Anda di halaman 1dari 13

EVAPORASI

A. PENDAHULUAN
Penguapan dapat didefinisikan sebagai suatu operasi dimana suatu fluida berubah dari
keadaan cairan menjadi keadaan uap. Penguapan dapat dipakai untuk tujuan pemisahan
pelarut (solven) dari larutan yang lebih pekat. Selanjutnya larutan yang pekat ini biasanya
dikerjakan untuk kristalisasi. Contoh dari proses penguapan adalah pemekatan larutan-larutan
natrium hidroksida, natrium chlorida, gliserol dan perekat (lem). Perpindahan panas dan
perpindahan massa adalah dua proses dasar yang terjadi dalam penguapan atau evaporasi.
Selama penguapan pada campuran (larutan) harus diberikan panas untuk menyediakan tenaga
yang diperlukan. Cairan volatile berubah menjadi uap dan uap ini harus dipisahkan.
Panas dapat diberikan secara terbuka yaitu cairan dikenakan dengan langsung pada sumber
panas misalnya evaporasi dengan menggunakan cahaya matahari. Panas dapat juga diberikan
secara tidak langsung dengan menghantarkannya melewati suatu media penahan yang sesuai.
Suatu contoh ialah evaporasi dengan kukus sebagai sumber panas, dimana kukus (steam)
dialirkan melewati sisi dalam pipa-pipa yang tercelup dalam campuran atau larutan yang
diuapkan.
Keadaan yang dijumpai selama penguapan dapat bermacam-macam. Mungkin larutan yang
diuapkan lebih kental daripada air, sehingga sukar untuk mengalir; mungkin juga terjadi
pengendapan yang membentuk kerak pada bidang pemanas; mungkin terjadi pembentukkan
buih, kenaikkan titik didih yang tinggi, atau mungkin juga pesawat dapat termakan sebagai
akibat suhu yang tinggi. Dalam perancangan pesawat proses factor-faktor ini perlu
diperhatikan.
B. MACAM-MACAM ALAT PENGUAP
Banyak jenis pesawat penguap yang digunakan dalam operasi penguapan. Pesawat penguap
dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Pesawat yang langsung dipanaskan dengan api.
2. Pesawat dengan media pemanas dalam suatu jaket.
3. Pesawat yang dipanaskan dengan kukus melalui bidang pemanas pipa-pipa
a. Pipa horisontal dan kukus pemanas dalam pipa (Gambar 4-14).
b. Pipa vertikal
1) Bentuk standar (Gambar 4-15)
2) Bentuk keranjang (basket) (Gambar 4-16).
3) Bentuk sirkulasi terpaksa ( Gambar 4-17 dan Gambar 4-18).

C. PERPINDAHAN MASSA DALAM EVAPORATOR


Proses evaporasi terjadi perpindahan massa, di mana massa zat yang masuk ke dalam
evaporator sama dengan massa zat yang keluar dari vaporator. Neraca bahannya dapat
digambarkan dengan diagram alir sebagai berikut:
Uap, Vapour (V)
Umpan, Feed (F) Larutan pekat, Saturated Solution (L)

Neraca Bahan Total: F = V + L .........(1)


Neraca Bahan Penyusun:
Neraca terlarut: xF.F = xL.L .................................(2)
Neraca pelarut: (1-xF).F = V + (1-xL).L ......(3)
D. PERPINDAHAN PANAS DALAM EVAPORATOR
Konsep koefisien perpindahan panas keseluruhan dipakai dalam perlakuan perpindahan panas
dalam pesawat penguap. Persamaan umum seperti dinyatakan dalam bab perperindahan
panas dapat digunakan yaitu :
q = U . A . t .............................(7)
Dalam persamaan tersebut, q menyatakan kecepatan perpindahan panas melewati bidang
pemanas dalam satuan kalori per jam, U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan
dalam satuan kalori/jam.m2.oC, dan A ialah luas perpindahan panas dalam satuan m2.
Sedangkan t adalah beda suhu standar dalam oC.
E. BEDA SUHU STANDAR
Beda suhu standar dalam persamaan perpindahan kalor menyatakan selisih antara suhu kukus
yang mengembun dalam kamar sorong kukus (steam chest) dan suhu cairan mendidih dalam
badan pesawat penguap. Tekanan kukus yang mengembun dalam kamar sorong kukus dapat

ditentukan dengan mudah, dengan menggunakan daftar kukus (steam table).


Karena pengaruh julang cairan, suhu dari cairan yang mendidih tidak konstan di seluruh
badan zat cair. Sebagai contoh, suhu didih 60 cm di bawah permukaan luar zat cair, haruslah
lebih tinggi daripada suhu didih pada permukaan luar karena kenaikan tekanan yang
disebabkan karena julang zat cair setinggi 60 cm. Maka, perlu memilih dasar standar untuk
menentukan suhu cairan mendidih dalam badan evaporator.
Ketentuan yang lazim untuk cairan mendidih dalam pesawat evaporator adalah suhu larutan
mendidih pada tekanan ruang uap, atau dengan kata lain, suhu larutan mendidih pada
permukaan zat cair. Dengan definisi ini, beda suhu standar t menjadi beda suhu antara suhu
kukus yang mengembun dalam kamar sorong kukus dan suhu larutan mendidih pada
perbatasan zat cair-uap dalam pesawat evaporator

1. Beda Suhu Semu


Tekanan uap di atas zat cair dalam pesawat evaporator dapat ditentukan secara tepat dan teliti.
Dengan menggunakan daftar kukus dapatlah diperoleh suhu uap. Suhu ini di definisikan
sebagai suhu semu uap jenuh yang meninggalkan campuran.
Beda suhu antara suhu kukus dengan suhu semu uap jenuh yang meninggalkan campuran
yang diuapkan dinamakan beda suhu semu, t.
Beda suhu semu dapat digunakan untuk menghitung koefisien keseluruhan semu.
Sebenarnya harga semu ini hanya suatu pendekatan, karena didasarkan pada anggapan bahwa
cairan adalah air murni. Karena zat cair dalam pesawat penguap bukan air murni, maka suhu
zat cair tidak tepat sama dengan suhu pada daftar kukus jenuh yang yang didasarkan pada
tekanan dalam ruang uap. Pengaruh ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam bagian berikut.
2. Kenaikan Titik Didih Karena Adanya Solut dalam Larutan
Zat cair murni atau pelarut murni mempunyai tekanan uap tertentu pada suatu suhu tertentu.
Bila sesuatu zat dilarutkan dalam suatu zat cair murni, maka tekanan uap pelarut di atas
larutan akan lebih rendah dari pada tekanan uap pelarut murni pada suhu yang sama. Ini dapat
dibayangkan dengan menganggap bahwa molekul-molekul materi yang terlarut disebarkan
secara rata ke seluruh pelarut. Maka tidak semua luas permukaan larutan dapat dipakai untuk
perpindahan molekul-molekul pelarut dari keadaan cairan ke keadaan uap. Kemudian, dalam
bentuk yang paling sederhana hal ini berarti tekanan uap pelarut lebih rendah dari pada bila

pelarut berada dalam keadaan murni.


Suatu larutan mendidih bila tekanan uapnya sama dengan tekanan luar. Maka, suatu larutan
yang mengandung materi non volatil haruslah dipanaskan sampai di atas titik didih pelarut
murni sebelum pendidihan dapat terjadi. Kenaikan titik didih karena materi dalam larutan
didefinisikan sebagai suhu permukaan larutan yang sebenarnya minus suhu pelarut murni bila
pelarut mempunyai tekanan uap yang sama seperti tekanan uap larutan.
Sebagai contoh kenaikan titik didih karena solut (materi yang terlarut) dalam larutan, ditinjau
larutan natrium hidroksida dalam air tiga puluh persen berat pada suhu permukaan 800C,
dimana tekanan uap air di atas larutan sama dengan 347 mmHg. Suhu pada daftar kukus dari
air yang sesuai dengan tekanan 347 mmHg (3,718 psi) adalah 66oC (1500F) . Maka bila suhu
pelarut murni 66oC , akan mempunyai uap yang secara eksak sama seperti larutan 30 persen
berat pada 80oC. Dari definisi kenaikan titik didih (K.T.D.) maka kenaikan titik didih karena
absolut dalam larutan, untuk hal ini adalah 80oC-66oC atau 140C.
Sekarang coba anda tentuka kenaikan titik didih larutan karena pengaruh solut berupa larutan
NaOH 40%massa yang mendidih pada suhu 100oC di mana tekanan uap di atas larutan
adalah 490 mmHg.
3. Kaidah Duhring
Suatu hukum empiris yang penting adalah kaidah Duhring. Kaidah ini yang sangat berguna
untuk menentukan kenaikkan titik didih karena adanya solut dalam larutan, mengatakan
bahwa grafik titik didih larutan yang berkonsentrasi konstan melawan titik didih pelarut
murni, dimana pelarut murni dan larutan tadi mempunyai tekanan uap yang sama besar,
merupakan garis lurus. Air sering digunakan sebagai pelarut. Gambar 4-19 menyatakan suatu
Kaidah Duhring untuk larutan natrium hidroksida dalam air.
Contoh:
Tentukan titik didih larutan NaOH 40% massa, bila pada tekanan uap yang sama air mendidih
pad suhu 180oF.
Penyelesaian:
Gunakan garis Duhring pada larutan NaOH 40% massa, hubungkan dengan titik didih air
180oF. Titik potong kedua garis kemudian ditarik garis horisontal ke kiri, dan didapatkan
suhu 232oF

C. Hukum Raoult
Untuk jenis-jenis larutan zat cair tertentu , Hukum Rault dapat digunakan untuk menentukan
kenaikan titik didih karena adanya solut dalam larutan. Hukum Raoult mengatakan bahwa
tekanan uap parsil suatu komponen dalam larutan sama dengan raksi mol komponen tersebut
dikalikan dengan tekanan uapnya dalam keadaan murni pada suhu yang sama. Sehingga :
pa = xa . Pao (8)
pb = xb . Pbo (9)
pa + pb = P (10)
dimana
pa, pa = tekanan uap parsil yang dimiliki komponen a atau b
pada keadaan setimbang dalam larutan.
Pao, Pbo = tekanan uap yang dimiliki komponen a atau b dalam
keadaan murni pada keadaan setimbang pada suhu
yang sama seperti suhu larutan
xa, xb = fraksi mol komponen a atau b dalam larutan.
P = tekanan uap larutan
Catatan: untuk larutan zat padat (non volatil) dalam zat cair, maka pa dapat diabaikan (pa
0), sehingga tekanan uap larutan sama dengan tekanan uap parsial pelarutnya:
P = pb
pb Pbo
Penurunan tekanan uapnya dapat dinyatakan sebagai berikut:
P = Pbo - pb
= Pbo xb.Pbo
= (1 xb).Pbo
= xa.Pbo
Hukum Raoult hanya berlaku untuk larutan ideal di mana penyusun-penyusunnya

mempunyai sifat-sifat kimia yang serupa dan di mana molekul-molekul penyusunnya tidak
saling mempengaruhi (tarik menarik) satu terhadap yang lain. Suatu larutan natrium
hidroksida dalam air tidak akan mengikuti hukum Raoult, karena natrium hidroksida teruai
menjadi ion-ion natrium (Na+) dan ion-ion hidoksil (OH-) segera setelah ia terlarut dalam air.
Sebaliknya larutan gliserol dalam air akan mengikuti hukum Raoult secara wajar; disebabkan
karena gliserol di dalam air tidak mengalami ionisasi, serta pengaruh timbal balik yang kecil
dan karena kedua materi tersebut mempunai sifat-sifat kimia yang tidak jauh berbeda.
Kenaikkan titik didih karena solut dalam larutan dapat ditentukan dengan menggunakan
hukum Raoult bila hukum ini dapat dipakai untuk komponen-komponen larutan.

D. Kenaikan Titik Didih Karena Julang Hidrostatis


Dalam kebanyakan jenis evaporator, sumber panas (yaitu kukus dalam pipa) tercelup di
bawah permukaan zat cair yan diuapkan. Larutan pada sisi luar pipapipa kukus berada pada
tekanan yang lebih tinggi daripada larutan pada permukaan zat cair disebabkan oleh karena
adanya julang zat air. Bila pendidihan terjadi pada pipa-pipa kukus sisi luar, suhu zat cair
pada tempat yang bertekanan lebih tinggi, haruslah lebih tinggi daripada suhu zat cair pada
permukaan.
Kenaikan titik didih karena julang hidrostatik dapat didefinisikan sebagai beda suhu zat cair
pada sumber panas dan suhu zat cair pada permukaan. Bila kerapatan rata-rata dan
konsentrasi larutan zat cair diketahui, dapatlah ditentukan kenaikan titik didih karena julang
hidrostatik untuk sesuatu julang zat cair dan tekanan ruang uap yang diketahui.
Untuk kebanyakan jenis-jenis evaporator, tidaklah mungkin untuk menetukan julang rata-rata
yang teliti. Misalnya dengan evaporator pipa tegak sirkulasi terpaksa, julang total berubahubah sepanjang evaporator. Selain itu juga, zat cair yang masuk evaporator lewat dasar tidak
pada titik didihnya. Oleh karenanya peristiwa pendidihan tidak terjadi pada seluruh bagian
evaporator.
Adanya kenaikkan titik didih karena julang hidrostatik biasanya mempunyai pengaruh yang
kecil pada perhitungan perpindahan panas keseluruhan. Tetapi adanya julang ini haruslah
dikenal. Oleh karena dalam penentuan julang dan kenaikan titik didih yang besangkutan
dijumpai kesukaran-kesukaran, maka dalam perhitungan evaporator telah dijadikan standar
praktis untuk mengabaikan pengaruh julang hidrostatik. Koefisien keseluruhan dan kecepatan
perpindahan panas dihitung dengan menganggap bahwa suhu cairan mendidih pada suhu
perbatasan antara zat cair dan fase uap.
Koefisien tersebut seringkali dinamakan koefisien keseluruhan sebenarnya. Koefisien ini

didapat dengan menganggap bahwa suhu cairan mendidih adalah suhu cairan pada
pertengahan antara puncak dan dasar. Pemakaian koefisien keseluruhan sebenarnya dan
koefisien keseluruhan semu mengakibatkan kekacauan. Yang pertama memerlukan kerja
perhitungan tambahan tanpa memperoleh ketelitian yang berarti, sedangkan yang terakhir
biasanya hanya satu pendekatan yang kasar. Sekarang umumnya telah diterima, pemakaian
koefisien keseluruhan standar, didasarkan pada beda suhu antara suhu kukus dalam kamar
sorong kukus dan suhu cairan mendidih pada bidang permukaan batas cairanuap dalam
badan evaporator.
F. KOEFISIEN KESELURUHAN STANDAR.
Persamaan kecepatan perpindahan panas, seperti yang ditunjukan oleh pesamaan (4-1) dapat
digunakan untuk menghitung koefisien keseluruhan standar. Dalam hal ini, t disebut beda
suhu standar dan sama dengan beda suhu semu minus kenaikan titih didih karena solut
dalam larutan. Sebagai suatu contoh dipandang suatu evaporator yang menghasilkan larutan
tiga puluh persen berat natrium hidroksida dalam air, bila tekanan dalam ruang uap
evaporator adalah 192 mmHg dan tekanan dalam kamar sorong kukus 1290 mmHg. Suhu
pada daftar kukus untuk uap air jenuh yang mempunyai ekanan 192 mmHg adalah 66oC
(150oF) dan suhu kukus jenuh pada 1290 mmHg (25 psia) adalah 116oC (240o F). Dalam
contoh ini, beda suhu semu adalah 116oC 66o C = 50o C. Harga delta t ini digunakan untuk
menghitung koefisien keseluruhan semu. Tetapi seperti diperlihatkan dalam bagian pada
kenaikkan titik didih karena solut daam larutan, kenaikan titik didih sebenanya karena solut
dalam larutan adalah 14o C untuk hal ini. Maka, suhu zat cair pada bidang permukaan batas
zat cair - uap adalah 66 plus 14 sama dengan 80o C, dan beda suhu standar ialah 116 minus
66 minus 14 atau 116-80 = 360. Harga delta t ini digunakan untuk menghitung koefisien
keseluruhan standar.

G. PENENTUAN LUAS MUKA PERINDAHAN PANAS


Dalam perhitungan evaporator seringkali perlu memerkirakan luas muka perpindahan panas
yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan operasi penguapan. Dalam perhitungan ini koefisien
keseluruhan standar biasanya diketahui atau dapat diperkirakan dari pengalaman. Beda suhu
standar dapat dihitung dari tekanan kukus, tekanan operasi ruan uap, dan konsentrasi
campuran yang sedang diuapkan. Kemudian persamaan q = U A t dapat digunakan untuk
menghitung luas muka perpindahan panas bila harga q diketahui.

Kecepatan perpindahan panas dala evaporator kontiny yang beroperasi pada keadaan tetap
terutama sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu: (1) jumlah panas sensibel yang diperlukan
untuk memanaskan umpan dari suhu masuk sampai suhu didih, dan (2) jumlah panas laten
yang dierkukan untuk menguapkan air. Jmlah panas sensibel dapat dihitung dari kapasitas
panas larutan masuk dan beda antara suhu didih dalam evaporator dan suhu umpan masuk.
Untuk umpan yan berupa larutan garam anorganik dalam air dengan konsentrasi sampai kirakira 25 pesen berat apasitas panas dapat dianggap sama dengan yan dimiliki oleh air murni.
Kapasitas panas air ialah 1 kal/goC, maka kapasitas panas larutan natrium hidroksida dalam
air yang mengandung 10 persen natrim hidroksida haruslah sama dengan 0,9 kalori/(g) (Co).
Panas laten penguapan dapat dipandang sebagai panas yang diperlukan untuk menguapkan
satu gram air pada suhu permukaan larutan. Untuk larutan natrium hidroksida 30 % berat
dengan tekanan uap 192 mmHg suhu permukaan zat cair adalah 79o C. Maka, panas
penguapannya yang dapat digunakan adalah panas penguapan air pada suhu 79oC (/75o F),
atau 551,8 kalori/gram (993,3 Btu/ib). Panas penguapan air pada berbagai suhu dapat
diperole pada daftar kukus.
Perlu dijelaskan bahwa cara perhitungan seperti ditunjukkan dalam bagian di muka telah
diabaikan panas hilang dari sisi luar evaporator karena radiasi. Panas pelarutan dan panas
pengenceran juga diabaikan.

H. ANGGAPAN-ANGGAPAN DALAM PERHITUNGAN EVAPORATOR.


Dalam perhitungan-perhitungan evaporator, umumnya diadakan anggapan-anggapan tertentu
supaya pekerjaan menjadi lebih sderhana. Beberapa pengandaian yang penting dapat
diikhtisarkan sebagai berikut :
a. Beda suhu standar t didasarkan suhu cairan mendidih pada bidang batas permukaan cairanuap dalam evaporator.
b. Panas yang diperlukan untuk menguapkan satu gram pelarut diambil sebagai panas laten
penguapan pada suhu permukaan larutan.
c. Untuk umpan garam anorganik dalam air, kapasitas panas dapat dianggap sama seperti
pada air yang murni.
d. Pengaruh kenaikan titik didih yang disebabkan karena julang hidrostatik umumnya dapat
diabaikan.
e. Perhitungan kenaikan titik didih untuk evaporator yang bekerja secara kontinyu didasarkan
pada konsentrasi cairan yang keluar meninggalkan evaporator.
f. Panas sensible yang diperlukan untuk memanaskan umpan sampai titik didihnya dapat

diperkirakan dengan menganggap bahwa kapasitas panas umpan mencapai suhu didih
larutan.

I. NERACA BAHAN DAN NERACA PANAS.


Gambar 4-20 memperlihatkan diagram evaporator yang disederhanakan, dimana bidang
pemanas dinyatakan dengan lambang kumparan saja. Misalkan bahwa umpan masuk
evaporator dengan kapasitas (kecepatan) F kg per jam, dan mengandung zat padat dengan
fraksi massa xF. Entalpi umpan adalah hF kilokalori per kilogram. Zat hasil yang
meninggalkan evaporator berupa cairan pekat sebanyak L kg per jam dan mengandung solut
dengan fraksi massa xL dan mempunyai entalpi sebesar hL kilokalori per kilogram.
Disamping itu dihasilkan pula V kg per jam uap yang mempunyai konsentrasi solut y dan
entalpi H kilokalori per kilogram. Umumnya di dalam uap tidak terdapat solut, sehingga y
sama dengan nol. Persamaan neraca bahan total dan neraca bahan solut disekeliling
evaporator telah disampaikan di muka, yaitu:
F=L+V
dan
F. xF = L .xL + V . y
Pada evaporator yang beroperasi, berlaku pula prinsip kekekalan energi, di mana jumlah
energi (kalor) yang masuk ke dalam evaporator sama dengan jumlah energi (kalor) yang
keluar dari evaporator
Kalor Uap, qV
Kalor Umpan, qF Kalor larutan pekat, qL
Kalor kukus pemanas, Kalor embun kukus,
Steam (qS) Kondensat (qC)
Berdasarkan diagram alirnya, maka dapat dibuat persamaan neraca energinya yaitu: (panas
dalam umpan) + (panas dalam kukus) = (panas dalam cairan pekat) + (panas dalam uap) +
(panas dalam kondensat) + (panas hilang karena radiasi).Dengan mengabaikan panas hilang
karena radiasi, persamaan neraca panas , dapat ditulis
qF + qS = qV + qL + qC ..............(4)

Karena kalor yang diperlukan berasal dari selisih antara kalor kukus dengan kalor kondensat,
maka persamaan tersebut dapat diubah menjadi:
qS - qC = qV + qL - qF ...............(5)
Jadi rumus perpindahan panasnya adalah:
q = qS - qC = qV + qL - qF ...(6)
Untuk penguapan diperlukan panas, yang diberikan oleh kukus sebanyak S kilogram per jam
pada bidang pemanas dengan entalpi Hs kilokalori per kilogram, dan yang keluar dari bidang
pemanas berupa kondensat sebanyak S kilogram per jam dengan entalpi sama dengan hc
kilokalori per kilogram. Biasanya dianggap bahwa kondensat keluar pada suhu pengembunan
kukus, karena hanya mengalami penurunan suhu yang sangat kecil.
F. hF + S . Hs = V . H + L . hL + S . hc (4-5)
q = S(HS hC) = V.H + L.hL F.hF ..(7)
J. BEBERAPA FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM OPERASI
EVAPORATOR
Operasi tepat guna suatu evaporator memerlukan tingkat ketrampilan yang tinggi dan
pengetahuan yang lebih baik tentang pesawat. Operator yang berpengalaman dengan segera
dapat menentukan sebab-sebab adanya gangguan dalam operasi evaporator, bila ia faham
akan dasar-dasar penguapan. Faktor-faktor penting dalam operasi evaporator antara lain
adalah :
1. Faktor pembentukan kerak (deposit) selama pemekatan larutan dalam evaporator.
Selama proses itu berlangsung, sering kali zat padat mengendap di sekitar bidang pemanas
dan membentuk kerak. Adanya kerak menyebabkan terjadinya kenaikan tahanan terhadap
perpindahan panas dan akibatnya ialah bahwa kapasitas evaporator turun, bila beda suhu gaya
dorong tetap. Supaya kapasitas evaporator tetap, diperlukan inpput panas yan lebih tnggi.
Pembentukan kerak semacam ini tidak dapat dicegah, dan terjadi dalam semua jenis
evaporator ; tetapi kecepatan pembentukannya dapat diperlambat. Pembentukan kerak
berlangsung bila larutan yang diuapkan mengandung solut (zat terlarut) yang mempunyai
daya larut terbalik. Dengan Daya larut terbalik dimaksud penurunan kelarutan bila suhu
larutan dinaikkan. Untuk solut yang demikian, daya larutnya paling kecil di sekitar bidang

pemanas dimana suhunya paling tinggi. Maka suatu zat padat akan mengkristal dan keluar
dari larutan di sekitar bidnag pemanas dan membentuk kerak pada permukaan tersebut.
Zat-zat pembentuk kerak yang paling terkenal adalah kalsium sulfat, kalsium hidroksida,
natrium karbonat, natrium sulfat dan garam-garam kalsium dari asam asam organik tertentu.
Walaupun tidak mungkin untuk mencegah pembentukan kerak bila terdapat bahan-bahan
pembentuk kerak, kecepatan pembentukan dapat diperlambat dengan menggunakan
kecepatan yang tinggi lewatbidang pemanas.
Hubungan antara koefisien keseluruhan dengan waktu dimana evaporator telah beroperasi
dapat diperlihatkan oleh persamaan garis lurus sebagai berikut :
+ b (4-6)
dimana a dan b adalah tetapan-tetapan untuk sesuatu operasi tertentu dan U adalah koefisien
perpindahan panas keseluruhan pada sesuatu waktu sejak permulaan operasi. Suatu jenis
grafik pembentukan kerak 1/U2 melawan dinyatakan pada gambar 4- 21. Persamaan 4-6
dapat dipakai untuk menentukan lama waktu yang optimum suatu operasi harus beroperasi
antara pencucian-pencucian agar supaya memberi kapsitas keseluruhan yang maksimum.
Kerak dapat dibersihkan dengan alat semacam korok atau dengan pemberian bahan kimia
misalnya HCl encer 0,5 persen plus pemanasan.
2. Percikan dan pembentukan buih.
Karena kecepatan penguapan di dalam evaporator itu cukup tinggi maka kemungkinan
adanya butiran-butiran cairan yang terbawa oleh uap sehingga dalam uap terdapat butiranbutiran cairan. Peristiwa demikian disebut percikan atau entrainment. Untuk mengatasinya
maka di dalam evaporator bagian atas sering dipasang penangkap butiran cairan (baffle).
Butiran cairan yang mengenai baffle akan dipisahkan dan jatuh sebagai kondensat kembali
dalam cairan. Gambar 4-22.
Untuk mencegah terjadinya luapan, maka ditanggulangi dengan memperluas ruangan uap di
atas cairan.
Peristiwa lain yang sering dikacaukan dengan peristiwa entrainment di atas adalah
pembentukan buih yaitu pembentukan gelembung-gelembung pada permukaan cairan. Sebabsebab terjadinya buih ini sampai kini belum diketahui dengan pasti. Tetapi yang jelas
pembentukan buih tergantung antara lain adanya zat-zat padat yang lembut atau adanya
bahan-bahan koloid yang akan menambah kestabilan lapisan di permukaan.
Banyak macam cara telah dipakai untuk mengatasi timbulnya buih, antara lain adalah :
1. Pembentukan larutan diusahakan sedemikian sehingga sedikit berada di bawah bidang
pemanas, maksudnya agar gelembung-gelembung uap yang terlepas dari cairan itu akan

pecah jika kena bidang pemanas.


2. Buih kadang-kadang dapat dipecahkan dengan menggunakan pencaran kukus (steam jet)
langsung pada permukaan buih sehingga buihnya hilang.
3. Suatu baffle pelat dipasang di atas permukaan zat cair yang akan memecah gelembunggelembung dan mengurangi buih.
4. Dengan penambahan bahan-bahan kimia misalnya minyak jarak, minyak biji kapok, atau
minyak nabati lain. Tetapi pada pengguanaan bahan-bahan kimia harus diperhatikan adanya
pengaruh-pengaruh samping misalnya tidak boleh bereaksi dengan bahan yang diuapkan.
K. PENGARUH CARA-CARA OPERASI PADA
KOEFISIEN KESELURUHAN.
Suatu keuntungan pada evaporator sirkulasi terpaksa ialah bahwa koefisien keseluruhan dapat
ditingkatkan dengan mempertinggi kecepatan cairan melewati pipa-pipa pada evaporator.
Tetapi keuntungan mendapat kecepatan perpindahan panas harus diimbangi oleh ongkos
ekstra yan melawan, yaitu kebutuhan tenaga untuk mendorong cairan yang melewati pipapipa pada kecepatan yang lebih tinggi, untuk itu diperlukan pompa.
Kecepatan perpindahan panas dalam evaporator jenis keranjang dipengaruhi oleh tinggi
permukaan larutan atau kedalaman cairan dalam pesawat. Jika permukaan cairan ini jauh
dibawah bidang pemanas, maka sebagian besar luas muka bidan pemanas berada dalam fase
uap. Dengan demikian kecepatan perpindahan panas berkurang, karena uap memberikan
tahanan perpindahan panas yang tinggi. Sebaliknya bila permukaan zat cair terlalu tinggi ,
kecepatan perpindahan panas akan berkurang. Maka perlu dicari tinggi permukaan yan
optimum sehingga kecepatan perpindahan panasnya maksimal.

L. PENGGUNAAN DIAGRAM ENTALPI - KONSENTRASI


Telah diketahui bahwa kenaikan titik didih merupakan suatu indeks termodinamika yang
dapat digunakan untuk mengetahui perubahan sifat-sifat termodinamika misalnya harga panas
jenis dan panas laten penguapan sesuatu larutan. Semakin tinggi kenaikan titik didih maka
semakin jauh penyimpangannya, yaitu semakin jauh sifat-sifatnya dari sifat-sifat air, dan
masalahnya menjadi lebih kompleks. Untuk mengatasi hal ini dapat digunakan diagram
entalpi larutan melawan komposisi yang memperlihatkan entalpi suatu larutan tertentu pada
berbagai konsentrasi dan berbagai suhu. Diagram semacam ini terlihat dalam Gambar 4-23.
Harga numerik entalpi yang terdapat pada diagram entalpikonsentrasi untuk sistem dua

komponen tergantung pada keadaan dasar yang dipilih untuk kedua komponen, meskipun
beda entalpi antara dua keadaan tidak tergantung keadaan dasar yang dipilih. Dalam hal
dimana air merupakan salah satu komponen, baik sekali memilih keadaan dasar untuk air
sebagai air cair pada 00 C sehinggga daftar kukus dapat digunakan besama-sama dengan
diagram entalpi konsentrasi. Untuk larutan natrium hidroksida beberapa keadaan dasar dapat
dipilih. Salah satu yang tepat yang telah digunakan untuk Gambar 4-23 adalah larutan dengan
keenceran tidak terhingga pada suhu 20oC.