Anda di halaman 1dari 10

PENETAPAN HCG DENGAN TEKNIK IMUNOKROMATOGRAFI

Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Gina Amalia
: B1J013004
:V
:1
: Marifah

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

\\\

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa sementara yang kompleks dengan beberapa
tahapan seperti implantasi, desidualisasi, plasentasi dan partum. Plasenta adalah
unit komunikasi antara ibu dan janin. Organ ini bertugas untuk transferensi dua arah
dan metabolisme hormon, nutrisi dan pertukaran gas (oksigen/ CO2). Selain itu,
plasenta menengahi interaksi ibu dengan janin dalam regulasi glukokortikoid,
seperti laktogen plasenta manusia (HPL), human chorionic gonadotropin (hCG),
progesteron dan estriol (Valenzuela et al., 2015).
Endokrinologi kehamilan melibatkan perubahan endokrin dan metabolik
yang terjadi pada batas antara ibu dan janin yang dikenal sebagai unit plasentajanin. Perubahan endokrin dan metabolik yang terjadi selama kehamilan merupakan
akibat langsung dari sinyal hormon yang dihasilkan unit plasenta janin. Permulaan
dan perkembangan kehamilan tergantung dari interaksi neuronal dan faktor
hormonal. Pengaturan neuroendokrin di dalam plasenta, pada janin dan
kompartemen ibu sangat penting dalam mengarahkan pertumbuhan janin dan
perkembangannya sebagaimana juga dalam mengkoordinasi awal suatu persalinan
(Kreiner & Mortensen 1990).
Selama siklus ovarium, korpus luteum berdegenerasi dan lapisan
dalam uterus yang sudah dipersiapkan dan bergantung pada lutein akan terlepas
jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi. Jika terjadi fertilisasi, blastokista yang
tertanam menyelamatkan dirinya dan tidak tersapu keluar bersama darah haid
dengan membuat HCG. Hormon ini secara fungsional serupa dengan LH,
merangsang dan mempertahankan korpus luteum agar tidak berdegenerasi.
Messenger RNA HCG dapat dideteksi pada blastomer 6-8 sel embrio. HCG dapat
dideteksi pada serum ibu setelah implantasi dimulai, sehingga HCG sering
digunakan untuk mendeteksi kehamilan (Hanifa & Saifuddin, 2005).

B. Tinjauan Pustaka

HCG adalah hormon yang mendukung perkembangan telur dalam ovarium


dan pelepasan telur dalam ovulasi. Hormon HCG tersusun atas glikoprotein yang
dihasilkan oleh protoblast dan bakal plasenta. Pembentukan HCG maksimal pada
60-90 hari, kemudian turun ke kadar rendah yang menetap selama kehamilan.
Kadar HCG yang terus menerus rendah berkaitan dengan gangguan perkembangan
plasenta atau kehamilan. HCG mula-mula diproduksi oleh sel lapisan luar
blastokista. Sel ini berdiferensiasi menjadi sel tropoblast, sinsitiotropoblast yang
berkembang dari tropoblast, kemudian menghasilkan HCG yang disekresikan dan
dapat dideteksi disekresi vagina sebelum inplantasi. biasanya HCG dapat dideteksi
di darah ibu 8-10 minggu (Frandson, 1993).
HCG ( Human Chorionic Gonadotropin) merupakan suatu hormon yang
dihasilkan oleh jaringan plasenta yang masih muda dan dikeluarkan lewat urine.
Hormon ini juga dihasilkan bila terdapat proliferasi yang abnormal dari jaringan
epitel korion seperti molahidatidosa atau suatu chorio carsinoma. Pemeriksaan
HCG dengan metode imunokromatografi merupakan cara yang paling efektif untuk
mendeteksi kehamilan dini (Harti et al., 2013).
Penggunaan strip HCG urine test merupakan suatu metode immunoassay
untuk memastikan secara kualitatif adanya Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
di dalam urine sebagai deteksi dini adanya kehamilan. Alat uji kehamilan untuk
dipakai di rumah (home pregnancy test, HPT) yang biasa dikenal dengan test pack
merupakan alat praktis yang cukup akurat untuk mendeteksi kehamilan pada tahap
awal yang menggunakan urine. Urine yang digunakan, yaitu air seni pertama
setelah bangun pagi karena konsentrasi hormon HCG tinggi pada saat itu. Bentuk
alat tes kehamilan (test pack) ada dua macam, yaitu strip dan compact. Bedanya,
bentuk strip harus dicelupkan ke urine yang telah ditampung, sedangkan compact
sudah ada tempat untuk menampung urine yang akan diteteskan. Test slide ini
sangat tergantung pada interaksi antibodi dan antigen. Jika antigen masuk ke dalam
jaringan tubuh, antibodi bereaksi sehingga antigen tidak berbahaya lagi. Antibodiantibodi itulah yang ditambatkan pada media test, yang mempunyai dua strip (garis)
indikator (Pearce, 1997)
C. Tujuan

1. Mengetahui kadar HCG dengan teknik imunokromatografi.


II.

MATERI DAN METODE

A. Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sampel urine wanita
hamil dan tidak hamil.
Alat yang digunakan adalah tempat urine dan teststrip.
B. Metode
1. Tuang urine pada botol film.
2. Testrip dibuka, kemudian dicelupkan ke dalam botol film yang berisi urine.
Catatan : dalam mencelupkan testrip, tidak boleh melebihi tanda garis pada
testrip.
3. Hasil dibaca setelah 5 menit.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 3.1 Hasil Testrip Positif (atas) dan Negatif (bawah)


Interpretasi:
1. Hasil negatif ditunjukkan oleh adanya satu garis berwarna merah pada zona kontrol
(di atas zona test = tidak hamil). Artinya tidak terdapat HCG.
2. Hasil positif ditunjukkan oleh adanya dua buah garis berwarna merah pada zona test
dan zona kontrol. Artinya terdapat HCG dengan kadar > 50 IU/l (hamil).

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan kadar HCG pada urine wanita hamil dan
wanita tidak hamil, didapatkan bahwa pada e wanita hamil diperoleh kadar HCG
dalam jumlah tinggi, dimana ditandai dengan muculnya dua garis merah pada
teststrip, sedangkan pada wanita tidak hamil tidak ditemukan kadar HCG, ditandai
garis merah hanya muncul pada area kontrol. Strip yang berfungsi sebagai kontrol
akan tetap berwarna merah pada kondisi positif atau negatif, sehingga kontrol
menjadi tanda acuan ketepatan hasil tes. Menurut Kreiner dan Mortensen (1990),
perubahan warna terjadi akibat adanya antibodi yang telah direaksikan dengan zatzat tertentu bereaksi dengan antigen. Sampel kedua yang menunjukkan hasil
negatif, maka hanya pada kontrol saja terjadi perubahan warnanya, karena tidak
terjadi reaksi antigen antibodi pada sampel urine yang diujikan. Hal ini
menunjukkan bila kedua garis di strip tersebut menunjukkan perubahan warna pada
kontrol dan tes, maka sampel yang ujikan tersebut mengandung HCG dan wanita
akan positif hamil. Apabila hanya kontrolnya saja yang berubah warna, maka urine
sampel tidak mengandung HCG dan wanita tersebut tidak hamil. Jika pada tes
didapatkan kedua garis kontrol dan tes sama-sama tidak mengalami perubahan
warna, maka dapat dipastikan bahwa alat tersebut sudah rusak. Menurut
Baratawidjaja (2002), bahwa di dalam urine wanita yang hamil muda terdapat HCG
dengan kadar lebih dari 50 IU/l, sedangkan pada urine wanita yang tidak hamil
tidak terdapat HCG.
Menurut Kaiin (2010), Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah
hormon yang ditemukan pada urine wanita hamil muda. Saat hari pertama terlambat
haid, kadar hormon HCG meningkat dan akan mencapai puncaknya pada minggu
ke 8 setelah haid terakhir. Menurut Saifuddin (2002), tingkat sekresi HCG
meningkat dengan cepat selama kehamilan awal untuk menyelamatkan korpus
luteum dari kematian. Kadar HCG kemudian akan menurun selama masa sisa
kehamilan. Turunnya HCG terjadi pada saat korpus luteum tidak lagi diperlukan
untuk menghasilkan hormon-hormon steroid karena plasenta sudah mulai
mengeluarkan estrogen dan progesterone dalam jumlah yang banyak. Korpus
luteum kehamilan mengalami regresi parsial seiring dengan turunnya sekresi HCG.
Peranan utama HCG adalah memperlama aktifitas biosintesis korpus luteum, yang
memungkinkan
gestasional.

produksi

progesteron

dan

mempertahankan

endometrium

Imunokromatografi adalah metode penetapan antigen antibodi melalui


perpindahan partikel yang ditandai dengan warna. Secara umum metode
imunokromatografi

digunakan untuk

mendeteksi sebuah spesimen dengan

menggunakan dua antibodi. Antibodi pertama berada dalam larutan uji atau
sebagian terdapat pada membran berpori dari alat uji. Antibodi ini dilabeli dengan
lateks partikel atau partikel koloid emas (antibodi berlabel). Keberadaan antigen
akan dikenali oleh antibodi berlabel dengan membentuk ikatan antigen-antibodi.
Kompleks ikatan ini kemudian akan mengalir karena adanya kapilaritas menuju
penyerap yang terbuat dari kertas penyaring. Selama aliran, kompleks ini akan
dideteksi dan diikat oleh antibodi kedua yang terdapat pada membran berpori,
sehingga terdapat kompleks pada daerah deteksi pada membran yang menunjukkan
hasil uji (Wide & Gamzell, 1960).
Metode imunokromatografi dapat dilakukan dengan menggunakan alat
berupa teststrip. Prinsip kerjanya berdasarkan terjadinya reaksi imunologis kimiawi
antara HCG dalam urine dengan antobodi HCG (anti HCG). Komposisi reagen
pada teststrip terdiri dari antibodi monoklonal anti HCG (sebagai zona test) yang
dilekatkan pada partikel lateks berwarna merah dan sebagai zona kontrol adalah
anti HCG dari IgG mouse. Ketika anti HCG (antibodi) bertemu dengan antigen
(hormon HCG) maka terbentuklah kompleks imun (Cunningham, 2010). Menurut
Rao et al., (1981) keuntungan teststrip , yaitu bisa dilakukan sendiri di rumah,
prosedur pengujian yang mudah dilakukan, harga strip yang relatif murah dan
mudah didapat, jenis alat tes bervariasi, akurasi hasil uji yang tinggi (9799%),
serta dapat mendeteksi kehamilan lebih dini.
Uji imunologik untuk kehamilan dapat dilakukan dengan beberapa metode,
seperti Rapid Latex Slide Test, Tube Test Haemaglutinasi (tipe inhibisi) atau
Immunochromatographic assay. Uji-uji tersebut pada dasarnya menggunakan
prinsip antigen-antibody yaitu anti-hCG terhadap kadar hCG (human Chorionic
Gonadotropin), hormon yang dihasilkan oleh plasenta. Uji yang dilakukan
menggunakan serum anti-HCG ini bersifat lebih sensitif, lebih akurat, lebih murah,
dan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan uji kehamilan yang terdahulu,
yaitu yang menggunakan hewan hidup seperti uji Ascheim-Zondek dan Friedman.
Penggunaan strip hCG urine tes merupakan suatu metode imunoassay untuk
memastikan secara kualitatif adanya human chorionic gonadotropin (hCG) di
dalam urine sebagai deteksi dini adanya kehamilan. Adanya hCG dan peningkatan

konsentrasinya secara cepat di dalam urine ibu membuatnya sebagai penanda untuk
memastikan kehamilan. Selain itu, deteksi kehamilan juga dapat dilakukan dengan
metode Galli manini yang merupakan metode penentuan kehamilan secara biologik
dengan memanfaatkan HCG yang terkandung dalam urine wanita hamil serta
dengan menggunakan metode USG (ultrasonografi) digunakan untuk memeriksa
usia kehamilan (Wide & Gamzell, 1960).

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum kali ini dapat diambil
kesimpulan bahwa:
1. Urine wanita hamil yang diuji memakai metode imunokromatografi atau memakai
teststrip menunjukkan hasil positif, yaitu berupa dua garis berwarna merah pada
zona test dan zona kontrol, hal ini berarti terdapat HCG dengan kadar > 50 IU/L.
Apabila hanya terbentuk satu garis warna merah pada zona control, maka hasil
dikatakan negatif karena tidak terdapat HCG.
B. Saran
Sebaiknya urine yang akan diperiksa adalah urine pertama setelah bangun
pagi.

DAFTAR REFERENSI
Bratawijaja, K. G. 2002. Imunologi Dasar Edisi 5.Jakarta: FKUI Press.
Cunningham, G. 2010. Williams Obstetrics, 23ed, Mc-Graw Hill, inc. Health Profession
Division, Toronto. International edition. 11 (12) pp. 117-120.
Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak . Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Hanifa,W & Saifuddin,A.B. 2005. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono
Harti,

Prawirohardjo.,Agnes S., Estuningsih & Heni Nurkusumawati. 2013.


Pemeriksaan HCG (Human Chorionic Gonadotropin) untuk Deteksi Kehamilan
Dini Secara Immunokromatografi. Jurnal KesMaDaSka. 3 (12) pp. 28-36

Kaiin, 2010. Induksi Superovulasi dengan Kombinasi CIDR, Hormon FSH dan HCG
pada induk Sapi Potong. Media Peternakan. 19 (21) pp. 141-146.
Kreiner, J. & R. J. Mortensen. 1990. Infection, Resistence and Immunity. New York:
Harper and Row Publisher.
Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Prawirohardjo, S. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Rao, A, Jagannadha S. G. Kotagi & N. R. Moudgal. 1981. Effect Of Human Chorionic
Gonadotropin On Serum Levels Of Progesterone And Estrogens In The Pregnant
Bonnet Monkev (Macaca Radiata). Jurnal Research International. 3 (1) pp. 8388.
Saifuddin. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Valenzuela, F.J., Vera J., Venegas C., Pino F. & Lagunas C. 2015. Circadian System and
Melatonin Hormone: Risk Factors for Complications during Pregnancy. Obstetrics
and Gynecology International. 2015. doi.org/10.1155/2015/825802.
Wide, L & Gamzell, C.A. 1960. An Immunological Pregnancy Test. New York John
Willey and Sons.