Anda di halaman 1dari 35

RANGKUMAN STRATIGRAFI ANALISIS :

STRATIGRAFI:
Cabang ilmu geologi yang khusus membahas tentang pemerian dan klasifikasi suatu tubuh
batuan terutama batuan sedimen serta korelasinya dengan tubuh batuan yang lain.
MAKSUD :
Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara
vertikal maupun secara lateral.
Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.

TUJUAN :
Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta
perkembangannya dalam:
-ruang : Paleogeografi
-waktu : sejarah geologi.
Asas stratigrafi :
uniformitarianism
horizontality
superposisi
cross cutting relationship
principle of faunal succession
Stratigrafi analisis meliputi:
penerapan prinsip stratigrafi untuk analisa cekungan, yaiu:
studi facies
sequen stratigrafi
sedimentary tectonic
basin evalution
case studi.
North American Stratigraphic Code:
dibedakan berdasar content, sifat, dan ciri fisik:
lithostratigraphic
lithodemic
magnetostratigraphic
biostratigraphic
pedostratigraphic
allostratigraphic
dibedakan berdasar umur:

geologic time
chronostratigraphic
geochronologic
diachronic
geochronometric
polarity chronologic
polarity chronostratigraphic
Pelacakan lateral Lateral :
-transverse outcrop mapping
-profil lintasan (sayatan, peta geologi)
-pemetaan kompas dan langkah jadi pelacakan lateral untuk tempat yang sempit yang
memiliki singkapan yang penting.
Vertikal:
-measured section (MS)
-transverse mapping
-structural section
-drawing local column
FACIES :
Aspek fisik, kimia, biologi, dari kenampakan tubuh batuan sedimen dalam suatu kesamaan
waktu.
Bidang kesamaan waktu dicerminkan oleh bidang perlapisan.
Bidang perlapisan ditunjukkan oleh:
- perbedaan ukuram butir
- perbedaan komposisi mineral
- perbedaan tekstur dan struktur
Bidang perlapisan terjadi karena loncatan energi pengendapan.
Jika melakukan sampling sebaiknya diambil pada bidang perlapisannya.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN :
Bagian dari permukaan bumi yang secara fisik, kimia, biologi dapat dipisahkan dari bagian
yang lain.
FACIES PENGENDAPAN :
Suatu massa batuan sedimen yang dapat disendirikan dan dipisahkan dari massa batuan lain
atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan kandungan fosilnya.
Penggunaan istilah lain Facies:
Pengertian secara observasional yang tepat terhadap produk batuan.
Misal: Sandstone facies, limestone facies, marl facies.
Pengertian lingkungan.
Misal : fluvial facies, shallow marine facies.

Pengertian pembentukan batuan secara genetik.


Misal : turbidite facies, contourite facies.
Tecnofacies.
Misal : post orogenic facies, mollase facies.
Interpretasi lingkungan pengendapan harus menggunakan beberapa kenampakan :
-struktur sedimen.
-analisa ukuran butir
-fosil (body maupun trace fosil)
-vertical sequence untuk hubungan lateral
-geometri, penyebaran, dan litologi
NON DEPOSITIONAL HIATUS:
Suatu selang waktu dimana tidak ada pengendapan.
SETTLING VELOCITY :
-Dalam energi arus tertentu hanya akan didapatkan satu macam ukuran butir berdasarkan
stream capacity.
-Ukuran butir menunjukkan tingkat abrasi---mengarah pada media transportasi.
-Ukuran butir mengarah pada energi pengendapan--- ukuran butir besar maka energi
pengendapannya besar.
-Komposisi mineral mengarah pada provenance--- mengarah pada tectonic sedimentasi.
Geometri facies sedimenter ditentukan oleh:
-Predepositional topography
geomorfologi dari lingkungan pengendapan, misalnya fan---delta, deep marine.
-Post depositional history
sedimen yang diendapkan menjadi obyek dari beberapa proses (diagenesa, kontinuitas
deposisi, deformasi tektonik, erosi).
-Suatu geometri tertentu dapat dihasilkan dari beberapa lingkungan yang berbeda, misalnya
channel---fluvial, deltaic, tidal, submarine. Fan---alluvial, deltaic, deep marine.
-Geometri ditentukan atas dasar facies mapping (surface: MS, subsurface:seimic, well).
-Geometri perlu diketahui untuk paleoslope, facies trend.
SIKLISITAS SEDIMENTASI :
-Autocyclic---faktor penentunya adalah faktor intern, misalnya channel migration, bar
migration.contoh: pada meander
-Allocyclic---faktor penentunya adalah faktor ekstern, misalnya perubahan iklim,
perubahan eustacy, tektonik.contoh: pada delta
DIAGENESA:
-kompaksi
-desilasi---keluarnya air dari pori
-sementasi---adanya aliran fluida dari tempat lain yang dapat menyebabkan adanya
penyemenan

-rekristalisasi
AMALGAMASI:
-Penumpukan dari waktu ke waktu pada facies yang sama.
-Penumpukan sesuatu yang selalu lengkap kemungkinan besar adalah Allocyclic.
-Autociclyc dapat terjadi tanpa adanya perubahan sea level, yaitu pada perubahan gradien
karena arus sungai yang memotong.
SORTING IMAGES:
-sangat baik <0,35
-baik 0,35-0,5
-buruk 0,5-1
-sangat buruk >2
Makin pendek distribusi frekuensi suatu ukuran butir maka makin baik sortasinya.
Mineralogy maturity:
-quarzt banyak---mature
-feldspar :
caisic felds---anortit (Ca)
Felsic felds---albit (Na)
Pothas felds---K felds
Teknik Sedimentasi :
-Quartz sandstone---stabil
-Arkose---stabil ada fault
-Graywacke---tidak stabil
-Sub graywacke---tidak stabil
Batugamping---stabil, terjadi jika tidak ada influk sedimen yang kuat dari darat.
STRUKTUR SEDIMEN:
-Primer---inorganik dan organik (trace fosil)
-Sekunder---diagenetic strukur
-Struktur sedimen merupakan pencerminan proses yang terjadi pada lingkungan
pengendapan, jarang ada struktur sedimen yang secara khas mencerminkan suatu lingkungan.
Urutan struktur sedimen baru bersifat diagnostik.
HK. STOKES :
-Energi tertentu menghasilkan butiran yang tertentu.
-Fosil dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan jika:
-Insitu. Fosil yang reworked biasanya ada isian dan oksida besinya.
-Fosil planktik dan bentik dipisahkan dengan cara diberi larutan yang berat, maka fosil bentik
akan tenggelam.
ENERGI LEVEL:

-Flow condn ---open fabrik dan closed fabirk.


-Angularity---policyclicity.
Yang harus dilakukan untuk menjelaskan hubungan dalam model stratigrafi:
1.cari data sebanyak-banyaknya
2.tentukan data-data mana yang sama
3.jika model tersebut ternyata dapat dipakai, maka model tersebut dapat digunakan dalam
perubahan-perubahan, bail secara vertikal maupun lateral.
BED:
-unit stratigrafi yang terkecil, batasnya adalah I cm dan identik dengan genetik unit.
-Satu genetik unit tidak terbatas pada ketebalannya.
-Pada suatu perlapisan jika:
*bagian atas yang hilang--- truncated facies
*bagian bawah yang hilang---base cut out facies
*keduanya yang hilang --- kombinasi base cut out dan truncated facies.
*Dengan mengetahui hal di atas maka dapat diketahui apakah pengendapannya proximal
(dekat) atau distal (jauh), dan juga dapat ditunjukkan kemenerusan prosesnya.
MODEL :
Suatu usaha untuk membuat fakta-fakta yang tidak lengkap menjadi lengkap.
FACIES MODEL :
Urutan-urutan yang ideal dari komponen-komponen facies (terutana litologi dan struktur
sedimen) yang menunjukkan keaslian lingkungannya.
STREAM CAPACITY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran yang ditekankan pada jumlahnya
pada setiap unit waktu.
STREAM COMPETENCY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran dengan ukuran tertentu
tergantung pada kepatannya.
GUNA FACIES MODEL :
-sebagai norma
-sebagai kerangka dasar untuk observasi berikutnya
-dipakai sebagai prediktor
-sebagai basis untuk menjelaskan interpretasi hidrodinamika
FLYSCH:
Struktur sedimen yang merupakan perulangan dari kasar-halus-kasar-halus-kasar dan
seterusnya.
Faktor pengontrol sedimentasi :

-subsidence
-eustacy
-sedimen suplay
-climate
PROGRADASI : Garis pantai bergeser ke arah laut.
SEDIMEN ACCOMODATION:
-Ruangan yang tersedia untuk sedimen untuk dapat terakumulasi.
-Di dalam equilibrium profile semua sedimen dalam keadaan bypassing atau bergerak.
-Jika equilibrium profile berada di bawah profile sungai maka akan terjadi erosi.
-Jika equilibrium profile di atas profile sungai maka akan terjadi pengendapan.
WATER DEPTH:
kedalaman antara permukaan laut dengan muka sedimen.
COMPACTION :
-Adanya perubahan dasar karena sedimen termampatkan hingga seakan-akan ada sea level
rise (?subsidence).
-Subsidence karena kompaksi termasuk autocyclic.
-Kemungkinan akomodasi:
D, E, S konstan progradasi---regresi
D >, E, S konstan --- progradasi---regresi
D >, E konstan, S < ---constan shore line
D >, E >, S konstan--- constan shore line
D <, E, S, konstan--- trangresi
D >, E >>, S konstan--- trangresi
D konstan, E konstan, S << --- starved basin
Yang dapat terjadi pada coastal plane adalah lagoon, delta plain, beach.

FLUVIAL INCISION:
-Proses pemotongan profil.
-Relative sea level rise tidak akan merubah equilibrium.
-Relative sea level drop dapat merubah equilibrium.
-faktor-faktor yang mempengaruhi equilibrium profil:
-tektonik
-relative sea level drop
-discharge stream >>>---erosi, <<< --- deposisi
-sedimen load <<< --- erosi, >>> --- deposisi
-Proses fluvial incision akan menghasilkan incised valley.
-Pada saat penurunan air laut besarnya erosi akan sangat tergantung dari sudut kemiringan
equilibrium profile dan sudut kemiringan subsurface.

-Beda allocyclic karena tektonik dengan karena relative sea level drop:
-Tektonikfluvial incision akan menipis ke arah base level
-RSL drop--- fluvial incision akan menebal ke arah base level
COASTAL PLAIN :
dataran dimana coastal sedimen akan mengendap.
influk sedimen > relative sea level rise --- agradasi fluvial.
EQUILIBRIUM POINT:
titik sepanjang suatu profil pengendapan dimana kecepatan perubahan eustacy sama dengan
kecepatan subsidence/uplift.
RELATIVE SEA LEVEL RISE:
Kenaikan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
RELATIVE SEA LEVEL DROP:
-Penurunan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
-Perubahan facies yang secara genetically dicirikan oleh sdsnys struktur yang gradasional
berarti tidak ada perubahan lingkungan pengendapan, contoh : de;ta fluvial berhubungan
dengan mud marine meskipun ada bidang erosi.
-Mud dan shale ada hubungan secara genetik.
-Batugamping dan breksi tidak ada hubungan secara genetik.
ISOCHRONOUS : kesamaan waktu.
SEQUENCE :
suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik
berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan
itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya
pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level change).
Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen
berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
-membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
-terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
-mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
-selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
-batasc sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.
AGRADASIONAL :
stacking pattern dimana parasequence yang progresif lebih muda sudah diedapkan satu di atas
yag lainnya tanpa adanya pergeseran lateral yang berarti apakah ke arah daratan atau ke arah
cekungan. Stacking pattern ini terjadi apabila kecepatan accomodation kira-kira sama dengan
kecepatan pengendapan.

BACKSTEPPING :
adalah stacking pattern dimana setiap parasequence yang progresif lebih muda sudah
diendapkan lebih jauh ke arah daratan. Walaupun parasequence individu ini prograde dan
mendangkal ke arah atas, tetapi suatu backsteeping stacking pattern secara menyeluruh lebih
dalam ke arah atas. Backsteeping stacking pattern terjadi apabila kecepatan accomodasi lebih
besar daripada kecepatan pengendapan. Istilah retrogradasional biasa digunakan sebagai
pengganti backsteeping, namun retrogradasional menunjukkan :
mundurnya garis pantai akibat erosi.
progradasional ke arah daratan.
Karena itu retrogradasional tidak sama dengan backsteeping.
SYSTEM TRACT :
terdiri dari seluruh sistem-sistem yang sama umurnya yang terjadi berdekatan satu sama lain,
dan diendapkan selama suatu segmen sea level curve yang tertentu.
Didefinisikanberdasarkan :
parasequence dan parasequence set stacking patterns.
stratal geometry dari bidang-bidang batasnya.
posisinya di dalam suatu sequence.

Macam system tract :


a. LOWSTAND SYSTEM TRACT (LST) :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada type I depositional sequence. LST dibatasi
pada base-nya oleh type I sequence boundary dan pada top-nya oleh transgressive surface.
Dalam suatu cekungan yang dicirikan oleh suatu shelf break, lowstand syatem tract ini bisa
terdiri dari tiga unit, yaitu : basin-floor fan, slope fan, lowstand prograding wedge. Pada suatu
daerah yang miring dimana kemiringan lerengnya rendah, maka suatu lowstand prograding
yangrelatif tipis akan menyusun keseluruhan lowstand system tract. LST diendapkan selama
penurunan suatu permukn laut relatif pada awal suatu kenaikan permukaan laut relatif.
Basin -floor fan :
konotasi sequence stratigrafi : adalah bagian awal dari LST yang dicirikan oleh pengendapan
submarine-fan yang kaya akan pasir di dasar cekungan atau dekat base dari lereng bawah.
Basin-floor fan diendapkan selama penurunan permukaan laut relatif yang berkaitan dengan
erosi dan valley incision (penorehan lembah) di laut dangkal dan tidak mempunyai endapan
yang kronostratigrafisnya sama di laut dangkal itu. Base dari Basin-floor fan adalah type I
sequence boundary, dan top-nya adalah suatu bidang dimana lapisan atasnya downlap. Basinfloor fan dicirikan pada penampang seismik oleh suatu bentuk mound yang downlap kedua
arah, dan pada well log oleh blocky pattern-nya yang terletak langsung di atas sequence
boundary.
Konotasi fisiografis : adalah suatu system pengendapan submarine fan yang relatif kecil
tetapi kaya akan pasir pada atau dekat suatu dasar slope. Di suatu tepi kontinen yang tidak

teratur, basin-floor fan biasanya terbatas pada daerah sekitar intraslope basins atau pada
mulut submarine canyons. Sedimen yangkaya akan pasir ini dierosi dari endapan-endapan
non marine, laut dangkal, atau tepi laut dangkal selama fase awal suatu penurunan permukaan
laut relatif.
Slope Fan
Konotasi sequence : adalah suatu bagian dari LST yang dicirikan terutama oleh pengendapan
turbidit dan debries flow pada lereng/slope bawah dan dasar cekungan selama suatu
penurunan permukaan laut relatif. Slope fan menunjukkan downlap diatas basin-floor fan
atau sequence boundary, dan sebaliknya lowstand prograding wedgw mwnunjukkan downlap
ke atas slope fan. Slope fan dapat dikenali pada penampang seismik dengan adanya ciri
hummocky dan atau mounded yang dalam kasus idealnya menentukan channel-levee
complex dengan bentuk sayap burung. Cirinya pada well log biasanya berbentuk cressentic
(bulan sabit), walaupun satuan ini kelihatannya merupakan pasir-pasir yang sangat bervariasi
ketebalannya dalam suatu latar belakang mud yang bisa menghasilkan ciri log yang lain.
Konotasi fisiografis : Slope fan systm adalah lebih besar dan lebih luas penyebaranya
daripada basin-floor fan system, dan menunjukkan onlap diatas lower slope ketika
perkembangannya memotong basin floor . Fasies reservoir pada slope fan system yang
terutama adalah sandy turbidites apakah di dalam channel complexes atau jauh pada splay di
ujung channel.

Lowstand Prograding Wedge atau Lowstand Prograding Complex


Konotasi Sequence : bagian terakhir dari lowstand system tract yang dicirikan oleh
progradasional sampai agradasional parasequence yang menbentuk pembajian sedimen ke rah
basin yaitu pada shlefbreak, dan incised valley fill pada shelf dan slope atas. Lowstand
prograding wedgw dan incised valley fill diendapkan selama suatu penurunan terakhir
permukaan laut sampai awal kenaikan permukaan laut relatif.
Lowstand prograding wedgw terletak diatas slope fan system, kadang-kadang dengan suatu
condensed section sekunder yang berkembang baik pada top dari slope fan, dan ditutupi oleh
transgresive system tract. Lowstand prograding wedgw mwningkat dari endapan-endapan
fluvial, shoreline dan laut dangkalpada bagian atasnya sampai serpih hemipelagis dan dalam
kasus tertentu sampai shingled turbidites didekat tepi bagian bawahnya. Lowstand prograding
wedge dikenali pada penampang seismik dengan adanya agradasional offlap ke arah laut dari
shelfbreak dan pada well log dengan adanya coarsening upward pattern yang menunjukkan
pola pendangkalan ke atas.
Incised valley fill :
adalah endapan satu-satunya di dalam lowstand system tract yang terbentuk ke arah daratan
dari tepi shelf. Incised valley biasanya berassosiasi dengan Tipe I sequence boundary. Incised
valley utama dikenali pada penampang seismik dengan adanya sequence di bawahnya yang
menunjukkan erosional truncation dan adanya internal onlap, dimana incised valley berskala
kecil hanya bisa dikenali dengan adanya tempat-tempat seumur yang sedikit menebal. Ciriciri log dari endapan valley fill adalah bervariasi, tetapi bisa menunjukkan suatu coarsening

tiba-tiba diatas bidang erosi.


Konotasi fisiografis :
banyak dari suatu lowstand peograding wedge ini membentuk suatu prisma kearah laut dari
shelfbreak dari sequence di bawahnya.
b. TRANSGRESIVE SYSTEM TRACT :
adalah middle systen tract pada suatu sequence pengendapan yang ideal. TST ini dibatasi
pada baselinenya oleh trasngresive surface dan pada topnya oleh maximum flooding surface.
TST terdiri dari back steeping parasequences. Parasequences yang progresive lebih muda
menjadi lebih tipis dan menunjukkan fasies air yang lebih dalam. Endapan-endapan dari
system tract ini menyelimuti shelf, mengisi setiap topografi residual yang berassosiasi dengan
incised valley. Biasanya TST menunjukkan onlap diatas sequence boundary dalam suatu arah
menuju daratan dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan
laut. Hal itu dikenali pada well log dengan pola finning upward
c. HIGHSTAND SYSTEM TRACT :
terdiri dari strata yang lebih muda di dalam suatu depositional sequence dan biuasanya
tersebar luas pada daerah shelf. HST dibatasi pada baseline-nya oleh maximum flooding
surface dan pada topnya oleh suatu sequence boundary. Ke arah daratan dari shelfbreak, HST
ini meningkat agradasional parasequence menjadi progradasional parasequence, dengan
parasequences yang progresif lebih muda yang menunjukkan fasies air yang lebih dangkal,
sedagkan dalam basin, terutama terdiri dari suatu condensed section. HST menunjukkan
onlap ke sequence boundary dibawahnya dengan arah ke daratan, dan menunjukkan downlap
ke top dari TST dengan arah basin. HST juga dicirikan oleh oleh toplap dan erosional
truncation dibawah sequence boundary yang menutupinya. HST diendapkan selama akhir
suatu penaikan relatif muka laut sampai tahap awal penurunan relatif muka laut. Pada
penampang seismik, awal HST dicirikan terutama oleh progradasional offlap, sedangkan
akhir HST dicirikan oleh oblique offlap. Pada well log dicirikan adanya coarsening-upward
pattern.
d. SHELf MARGIN SYSTEM TRACT :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada suatu tipe I depositional sequence. SMST
meningkat dari progradasional parasequence menjadi agradasional parasequence yang makin
bertambah. Batas bawahnya adalah tipe II sequence boundary yang relatif selaras dengan
suatu unconformity yang terbentuk ke arah daratan dimana SMST-nya membaji, dan batas
atasnya adalah transgresive surface. Perlapisan SMST menunjukkan onlap ke sequence
boundary yang berarah ke basin. SMST diendapkan selama akhir suatu penurunan relatif
muka laut sampai suatu penaikan muka laut yang kecepatannya bertambah secara progresif.
Pada penampang seismik SMST dicirikan oleh agradasional offlap.
CONDENSED SECTION :
adalah fasies marine yang tipis, yang terdiri dari endapan-endapan pelagis sampao
hemipelagis, yang menunjukkan adanya sat kebutuhan akan sedimen detritus di dalam

cekungan pengendapan. Condensed section ini paling sering diendapkan di middle-outer


shlef, slope, dan basin floor di dalam transgresive system tract dan highstand systen tract
selama jangka waktu penaikan permukaan relatif dan transgresi garis pantai maksimum.
Biasanya, condebsed cestion ini dikenali dengan satu atau lebih ciri-ciri berikut :
Kumpulan mikrofosil plankton dan benton dalam jumlah melimpah dan bermacam-macam.
adanya zona burrowing tipis secara lateral tersebar kontinue.
bahan-bahan organik marin dan bentonis yang melimpah.
adanya konsentrasi mineral autogenik seperti gloukonit, fosfat dan siderit.
adanya pengembangan karbonat yang keras pada dasar section.
Condensed section sekunder diendapkan diatas basin-floor fan dan slope fan.
Interval stratigrafi tipis laut ditandai dengan tingkat pengendapan sangat lambat (<1-10 mm / th) (Vail
dkk., 1984).
Bagian kental sering terdiri dari sedimen hemipelagic dan pelagis, kekurangan bahan-bahan asli, dan
diendapkan pada tengah untuk rak luar, kemiringan, dan lantai cekungan selama periode kenaikan
maksimum relatif permukaan laut dan pelanggaran maksimum garis pantai. Karena tingkat
sedimentasi klastik yang kekurangan sedimen dari margin kontinental, sisa-sisa kerangka fauna
pelagis istimewa menumpuk untuk membentuk lapisan kental fauna. Lapisan-lapisan kental fauna
yang sering digunakan sebagai paleomarkers waktu. Contoh fauna pelagis kental digunakan dengan
cara ini termasuk graptolita, conodonts, goniatites, Amon dan foraminifera. Awalnya bagian kental
terlihat menumpuk di lereng yang lebih distal dan pengaturan basinal, tetapi sebagai garis pantai
backsteps darat selama kenaikan permukaan laut pelanggaran sehingga bagian kental mungkin
secara bertahap memperluas cakupan mereka untuk memasukkan tidak hanya lembah tapi semua
lereng dan bagian dari landas juga (TS Loutit, et al, 1988.).
Bagian Publikasi yang sering digunakan sebagai penanda selama analisis urutan stratigrafi. Hal ini
karena biasanya lapisan atas dari Saluran Sistem transgresif membentuk bagian kental yang
berhubungan dengan MFS mana ia ditindih oleh Saluran Sistem Highstand downlapping. Kadangkadang permukaan transgresif menandai dasar Saluran Sistem Trangressive segera ditindih oleh
bagian kental yang pada gilirannya dibatasi oleh MFS. Sinyal gamma tinggi di log juga sering
dikaitkan dengan bagian kental; unsur-unsur radioaktif yang menyebabkan sinyal ini telah diasingkan
oleh bahan organik (sering cyanobacteria dan fitoplankton) yang terakumulasi secara istimewa
sebagai masukan klastik dari margin cekungan menurun.
Dalam bagian kesimpulan kental dan urutan, fauna kental mereka pelagis dan sinar gamma tinggi
sinyal bentuk penanda waktu umum untuk analisis urutan stratigrafi dan disamakan dengan
permukaan banjir maksimum.
Referensi
Loutit, TS, Hardenbol, J., Vail, PR, Baum, GR, 1988, bagian Publikasi: kunci untuk usia kencan dan
korelasi urutan tepian benua In:. Wilgus, CK, Hastings, BS, Kendall, CGSt.C , Posamentier, HW,
Ross, CA, Van Wagoner, JC (Eds.), Laut Perubahan Level - Sebuah Pendekatan Terpadu, vol.. 42.
SEPM Khusus Publikasi, hlm 183-213.
Vail, PR, Hardenbol, J., Todd, RG, 1984, J urassic ketidakselarasan, chronostratigraphy dan laut
tingkat perubahan dari stratigrafi seismik dan biostratigrafi In:. Schlee, JS (ed.), ketidakselarasan
Antar dan Akumulasi Hidrokarbon, vol. 36. Amerika Asosiasi Ahli Geologi Perminyakan Memoir, hlm
129-144.

CONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dari perlapisan
yang lebih tua dimana tidak ada tanda erosi (subareal atau submarine) atau hiatus yang jelas.
CORRELATIVE CONFORMITY :
adalah suatu keselarasan yang kronostratigrafinya lateral ekuivalen dengan suatu
unconformity.
UNCONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dengan yang
lebih tua sepanjang mana ada tanda erosi atau nondeposisi yang menunjukkan suatu hioatus
yang jelas. Unconformity bisa dikenali dengan adanya terminasi (seperti onlap, toplap), yaitu
suatu gap dalam urutan biostratigrafi, atau suatu fasies disconformity. Periode erosi dan
nondeposisi terjadi pada setiap penurunan permukaan laut global, yang menghasilkan
interregional unconformities.
HIATUS :
adalah suatu break atau interupsi pada kontinuitas rekor geologi yang disbabkan oleh
nondeposisi, sediment bypassing, atau erosi. Bidang yang terbentuk selama suatu waktu ini
disebut sebagai bidag hiatus atau unconformitu.
BYPASSING :
adalah pengangkutan sedimen yang melalui daerah nondeposisi.
RAVINEMENT SURFACE :
adalah suatu bidang dari erosi submarine dangkal yang disebabkan oleh gaya gelombang
yang berassosiasi dengan penaikan permukaan laut. Butiran-butiran yang halus tersaring dan
butiran yang kasar akan tertinggal sebagai lag pada bidang erosi.
SEQUENCE BOUNDARY :
adalah unconformity dan conformitynya yang terjadi selama jangka waktu penurunan relatif
permukaan laut.
TYPE I SEQUENCE BOUNDARY :
yaitu suatu regional unconformity yang terbentuk ketika permukaan eustacy turun dengan
kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan basin, yang menyingkap shelf
ke erosi subareal. Biasanya permukaan laut turun sampai suatu titik di dekat shlefbreak atau
kearah laut dari shlefbreak.
TYPE II SEQUENCE BOUNDARY :
terbentuk ketika cekungan menurun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
kecepatan turunnya permukaan laut pada depositional shoreline break.

TOP BASIN-FLOOR FAN SURFACE :


adalah batas basin floor fan dibawahnya dengan slope fan dan lowstand prograding wedge
diatasnya. Slope fan dan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top basin
floor fan surface.
TOP SLOPE FAN SURFACE :
adalah batas antara slope fan dibawahnya dengan lowstand prograding wedge menunjukkan
downlap ke atas top slope fan surface. Top slope fan surface bisa menunjukkan downlap ke
atas basin -floor fan atau ke atas sequence boundary ke arah laut dan menunjukkan onlap ke
atas top dari depositional sequence ke arah daratan yang terletak di bawahnya.
MARINE FLOODING SURFACE :
adalah permukaan pada top parasequences yang biasanya dicirikan oleh suatu pendalaman
tiba-tiba ketika permukaan laut naik dengan cepat. Batas ini biasanya memisahkan facies air
dangkal atau facies nonmarine yang terletak di bawahnya dengan fasies air lebih dalam yang
terletak diatasnya.
TRANSGRESIVE SURFACE :
adalah flooding surface penting pertama yang terbentuk setelah jangka waktu regresi
maksimum pada top dari lowstand system tract. Dalam skala regional TS memisahkan
parasequence progradational atau agradational lowstand systrm tract yang terletak di
bawahnya dengan parasequence backsteeping transgresive system tract yang terletak
diatasnya. TS berassosiasi dengan suatu fasies discontinuity yang dicirikan oleh pendalaman
tiba-tiba yang meotong bidang batas. TS berupa erosi pada shlef yang reliefnya sampai
beberapa meter seperti pada ravinement surface, dan bisa juga berassosiasi dengan pbble lags
dan burrowing. Penggabungan TS dengan sequence boundary dalam suatu arah ke daratan
akan menghasilkan TST mengendap langsung diatas endapan-endapan HST yang terletak di
bawahnya.
Maximum flooding surface =
marine flooding surface yg tebentuk pd awaktu transgresi maksimum, MFS membentuk top
transgressive system trcts dan memisahkan backstepping para sequnces yg ada di bawahnya
dgn progradasional parasekuensis yg terletak di atasnya. Prograding klinoform dari HST yg
menutupinya menunjukkan down lap ke atas MFS, yg terjadi dianatara condensed section.
Sebuah permukaan deposisi pada saat itu adalah garis pantai ke arah darat pada posisi
maksimum (yakni waktu pelanggaran maksimum) (Posamentier & Allen, 1999)
Permukaan menandai kali banjir maksimum atau pelanggaran rak dan memisahkan
transgresif dan Highstand Saluran Sistem. Seismik, sering dinyatakan sebagai permukaan
downlap. Rak laut dan sedimen basinal terkait dengan permukaan ini adalah hasil dari
tingkat lambat pengendapan oleh pelagis-hemipelagic sedimen dan mereka biasanya tipis
dan berbutir halus. Sedimen ini halus membentuk bagian terkondensasi (Mitchum, 1977).

Sebuah MFS sering ditandai oleh adanya serpih kaya radioaktif dan sering organik,
glaukonit dan hardgrounds. Ada yang biasa luas konsentrasi tempat tidur tipis fauna (bagian
kental) dengan kelimpahan tinggi dan keanekaragaman. Sebuah MFS sering dapat bagian
hanya dari siklus sedimen yang kaya akan fauna. Seringkali dalam arah darat permukaan
banjir maksimum mungkin cocok dengan permukaan trangressive mendasari terbentuk
selama atau setelah fase transgresif inital yang segera mengikuti lowstands permukaan laut.
Dalam hal ini Glossifungites liang mungkin terjadi dalam permukaan ini. Para MFS tidak
umum membenamkan atau bosan. Setiap menggali atau membosankan yang mungkin
terhubung ke permukaan transgresif sebelumnya sebelum memperdalam air dan kondisi
menjadi bertentangan untuk pengawetan kolonisasi tapi nikmat.
Para MFS sering menandai permukaan berlari antara pengkasaran dan / atau denda siklus
ke atas dan digunakan untuk berhubungan ini siklus untuk memperdalam dan pendangkalan
di bagian geologi. Hal ini synomous dengan permukaan transgresif maksimum (HellandHansen dan Martinsen, 1996); permukaan transgresif akhir (Nummedal et al, 1993.) Di
bagian atas strata retrogradational, downlapped oleh strata highstand regresif normal
(Catuneanu, 2006).

Depositional Shoreline break =


fisiografik break pd shelf ke arah daratan dimana dasar laut berada pd atau dekat base level
dgn sedikit atau tanpa pengendapan, dan ke arah laut dimana sedimentasi terjadi.
Shelf break =
fisiografi break pd shelf yg ditandai oleh suatu perubahan pd slope dri shelf landai bersudut
kecil ke arah daratan dari shelf break samnpai slope curam yg bersudut lebih besar ke arah
laut dari shelf break. Kedalamnya <50 m - >500 m.
Bayline =
titik yg memisahkan sedimentasi fluvial dgn sedimentasi paralis atau delta plain, bisa terdapat
pd shoreline atau ke arah darat dari shoreline.
?Sequence : suatu urutan perlapisan batuan yang relatif selaras dan mempunyai hubungan
secara genetis, dibatasi oleh ketidakselarasan atau keselarasannya yang sebanding.
?Batas sequence : suatu bidang yang membatasi suatu sikuen pengendapan, biasanya berupa
ketidakselarasan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan
muda dengan lapisan batuan yang lebih tua, dimana diji\umpai bukti erosi dengan indikasi
suatu hiatus yang berarti.
?System tracks : urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras dan mempunyai umur yang
sama, yang menyusun suatu sikuen pengendapan, terdiri atas parasequence dan parasequence
set.
?Parasequence : urutan relatif selaras dari lapisan batuan yang saling berhubungan secara
genetis, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya.

?Parasequence set : urutan relatif selaras dari parasequence yang berhubungan secara genetis
membentuk stacking pattern yang jelas, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan
korelatifnya
?Marine flooding surface : suatu permukaan yang memisahkan lapisan yang muda dari
lapisan yang lebih tua, dan memperlihatkan bukti adanya penambahan kedalaman air
secara tiba2.
?Stacking pattern : ragam gambaran parasequence dan parasequence set yang progresive
lebih muda berlapis satu diatas yang lainnya.
?Hiatus : suatu break atau interupsi pada kontinuitas record geologi yang disebabkan oleh
non deposisi, sediment bypassing atau erosi. Bidang yang terbentuk selama kurun waktu ini
disebut sebagai bidang hiatus atau unconformity.
?Depositional shore break : posisi pada shelf dimana ke arah daratan permukaan
pengendapan berada pada/dekat denga base level, dan ke arah lautan permukaan
pengendapan berada dibawah base level.
?Parasequence set retrogradasional : transgresi : V pasokan sedimen < pembentukan
accomodation space : garis pantai bergerak ke arah daratan
?Parasequence set progradasional : regresi : V pasokan sedimen > pembentukan
accomodation space : garis pantai bergerak ke arah cekungan
?Parasequence set agradasional : stationery shoreline (tetap) : V pasokan sedimen =
pembentukan accomodation space : garis pantai tetap
?Analisa stratigraf : struktur sedimen, analisa ukuran butir, fosil, vertical sequence lateral
relationship, geometri distribution of lithology

Hidrokarbon (minyak dan gas) terdapat di dalam batuan sediment yang terbentuk dalam berbagai
lingkungan pengendapan seperti channel sungai, sistem delta, kipas bawah laut (submarine fan),
carbonate mound, dan reef. Batuan sedimen yang terbentuk pada berbagai lingkungan pengendapan
tersebut dikenal dengan benda geologi.

Gelombang seismik yang menembus dan terefleksikan kembali ke permukaan akan memberikan
gambaran bentuk eksternal dan tekstur internal dari benda-benda geologi tersebut. Analisis bentuk
eksternal dan tekstur internal benda geologi dari penampang rekaman seismik dikenal dengan analisa
fasies seismik atau seismic facies analysis.

Terdapat 8 jenis bentuk eksternal benda geologi: sheet, sheet drape, wedge, bank, lens, mound, fan
dan fill.

Batas Sekuen Seismik


Didalam analisis fasies seismik, batas dari benda-benda geologi diatas disebut dengan reflection
terminations. Pemetaan reflection terminations merupakan kunci didalam analisis fasies seismik.
Umumnya terminasi tesebut memiliki karakter refleksi yang kuat (amplitudo refleksi yang cukup
dominan). Terdapat dua jenis batas benda geologi: batas atas dan batas bawah, selanjutnya istilah
batas benda geologi tersebut dikenal dengan batas sekuen seismik (sequence seismic boundary),
mereka itu adalah: erosional truncation dan top lap sebagai batas atas, onlap dan downlap sebagai

batas bawah.

Batas atas sekuen seismik (a) erosional truncation, top lap, batas bawah (b) onlap dan downlap.
Erosional Truncation atau dikenal dengan unconformity (ketidakselaraasan) diakibatkan oleh
peristiwa erosi karena terekspos ke permukaan.
Toplap diakibatkan karena tidak adanya peristiwa sedimentasi dan tidak ada peristiwa erosi.
Pemutusan strata terhadap permukaan atasnya terutama sebagai akibat dari nondposition (sedimen
melewati) dengan erosi mungkin hanya kecil.

Referensi
Mitchum Jr, RM, 1977. Stratigrafi seismik dan perubahan global permukaan laut. Bagian 11: daftar
istilah yang digunakan dalam stratigrafi seismik. In: Payton, CE (ed.), stratigrafi seismik - Aplikasi
untuk Eksplorasi Hidrokarbon, vol. 26. AAPG Memoir, hlm 205-212.
Onlap, pada lingkungan shelf (shelfal environment) disebabkan karena kenaikan muka air laut relatif,
pada lingkungan laut dalam akibat sedimentasi yang perlahan, dan pada channel yang tererosi akibat
low energy fill.

Suatu relasi basis-sumbang di


mana strata awalnya cenderung menghentikan downdip terhadap permukaan
awalnya horizontal atau miring. (Mitchum, AAPG Memoir 26)
Downlap, diakibatkan oleh sedimentasi yang cukup intensif.

Prinsip tekstur seismik


Sebagimana yang disebutkan diawal analisis fasies seismik meliputi pembahasan tesktur internal

benda geologi.
Parallel: disebabkan oleh pengendapan sedimen dengan rate yang seragam (uniform rate), atau
pada paparan (shelf) dengan subsiden yang uniform atau sedimentasi pada stable basin plain.
Subparallel: terbentuk pada zona pengisian, atau pada situasi yang terganggu oleh arus laut.
Subparallel between parallel: terbentuk pada lingkungan tektonik yang stabil, atau mungkin
fluvial plain dengan endapan berbutir sedang.
Wavy parallel: terbentuk akibat lipatan kompresi dari lapisan parallel diatas permukaan
detachment atau diapir atau sheet drape dengan endapan berbutir halus.

Divergent: terbentuk akibat permukaan yang miring secara progresif selama proses sedimentasi.
Chaotic: pengendapan dengan energi tinggi (mounding, cut and fill channel) atau deformasi seteah
proses sedimentasi (sesar, gerakan overpressure shale, dll.)
Reflection free: batuan beku, kubah garam, interior reef tunggal.
Local chaotic: slump (biasanya laut dalam) yang diakibatkan oleh gempabumi atau ketidakstabilan
gravitasi, pengendapan terjadi dengan cepat.

Tekstur yang terprogradasi

Sigmoid: tekstur ini dapat terbentuk dengan suplai sediment yang cukup, kenaikan muka laut relatif
cepat, rejim pengendapan energi rendah, seperti slope, umumnya sediment butir halus.
Oblique tangential: suplai sediment yang cukup sampai besar, muka laut yang konstan seperti delta,
sediment butir kasar pada delta plain, channel dan bars.
Oblique parallel: oblique tangensial varian, sediment terpilah lebih baik.
Complex: lidah delta dengan energi tinggi dengan slope terprogradasi dalam energi rendah.
Shingled: terbentuk pada zona dangkal dengan energi rendah.
Hummocky: struktur tulang ikan terbentuk pada daerah dangkal tipikal antar delta dengan energi
sedang.
Tekstur Pengisian Channel

Onlap Fill: sedimentasi pada

channel dengan energi relative rendah.


Mounded Onlap Fill: sedimentasi dengan energi tinggi. Setidaknya terdapat dua tahap sedimentasi.
Divergent Fill: shale prone yang terkompaksi dengan sedimenatsi energi rendah, juga sebagai tipikal
tahap akhir dari pengisisan graben.
Prograded Fill: transport sediment dari ujung atau pada lengkungan channel.
Chaotic Fill: sedimenatsi pada channel dengan energi yang sangat tinggi.
Complex Fill: terdapat perubahan arah sedimentasi atau perubahan aliran air.

Tekstur Karbonat

Reflection free Mound: patch reef


atau pinnacle reef; strata menunjukkan sedimen miring yang lebih terkompaksi (mungkin shale).
Pinnacle with Velocity Pull-Up: patch reef atau pinnacle reef, dengan pertumbuhan beberapa tahap
(multi stage), mungkin cukup poros.
Bank-Edge with Velocity Sag: Shelf edge reef dengan porositas yang sangat bagus, sediment
penutupnya mungkin carbonate prone.

Bank-Edge Prograding Slope: shelf edge reef yang bertumpuk, tertutup oleh klastik, mengalami
perubahan suplai sediment.

Tekstur Mounded

Fan Complex: penampang lateral


dari kipas (fan) yang dekat dengan sumber sediment
Volcanic Mound: margin konvergen pada tahap awal; pusat aktivitas rifting pada rift basin
Compound Fan Complex: superposisi dari berbagai kipas.
Migrating wave: diakibatkan oleh arus laut, laut dalam.

Tipe-tipe fasis seismik basin slope dan basin floor

Sheet-drape (low energy): seragam, pengendapan laut dalam yang tidak tergantung pada relief dasar
laut, litologi seragam, tidak ada pasir.
Slope Front Fill: kipas laut dalam, lempung dan silts (energi rendah)
Onlap-Fill (low energy): pengendapan dengan kontrol gravitasi (arus turbidit kecepatan rendah)
Fan-Complex (high energy): diendapkan sebagai kipas, mound dan slump, meskipun energi tinggi,
mungkin masih mengandung batupasir sebagai reservoar .
Contourite (variable energy): biasanya sedimen butir halus, tidak menarik unutk eksplortasi, bentuk
tidak simetris, arus tak berarah.
Mounded Onlap-Fill (High Energy): fasies peralihan antara chaotic dan onlap fill, control gravitasi,
reflector tidak menerus, semakin menebal kearah topografi rendah yang menandakan endapan energi
tinggi.
Chaotic Fill (variable energy): mounded, terdapat pada topografi rendah, slump, creep dan turbidit
energi tinggi, komposisi material tergantung pada sumber biasanya sedikit pasir.

SEKUEN STRATIGRAFI

Sikuen stratigrafi adalah studi stratigrafi yang berhubungan dengan kerangka waktu
pengendapan dalam kaitannya perubahan siklus muka laut (global/regional).

Pembagian Orde Sikuen Stratigrafi


Setiap sikuen pengendapan terdiri dari perulangan perlapisan yang dibatasi oleh permukaan
erosi (UC) atau hiatus atau permukaan yang selaras (C) (Van Wagoner et.al., 1987). Sikuen
dibatasi secara regional oleh ketidakselarasan (UC) atau permukaan keselarasan (C)
(Mitchum et.al., 1977). Elemen penting dalam menentukan pola-pola sikuen stratigrafi adalah
shelf/slope break.

Assosiasi Seismik Fasies (Mitchum et al., 1977)

Sequence Boundary (SB) merupakan batas atas dan bawah satuan sikuen stratigrafi adalah
bidang ketidak selarasan atau bidang-bidang keselarasan padanannya (Sandi Stratigrafi
Indonesia, 1996).
Bidang ketidakselarasan merupakan bidang erosi, pada umumnya terjadi di atas muka laut
(sub-aerial), ditandai oleh rumpang waktu geologi. Bidang keselarasan padanan adalah
bidang kelanjutan dari bidang ketidakselarasan kearah susunan lapisan batuan yang selaras
(Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Bidang ketidakselarasan atau bidang erosi batas satuan sikuen stratigrafi disebabkan oleh
proses penurunan relatif muka air laut, yang disebabkan oleh banyak hal diantaranya gerak
muka muka laut global, sedimentasi maupun tektonik (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Dalam rekaman batuan sikuen pengendapan dapat dibedakan menjadi dua yaitu sikuen tipe 1
dan sikuen tipe 2. Sikuen tipe 1 tersusun oleh tersusun oleh sedimen yang diendapakann saat
relatif muka air laut mulai turun. sikuen 1 dibatasi oleh batas sikuen tipe 1di bagian bawah
dan di bagian atas oleh batas sikuen 1 atau batas sikuen 2. Sikuen tipe 2 tersusun oleh
sedimen yang diendapkan selama siklus muka laut relatif naik perlahan-lahan atau tetap.
Sikuen tipe 2 dibatasi oleh batas sikuen tipe 1 di bawah dan di bagian atas oleh batas sikuen 1
atau batas sikuen 2.
Batas sikuen 1 ditandai oleh perolehan fluvial dan peremajaan aliran, shelf sedimentary
bypass, pergeseran fasies dan coastal onlap kearah cekungan. Batas cekungan tersebut
terbentuk ketika kecepatan eustasi lebih besar dari kecepatan subsiden pada depositional
shoreline break, sehingga menghasilkan muka laut relatif turun.
Batas sikuen 2 ditandai oleh pergeseran coastal onlap ke arah cekungan dan erosi subaerial
yang meluas, tatapi tanpa peremajaan aliran dan pergeseran fasies kearah cekungan. Batas
sekuen ini terbentuk ketika kecepatan eustasi lebih kecil dari kecepatan subsiden pada
depositional shoreline break, tetapi tanpa perubahan muka laut relatif turun pada posisi
tersebut.
Siklus transgresi regresi yang terbentuk di antara dua periode muka laut turun akan
menghasilkan satu sikuen pengendapan. Sikuen pengendapan tersebut dibatasi oleh
ketidakselarasan dan keselarasan yang sebanding. Pembentukan sikuen pengendapan sering
diselingi oleh pembentukan maximum flooding surface (MFS). Batas sikuen dan MSF
merupakan permukaan kunci yang dapat dikenali dalam well logs, coring, singkapan dan
penampang seismik.
Maximum flooding surface teridentifikasi oleh adanya maximum landward onlap dari
lapiasan marine pada batas basin dan mencerminkan kenaikan maksimum secara relatif dari
sea level (Armentout, 1991).

Diagram Sikuen Stratigrafi (Tanpa Terganggu Oleh Adanya Struktur Sekunder) (Vail et al,
1987)

Diagram Sikuen Stratigrafi pada Daerah yang Terpengaruh oleh Adanya Sesar
STRATIGRAPHIC ARCHITECTURE
Menurut Posamentier et al (1999), Stratigraphic Architecture dipengaruhi oleh:
1. Relative Sea level; yang berkaitan erat dengan Eustasy dan subsidence atau uplift.

2. Pasokan Sedimen; yang berkaitan dengan provenance dan lithology.


3. Fisiografi; yang dikontrol oleh tektonik dan proses sedimentasi.

Diagram Stratigraphic Architecture (Posamentier et al., 1999)


Eustasy adalah pergerakan permukaan air laut, diukur dari permukaan air laut sampai datum
tetap. Relative see lavel dipengaruhi oleh eustasy dan total subsidence dan uplift
(Posamentier et al., 1988).

Grafik Hubungan Perubahan Relative Sea Level dengan Eustasy dan Subsidence
(Posamentier, 1988)
PENGERTIAN STRATIGRAFI

Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan kejadian
(genesa) macam-macam batuan di alam dengan ruang dan waktu, sedangkan dalam arti
sempit ialah ilmu pemerian batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Pengolongan stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan menurut berbagai cara, untuk
mempermudah pemerian aturan dan hubungan batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok
bersistem tersebut di atas dikenal sebagai Satuan Stratigrafi (Sandi Startigrafi Indonesia,
1996).

Batas satuan stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri satuan tersebut
sebagaimana didefinisikan Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berhimpit dengan
batas satuan satuan stratigrafi jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain (Sandi
Startigrafi Indonesia, 1996).
Unit Stratigrafi terdiri dari 2 kategori (North American Stratigraphic Codes, 1983) yaitu:
A. Kategori yang berdasar atas kandungan Material (Content of starta) atau Batas-batas fisika
suatu perlapisan.
1.

Unit Litostratigrafi

2.

Unit Litodemik

3.

Unit Magnetopolariti

4.

Unit Biostratigrafi

5.

Unit Pedostratigrafi

6.

Unit Allostratigrafi

B. Kategori yang berhubungan dengan umur geologi


Kategori Matrial
1.

Unit Kronastratigrafi

2.

Unit Polariti-Kronostratigrafi

Kategori Non-Material
1.

Unit Geokronologi

2.

Unit Polariti-Geokronologi

3.

Unit Diakronik

4.

Unit Geokronometri
KORELASI UNIT STRATIGRAFI

Korelasi adalah sebuah bagian fundamental dari stratigrafi, dan lebih lagi merupakan usaha
dari stratigraphers dalam membuat unit stratigrafi yang formal yang mengarah pada

penemuan praktis dan metode yang dapat dipercaya untuk korelasi unit ini dari suatu area
dengan lainnya (Boggs, 1987).
Dalam korelasi stratigrafi, pemahaman kita tentang korelasi sangat dipengaruhi oleh prinsip
dasar, konsep baru dan peralatan analisa (analytical tools) sehingga bisa dihasilkan metode
baru dalam korelasi.
Definisi dan Prinsip Korelasi
Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan
stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).
Menurut North American Stratigrafi Code (1983) ada tiga macam prinsip dari korelasi:
1.

Lithokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama lithologi dan posisi stratigrafinya.

2.

Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi biostratigrafinya.

3.

Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi kronostratigrafi.

Korelasi dapat dipandang sebagai suatu yang langsung (direct)(formal) ataupun tidak
langsung (indirect) (informal) (B.R.Shaw,1982). Korelasi langsung adalah korelasi yang tidak
dapat dipungkiri secara fisik dan tegas. Pelacakan secara fisik dari kemenerusan unit
stratigrafi adalah hanya metode yang tepat untuk menunjukkan persesuaian dari sebuah unit
dalam suatu lokal dengan unit itu di lokal lain. Korelasi tidak langsung dapat menjadi tidak
dipungkiri oleh metode numerik seperti contoh pembandingan secara visual dari instrumen
well logs, rekaman pembalikan polaritas,atau kumpulan fosil; meskipun demikian, seperti
pembandingan mempunyai perbedaan derajat reabilitas dan tidak pernah secara keseluruhan
tegas (tidak meragukan).
Tabel Hubungan dari Korelasi Langsung, Korelasi Tidak Langsung dan Matching
Formal
Correlation

Matching

Indirect

Physical tracing of stratigraphic unit


Arbitary
Systematical
Monothetic
Polythetic
Visual
Statistical
comparisons Numeric
Equivalence Equivalence
Comparisons of nonstrtigraphic units

Lithokorelasi merupakan metode yang digunakan untuk korelasi strata (lapisan) dengan dasar
lithologi.
Pelacakan Kemenerusan Lateral dari Unit Litostratigrafi
Pelacakan kemenerusan secara langsung dari sebuah unit lithostratografi dari suatu local ke
local lain adalah satunya metode korelasi yang dapat menetapkan kesamaan dari sebuah unit
tanpa keraguan. Metode korelasi ini dapat digunakan hanya jika lapisan secara menerus atau
mendekati menerus tersingkap. Jika singkapan dari lapisan tersela oleh daerah yang luas yang
tertutup tanah dan vegetasi lebat, atau lapisan terhenti oleh erosi, atau dipotong lembah yang

besar, atau tersesarkan, penelusuran secara fisik pada lapisan menjadi tidak mungkin. Dalam
keadaan itu, teknik korelasi lainnya (tidak langsung) harus digunakan (Boggs, 1987).
Kesamaan Litologi dan Posisi Stratigrafi
Pelacakan lateral secara langsung dari unit startigrafi dapat menjadi tidak berhasil
diselesaikan dalam sebuah area yang sangat besar dikarenakan oleh ketidak menerusan
singkapan. Geologist bekerja pada suatu area harus mempercayai korelasi unit lithostratigrafi
dengan metode yang meliputi matching lapisan dari suatu area ke lainya dengan dasar
kesamaan lithologi dan posisi stratigrafi (Boggs, 1987).
Persamaan litologi dapat tidak dipungkiri atas dasar suatu macam properties batuan. Meliputi
gross lithology (batupasir,serpih, atau batugamping, sebagi contoh), warna, kelompok mineral
berat atau kelompok mineral khusus, struktur sedimen utama seperti perlapisan dan laminasi
silang-siur, dan ketebalan rata-rata, dan karakteristik pelapukan. Lebih banyak macam
properties yang dapat dipakai untuk menetapakan sebuah kesuaian antar strata maka semakin
kuat kemungkinan menuju sebuah kesesuaian yang benar (Boggs, 1987).
Penyesuaian lapisan dengan dasar lithologi merupakan tidak sebuah garansi atas kebenaran
dari korelasi. Lapisan dengan karakteristik litologi yang sangat sama dapat terbentuk dalam
lingkungan pengendapan yang sama dengan luas dipisahkan dalam waktu (time) atau tempat
(space) (Boggs, 1987).
Selain atas dasar kesamaan litologi, Individual formasi dapat dikorelasikan juga oleh posisi
dalam sikuennya (Boggs, 1987).
Korelasi Dengan Instrumen Well Logs
Log adalah suatu terminologi yang secara original mengacu pada hubungan nilai dengan
kedalaman, yang diambil dari pengamatan kembali (mudlog). Sekarang itu diambil sebagai
suatu pernyataan untuk semua pengukuran kedalam lubang sumur (Mastoadji, 2007).
Secara prinsip pengunaan dari well logs adalah untuk:
1. Penentuan lithologi
2. Korelasi stratigrafi
3. Evaluasi fluida dalam formasi
4. Penentuan porositas
5. Korelasi dengan data seismik
6. Lokasi dari faults and fractures
7. Penentuan dip dari strata
Syarat untuk dapat dilakukannya korelasi well logs antara lain adalah :

1. Deepest
2. Thickest
3. Sedikit gangguan struktur (unfaulted)
4. Minimal ada 2 data well log pada daerah pengamatan
Pada sikeun sand-shale yang tebal, itu mungkin menjadi petunjuk kecil dari bentuk kurva
untuk zona batuan untuk korelasi zona. Regional dip superimposed pada cross section sumur
akan membantu. Unit pasir yang individual mungkin akan tidak menerus sepanjang lintasan,
tetapi garis korelasi memberikan petunjuk tentang possible time sikuen stratigrafi (Crain,
2008).

Korelasi Batupasir
Sequence Boundary (SB) merupakan batas atas dan bawah satuan sikuen stratigrafi adalah
bidang ketidak selarasan atau bidang-bidang keselarasan padanannya (Sandi Stratigrafi
Indonesia, 1996).
Maximum flooding surface teridentifikasi oleh adanya maximum landward onlap dari
lapiasan marine pada batas basin dan mencerminkan kenaikan maksimum secara relatif dari
sea level (Armentout, 1991).

Gambar Kandidat Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MSF)
(Possamentier & Allen 1999)
Untuk sikeun stratigrafi, biasanya dipakai Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding
Surface (MSF) untuk korelasi. Hal ini dikarenakan pelamparan SB dan MSF yang luas.
Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MFS) ini menandakan suatu
proses perubahan muka air laut yang terjadi secara global. Sehingga Sequence Boundary (SB)
dan Maximum Flooding Surface (MFS) ini sering digunakan untuk korelasi antar sumur. Dari
data Well logs, adanya Sequence Boundary (SB) biasanya ditandai dengan adanya perubahan
secara tiba-tiba dari Coarsening Upward menjadi Fineing Upward atau sebalikknya.
Sedangkan Maximum Flooding Surface (MFS) dari data log ditunjukkan dari adanya
akumulasi shale yang banyak, dan MSF merupakan amplitude dari log yang daerah shale.

Gambar Stratigraphic correlation of CSDP well Yaxcopoil-1 and PEMEX wells of the
northern Yucatan Peninsula. Mesozoic are based on lithology, correlative fossil zones, and
electric-log characteristics. (modified from Ward et al. 1995).
Daftar Pustaka

Boggs, S. Jr. 1987. Principles of Sedimentary and Stratigraphy. Merril Publishing Company,
Columbus.
Crain, Ross. 2008. Crains Petrophysical Handbook. http://www.spec2000.net
Mastoadji, E.. Kristanto. 2007. Basic Well Log Interpretation, Handout of AAPG SC UNDIP
Course.
Posamentier, H.W., Allen, G.P., 1999, Siliciclastic sequence stratigraphy: concepts and
applications. SEPM Concepts in Sedimentology and Paleontology no. 7, 209 p.
Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996.
Stinnesbeck, Wolfgang, et al. 2004. Yaxcopoil-1 and the Chicxulub impact. International
Journal of Earth Sciences GR Geologische Rundschau. Published online: 29 October 2004.
Springer-Verlag.net
Ward W, Keller G, Stinnesbeck W, Adatte T (1995) Yucatan subsurface revisited:
implications and constraints for the Chicxulub meteor impact. Geology 23:873876.
Well logs data. http://www.geo.wvu.edu
Kebanyakan orang belum mengetahui pentingnya analisis tafonomi moluska dalam
kerangka sekuen stratigrafi. Maka dari itu, saya ingin sedikit menjelaskan Kegunaan
analisis tafonomi moluska untuk identifikasi elemen-elemen system track dalam
kerangka sekuen stratigrafi.
Analisis tafonomi adalah studi yang mempelajari proses-proses geologi yang terjadi setelah
organisme mati sampai menjadi fosil. Studi tafonomi yang dihubungkan dengan ciri-ciri
sedimentologinya dapat diaplikasikan untuk interpretasi dari hubungan tiap lapisan yang
dilakukan secara berurut sehingga diketahui sejarah geologinya menurut pandangan sekuen
startigrafi, yaitu perubahan relatif dari permukaan air laut yakni dalam pengistilahan system
tracts (Trangressive Systems Tract/TST, Lowstand Systems Tract/LST dan Highstand
Systems Tract/HST). Tafonomi yang digunakan untuk penentuan system track ini adalah
tafonomi moluska.
Moluska digunakan untuk penentuan system track ini karena moluska telah menyebar pada
setiap perairan dan telah hidup hingga ke darat, dan merupakan jenis yang paling sukses
hidup dari phylum lainnya sepanjang waktu geologi (daya adaptasi cukup tinggi) serta
dipercaya sebagai penentu untuk fosil indeks. Moluska muncul sejak zaman Kambrium
hingga sekarang.
Cara hidup moluska dilihat dari substrat sedimen, yaitu:

Infaunal: Memasukkan seluruh bagian tubuhnya kedalam substrat sedimen.

Semi-infaunal: Memasukkan sebagian tubuhnya kedalam substrat sedimen.

Epifaunal: Menambatkan dirinya pada benda sekitar, seperti tumbuhan atau batuan.

Reclining: Menyandarkan tubuhnya pada substrat sedimen.

System tract menurut Posamentier (1988) terbagi menjadi 3, yaitu:


1. Transgressive Systems Tract (TST): usually deposited when sea level rise
2. Highstand Systems Tract (HST): deposited when sea levels still stand after maximum
flooding (or slowly drop)
3. Regressive Systems Tract (RST) and Lowstand Systems Tract (LST): deposited when
sea level fall
Pada saat Trangressive Systems Tract (TST), permukaan laut mengalami penaikkan, erosi
sedikit, arus lemah yang menyebabkan air relatif tenang, dan biasanya yang diendapan klastik
halus. TST ditandai dengan banyak ditemukannya fosil pectinidae karena pectinidae hidup
dengan cara reclining. Fosil pectinidae kadang ditemukan bertumpuk tanpa ditemukannya
endapan lempung. Posisi fosil yang ditemukan pada TST biasanya memiliki posisi yang sama
ketika orgqanisme tersebut masih hidup. Fosil juga ditemukan masih setangkup. Pada awal
TST biasanya masih mengandung sisa-sisa dari Lowstand Systems Tract (LST). Pada fasa
TST ini biasanya memiliki pola finning upward.
Pada saat Highstand Systems Tract (HST) suplai sedimen mulai banyak dan terjadi kenaikan
muka air laut. Tapi kenaikan yang terjadi tidak secepat pada saat kondisi TST dan ada saat
tidak terjadi peningkatan muka air laut. Pada fasa awal HST biasanya ditemukan individual
shell, juvenile shell, dan mixed position. Kemudian pada fasa HST terjadi pengendapan
perselingan antara batu lempung dan batupasir dengan tafonomi moluska yang tersebar
secara setempat-setempat, cangkang moluska terpisah-pisah dan tidak ditemukan yang
setangkup, ada yang masih muda dan ada yang dewasa dengan posisi acak dan tidak
beraturan, juga dijumpai adanya struktur sedimen burrowing.
Konsentrasi pada puncak HST merupakan multiple-event concentrations yang terbentuk oleh
endapan yang padat oleh fosil dengan endapan yang jarang terdapat fosil pada batupasir.
Kemudian diendapkan batupasir dengan lensa-lensa konglomerat, yang tidak mengandung
foraminifera maupun fosil moluska. Perubahan tafonomi moluska ini dienterpretasikan
adanya Sequence Boundary (SB). Pada fasa HST ini, biasanya dicirikan adanya coarseningupward pattern.
Pada saat Lowstand Systems Tract (LST), permukaan laut mengalami penurunan secara
cepat, erosi kuat, arus kuat yang menyebabkan air keruh, dan biasanya yang diendapan
klastik kasar. Pada fasa ini biasanya fosil moluska yang ditemukan pecah-pecah atau sudah
tidak utuh lagi. Hal ini disebabkan karena arus pada fasa ini cukup kuat sehingga merusak
cangkang moluska.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa analisis tafonomi moluska ini dapat
membantu mengidentifikasi kerangka sekuen stratigrafi terutama pada lapisan batuan masif
dan tidak teramati adanya pola penumpukan (stacking pattern), serta dapat dipergunakan
sebagai salah satu informasi dalam menentukan batuan induk dan batuan resevoar, dimana
pada batuan tersebut hanya dijumpai fosil moluska (tidak memiliki fosil-fosil indikator
lainnya, seperti foraminifera planktonik, nannoplankton dan palinomorf).

Anda mungkin juga menyukai