkah:
-amino acid + ninhidrin  ninhidrin tereduksi + -amino acid + H2O
-amino acid + H2O  -keto acid + NH3
-keto acid + NH3  ALDEHID + CO2
Langkah pertama adalah reaksi oksidasi deamination yang melepaskan dua
hidrogen dari -amino acid untuk menghasilkan -imino acid. Secara serempak,
ninhidrin tereduksi dan kehilangan atom oksigen dengan pembentukan molekul air.
Pada tahap kedua, kelompok NH pada -imino acid dengan cepat terhidrolisis untuk
membentuk -keto acid, dan karbondioksida terbentuk pada tahap ini. Ketiga langkah
pertama ini menghasilkan ninhidrin tereduksi, dan ammonia yang dibutuhkan untuk
memproduksi kedua langkah terakhir. Reaksi keseluruhannya ialah:
- amino acid + 2 ninhydrin ---> CO2 + aldehyde + final complex(BlUE) + 3H2O
Sebagai ringkasan, ninhidrin yang semula berwarna kuning, akan bereaksi
dengan asam amino dan berubah menjadi warna ungu. Warna ungu inilah yang
terdeteksi pada metode ini.
ii.

Uji Xantoproteic

Gambar 9. Reaksi pada


http://amrita. vlab.co.in/)

iii.

uji

Xantoproteic.

(Sumber:

Asam amino aromatik, seperti


Fenilalanin, tirosin, dan triptophan dapat
dianalisis menggunakan uji ini. Dengan
adanya konsentrasi asam nitrat, cincin
aromatik
fenil
ternitrasi
untuk
menghasilkan warna kuning. Pada pH
alkali, warnanya berubah menjadi jingga
karena ionisasi dari kelompok fenol.

Uji Paulys diazo


Uji ini spesifik untuk deteksi tritophan atau histidin. Reaktan yang digunakan
untuk uji ini mengandung sulphanilic acid yang dihancurkan di dalam hydrochloric acid.
Terjadi proses diazotization karena adanya sodium nitrite dan hydrochloric acid, dan
menghasilkan garam diazonium. Garam diazonium membentuk pasangan dengan
tirosin atau histidin pada medium alkali untuk menghasilkan warna merah.

28

iv.

Western Blotting
Pada teknik ini, campuran protein dipisahkan
berdasarkan berat molekulnya, dan melalui gel elektroforesis.
Teknik ini meliputi 3 hal, yaitu: (1) pemisahan berdasarkan
berat molekul, (2) perpindahan ke membran, (3)
Menandakan protein target dengan menggunakan antibodi
primer, dan sekunder.
Langkah- langkah Western Blotting:
Preparasi sampel.
Sel dilisiskan, dan akan diperoleh protein murni dari sampel.
Kemudian campurkan dengan Leammli buffer, yang
mengandung Sodium dodecyl Sulphate (SDS), dan betamercaptoethanol (BME) kedalam protein murni. Kemudian
sampel di sentrifugasi, dan dipanaskan dalam air panas,
yang akan mendenaturasi protein, dan menjadikan SDS
berikatan dengan protein dan memiliki positif negatif.
Elektroforesis gel (PAGE)
Protein dipisahkan berdasarkan ukurannya pada gel ini,
protein dengan ukuran lebih kecil akan berpindah dengan
lebih mudah dibandingkan protein ukuran besar. Gel
kemudian dihubungkan ke power supply, dan dihidupkan.
Voltase yang digunakan harus disesuaikan, karena
tegangan tinggi dapat membuatnya terlalu panas dan
merusak ikatan protein.
Transfer membran.
Protein berpindah ke membran. Membran yang digunakan
adalah nitroselulosa dan PVDF. Terdapat dua jenis transfer
basah, dan semi basah.
Immunoblotting
Menggunakan antibodi primer dan sekunder yang telah
dilabeli enzim. Antibodi berikatan dengan sequence tertentu
pada asam amino, yang disebut epitope. Karena sequence
asam amino pada setiap protein berbeda- beda, maka
antibodi dapat membedakan protein tertentu diantara
lainnya.
Deteksi
Proses ini tergantung pada enzim yang berikatan dengan
antibodi sekunder. Umumnya, enzim yang digunakan
adalah HRP, dan substrat yang digunakan adalah
chemiliminescent. Ketika substrat telah ditambahkan,
warnanya dapat dideteksi oleh film.
Gambar 10. Langkah Western Blotting.
Sumber: (http://amrita.vlab.co.in/?
sub=3&brch=187&sim=1331&cnt=1)

29

KESIMPULAN
Keberadaan protein dapat dideteksi dengan berbagai cara, baik kualitatif maupun
kuantitatif. Metode deteksi kuantitatif protein antara lain metode Fourier Transform Infrared
(FTIR), uji biuret, metode Kjedahl, metode Lowry, metode Bradford. Sementara metode deteksi
protein kualitatif antara lain kristalisasi X-ray, spektroskopi NMR, mikroskopi elektron, dan CD
Spektroskopi.Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing. Masingmasing metode memiliki kriteria protein yang berbeda- beda untuk dideteksi. Dengan berbagai
metode deteksi tersebut, kita dapat mengetahui struktur, dan model 3D dari protein .
Sementara untuk deteksi asam amino, terdapat uji Ninhidrin, uji Xanthoproteic, uji Paulys
diazo, dan metode Western Blotting. Berbagai uji tersebut mendeteksi asam nukleat tertentu.
Dengan metode deteksi asam amino, kita dapat mengetahui kandungan asam amino tertentu
dalam suatu zat tertentu.
REFERENSI
Ninfa, Alexander.J; Ballou, David.P; Benore, Marilee. 2009. Fundamental Laboratory
Approaches
for
Biochemistry
and
Biotechnology.[e-book].Available
at
:
<http://chem.winthrop.edu/faculty/grossoehmE/link_to_webpages/courses/chem525/methods.p
df> [Accesed: 15 Mar 2014]
Wang, Nam Sun. Amino Acid Assay By Ninhydrin Colorimetric Method. [online] Maryland.
Available at: < http://www.eng.umd.edu/~nsw/ench485/lab3a.htm>[Accesed 15 Mar 2014].
Sari, Mayang. 2011. Identifikasi Protein Menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR).
[online].
Available
at:
<
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20306347-S42221Identifikasi%20protein.pdf> [Acessed 14 Mar 2014]
Anonymous. Looking at Structures: Methods for Determining Atomic Structures. [online].
Available
at:<www.rscb.org/pdb/101/static101.do?p=eduction_discussion/Looking-atStructures/methods. html> [Accesed 17 Mar 2014]
Campbell, Neil. A., Reece, Jane. B., and Mitchell, Lawrence.G., 2002. BIOLOGY, Fifth
Edition.Jakarta: Erlangga.
Ranjbar, Bijan; Gill, Pooria. 2009. Circular Dichroism Techniques: Biomolecular and
Nanostructural Analyses- A Review. [online]. Iran. Available at : < http://shaker.umh.es/
Docencia/aesma/review.CD.2009.pdf>. [Accesed: 20/03/14]
Mahmood, Tahrin; Yang, Ping-Chang. 2012. Western Blot: Technique, Theory, and Trouble
Shooting.
[online].Canada.
Available
at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/
PMC3456489/>. [Accesed: 21/03/13]

30

Aplikasi Protein Dalam Berbagai Aspek Kehidupan


Fhani Meliana 1206212413, Universitas Indonesia
Abstrak
Melalui pengetahuan terhadap dasar molekuler berbagai penyakit dan mengingat teknologi
yang telah berkembang saat ini, maka akan semakin mungkin dan mudah dalam
merekayasa biomolekul, khususnya protein. Penggunaan protein rekombinan meningkat
pesat dalam bidang kimia dan kesehatan. Protein rekombinan diaplikasikan secara luas
seperti terapi, vaksin, diagnosa dan enzim. Dalam bidang kecantikan, protein juga banyak
diaplikasikan dalam bentuk kolagen, elastin, keratin, dan kasein. Selain itu, aplikasi protein
yang banyak diterapkan dalam bidang peternakan adalah protein sel tunggal (PST) atau
single cell protein (SCP) dan protein in vitro.
Keyword: fenilalanin, glycomacropeptia, vitiligo, HSP70i, vaksin, hemaglutinin, kolagen,
protein sel tunggal
I. Aplikasi Protein di Bidang Kesehatan dan Farmasi
Terapi Fenilketonuria (PKU)
Feniketonuria adalah gangguan genetik yang disebabkan mutasi gen pengatur katabolisme
fenilalanin sehingga kelebihan fenilalanin akan tertimbun dalam darah sebagai derivat yang
meracuni sistem syaraf pusat. Oleh karena itu, pengidap fenilketonuria harus melakukan diet ketat
fenilalanin. Fenilalanin biasanya terdapat pada permen karet, kacang kemasan, dan pemanis
buatan aspartam merupakan turunan fenilalanin.
Penelitian mengenai diet untuk pengidap fenilketonuria telah dilakukan oleh Universitas Wisconsin
Madison, dan telah ditemukan produk potensial yang dapat digunakan untuk terapi pasien
fenilketonuria yang disebut Glycomacropeptia (GMP). GMP adalah protein yang merupakan produk
dari proses produksi keju. Protein GMP diekstraksi dari cairan air dadih (whey) sebagai sisa
produksi keju. Protein GMP memiliki kandungan fenilalanin dan menggunakan proses yang
dikembangkan oleh Dr. Etzel, dapat dimurnikan lebih lanjut hingga mengandung 0,2mg fenilalanin
per 100 mg bubur GMP. Dengan kandungan fenilalanin yang rendah, GMP adalah produk
potensial yang dapat digunakan sebagai sumber protein untuk diet pasien fenilketonuria. GMP
sudah diteliti lebih jauh sebagai peluang untuk menggantikan makanan kesehatan berbasis asam
amino yang biasanya digunakan pada pengidap fenilketonuria untuk membuat makanan berprotein
rendah, memiliki kandungan protein tinggi tanpa penambahan fenilalanin.
Penelitian GMP untuk tikus telah dilakukan sebelum perencanaan GMP untuk manusia. Hasil
penelitian menunjukkan tikus diberi jumlah kalori dan protein yang sama, ketika diberi GMP
sebagai sumber protein utama tumbuh dan berkembang sama seperti tikus yang diberi diet tipe
fenilalanin. GMP diketahui satusatunya teknik natural diet protein fenilalanin. Selain kandungan
fenilalanin yang rendah, GMP juga memiliki kandungan tirosin dan empat asam amino lainnya.
Maka, penelitian terhadap tikus memerlukan tambahan tirosin dan empat asam amino lainnya. Di
sisi lain GMP memilki kandungan tinggi dalam isoleusin dan treonin. Pada faktanya treonin pada
GMP tiga kali lebih banyak pada campuran asam amino dari formula standar untuk fenilketonuria.
Kandungan treonin yang tinggi akan berdampak positif bagi level fenilalanin pada darah. Dalam
penelitian plasma tikus yang diberi GMP memiliki kandungan fenialanin 10% lebih rendah
dibandingkan tikus yang diberi formula asam amino.

31

Protein Rekombinan Untuk Terapi Gangguan Kulit Vitiligo


Telah ditemukan rekayasa protein yang dapat mengobati
vitiligo, gangguan kulit pada tikus dan memiliki efek yang
sama pada respon kekebalan pada sampel jaringan kulit
manusia. Vitiligo adalah gangguan kulit berupa bercak putih
pada wajah, tangan dan bagian lain dari tubuh yang
diakibatkan menurunnya pigmentasi kulit.
Sekitar 1 juta orang Amerika memiliki vitiligo, namun vitiligo
lebih terlihat pada individu dengan kulit berwarna. Pada
gangguan vitiligo diikuti gangguan autoimun, sistem kekebalan
tubuh masuk ke overdrive dan membunuh sel-sel pigmen yang
memberikan warna kulit nya. Studi sebelumnya telah
menemukan bahwa protein yang disebut HSP70i memainkan
peran penting dalam respon autoimun yang menyebabkan
vitiligo. (HSP70i memiliki singkatan Heat Shock Protein 70i.)

Gambar 1. Gangguan Vitiligo


Sumber:
http://cdn.medindia.net/healt
h-images/vitiligo-1.jpg

HSP70i terdiri dari 641 yang disebut asam amino. Le Poole dan
rekan dimodifikasi secara genetik salah satu asam amino untuk
membuat HSP70i mutan. Protein mutan ini bernama supplants
SP70I normal, sehingga membalikkan respon autoimun vitiligo itu.

Gambar 2. Struktur HSP70i


Sumber:
http://cdn.medindia.net/he
alth-images/vitiligo-1.jpg

Resarchers Jeffrey A. Mosenson dan Andrew Zloza memberikan


mutan HSP70i pada tikus yang mengidap vitiligo. Tikus tersebut
memiliki warna bulu putih keabu abuan, tetapi ketika tikus
divaksinasi dengan mutan HSP70i, bulu menjadi hitam. Beberapa
efek terlihat pada tikus juga terlihat pada spesimen kulit manusia.
Tidak ada jangka panjang pengobatan yang efektif untuk vitiligo.
Krim steroid dapat membantu menyembuhkan vitiligo namun hanya
bersifat sementara namun pengobatan ini juga dapat membuat kulit
semakin tipis, dan dapat menyebabkan garis-garis pada kulit.

GFP
GFP atau Green Fluorescent Protein adalah protein yang dapat
berpendar yang secara alami dihasilkan oleh ubur-ubur. GFP kini
digunakan secara luas dalam studi-studi ekspresi gen maupun
mikroskopik karena aplikasinya yang relatif mudah. Hanya
dengan adanya pendaran cahaya dapat menunjukkan bahwa gen
yang kita teliti terekspresi.
GFP menjadi istimewa karena ia bersifat auto-katalitik, tidak
membutuhkan kofaktor atau enzim lain agar ia bekerja. Selain itu
GFP dapat digabung (fusi) dengan protein lain tanpa saling
mengganggu fungsi masing-masing. Sehingga GFP dapat
digunakan secara luas di berbagai organisme.Pendaran GFP
dapat diamati secara visual dengan bantuan mikroskop. Berikut
ini beberapa teknik dalam aplikasi GFP.

Gambar 3. Struktur GFP


Sumber: pdb.com

32

Fusi Translasi
Teknik pertama dikenal dengan fusi translasi, dimana ORF (Open Reading Frame) GFP diklon di
belakang ORF gen yang akan kita amati, sehingga nanti akan ditranslasi menjadi sebuah protein
gabungan yang panjang. Jadi jika kita melihat pendaran GFP maka berarti protein yang kita amati
pun terekspresi di situ. Cahaya fluorescent GFP dapat diamati dalam bentuk gambar diam maupun
bergerak sehingga kita dapat mengetahui lokasi dan pergerakan protein di dalam sel.
Fusi Transkripsi
Teknik kedua disebut fusi transkripsi dimana ekspresi gen yang kita amati dan GFP digerakkan
melalui promoter yang sama tetapi antara kedua gen tersebut diselingi oleh stop kodon, jadi
ekspresinya berbarengan namun tetap menghasilkan dua protein terpisah. Dalam hal ini sel yang
mengekspresikan gen pertama akan dipenuhi oleh GFP yang larut sehingga berpendar, dan bisa
mendeteksi sel mana yang mengekspresikannya.
FLIP dan FRAP
Kita tahu bahwa suatu molekul mengemisikan cahaya fluorescent
ketika ia tereksitasi, namun kondisi ini tidak berlangsung
selamanya, dalam jangka waktu tertentu cahayanya akan redup
dan padam. Nah, FLIP dan FRAP ini digunakan untuk
mempelajari dinamika protein yang terlabel GFP. Caranya
dengan bleach-out (memadamkan) daerah tertentu pada sel,
kemudian dilihat berapa lama waktu yang diperlukan oleh protein
terlabel protein untuk merembes kembali ke area gelap tadi,
teknik ini yang disebut FRAP (Fluorescent Recovery After
Photobleaching). Kita juga dapat mengamati seberapa besar
Gambar 4. Sel yang
mengekspresikan GFP
Sumber: bumc.bu.edu

penurunan intensitas fluorescent secara keseluruhan di bagian sel


yang lain ketika protein yang sudah diphotobleach tadi terdifusi,
atau disebut FLIP (Fluorescent Loss in Photobleaching).

FRET
FRET atau fluorescence resonance energy transfer sudah banyak diaplikasikan dalam beberapa
teknik seperti Real Time PCR. Prinsipnya yaitu dengan memanfaatkan dua buah fluophore (zat
yang dapat berfluorescent) yang mana fluorophore pertama memiliki spektrum emisi yang tumpang
tindih dengan spektrum eksitasi fluorophore kedua. Jadi ketika fluorophore pertama memancarkan
cahaya fluorescent, otomatis yang kedua pun akan tereksitasi dan memancarkan fluorescent.
Dalam aplikasinya, dua buah protein dilabel dengan dua macam GFP yang memenuhi kriteria
FRET tadi. Kemudian sel ditembak dengan laser yang dapat mengeksitasi hanya fluorophore
pertama. Dengan demikian jika protein kedua ada dekat dengan protein pertama, otomatis akan
terdeteksi juga karena memancarkan cahaya yang berbeda.
Insulin
Terapi insulin bertujuan untuk mempertahankan kadar
glukosa dalam darah penderita penyakit Diabetes Mellitus.
Penerapan terapi insulin tergantung pada tipe Diabetes
Mellitus yang dialami penderita. Pada Diabetes Mellitus tipe I
(faktor genetik), insulin merupakan satu satunya obat
hipoglikemi yang efektif. Sementara untuk Diabetes Mellitus
tipe II (faktor gaya hidup), selain insulin juga terdapat obat
hipoglikemi oral. Terapi ini juga dibedakan dengan tingkat
usia, jenis kelamin dan modifikasi gaya hidup serta
perubahan berat badan.

Gambar 5. Struktur Insulin


Sumber :
http://www.pdb.org/pdb/explore
/explore.do?structureId=4FG3

33

Gambar berikut adalah rekayasa genetika pada bakteri


untuk menghasilkan hormon insulin untuk pengendalian
gula darah pada penderita diabetes. Tahapannya adalah
sebagai berikut:
1. Tahap pertama dalam membuat bakteri yang bisa
menghasilkan insulin adalah mengisolasi plasmid
pada bakteri yang akan direkayasa. Plasmid adalah
materi genetik berupa DNA yang terdapat pada
bakteria namun tidak tergantung pada kromosom
karena tidak berada di dalam kromosom.
2. Lalu plasmid dipotong dengan menggunakan enzim
di tempat tertentu sebagai calon tempat gen baru
yang nantinya dapat membuat insulin.
3. Gen yang dapat mengatur sekresi (pembuatan)
insulin diambil dari kromosom yang berasal dari sel
manusia.
4. Gen yang telah dipotong dari kromosom sel manusia
itu kemudian direkatkan di plasmid tadi tepatnya di
tempat bolong yang tersedia setelah dipotong tadi.
5. Plasmid yang sudah disisipi gen manusia kemudian
Gambar 6. Proses Produksi Insulin
dimasukkan kembali ke dalam bakteri.
Sumber: bumc.bu.edu
6. Bakteri yang telah mengandung gen manusia
selanjutnya berkembang biak dan menghasilkan insulin yang dibutuhkan. Dengan begitu
diharapkan insulin dapat diproduksi dalam jumlah yang tidak terbatas di pabrik-pabrik.
Insulin berbeda dari satu organisme dengan organisme lainnya, meski berbeda hal ini tidak
membedakan aktivitasnya. Pada awalnya, sumber insulin untuk penggunaan klinis pada manusia
diperoleh melalui pankreas sapi atau babi. Insulin yang diperoleh dari sumber tersebut efektif bagi
manusia karena indentik dengan insulin manusia. Insulin pada manusia, babi, dan sapi mempunyai
perbedaan dalam susunan asam aminonya, tapi aktivitasnya tetap sama.
Tabel 1. Perbedaan Susunan Asam Amino Pada Insulin Manusia, Babi (Pork), Dan Sapi (Beef)
Spesies
A8
A10
B28
B29
B30
Manusia

Thr

Ile

Pro

Lys

Thr

Babi

Thr

Ile

Pro

Lys

Ala

Sapi

Ala

Val

Pro

Lys

Ala

Insulin manusia dan insulin babi hanya beda 1 asam amino yaitu pada B30, sedangkan insulin
manusia dan insulin sapi beda 3 asam amino yaitu pada A8, A10, dan B30 sehingga pemakaian
insulin babi kurang imunogenik dibandingkan insulin sapi. Tapi masalahnya, 1 babi yang
diekstraksi insulinnya hanya cukup untuk 1 orang selama 3 hari padahal saat ini ada 60 juta
orang di dunia yang menderita diabetes tergantung insulin dan diduga meningkat 5-6 % per
tahunnya. Maka dari itu sekarang banyak dikembangkan teknologi rekombinan untuk mendapatkan
insulin.
Babi sebagai sumber insulin sudah tidak asing lagi digunakan di dunia kedokteran. Untuk
menghasilkan 1 pon insulin didapatkan dari 60.000 ekor babi dan diperkirakan mampu mengobati
pasien diabetes sebanyak 750-1.000/tahun. Bila produksi babi per tahun sebanyak 85 juta maka
insulin yang mampu dihasilkan selama setahun adalah 1.400 pon. Jumlah tersebut dapat
34

mengobati pasien sebanyak 1,050 juta sampai 1,4 juta per tahun. Saat ini ada alternatif lain
pengganti insulin seperti Humulin. Humulin merupakan produk insulin manusia pertama yang
dipasarkan perusahaan farmasi Amerika serikat bernama Eli Lily pada tahun 1982. Meskipun lebih
mahal, humulin cukup diminati oleh pasien untuk mengganti hormon insulin babi. Namun, teknologi
rekayasa genetika juga telah banyak berperan dalam produksi insulin, dimana bakteri di rekayasa
sedemikian rupa sehingga mampu memproduksi insulin. Dengan demikian insulin yang beredar
pada dunia pengobatan merupakan gabungan dari insulin babi dan insulin dari bakteri.
Vaksin Protein
Virus Influenza H5N1 adalah anggota famili Orthomyxoviridae yang berasal dari kata orthos berarti
lurus dan myxa berarti lendir. Terdapat tiga jenis inang yang sering diserang oleh virus ini, yaitu
tipe A, B, dan C. Bila diklasifikasikan berdasarkan antigenitas protein permukaan virus,
Hemaglutinin dan Neuraminidase, Hemaglutinin dibagi menjadi 16 subtipe dan Neuramianidase
dibagi menjadi 9 subtipe. Fenomena H5N1 atau flu burung telah terjadi sejak tahun 1947
sedangkan di Indonesia kasus meninggal yang disebakan oleh virus ini sudah sejak tahun 2003
dan terus menurun hingga sekarang. Jumlah kasus pada manusia lebih terbatas dibandingkan
pada ternak, hal ini kemungkinan dikarenakan sifat virus yang belum mampu menular pada
manusia secara efisien. Meskipun begitu, virus memiliki kemampuan untuk melakukan antigenic
drift, sehingga virus H5N1 memiliki kemungkinan untuk berubah sifat.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah pandemi H5N1 adalah melalui vaksinasi. Vaksinasi
bertujuan mempersiapkan respon kekebalan tubuh individu terhadap infeksi. Pada infeksi influenza
sistem kekebalan tubuh humoral yang berperan sebagai pelindung adalah IgG dan IgA. Antibodi
terhadap Hemaglutinin merupakan antibodi paling penting yang mampu menetralisasi virus dan
mencegah proses infeksi oleh virus. Antibodi yang akan menetralisasi bertugas mencegah
penempelan virus pada sel hospes, kemudian mencegah masuknya virus ke dalam sel dan
mencegah proses pelepasan selubung virus (uncoating), lalu selanjutnya akan mengikat sel virus
sehingga tidak dapat menginfeksi sel target. Vaksin influenza yang dikembangkan peneliti adalah
vaksin protein subunit Hemaglutinin yang diproduksi pada sistem prokariotik. Vaksin ini telah
dibuktikan dapat menginduksi kekebalan tubuh hewan dari infeksi virus. Protein subunit
Hemaglutinin dapat diproduksi skala besar dan dalam jangka waktu pendek.
Teknik pembuatan vaksin protein adalah sebagai berikut:
1. Plasmid pengekspresi HA utuh dan subunit HA1. Konstruksi plasmid rekombinan telah
dilakukan dan diperoleh menggunakan pQE80L dan sisipan gen Hemaglutinin. Plasmid
pengekspresi HA utuh merupakan plasmid pQE80L mengandung sisipan gen Hemaglutinin
virus H5N1 isolat berasal dari ayam tahun 2007. Plasmid pengekspresi subunit HA1
mengandung sisipan HA1 virus H5N1 isolat ayam tahun 2007.
2. Ekspresi Protein. Bakteri E.Coli BL21 plys dan E.Coli BL21 codon plus (Novagen) digunakan
untuk mengekspresikan protein HA utuh dan subunit HA1. Transformasi dilakukan pada BL21
plys dan BL21 codon plus, kemudian koloni ditanam pada media LB mengandung 100 g/ml
ampisilin dan 50 g/ml Kloramfenikol. Kultur semalam selanjutnya ditanam pada media cair
Terific mengandung 0,17 M KH2PO4 dengan perb1andingan bakteri dan media 1:10. Dalam
penelitian dilakukan optimasi suhu inkubasi bakteri dan lama inkubasi kultur bakteri sebelum
diinduksi, serta lama induksi. Konsentrasi IPTG yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1mM. Analisis protein rekombinan dilakukan dengan pewarnaan biru komasi.
3. Purifikasi protein rekombinan dilakukan dengan NiNTA. Bakteri mengandung protein
rekombinan dilarutkan dalam buffer lisis dan disonikasi dengan siklus 6x20 detik dengan
tenggang waktu antar burst 10 detik. Lalu bakteri disentrifugasi 8000 rpm selama 30 menit
pada suhu 40C.
4. Uji Western Blot. Verifikasi protein dilakukan dengan uji western blot. Transfer protein
rekombinan dari SDS page ke membrane nitroselulose dilakukan dengan metode semi-dry
(BioRad). Blocking dilakukan menggunakan BSA 1%. Antibodi poliklonal mencit terhadap
35

protein Hemaglutinin dan terhadap subunit HA1 digunakan sebagai antibodi pertama dan
diinkubasi selama satu malam pada suhu 40C. Antibodi kedua berupa anti terhadap anti mencit
berlabel biotin ditambahkan dan diinkubasi pada suhu ruang selama 1 jam. Setelah
penambahan streptavidin-HRP, pita protein rekombinan divisualisasi dengan menambahkan
substrat kromogenik Novek (Sigma).
II. Aplikasi Protein Dalam Bidang Pangan
Kolagen
Kulit manusia terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan teratas dinamakan epidermis. Tepat di bawah
lapisan epidermis terdapat lapisan dermis dimana terdapat kolagen. Kolagen merupakan protein
struktural dari tubuh organisme vertebrata. Kolagen yang
aman digunakan manusia banyak diaplikasikan dalam bidang
biomedis. Protein ini pada umumnya digunakan pada sabun,
sampo, krim facial, lotion dan makanan berbasis gelatin. Pada
bidang biomedis, kolagen telah digunakan pada operasi
kardiovaskuler, operasi plastik, ortopedi, neurologi dan
ophthalmologi. Penggunaan kolagen pada operasi besar
seperti jahitan catgut,yaitu kolagen usus yang digunakan untuk
penyembuhan luka. Selain untuk menjahit luka, sebagai agen
hemostatik digunakan untuk membuat gelatin dan kulit dalam
bidang industri. Dalam bidang kecantikan, kolagen merupakan
salah satu komposisi pada kosmetik, komposit gigi, template
untuk regenerasi kulit, matriks biodegradable, dan sebagai
penyokong dalam produksi enzim.
Gelatin merupakan salah satu bentuk dari kolagen yang
terkandung pada tulang yang banyak digunakan sebagai
Gambar 7. Struktur Kolagen
komponen utama dalam bioreaktor. Gelatin adalah derivat
Sumber:
protein dari serat kolagen yang ada pada kulit, tulang, dan
http://activegoldcollagen.co
tulang rawan. Susunan asam aminonya hampir mirip dengan
m/media/helix-large.jpg
kolagen, dimana glisin sebagai asam amino utama dan
merupakan 2/3 dari seluruh asam amino yang menyusunnya,
1/3 asam amino yang tersisa diisi oleh prolin dan hidroksiprolin (Chaplin, 2005).
Asam-asam amino saling terikat melalui ikatan peptida membentuk gelatin. Pada Gambar 7 dapat
dilihat susunan asam amino gelatin berupa Gly-X-Y dimana X umumnya asam amino prolin dan Y
umumnya asam amino hidroksiprolin. Tidak terdapatnya triptofan pada gelatin menyebabkan
gelatin tidak dapat digolongkan sebagai protein lengkap (Grobben, et al. 2004). Berat molekul
gelatin rata-rata berkisar antara 15.000 250.000. Menurut Chaplin (2005), berat molekul gelatin
sekitar 90.000 sedangkan rata-rata berat molekul gelatin komersial berkisar antara 20.000 70.000
Gelatin terbagi menjadi dua tipe berdasarkan perbedaan proses pengolahannya, yaitu tipe A dan
tipe B. Dalam pembuatan gelatin tipe A, bahan baku diberi perlakuan perendaman dalam larutan
asam sehingga proses ini dikenal dengan sebutan proses asam. Sedangkan dalam pembuatan
gelatin tipe B, perlakuan yang diaplikasikan adalah perlakuan basa. Proses ini disebut proses alkali
(Utama, 1997).
Bahan baku yang biasanya digunakan pada proses asam adalah tulang dan kulit babi, sedangkan
bahan baku yang biasa digunakan pada proses basa adalah tulang dan kulit jangat sapi. Menurut
Wiyono (2001), gelatin ikan dikatagorikan sebagai gelatin tipe A. Secara ekonomis, proses asam
lebih disukai dibandingkan proses basa. Hal ini karena perendaman yang dilakukan dalam proses
36

asam relatif lebih singkat dibandingkan proses basa. Proses perubahan kolagen menjadi gelatin
melibatkan tiga perubahan berikut:
1. Pemutusan sejumlah ikatan peptida untuk memperpendek rantai
2. Pemutusan atau pengacauan sejumlah ikatan camping antar rantai
3. Perubahan konfigurasi rantai
Gelatin memiliki sifat dapat berubah secara reversible dari bentuk sol ke gel, membengkak atau
mengembang dalam air dingin, dapat membentuk film, mempengaruhi viskositas suatu bahan, dan
dapat melindungi sistem koloid (Parker, 1982). Menurut Utama (1997), sifat-sifat seperti itulah yang
membuat gelatin lebih disukai dibandingkan bahan-bahan misalnya dengannya seperti gum
xantan, keragenan dan pektin.
Proses pembuatan gelatin dibagi menjadi dua macam, yaitu proses asam dan proses basa.
Perbedaan proses ini terletak pada proses perendamannya. Berdasarkan kekuatan ikatan kovalen
silang protein dan jeis bahan yang diekstrak, maka penerapan jenis asam maupun basa organik
dan metode ekstraksi lainnya seperti lama hidrolisis, pH dan suhu akan berbeda-beda (Gilsenan,
et.al, 2000).
Menurut Hinterwaldner (1977), proses produksi utama gelatin dibagi dalam tiga tahap :
1. Tahap persiapan bahan baku antara lain penghilangan komponen non kolagen dari bahan baku,
2. Tahap konversi kolagen menjadi gelatin, dan
3. Tahap pemurnian gelatin demean penyaringan dan pengeringan.
Pada tahap persiapan dilakukan pencucian pada kulit dan tulang. Kulit atau tulang dibersihkan dari
sisa-sisa daging, sisik dan lapisan luar yang mengandung deposit-deposit lemak yang tinggi. Untuk
memudahkan pembersihan maka sebelumnya dilakukan pemanasan pada air mendidih selama 1
2 menit (Pelu, et al.,1998). Proses penghilangan lemak dari jaringan tulang yang biasa disebut
degresing, dilakukan pada suhu antara titik cair lemak dan suhu koagulasi albumin tulang yaitu
antara 3280oC sehingga dihasilkan kelarutan lemak yang optimum (Wars dan Courts,1977).
Pada tulang, sebelum dilakukan pengembungan terlebih dahulu dilakukan proses demineralisasi
yang bertujuan menghilangkan garam kalsium dan garam lainnya dalam tulang, sehingga diperoleh
tulang yang sudah lumer disebut ossein (Utama,1997). Asam yang biasa digunakan dalam proses
demineralisasi adalah asam klorida dengan konsentrasi 47% (Wiyono,1992). Menurut
Hinterwaldner (1977), proses demineralisasi ini sebaiknya dilakukan dalam wadah tahan asam
selama beberpa hari sampai dua minggu. Lalu pada kulit dan ossein dilakukan tahap
pengembungan (swelling) yang bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan mengkonversi
kolagen menjadi gelatin (Surono,et al.,1994). Pada tahap ini perendaman dapat dilakukan dengan
larutan asam organik seperti asam asetat, sitrat, fumarat, askorbat, malat, suksinat, tartarat dan
asam lainnya yang aman dan tidak menusuk hidung. Sedangkan asam anorganik yang biasa
digunakan adalah asam hidroklorat, fosfat, dan sulfat.
Jenis pelarut alkali yang umum digunakan adalah sodium karbonat, sodium hidroksida, potassium
karbonat dan potassium hidroksida (Choi and Regestein, 2000). Asam mampu mengubah serat
kolagen triple heliks menjadi rantai tunggal, sedangkan larutan perendam basa hanya mampu
menghasilkan rantai ganda (Menurut Ward & Court,1977). Hal ini menyebabkan pada waktu yang
sama jumlah kolagen yang dihidrolisis oleh larutan asam lebih banyak daripada larutan basa.
Karena itu perendaman dalam larutan basa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
menghidrolisis kolagen. Tahapan ini harus dilakukan dengan tepat (waktu dan konsentrasinya) jika
tidak tepat akan terjadi kelarutan kolagen dalam pelarut yang menyebabkan penurunan rendemen
gelatin yang dihasilkan (Utama, 1997).
Pada penelitian Surono et al.,(1994), pembuatan gelatin dari kulit ikan cucut menunjukkan bahwa
pada tahap pengembungan kulit lama perendaman yang terbaik adalah 24 jam dengan konsentrasi
37

asam asetat 4%. Sedangkan Ariyanti (1998), dalam pembuatan gelatin dari tulang domba
menggunakan larutan HCl 5% dengan waktu perndaman 12 hari. Tahapan selanjutnya, kulit dan
ossein diekstraksi dengan air yang dipanaskan. Ekstraksi bertujuan mengkonversi kolagen menjadi
gelatin. Suhu minimum pada ekstraksi adalah 40 50oC (Choi and Regenstein, 2000) hingga suhu
100oC (Viro, 1992). Ekstraksi kolagen tulang dilakukan dalam suasana asam pada pH 45 karena
umumnya pH tersebut merupakan titik isoelektrik dari komponen komponen protein non kolagen,
sehingga mudah terkoagulasi dan dihilangkan (Hinterwaldner,1997) Apabila pH lebih rendah perlu
penanganan cepat untuk mencegah denaturasi lanjutan (Utama, 1997).
Larutan gelatin hasil ekstraksi lalu dipekatkan sebelum dilakukan pengeringan. Pemekatan
dilakukan untuk meningkatkan total solid larutan gelatin sehingga mempercepat proses
pengeringan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan evaporator vakum, selanjutnya dikeringkan
dalam oven pada suhu 4050oC (Choi and Regenstein, 2000) atau 60-70oC (Pelu et al.,1994).
Pengecilan ukuran dilakukan untuk lebih memperluas permukaan bahan maka proses dapat
berlangsung lebih cepat dan sempurna (Utama,1997).
III. Aplikasi Protein di Bidang Peternakan
Protein Sel Tunggal
Protein sel tunggal merupakan istilah yang digunakan untuk protein kasar atau murni berasal dari
mikroorganisme bersel satu atau banyak yang sederhana, seperti bakteri, khamir (yeast), jamur,
ganggang dan protozoa (Tannenbaum, 1971). Protein sel tunggal kerap digunakan untuk
tambahan protein pada pangan, serta pelengkap protein untuk ternak dan ramuan pangan yang
berfungsi sebagai pembentuk cita rasa. Produk dari protein sel tunggal memiliki prospek yang
cukup baik karena dalam proses produksinya tidak membutuhkan area yang luas, tidak
menimbulkan limbah, proses produksinya cepat, serta reproduksi mikroorganisme seperti bakteri
dan khamir dapat memberikan hasil yang lebih besar setiap jam, sedangkan ganggang
memerlukan waktu kurang dari satu hari.
Persamaan reaksi pembuatan Protein Sel Tunggal (PST) pada proses fermentasi adalah sebagai
berikut:
C6H12O 6 + Sumber N+ O2 + Mikroorganisme + Minerat + Nutrien  Massa sel baru
(PST) + C5H9NO4 + CO2 + H 2O (Cooney, 1981).
Setiap mikroorganisme yang dapat tumbuh dengan selulosa sebagai sumber karbon, dapat
digunakan untuk pembuatan protein sel tunggal. Bahan lain yang dapat digunakan adalah bahan
yang mengandung gula, dan mikroorganisme yang digunakan adalah yeast. Pemilihan yeast yang
dapat digunakan untuk pembuatan Protein Sel Tunggal dilakukan berdasarkan laju pertumbuhan,
kemudahan pemeliharaan kultur, kesederhanaan medis, dan kandungan protein serta kualitas
gizinya, hal ini dimaksudkan karena Protein Sel Tunggal digunakan sebagai sumber protein
disamping berperan sebagai sumber vitamin B dan mineral (Muljono, 1992).
Protein kasar yang terkandung dalam yeast berkisar 5560% dan asam nukleat berkisar 15% pada
obyek kering, apabila dibandingkan dengan fungi dimana kandungan protein kasarnya 50%-55%
dan alga mengandung protein kasar 60% (Kristinah dkk, 2005). Jenis yeast yang dapat digunakan
untuk pembuatan protein sel tunggal antara lain :
a. Saccharomyces cereviceae
b. Kluyveromyces lactis.
c. Candida utilis.
d. Kluyveromyces marxianus.

38

Ada dua faktor pendukug pengembangbiakan mikroorganisme untuk protein sel tunggal, yaitu:
A. laju pertumbuhan sangat cepat jika dibandingkan dengan sel tanaman atau sel hewan dan
waktu yang diperlukan untuk penggandaan relatif singkat;
B. berbagai macam substrat yang digunakan bergantung pada jenis mikroorganisme yang
digunakan.
Langkah-langkah produk protein sel tunggal sebagai berikut.
A. Pemilihan dan penyiapan sumber karbon, beberapa perlakuan fisik dan kimiawi terhadap bahan
dasar yang diperlukan
B. Penyiapan media yang cocok dan mengandung sumber karbon, sumber nitrogen, fosfor, dan
unsur-unsur lain yang penting
C. Pencegahan kontaminasi media
D. Pembiakan mikroorganisme yang diperlukan
E. Pemisahan biomassa microbial dari cairan fermentasi
F. Penanganan lanjut biomassa
Kelebihan protein sel tunggal adalah sebagai berikut:
A. laju pertumbuhan sangat cepat yaitu dalam ukuran jam dan masih bisa ditingkatkan lagi
B. dapat menggunakan bermacam-macam media atau substrat
C. produksi protein sel tunggal tidak bergantung pada iklim dan musim
D. memiliki kandungan protein lebih tinggi daripada hewan dan tumbuhan.
Pada penelitian ini digunakan yeast Saccharomyces cereviceae, keuntungan yeast ini adalah
toleran terhadap lingkungan yang lebih asam dengan pH antara 3,5 sampai 5,5 mempunyai suhu
pertumbuhan 25OC 30OC. Keuntungan lain yeast mempunyai diameter sel sekitar 0,0005 cm,
dengan diameter sebesar ini yeast mudah dipisahkan dengan cara sentrifugal, tanpa memerlukan
tahap penggumpalan (Jean L. Mark, 1991). Fermentasi adalah perubahan substrat menjadi bahan
lain karena aktivitas mikroba, faktor yang perlu diperhatikan dalam proses fermentasi adalah kadar
gula, kebutuhan nutrisi, pH, temperature, aerasi, dan waktu fermentasi. Didalam proses fermentasi
dapat dipelajari Kinetika pertumbuhan sel dapat dinyatakan sebagai berikut: kinerika pertumbuhan
sel menggunakan system batch, dalam suatu interval waktu yang singkat (dt) akan terjadi kenaikan
jumlah biomassa (dX) sehingga diperoleh persamaan berikut:

Seperti contoh pembuatan protein sel tunggal dari limbah buah nanas, limbah buah nanas dipilih
tentu dengan alasan memiliki kandungan sukrosa dan glukosa yang potensial untuk dimanfaatkan
sebagai substrat dalam protein sel tunggal.
Tabel 2. Kandungan Gizi Buah Nanas Pada 100 Gram Bahan

Bahan pembuatan protein sel tunggal adalah limbah nanas dengan analisis kadar glukosa 4,94%
dan kadar protein 0,9075% serta Saccharomyches cerevisiae. Bahan lain yang dibutuhkan adalah
39

NaOH, gula pasir, akuades, asam asetat, kalium fosfat dan ammonium sulfat. Sedangkan alat yang
dibutuhkan adalah Shaking Incubator, autoklaf, erlenmeyer 500 ml, alumunium foil,
spektrofotometer, conway, panci stainless steel, water bath, blender.
Tahap pertama ialah tahap persiapan, yaitu kulit nanas dicuci dan dicacah dengan blender
kemudian cairan hasil pemblenderan disaring dan dipanaskan untuk sterilisasi. Selanjutnya cairan
nanas didinginkan, larutan ini akan dijadikan media fermentasi. Selanjutnya adalah tahap
pembuatan starter, yaitu sukrosa sebanyak 22,4 gram dilarutkan 100 ml akuades kemudian pH
diatur hingga 5 dan ditambahkan nutrisi yaitu (NH4)2SO4 dan KH2PO4. Larutan tersebut dipanaskan
untuk sterilisasi hingga 1 jam lalu didinginkan. Setelah diberi Saccharomyches cerevisiae, larutan
difermentasi dengan dishaking selama 2 hari.
Tahap terakhir ialah fermentasi, media fermentasi dimasukkan ke dalam erlenmeyer kemudian
ditambah nutrisi (NH4)2SO4 dan KH2PO4, dan ditambahkan starter dan difermentasikan selama 2
hari. Setelah 2 hari kadar protein dapat dianalisis. Semakin besar pH sampai pH 4,5 maka terjadi
kenaikan kadar protein hal ini karena semakin besar pH maka semakin sesuai dengan kondisi pH
yang dibutuhkan yeast dan setelah pH 4,5 kadar protein semakin menurun hal ini karena tekanan
osmosis larutan lebih besar maka dinding yeast akan pecah dan mati
KESIMPULAN
Protein telah diaplikasikan secara luas, mulai dari bidang kesehatan dan farmasi, pangan, kosmetik,
peternakan, dan masih banyak lagi. Dalam bidang kesehatan dan farmasi, terdapat bentuk aplikasi
protein yaitu GMP yang bertujuan sebagai sumber protein rendah fenilalanin pengganti makanan diet
fenilalanin. Selain itu terdapat protein HSP70i untuk mencegah ganggan vitiligo pada kulit. Untuk
mencegah infeksi virus, aplikasi protein juga dapat diterapkan seperti pada virus Influenza H5N1.
Protein subunit Hemaglutinin dapat digunakan untuk menahan aktivitas virus sehingga virus tidak
dalam melakukan penetrasi ke dalam sel. Untuk penyakit seperti diabetes mellitus, sudah lama
ditemukan teknik suntik insulin untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah. Insulin tersebut dapat
diperoleh dari pankreas sapi ataupun babi. Namun sudah ada perusahaan farmasi yang mampu
membuat insulin pengganti insulin yang bersumber dari babi, protein ini bernama humulin. Pada
bidang kesehatan protein yang diterapkan biasanya adalah protein rekombinan, artinya protein
tersebut telah direkayasa terlebih dahulu sebelum diaplikasikan pada organisme target. Sebelum
merekayasa protein dan mengaplikasikannya, tentu diperlukan pemahaman mengenai struktur,
fungsi, sintesis dan deteksi protein.
Dalam bidang pangan, seperti dalam pembuatan permen atau agar agar dibutuhkan gelatin yang
merupakan derivat dari kolagen. Sedangkan dalam bidang peternakan untuk meningkatkan kualitas
hewan ternak, maka protein sel tunggal (PST) baik digunakan dalam pemberian pakan supaya ternak
memperoleh sumber protein dengan kualitas tinggi. stilah protein sel tunggal (PST) digunakan untuk
membedakan bahwa protein sel tunggal berasal dari mikroorganisme bersel tunggal atau banyak,
contohnya seperti bakteri atau alga. Pemanfaatan mikroorganisme tersebut dilakukan untuk
menghasilkan kualitas produk makanan berprotein tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
By Sandy van Calcar, MS, RD, Sally Gleason, MS, RD, Angela Hall, Kathy Nelson, and Denise Ney.
2007. Using Glycomacropeptide (GMP) for PKU Diet Treatment. PhD, Biochemical Genetics Program,
Waisman Center. Department of Nutritional Sciences and Center for Dairy Research. University of
Wisconsin-Madison.
Jeffrey A. Mosenson, Andrew Zloza, John D. Nieland, Elizabeth Garrett-Mayer, Jonathan M. Eby,
Erica J. Huelsmann, Previn Kumar, Cecele Denman, Andrew T. Lacek, Frederick J. Kohlhapp, Ahmad
Alamiri, Tasha Hughes, Steven D. bines, Howard L. Kaufman, Andreas Overbeck, Shikhar Mehrotra,
40

Claudia Hernandez, Michael I. Nishimura, Jos A. Guevara-Patio dan I. Caroline Le Poole. Health
Science Division, Laloyo University of Chicago. http://hsd.luc.edu/newswire/news/modified-proteincould-become-first-effective-treatment-vitiligo-skin-disorder-loyola. [Accesed 16 March 2014 16:38]
Yepy Hardi Rustam. June 5, 2012. GFP dalam Studi Ekspresi Gen. http://sciencebiotech.net/gfpdalam-studi-ekspresi-gen/. [Accessed 16 March 2014 19:42].
Mira Delima and others, Pengaruh Level Subtitusi Protein Sel Tunggal ( Cj Prosin ) Pada Pakan
Komersial Terhadap Performan Ayam Broiler, 12 (2012), 715.
Dewi Susanna, Ema Hermawati and Haryo Kuntoro Adi, PEMANFAATAN Spirulina Platensis
SEBAGAI SUPLEMEN PROTEIN SEL TUNGGAL ( PST ) MENCIT ( Mus Musculus ), 11 (2007), 44
49.
Novita Hindratiningrum and others, Produk Fermentasi Rumen Dan Produksi Protein Mikroba Sapi
Lokal Yang Diberi Pakan Jerami Amoniasi Dan Beberapa Bahan Pakan Sumber Energi, 11 (2011),
2934.
Gianfranco
Secchi,
Role
of
<doi:10.1016/j.clindermatol.2008.04.004>.

Protein

in

Cosmetics,

2008,

321325

Erik D Carlson and others, Cell-Free Protein Synthesis: Applications Come of Age, Biotechnology
Advances, 2011 <doi:10.1016/j.biotechadv.2011.09.016>.
Eastoe, J.E. 1977. The Chemical Examination of Gelatin. In : Ward. AG; and A.Courts, Editors. The
Science and Technology of Gelatin. Academic Press, New York.

41