Anda di halaman 1dari 23

REFRAT

RUBELLA KONGENITAL

Oleh :
Viola Belivia Tripuspita

G99141074 / F-3-2014

Nabila

G99141075 / F-4-2014

Aldila Desy K.

G99122012 / F-19-2014

Atika Zahro N

G99122021 / F-20-2014

Muvida

G99122080 / G-10-2014

Ferika Brillian S.

G99131084 / G-11-2014

Pembimbing:
H. Rustam Siregar, dr., Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
S U RAK AR TA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Pada tahun 1752 dan 1758, secara berturut-turut 2 dokter Jerman, De


Bergen dan Orlow menemukan Campak Jerman, yang kemudian disebut Rthel.
Seorang dokter Skotlandia bernama Veale memberikan nama rubella untuk
penyakit ini, kemudian mengembangkan karakteristik dan dan gejala klinisnya.1
Rubella menyebabkan penyakit yang mirip dengan morbili dengan tingkat
keparahan yang relatif ringan pada anak-anak, namun menyebabkan masalah
kongenital yang serius terhadap kesehatan jika didapatkan secara in utero. 2
Meskipun termasuk dalam famili yang sama dengan alphavirus yang
ditransmisikan melalui nyamuk, rubella lebih mirip dengan virus manusia yang
ditransmisikan melalui udara seperti morbili dan parotitis.
Pada tahun 1941, seorang spesialis mata Australia bernama N. McAlister
Gregg, mengobservasi adanya beberapa bukti mengenai ibu hamil dengan rubella
yang menyebabkan kelainan kongenital pada bayinya, termasuk berat lahir rendah
dan kelainan jantung. Hasil pengamatan ini merupakan laporan kasus pertama
mengenai efek teratogen dari infeksi virus. Dua tahun kemudian, ahli
epidemiologi Swan membentuk tim dan megkonfirmasi hasil pengamatan Gregg.
Mereka mencatat adanya hubungan dengan kelainan jantung kongenital, katarak,
ketulian, berat lahir rendah, gangguan pertumbuhan, dan tanda meningitis dengan
kerusakan sistem saraf pusat. Tanda klinis ini meliputi semua aspek dari sindrom
rubella kongenital saat ini.1
Sindrom rubella kongenital merupakan kelainan yang jarang terjadi
dengan akibat kerusakan pada mata dan sistemik karena infeksi yang terjadi pada
wanita hamil. Kematian janin dalam kandungan, bayi lahir mati, dan defek saat
lahir dapat menjadi kelanjutan infeksi rubella.1 Penggunaan vaksin hidup MMR
(measles, mumps, dan rubella) memang membatasi insidensi penyakit ini pada
negara maju, namun sindrom rubella kongenital masih menjadi masalah kesehatan
yang penting di negara berkembang.2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sindrom Rubella Kongenital
Sindrom rubella kongenital adalah suatu penyakit yang merupakan
akibat dari infeksi virus rubella selama kehamilan.3
B. Epidemiologi
Secara internasional, jumlah kasus rubella dan kasus rubella
kongenital tetap tinggi di negara-negara berkembang, termasuk di kepulauan
Pasifik, di mana tidak tersediannya vaksinasi rutin untuk anak-anak atau
hanya baru-baru ini tersedia.4,37
Di seluruh dunia, diperkirakan bahwa lebih dari 100 000 bayi
dilahirkan dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) setiap tahun.5
Hubungan antara katarak kongenital dan infeksi rubella maternal
pertama kali ditemukan pada tahun 1941 oleh dokter mata Australia, Norman
Gregg, yang melihat jumlah yang tidak biasa dari bayi dengan katarak yang
menyertai epidemi rubella pada tahun 1940. Tanpa adanya vaksinasi, rubella
merupakan penyakit endemik dengan epidemi setiap 6 sampai 9 tahun. Jika
infeksi rubella terjadi di kalangan wanita hamil tanpa imunitas yang baik,
kasus CRS dapat terjadi. Selama 1962-1965 pandemi rubella global,
diperkirakan

12,5

juta

kasus

rubella

terjadi

di Amerika

Serikat,

mengakibatkan 2.000 kasus ensefalitis, 11.250 aborsi terapeutik atau spontan,


2.100 kematian neonatal, dan 20.000 bayi yang lahir dengan CRS.3
C. Etiologi
1. Struktur Virus
Virus rubella diasingkanpertamakali padatahun 1962 oleh Parkman dan
Weller. Rubella merupakan virus RNA yang termasuk dalam genus
Rubivirus, famili Togaviridae, dengan jenis antigen tunggal yang tidak
dapat bereaksi silang dengan sejumlah grup Togavirus lainnya. Virus
rubella memiliki 3 protein struktural utama yaitu 2 glycoprotein
envelope, E1 dan E2 dan 1 protein nukleokapsid. Secara morfologi, virus
rubella berbentuk bulat (sferis) dengan diameter 6070 mm dan memiliki
inti (core) nukleoprotein padat, dikelilingi oleh dua lapis lipid yang

mengandung glycoprotein E1 dan E2. Virus rubella dapat dihancurkan


oleh proteinase, pelarut lemak, formalin, sinar ultraviolet, PH rendah,
panas dan amantadine tetapi nisbi (relatif) rentan terhadap pembekuan,
pencairan atau sonikasi.6

Gambar 1. Virus Rubella terdiri dari lapisan glycoprotein, lemak dan inti
dengan RNA7
Virus Rubella (VR) terdiri atas dua subunit struktur besar, satu
berkaitan dengan envelope virus dan yang lainnya berkaitan dengan
nucleoprotein core.7
2. Isolasi dan Identifikasi
Meskipun Virus rubella dapat dibiakkan dalam berbagai biakan
(kultur) sel, infeksi virus ini secara rutin didiagnosis melalui metode
serologis yang cepat dan praktis. Berbagai jenis jaringan, khususnya
ginjal kera paling baik digunakan untuk mengasingkan virus, karena
dapat menghasilkan paras (level) virus yang lebih tinggi dan secara
umum lebih baik untuk menghasilkan antigen. Pertumbuhan virus tidak
dapat dilakukan pada telur, tikus dan kelinci dewasa.7

3. Antigenitas
Virus rubella memiliki sebuah hemaglutinin yang berkaitan
dengan pembungkus virus dan dapat bereaksi dengan sel darah merah
anak ayam yang baru lahir, kambing, dan burung merpati pada suhu 4 oC

dan 25oC dan bukan pada suhu 37oC. Baik sel darah merah maupun
serum penderita yang terinfeksi virus rubella memiliki sebuah nonspesifik b-lipoprotein inhibitor terhadap hemaglutinasi. Aktivitas
komplemen berhubungan secara primer dengan envelope, meskipun
beberapa aktivitas juga berhubungan dengan nukleoprotein core. Baik
hemaglutinasi maupun antigen complement-fixing dapat ditemukan
(deteksi) melalui pemeriksaan serologis.7
4. Replikasi Virus
Virus rubella mengalami replikasi di dalam sel inang. Siklus
replikasi yang umum terjadi dalam proses yang bertingkat terdiri dari
tahapan: 1 perlekatan, 2 penetrasi, 3 uncoating, 4 biosintesis, 5
pematangan dan pelepasan. Meskipun ini merupakan siklus yang umum,
tetapi akan terjadi beberapa ragam siklus dan bergantung pada jenis asam
nukleat virus.7
Tahap perlekatan terjadi ketika permukaan virion, atau partikel
virus terikat di penerima (reseptor) sel inang. Perlekatan reversible virion
dalam beberapa hal, agar harus terjadi infeksi, dan pemasukan virus ke
dalam sel inang. Proses ini melibatkan beberapa mekanisme, yaitu: 1
penggabungan envelope virus dengan membran sel inang (host), 2
pemasukan langsung ke dalam membrane, 3 interaksi dengan tempat
penerima membrane sel, 4 viropexis atau fagositosis.7
Setelah memasuki sel inang, asam nukleat virus harus sudah
terlepas dari pembungkusnya, (uncoating) atau terlepas dari kapsulnya.
Proses mengawasalut (uncoating) ini terjadi di permukaan sel dalam
virus. Secara umum, ini merupakan proses enzimatis yang menggunakan
pra keberadaan (pre-existing) ensim lisosomal atau melibatkan
pembentukan ensim yang baru. Setelah proses pengawasalutan
(uncoating), maka biosintesis asam nukleat dan beberapa protein virus
merupakan hal yang sangat penting. Sintesis virus terjadi baik di dalam
inti maupun di dalam sitoplasma sel inang, bergantung dari jenis asam
nukleat virus dan kelompok virus. Pada virus RNA, seperti Virus

Rubella, sintesis ini terjadi di dalam sitoplasma, sedangkan pada


kebanyakan virus DNA, asam nukleat virus bereplikasi di inti sel inang
sedangkan protein virus mengalami replikasi pada sitoplasma. Tahap
terakhir replikasi virus yaitu proses pematangan partikel virus. Partikel
yang telah matang ini kemudian dilepaskan dengan bertunas melalui
membrane sel atau melalui lisis sel.7
D. Patogenesis Sindrom Rubella Kongenital
Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami
replikasi di nasofaring serta di daerah kelenjar getah bening. Viremia terjadi
antara hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah terpajan virus rubella. Dalam ruang
tertutup, virus rubella bisa menular ke setiap orang yang berada di ruangan
yang sama dengan penderita. Masa inkubasi virus rubella berkisar antara 1421 hari. Masa penularan 1 minggu sebelum dan empat hari setelah permulaan
(onset) ruam (rash). Pada episode ini, Virus rubella sangat menular.8,9,10
Infeksi transplasenta janin dalam kandungan terjadi saat viremia
berlangsung. Infeksi rubella menyebabkan kerusakan janin karena proses
pembelahan terhambat. Dalam faring dan urin bayi dengan CRS, terdapat
virus rubella dalam jumlah banyak yang dapat menginfeksi bila bersentuhan
langsung. Virus dalam tubuh bayi dengan CRS dapat bertahan hingga
beberapa bulan atau kurang dari 1 tahun setelah kelahiran.8,11
Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh
kerusakan sel akibat virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus.
Infeksi plasenta terjadi selama viremia ibu, menyebabkan area nekrosis yang
tersebar secara fokal di epitel vili korealis dan sel endotel kapiler. Sel ini
mengalami deskuamasi ke dalam lumen pembuluh darah, mengindikasikan
bahwa virus rubella masuk ke dalam peredaran darah janin sebagai emboli sel
endotel yang terinfeksi. Hal tersebut mengakibatkan infeksi dan kerusakan
organ janin. Selama kehamilan muda, mekanisme pertahanan janin belum
matang dan gambaran khas embriopati pada awal kehamilan adalah terjadinya
nekrosis seluler tanpa disertai tanda peradangan.8

Sel yang terinfeksi virus rubella memiliki umur yang pendek. Organ
janin dan bayi yang terinfeksi memiliki jumlah sel yang lebih rendah daripada
bayi yang sehat. Virus rubella juga dapat memacu terjadinya kerusakan
dengan cara apoptosis. Jika infeksi maternal terjadi setelah trimester pertama
kehamilan, frekuensi dan beratnya derajat kerusakan janin menurun secara
drastic. Perbedaan ini terjadi karena janin terlindung oleh perkembangan
respon imun janin yang progressif, baik yang bersifat humoral maupun
seluler, dan adanya antibodi maternal yang dialihkan secara pasif.1,12
Pada penelitian yang dilakukan Hviid et al.13, teridentifikasi bahwa
kelahiran dengan keturunan yang menderita sindrom rubella bawaan atau
genetik berkaitan dengan risiko autisme pada anak tersebut. Oleh karena itu,
wanita hamil dengan klinis rubella harus terus dipantau untuk mendeteksi
infeksi bawaan, termasuk aborsi spontan atau lahir mati yang mungkin terjadi
setelah infeksi rubella pada awal kehamilan.14
E. Resiko Terjadinya Sindrom Rubella Kongenital pada Kehamilan
1. Infeksi pada Trimester Pertama
Kisaran kelainan berhubungan dengan umur kehamilan. Risiko
terjadinya kerusakan apabila infeksi terjadi pada trimester pertama
kehamilan mencapai 8090%. Virus rubella terus mengalami replikasi
dan diekskresi oleh janin dengan CRS dan hal ini mengakibatkan infeksi
pada persentuhan (kontak) yang rentan. Gambaran klinis CRS
digolongkan menjadi transient, permulaan yang tertangguhkan (delayed
onset, dan permanen).
Kelainan pertumbuhan seperti ketulian mungkin tidak akan
muncul selama beberapa bulan atau beberapa tahun, tetapi akan muncul
pada waktu yang tidak tentu. Kelainan kardiovaskuler seperti periapan
(proliferasi) dan kerusakan lapisan seluruh (integral) pembuluh darah
dapat menyebabkan kerusakan obstruktif pada arteri berukuran medium
dan besar dalam sistemperedaran (sirkulasi) pulmonerdanbersistem
(sistemik). Ketulian yang terjadi pada bayi dengan CRS tidak
diperkirakan sebelumnya. Metode untuk mengetahui adanya kehilangan

pendengaran janin seperti pemancaran (emisi) otoakustik dan auditory


brain stem responses saat ini dikerjakan untuk skrining bayi yang
berisiko dan akan mencegah kelainan pendengaran lebih awal, juga saat
neonatus. Peralatan ini mahal dan tidak dapat digunakan di luar
laboratorium. Kekurangan inilah yang sering terjadi di negara
berkembang tempat CRS paling sering terjadi.
Kelainan mata dapat berupa apakia glaucoma setelah dilakukan
aspirasi katarak dan neovaskularisasi retina merupakan manifestasi klinis
lambat CRS. Manifestasi permulaan yang tertangguhkan (delayed-onset)
CRS yang paling sering adalah terjadinya diabetes mellitus tipe 1.
Penelitian lanjutan di Australia terhadap anak yang lahir pada tahun 1934
sampai 1941, menunjukkan bahwa sekitar 20% diantaranya menjadi
penderita diabetes pada dekade ketiga kehidupan mereka.15,16
2. Infeksi Setelah Trimester Pertama
Virus rubella dapat diisolasi dari ibu yang mendapatkan infeksi
setelah trimester pertama kehamilan. Penelitian serologis menunjukkan
sepertiga dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus rubella pada
umur 1620 minggu memiliki IgM spesifik rubella saat lahir. Penelitian
di negara lain menunjukkan bahwa infeksi maternal diperoleh usia 1320
minggu kehamilan dan dari bayi yang menderita kelainan akibat infeksi
virus rubella terdapat 1618%, tetapi setelah periode ini insidennya
kurang dari 12%. Ketulian dan retinopati sering merupakan gejala
tunggal infeksi bawaan (kongenital) meski retinopati secara umum tidak
menimbulkan kebutaan.15,16
Dalam laporan kasus perorangan (individual), infeksi virus
rubella yang terjadi sebelum konsepsi telah merangsang terjadinya
infeksi bawaan. Penelitian prospektif lain yang dilakukan di Inggris dan
Jerman, yang melibatkan 38 bayi yang lahir dari ibu yang menderita
ruam sebelum masa konsepsi, virus rubella tidak ditransmisikan kepada
janin. Semua bayi tersebut tidak terbukti secara serologis terserang

infeksi virus ini, berbeda dengan 10 bayi yang ibunya menderita ruam
antara 3 dan 6 minggu setelah menstruasi terakhir.15,16
3. Reinfeksi
Reinfeksi oleh rubella lebih sering terjadi setelah diberikan
vaksinasi daripada infeksi yang didapat secara alami. Reinfeksi secara
umum asimtomatik dan diketahui melalui pemeriksaan serologis terhadap
ibu

yang

pernah

kontak

dengan

rubella.

Beberapa

penelitian

menyebutkan bahwa risiko terjadinya reinfeksi selama trimester pertama


hanya 510%.
Antibodi terhadap virus rubella muncul setelah ruam mulai
menghilang, dengan ditemukannya kadar IgG dan IgM. Antibodi IgG
terdapat dalam tubuh selama hidup, sedangkan IgM antibodi biasanya
menurun setelah 4 hingga 5 minggu. Infeksi fetal biasanya disertai
pengalihan (transfer) plasental dari IgG ibu. Sebagai tambahan, kadar
IgM fetal dihasilkan pada pertengahan kehamilan.
Kadar IgM secara umum meningkat saat kelahiran bayi yang
terinfeksi. Upaya penapisan (skrining) terhadap infeksi bawaan dapat
dilakukan dengan menghitung kadar IgM.7,17 Meski reinfeksi dapat
terjadi, tetapi biasanya asimtomatik dan dapat ditemukan peningkatan
IgG.
Viremia ditemukan di sukarelawan dengan kadar titer rubella
rendah setelah mendapatkan vaksinasi rubella. Hal ini menandakan
bahwa viremia juga dapat terjadi pada saat reinfeksi. Meskipun beberapa
penelitian menyebutkan bahwa vaksin virus rubella dapat melalui
perintang (barier) plasenta dan dapat menginfeksi janin selama
kehamilan muda, tetapi risiko terjadinya kelainan bawaan akibat
vaksinasi rendah sampai tidak ada sama sekali.7,17
F. Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan biasanya lebih ringan dari penyakit campak.
Bercak-bercak mungkin juga akan timbul tapi warnanya lebih muda dari

campak biasa. Biasanya bercak timbul pertama kali di muka dan leher, berupa
titik-titik kecil berwarna merah muda. Dalam waktu 24 jam, bercak tersebut
menyebar ke badan, lengan, tungkai, dan warnanya menjadi lebih gelap.
Bercak-bercak ini biasanya hilang dalam waktu 1 sampai 4 hari.
1. Masa inkubasi
Masa inkubasi selama 14-21 hari. Tanda yang paling khas adalah
adenopati retroaurikuler, servikal posterior, dan di belakang oksipital.
Tidak ada penyakit lain yang menyebabkan pembesaran nyeri limfonodi
ini yang sampai sebesar limfonodi rubella. Ruam ini terdiri dari bintikbintik merah tersendiri pada palatum molle yang dapat menyatu menjadi
warna kemerahan dan meluas pada rongga belakang mulut yang dikenal
sebagai Forscheimer spot. Limfadenopati jelas pada sekitar 4 jam
sebelum ruam muncul dan dapat tetap selama 1 minggu atau lebih.
2. Masa Prodromal
Pada anak tanpa keluhan
Pada remaja dan dewasa muda: 1 5 hari, demam ringan, sakit kepala,
nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva, rinitis, batuk dan
limfadenopati. Pada dewasa: prodromal lebih lama dan lebih berat.
Pembesaran kelenjar limfe 5 7 hari sebelum timbul enantema, mengenai
kelenjar suboksipital, postaurikuler dan servikal disertai nyeri tekan.
3. Masa Eksantema
Lebih bervariasi daripada eksantem rubeola. Eksantem mulai pada muka
dan menyebar dengan cepat. Evolusinya begitu cepat sehingga dapat
menghilang pada muka pada saat ruam lanjutannya muncul pada badan.
Makulopapula tersendiri ada pada sejumlah kasus; ada juga daerah
kemerahan yang luas yang menyebar dengan cepat ke seluruh badan,
biasanya dalam 24 jam. Ruam dapat menyatu, terutama pada muka.
Selama hari kedua ruam dapat mempunyai gambaran sebesar ujung
jarum, terutama di seluruh tubuh, menyerupai ruam demam skarlet. Dapat
terjadi gatal ringan. Erupsi biasanya jelas pada hari ke 3. Deskuamasi
minimal.
4. Mukosa faring dan konjungtiva sedikit meradang. Berbeda dengan
rubeola, tidak ada fotofobia. Demam ringan atau tidak selama ruam dan

menetap selama 1, 2, atau kadang-kadang 3 hari. Suhu jarang melebihi


38oC (101oF). Anoreksia, nyeri kepala, dan malaise tidak biasa.18,19,20
G. Diagnosis Infeksi Virus Rubella pada Kehamilan
Penyakit rubella terdistribusi di seluruh dunia dan cenderung terjadi
pada populasi epidemic yang tidak terimunisasi setiap 4-9 tahun dengan pola
musim pada akhir musim dingin dan musim semi. Virusmulai diisolasi pada
tahun 1962, dan vaksin dilemahkan dan dikembangkan pada tahun 1967 yang
kemudian menjadi tersedia secara komersial sejak tahun 1969.
Wanita hamil yang tidak terimunisasi dapat terinfeksi secara langsung
melalui droplet dari hidung dan tenggorokan pada kontak dengan klinis atau
subklinis kasus rubella. Mungkin ada riwayat kontak dengan anak/orang
dewasa memiliki demam dan ruam. Masa inkubasi 14-18 hari, tetapi mungkin
selama 21 hari. Infektivitas mungkin berkisar dari seminggu sebelum gejala
sampai seminggusetelah ruam muncul, dan mencapai puncaknya ketika ruam
erupsi. Sedangkan virus vaksin tidak dapat menularkan ke orang lain.
Pada kasus klinis rubella akut yang tipikal didapatkan tanda-tanda:
1. Gejala-gejala prodromal dari coryza, sakit tenggorokan dan demam yang
tidak tinggi merupakan gejala awal viremia
2. Limfadenopati postaurikular dan servikal posterior dapat muncul bahkan
7 hari sebelum ruam dan menetap sampai 10-14 hari setelah ruam.
3. Ruam macula pada wajah dapat muncul dalam waktu 24 jam dari
timbulnya gejala prodromal. Ruam dapat menyebar ke batang dan
ekstremitas dan menghilang dalam waktu 3 hari, dibandingkan dengan
ruam pada campak yang lebih lama.
4. Komplikasi seperti arthralgia, ensefalitis dan purpura trombositopeni
dapat terjadi walaupun jarang.
Diagnosis banding pada penyakit ini meliputi B-19 parvovirus,
enterovirus, campak dan beberapa infeksi arbovirus lainnya.
Diagnosis klinis infeksi rubella akut pada kehamilan sangat sulit.Ruam
ini tidak begitu spesifik ataupun jelas, dan kasus yang paling menular adalah
kasus subklinis. Oleh karena itu, demonstrasi serokonversi dan keberadaan
yang tinggi dari titer IgM adalah karakteristik utama diagnosis rubella akut
pada kehamilan. Jika seorang wanita telah terkena atau kontak dengan kasus

rubella atau jika infeksi dicurigai karena ruam atau demam, pemeriksaan
serologi terutama dengan pasangan sampel akut dan konvalesen dapat
mendiagnosa infeksi akut jika ada seoconversion. Isolasi virus dari
tenggorokan atau darah sebagai konfirmasi.
Tes serologi yang sangat banyak digunakan adalah tes inhibisi
hemaglutinasi (HAI) yang dikembangkan pada tahun 1966. Dua sampel
darah pertama dalam waktu 5 hari dari paparan atau timbulnya penyakitdan
yang kedua 2 minggu kemudian harus diperiksa. Kenaikan empat kali lipat
dari HAI Ab dalam serum ini dipasangkan atau adanya IgM dalam sampel
serum tunggal merupakan diagnostik dari infeksi rubella akut. Tes serologi
yang lebih sensitif adalah uji ELISA dan radio-immune-assay.
Wanita yang kebal terhadap rubella setelah infeksi alami atau vaksinasi
menunjukkan antibodi IgG seumur hidup. Kehadiran kekebalan alami (IgG +
ve) adalah parameter perlindungan dari infeksi selama kehamilan, sama
seperti yang ditawarkan oleh vaksinasi. Oleh karena itu, skrining dari semua
wanita hamil dan demonstrasi kekebalan tinggi menunjukkan seorang wanita
yang relatif tidak berisiko terinfeksi rubella selama kehamilan.
Jika infeksi rubella primer terjadi selama kehamilan, virus rubella akan
menembus plasenta, dan menginduksi infeksi janin tergantung pada waktu
kehamilan. Sekitar 90% dari total infeksi yang terjadi pada 12 minggu
pertama kehamilan menyebabkan infeksi rubella kongenital, dengan hampir
100% berisiko cacat bawaan. Jika infeksi terjadi pada minggu ke-13 hingga
17, risiko infeksi adalah sekitar 60%, dan risiko cacat sekitar 50%. Infeksi
pada minggu ke-18 sampai 24 risiko infeksi adalah sekitar 25%, dan hampir
tidak ada risiko cacat bawaan.22
H. Kriteria Klinis dan Laboratoris Sindrom Rubella Kongenital
Diagnosis sindrom rubella kongenital dapat ditegakkan melalui
kriteria klinis dan laboratoris sebagaimana tercantum dalam Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Klinis dan Laboratoris Sindrom Rubella Kongenital
Kriteria Klinis
Katarak
Glaukoma kongenital

Kriteria Laboratoris
1. Isolasi virus rubella
2. Deteksi antibodi IgM spesifik

Penyakit jantung bawaan (PDA


atau peripheral pulmonary artery

stenosis)
Gangguan pendengaran
Retinopati pigentosa
Purpura
Hepatosplenomegaly
Ikterus
Mikrosepal
Gangguan perkembangan
Meningoencephalitis
Radiolucent bone disease

rubella
3. Kadar antibodi rubella bayi yang
tetap tinggi dan dalam waktu
lebih dari yang diharapkan untuk
waktu transfer pasif antibodi
maternal (misalnya titer rubella
yang tidak turun sebanyak 2x
setiap bulannya)
4. Spesimen PCR-positif untuk
virus rubella.

Bayi dengan minimal satu kriteria klinis dan satu kriteria laboratoris
telah dapat didiagnosis dengan sindrom rubella kongenital.3,35
I. Penggolongan (Klasifikasi) Kasus sindrom Rubela Kongenital22
Kategori Kasus
Kasus Dugaan

Definisi
Bayi berusia <1 tahun dengan > 1 temuan klinis

dari grup A tanpa penyebab yang jelas


Semua kasus dugaan harus diinvestigasi dan diklasifikasikan berdasarkan
data klinis, laboratori dan epidemiologi sebagai berikut:
Terkonfirmasi secara Kasus dugaan yang memenuhi
Laboratorium
Kompatibel

kriteria

laboratorium untuk mengkonfirmasi kasus CRS


secara Kasus dugaan yang memenuhi kriteria klinis

klinis
Terkait Epidemiologi

untuk CRS dan belum diuji secara laboratorium


Kasus dugaan yang tidak memenuhi kriteria klinis
untuk CRS (misalnya hanya memenuhi satu
kriteria Grup A), belum diuji dan memiliki riwayat
maternal

Dibuang

rubella

yang

terkonfirmasi

secara

laboratorium selama kehamilan


Kasus dugaan dengan hasil negatif pada uji
laboratorium untuk pembuktian infeksi virus
rubella, atau kasus dugaan yang tidak memenuhi
kriteria klinis CRS (misalnya hanya memenuhi
satu kriteria Grup A), belum diuji dan tidak

memiliki

riwayat

terkonfirmasi

maternal

secara

rubella

laboratorium

yang
selama

kehamilan

J. Penatalaksanaan
1. Jika tidak terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simptomatis.
Adamantanamin hidroklorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in vitro
dalam menghambat stadium awal infeksi rubella pada sel yang dibiakkan.
2. Upaya untuk mengobati anak yang sedang menderita rubella congenital
dengan obat ini tidak berhasil. Karena amantadin tidak dianjurkan pada
wanita hamil, penggunaannya amat terbatas. Interferon dan isoprinosin
telah digunakan dengan hasil yang terbatas.
3. Pada Bayi yang dilakukan tergantung kepada organ yang terkena :
Gangguan pendengaran diatasi dengan pemakaian alat bantu dengar, terapi
wicara dan memasukkan anak ke sekolah khusus Lesi jantung diatasi

dengan pembedahan Gangguan penglihatan sebaiknya diobati agar


penglihatan anak

berada pada

ketajaman

yang terbaik Jika

keterbelakangan mentalnya sangat berat, mungkin anak perlu dimasukkan


ke institusi khusus.23,24
K. Pencegahan Rubella Kongenital
Pada orang yang rentan, proteksi pasif dari atau pelemahan
penyakit dapat diberikan secara bervariasi dengan injeksi intramuskuler
globulin imun serum (GIS) yang diberikan dengan dosis besar dalam 7-8 hari
pasca pemajanan.
Efektiviias globulin imun tidak dapat diramalkan. Tampaknya
tergantung. pada kadar antibodi produk yang digunakan dan pada faktor yang
belum diketahui. Manfaat GIS telah dipertanyakan karena pada beberapa
keadaan ruam dicegah dan manifestasi klinis tidak ada atau minimal
walaupun virus hidup dapat diperagakan dalam darah. Bentuk pencegahan ini
tidak terindikasi, kecuali pada wanita hamil nonimun.
Program vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu upaya
pencegahan terhadap rubella. Di Amerika Serikat mengharuskan untuk
imunisasi sernua laki-laki dan wanita umur 12 dan 15 bulan serta pubertas
dan wanita pasca pubertas tidak hamil. Imunisasi adalah efektif pada umur 12
bulan tetapi mungkin tertunda sampai 15 bulan dan diberikan sebagai vaksin
MMR.
Imunisasi rubella harus diberikan pada wanita pasca pubertas yang
kemungkinan rentan pada setiap kunjungan perawatan kesehatan. Untuk
wanita yang mengatakan bahwa mereka mungkin hamil imunisasi harus
ditunda. Uji kehamilan tidak secara rutin diperlukan, tetapi harus diberikan
nasehat mengenai sebaiknya menghindari kehamilan selama 3 bulan sesudah
imunisasi. Kebijakan imunisasi sekarang telah berhasil memecahkan siklus
epidemic rubella yang biasa di Amerika Serikat dan menurunkan insiden
sindrom rubella kongenital yang dilaporkan pada hanya 20 kasus pada tahun
1994. Namun imunisasi ini tidak mengakibatkan penurunan presentase wanita
usia subur yang rentan terhadap rubella.23,25,26

L. Pencegahan Sebelum Kehamilan


Sebelum hamil pastikan bahwa Anda telah memiliki kekebalan
terhadap virus Rubella dengan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan
anti-Rubella IgM.
Jika hasil keduanya negatif, sebaiknya Anda ke dokter untuk
melakukan vaksinasi, namun Anda baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah
vaksinasi.
Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan
anti-Rubella IgG positif, dokter akan menyarankan Anda untuk menunda
kehamilan.
Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi
dan antibodi yang terdapat dalam tubuh Anda dapat melindungi dari serangan
virus Rubella. Bila Anda hamil, bayi Anda pun akan terhindar dari Sindroma
Rubella Kongenital.
Bila Anda sedang hamil dan belum mengetahui apakah tubuh Anda
telah terlindungi dari infeksi Rubella maka Anda dianjurkan melakukan
pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM : Jika Anda telah
memiliki kekebalan (anti-Rubella IgG positif), berarti janin Anda pun
terlindungi dari ancaman virus Rubella.27,28
M. Cara Mencegah Rubella Pada Kehamilan
Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Untuk perlindungan
terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin
kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan
gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin
Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan
pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun,
harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak
dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil. 8
1. Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya
memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi
TORCH lainnya.

2. Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi atau
sudah divaksinasi terhadap Rubella. Anda tidak mungkin terkena Rubella
lagi, dan janin 100% aman.33
3. Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan antiRubella IgG positif, berarti anda baru terinfeksi Rubella atau baru
divaksinasi terhadap Rubella. Dokter akan menyarankan Anda untuk
menunda kehamilan sampai IgM menjadi negatif, yaitu selama 3-6 bulan.
4. Jika anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif berarti anda tidak
mempunyai kekebalan terhadap Rubella. Bila anda belum hamil, dokter
akan memberikan vaksin Rubella dan menunda kehamilan selama 3-6
bulan. Bila anda tidak bisa mendapat vaksin, tidak mau menunda
kehamilan atau sudah hamil, yang dapat dikerjakan adalah mencegah anda
terkena Rubella
5. Bila sudah hamil padahal belum kebal, terpaksa anda berusaha
menghindari tertular Rubella dengan cara berikut:
6. Jangan mendekati orang sakit demam Jangan pergi ke tempat banyak anak
berkumpul, misalnya Playgroup, sekolah TK dan SD Jangan pergi ke
tempat penitipan anak Sayangnya, hal ini tidak dapat 100% dilaksanakan
karena situasi atau karena orang lain yang terjangkit Rubella belum tentu
menunjukkan gejala demam. Kekebalan terhadap Rubella diperiksa ulang
lagi umur 17-20 minggu.
7. Bila ibu hamil mengalami Rubella, periksalah darah apa benar terkena
Rubella.34
8. Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah,
pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG danIgM Rubella
setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru.
9. Bila ibu hamil mengalami Rubella, pastikan apakah janin tertular atau
tidak
10. Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan
pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain
Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion).
Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli
kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan
lebih dari 22 minggu.

Bagi wanita usia subur bisa menjalani pemeriksaan serologi untuk Rubella.
Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika si ibu sedang hamil atau kepada
orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat kanker, terapi
kortikosteroid maupun penyinaran. Jika tidak memiliki antibodi, diberikan
imunisasi dan baru boleh hamil 3 bulan setelah penyuntikan.28,29
N. Prognosis
Komplikasi relatif tidak lazim pada anak. Neuritis dan artritis kadang
kadang terjadi. Resistensi terhadap infeksi bakteri sekunder tidak berubah.
Ensefalitis serupa dengan ensefalitis yang ditemukan pada rubeola yang
terjadi pada sekitar 1/6.000 kasus. Prognosis rubella anak adalah baik; sedang
prognosis rubella kongenital bervariasi menurut keparahan infeksi. Hanya
sekitar 30% bayi dengan ensefalitis tampak terbebas dari defisit neuromotor,
termasuk sindrom autistik. Kebanyakan penderitanya akan sembuh sama
sekali dan mempunyai kekebalan seumur hidup terhadap penyakit ini.30,31
Namun, dikhawatirkan adanya efek teratogenik penyakit ini, yaitu
kemampuannya menimbulkan cacat pada janin yang dikandung ibu yang
menderita rubella. Cacat bawaan yang dibawa anak misalnya penyakit
jantung, kekeruhan lensa mata, gangguan pigmentasi retina, tuli, dan cacat
mental. Penyakit ini kerap pula membuat terjadinya keguguran.33

BAB III
PENUTUP
Rubella adalah infeksi virus yang bersifat self-limiting yang disebabkan oleh virus
rubella (family Togaviridue, genus Rubivirus).1 Infeksi ini merupakan penyakit
exanthematous yang tanda dan gejalanya tidak spesifik, seperti eritematosa,
kadang-kadang juga dapat disertai gatal dan ruam, limfadenopati post-aurikularis
atau suboksipital, arthralgia, dan demam. Selain itu, 25 - 50 persen dari infeksi

rubella bersifat subklinis, ringan, dengan angka morbiditas kecil dan sedikit
komplikasi, kecuali mengenai seorang wanita hamil (terutama selama pertama
trimester).2,36 Infeksi ini pada ibu hamil selama trimester pertama kehamilan dapat
menyebabkan anomali

dan kematian pada janin, yang biasa dikenal sebagai

congenital rubella syndrome (CRS). 3,32


Cacat lahir yang paling sering dikaitkan dengan CRS yaitu cacat pendengaran
(misalnya,

tuli

sensorineural),

kelainan

pada

mata

(misalnya,

katarak,

microphthalmia, glaukoma, korioretinitis), pada jantung (misalnya, patent ductus


arteriosus, arteri pulmonalis perifer stenosis, atrium atau defek septum ventrikel),
dan

kelainan

neurologis

(misalnya,

mikrosefali,

meningoensefalitis,

keterbelakangan mental). Bayi dengan CRS sering menunjukkan retardasi


pertumbuhan intrauterin dan keterlambatan pertumbuhan postnatal. Kondisi lain
yang terkait dengan CRS meliputi cacat tulang radiolusen, hepatosplenomegali,
trombositopenia, dan lesi kulit purpura.1
Imunisasi terhadap rubella merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah
infeksi janin selama kehamilan dan kejadian CRS. Imunisasi pada anak-anak
dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi rubella tetapi tidak menghilangkan
risiko. Sirkulasi virus rubella di masyarakat, di keluarga, atau dalam lingkungan
sekitar jika mengenai perempuan yang

rentan dapat menyebabkan CRS.

Diagnosis klinis CRS sulit. Namun bayi yang terkena CRS mudah dikenali saat
lahir, mereka memiliki lebih dari satu tanda atau gejala CRS. Namun demikian
dapat pula terjadi cacat tunggal; tuna rungu yang paling umum untuk kejadian
cacat tunggal.3 Ketulian dan defisit CRS lainnya ringan, seperti beberapa
abnormalitas jantung hanya dapat dideteksi pada beberapa bulan atau tahun
setelah kelahiran, atau tidak terdeteksi sama sekali. Infeksi virus rubella ini
ditularkan melalui droplets airborne dari saluran pernapasan atas atau dari
penderita aktif. Diagnosis dini penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut
dari virus. Hal ini sangat penting untuk ibu hamil supaya bayinya tidak terkena
CRS.3

DAFTAR PUSTAKA
1. Duszak RS. 2009. Congenital rubella syndrome major review.
Optometry 80: 36-43
2. Hobman TC, Chantler JK. 2007. dalam Fields Virology Vol. 1
(ed. D. M. Knipe) 10691100. Lippincott Williams & Wilkins
3. McLean H, Redd S, Abernathy E, Icenogle J, Wallace G. 2012.
Chapter 15: Congenital Rubella Syndrome. VPD Surveillance
Manual 5th Edition
4. Hauora M. 2012. Rubella Congenital. New Zealand Ministry of
Health. newzealand.govt.nz (Diakses September 2014)
5. Dewan P, Gupta P. 2012. Burden of congenital rubella
syndrome

(CRS)

in

India:

systematic

review.

Indian

Pediatrics
6. Handojo I. 2004. Imunoasai untuk penyakit infeksi Virus. Dalam: Imunoasai
Terapan pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya, Airlangga University
Press; pp: 17688

7. Matuscak R. 2005. Rubella Virus Infection and Serology. In:


Clinical

Immunolgy

Principles

and

Laboratory

Diagnosis.

Philadelphia, JB Lipincott Co.; pp: 21523


8. Massimo DP, Maria TM, Alessia P. 2012. Rubella antibody screening during
pregnancy in an urban area of Northern Italy. Infectious Disease Reports
9. Berno M, Mariam MM, Stephen EM. 2014. Sero-positivity rate of rubella and
associated factors among pregnant women attending antenatal care in
Mwanza, Tanzania. BMC Pregnancy and Childbirth; 14:95
10. Manitoba. 2010. Communicable Disease Management Protocol. Rubella
and Congenital Rubella Syndrome Infection; pp:8-10
11. Nabel GJ. 2013. Designing Tomorrows Vaccines. N Engl J Med; 368:55160
12. Jolice PB, Elisabeth AMW, Gaby PS, et.al. 2014. Lower transplacental
Antibody Transport for Measles, Mumps, Rubella and Varicella Zoster in Very
Preterm Infants. Journal Pone PLoS ONE; 9 (4):1-7
13. Hviid A, Melbye M, 2013. Use of Selective Serotonin Reuptake Inhibitors
during Pregnancy and Risk of Autism. N Engl J Med; 369:2406-15
14. European Centre for Disease Prevention and Control. 2012. Technical
Report: Survey on rubella, rubella in pregnancy and congenital rubella
surveillance systemsin EU/EEA countries; pp:33-6
15. Department of Health and Human Services. Center for Disease Control
and prevention. 2009. Epidemiology and Prevention of Vaccine Preventable
Disease. http://www.cdc.gov (Diakses Agustus 2014)
16. Center for Disease Control and prevention.

2014.

Rubella.

http://www.cdc.gov/nip/publications/pink/rubella.pdf (Diakses Agustus 2014)


17. Mahony JB, Chernesky MA. 2002. Rubella virus. In: Manual of Clinical
Laboratory Immunology Sixth Ed. Washington DC, American Society of
Microbiology,; pp: 68795
18. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak: Infeksi Virus-Rubella (Edisi ke-15). Terjemahan Oleh: Maldonado Y.
EGC, Jakarta, Indonesia, hal. 1072
19. Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak bagian IKA RSMH 2012
20. James C. 2000. Rubella. Dalam: Kandun, I.N (Editor). Manual
Pemberantasan Penyakit Menular (hal. 453 456). Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, Indonesia

21.

Deepika D, Rachna R, Sarman S, Roy KK, Malhotra N. 2006.

Diagnosis of acute rubella infection during pregnancy. The


Journal of Obstetrics and Gynecology of India, 56(1): 44-46
22. WHO. 2012. Surveillance Guidlines for Measles, Rubella and
Congenital Rubella Syndrome in the WHO European Region
23. Nelson WE. Ilmu Kesehatan Anak Ed 15. Alih bahasa. Samik Wahab.
Jakarta: EGC, 2000 : (1): 1072-1074
24. Reef SE, Redd SB, Abernathy E, et.al. 2011. Evidence Used to Support the
Achievement and Maintenance of Elimination of Rubella and Congenital
Rubella Syndrome in the United States. The Journal of Infectious Diseases;
204:S593S597
25. Cheong AT, Tong SF and Khoo EM. How useful is a history of rubella
vaccination for determination of disease susceptibility? A cross-sectional
study at a public funded health clinic in Malaysia. BMC Family Practice 2013
14:19
26. Chen M, Zhu Z, Liu D, et al. 2013. Rubella epidemic caused by genotype
1E rubella viruses in Beijing, China, in 20072011. Virology Journal 2013
10:122
27. Huong Q M, Amy P, Jonathan L T et al. Prevention of Measles, Rubella,
Congenital Rubella Syndrome, and Mumps, 2013. Morbidity and Mortality
Weekly Report; 2013; 62(4):1-34.
28. Joseph B Babigumira, Ian Morgan and Ann Levin. Health economics of
rubella: a systematic review to assess the value of rubella vaccination. Public
Health 2013 13:406
29. I Paradowska-Stankiewicz, M P Czarkowski, T Derrough, et al. Ongoing
outbreak of rubella among young male adults in Poland: increased risk of
congenital rubella infections. Euro Surveill. 2013;18(21):pii=20485
30. Carlos Castillo-Solorzano, Christina Marsigli, Pamela Bravo-Alcantara.
Elimination of Rubella and Congenital Rubella Syndrome in the Americas.
The Journal of Infectious Diseases 2011;204:S571S578.
31. Onakewhor JU, Chiwuzie J. Seroprevalence survey of rubella infection in
pregnancy at the University of Benin Teaching Hospital, Benin City. Niger J
Clin Pract 2011;14:140-5

32.

SatheeSh K. Bhandary, M. ShWetha Shenoy, VadiSha SriniVaS Bhat,

BiniyaM K., Vijaya Shenoy. Congenital Rubella Syndrome: It Still Exists in


India. Journal of Clinical and Diagnostic Research Vol.6 (2). 2012: 301-302
33. Hamdan Z Hamdan, Ismail E Abdelbagi, Nasser M Nasser and Ishag Adam.
Seroprevalence of cytomegalovirus and rubella among pregnant women in
western Sudan. Virology Journal 2011, 8:217.
34. Gillian H, Tara H, Shalini D, Natasha S. Rubella immunity among prenatal
women. BMC Infectious Diseases 2013; 13:362
35. Sirpa Strobel, Klaus Dietz, Gisela Enders, et.al. Performance of the
Elecsys Rubella IgG Assay in the Diagnostic Laboratory Setting for
Assessment of Immune Status. Journal of Clinical and Vaccine Immunology
Vol.20(3). 2013:420-426
36. Metcalf CJE, Bjornstad ON, M. J. Ferrari, et.al. The epidemiology of rubella
in Mexico: seasonality, stochasticity and regional variation. Journal of
Epidemiology Infection National Institutes of Health. 2014: 1-14.
37. Thomas R F, Harold F J, James W S et al. Nationwide Rubella EpidemicJapan, 2013. Morbidity and Mortality Weekly Report; 2013; 62(23):457-488