Anda di halaman 1dari 46

1

I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Penaeus vannamei,biasa juga disebut sebagai udang putih dan masuk ke

dalam family Penaidae. Anggota family ini menetaskan telurnya diluar tubuh setelah
telur dikeluar oleh udang betina. Udang Penaeid dapat dibedakan dengan jenis
lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Penaeid vannamei memiliki 2
gigi pada tepi rostrum bangian ventral dan 8-9 gigi pada tepi rostrum bagian dorsal
(Anonim, 2007).
Penaeus vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini
dapat bertambah lebih dari 3gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi
(100 ekor/m2). Brat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut,
Penaeus Vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/minggu. Udang betina
tumbuh lebih cepat dari pada udang jantan (Wyban et, al., 1991). Penaeus vannamei
memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2-40 ppt, tapi akan tumbuh cepat
pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban et al.,
1991).
Rasa udang dapat dipengaruhi oleh tingkat asam amino bebas yang tinggi
adalam ototnya sehingga menghasilkan rasa lebih manis. Selama proses post-panen,
hanya air dengan salinitas tinggi yang dipakai untuk mempertahankan rasa manis
alami udang tersebut (Wyban et al., 1991).
Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang.
Penaeus vannamei akan mati jika terpapar pada suhu air dibawah 5 0c atau diatas 330c
selama 24 jam atau lebih. Stressubletal dapat terjadi pada 15-22 0c dan 30-330c.
Temperatur yang cocok bagi perttumbuhan Penaeus vannamei adalah 23-300c.

Pengaruh temperature pada pertumbuhan Penaeus vannamei adalah pada


spesifitas tahap dan ukuran. Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan
temperature hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperature optimum
air akan menurun (Wyban et al., 1991).
1.2.

Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari PKL (Praktek Kerja Lapang) ini adalah untuk

mengetahui dan mempelajari kegiatan yang dilakukan oleh PT. SYAqua Indonesia
(Ganesha Hatchery).
1.3.

Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapang


Kegiatan PKL ( Praktek Kerja Lapang ) ini dilakukan selama dua bulan yang

dimulai dari tanggal 4 maret sampai dengan 4 mei 2013, kegitan ini dilaksanakan
bertempat di PT.SYAqua Indonesia ( Ganesha Hatchery ), Desa Pangkul, Kalianda,
Lampung Selatan.

1.4. Metode Pelaksanaan


Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dilakukan di PT. SYAqua Indonesia (Ganesha
hatchery), Adalah dengan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh PT.SYAqua
Indonesia (Ganesha hatchery), tersebut dalam rangka rangka pengembangan teknik
dan metode pembenihan udang vannameidi Perikanan. Kegiatan dalam pembenihan
udang, pembesaran udang, pemeliharaan benur dan pemeriksaan penyakit pada udang
vannamei.

II. KEADAAN UMUM

2.1. Kondisi umum Lokasi Praktek Kerja Lapang


Lokasi perusahaan berada dipinggir jalan sehingga mudah terlihat dan keadaan
lingkugan sekitar perusahaan mudah diakses oleh kendaraan roda empat dan roda
dua, disekeliling perusahaan terdapat lapangan bola, sawah, dan laut. Serta ditumbuhi
oleh pepohonan yang rindang serta pegunungan.
2.1.1. Lokasi geografis

PT. Syaqua Indonesia (ganesha Hatchery) Alamat perusahan berada pada jalan
raya pesisir desa pangkul,kecamatan rajabasa kota kalianda, lampung selatan. Kode
pos 3551.
2.1.2. Sejarah dan perkembangan
PT. Syaqua Indonesia (ganesha Hatchery) Alamat perusahan berada pada jalan
raya pesisir desa pangkul, kecamatan rajabasa kota kalianda, lampung selatan. Kode
pos 3551. Sebelumnya PT. Syaqua Indonesia (Ganesha Hatchery) bertempat didaerah
Anyer, Tangerang. Kemudian pindah ke Bandar lampung tepatnya di Desa Pangkul
Rajabasa, Kalianda Lampung Selatan. Pada tahun 2009 PT. Syaqua Indonesia pindah
kekalianda perusahaan ini membuat kesepatan dengan Ganesha Hatchery untuk
menyewa tempat dan izin usahanya. Dan pada saat itulah berdiri PT.Syaqua Indonesia
(ganesha Hatchery). Pemilik perusahaan bernama Mister Tiko berkebangsaan
Belanda, dan Manager Production yang menangani di PT. Syaqua Indonesia
dikalianda pertama kali adalah Bapak Alberto Bayas selama beberap periode. Lalu
terjadi pergantian Manager Production yaitu Bapak wartono.
2.1.3. Struktur organisasi dan tata kerja
Sonny Cokro
General
manager
Ir Wartono
Production
Manager

Khoirullah Herry

Dede S.

Evi

Naupli
Production

Amir
( Assistant )
Pl Production

Administrasi

Staf
1.
2.
3.
4.

Alge/artemia

Armin
Bani
Erik
yudi

1. Elisabeth
Denta
2. Riswan
3. Alan M.

Production
modul
1. Ahmadi
2. Ahmad
rizal
3. Boy
4. wajir

Water
1. Dayat
2. Muslihudi
n

Meilya
fitriani
Lab QC

Transportasi
1. M.
Rahmat

Security
1. Andi
2. Jambra

2.1.4. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana yang ada di perusahaan Syaqua Indonesia (Ganesha
Hatchery) adalah sebagai berikut :
Pemeliharaan Larva
1. Bak Pemeliharaan sebanyak 24 bak dengan ukuran setiap bak 5 m x 5 m x
1,3 m
2. Jaring ukuran 100 micron untuk panin PL
3. Tali penyangga selang aerasi sebanyak 624 buah per bak dan panjang tali
4.
5.
6.
7.

per bak 6 m.
Selang aerasi sebanyak 42.000 cm
Batu aerasi dalam 24 bak sebanyak 2016 buah
Kain kasa 3 buah dengan ukuran 100, 150 dan 200 micron
Timbangan digital 1 buah

8. Torren penguin 1 buah


9. 1 mesin pompa
10. 3 bak bulat
11. Ember sebanyak 25 buah
12. Skopnet 2 buah dengan ukuran 100 micron
13. Plastic packing
14. Box stereoform
15. Plastic penutup
16. Filter bag
17. Pipa L ukuran 2
18. Pipa T ukuran 2
19. Pipa outlet ukuran 2
20. Pipa outlet panen ukuran 2
21. Pipa sambungan inlet 2
22. Tutup pipa 2
23. Pipa aerasi
24. Keran aerasi
25. Tutup pipa aerasi
26. Lampu neon
27. Bantalan lampu
28. Panel listrik
Water treatment
1. Tandon ada 6 bak dengan ukuran 5 m x 3,5 m x 0,6 m
2. Bak resevoar 6 bak dengan ukuran 5 m x 3,5 m x 0,6 m
3. Waterco 4 buah
4. Filter bag
5. Panel listrik
6. Blower
7. Mesin penyedot air laut
8. FSI ( filter specialist ) 4 buah
9. Pipa L
10. Pipa T
11. Pipa outlet
12. Pipa inlet
13. Keran aerasi
14. Tutup pipa aerasi
15. Pipa sambungan
16. Pipa aerasi
17. Bak pencucian pasir dan arang ada 2 buah
18. Ember
19. Timbangan
Alge

1. Galon 19 l
2. Rolly
3. Erlemeyer
4. Ampul
5. Gelas ukur
6. Autoclave
7. Bak torren 2 buah, dengan ukuran 200 L dan 1 ton
8. Mesin pompa
9. Selang aerasi
10. Pipa aerasi
11. Pipa sambungan
12. Pipa outlet
13. Pipa inlet
14. Bak hatching 3 buah
15. Freezer
16. AC
17. Bak bundar
18. Sikat
19. Batu aerasi
20. Spon
21. Filter bag
22. Skopnet
Maturasi
1. Bak Maturasi induk 4 buah
2. Bak spawning 2 buah
3. Bak resevoar 5 buah
4. Bak hatching 3 buah
5. Ember
6. Baskom
7. Pipa inlet
8. Pipa outlet
9. Pipa aerasi
10. Selang aerasi
11. Batu aerasi
12. Skopnet 2 buah
13. Timbangan digital
14. Box stereofom
15. Plastik packing
16. Mesin Pompa
17. Blower
18. Ruang ganti
19. Baskom Cuci tangan
20. Tempat pencucian kaki

21. Freezer
22. Senter
23. Panel listrik
24. Lampu
25. Bantalan lampu

2.2. Kegiatan perusahaan


2.2.1. Pemeliharaan Larva
Kegiatan dalam divisi larva ini adalah bertugas memelihara naupli hingga
menjadi PL dan di panen. Adapaun tahapan kegiatan didivisi pemeliharaan larva
adalah sebagai berikut :
Persiapan wadah pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan dalam bak semen berbentuk persegi dengan
panjang 5 meter, lebar 5 meter dan tinggi 1,3 meter. Naupli dan PL ditempatkan
pada bak yang berbeda. Air yang digunakan adalah air laut penampungan
khusus yang sebelumnya dilakukan treatment oleh divisi water.

Pengeringan dan sanitasi

Bak yang akan digunakan dicuci bersih lalu disiram dengan larutan
kaporit 50 ppm dan didiamkan selama satu hari. Lalu dibilas dengan air
kemudian dicuci kembali dengan detergen. Setelah semua permukaan telah
dicuci bersih maka dibilas kembali dengan air lalu dikeringkan dan didiamkan
selama satu hari. Keesokan harinya bak direndam dengan larutan formalin
(10ppm) dan diamkan selama satu hari lalu dibilas kembali dengan air hingga
bak benar-benar bersih dari formalin.
Pengisian Air
Setelah melewati proses pengeringan, peralatan yang telah bersih
kemudian di pasang kembali seperti semula. Sebelum diisi air dilakukan
pencucian kembali untuk membersihkan sisa larutan kaporit yang masih
menempel hingga aroma kaporit hilang. Di pipa inlet diberikan saringan berupa
filter bag yang diberi kapas di dalamnya. Setelah semuanya siap pengisian air
dapat dilakukan dengan membuka keran inlet. Pengisian air 12-24 jam sebelum
naupli ditebar sebanyak setengah dari tonase maksimal dalam satu bak. Setelah
pengisian air dilakukan treatment air dengan pemberian EDTA 6 jam sebelum
penebaran naupli untuk menjaga kualitas air. Setelah pemberian EDTA aerasi di
seting kencang agar kerja EDTA optimal karena peroses pengadukan oleh
aerasi.
Penebaran Larva
Benur yang ditebar berasal dari stadia Naupli 4 dan 5. Hal yang harus
dipersiapkan sebelum penebaran naupli yaitu pemberian Treflan 0,5 ppm
kedalam wadah 2 jam sebelum dilakukan penebaran. Aerasi yang di seting
kencang kemudian di setting kecil. Setelah aerasi selesai di setting kecil. Tutup

10

bak/tank pemeliharaan dengan plastic mulsa untuk menjaga suhu wadah


pemeliharaan. Sebelum masuk kedalam wadah pemeliharaan plastic packing
yang berisi naupli di sanitasi terlebih dahulu dengan cara merendam dalam
larutan treflan 0,05 ppm. Hal ini untuk menghindari kontaminasi yang terbawa
dari tempat asal naupli. Kantung naupli yang telah di sanitasi kemudian di
masukkan kedalam wadah yang telah dipersiapkan untuk selanjutnya dilakukan
peroses aklimatisasi. Aklimatisasi suhu dilakukan selama 15 menit dengan
cara menaruh kantong naupli di permukaan air dan diberi aerasi. Penebaran
naupli dengan cara menebarnya secara perlahan.
Pemberian Pakan
Jenis Pakan
Pemberian pakan dimulai pada saat naupli telah pindah ke stadia zoea
karena saat masih di stadia naupli benur masih mempunyai kuning telur,
biasanya perpindahan stadia terjadi selama 12 jam setelah tebar. Ada dua jenis
pakan yang diberikan yaitu berupa pakan cair dan pakan serbuk. Pakan cair
yang digunakan bermerek dagang Epicore dengan kode pakan Epifeed LHF-1
untuk stadia zoea1 sampai stadia ZM/Mysis1 dan Epifeed LHF-2 untuk stadia
Mysis1 sampai stadia PL1. Penggunaan pakan tergantung ketersediaan pakan
yang ada. Jika pakan cair habis langsung beralih ke pakan serbuk. Pakan serbuk
yang digunakan berupa campuran berbagai jenis pakan serbuk. Pencampuran
bahan pakan serbuk harus memperhatikan stadia benur yang dipelihara. Berikut
formulasi pembuatan pakan/mix feed larvae di hatchery ganesha.
Feeding manajemen

11

Pemberian pakan dalam kegiatan pembenihan udang vannamei di ganesha


hatchery dimulai saatlarvayang dipelihara memasuki stadia zoea 1. Metode yag
digunakan yaitu dengan cara dibatasi sesuai dengan stadia udang yang sedang
dipelihara. Dalam satu hari pemberian pakan dilakukan sebanyak delapan kali
dilakukan setiap tiga jam.pemberian pakan.
Panen
Panen PL dilakukan setelah sampai stadia PL 10. Sebelum dipanen, PL
harus diuji kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam panen salah satunya
adalah suhu, suhu air yang disiapkan untuk mengisi kantong plastik panen
adalah 26 27 0C tergantung dengan jarak dan lama perjalanan. Adanya
perbedaan suhu di bak kultur PL dengan suhu air packing panen mengharuskan
kita untuk hati hati dalam mentransfer PL ke tank panen.Hasil panen dicatat
dalam form
Stocking Density
Setiap kantong plastik diisi PL dengan kepadatan kurang lebih 1.500 2.300 ekor/packing.Untuk mengetahui jumlah benur dalam kantong plastik
dilakukan penghitungan sesuai Plastik packing 1/3 bagian diisi air (sekitar 2L)
dan 2/3 bagian diisi Oksigen. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan
kepadatan PL saat panen adalah ukuran PL dan waktu yang akan ditempuh.
Pertimbangan tersebut guna menghindari resiko kematian akibat stress dan
kanibalisme saat pengiriman PL ke lokasi tujuan.
Packaging Material

12

Material untuk packing PL, menggunakan plastic 28 x 57 x 0,04 cm


(Rangkap dua). Box yang digunakan adalah Polyfoarm Garuda dengan ukuran
72 x 42 x 26 cm. Setelah pengantaran PL ke lokasi Tambak, Box Polyfoarm
diantar kembali ke hatchery.
Transportasi
Pengiriman PL ke lokasi tambak melalui transportasi darat dan udara.
Transportasi darat menggunakan truk/mobil pick up. Transportasi udara
menggunakan pesawat. Penggunaan jasa transportasi ini disesuaikan dengan
jarak lokasi tambak dan jumlah PL yang dikirim.

2.2.2 Kultur Plankton


Kultur Murni
Peralatan yang diperlukan untuk kultur murni algae antara lain: autoclave,
digunakan untuk sterilisasi air media serta peralatan yang hendak digunakan,
mikroskop,

haemocytometer,

magnatec

stirrer,

timbangan

elektrik,

refraktometer. Dalam kultur murni diperlukan wadah seperti cawan petri untuk
wadah kultur agar, test tube 10ml, tabung Erlenmeyer 100ml, 250ml, 500ml,
1000ml, carbaoy 5Liter, 10 liter dan 20 liter. Peralatan pendukung seperti
selang aerasi, batu serta timah aerasi juga diperlukan. Peralatan gelas yang
biasa digunakan dalam laboratorium seperti gelas ukur, beaker glass, pipet ukur,
pengaduk kaca dan tabung reaksi selalu diperlukan.

Kebutuhan lain yang

penting termasuk tissue, alumunium foil dan ose (kawat penggores).


Sterilisasi

13

Semua peralatan yang akan digunakan untuk isolasi, pemindahan dan


pemeliharaan kultur murni harus disterilkan. Peralatan ini termasuk peralatan
gelas dan media cair dan media padat.

sterilisasi harus dilakukan dengan

autoklaf pada suhu 121oC dalam uap air dengan tekanan 1 Kg /cm2 selama 45
menit. Sebelum diautoklaf semua peralatan harus dibungkus dengan alumunium
foil.
Persiapan Media Kultur
Ada banyak formula yang berbeda untuk menyiapkan media buatan untuk
kultur fitoplankton. Media air laut buatan adalah campuran air suling, bahanbahan nutrient dan garam laut buatan. Menurut laporan media buatan
memberikan hasil yang paling konstan dalam kultur algae.
Untuk media agar, bahan yang diperlukan adalah bubuk agar murni (agar
extra pure powder) atau bacto agar sebanyak 1,5 % - 2 %. Dalam persiapan
media cair semua peralatan gelas dan air suling yang digunakan perlu
disterilkan dengan menggunakan autoklaf. Kemudian masing-masing bahan
nutrient utama, zat besi, zat logam (misalnya Cu, Mb, Zn ) dan vitamin seperti
dalam tabel 1. ditimbang. Mula-mula stok dasar bahan-bahan logam dilarutkan
dalam air suling steril. Campuran dapat diaduk dengan menggunakan magnetic
stirrer. Stok vitamin B1 dan B12 juga disiapkan dengan cara yang sama.
Pipet tetes, tabung reaksi , tabung plastik dan lain-lain juga dapat
disterilkan dengan HCL (kadar 10%-50 %) selama beberapa jam.

Untuk

14

peralatan carboy sterilisasi dapat dilakukan dengan bahan kimia seperti klorin
(100-1000 ppm), HCL, formalin 200ppm dan pengeringan dengan matahari.
Dalam menangani sterilisasi peralatan, kesehatan petugas merupakan hal
yang sangat penting. Tangan harus dicuci dengan sabun dan dikeringakan .
Selama isolasi , inokulasi atau pemindahan bibit murni tangan harus dicuci
dengan alkohol sebelum penanganan.

Tabel 1. Pembuatan Pupuk

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Bahan

a. primary Stock b. secondary Stock


Solution
Solution

c. Tertiary
Stock
Solution
3750 gr
250 gr
1500 gr

Nitrat
75 gr
Phosphat
5 gr
Silicate
40 ml
Vitamin B1
20 gr
Biotin
0,1 gr (d)
5 ml (e)
250 ml (f)
Vitamin B12
0,1 gr
Iron
3,15 gr
157,5 gr
EDTA
4,35 gr
217,5 gr
Trace Metal
(g)
(h)
(i)
a. Cooper
9,8 gr
1 ml
50 ml
b. Zinc
22 gr
1 ml
50 ml
c. Cobalt
10 gr
1 ml
50 ml
d. Manganes
180 gr
1 ml
50 ml
e. Molybdat
6,3 gr
1 ml
50 ml
e
Keterangan :
a. Digunakan untuk persiapan pembuatan secondary dan tertiary stock solution
b. Digunakan untuk test tube, flask dan carboy

15

c. Digunakan untuk kultur missal


d. Dicampur vitamin B1 , biotin dan vitamin B 12 dalam 1L aquadest
e. Dilarutkan dalam 5 ml prymary stock vitamin ( d) dalam 1 L aquadest, digunakan
1 ml/L
f. Dilarutkan 250 ml primary stock vitamin ( d ) dalamn 10 liter aquadest digunakan
1 ml/10 L
g. Disiapkan trace metal masing-masing Cu, Co, Zn, Mn dan Mo dan dilarutkan
dalam 1L aquadest yang berbeda tempatnya.
h. Dicampurkan Iron, EDTA dan masing - masing 1 ml dari kelima Trace metal
digunakan 1 ml/1 L
Dicampurkan Iron, EDTA dan masing - masing 50 ml dari kelima Trace metal
digunakan 1 ml/10 L
Isolasi Algae
Ada banyak cara untuk isolasi algae ada metoda kait dan pipet, metode piring
agar dan metoda subkultur berulang.
Pada metode dengan pipet peralatan yang diperlukan dalam isolasi adalah mikroskop,
pipet steril dan Bunsen. Isolasi dilakukan dalam keadaan benar-benar steril. Pertamatama contoh fitopklanton harus dalam keadaan baik. Ambil bibit yang akan diisolasi
dan tempatkan dalam preparat.

Periksa dan pilih bibit yang baik dengan

menggunakan mikroskop. Setelah mendapatkan bibit yang baik ambil satu persatu
dengan menggunakan pipet yang berbeda dan masukkan kedalam media yang telah
disediakan. Bila mengalami kesulitan dalam dalam pengambilan algae dari preparat
karena banyaknya kumpulan algae maka perlu dipisahkan dengan menggunakan
preparat lain yang diberi tetesan media. Caranya yaitu ambil dari preparat pertama
bibit yang telah kita pilih dan letakan pada preaparat kedua kemudian baru dipilih
algae tersebut.

Pengambilan bibit algae yang baik dilakukan berulang sampai

diperkirakan cukup. Setelah isolasi selesai wadah ditutup dan disimpan pada rak yang
tidak terkena cahaya langsung.

16

Metode isolasi dengan piring agar menggunakan bacto agar sebagai media. Media
kultur yang diinginkan disiapkan dengan kadar 1,5 % (1,5 gr per 100 ml media
kultur). Bubuk agar yang telah ditimbang dimasukan kedalam media dan dipanaskan
hingga larut, kemudian tuang ke cawan petri. Tunggu hingga agar tersebut dingin baru
diberi bibit. Bibit algae diambil dari test tube dengan menggunakan pipet, ambil untuk
setiap petri disk 1 tetes, kemudian goyangkan hingga merata diseluruh permukaan.
Simpan cawan dalam keadaan terbalik. Koloni algae yang tumbuh dapat diambil
dengan menggunakan jarum ose dan dipindahkan ke testube.
Isolasi menggunakan metode piring agar pada dasarnya sama dengan mengguanakan
pipet yaitu untuk mendapatkan bibit yang benar-benar murni dan tidak terkontaminasi.
Bila kultur murni yang telah kita dapatkan tercemar kembali satu-satunya jalan yang
harus dilakukan adalah dengan cara isolasi.
Pemantauan dan Pemeliharaan Mutu
Peralatan yang diperlukan adalah sebuah haemocytometer, gelasobyek dengan
cover glass, pipet dan mikroskop.

Contoh yang akan dianalisa harus homogen

sebelum digunakan yaitu dengan mengocok contoh algae tersebut sehingga sel algae
menyebar secara menyeluruh. Ambil hamemocytometer dan letakan sebuah cover
glass ditengahnya, teteskan contoh pada pinggir cover glass demikian sehingga tidak
terbentuk gelembung dalam contoh yang diperikasa dan sel-sel akan menyebar secara
merata. Dibawah mikroskop bentuk hamocytometer akan tampak terdiri dari 25 buah
kotak besar yang masing-masing terdiri dari 16 kotak kecil.
Kultur penyediaan bibit yang digunakan untuk memproduksi algae dalam jumlah yang

17

lebih besar dipelihara dalam ruang kultur. Suhu dalam ruangan ditetapkan sekitar
20oC . Untuk kultur penyediaan bibit penerangan diberikan intensitas rendah 2591000 lux. Kultur murni tidak diberi aerasi untuk mencegah kontaminasi .
Dari isolasi yang berhasil atau kultur murni yang diterima dari laboratorium lain perlu
dilakukan inokulasi ulang dengan media cair atau media padat untuk pemeliharaan
kultur. Inokulasi dapat dilakukan dengan media cair atau media padat dengan
menggunakan ose yang sudah distreilkan. Ose digunakan untuk menggambil contoh
kultur murni dan diinokulasi kedalam media cair yang sudah disiapkan dalam tes tube
10 ml-20 ml. Setelah inokulasi kultur yang diinokulasi harus dipindahkan kedalam
keadaan yang lebih baik untuk inkubasi 25oC selama beberapa hari. Setelah beberapa
hari koloni akan tumbuh kultur dipindahkan kembali kedalam ruang penyediaan bibit.
Pemantauan dan Pemindahan Algae Bibit
Tahap-tahap kultur murni mulai dari kultur bibit sampai volume besar dapat
dilihat pada tabel 2. Bibit algae yang mutunya paling baik harus dipilih dari kultur
yang akan digunakan sebagai bibit inokulum dalam tahap kultur selanjutnya. Kultur
bibit dalam jumlah sedikit 250-1000 ml dibawa keruangan kultur yang bersuhu antara
25-27C. Sterilisasi bahan-bahan kultur harus dilakukan sesuai dengan cara-cara yang
diberikan.
Tabel 2. Langkah-langkah Dalam Memelihara Bibit Algae
N
o.
Langkah
0
1
2
test
1 Peralatan kultur
tube
Erlenmeyer Erlenmeyer
cawan
petri
100 ml
500 ml
Volume Kultur
2 (ml)
10
100
500

Erlenmeyer

Carboy

1000 ml

10 l

1000

10000

18

3
4
5

-media
-bibit
Sumber bibit
Aerasi

Lamanya (hari)
Terang / gelap
(jam)

Ruangan

8 Suhu (oC)
Keterangan :

10
(a)
isolasi
tidak

90
10
level 0
tidak

400
100
level 1
ya

800
200
level 2
ya

(b)

1 - 3 hari

1 - 3 hari

1- 2 hari

9000
1000
level 3
ya
1- 2
hari

24 / 0

24 / 0

24 / 0

kultur 1

kultur 2

kultur 3

24 / 0
24 / 0
Penyedi
aan
Penyediaan
bibit
Bibit
kultur
Kultur
20
20

25

( a ) volume bibit sebenarnya ditiadakan


( b) waktu yang diperlukan untuk mencapai kepadatan maksimun sangat bervariasi
tergantung jenisnya
2.2.3

Kultur Intermediet

Alat dan Media Yang diperlukan


Kultur Intermediet merupakan kelanjutan dari Kultur Murni. Kultur intermediet
menggunakan wadah tank fiber volume 500 Liter. Pada kultur skala intermediet,
digunakan lampu essential 20 watt untuk memanipulasi cahaya matahari pada malam
hari dan jika cuaca mendung yang ditempatkan diatas tank fiber yang digunakan. Air
yang digunakan disaring menggunakan sediment catridge 1 mikron dan filterbag.
Untuk kultur intermediet dapat digunakan baha-bahan kimia yang berkualitas
teknis saja. Formula media yang telah diperkaya dengan nutriennya untuk kultur
intermediet dapat dilihat di tabel 1. Algae akan lebih stabil bila trace metal diberikan.
Sterilisasi
Semua peralatan selang, batu dan timah aerasi, ember, filterbag dicuci bersih
menggunakan detergent kemudian direndam dalam larutan klorin 100 150 ppm atau

19

asam oksalat 200ppm selama 2 jam. Setelah itu dibilas bersih dan dikeringkan selama
24 jam. Demikian juga dengan tank fiber yang digunakan, setelah dipakai dicuci
dengan bersih dan dikeringkan 24 48 jam sebelum digunakan lagi.
2.2.4 Skala Massal
Media yang digunakan adalah bak beton berukuran (2x2x1.5) m 3 dengan
ketinggian air 75 cm.Pertama, bak diisi dengan air laut sebanyak 3 ton. Aerasi
dinyalakan lalu diberikan pupuk. Pupuk yang diberikan terdiri dari empat jenis, yaitu
vitamin sebanyak 100 ml, trace metal 300 ml, silikat 300 ml dan nitrat-fosfat 300 ml.
2.2.5 Water Treatment
Pumping
Air laut sebagai media budidaya, diambil dengan menggunakan pompa jenis
centrifugal. Pengambilan air dilakukan saat kondisi air mendukung (pasang). Adapun
debit pompa yang digunakan adalah 10 20 ton/ jam.
Klorinasi
Air laut yang hendak digunakan dalam proses produksi sangat perlu
diperhatikan kualitasnya, baik secara biologi, kimiawi maupun fisikawi.Kualitas air
laut yang diperlukan untuk budidaya haruslah sesuai dengan standart.Standart
kualitas air laut seperti terlampir:1) Klorinasi adalah proses pemberian klorin (=dalam
hal ini digunakan kaporit) untuk membunuh mikroorganisme yang membahayakan
proses budidaya udang, disamping itu klorin juga berfungsi bahan yang mengoksidasi
sehingga air laut secara fisik kualitasnya menjadi lebih baik.

20

Pada proses klorinasi ini dosis kaporit yang digunakan berkisar antara 15 30
ppm untuk Kaporit 65% (Tjiwi Kimia). Dosis kaporit ini menyesuaikan dengan
kualitas air laut sebagai bahan bakunya, Proses klorinasi berlangsung selama 8 12
jam dengan cara diaduk menggunakan blower (aerasi bawah). Sterilisasi dengan Nathiosulfat 8 ppm
Sedimentasi
Sedimentasi merupakan proses pengendapan bahan bahan baik organic
maupun anorganik dengan tujuan supaya air laut secara fisik kualitasnya lebih baik
(lebih jernih). Tahapan ini dilakukan setelah proses klorinasi. Adapun waktu yang
dibutuhkan adalah minimal 12 jam. Proses sedimentasi ini dikatakan memenuhi
standar jika air laut secara fisik kelihatan lebih jernih serta partikel-partikel terlarut
sudah sedikit
Filtrasi
Tahapan selanjutnya setelah proses sedimentasi adalah filtrasi. Filtrasi
bertujuan agar air yang digunakan untuk produksi menjadi lebih baik kualitasnya baik
secara fisikawi, kimiawi maupun biologi. Proses filtrasi melalui 2 tahap, yaitu, filtrasi
dengan menggunakan pressure filter dan filtrasi menggunakan slow filter.
Filtrasi dengan Pressure Filter, tabung Pressure Filter diisi pasir silica untuk
proses filtrasinya. Tabung Pressure yang digunakan berjumlah 4 (empat) buah yang
dirangkai secara seri. Sedangkan pada slow filter menggunakan pasir halus serta
karbon aktif. Pada slow filter ini, terdiri dari 6 bak filter, 2 bak tersebut diisi pasir

21

setebal 50 - 60 cm dan 2 bak diisi arang setebal 60 cm. Masing - masing bak filter
saling terhubung satu sama lain secara bergantian dari atas dan bawah.
Untuk menjaga agar kualitas air laut tetap terjaga kualitasnya, maka slowfilter
secara periodic diganti pasir dan arangnya. Untuk pasir sekali pakai harus diganti (30
hari), akan tetapi arang bisa dipakai 4 x, akan tetapi sebelum digunakan lagi arang
harus dicuci bersih dan dikeringkan.
Distribusi
Air di bak reservoar didistribusikan kebeberapa unit produksi yaitu, Module
Larvae, Kultur Plankton, Kultur Artemia, module maturasi dan Packing Area melalui
Pressure Filter dengan media Karbon Aktif.
2.2.6 Pemeliharaan Induk
Persiapan Wadah
Pemeliharaan dilakukan dalam bak terpal berbentuk lingkaran dengan
diameter tujuh meter dan tinggi satu meter. Jantan dan betina ditempatkan
pada bak yang berbeda. Air yang digunakan adalah air laut penampungan
khusus induk yang terletak dibelakang ruangan induk.
Pengeringan Dan Sanitasi
Bak yang akan digunakan dicuci bersih lalu disiram dengan larutan
kaporit 50 ppm dan didiamkan selama satu hari. Lalu dibilas dengan air
kemudian dicuci kembali dengan detergen. Setelah semua permukaan telah
dicuci bersih maka dibilas kembali dengan air lalu dikeringkan dan didiamkan
selama satu hari. Keesokan harinya bak direndam dengan larutan formalin
(10ppm) dan diamkan selama satu hari lalu dibilas kembali dengan air hingga
bak benar-benar bersih dari formalin.

22

Pengisisan Air
Air yang digunakan adalah air laut dari tandon reservoar khusus induk
yang telah ditreatmen ulang melalui tahap sterilisasi dengan kaporit (4ppm) dan
netralisasi kaporit dengan Na-Tiosulfat (2ppm). Air dipompa kedalam bak
induk dan diisi hingga ketinggian 45cm (17,3 ton). Setelah terisi, dipasangkan
aerasi sebanyak 15 titik yang ditempatkan disetiap bagian sisi dan tengah bak.
Tekanan aerasi diatur sedemikian rupa agar tidak terlalu kencang maupun kecil.
Didiamkan selama satu hari agar kandungan oksigen terlarut meningkat.
Penebaran Induk
Induk
Induk udang vanname yang digunakan berasal dari Hawaii, Florida,
Amerika Serikat. Ukuran induk yang telah siap untuk dipijahkan minimal
seberat 35gram/ekor dengan panjang sekitar 15 cm. Perbedaan seksual antara
induk jantan dan betina terlihat pada jenis kelaminnya. Induk betina memiliki
organ seksual berupa thelycum yang terletak dikaki jalan kelima. Ciri induk
betina yang telah siap untuk dipijahkan yaitu bagian badan berwarna lebih
terang karena terdapat telur yang berwarna oranye kekuningan. Sedangkan
jantan memiliki organ seksual berupa petasma yang berada

kaki renang

pertama. Induk jantan yang telah siap memijah ditandai dengan petasma yang
berwarna putih pekat.
Terdapat 300 pasang induk yang masing-masing ditempatkan pada bak
yang berbeda antara jantan dengan betina. Padat tebar induk sebesar 8ekor/m2.
Aklimatisasi induk baru
Induk yang baru tiba harus diaklimatisasi terlebih dahulu agar bisa
beradaptasi dengan lingkungan barunya. Induk perlu diadaptasikan dengan

23

lingkungan di bak. Caranya dengan mengatur suhu dan pH air di bak agar
sesuai dengan suhu dan pH air di wadah pengepakan. Pengukuran suhu
dilakukan menggunakan termometer. Suhu air diplastik packing cenderung
lebih dingin dibanding suhu dibak, sehingga perlu dilakukan penurunan suhu.
Caranya adalah dengan menambahkan balok-balok es ke air dibak hingga
suhunya sama dengan diplastik packing.
Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Nilai pH di
plastik packing 8.0 8.2
Pemberian Pakan
Pakan
Terdapat tiga jenis pakan yang digunakan, yaitu cumi, cacing nereis dan
pakan buatan berupa pellet dengan kandungan protein ???. Ketiga pakan ini
mampu menyuplai kebutuhan nutrisi untuk perkembangan dan kematangan
gonad induk.
Feeding manajemen
Pakan yang diberikan ke induk menggunakan metode pembatasan atau
feeding rate (FR). Nilai FR yang digunakan sebesar 0,003 0,005.
Pakan diberikan empat kali sehari, yakni pada dini hari (01.00-02.00
WIB), pagi (08.00-09.00 WIB), siang (13.00-14.00 WIB), dan malam (20.0021.00 WIB). Cumi yang akan diberikan harus dipotong kecil-kecil agar mudah
ditangkap oleh udang. Sedangkan untuk cacing tidak perlu dipotong, namun
ditambahkan creal oil sebanyak 5-10 ml. Pemberian pakan dilakukan secara
selang-seling antara cacing dengan cumi. Pakan diberikan secara manual
dengan menebarnya ditengah antara titik-titik aerasi bak induk. Sedangkan
pellet diberikan ketika nafsu makan udang sedang meningkat sehingga pakan
berupa cumi dan cacing kurang untuk memenuhi kebutuhannya.

24

Penyimpanan pakan
Pakan yang belum digunakan disimpan dalam freezer. Freezer ini berada
disebuah ruangan semi permanen yang terletak didepan ruang pemeliharaan
induk.
Pengelolaan Air
Pengelolaan air dilakukan dengan cara sirkulasi air, penyifonan dan
pemasangan aerasi. Penyifonan dan sirkulasi air dilakukan pada pagi hari
sebelum waktu pakan pagi (07.00 WIB). Kegiatan ini dilakukan untuk
mengurangi kotoran-kotoran sisa metabolisme, sisa pakan, dan kulit sisa
molting. Caranya dengan menyedot kotoran-kotoran tersebut menggunakan
selang.
Pertama, aerasi dimatikan agar kotoran mengendap didasar. Lalu pipa
outlet diganti dengan pipa yang lebih pendek ukurannya agar air terbuang ke
saluran outlet. Salanjutnya kotoran-kotoran yang telah mengendap disedot
menggunakan selang. Setelah dibersihkan semua, aerasi kembali dinyalakan
dan pipa inlet dibuka agar air masuk sehingga terjadi sirkulasi air di bak.
Sirkulasi air dilakukan dua kali sehari, yakni pagi hari setelah penyifonan
sekitar jam 08.00 WIB dan malam hari sekitar jam 20.00 WIB. Sirkulasi air
dilakukan hingga 125 ton air perhari.
Pencegahan Hama Dan Penyakit
Pencegahan hama dan penyakit dilakukan dengan sistem biosecurity.
Setiap karyawan ataupun pengunjung yang masuk harus mencuci tangannya
dengan air tawar lalu dicelupkan ke larutan iodin 1 ppm kemudian disemprot
dengan alkohol 75%.

25

Perangsangan Kematangan Gonad


Perangsanagn kematangan gonad dilakukan dengan cara ablasi. Ablasi
adalah proses pemotongan salah satu mata pada induk betina (Caillouet, C.W.
1972).
2.2.7 Pemijahan Induk
1. Persiapan wadah
Sebelum pemijahan, wadah harus dibersihkan dari kotoran yang
menempel dengan cara dicuci menggunakan air bersih lalu dikeringkan.
Setelah kering, diisi air sebanyak lima ton air laut bersih yang belum
ditreatment sebelumnya dengan kaporit dan Na-tiosulfat. Setelah penuh,
dimasukan kaporit dengan dosis 1ppm atau sebanyak 1gr/ton air lalu aerasi
dinyalakan dengan tekanan besar. Ditunggu selama 8-12 jam lalu ditambahkan
EDTA sebanyak 20 ppm (20gram/ton air)untuk mengurangi residu kaporit
yang masih tersisa. Ditambahkan juga vit.C sebanyak 10ppm (10gram/ton air)
untuk meningkatkan sistem imun naupli maupun induk. Kemudian air
didiamkan selama 8-10 jam. setelah itu air bisa digunakan.
2. Pemijahan
Sebelum pemijahan, induk-induk betina diseleksi berdasarkan tingkat
kematangan gonadnya. Induk yang matang gonad dapat dilihat dari adanya
telur yang berwarna kuning oranye disepanjang bagian dalam punggung.
Induk yang siap untuk dipijahkan adalah induk TKG 4, cirinya terlihat dari
rangkaian telur yang padat dan tak terputus. Dalam satu hari, dari 300 ekor
induk betina, rata-rata terdapat 60-75 ekor induk yang matang gonad dan siap

26

untuk dipijahkan. Induk yang telahdiseleksi ditransfer ke bak pemeliharaan


induk jantan. Kegiatan ini dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB.
Setelah ditransfer akan terjadi proses percumbuan antara jantan dan
betina. Jantan akan berenang membuntuti pergerakan betina hingga akhirnya
berenang terbalik kemudian menempelkan telicum nya ke petasma betina.
Proses ini berlangsung antara 6-8 jam. Induk betina yang telah dibuahi dapat
dilihat dari adanya kantung sperma yang menempel dipetasma betina. Induk
betina yang tidak melakukan pemijahan dikembalikan ke bak induk betina.
Sebelum dikembalikan, induk betina harus dibilas dahulu dengan larutan
iodine 1ppm agar terhindar dari bakteri atau jamur yang ada di bak.
3. Spawning
Induk betina yang telah dibuahi dipindahkan ke bak spawning.
Dilakukan dua kali sampling untuk memeriksa betina yang sudah dibuahi,
yakni pada pukul 17.00 WIB dan 19.00 WIB. Induk betina dapat
menghasilkan sekitar 180.000-250.000 butir/ekor (Aquacop, 1975).
4. Penetasan telur
Untuk membedakan telur yang dibuahi dan tidak dibuahi secara
langsung sangatlah sulit, maka dari itu harus menggunakan alat bantu berupa
mikroskop. Telur yang tidak dibuahi akan terlihat lebih gelap bila dilihat
secara seksama.. Dalam sekali pemijahan dapat dihasilakn telur sebanyak 6-8
juta butir telur dengan fekunditas sekitar 200.000-300.000 butir/induk.
Persentase telur yang dibuahi berkisar antara 50-70%.
5. Inkubasi telur
Inkubasi dilakuakn dibak fiber bervolume satu ton air. Dalam satu bak
fiber tersebut dapat menampung sekitar 3-4,5 juta butir telur. Derajat

27

penetasan sekitar 40-70%. Telur-telur tersebut akan menetas dalam kurun


waktu 12-16 jam setelah pembuahan.
6. Panen naupli
Perkembangan naupli satu hingga menjadi naupli lima membutuhkan
waktu sekitar 35 jam. Setelah mencapai stadia naupli 4-5, maka naupli siap
dipanen. Sebelum

dipanen, naupli disampling untuk dihitung jumlahnya.

Caranya, diambil naupli sebanyak satu ml menggunakan syring. Sampel


diambil dilima titik, yakni bagian pinggir dan tengah. Setelah itu dihitung
jumlah naupli yang ada dalam tiap syring tersebut. Jumlah terbesar dan
terkecil dari tiap syring dibuang. Dilakukan tiga kali ulangan sehingga
diperoleh sembilan data. Data-data tersebut dicari nilai rata-rat per ml air.
kemudian dikalikan dengan volume air dalam bak fiber yaitu 1.000.000 ml.
Saat panen, aerasi dimatikan dan lampu dinyalakan agar naupli bergerak
keatas. Lalu air diputar agar naupli berkumpul ditengah. Setelah dirasa cukup
banyak naupli yang naik ke permukaan maka diserok menggunakan
planktonet kemudian dipindahkan ke bak yang telah berisi air. Selanjutnya
dilakukan sampling jumlah dengan cara mengambil sampel diliam titik dari
bak tersebut. Cara perhitungannya sama seperti samling di bak fiber namun
hanya dilakukan satu kali ulangan.
7. Pengepakan dan transportasi naupli
Setelah itu naupli dimasukan kedalam kantung plastik berukuran 28 x
57 x 0,04 cm. satu kantung naupli dapat diisi 300-350ribu ekor naupli.Dalam
satu styrofoam diisi dua kantung naupli, kemudian disisipkan dua kantung
plastik es ukuran satu liter kedalamnya. Lalu ditutup dan dilakban kemudian

28

dimasukan kedalam plastik dan dilakban kembali hingga rapat. Naupli ini siap
untuk dikirim.

III. PELAKSANAAN KEGIATAN


3.1.

Pemeliharaan larva

3.1.1. Persiapan wadah


a. Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva dilakukan pada bak beton berukuran 5x2,5x1,25 m 3. Terdapat 24
buah bak yang terbagi dalam dua buah ruangan yang biasa disebut modul. Dalam satu
modul terdapat empat buah bak larva.
b. Pengeringan

29

Wadah pemeliharaan larva yang telah digunakan dalam satu siklus


pemeliharaan segera dilakukan pengeringan. Sebelum wadah di keringkan, terlebih
dahulu dilakukan sanitasi wadah dengan cara mencuci bak pemeliharaan larva dengan
cara menyikat seluruh dinding bak menggunakan larutan detergen kemudian di bilas
dengan air. Untuk membunuh parasit yang menempel di wadah dilakukan pencucian
menggunakan larutan kaporit dengan dosis 100 ppm, pencucian menggunakan
kaporit dilakukan dengan cara menyiram bak-bak pemeliharaan dan lantai di seluruh
area modul pemeliharaan larva. Untuk sanitasi perlengkapan aerasi dan alat-alat
produksi dilakukan perendaman mengunakan larutan formalin sebanyak 1 ppm. Lama
pengeringan memakan waktu 15 hari.
c. Pengisian Air
Setelah melewati proses pengeringan, peralatan yang telah bersih kemudian di
pasang kembali seperti semula. Sebelum diisi air dilakukan pencucian kembali untuk
membersihkan sisa larutan kaporit yang masih menempel hingga aroma kaporit
hilang. Di pipa inlet diberikan saringan berupa filter bag yang diberi kapas di
dalamnya. Setelah semuanya siap pengisian air dapat dilakukan dengan membuka
keran inlet. Pengisian air 12-24 jam sebelum naupli ditebar sebanyak setengah dari
tonase maksimal dalam satu bak. Setelah pengisian air dilakukan treatment air dengan
pemberian EDTA 6 jam sebelum penebaran naupli untuk menjaga kualitas air. Setelah
pemberian EDTA aerasi di seting kencang agar kerja EDTA optimal karena peroses
pengadukan oleh aerasi.
d. Penebaran Larva

30

Benur yang ditebar berasal dari stadia Naupli 4 dan 5. Hal yang harus
dipersiapkan sebelum penebaran naupli yaitu pemberian Treflan 0,5 ppm kedalam
wadah 2 jam sebelum dilakukan penebaran. Aerasi yang di seting kencang kemudian
di setting kecil. Setelah aerasi selesai di setting kecil. Tutup bak/tank pemeliharaan
dengan plastic mulsa untuk menjaga suhu wadah pemeliharaan. Sebelum masuk
kedalam wadah pemeliharaan plastic packing yang berisi naupli di sanitasi terlebih
dahulu dengan cara merendam dalam larutan treflan 0,05 ppm. Hal ini untuk
menghindari kontaminasi yang terbawa dari tempat asal naupli. Kantung naupli yang
telah di sanitasi kemudian di masukkan kedalam wadah yang telah dipersiapkan
untuk selanjutnya dilakukan peroses aklimatisasi. Aklimatisasi suhu dilakukan selama
15 menit dengan cara menaruh kantong naupli di permukaan air dan diberi aerasi.
Penebaran naupli dengan cara menebarnya secara perlahan.

e. Pemberian Pakan
Jenis Pakan
Pemberian pakan dimulai pada saat naupli telah pindah ke stadia zoea karena
saat masih di stadia naupli benur masih mempunyai kuning telur, biasanya
perpindahan stadia terjadi selama 12 jam setelah tebar. Ada dua jenis pakan yang
diberikan yaitu berupa pakan cair dan pakan serbuk. Pakan cair yang digunakan
bermerek dagang Epicore dengan kode pakan Epifeed LHF-1 untuk stadia zoea1
sampai stadia ZM/Mysis1 dan Epifeed LHF-2 untuk stadia Mysis1 sampai stadia

31

PL1. Penggunaan pakan tergantung ketersediaan pakan yang ada. Jika pakan cair
habis langsung beralih ke pakan serbuk. Pakan serbuk yang digunakan berupa
campuran berbagai jenis pakan serbuk. Pencampuran bahan pakan serbuk harus
memperhatikan stadia benur yang dipelihara. Berikut formulasi pembuatan pakan/mix
feed larvae di hatchery ganesha.
f. Feeding manajemen
Pemberian pakan dalam kegiatan pembenihan udang vannamei di ganesha
hatchery dimulai saat larva yang dipelihara memasuki stadia zoea 1. Metode yang
digunakan yaitu dengan cara dibatasi sesuai dengan stadia udang yang sedang
dipelihara. Dalam satu hari pemberian pakan dilakukan sebanyak delapan kali
dilakukan setiap tiga jam.pemberian pakan.

Tabel 3. Jenis dan Waktu Pemberian Pakan Larva Udang Vannamei


Stadia

06.00

09.00

Z1-ZM

Pakan A
Vit. C

LHF 1
CT

M1-MPL

Pakan B
Vit. C

LHF 2
CT

Pakan C
Vit. C
Pakan
D
Vit. C

Pakan C
Artemia

PL1-PL5
PL6-PL12

Pakan D
Artemia

Jenis dan Waktu Pemberian Pakan


12.00
15.00
18.00
21.00
Pakan A
LHF 1
Pakan A LHF 1
Vit. C
CT
Rotifer
Pakan B
Pakan B LHF 2
CT
LHF 2
Rotifer
Pakan C
Pakan C Pakan C
Pakan C
Artemia
Pakan D

Pakan D

Pakan D
Artemia

Pakan D

24.00

03.00

Pakan A

LHF 1

Pakan B

LHF 2

Pakan C

Pakan C

Pakan D

Pakan D

32

Keterangan :
CT

: Chaetoceros sp.

AT

: Artemia salina
g. Panen
Panen PL dilakukan setelah sampai stadia PL 10. Sebelum dipanen, PL harus

diuji kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam panen salah satunya adalah
suhu, suhu air yang disiapkan untuk mengisi kantong plastik panen adalah 26 27 0C
tergantung dengan jarak dan lama perjalanan. Adanya perbedaan suhu di bak kultur
PL dengan suhu air packing panen mengharuskan kita untuk hati hati dalam
mentransfer PL ke tank panen.
h. Stocking Density
Setiap kantong plastik diisi PL dengan kepadatan kurang lebih 1.500 - 2.300
ekor/packing.Untuk mengetahui jumlah benur dalam kantong plastik dilakukan
penghitungan sesuai dengan standart yang ditentukan Plastik packing 1/3 bagian diisi
air (sekitar 2L) dan 2/3 bagian diisi Oksigen. Sebagai bahan pertimbangan untuk
menentukan kepadatan PL saat panen adalah ukuran PL dan waktu yang akan
ditempuh. Pertimbangan tersebut guna menghindari resiko kematian akibat stress dan
kanibalisme saat pengiriman PL ke lokasi tujuan.
i. Packaging Material
Material untuk packing PL, menggunakan plastic 28 x

57 x 0,04 cm

(Rangkap dua). Box yang digunakan adalah Polyfoarm Garuda dengan ukuran 72 x
42 x 26 cm. Setelah pengantaran PL ke lokasi Tambak, Box Polyfoarm diantar
kembali ke hatchery.

33

j. Transportasi
Pengiriman PL ke lokasi tambak melalui transportasi darat dan udara.
Transportasi

darat

menggunakan

truk/mobil

pick

up.

Transportasi

udara

menggunakan pesawat. Penggunaan jasa transportasi ini disesuaikan dengan jarak


lokasi tambak dan jumlah PL yang dikirim.
3.2. Alge
3.2.1. Kultur Murni
Alat Alat Yang Diperlukan ;
Peralatan yang diperlukan untuk kultur murni algae antara lain: autoclave,
digunakan untuk sterilisasi air media serta peralatan yang hendak digunakan,
mikroskop, haemocytometer, magnatec stirrer, timbangan elektrik, refraktometer.
Dalam kultur murni diperlukan wadah seperti cawan petri untuk wadah kultur agar,
test tube 10ml, tabung Erlenmeyer 100ml, 250ml, 500ml, 1000ml, carbaoy 5Liter, 10
liter dan 20 liter. Peralatan pendukung seperti selang aerasi, batu serta timah aerasi
juga diperlukan. Peralatan gelas yang biasa digunakan dalam laboratorium seperti
gelas ukur, beaker glass, pipet ukur, pengaduk kaca dan tabung reaksi selalu
diperlukan. Kebutuhan lain yang penting termasuk tissue, alumunium foil dan ose
(kawat penggores).
A. Sterilisasi
Semua peralatan yang akan digunakan untuk isolasi, pemindahan dan
pemeliharaan kultur murni harus disterilkan. Peralatan ini termasuk peralatan gelas,
Pipet tetes, tabung reaksi, erlemeyaer dan media padat. sterilisasi harus dilakukan

34

dengan autoklaf pada suhu 121oC dalam uap air dengan tekanan 1 Kg /cm 2 selama 45
menit. Sebelum diautoklaf semua peralatan harus dibungkus dengan alumunium foil.
Bak torren 500 ml, gallon 19 l, selang aerasi,batu aerasi dan tutup gallon dan
lain-lain hanya dicuci saja, tetapi juga dapat disterilkan dengan HCL (kadar 10%-50
%) selama beberapa jam. Untuk peralatan carboy sterilisasi dapat dilakukan dengan
bahan kimia seperti klorin (100-1000 ppm), HCL, formalin 200ppm dan pengeringan
dengan matahari.
Dalam

menangani sterilisasi peralatan, kesehatan petugas merupakan hal

yang sangat penting. Tangan harus dicuci dengan sabun dan dikeringakan . Selama
isolasi , inokulasi atau pemindahan bibit murni tangan harus dicuci dengan alkohol
sebelum penanganan.
B. Persiapan Media Kultur
Ada banyak formula yang berbeda untuk menyiapkan media buatan untuk
kultur fitoplankton. Media air laut buatan adalah campuran air suling, bahan-bahan
nutrient dan garam laut buatan. Menurut laporan media buatan memberikan hasil
yang paling konstan dalam kultur algae.
Untuk media agar, bahan yang diperlukan adalah bubuk agar murni (agar
extra pure powder) atau bacto agar sebanyak 1,5 % - 2 %. Dalam persiapan media
cair semua peralatan gelas dan air suling yang digunakan perlu disterilkan dengan
menggunakan autoklaf. Kemudian masing-masing bahan nutrient utama, zat besi, zat
logam (misalnya Cu, Mb, Zn ) dan vitamin seperti dalam tabel 1. ditimbang. Mulamula stok dasar bahan-bahan logam dilarutkan dalam air suling steril. Campuran

35

dapat diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer. Stok vitamin B1 dan B12 juga
disiapkan dengan cara yang sama.
3.2.2. Kultur Skala Lab
Alat alat yang diperlukan antara lain adalah : autoclave, tabung erlemeyer
1000ml, gallon 19 l, selang aerasi, batu aerasi, pupuk, bibit chetosceros. Pada kultur
skala lab adalah lanjutan dari kultur skala murni, pada skala lab ini gallon yang
ukuran 19 l diisi setengah nya saja sekitar 10 l sebanyak 25 gallon lalu kemudian
semua gallon tersebut dibawa kedalam lab untuk dilakukan sterilisasi. Semua gallon
disterilisasi dengan kaporit 10 ml selama 8-12 jam, kemudian dilanjutkan dengan
sterilisasi kaporit dengan Na-thiosulfat 10ml biarkan selama 4-8 jam.
Ketika melakukan sterilisasi Aerasi harus kencang ini dimaksudkan untuk
agar membantu agar semua teraduk secara merata. Setelah selesai proes sterilisasi
baru lah pemberian pupuk berupa AGP dan Silikat sebanyak 10ml per gallon. Lalu
pemberian bibit chetosseros sebanyak 1000ml per gallon,kemudian tutup bagian atas
gallon menggunakan penutup gallon. Dan kemudian aerasi diatur sedang-sedang saja,
tidak boleh kencang sekali dan tidak boleh terlalu pelan juga.biarkan selama 3 hari
baru dipanen untuk dilakukan kultur secara intermediet. Proses kultur branchionus
sama seperti proses kultur chetosceros.
3.2.3. Kultur Intermediet
Alat alat yang diperlukan antara lain adalah : bak torren 500 l, gallon 19 l,
selang aerasi, batu aerasi, pupuk, bibit chetosceros.
Pada kultur skala intermediet ini adalah lanjutan dari skala lab, dimana kultur
skala lab 25 gallon tadi kita panen untuk dikultur kembali di bak torren ukuran
volumen 500 liter. Pada bak torren ukuran 500 liter diisi setengahnya saja 250 liter
air laut tetapi sebelum diisi air laut bak tersebut harus sudah dicuci bersih dahulu.

36

Setelah bak tersebut berisi air laut barulah diberi pupuk sebanyak 200ml yang udah
tercampur, dimana pupuk tersebut berupa AGP, Silikat, Trace metal, dan Nitrat
phospat.setelah semua pupuk dimasukkan dalam bak tersebut barulah gallon yang
berisi chetosceros dimasukkan juga kedalam bak torren biarkan selama 3 hari baru
bisa dilanjutkan untuk kultur secara massal. Proses kultur branchionus sama seperti
proses kultur chetosceros.
3.2.4. Kultur Skala Massal
Alat alat yang diperlukan antara lain adalah : bak semen (2x2x1.5) m3, bak
torren 500 l, selang aerasi, batu aerasi, pupuk, bibit chetosceros, mesin pompa.
Pada kultur skala massal ini adalah lanjutan dari skala intermediet, skala
massal ini kultur dilakukan di bak semen dengan ukuran (2x2x1.5) m3, sebelum
dimulai kultur bak tersebut harus dicuci dahulu dengan cara semua dinding setiap
sisinya disikat dengan spon dan air berisi detergen. Setelah itu barulah dibilas semua
bak yang dicuci tersebut dengan air tawar atau air laut. Kemudian bak tersebut diisi
dengan air laut sebanyak 3 ton lalu diberi pupuk sebanyak 300ml perbaknya, pupuk
yang digunakan adalah AGP, Trace metal, Silikat, Nitrat Phospat. Setelah pemberian
pupuk barulah chetosceros yang berada pada bak torren dipindah ke bak semen
semen menggunakan pompa. Setelah 3 hari barulah bisa dipanen dan dibisa diberikan
pada bak-bak pemeliharaan larva.
3.3. Water Treatment
3.3.1. Sumber air
Air yang digunakan dalam kegiatan pembenihan udang vaname di hatchery
PT. Syaqua berupa air tawar dan air laut. Air laut yang digunakan berasal dari
peraiaran teluk lampung. Air laut diambil dengan menggunakan pompa Disalurkan

37

melalui pipa sebelum masuk kedalam sand filter. Panjang pipa yang digunakan 50
meter dari bibir pantai. Pipa yang digunakan berukuran 3.
3.3.2. Pengelolaan air
Air laut yang digunakan tidak langsung digunakan begitu saja untuk kegiatan
budidaya. Sebelum air digunakan harus melalui tahap treatment air terlebih dahulu.
adapun tahap treatment air yang dilakukan dalam kegiatan pembenihan udang
vaname di hatchery Ganesha yaitu sand filter, treatment tandon dan micron filter.
Pada bak sand filter berisi batu,pasir dan arang. Dan untuk menjaga kulaitas air pasir
dan arang diganti secara periodik.
Air yang di ambil dari laut kemudian di tampung kedalam bak sand filter.
Fungsi dari sand filter yaitu sebagai filter untuk mengurangi partikel partikel bakteri
ataupun kotoran yang terbawa dari laut, lalu setelah dari bak sand filter air dialirkan
kedalam tendon/reservoir dengan ukuran (5 m x 3,5 m x 0,6 m) untuk dilakukan
pemberian kaporit sebanyak 16ppm dan biarkan selama 8- 12 jam lalu dilanjutkan
pemberian Na- Thiosulfat sebanyak 8ppm untuk menetralisasikan kaporit. Setiap saat
pemberian kaporit dan Na-thiosulfat proses pengadukan menggunakan blower ( aerasi
berad didasar bak ). Setiap akan dialirkan kesetiap divisi air melewati waterco,
waterco yang memiliki fungsi mencuci air dan menyaring partikel-partikel yang ada
di air tersebut. Ini semua dimaksudkan agar ketika digunakan air telah siap dan bersih
dari partikel-pertikel yang dapat merusak perairan.
Distribusi

38

Air di bak reservoar didistribusikan kebeberapa unit produksi yaitu, Module


Larvae, Kultur Plankton, Kultur Artemia, module maturasi dan Packing Area melalui
Pressure Filter dengan media Karbon Aktif.

3.3.3. Maturasi
Persiapan Wadah
Pemeliharaan dilakukan dalam bak terpal berbentuk lingkaran dengan diameter
tujuh meter dan tinggi satu meter. Jantan dan betina ditempatkan pada bak yang
berbeda.

Air yang digunakan adalah air laut penampungan khusus induk yang

terletak dibelakang ruangan induk.


Pengeringan dan sanitasi
Bak yang akan digunakan dicuci bersih lalu disiram dengan larutan
kaporit 50 ppm dan didiamkan selama satu hari. Lalu dibilas dengan air kemudian
dicuci kembali dengan detergen. Setelah semua permukaan telah dicuci bersih maka
dibilas kembali dengan air lalu dikeringkan dan didiamkan selama satu hari.
Keesokan harinya bak direndam dengan larutan formalin (10ppm) dan diamkan
selama satu hari lalu dibilas kembali dengan air hingga bak benar-benar bersih dari
formalin.
Pengisisan air
Air yang digunakan adalah air laut dari tandon reservoar khusus induk
yang telah ditreatmen ulang melalui tahap sterilisasi dengan kaporit (4ppm) dan
netralisasi kaporit dengan Na-Tiosulfat (2ppm). Air dipompa kedalam bak induk dan

39

diisi hingga ketinggian 45cm (17,3 ton). Setelah terisi, dipasangkan aerasi sebanyak
15 titik yang ditempatkan disetiap bagian sisi dan tengah bak. Tekanan aerasi diatur
sedemikian rupa agar tidak terlalu kencang maupun kecil. Didiamkan selama satu
hari agar kandungan oksigen terlarut meningkat.
Penebaran Induk
Induk
Induk udang vaname yang digunakan berasal dari Hawaii, Florida, Amerika
Serikat. Ukuran induk yang telah siap untuk dipijahkan minimal seberat 35gram/ekor
dengan panjang sekitar 10-15 cm. Perbedaan seksual antara induk jantan dan betina
terlihat pada jenis kelaminnya. Induk betina memiliki organ seksual berupa thelycum
yang terletak dikaki jalan kelima. Ciri induk betina yang telah siap untuk dipijahkan
yaitu bagian badan berwarna lebih terang karena terdapat telur yang berwarna oranye
kekuningan. Sedangkan jantan memiliki organ seksual berupa petasma yang berada
kaki renang pertama. Induk jantan yang telah siap memijah ditandai dengan petasma
yang berwarna putih pekat.
Terdapat 300 pasang induk yang masing-masing ditempatkan pada bak
yang berbeda antara jantan dengan betina. Padat tebar induk sebesar 8ekor/m2.
Aklimatisasi induk baru
Induk yang baru tiba harus diaklimatisasi terlebih dahulu agar bisa beradaptasi
dengan lingkungan barunya. Induk perlu diadaptasikan dengan lingkungan di bak.
Caranya dengan mengatur suhu dan pH air di bak agar sesuai dengan suhu dan pH air
di wadah pengepakan. Pengukuran suhu dilakukan menggunakan termometer. Suhu
air diplastik packing cenderung lebih dingin dibanding suhu dibak, sehingga perlu

40

dilakukan penurunan suhu. Caranya adalah dengan menambahkan balok-balok es ke


air dibak hingga suhunya sama dengan diplastik packing.
Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Nilai pH di plastik
packing 8.0 8.2
Pemberian Pakan
Pakan
Terdapat tiga jenis pakan yang digunakan, yaitu cumi, cacing nereis dan pakan
buatan berupa pellet dengan kandungan protein bisa mencapai 40%. Ketiga pakan ini
mampu menyuplai kebutuhan nutrisi untuk perkembangan dan kematangan gonad
induk.
Feeding manajemen
Pakan yang diberikan ke induk menggunakan metode pembatasan atau feeding
rate (FR). Nilai FR yang digunakan untuk cacing nereis pada pagi hari sebanyak 8%
dan malam hari 5%,sedangkan untuk cumi pada pagi hari sebanyak 4% dan malam
hari 4%, sedangkan untuk bret s seabnyak 0.00025 % dan malam hari 0.00025 %.
Pakan diberikan empat kali sehari, yakni pada pagi (07.00-08.00 Wib) pakan
yang diberikan berupa cacing, pada pukul (10.00 Wib) brid s, siang (13.00-14.00
Wib) berupa cumi, dan malam (20.00-21.00 Wib) cacing, lalu pada pukul (01.00 wib)
berupa cumi, dan pada (pukul 02.30 Wib) berupa brid s. Cumi yang akan diberikan
harus dipotong kecil-kecil agar mudah ditangkap oleh udang. Sedangkan untuk
cacing tidak perlu dipotong, namun ditambahkan creal oil sebanyak 5-10 ml.
Pemberian pakan dilakukan secara selang-seling antara cacing dengan cumi. Pakan
diberikan secara manual dengan menebarnya ditengah antara titik-titik aerasi bak

41

induk. Sedangkan pellet diberikan ketika nafsu makan udang sedang meningkat
sehingga pakan berupa cumi dan cacing kurang untuk memenuhi kebutuhannya.
Penyimpanan pakan
Pakan yang belum digunakan disimpan dalam freezer. Freezer ini berada
disebuah ruangan semi permanen yang terletak didepan ruang pemeliharaan induk.
Pengelolaan air
Pengelolaan air dilakukan dengan cara sirkulasi air, penyifonan dan pemasangan
aerasi. Penyifonan dan sirkulasi air dilakukan pada pagi hari sebelum waktu pakan
pagi (07.00 WIB). Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi kotoran-kotoran sisa
metabolisme, sisa pakan, dan kulit sisa molting. Caranya dengan menyedot kotorankotoran tersebut menggunakan selang.
Pertama, aerasi dimatikan agar kotoran mengendap didasar. Lalu pipa outlet
diganti dengan pipa yang lebih pendek ukurannya agar air terbuang ke saluran outlet.
Salanjutnya kotoran-kotoran yang telah mengendap disedot menggunakan selang.
Setelah dibersihkan semua, aerasi kembali dinyalakan dan pipa inlet dibuka agar air
masuk sehingga terjadi sirkulasi air di bak. Sirkulasi air dilakukan dua kali sehari,
yakni pagi hari setelah penyifonan sekitar jam 08.00 WIB dan malam hari sekitar jam
20.00 WIB. Sirkulasi air dilakukan hingga 125 ton air perhari, yakni pada pagi hari
sebanyak 75 ton (tiga bak reservoar) dan malam hari sebanyak 50 ton (dua bak
reservoar).
Pencegahan hama dan penyakit

42

Pencegahan hama dan penyakit dilakukan dengan sistem biosecurity. Setiap


karyawan ataupun pengunjung yang masuk harus mencuci tangannya dengan air
tawar lalu dicelupkan ke larutan iodin 1 ppm kemudian disemprot dengan alkohol
75%.
Perangsangan kematangan gonad
Perangsanagn kematangan gonad dilakukan dengan cara ablasi. Ablasi adalah
proses pemotongan salah satu mata pada induk betina
3.3.4

Pemijahan Induk
Persiapan wadah

Sebelum pemijahan, wadah harus dibersihkan dari kotoran yang menempel


dengan cara dicuci menggunakan air bersih lalu dikeringkan. Setelah kering, diisi air
sebanyak lima ton air laut bersih yang belum ditreatment sebelumnya dengan kaporit
dan Na-tiosulfat. Setelah penuh, dimasukan kaporit dengan dosis 1ppm atau sebanyak
1gr/ton air lalu aerasi dinyalakan dengan tekanan besar. Ditunggu selama 6-8 jam lalu
ditambahkan EDTA sebanyak 15 ppm (15gram/ton air)untuk mengurangi residu
kaporit yang masih tersisa. Ditambahkan juga vit.C sebanyak 5ppm (5gram/ton air)
untuk meningkatkan sistem imune naupli maupun induk. Kemudian air didiamkan
selama . setelah itu air
Pemijahan
Sebelum

pemijahan,

induk-induk

betina

diseleksi

berdasarkan

tingkat

kematangan gonadnya. Induk yang matang gonad dapat dilihat dari adanya telur yang
berwarna kuning oranye disepanjang bagian dalam punggung. Induk yang siap untuk

43

dipijahkan adalah induk TKG 3, cirinya terlihat dari rangkaian telur yang padat dan
tak terputus. Dalam satu hari, dari 300 ekor induk betina, rata-rata terdapat 60-75
ekor induk yang matang gonad dan siap untuk dipijahkan. Induk yang telahdiseleksi
ditransfer ke bak pemeliharaan induk jantan. Kegiatan ini dilakukan sekitar pukul
11.00 WIB.
Setelah ditransfer akan terjadi proses percumbuan antara jantan dan betina.
Jantan akan berenang membuntuti pergerakan betina hingga akhirnya berenang
terbalik kemudian menempelkan telicum nya ke petasma betina. Proses ini
berlangsung antara 6-8 jam. Induk betina yang telah dibuahi dapat dilihat dari adanya
kantung sperma yang menempel dipetasma betina. Induk betina yang tidak
melakukan pemijahan dikembalikan ke bak induk betina. Sebelum dikembalikan,
induk betina harus dibilas dahulu dengan larutan iodine 1ppm agar terhindar dari
bakteri atau jamur yang ada di bak.
Spawning
Induk betina yang telah dibuahi dipindahkan ke bak spawning. Dilakukan dua
kali sampling untuk memeriksa betina yang sudah dibuahi, yakni pada pukul 17.00
WIB dan 19.00 WIB. Induk betina dapat menghasilkan sekitar 180.000-250.000
butir/ekor.
Penetasan telur
Untuk membedakan telur yang dibuahi dan tidak dibuahi secara langsung
sangatlah sulit, maka dari itu harus menggunakan alat bantu berupa mikroskop. Telur
yang tidak dibuahi akan terlihat lebih gelap bila dilihat secara seksama.. Dalam sekali
pemijahan dapat dihasilkan telur sebanyak 6-8 juta butir telur dengan fekunditas

44

sekitar 200.000-300.000 butir/induk. Persentase telur yang dibuahi berkisar antara 5070%.
Inkubasi telur
Inkubasi dilakuakn dibak fiber bervolume satu ton air. Dalam satu bak fiber
tersebut dapat menampung sekitar 3-4,5 juta butir telur. Derajat penetasan sekitar 4070%. Telur-telur tersebut akan menetas dalam kurun waktu 12-16 jam setelah
pembuahan.
Panen naupli
Perkembangan naupli satu hingga menjadi naupli lima membutuhkan waktu
sekitar 35 jam. Setelah mencapai stadia naupli 4-5, maka

naupli siap dipanen.

Sebelum dipanen, naupli disampling untuk dihitung jumlahnya. Caranya, diambil


naupli sebanyak satu ml menggunakan syring. Sampel diambil dilima titik, yakni
bagian pinggir dan tengah. Setelah itu dihitung jumlah naupli yang ada dalam tiap
syring tersebut. Jumlah terbesar dan terkecil dari tiap syring dibuang. Dilakukan tiga
kali ulangan sehingga diperoleh sembilan data. Data-data tersebut dicari nilai rata-rat
per ml air. kemudian dikalikan dengan volume air dalam bak fiber yaitu 1.000.000
ml.
Saat panen, aerasi dimatikan dan lampu dinyalakan agar naupli bergerak keatas.
Lalu air diputar agar naupli berkumpul ditengah. Setelah dirasa cukup banyak naupli
yang naik ke permukaan maka diserok menggunakan planktonet kemudian
dipindahkan ke bak yang telah berisi air. Selanjutnya dilakukan sampling jumlah
dengan cara mengambil sampel diliam titik dari bak tersebut. Cara perhitungannya
sama seperti samling di bak fiber namun hanya dilakukan satu kali ulangan.

45

Pengepakan dan transportasi naupli


Setelah itu naupli dimasukan kedalam kantung plastik berukuran 28 x 57 x 0,04
cm. satu kantung naupli dapat diisi 300-350ribu ekor naupli.Dalam satu styrofoam
diisi dua kantung naupli, kemudian disisipkan dua kantung plastik es ukuran satu liter
kedalamnya. Lalu ditutup dan dilakban kemudian dimasukan kedalam plastik dan
dilakban kembali hingga rapat. Naupli ini siap untuk dikirim.

IV. KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan

Kegitan selama praktek kerja lapang di PT. Syaqua Indonesia (ganesha


Hatchery) terbagi kedalam 4 divisi besar, yaitu Divisi Larva, Divisi Pakan
Alami, Divisi Maturasi, dan Divisi Water Treatment.

46

Pada Divisi Larva melakukan manajemen pemeliharaan larva, seperti


pemberian pakan alami maupun buatan, penebaran nauplius, pemeliharaan

dari tahap zoea, mysis, hingga post-larva, serta panen.


Pada Divisi Pakan Alami, pekerjaan yang dilakukan meliputi kultur Artemia
salina, kultur Chaetoceros sp. pada skala laboratorium, skala intermediate,

serta skala massal.


Pada Divisi Maturasi melakukan pemijahan induk udang vannamei, panen

telur, serta penetasan (Hatching).


Pada Divisi Water Treatment, melakukan treatment air untuk keperluan
berbudidaya.

4.2. Saran
Kerja sama tim harus lebih diperhatikan, karena pekerjaan di hatchery
memerlukan perhatian yang lebih intensif.
Harus memperhatikan SOP (Sistem Operation Procedure) yang
berlaku.
Keselamatan pekerja harus diperhatikan.