Anda di halaman 1dari 15

Nilai = 85

(nilai sudah saya catat, dan nilai akan saya tulis di


halaman penilaian laporan akhir yang sudah dijilid lem)

Laporan ini tinggal di print aja (di print mulai dari


halaman yang ada tanda ACC dari coass)
Disatukan dengan laporan acara lain, untuk
kemudian di jilid lem, di kumpulkan saat
responsi.

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM


EVALUASI GIZI DALAM PENGOLAHAN PANGAN
EVALUASI KADAR VITAMIN C SARI BUAH

Disusun Oleh:
Kelompok 8:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Maya Puspita F.
Natalia Chris D.
Nurma Retha D.
Nurmalita Fatmala
Rizki Novitasari
Rizky Nirmala K.
Roch Galih S.
Thira Aziza

H0911037
H0911044
H0911047
H0911048
H0911054
H0911055
H0911056
H0911062

9. Tri Nur Hayati

H0911063

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

ACC

ACARA I
EVALUASI KADAR VITAMIN C SARI BUAH

29-42014

A. Latar Belakang
Vitamin C menarik perhatian dari komunitas riset dan konsumen sebagai
nutrisi dengan aktivitas biologis yang luas dan pentingnya untuk kesehatan
manusia. Vitamin C adalah antioksidan dan, dalam air, itu mudah mengoksidasi
pertama yang asam dehidroaskorbat, lalu ke diketogulonic, oksalat, dan asam
threonic. Reaksi pertama adalah reversibe, namun tidak untuk reaksi
selanjutnya. Oleh karena itu, pada bahan pagan dapat menurunkan kadarnya
selama proses pengolahannya makanan dan penyimpanan. Asam askorbat
diakui menjadi salah satu nutrisi paling sensitif terhadap panas dalam makanan.
Vitamin C atau asam askorbat adalah salah satu vitamin yang dapat
ditemukan dalam berbagai buah dan sayur. Vitamin C adalah berwarna bening
kristal membentuk senyawa organik, dan dapat dipadukan dari glukosa atau
mengekstrak dari sumber alami tertentu, seperti sari jeruk. Buah dan sayur,
seperti jeruk, sayuran hijau, tomat, kentang, dan buah beri adalah sumber utama
dari vitamin C untuk manusia.
Pada praktikum acara I Evaluasi Kadar Vitamin C Sari Buah, dilakukan uji
iodometri pada berbagai sampel sari buah yang dinilai mengandung vitamin C
yang tinggi untuk mengetahui dan mengevaluasi kadarnya pada beberapa
sampel tersebut dan mengetahui pengaruh pemanasan terhadap kadar vitamin C
pada sari buah pada berbagai sampel yang diuji. Aplikasi dalam industri
makanan adalah mengetahui pengaruh proses pengolahan dengan pemanasan
terhadap kadar vitamin yang terdapat pada buah atau sayuran sehingga dapat
memprediksi berapa suhu yang digunakan saat proses pemanasan.

B. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Acara I Evaluasi Kadar Vitamin C sari Buah adalah :
1. Untuk mengevaluasi kadar vitamin C sari buah dengan metode titrasi
iodometri.
2. Untuk mengetahui pengaruh pemanasan terhadap kadar vitamin C sari
buah.
C. Tinjauan Pustaka
Vitamin adalah senyawa-senyawa organik tertentu yang diperlukan dalam
jumlah kecil dalam diet seseorang tetapi esensial untuk reaksi metabolism dalam
sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara
kesehatan. Kebanyakan vitamin-vitamin ini tidak dapat disintesis tubuh. Sumber
vitamin C adalah sayuran berwarna hijau, buah-buahan (perlu diketahui, bahwa
rasa asam pada buah tidak selalu sejalan dengan kadar vitamin C dalam buah
tersebut, karena rasa asam disebabkan oleh asam-asam lain yang terdapat dalam
buah bersama dengan vitamin C). Vitamin C dapat hilang karena hal-hal seperti :
a) pemanasan, yang menyebabkan rusak/ berbahayanya struktur. b) pencucian
sayuran setelah dipotong-potong terlebih dahulu. c) adanya alkali atau suasana
asam selama proses pengolahan. d) membuka tempat berisi vitamin C sebab oleh
udara akan terjadi oksidasi yang tidak reversible. Penambahan tomat atau jeruk
nipis dapat mengurangi kadar vitamin C. Pemanasan sayuran hendaknya
dilakukan

sebentar

saja

dengan

mendidihkan

air

terlebih

dahulu

(Poedjiadi, 2006). Vitamin C disebut juga asam askorbat, merupakan vitamin


yang paling sederhana berupa zat organik yang dibutuhkan oleh tubuh manusia
dalam jumlah kecil, untuk memelihara fungsi metabolisme. Vitamin C tidak
dapat disintesis di dalam tubuh manusia, sehingga diperlukan vitamin C dari
luar tubuh (Masfuftun, 2012).
Vitamin C atau asam askorbat adalah salah satu vitamin yang dapat
ditemukan dalam berbagai buah dan sayur. Vitamin C adalah berwarna putih,
kristal membentuk senyawa organik, dan dapat dipadukan dari glukosa atau
mengekstrak dari sumber alami tertentu, seperti sari jeruk. Buah dan sayur,
seperti jeruk, sayuran hijau, tomat, kentang, dan buah beri adalah sumber utama

dari vitamin C untuk manusia. Satu-satunya sumber dari protein hewani adalah
susu dan hati (Rahmawati dan Bundjali, 2009).
Sifat yang paling utama dari vitamin C adalah kemampuan mereduksinya
yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam, terutam
Cu dan Ag. Sumber Vitamin C di dalam bahan makanan terutama buah-buahan
segar dan dengan kadar yang lebih rendah juga di dalam sayuran segar. Di dalam
buah, vitamin C terdapat dengan konsentrasi tinggi di bagian kulit buah, agak
lebih rendah terdapat di dalam daging buah dan lebih rendah lagi di dalam
bijinya. Struktur kimia vitamin C terdiri dari rantai 6 atom C dan kedudukannya
tidak stabil (C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan O 2 di udara menjadi asam
dehidroaskorbat (Septiani, 2010).
Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler.
Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan,
kulit bagian dalam tulang,dentin, dan vasculair endothelium. Asam askorbat
sangat penting peranannya dalam proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan
lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin. Vitamin C juga memiliki peran
dalam berbagai fungsi yang melibatkan respirasi sel dan kerja enzim yang
mekanismenya

belum

sepenuhnya

dimengerti, peran-peran itu

adalah

oksidasi fenilanin menjadi tirosin, reduksi ion feri menjadi fero dalam
saluran pencernan sehingga besi lebih mudah terserap, melepaskan besi
dari transferin dalam plasma agar dapat bergabung ke dalam feritin
jaringan,

serta pengubah asam folat menjadi bentuk yang aktif asam

folinat.diperkirakan vitamin C juga berperan dalam pembentukan hormon


steroid dan kolesterol (Winarno, 2004). Vitamin C pada buah tomat berperan
dalam memelihara kesehatan gigi dan gusi, mempercepat sembuhnya luka-luka,
menghindarkan penyakit yang dikenal dengan nama Scurvy (skorbut), serta
melawan kecondongan kepada pendarahan pembuluh darah yang halus
(Budiyati dan Haryani, 2004).
Buah jambu (Psidium guajava L) termasuk dalam family Myrlaceae, kelas
Dycotyledoneae. Tanaman ini sering disebut sebagai jambu batu atau jambu
klutuk. Buah jambu biji ini biasannya dimakan dalam keadaan segar. Selain itu

dapat diolah menjadi sari buah dan digunakan dalam pembuatan kue. Daging
buah jambu biji yang telah dipisahkan dari bijinya dapat dibuat selai, sari buah,
jelli atau nectar. Buah segar maupun olahan jambu biji mengandung vitamin A
dan vitamin C yang tinggi, dengan kadar gula 8%. Jambu biji mempunyai rasa
dan aroma yang khas disebabkan oleh senyawa eugenol (Pujimulyani, 2009).
Buah mengandung berbagai zat gizi, khususnya vitamin dan mineral yang
cukup tinggi. Komposisi jenis gizi dalam setiap jenis buah berbeda-beda
tergantung pada beberapa faktor, yaitu perbedaan varietas, keadaan iklim
tempat tumbuh, pemeliharaan tanaman, cara pemanenan, tingkat kematangan
waktu

panen,

kondisi

selama

pemeraman

dan

kondisi

penyimpanan

(Clydesdale dalam Rahayu dkk, 2010).


Fitter dan Hay dalam Fatchurrozak (2013) yang menyatakan bahwa
pertumbuhan

dan

metabolisme

tanaman dipengaruhi

oleh

perubahan

temperatur lingkungan, temperatur lingkungan tergantung pada ketinggian di


atas permukaan tanah. Respons tanaman sebagai akibat faktor lingkungan
terlihat pada penampilan morfologi tanaman dan fisiologi tanaman. Tanaman
yang biasa hidup di daerah elevasi tinggi adalah jenis yang mampu
menyesuaikan

diri dengan kondisi iklim yang temperaturnya rendah,

kelembaban tinggi dan intensitas matahari

kurang.

Faktor-faktor

ini

berpengaruh terhadap fotosintesis dan kegiatan fisiologi lainnya.


D. Tempat dan Waktu
Praktikum Acara I Evaluasi Kadar Vitamin C sari Buah dilaksanakan di
Laboraturium Rekayasa Proses Pengolahan dan Hasil Pertanian, Jurusan Ilmu
dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
pada hari Rabu tanggal 26 Maret 2014.
E. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Labu takar 100 ml (Pyrex)
b. Gelas beker 50 ml (Herma)
c. Mortar besar
d. Buret 25 ml (Witeg)

e. Pipet volum 10 ml (Pyrex)


f. Kertas saring Whatman 41
g. Corong penyaring
h. Neraca analitik
i. Erlenmeyer (Pyrex)
j. Kompor
k. Panci
2. Bahan
a. Nanas 50 gram
b. Tomat 50 gram
c. Jambu biji 50 gram
d. Cabe merah segar 50 gram
e. Cabe rawit 50 gram
f. Aquades
g. Amilum 1%
h. Iodin 0,01 N

F. Prosedur Kerja
Ditimbang sampel sebanyak 50 gram

Diberi perlakuan sesuai dengan ketentuan (tidak riberi perlakuan/segar, direbus, dikukus)

Untuk perlakuan perebusan dan pengukusan dilakukan


selama 5 menit dengan air sebanyak 2 gelas

Sampel dihancurkan dengan mortar sampai halus

Dimasukkan dalam labu takar 100 ml dan ditambah aquades hingga tanda tera

Dikocok sampai rata dan disaring dengan kertas saring Whatman 41 kemudian diambil sebanyak

Ditambah 1 ml indikator amilum 1% dan ditrasi dengan Iodin0,01 Nhingga muncul warna biru

Ditentukan kadar vitamin C nya

G.

Pembahasan
Tabel 1.1 Kadar Vitamin C pada Sari Buah
No
Sampel
Kadar Vitamin C (%)
.
1.
Tomat segar
0,039424
2.
Tomat rebus
0,02464
3.
Nanas segar
0,04576
4.
Nanas rebus
0,02112
5.
Jambu biji segar
1,288
6.
Jambu biji rebus
0,13847
7.
Nanas rebus
0,01385
8.
Nanas kukus
0,01466
9.
Cabe merah segar
0,08959
10. Cabe rawit segar
0,06923
Sumber : Laporan Sementara

Menurut Masfuftun (2012) vitamin C atau yang disebut asam askorbat,


adalah vitamin dengan jumlah yang paling kecil yang di dibutuhkan oleh manusia
yang digunakan untuk memelihara fungsi metabolisme. Namun keberdaaanya di
dalam tubuh tidak dapat disintesis sendiri, sehingga diperlukan asupan vitamin C
dari luar tubuh manusi. Sumber vitamin C dapat diperoleh dari berbagai macam
buah dan sayur, namun rasa asam di dalam buah tidak selalu mengiringi adanya
kandungan vitamin C di dalam buah.
Vitamin C sangat mudah larut dalam air (1 gram dapat larut sempurna
dalam 3 ml air), sedikit larut dalam alkohol (1 gram larut dalam 50 ml alkohol
absolute atau 100 ml gliserin) dan tidak larut dalam benzene, eter, chloroform,
minyak dan sejenisnya. Sifat yang paling utama dari vitamin C adalah
kemampuan mereduksinya yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh
beberapa logam, terutam Cu dan Ag. Sumber Vitamin C di dalam bahan makanan
terutama buah-buahan segar dan dengan kadar yang lebih rendah juga di dalam
sayuran segar. Di dalam buah, vitamin C terdapat dengan konsentrasi tinggi di
bagian kulit buah, agak lebih rendah terdapat di dalam daging buah dan lebih

rendah lagi di dalam bijinya. Struktur kimia vitamin C terdiri dari rantai 6 atom C
dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan O2 di
udara menjadi asam dehidroaskorbat. Berikut ini gambar rumus bangun vitamin C

(Septiani, 2010).
Buah mengandung berbagai zat gizi, khususnya vitamin dan mineral
yang cukup tinggi. Komposisi jenis gizi dalam setiap jenis buah berbeda-beda
tergantung pada beberapa faktor, yaitu perbedaan varietas, keadaan iklim
tempat tumbuh, pemeliharaan tanaman, cara pemanenan, tingkat kematangan
waktu panen, kondisi selama pemeraman dan kondisi penyimpanan (Clydesdale
dalam Rahayu dkk, 2010). Hal tersebut juga berlaku dalam kandungan vitamin C
yang terdapat pada berbagai sampel yang diuji seperti buah tomat, nanas, jambu
biji dan cabe rawit, perbedaan kadar vitamin C yang terkandung pada faktorfaktor diatas sehingga ketika diuji kadar vitaminnya setiap buah berbeda-beda.
Selain itu Fitter dan Hay dalam Fatchurrozak (2013) yang menyatakan bahwa
pertumbuhan

dan

metabolisme

tanaman dipengaruhi

oleh

perubahan

temperatur lingkungan, temperatur lingkungan tergantung pada ketinggian di


atas permukaan

tanah.

Pertumbuhan dan proses metabilisme ini juga akan

mempengaruhi produksi vitamin C dalam buah sehingga faktor-faktor tersebut


juga berpengaruh besar terhadap kadar vitamin C yang berbeda pada setiap buahbuahan.
Walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil, keberadaan vitamin C
dalam tubuh manusia memiliki peran penting.Menurut Winarno (2004)vitamin C
berperan dalam proses pembentukan kolagen interseluler,pembentukan hormon
steroid dan kolesterol serta proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin

menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin. Selain itu adanya vitamin C diperlukan
dalam respirasi sel dan kerja enzim yang mekanismenya belum sepenuhnya
dimengerti seperti oksidasi fenilanin menjadi tirosin, reduksi ion feri menjadi
fero sehingga besi lebih mudah terserap dalam saluran pencernan, melepaskan
besi daritransferin dalam plasma agar dapat bergabung ke dalam feritin jaringan,
serta pengubah asam folat menjadi bentuk asam folinat yang aktif. Tidak hanya
itu, menurut Budiyati dan Haryani (2004) vitamin C juga memiliki peran dalam
memelihara kesehatan gigi dan gusi, mempercepat sembuhnya luka-luka, serta
menghambat pendarahan pada pembuluh darah yang halus.
Pada praktikum ini digunakan beberapa macam sari buah dalam keadaan
segar dan dengan perlakuan panas (perebusan dan pengukusan) untuk mengetahui
perbedaan kadar vitamin C nya. Sampel yang digunakan adalah tomat segar,
tomat rebus, nanas segar, nanas rebus, nanas kukus, jambu biji segar, jambu biji
rebus, cabe merah segar dan cabe rawit segar yang kemudian diambil sarinya.
Pengujian kadar vitamin C dilakukan dengan metode titrasi Iod, prinsip titrasi Iod
pada penentuan kadar vitamin C adalah iodin akan mengadisi ikatan rangkap pada
atom C nomor dua dan tiga dari vitamin C, setelah semua vitamin C dalam bahan
telah teradisi iod akan berikatan dengan indicator amilum membentuk kompleks
warna biru sebagai tanda pencapaian titik ekuivalen. Semakin banyak iod yang
digunakan untuk titrasi menandakan bahwa jumlah vitamin C yang harus diadisi
oleh iod semakin besar sebelum membentuk kompleks warna biru dengan
amilum, hal tersebut berarti dalam bahan tersebut kadar vitamin C nya semakin
tinggi. Berikut ini merupakan gambar mekanisme proses adisi vitamin C oleh
iodin menurut Rahman (2007) dalam Yuliana (2011)

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui kandungan vitamin C


buah jambu biji segar adalah 1,288%, hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitian
Pujimulyani (2009) menyatakan bahwa kandungan vitamin C dalam jambu segar
adalah 0,043%. Kadar vitamin C pada buah nanas segar yang dihasilkan adalah
0,04576%, hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Chris (2008)
dalam Dewi (2012) bahwa kadar vitamin C buah nanas adalah 0,024%. Hasil
kadar vitamin C pada buah tomat segar adalah 0,039424%, hasil tersebut tidak
berbeda jauh dengan kadar vitamin C menurut Direktorat Gizi Depkes RI 1979
dalam Budiyati dan Haryani (2004) bahwa kadar vitamin C buah tomat adalah
0,03%. Hasil kadar vitamin C pada cabe rawit segar adalah 0,06923, hasil tersebut
tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian Cahyono (2003) dalam Rachmawati
(2009) yang menunjukkan kadar vitamin C buah tomat sebesar 0,07%. Sedangkan
hasil kadar vitamin C pada cabe merah adalah 0,08959%, hasil tersebut tidak
sesuai dengan kadar vitamin C menurut Departemen Kesehatan RI 1981 dalam
Sembiring (2009) bahwa kadar vitamin C cabe merah segar adalah 0,018%.
Secara umum kadar vitamin C hasil praktikum menunjukkan penyimpangan,
penyimpangan tersebut dikarenakan kemungkinan kesalahan pembacaan dalam
buret, selain itu kemungkinan bahan yang tidak tersaring sempurna juga dapat
mengakibatkan selisih dalam pengukuran kadar vitamin C dalam buah.
Berdasarkan Tabel 1.1 Kadar Vitamin C pada Sari Buah adalah untuk
sampel tomat segar adalah 0,039424, pada tomat rebus adalah 0,02464, nanas
segar adalah 0,04576, pada nanas rebus adalah 0,02112, pada jambu biji segar
1,288 pada jambu biji rebus adalah 0,13847, pada nanas rebus sampel lainya
0,01385, pada nanas kukus adalah 0,01466 pada cabe merah segar 0,08959 dan
pada cabe rawit segar adalah 0,06923. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa
kadar vitamin C pada sampel tomat, nanas dan jambu biji dalam keadaan segar
lebih tinggi dari pada setelah diberi perlakuan panas berupa perebusan maupun
pengukusan. Selain itu, pada Tabel 1.1 Kadar Vitamin C pada Sari Buah dapat
disimpulkan bahwa kadar vitamin C tertinggi adalah pada sampel jambu biji segar
yaitu 1,288% sedangkan kadar vitamin C terendah adalah pada sampel nanas
rebus yaitu 0,01385%. Hal tersebut sesuai dengan teori menurut Gaman (1993)

vitamin C bersifat mudah teroksidasi dan oksidasinya sangat cepat pada suhu
tinggi, sehingga mengakibatkan jumlah vitamin C akan semakin menurun.
Vitamin C mudah teroksidasi karena senyawanya mengandung gugus fungsi
hidroksi (OH) yang sangat reaktif. Pada proses perebusan penurunan kadar
vitamin C lebih tinggi daripada pada proses pengukusan, hal ini disebabkan pada
proses perebusan bahan mengalami kontak langsung dengan air karena vitamin C
bersifat sangat mudah larut dalam air maka jumlah vitamin C dalam bahan yang
direbus akan pengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan teori Rahayu dan
Pribadi (2012) bahan makanan yang langsung terkena air rebusan akan menurun
nilai gizinya terutama vitamin-vitamin larut air (B kompleks dan C), pengukusan
juga akan mengurangi zat gizi namun tidak sebesar pada proses perebusan.
H. Kesimpulan
Kesimpulan dari acara I Evaluasi Kadar Vitamin C Sari Buah adalah
1. Prinsip titrasi iod adalah iodin akan mengadisi ikatan rangkap pada atom C
nomor dua dan tiga dari vitamin C, setelah semua vitamin C dalam bahan
telah teradisi iod akan berikatan dengan indicator amilum membentuk
kompleks warna biru sebagai tanda pencapaian titik ekuivalen.
2. Kadar vitamin C pada sampel tomat segar, tomat rebus, nanas segar, nanas
rebus, jambu biji segar, jambu biji rebus, nanas rebus, nanas kukus, cabe
merah segar, dan cabe rawit berturut-turut adalah 0,039424%, 0,02464,%,
0,04576%, 0,02112%, 1,288%, 0,13847%, 0,01385%, 0,01466, 0,08959%
dan 0,06923.
3. Kadar vitamin C tertinggi adalah pada sampel jambu biji segar yaitu 1,288%
sedangkan kadar vitamin C terendah adalah pada sampel nanas rebus yaitu
0,01385%.

DAFTAR PUSTAKA
Budiyati, C. Sri dan K. Haryani. 2004. Pengaruh Suhu terhadap Kadar Vitamin C
Pada Pembuatan Tepung Tomat. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa
Kimia dan Proses ISSN : 1411 - 4216.
Dewi, Yeni. R. 2012. Uji Efektivitas Air Perasan Buah Nanas (Ananas Comosus
(L.) Merr.) terhadap Kadar Kolesterol Total dan Trigliserida Darah Mencit
(Mus Musculus L.) Serta Sumbangannya pada Pembelajaran Biologi di
Sekolah Menengah Atas. Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi FKIP
Universitas Sriwijaya.
Fatchurrozak dkk. 2013. Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Kandungan
Vitamin C dan Zat Antioksidan Pada Buah Carica pubescens Di Dataran
Tinggi Dieng. Jurnal Pasca Panen EL-VIVO, Vol.1, No., hal 15-22,
September 2013 (ISSN : 2339-1908).
Gaman, P.M dan K. B Sherrington. 1993. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan
Mikro Biologi. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Masfufatun, dkk. 2012. Pengaruh Suhu dan Waktu Penyimpanan terhadap
Vitamin C dalam Jambu Biji. Jurnal Teknologi Pangan.
Poedjiaji, Anna. 2006. Dasar dasar Biokimia.Universitas Indonesia. Jakarta.
Pujimulyani, Dwiyati. 2009. Teknologi Pengolahan Sayur-sayuran dan Buahbuahan. Edisi Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Rahayu dkk. 2010. Perbandingan Kadar Vitamin dan Mineral dalam Buah Segar
dan Manisan Basah Karika Dieng (Carica pubescens Lenne & K. Koch).
Biosaintifika Vol. 2 No. 2, September 2010, ISSN 2085-19IX, Hal 90-100.
Rachmawati, Rani dkk. 2009. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap
Kandungan Vitamin C pada Cabai Rawit Putih (Capsicum Frustescens).
Jurnal Biologi XIII (2) : 36 40.
Rahmawati, Sitti dan B. Bundjali. 2009. Kinetics of The Oxidation of Vitamin C.
Prosiding Seminar Kimia Bersama UKM-ITB VIII. FMIPA, Institut
Teknologi Bandung, Indonesia.
Sembiring, Naomi. N. 2009. Pengaruh Jenis Bahan Pengemas terhadap Kualitas
Produk Cabai Merah Segar Kemasan selama Penyimpanan Dingin. Tesis.
Sekolah Pasca Sarjana. Universitas Sumatera Utara.
Septiani, Dian. 2010. Pengaruh Perebusan Berulang Daun Bayam terhadap
Kandungan Zat Besi dan Vitamin C. Skripsi. Fakultas Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IKIP PGRI Semarang.
Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia. Jakarta.

Yuliana. 2011. Penetapan Kadar Vitamin C dari Buah Melon (Cucumis Melo)
Secara Volumetri dengan 2,6 Diklorofenol Indofenol. Skripsi. Program
Ekstensi Sarjana Farmasi.Universitas Sumatera Utara.

LAMPIRAN
Perhitungan kadar vitamin C pada sari buah nanas kukus:
vitaminC=

ml Iod N iod BM vit C FP


100
2 gr sampel 1000

1,8 0,01157 176 4


100
2 50 1000

0,01466