Anda di halaman 1dari 8

A.

Definisi
Kehamilan ektopik adalah setiap implantasi yang telah dibuahi di luar cavum
uterus.Implantasi dapat terjadi di tuba falopi, ovarium, serviks, dan abdomen.
Namun,kejadian kehamilan ektopik yang terbanyak adalah di tuba falopi(Murria,2002).
Kehamilan etropik terjadi bila telur yang dibuahi berimplatasi dan tumbuh diluar
endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik
karena kehamilan pada pars intertisialis tuba dan kanalis servikalis masih termaksud dalam
uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Kehamilan ektopik ialah kehamilan, dengan ovum yang dibuahi, berimplantasi dan
tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri. Istilah
kehamilan ektopik lebih tepat daripada istilah ekstrauterin yang sekarang masih juga banyak
dipakai, oleh karena terdapat beberapa jenis kehamilan ektopik yang berimplantasi dalam
uterus tetapi tidak pada tempat yang normal, misalnya kehamilan pada pars interstisialis tuba
dan kehamilan pada serviks uteri.
Kehamilan ektopik adalah implantasi dari pertumbuhan hasil konsepsi diluar
endometrium kavum uteri(kapita selekta,2001)
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba.Sangat jarang terjadi implantasi
pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus yang rudimeter, dan
divertikel pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan
pars intersialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars ampullaris tuba, dan
kehamilan infundibulum tuba.
B. Klasifikasi
Menurut Sarwono Prawirohardjo, lokasinya kehamilan ektopik dapat dibagi dalam
beberapa golongan :
1. Tuba Fallopii
a) Pars-interstisialis
b) Isthmus
c) Ampula
d) Infundibulum
e) Fimbrae
2. Uterus
a) Kanalis servikalis

b) Divertikulum
c) Kornua
d) Tanduk rudimenter
3. Ovarium
4. Intraligamenter
5. Abdominal
a) Primer
b) Sekunder
6. Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus .
C. Manifestasi klinik
Pada kehamilan ektopik yang mudah dan tidak terganggu terdapat gejala-gejala seperti
pada kehamilan normal yakni amenorea, enek sampai muntah dan sebagainya.Mungkin rasa
nyeri kiri atau kanan pada perut bagian bawah lebih sering ditemukan berhubung dengan
tarikan pada peritoneum berhubung dengan pembesaran tuba dengan kehamilan ektopik.
Uterus juga membesar dan lembek seperti pada kehamilan intra uteri, pada kehamilan dua
bulan mungkin disamping uterus yang membesar dapat ditemukan tumor yang lembek dan
licin, akan tetapi hal itu disebabkan oleh korpus luteum graviditatis atau suatu tumor
ovarium.
Amenorea diikuti

oleh perdarahan merupakan gejala yang sering dijumpai pada

kehamilan ektopit.biasa perdarahan tidak banyak tetapi dapat berlangsung cukup lama ,dan
darah berwarnwa hitam.seperti telah dikemukakan jika mudigih mati,desidua dapat
dikeluarkan seluruhnya;ada pemeriksaan histologi pada desidua ini tidak ditemukan villus
korialus
Abortus tuba ialah gangguan yang umumnya tidak begitu mendadak,dan dapan
memberti gambaran yang beraneka ragam.timbul perdarahan dari uterus kyang berwarna
hitam,dan rasa nyeri disamping uterus bertambah keras.pemerikssan ditemukan disamping
uterus sebuah tumor nyeri tekan ,agak pendek dan batas-batas

yang tidak rata dan

jelas,kadang-kadang uterus termaksud dalam tumor tersebut. kavum dougelasi,menonjol


kevagina karena darah didalamnya,kadang-kadang teraba dengan jelas,hemtokele sebagai
tumor agak lembek.satu gejala yang penting ialah timbul nyeri yang cukup keras apabila
serviks uteri digerakan.

Tergantung dari banyaknya darah yang keluar kerongga perut,penderita tampak biasa
zaja.atau tampak anemis.suhu badan agak naik ,tetapi tidak banyak.ditempat adanya
hematosalping perut nyeri pada palpasi,dan kadang-kadang

dapat diraba,tumor pada

pemeriksaan tersebut.
Pada ruptur tuba peristiwa terjadi dengan mendadak dan keadaan penderita umumnya
lebih gawat.adanya enemi lebih tampak ,kadang-kadang penderita dalam keadaan
syok,dengan suhu badan menurun,nadi cepat,tekanan darah menurun,dan bagian perifer
badan terasa dingin.perut agak membesar,menunjukan tanda-tanda rangsangan peritoneum
dengan rassa nyeri yang keras pada palpasi.kadang-kadang dapat ditemukan adanya cairan
bebas dalam rongga perut.pada pemeriksaan genekologik uterus tidak dapat diraba dengan
jelas karena dinding perut menegang dan uterus dikelilingi oleh darah.gerakan pada serviks
uteri nyeri sekali,dan kavum douglas terang menonjol.
Manisfestasi klinik pada klien dengan kehamilan ektopik adalah sebagai berikut.
1.Gambaran klinis kehamilan tuba belum terganggu tidak khas. Pada umumnya ibu
menunjukan gejala-gejala kehamilan muda dan mungkin merasa nyeri sedikit di perut bagian
bawah yang tidak seberapa dihiraukan. Pada pemeriksaan vaginal, uterus membesar dan
lembek, walaupun mungkin besarnya tidak sesuai dengan usia kehamilan. Tuba yang
mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada bimanual.
2.Gejala kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-bada dari perdarahan banyak yang
tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapat gejala yang tiadk jelas sehingga sukar dibuat
diagnosisnya.
3.Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada ruptur tuba
nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intesitas yang kuat disertai dengan
perdarahan yang menyebabkan ibu pingsan dan masuk kedalam syok.
4.Amenore juga merupakan tanda yang penting pada kehamilan ektopik. Lamanya
amenore tergantung pada kehidupan janin, sehingga dapat berpriasi.
D. Etiologi
Sebagian besar penyebab tidak banyak diketahui,kemungkinan faktor yang
memegang peran adalah sebagai berikut:
1. Faktor dalam lumen tuba: endosalfingitis, hipoplasia lumen tuba.
2.Faktor lumen tuba: endometriosis tuba, diventrikel tuba kongenital.
3.Faktor di luar dinding lumen tuba.
4.Faktor lain: migrasi luar ovum, fertilisasi in vitro.
Menurut SarwonoPrawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (2008) adalahetiologi
kehamilan ektopik sudah banyak disebutkan karena secara patofisiologi mudah dimengrti

sesuai dengan proses awal kehamilan sejak pembuahan sampai nidasi. Bila nidasi terjadi
diluar kavum uteri ataw diluar endomeamilan etrium, maka terjadilah ektopik.Dengan
demikian. Fakto-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam nidasi embrio ke
endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik in.
Factor- factor disebutkan adalah sebagai berikut :
a)Factor tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen tubah menyempit
atau buntu.Keadaan uterus yang mengalami hypoplasia dan saluran tubah yang berkelokkelok panjang dapat menyebabakan fungsi silia tuba tidak berfungsi dengan baik.juga pada
keadaan pasca operasi rekanalisasi tuba dapat merupakan predisposisi terjadinya kehamian
ektopik.Factor tuba yang lain adalah adanya kelainan endometriosis tuba atau difertikel
saluran tuba yang bersifat kongenital. Adanya tumor disekitar saluran tuba, misalnya mioma
uteri, atau tumor ovarium yag menyebabkan perubahan bentuk dan potensi tUba, juga dapat
menjadi etiologic kehamilan ektopik.
b)Faktor abnormalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka zigot akan
tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba, kemudian terhenti dan tumbuh disaluran
tubah .
c)Faktor ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang kontralateral,dapat
membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang sehingga kemungkinan
terjadinya kehamilan ektopik lebih besar.
d)Faktor hormonal
Pada akseptor, pil kb yang hanya mengandung progesterone dapat menyebabkan
terjadinya kehamilan ektopik.
e)Factor lain.
Termasuk disini antara lain adalah pemakaian IUD dimana proses peradangan yang
dapat timbul pada endometrium dan endosapling dapat menyebabkan kehamilan ektopik.
Faktor umur penderita yang sudah menuah.Dan factor perokok juga sering dihubungkan
dengan terjadinya kehamilan ektopik.
E. Patofisiologi
Proses implantasi ovum di tuba pada dasarnya sama dengan yang terjadi di kavum uteri.
Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara kolumnar telur
bernidasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi
oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan direabsorbsi. Pada
nidasi interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi
tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua

dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba malahan kadangkadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping dan masuk kedalam otot-otot tuba
dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya tergantung
dari beberapa faktor, yaitu; tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan banyaknya
perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari korpus luteum graviditi dan
tropoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua

(4)

Beberapa perubahan pada endometrium yaitu; sel epitel membesar, nukleus hipertrofi,
hiperkromasi, lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang
abnormal mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi
seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium secara
keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella.
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi kemudian dikeluarkan
secara utuh atau berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik
terganggu berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degenerative.
Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10
minggu. Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh
secara utuh seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah
Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah
dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam
tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa
kemungkinan akibat dari hal ini yaitu :
1. Kemungkinan tubal abortion, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung
distal (fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan
ampulla, darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu
banyak karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.
2. Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari
distensi berlebihan tuba.
3. Faktor abortus ke dalam lumen tuba.
Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan
pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadangkadang sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian.

Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama
dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner. Pada
yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping.Perkembangan telur
selanjutnya di batasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telurmati secara dini dan
kemudian diresorbsi.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan, karena tuba
bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh
seperti dalam uterus.Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6
sampai10minggu.
1.Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Ovum mati dan kemudian diresorbsi, dalam hal ini sering kali adanya kehamilan tidak
di ketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah meninggalnya ovum, di anggap
sebagai haid yang datangnya agak terlambat.
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis, dan
menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba.Darah itu menyebabkan pembesaran
tuba (hematosalping) dan dapat pula mengalir terus ke rongga peritoneum, berkumpul di
kavum Douglasi dan menyebabkan hematokele retrouterina.
3. Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstialis terjadi pada kehamilan yang lebih
lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam
lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.
F. Komplikasi
Komplikasi-komplikasi kehamilan tuba yang biasa adalah ruptur tuba atau abortus
tuba, aksierosif dari trofroblas dapat menyebabkan kekacauan dinding tuba secara mendadak:
ruptur mungkin paling sering timbul bila kehamilan berimplatasi pada pars ismikus tuba yang
sempit, abortus tuba dapat menimbulkan hematokel pelvis, reaksi peradangan lokal dan
infeksi sekunder dapat berkembang dalam jaringan yang berdekatan dengan bekuan darah
yang berkumpul.
G. Penatalaksanaan
a)Medis (operasi)

1. Tubektomi
Dalam pembedahan yang disebut tubektomi, kedua saluran tuba falopi yang
menghubungkan ovarium dan rahim (uterus) tersebut dipotong dan ujung-ujungnya ditutup
dengan cincin atau dibakar (kauter). Metode lain yang tidak melakukan pemotongan adalah
dengan mengikat atau menjepit saluran tuba falopi (tubal ring/tubal clip). Hal ini
menyebabkan sel telur tidak dapat terjangkau sperma. Pembedahan biasanya dilakukan
dengan pembiusan umum atau lokal (spinal/epidural). Dokter dapat menggunakan alat bantu
berupa teleskop khusus yang disebut laparoskop. Teleskop berupa pipa kecil bercahaya dan
berkamera ini dimasukkan melalui sebuah sayatan kecil di perut untuk menentukan lokasi
tuba falopi. Sebuah sayatan lainnya kemudian dibuat untuk memasukkan alat pemotong tuba
falopi Anda. Biasanya, ujung-ujung tuba falopi kemudian ditutup dengan jepitan. Cara yang
lebih tradisional yang disebut laparotomi tidak menggunakan teleskop dan membutuhkan
sayatan yang lebih besar.
2. Laparatomi
Laparotomi eksisi tuba yang berisi kantung kehamilan (salfingo-ovarektomi) atau insisi
longitudinal pada tuba dan dilanjutkan dengan pemencetan agar kantung kehamilan keluar
3.

dari luka insisi dan kemudian luka insisi dijahit kembali.


Laparoskopi
Laparoskop yaitu untuk mengamati tuba falopii dan bila mungkin lakukan insisi pada
tepi superior dan kantung kehamilan dihisap keluar tuba.

4. Tanfusi darah
Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan tranfusi, jika terjadi pendarahan
yang berlebihan.
5. Pemeriksaan laboratorium
Kadar haemoglobin, leukosit, tes kehamilan bila terganggu.
6. Dilatasi kuretase
7. Kuldosintesi
yaitu suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah di dalam kavum douglasi terdapat
darah. Tehnik kuldosintesi :
a. Baringkan pasien dalam posisi litotomi.
b. Bersihkan vulva dan vagina dengan antiseptik.
c. Pasang spekulum dan jepitbibir belakang porsio dengan cunam serviks, lakukan traksi ke
depan sehinggah forniks posterior tampak.
d. Suntikan jarum spinal no.18 ke kavum Douglasi dan lakukan penghisapan dengan semprit 10
ml.

e.

Bila pada pengisapan keluar darah, perhatikan apakah darahnya berwarna coklat sampai
hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan kecil yang merupakan tanda hematokel

retrouterina.
8. Ultrasonografi
Berguna pada 5-10% kasus bila di temukan kantong gestasi di luar uterus .