Anda di halaman 1dari 5

Zul Adhri Harahap

A24120142
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman merupakan mahluk hidup yang dapat menghasilkan buah yang
dapat kita manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari baik dalam menyediakan gizi,
vitamin serta segi keindahan (estetika) yang terkandung terdapat pada morfologi
tanaman tersebut. Tanaman dapat kita kembangbiakan dari biji yang terdapat pada
buah. Tetapi tanaman yang bersal dari buah ini akan banyak menimbulkan sifat
variasi yang akan tidak sama dengan induknya.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif alamiah adalah perbanyakan
tanaman tanpa perkawinan atau tidak menggunakan biji tanaman induknya yang
terjadi atau campur tangan manusia. Perbanyakan secara alami akan menimbulkan
variasi yang berbeda-beda untuk di jadikan tanaman baru. Perkembangbiakan
secara vegetatif biasanya berasal dari salah satu bagian tanaman tertentu saja
misalnya berasal dari akar, batang, daun dan masih banyak lainya yang bisa
digunakan atau biasanya dikenal dengan sebutan bibit, sedangkan
perkembangbiakan secara generatif berasal dari biji. Stek batang sebagai material
sangat menguntungkan, sebab batang mempunyai persediaan makanan yang
cukup terhadap tunas-tunas batang dan akar.
Salah satu aternatif yang dapat menghasilkan tanaman yang sifat genetik
sama dengan induknya yaitu menggunakan perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Perbanyakan vegetatif buatan merupakan perkembangbiakan tanaman tanpa
melalui perkawinan. Proses perbanyakan secara vegetatif buatan melibatkan
campur tangan manusia. Tanaman yang biasa diperbanyak dengan cara vegetatif
buatan adalah tanaman yang memiliki kambium.
Stek atau cutting merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara
vegetatif. Tanaman yang disetek, dipotong disalah satu bagiannya. Stek batang
merupakan perbanyakan tanaman yang menggunakan potongan batang, cabang,
atau ranting tanaman induknya. Untuk dapat meningkatkan keberhasilan dalam
memperbanyak tanaman secara vegetatif seperti cangkok dan stek, dikembangkan
hormone yang dapat mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Stek batang yang
digunakan dapat diberikan hormon tumbuh yang sering digunakan untuk
mempercepat pertumbuhan akar baru yaitu auksin yang diberikan dalam
bentuk pasta (auksin pasta) maupun dalam bentuk larutan (Rootone F) yang
banyak tersedia secara komersial. Auksin memiliki fungsi untuk merangsang
pertumbuhan akar pada perbanyakan vegetatif (cangkok dan stek) (Lestari et al.,
2014).
Tujuan
Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam pembiakan vegetatif
tanaman dengan menggunakan metode stek pucuk dan batang.

BAHAN DAN METODE


Bahan dan Alat
-

Stek batang beberapa jenis tanaman (begonia, asoka, dracena, sirih,


singkong, bougenville, koleus, pucuk merah, kristal, dan puring) dan stek
pucuk (begonia, asoka, kembang sepatu, koleus, pucuk merah, kristal,
sawo, dan eksora)
Polibag 15 cm
Media : tanah, dan pupuk kandang
Gunting stek
Rooton F
Bakterisida/fungisida

Cara Pelaksanaan
-

Amati stek meliputi : warna, diameter stek


Aduk media tanah dan pupuk kandang
Isi polibag dengan media tersebut (tinggi media dalam polibag sekitar 2-3
cm dari bagian atas polibag)
Siram media sampai rata dengan air yang ditambahkan fungisida dan
bakterisida dengan konsentrasi 1g/l
Siapkan stek tanaman, celupkan pangkal stek dalam pasta Rooton F, lalu
tanam dalam polibag sedalam 2-3 cm
Padatkan media tanam
Tempatkan polibag dibawah naungan plastik
Amati jumlah stek yang tumbuh dan pertumbuhan stek seperti waktu
muncul tunas baru, jumlah tunas, jumlah daun dari tunas baru, tinggi tunas
dll
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tabel rata-rata hasil pengamatan perbanyakan dengan stek pucuk dan stek
batang keras pada berbagai jenis tanaman ulangan ke tan. tunas Tinggi daun Waktu
Komoditas
hidup
Tunas
muncul
tunas
Sawo
Rata-rata
24%
0.16
0.13
0.22
0.06
St. Dev
24%
0.47
0.36
0.75
0.16
Sirih
Rata-rata
25%
0.19
0.53
0.15
0.04
St. Dev
25%
0.44
1.81
0.48
0.14
Coleus
Rata-rata
45%
0.72
3.18
3.39
0.12
St. Dev
34%
0.96
3.99
4.33
0.28
Exora
Rata-rata
29%
0.10
0.18
0.61
0.03

Puring
Asoka
Singkong
Bougenville
Dracaena
Begonia
Kristal
Kembang sepatu

St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev
Rata-rata
St. Dev

33%
52%
36%
37%
35%
34%
38%
38%
30%
29%
33%
39%
36%
21%
29%
17%
21%

0.31
0.55
0.85
0.36
0.77
0.95
1.34
0.76
1.09
0.05
0.20
0.57
1.01
0.20
0.43
0
1

0.56
0.92
1.73
0.34
0.95
3.50
6.92
0.69
1.60
0.05
0.21
0.94
1.69
0.24
0.57
0
1

1.74
1.37
2.73
0.91
2.10
1.92
3.67
1.12
2.18
0.00
0.00
1.33
2.34
1.09
2.38
0
1

0.09
0.12
0.26
0.06
0.18
0.10
0.17
0.10
0.19
0.01
0.04
0.08
0.20
0.04
0.14
0
0

Pembahasan
Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara perbanyakan
atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman
seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar, untuk
menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Perbanyakan
tanaman secara vegetatif tersebut tanpa melalui perkawinan atau tidak
menggunakan biji dari tanaman induk. Prinsipnya adalah merangsang tunas
adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman
sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus.
Hasil pengamatan menunjukkan secara keseluruhan tanaman yang
diperbanyak menggunakan stek batang dan stek pucuk mengalami penurunan
jumlah tanaman hidup pada minggu kesebelas setelah tanam. Kebanyakan dari
tanaman yang mati dikarenakan kekurangan air, hal ini terlihat dari seluruh bagian
tanaman mengalami kondisi layu dan kekeringan. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kondisi tanaman yang diperbanyak dengan cara stek yaitu, suhu,
kondisi media, kelembaban, hama penyakit, umur bahan stek dan pemberian zat
pengatur tumbuh (ZPT).
Pengamatan lainnya dilakukan terhadap jumlah tunas, tinggi tunas dan
jumlah daun pada setiap tanaman. Rata-rata jumlah tunas seluruh tanaman sekitar
satu tunas selama sebelas minggu, hal ini diakibatkan banyaknya tanaman yang
mengalami kematian pada awal-awal minggu penanaman, begitu pula dengan
tinggi tunas dan jumlah daun, mengalami penurunan hingga minggu terakhir.
Zat pengatur tumbuh Rootone-F termasuk dalam kelompok auksin. Secara
teknis Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar
sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat
mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah dan
secara ekonomis penggunaan Rootone-F dapat menghemat tenaga, waktu, dan
biaya. Cara pemberian hormon pada stek batang dapat dilakukan dengan cara
pemberian dengan perendaman, pencelupan dan tepung. Untuk metode

perendaman, konsentrasi zat pengatur tumbuh bervariasi antara 20 ppm sampai


200 ppm tergantung kemampuan jenis tersebut berakar. Dalam mengaplikasikan
hormon perlu diperhatikan ketepatan dosis, karena jika dosis terlalu tinggi akan
menghambat pertumbuhan tanaman dan menyebabkan keracunan pada seluruh
jaringan tanaman.
KESIMPULAN
Pembiakan tanaman merupakan metode perbanyakan tanaman
menggunakan salah satu bagian tanaman tersebut, diantaranya batang dan pucuk.
Tanaman yang diperbanyak dengan stek batang dan pucuk akan mengalami
keragaman yang sama dengan induknya. Hasil pengamatan menunjukkan
banyaknya tanaman yang mati diakibatkan oleh cekaman kekeringan sehingga
tanaman mengalami kondisi layu yang berkepanjangan dan kemudian mati. Zat
pengatur tumbuh yang digunakan adalah Rootone-F yang termasuk golongan
auksin. Dalam penggunaannya dosis yang dianjurkan harus sangat diperhatikan
karena apabila berlebihan dapat menghambat pertumbuhan tanaman itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Lestari. P. W. A., M. R. Defiani, I. A. Astarini. 2014. Produksi bibit kentang
(Solanum tuberosum L.) G1 dari stek batang. Jurnal Simbiosis 2(2):215225.