Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

Demam Tifoid (Thypoid Fever)


Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Medikal

Oleh :
Alif Yanur Abidin

105070200111021

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

A. Definisi
Demam tifoid adalah penyakit sistemik yang ditandai antara lain
dengan demam dan nyeri abdomen yang disebabkan oleh penyebaran
Salmonella serotype Typhi, Salmonella serotype Paratyphi A, Salmonella
serotype Paratyphi B (Schootmuelleri), Salmonella serotype Paratyphi C
(Hirschfeldii). Sinonim dari demam tifoid adalah enteric fever, typhus
abdominalis. Penyakit ini pada mulanya dinamakan demam tifoid karena
klinisnya hampir sama dengan typhus. Namun pada awal tahun 1800,
demam tifoid sudah didefinisikan sebagai penyakit yang memiliki gambaran
patologi yang khas, ditandai dengan pembesaran plaque Peyeri dan nodus
limfatikus mesenterika. Pada tahun 1869 diberikan nama sesuai tempat
infeksi anatominya, sehingga enteric fever diusulkan sebagai bentuk
alternatif untuk membedakan demam tifoid dari typhus.
B. Etiologi
Penyebab demam tifoid termasuk genus Salmonella yang termasuk
kedalam family Enterobacteriaceae dan mempunyai lebih dari 2300 serotipe.
Transmisi dari manusia ke manusia dengan rute fekal-oral dapat
terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi dengan feses atau urin
pasien atau carier. Sayuran dan buah-buah yang tidak dimasak merupakan
vechicle penting. Transmisi lainnya adalah melalui kontak dekat individu yang
terinfeksi akut atau individu pembawa kronik. Dosis infektif rata-rata untuk
menimbulkan sakit pada manusia adalah 105 - 108 CFU Salmonella (mungkin
cukup 103 untuk Salmonella enterica serotype Typhi).
Beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena demam tifoid :
Lingkungan yang tidak bersih
Kebiasaan yang tidak bersih ( tidak mencuci tangan setelah buang air atau
sebelum makan, dan makan sembarangan)
Kontak dekat dengan orang yang sakit demam tifoid
C. Tanda dan Gejala
Masa inkubasi bervariasi tergantung dosis infekstif dan rata-rata dari
10 20 (5-56) hari pada typhoid dan 1-10 hari pada paratyphoid. Kesakitan
pada kasus yangtidak diobati dapat bertahan sampai 4 minggu.
Pada minggu pertama : terjadi gejala non spesifik seperti sakit kepala,
malaise, peningkatan demam remittent. Konstipasi dan batuk non produktif
sedang sering terjadi.
Pada minggun kedua : pasien terlihat kesakitan/ toxic dan apatis
dengan peningkatan demam yang menetap. Abdomen sedikit distensi dan
spleenomegali. Rose spot ditemukan pada lower chest dan upper abdomen.
Rose spot terjadi disebabkan karena embolisasi bakteri. Relatif bradikardia,
pulse lebih rendah dibandingkan yang diharapkan pada keadaan demam.

Pada minggu ketiga : pasien terlihat sangat toxic dan kesakitan.


Temperatur yang tinggi terus berlanjut dan keadaannya delirious confusional.
Abdominal distensi makin terlihat dengan sedikit bowel sound. Diare terjadi
dengan karakteristik cair, foul green-yellow stool / pea soup diarrhea. Lemah
dengan pulse lemah dan napas cepat, crackles dapat terjadi sekitar basis
paru. Kematian mungkin terjadi karena toxiemia, myocarditis, intestinal
hemorrhage atau perforasi.
Pada minggu ke-empat : pada pasien yang masih bertahan akan
timbul demam, mental state dan abdominal distensi secara perlahan
membaik dalam beberapa hari tetapi komplikasi intestinal mungkin tetap
terjadi. Penyembuhan biasanya terjadi perlahan.
Variasi abnormal klinis dapat terjadi, seperti mild dan infeksi yang
tidak terjadi, diare dapat terjadi pada minggu pertama dan pada anak-anak
mungkin dengan demam tinggi dan demam kejang.
D. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis definitif :
-

Isolasi organism dari darah, isolasi dari urin/feses.


Widal tes
Deteksi antibody IgM dan IgG

Uji Laboratorium Diagnostik


1. Spesimen
Kultur darah harus diambil secepatnya. Demam enterik dan
keracunan darah, kultur darah sering positif dalam minggu pertama
penyakit. Kultur sumsum tulang mungkin dapat digunakan. Kultur urine
mungkin positif sesudah minggu kedua.
Spesimen tinja juga harus diambil secepatnya. Dalam demam
enterik, tinja menghasilkan hasil positif pada minggu kedua atau ketiga,
pada enterokolitis, selama minggu pertama.
Sebuah kultur positif dari drainase usus 12 jari meningkatkan adanya
salmonellae di sistem biliary pada carrier (pembawa).
2. Metode Bakteriologis untuk Pengisolasian Salmonella:
a. Kultur Differensial Medium
EMB, Mac-Conkeys, atau mesium deoksikholat memungkinkan
pendeteksian cepat dari fermenter nonlaktosa (tidak hanya Salmonellae

dan Shigellae tetapi juga Proteus, Serratia, Pseudomonas, dan lainnya).


Organisme gram-positif dalam beberapa hal dihambat. Medium bismut sulfit
memungkinkan pendeteksian cepat dari S typhi, yang membentuk koloni
hitam karena produksi H2S.
b. Kultur Medium Selektif
Spesimen ditempatkan diatas agar Salmonellae-Shigella (SS), Hektoen
agar enterik, XLD, atau agar deoxycholate citrat yang lebih cocok untuk
pertumbuhan Salmonella dan Shigellae daripada Enterobactericeae.
c. Kultur Pengayaan
Spesimen (biasanya tinja) juga diletakkan dalam selenite F atau
tetrathionate broth, dimana keduanya menghambat replikasi bakteri saluran
usus normal dan memungkinkan meningkatkan Salmonellae. Sesudah
inkubasi 1-2 hari, ini ditanam pada media differensial dan selektif.
d. Identifikasi Akhir
Koloni dari media padat diidentifikasikan oleh bentuk reaksi biokimia dan
tes aglutinasi mikroskop dengan serum spesifik.

3. Metode Serologi
Teknik serologi digunakan untuk mengidentifikasi kultur yang tidak
dikenal dengan serum yang dikenal dan mungkin digunakan untuk
mengenali antibodi titer pada pasien dengan penyakit yang tidak dikenal,
meskipun kemudian tidak berguna dalam mendiagnosis infeksi salmonella.
a. Tes Aglutinasi
Pada tes ini, serum yang diketahui dan kultur yang tidak diketahui
dicampur diatas sebuah slide. Akan terjadi gumpalan, dapat dilihat dalam
beberapa menit. Tes ini khususnya berguna untuk pengidentifikasian kultur
awal secara cepat. Ada alat komersial yang mungkin untuk mengaglutinasi
dan mengelompokkan serum salmonellae dengan antigen O: A, B, C1, C2, D
dan E.
b. Tes Aglutinasi Pengenceran Tabung (Widal Tes)
Serum aglutinasi akan meningkat dengan cepat selama minggu
kedua dan ketiga pada infeksi salmonella. Paling tidak dua contoh serum,
dicapai dalam interval 7-10 hari, dibutuhkan untuk membuktikan adanya
peningkatan titer antibodi. Proses pengenceran berurutan dari serum yang

tidak diketahui dites terhadap antigen dari salmonellae yang representatif.


Hasilnya diartikan sebagai berikut: 1) Tinggi atau menaiknya titer O (
1:160) menyatakan bahwa infeksi aktif terjadi. 2) Titer H tinggi ( 1:160)
menyatakan adanya imunisasi atau infeksi terdahulu. 3) Titer antibosi yang
tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada beberapa carier (pembawa)
penyebab. Hasil tes serologi untuk infeksi salmonella harus diartikan secara
hati-hati. Adanya kemungkinan reaksi silang antibosi membatasi
penggunaan serologi dalam diagnosis infeksi Salmonella

E. Tindakan Umum
Pengobatan demam tifoid terdiri atas 3 bagian yaitu:
1. Perawatan
Pasien demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi,
observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal
7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring
adalah untuk mencegah terjadi komplikasi perdarahan usus atau perforasi
usus. Mobilisasi pasien dilakuakan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya
kekuatan pasien.
Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus di
ubah-ubah pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi
pneumonia hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu
diperhatikan, karena kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih.
2. Diet
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein.
Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang
dan tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran menurun
diberikan makanan cair melalui sonde lambung . Jika kesadaran dan nafsu
makan baik dapat juga di berikan makanan lunak. Beberapa penelitian
manunjukan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan laukpauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat di berikan
dengan aman .
3. Obat
Obat obat anti mikroba yang sering dipergunakan ialah:
a) Kloramfenikol
Belum ada obat anti mikroba yang dapat menurunkan demam
lebih cepat dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang
dewasa 4x.500 mg sehari oral atau intravena sampai 7 hari bebas

demam. Dengan penggunan kloramfenikol, demam pada demam tifoid


turun rata-rata setelah 5 hari.
b) Tiamfenikol
Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam tipid sama dengan
kloramfenikol komplikasi pada hematologis pada penggunan tiamfenikol
lebih jarang dari pada kloramfenikol. Dengan tiamfemikol demam pada
demam tifoid turun setelah rata-rata 5-6 hari.
c) ko-trimoksazol (kombinasi dan sulfamitoksasol)
Dosis itu orang dewasa, 2 kali 2 tablet sehari, digunakan sampai 7
hari bebas demam (1 tablet mengandung 80 mg trimitropin dan 400 mg
sulfametoksazol). Dengan kontrimoksazol demam pada demam tifoid
turun rata-rata setelah 5-6 hari.

d) Ampicillin dan Amoksisilin


Indikasi mutlak pengunaannya adalah pasien demam tifoid dengan
leokopenia. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 75-150 mg/kg berat
badan sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam. Dengan ampicillin
dan amoksisilin demam pada demam tifoid turun rata-rata setelah 7-9
hari.
e) Sefalosforin generasi ketiga
Beberapa uji klinis menunjukan sefalosporin generasi ketiga
amtara lain sefiperazon, seftriakson dan cefotaksim efektif untuk demam
typid, tatapi dan lama pemberian yang oktimal belum diketahui dengan
pasti.
f)

Fluorokinolon
Fluorokinolon efektif untuk untuk demam typid, tetapi dosis dan
lama pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.
Obat-obat Simtomatik:
a) Antipiretika
Antipiretika tidak perlu diberikan secara rutin pada setiap pasien
demam tifoid, karena tidak dapat berguna.

b) Kortikosteroid
Pasien yang toksik dapat diberikan kortikosteroid oral atau
parenteral dalam dosis yang menurun secara bertahap (Tapering off)
selama 5 hari. Hasilnya biasanya sangat memuaskan, kesadaran pasien

menjadi jernih dan suhu badan cepat turun sampai normal. Akan tetapi
kortikosteroid tidak boleh diberikan tanpa indikasi, karena dapat
menyebabkan perdarahan intestinal dan relaps (Ngastiyah, 1997).
F. Pengkajian Keperawatan
Pola Pengkajian Fungsional
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah Insomnia,
tidak tidur semalaman karena diare , merasa gelisah dan ansietas,
pembatasan aktivitas/kerja sehubungan dengan efek proses penyakit.
2. Sirkulasi
Tanda : Takhikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses
inflamasi, dan nyeri), kemerahan, area ekimosis,TD : Hipotensi, termasuk
postural kulit/membrane mukosa : turgor buruk, kering, lidah pecahpecah (dehidrasi/malnutrisi).
3. Integritas Ego
Gejala :Ansietas, ketakutan, emosi kesal, misal, perasaan tidak
berdaya / tidak ada harapan, factor stress akut/kronis,misalnya hubungan
dengan keluarga/pekerjaan, Pengobatan yang mahal
Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi
4. Eliminasi
Gejala : Tekstur feses berfariasi dari bentuk lunak sampai bau atau
berair, episode diare berdarah tak dapat diperkirakan, hilang timbul,
sering, tak dapat dikontrol (sebanyak 20-30 kali defekasi/hari). Perasan
dorongan/kram (tenesmus), defekasi berdarah/ pus/ mukosa dengan atau
tanpa keluar feses,Perdarahan perektal, Dehidrasi
Tanda : Menurunya bising usus, tidak ada peristaltic atau adanya
peristaltic yang dapat dilihat, Hemoroid, oliguria, fisura anal (25%) fisura
perianal.
5. Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/ muntah, Penurunan berat badan, tidak
toleran terhadap diet/sensitive misisalnya Buah segar/sayur, produk susu,
makanan berlemak.
Tanda : Penurunan lemak subkutan/massa otot dan turgor kulit
buruk, Membrane mukosa pucat, luka inflamasi di mulut.
6. Higiene

Tanda : Ketidakmampuan mempertahankan prawatan diri, bau,


badan.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kiri bawah (mungkin hilang
dengan dengan defekasi), titik nyeri berpindah, nyeri tekan.
Tanda : Nyeri tekan abdomen/distensi.
8. Keamanan
Gejala : Riwayat lupus eritematosus, anemia hemolitik,
vaskulitis,arthritis (memperburuk gejala dengan eksaserbasi penyakit
usus), peningkatan suhu 39,6-400 C, penglihatan kabur, alergi terhadap
makanan/ produk susu (mengeluarkan histamine ke dalam usus dan
mempunyai efek inflamasi.
Tanda : lesi kulit mungkin ada misalnya eritema nodusum
(meningkat, nyeri tekan, kemerahan, dan membengkak pada tangan,
muka,paha, kaki, dan mata kaki Uveitis, konjungtivitis/iris).
9. Seksualitas
Gejala:

Frekuensi menurun/ menghindari aktivitas seksual.

10. Interaksi sosial


Gejala : Masalah hubungan / peran sehubungan dengan kondisi
Ketidakmampuan aktif dalam social.
11. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga dengan penyakit inflamasi usus,
pertimbangan: DRG menunjukan lama dirawat: 7,1 hari, rencana
pemulamgan: bantuan dengan program diet, program obat, dukungan
psikologis.

G. Pohon Masalah
Air dan makanan yang terpapar
kuman salmonella typhii

Mulut

Saluran pencernaan

Typhus Abdominalis

Usus

Peningkatan asam lambung

Perasaan tidak enak pada


perut, mual, muntah
(anorexia)

Gangguan
kebutuhan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

Proses infeksi

Limfoid plaque penyeri di ileum


terminalis

Merangsang peningkatan
peristaltic usus

Perdarahan dan
perforasi intestinal

Diare
Gangguan
Pemenuhan
kebutuhan
eleminasi BAB

Kuman masuk aliran


limfe mesentrial
Menuju hati,&limfa

Kuman berkembang biak

Deficit volume
cairan

Hipertrofi
(hepato splenomegali)

Jaringan tubuh
(limfa)

Penekanan pada saraf di hati


Peradangan

Kurang intake cairan

Pelepasan zat pyrogen

Nyeri ulu hati

Gangguan
rasa
nyaman;
nyeri

termogulasi
tubuh
H. DiagnosaPusat
yang mungkin
muncul
Peningkatan suhu tubuh
(Rahmat
1. Gangguan nutrisi kurang dariDemam
kebutuhan berhubungan
dengan :
(hipertermia)
Yuwono,1999).
gangguan absorbsi nutrient, status hipermetabolik, secara medik
masukan dibatasi, takut makan dapat menyebabkan diare ditandai
dengan penurunan berat badan, penurunan lemak, subkutan/ massa otot,

tonus otot buruk, bunyi usus hiperaktif, konjungtiva dan membrane


mukosa pucat.
2. Hipertermi berhubungan dengan : peningkatan tingkat metabolisme,
penyakit, dehidrasi, efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada
hipotalamus, perubahan pada regulasi temperature ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dari jangkauan normal, kulit
kemerahan, hangat waktu disentuh, peningkatan pernapasan, takhikardi.
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan : hiperperistaltik,
diare lama, iritasi kulit/ jaringan, ekskoriasi fisura perirektal,
fistula.ditandai dengan laporan nyeri abdomen kolik/ kram/ nyeri
menyebar, perilaku berhati-hati, gelisah, nyeri wajah, perhatian diri
sendiri.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan No. 1
Gangguan Nutrisi Kurang dari kebutuhan
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 kali pertemuan, kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Kriteria Hasil :

Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan


Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

NOC : Nutritional Status: food & fluid intake


No.
Indikator
1
Oral food intake
2
Oral fluid intake
3
Intravenous fluid intake
4
Parenteral nutrition intake

Keterangan Penilaian :
1
2
3
4
5

: tidak adekuat
: slightly
: moderately
: substantially
: adekuat

Intervensi NIC :
Nutrition Management
1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas normal
2. Monitor lingkungan selama makan
3. Monitor turgor kulit
4. Monitor mual dan muntah
5. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan No. 2
Hipertemia
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 kali pertemuan, suhu tubuh dalam
batas normal
Kriteria Hasil :
- Suhu tubuh stabil 36,5-37C
- Keseimbangan antara produksipanas, panas yang diterima dan kehilangan panas
- Pengendalian resiko hipertermia

NOC : Hidrasi
No.
Indikator
1
Trugor kulit
2
Membran Mukosa
3
Urine output
4
Peningkatan Hematrokrit
5
Rasa Haus

1
Buruk
Kering
Sedikit

5
Baik
Lembab
Banyak

Keterangan Penilaian :
1

: selalu

2
3
4
5

:
:
:
:

sering
sedang
jarang
tidak ada

Intervensi NIC :
Temperature regulation
1. Monitor suhu tubuh minimal 2 jam sekali
2. Monitor TD, nadi, dan RR
3. Monitor warna dan suhu kulit
4. Monitor tanda-tanda hipertermi
5. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
6. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
7. Berikan antipiretik jika perlu

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan No. 3
Gangguan rasa nyaman nyeri
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 kali pertemuan, nyeri berkurang
Kriteria Hasil :
- Mampu mengontrol nyeri
- Melaporkan nyeri berkurang
- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
NOC : Pain level
No.

Indikator

1
2
3
4
5

Melaporkan nyeri
Ekpresi wajah
RR
TD
Rasa Nyaman

Buruk
Tegang
Meningkat

Baik
Rileks
Stabil

Keterangan Penilaian :
1

: : >180/>120/tidak ada/tidak ada

2
3
4
5

:
:
:
:

170-180/110-120/sedikit/sedikit
160-170/100-110/sedang/sedang
140-160/90-100/agak banyak/agak banyak
120-140/80-90/tidak ada/banyak/banyak

Intervensi NIC :
Pain Management
1. Pengkajian Nyeri secara komprehensif ( lokasi, karakteristik,durasi,frekuensi,
kualitas, dan factor presipitasi)
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3. Ajarkan teknik non farmakologi (rlaksasi dan distraksi)
4. Tingkatkan instirahat
5. Ajarkan teknik nafas dalam
Analgesic Administration
6. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
7. Cek Riwayat alergi
8. Pilih analgesic yang diperlukan atau kombinasi analgesic
9. Pilih Rute pemberian secara IV, IM
10. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah diberikan analgesic pertama kali
11. Evaluasi efektifitas analgesic, tanda dan gejala

DAFTAR PUSTAKA

Chambers, Henry F. Bacterial & Chlamydial Infection. Dalam Stephen J. Mcphee,


Maxine A Papadakis, editor. Current Medical Diagnosis And Treatment. 48 th
Ed. USA : the McGraw-Hill Companies, Inc; 2009.
Fauci B, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, Losclzo. Harrison's Princiles of
Internal Medicine. 17, editor. USA: McGraw-Hill; 2008.
Gordon C. Cook AZ. Manson's Tropical Disease. 21, editor. London: Saunders;
2003.
Jawetz, Melnick. Mikrobiologi Kedokteran. Ed 20. Jakarta : ECG; 1996
Juwono, R. Demam Tifoid. Dalam H.M.S. Noer, S. Waspadji, A.M. Rachman, L.A.
Lesmana, D. Widodo, H. Isbagio, et al, editor. Buku Ajar Penyakit Dalam,
Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 1996.
Kliegman B, Jenson, Stanton. Nelson Textbook of Pediatrics. 18, editor. USA:
Elsevier Inc; 2007.

WHO. The Diagnosis, Treatment and Prevention of Typhoid Fever. 2003