Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN PUSTAKA

RINORE

Disusun Oleh :
Putu Ngurah Aeland Prilaksana K.

Pembimbing :
dr. Juwono Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT


FAKULTAS KEDOKTERAN WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2015

RINORE
I.

Definisi
Rinore berasal dari bahasa yunani rhinos yaitu hidung dan -rrhea yang

berarti cairan. Rinore atau hidung berair secara umum dapat diartikan sebagai
keluarnya cairan dari hidung yang salah satunya disebabkan oleh adanya suatu
proses inflamasi atau iritasi. Cairan yang keluar dapat bewarna jernih, hijau
ataupun coklat.1
II. Mekanisme Rinore
Mekanisme terjadinya pilek atau rinore adalah sebagai berikut:
1) Allergen yang masuk tubuh melalui saluran pernafasan, kulit, saluran
pencernaan dan lain-lain akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja sebagai
antigen presenting cells (APC).
2) Setelah alergen diproses dalam sel APC, kemudian oleh sel tersebut, alergen
dipresentasikan ke sel Th. Sel APC melalui penglepasan interleukin I (II-1)
mengaktifkan sel Th. Melalui penglepasan Interleukin 2 (II-2) oleh sel Th
yang diaktifkan, kepada sel B diberikan signal untuk berproliferasi menjadi
sel plasma dan membentuk IgE.
3) IgE yang terbentuk akan segera diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan
dan basofil yang ada dalam sirkulasi. Hal ini dimungkinkan oleh karena
kedua sel tersebut pada permukaannya memiliki reseptor untuk IgE. Sel
eosinofil, makrofag dan trombosit juga memiliki reseptor untuk IgE tetapi
dengan afinitas yang lemah.
4) Bila orang yang sudah rentan itu terpapar kedua kali atau lebih dengan
alergen yang sama, alergen yang masuk tubuh akan diikat oleh IgE yang
sudah ada pada permukaan mastofit dan basofil. Ikatan tersebut akan
menimbulkan influk Ca++ ke dalam sel dan terjadi perubahan dalam sel yang
menurunkan kadar cAMP.
5) Kadar cAMP yang menurun itu akan menimbulkan degranulasi sel. Dalam
proses degranulasi sel ini yang pertama kali dikeluarkan adalah mediator
yang sudah terkandung dalam granul-granul (preformed) di dalam sitoplasma
yang mempunyai sifat biologik, yaitu histamin, Eosinophil Chemotactic
Factor-A (ECF-A), Neutrophil Chemotactic Factor (NCF), trypase dan kinin.
Efek yang segera terlihat oleh mediator tersebut ialah obstruksi oleh histamin.
6) Histamin menyebabkan Vasodilatasi, penurunan tekanan kapiler &
permeabilitas, sekresi mucus
7) Sekresi mukus yang berlebih itulah yang menghasilkan pilek atau rinore
III. Etiologi dan Penatalaksanaan Rinore Mukoid
1.
Mukoid
Rinitis Vasomotor

Rinitis vasomotor merupakan istilah yang digunakan untuk gangguan pada


mukosa hidung yang ditandai dengan adanya edema yang persisten dan
hipersekresi kelenjar pada mukosa hidung apabila terpapar oleh beberapa
rangsangan seperti perubahan kelembapan dan suhu atau iritasi di alam yang tidak
spesifik. Hal ini dapat terjadi akibat ketidakseimbangan vasomotor dan juga
pengaruh faktor endokrin.2,
Rinitis ini digolongkan menjadi non-alergi bila adantya alergi/alergen
spesifik tidak dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan alergi yang sesuai
(anamnesis, tes cukit kulit, kadar antibodi IgE spesifik serum). 11
Etiologi
Penyebab pasti terjadinya rinitis vasomotor masih belum diketahui. 2
Mayoritas 75-80% dari faktor individual.4 Etiologi rinitis vasomotor diduga akibat
adanya gangguan keseimbangan sistem saraf otonom yaitu bertambahnya aktivitas
parasimpatis dimana terjadi gangguan vasomotor atau gangguan fisiologik lapisan
mukosa hidung yang dipicu oleh zat-zat tertentu.2,3
Faktor presiposisi terjadinya rinitis vasomotor yaitu :4
a. Herediter
b. Infeksi yaitu riwayat infeksi bakteri dan virus sebelumnya
c. Psikologi dan emosional
d. Obat-obatan yang menginduksi gejala dari rinitis seperti aspirin dan
obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID), reserpin, hidralazin,
guanetidin, pentolamin, metildopa, penghambat angiotensin-converting
enzyme (ACE), -blocker, antagonis -adrenoceptor, klorpromazin,
e.

kontrasepsi oral, nasal dekongestan topikal dan agen psikotropik.4


Pengaruh endokrin, rinitis vasomotor terjadi saat usia muda, pubertas,

selama menstruasi, kehamilan serta rangsangan seksual.


Faktor pesipitasi dari rinitis vasomotor yaitu:4
a. Keadaan cuaca, perubahan kelembapan dam suhu
b. Asap, asap rokok, debu, wangi-wangian dan alkohol
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada rinitis vasomotor sangat bervariasi, tergantung pada
faktor penyebab dan gejala yang menonjol.3
Pemberian kortikosteroid topikal dapat diberikan pada pasien yang
mengeluhkan hidung tersumbat dan mengalami obstruksi. Saat ini terdapat
kortikosteroid topikal baru dalam larutan aqua seperti flutikason propionate dan

mometason furoat dengan pemakaian cukup satu kali sehari dengan dosis 200
mcg.3 Selain itu dikenal juga operasi bedah beku, elektrokauter, diatermi
submukosal, laser-turbinectomy, krioterapi dan turbinektomi pembedahan sebagai
penatalaksanaan rinitis vasomotor yang bersifat invasif.3 Pilihan terapi ini tidak
memberikan 100% efek perubahan untuk semua gejala.5
Adapun algoritme pendekatan yang disarankan

dalam

melakukan

tatalaksana dari rinitis vasomotor dijelaskan pada gambar 1.

Gambar 1. Algoritme untuk penatalaksanaan farmakologik dari rinitis vasomotor3


2.

Mukopurulen
a. Rinosinusitis
Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal.6

Rinosinusitis yang terjadi pada orang dewasa diartikan sebagai inflamasi dari
hidung dan sinus paranasal yang ditandai dengan dua atau lebih gejala, satu
diantaranya harus ada penyumbatan pada hidung/obstruksi/kongesti atau discaj
nasal (anterior/posterior/post nasal drip) ditambah dengan ada atau tidak nyeri
tekan pada muka. Pada dewasa dapat ditandai dengan ada atau tidaknya gangguan
penciuman, namun pada anak-anak ditandai dengan ada atau tidaknya batuk.7
Pada saat ini, nomenklatur untuk panggilan sinusitis telah berubah menjadi

rinosinusitis.

Hal ini didasarkan pada kedekatan secara anatomi dan fakta

bahwa patofisiologi inflamasi yang terjadi biasanya memberikan pengaruh pada


kedua sinus dan jalan masuk rongga hidung.8
Etiologi
a. Infeksi
Infeksi yang tersering pada rongga hidung adalah infeksi virus,
kemudian diikuti oleh infeksi bakteri yang sekunder. Virus sangat mudah
menempel pada mukosa hidung yang menganggu sistem mukosiliar rongga
hidung dan virus melakukan penetrasi ke selaput lendir dan masuk ke sel tubuh
dan menginfeksi secara cepat. Akibat dari infeksi virus dapat terjadi edema dan
hilangnya fungsi silia yang normal, maka akan terjadi suatu lingkungan ideal
untuk perkembangan bakteri. Bakteri aerob yang paling sering ditemukan, antara
lain Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians, Haemophilis influenze,
Neisseria flavus, Staphylococcus epidermidis. Bakteri anaerob termasuk
Corynebacterium, Peptostreptococcus dan Vellonela.9
b. Alergi
Alergi juga dapat merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
rinosinusitis karena alergi dapat menyebabkan mukosa udem dan hipersekresi.
Mukosa sinus yang udem dapat menyumbat muara sinus dan menganggu drainase
sehingga menyebabkan timbulnya infeksi, selanjutnya dapat menghancurkan
epitel permukaan dan siklus seterusnya berulang yang mengarah pada
rinosinusitis kronis.9
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dilakukan tergantung penyebabnya. Pada rinosinusitis viral
dapat dilakukan dengan menghilangkan gejala dari hidung tersumbat dan rinore
yang diderita, sedangkan untuk rinosinusitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri
dapat dilakukan penatalaksanaan dengan pemberian antibiotik untuk mngeradikasi
infeksi, mencegah komplikasi dan mencegah penyakit agar tidak menjadi kronis.
Adapun

algoritme

pendekatan

yang

disarankan

dalam

melakukan

tatalaksana dari rinosinusitis dapat dijelaskan pada gambar 2.

Gambar 2. Algoritme pendekatan dalam tatalaksana rinosinusitis akut7


Menurut The European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal
Polyps (EPOS) 2012 merekomendasikan pemberian antibiotik harus diberikan
pada pasien dengan gejala yang berat seperti discaj yang bewarna, nyeri local
(VAS >7), demam (>380C), peningkatan laju endap darah (LED) atau C-reactive
protein (CRP) serta gejala yang timbul lebih berat dari gejala sebelumnya. 7
Adapun pengobatan antibiotik seperti golongan cephalosporin (cefpodoxime,
cefuroxime, cefdinir, ceftriaxone) dan amoxicillin/clavulanate potassium dapat
direkomendasikan sebagai pengobatan inisial.9 Pasien dilakukan perujukan jika
ditemukan beberapa kondisi sebagai berikut periorbital edema,eritema, globe
dysplaced, penglihatan ganda, oftalmoplegia, pengurangan lapangan penglihatan,
nyeri kepala yang hebat unilateral atau bilateral, bengkak pada bagian frontal,
tanda-tanda meningitis dan tanda-tanda neurologis lainnya.9
b. Korpus Alienum
Etiologi

Benda asing adalah benda yang berasal dari luar (eksogen) atau dalam
(endogen) tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh. Benda asing
dapat masuk melalui hidung atau mulut. Benda asing eksogen terdiri dari benda
padat, cair atau gas. Benda asing endogen dapat berupa sekret kental, darah,
bekuan darah, nanah, krusta, membrane difteri atau cairan amnion.10
Pembagian lain juga membagi benda asing menjadi benda asing hidup dan
benda asing mati. Benda asing hidup yang pernah ditemukan yaitu larva lalat,
lintah dan cacing sedangkan benda asing mati yang tersering yaitu manik-manik,
baterai logam dan kancing baju.10
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing kedalam
saluran nafas antara lain faktor personal (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi
sosial, tempat tinggal), kegagalan mekanisme proteksi yang normal, faktor fisik,
faktor dental, faktor medikal dan surgikal, faktor kejiwaan, ukuran dan bentuk
benda asing serta faktor kecerobohan. Benda asing dapat masuk melalui hidung
dan dapat tersangkut di hidung, nasofaring, laring, trakea dan bronkus. 10
Penatalaksanaan
Secara prinsip benda asing yang berada pada saluran nafas diatasi dengan
pengangkatan segera secara endoskopik dalam kondisi yang paling aman dan
dengan trauma yang minimum. Benda asing yang berada dalam hidung dapat
dilakukan pengangkatan dengan menggunakan pengait (haak) yang dimasukkan
kedalam bagian hidung bagian atas, menyusuri atap kavum nasi sampai
menyentuh nasofaring.Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan ditarik kedepan.
Dengan cara ini benda asing itu akan terbawa keluar. Cara lain yang dapat
digunakan dengan alat cunam Nortman atau wire loop.10

c. Rinitis Atrofi (Ozaena)

Rinitis atrofi didefinisikan sebagai penyakit infeksi pada hidung yang


kronik. Penyakit ini ditandai dengan adanya atrofi progresif pada mukosa dan
tulang konka serta terdapat adanya pembentukan krusta. Secara klinis, mukosa
hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mongering, sehingga terbentuk
krusta yang berbau busuk.11
Etiologi
Penyebab rinitis atrofi belum dapat diketahui sampai sekarang. Adapun
beberapa keadaan yang menjadi faktor predisposisi yang dianggap berhubungan
dengan terjadinya rinitis atrofi yaitu :11
-

Infeksi setempat atau kronik spesifik. Paling banyak disebabkan oleh


Klebsiella ozaena. Kuman spesifik lainnya antara lain Stafilokokkus,

Streptokokus, Pseudomonas dan Kokobasil.


Defisiensi Fe dan vitamin A
Infeksi sekunder seperti sinusitis kronis
Kelainan hormon
Penyakit kolagen termasuk penyakit autoimun

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan rinitis atrofi lebih ditujukan dalam mengatasi etiologi dan
menghilangkan gejala. Pengobatan rinitis atrofi bersifat konservatif yaitu
diberikan antibiotik bersprektrum luas yang sesuai dengan uji resistensi kuman
yang dikultur. Pemberian antibiotik dianjurkan harus adekuat dan lama pemberian
bervariasi tergantung dari hilangnya tanda klinis berupa sekret yang kehijauan.11
Selain itu untuk membantu dalam menghilangkan bau busuk yang
dihasilkan dari proses infeksinya, dapat diberikan obat cuci hidung yang sering
diberikan yaitu larutan garam hipertonik. Larutan ini dimasukkan kedalam rongga
hidungdan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan sekuat-kuatnya atau yang
masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. Pencucian ini dilakukan dua kali
dalam sehari.
Jika dengan menggunakan pengobatan konservatif tidak memberikan
perbaikan, maka dilanjutkan dengan melakukan pengobatan operatif. Teknik
operasi yang akan dilakukan dengan menutup lubang hidung atau penyempitan
lubang hidung dengan implantasi atau dengan jabir osteoperiosteal. Tindakan ini

diharapkan dapat mengurangi turbulensi udara dan pengeringan sekret serta


inflamasi dari mukosa juga berkurang.11
Akhir-akhir ini dilakukan bedah endoskopik fungsional (BSEF) untuk
mengatasi rinitis atrofi. Dilakukannya pengangkatan sekat-sekat tulang yang
mengalami osteomyelitis dengan harapan infeksi tereradikasi, fungsi ventilasi dan
drainase sinus kembali menjadi normal.11
d. Rinitis Hipertrofi
Etiologi
Rinitis hipertrofi terjadi dikarenakan adanya proses inflamasi yang
disebabkan oleh infeksi berulang dalam hidung dan sinus, kelanjutan dari rinitis
alergi dan rinitis vasomotor serta akibat paparan bahan iritan kimiawi dan udara
kotor.11
Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan rinitis hipertrofi ditujukan untuk mengatasi faktorfaktor yang menyebabkan terjadinya rinitis hipertrofi. Terapi simtomatis hanya
dapat meredakan sumbatan hidung akibat terjadinya hipertrofi konka, antara lain
dapat menggunakan nitras argenti atau dengan kauter listrik . Bila tidak ada
perbaikan dapat dilakukan dengan luksasi konka, frakturisasi konka multipel,
konkoplasti ataupun konkotomi parsial.11
e. Rinitis Tuberkulosa
Etiologi
Rinitis tuberkulosa merupakan kejadian infeksi tuberkulosa ekstra
pulmoner. Penyakit ini meningkat seiring dengan meningkatnya kasus
tuberculosis. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini
berbentuk noduler atau ulkus pada hidung dan dapat mengenai tulang rawan
septum bahkan dapat menyebabkan perforasi septum.11
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan rinitis tuberkulosa seiiring dengan etiologinya yaitu


melakukan pengobatan antituberkulosis dan diberikan obat cuci hidung untuk
menghilangkan sekret dan bau yang berada pada hidung.11
f. Rinitis Jamur
Etiologi
Rinitis akibat jamur dapat terjadi bersama dengan sinusitis dan bersifat
invasive atau non invasif. Rinitis jamur non invasif dapat menyerupai rinolith
dengan inflamasi mukosa yang lebih berat, sedangkan rinitis jamur tipe invasive
ditandai dengan ditemukannya hifa jamur pada lamina propria. Adapun jamur
penyebab rinitis jamur yaitu Aspergillus, Candida, Histoplasma, Fussarium dan
Mucor.
Aspergilosis merupakan infeksi jamur paling sering yang menyebabkan
rinitis kronik spesifik dengan koloni jamur yang terdapat dalam sinus paranasal.11
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan rinitis jamur non invasif dapat dilakukan dengan
mengangkat bola jamur (fungus ball). Pemberian obat anti jamur untuk non
invasif tidak begitu diperlukan, sedangkan untuk pengobatan rinitis jamur invasif
dapat diberikan anti jamur oral dan topikal yang bertujuan untuk mengeradikasi
agen penyebabnya. Obat cuci hidung dapat diberikan untuk pembersihan hidung
dari krusta-krusta yang lengket. Khusus untuk rinitis jamur invasif perlu
dilakukannya tindakan debridement sebelumnya untuk mengangkat seluruh
jaringan yang nekrotik dan tidak sehat

sehingga tidak akan terjadi proses

destruksi tulang yang lebih lanjut.11

Rhinorea

Jernih
seperti air

Bercampur
darah

Mukus / Mukopurulen/
Purulen

Neoplasma

PF: mukosa
edema,basah,berwar
na pucat atau livid,
secret encer banyak

PF: tampak
massa berwarna
pucat dan
mudah
digerakkan

PF:edema
mukosa,
konka merah
gelap,
permukaan
licin atau
berbenjol

PF: pus di
meatus
medius atau
meatus
inferior

Pmx penunjang:
Pmx penunjang:
nasoendoskopi,
hitung eosinofil, IgE
Pmx
foto
polos sinusDAFTAR PUSTAKA
total, IgE spesifik,
Pmx
penunjang:
paranasal, CT
skin prick test
penunjang:
foto polos
scan
1. Kamus Kedokteran Dorland.EGC.edisihitung
ke 31. 2010:1991
sinus
2. Adam, Boies, Higler. Rinitis vasomotorik.
Dalam Boies
Buku
eosinofil, IgE
paranasal,Ajar
CT- Penyakit
THT..Jakarta:
EGC.
2013
total, IgE
Scan
Dx: rhinitis alergi
Dx: polip hidung
3. Irawati N, Poerbonegoro NL, Kasakeyan
Rinitis vasomotor. Dalam : Buku
spesifik, E.
skin
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok
Kepala dan Leher. Editor:
prick
test
Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Edisi ke 6. Jakarta:Balai
Terapi:
Terapi :
UI. 2007:135-37
Dx: sinusitis,
AvoidancePenerbit FK
Kortikosteroid,
4. Garay G. Mechanism of vasomotor Dx:
rhinitis.France:Journal
of Allergy.2004:4-10
Rhinitis
infeksi
rhinitis
Operatif:
5.
Ellen
A,
Jaatun,
Claude
L.
Radio-wave
therapy
of
inferior
turbinates for
Anti
vasomotor
polipektomi
treatment
of
intractable
vasomotor
rhinitis-a
clinical
study
of
the
subjective
long
histamine
Terapi: antibiotik,
term outcome. Clinical Medicine and Diagnostics. Norway.2012;1-5.
dekongestan
6. Endang M,Damajanti S. Sinusitis. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga
Dencongest
Terapi
:
oral/topical,
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Editor: Soepardi EA, Iskandar N,
an
Bashiruddin J, Restuti RD. Edisi ke 6.avoidance,
Jakarta:Balai Penerbitanalgesic,mukolitik,
FK UI. 2007: 150-4
congestan
oral, I, Baroody
Kortikoster
kortikosteroid
oral/
7. Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol, Bachert C, Alobid
F, et al. European
kortikosteroid
oid
topical
Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012. Rhinol Suppl.2012
Mar(23):1topical.
Operatif:
CWL,
298.
Operatif:
8. Paul C, Potter MD, Ruby P. Indication, efficacy and safety FESS
of intranasal
pemotonga
corticosteroids in rhinosinusitis. WAO Journal.Tokyo.2012:14-17.
n konka
9. Dewey C, Sched MD, Robert M. Acute bacterial rhinosinusitis in adults: part
inferior II.treatment. American Academy Family Physician.Oklahoma.2004:1711-12.
10. Junizaf MH. Benda asing di saluran nafas. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Editor: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J, Restuti RD. Edisi ke 6. Jakarta:Balai Penerbit FK UI. 2007: 259265
11. Wardani RS, Mangunkusumo E. Rinorea, infeksi hidung dan sinus. Dalam : Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Editor:

10

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Edisi ke 6. Jakarta:Balai


Penerbit FK UI. 2007:139-143.

11