Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

Pada umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia
antara 40 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani dan
mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti oleh
penurunan daya ingat. Walaupun dewsa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan
tersebut lebih lambat daripada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak.
Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia 60an sengaja atau tidak sengaja usia
60an dianggap sebagai garis batas antara usia lanjut dengan usia madya.
Seperti halnya periode lain dalam rentang kehidupan yang berbeda menurut tahap
dimana perubahan fisik yang membedakan usia madya dini pada satu batas, dan usia lanjut di
batas lainnya. Menurut pepatah kuno, seperti halnya buah apel, matangnya pun tidak pada
waktu yang sama ada yang bulan juli, ada yang bulan agustus, dan ada pula yang bulan
oktober. Demikian halnya dengan manusia.
Usia madya pada kebudayaan Amerika saat ini, merupakan masa yang paling sulit
dalam rentang kehidupan mereka. Bagaimanapun baiknya individu-individu tersebut untuk
menyesuaikan diri hasilnya akan tergantung pada dasar-dasar yang ditanamkan pada tahap
awal kehidupan, khususnya harapan tentang penyesuaian diri terhadap peran dan harapan
sosial dari masyarakat dewasa. Kesehatan mental yang baik yang diperlukan pada masa-masa
dewasa, memberikan berbagai kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai
peran baru dan harapan sosial usia madya.

Rentangan usia
Dengan tidak bermaksud membatasi rentang usia secara kaku, dapat dikatakan bahwa
secara teoritis-psikologis dan fisiologis rentang usia antara 40 - 60 tahun merupakan masa
tengah baya bagi banyak orang. (Mappiare 1983 : 173)

Karakteristik usia madya


Setengah baya/madya menunjukkan banyak kesamaan dengan masa remaja. Khusus usia
setengah baya, sama dengan posisi masa remaja. Perubahan-perubahan hal fisik dan psikis
juga terdapat kesamaan antara dua masa kehidupan itu.
Kalau posisi remaja merupakan masa peralihan, tak lagi dapat dikatakan kanak-kanak dan
belum lagi disebut dewasa, maka posisi usia setengah baya juga dalam peralihan, tidak muda
dan bukan tua. Masa remaja merupakan masa terjadinya perubahan yang cepat bhagi hal-hal
fisik yang membawa akibat-akibat terhadap perilaku dan perasaan-perasaannya. Usia
setengah baya, demikian pula. Bedanya, kalau pada masa remaja perubahan itu bersifat
pertumbuhan, maka pada masa setengah baya bersifat pemunduran. Tetapi yang lebih
penting, perilaku dan perasaan yang menyertainya adalah sama yaitu swalah tingkah,
canggung dan kadang-kadang bingung .
Ciri-ciri masa dewasa madya :
1. Usia madya merupakan periode yang sangat ditakuti
Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin lebih terasa
menakutkan. Pria dan wanita banyak mempunyai alasan untuk takut memasuki usia
madya. Diantaranya adalah : banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang
usia madya. Yaitu : kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang
diduga disertai dengan berhentinya reproduksi.
2. Usia madya merupakan masa transisi
Usia ini merupakan masa transisi seperti halnya masa puber, yang merupakan masa
transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Dimana pria dan wanita
meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masanya dan memasuki periode dalam
kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.
3. Usia madya adalah masa stress
Bahwa usia ini merupakan masa stress. Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan
pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik,

selalu cenderung merusak nomeostatis fisik dan psikologis dan membawa ke masa
stress, suatu masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah,
bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.
4. Usia madya adalah usia yang berbahaya
Cara biasa menginterpretasi usia berbahaya ini berasal dari kalangan pria yang
ingin melakukan pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir sebelum memasuki
masa usia lanjut. Usia madya dapat menjadi dan merupakan berbahaya dalam
beberapa hal lain juga. Saat ini merupakan suatu masa dimana seseorang mengalami
kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang
berlebihan, ataupun kurangnya memperhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa
datang dengan cepat di kalangan pria dan wanita dan gangguan ini berpuncak pada
suicide. Khususnya di kalangan pria.
5. Usia madya adalah usia canggung
Sama seperti pada remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa. Demikian juga pada
pria dan wanita berusia madya. Mereka bukan muda lagi, tetapi juga bukan tua.
6. Usia madya adalah masa berprestasi
Menurut Errikson, usia madya merupakan masa kritis diamana baik generativitas /
kecenderungan untuk menghasilkan dan stagnasi atau kecenderungan untuk tetap
berhenti akan dominan. Menurut Errikson pada masa usia madya orang akan menjadi
lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (tetap) tidak mengerjakan sesuatu
apapun lagi. Menurutnya apabila orang pada masa usia madya memiliki keinginan
yang kuat maka ia akan berhasi, sebaliknya dia memiliki keinginan yang lemah, dia
akan stag (atau menetap) pada hidupnya.
7. Usia madya adalah masa evaluasi
Pada usia ini umumnya manusia mencapai puncak prestasinya, maka sangatlah logis
jika pada masa ini juga merupakan saat yang pas untuk mengevaluasi prestasi tersebut
berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain, khususnya
teman dan keluarga-keluarga dekat.

8. Usia madya dievaluasi dengan standar ganda


Bahwa pada masa ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar bagi pria dan satu
standar bagi wanita. Walaupun perkembangannya cenderung mengarah ke persamaan
peran antara pria dan wanita baik di rumah, perusahaan perindustrian, profesi maupun
dalam kehidupan sosial namun masih terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun
standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita
usia madya tetapi ada dua aspek yang perlu diperhatikan : pertama aspek yang
berkaitan dengan perubahan jasmani dan yang kedua bagaimana cara pria dan wanita
menyatakan sikap pada usia tua.
9. Usia madya merupakan masa sepi
Dimana masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua. Contohnya anak
yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal di luar kota sehingga
orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka di rumah akan merasa kesepian
dengan kepergian mereka.
10. Usia madya merupakan masa jenuh
Banyak pria atau wanita yang memasuki masa ini mengalami kejenuhan yakni pada
sekitar usia 40 akhir. Pra pria merasa jenuh dengan kegiatan rutinitas sehari-hari dan
kehidupan keluarga yang hanya sedikit memberi hiburan. Wanita yang menghabiskan
waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anak mereka. Sehingga
ada yang merasa kehidupannya tidak ada variasi dan monoton yang membuat mereka
merasa jenuh.

Perkembangan fisik :
Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti
sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai "aus". Melihat dan mendengar
merupakan dua perubahan yang paling menyusahkan paling banyak tampak dalam dewasa
tengah. Daya akomodasi mata untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina
akan mengalami penurunan tajam antara usia 40 dan 9 tahun. Karena pada usia tersebut aliran
darah pada mata juga berkurang. Pendengaran mungkin juga mulai menurun pada usia ini
yaitu mulai memasuki usia 40. Meskipun kemampuan untuk mendengar suara-suara bernada
rendah tidak begitu kelihatan. Laki-laki biasanya kehilangan sensitifitasnya terhadap suara
bernada tinggi lebih dahulu daripada perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih
besarnya pengalaman laki-laki terhadap suaru gaduh dalam pekerjaan.

Perkembangan kognitif :
Pada tahap Formal Operasional

Pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir
puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya (tahap pemuda).
Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan
penghalusan dari pola pemikiran ini.

Orang dewasa mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan
universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.

Orang dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki masalahnya.


Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat melihat akibat
langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.

Orang dewasa mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya (baik fisik
maupun kognitif) maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.

Orang dewasa dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu


secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis

yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, orang dewasa lalu membuat suatu
strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat
tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi
antara proporsi yang berbeda-beda tadi.

Perkembangan emosi :
Menurut Erikson, pada masa ini individu dihadapkan atas dua hal generativity vs
stagnasi Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna
membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna
melalui generativitas / bangkit. Sebaliknya, stagnasi / mandeg => ketika individu tidak
melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anakanak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan
warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih muda.
Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity
dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas daripada
intimacy karena rasa kasih ini telah men"generalize" ke kelompok lain, terutama generasi
selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan
suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan
balasan. Misalnya saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk
menderita atau meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada. Begitu pula
dengan orang-orang yang melakukan pekerjaan sukarela di Salvation Army, Word Vision,
Palang Merah, Green Peace dan NGO (Non-Governmental Organization) bisa dikatakan
termasuk mereka yang memiliki Generativity ini.
Banyak psikolog melakukan riset mengapa orang melakukan karya altruistik
(berderma atau menolong sesama) yang seringkali tidak menghasilkan apapun bagi mereka
kecuali kerugian materi, waktu dan tenaga. Sampai kini para psikolog ini belum menemukan
jawaban yang pasti dan diterima semua orang. Kalau Erikson benar, maka kita melakukan hal
yang altruistik bukan karena kita menginginkan balasan tapi karena pertumbuhan psikologis
kita menimbulkan kasih pada sesama. Kita mungkin melakukan hal-hal yang altruistik karena
kita mengharapkan dunia yang lebih baik di masa depan yang akan menjadi masa depan
anak-anak kita.
Stagnasi adalah lawan dari generativity yakni terbatasnya kepedulian kita pada diri
kita, tidak ada rasa peduli pada orang lain. Orang- orang yang mengalami stagnasi tidak lagi
produktif untuk masyarakat karena mereka tidak bisa melihat hal lain selain apakah hal itu
menguntungkan diri mereka seketika. Kita tahu banyak contoh orang yang setelah berusia
setengah baya mulai menanyakan ke mana impian mereka yang lalu, apa yang telah mereka

lakukan dan apakah hidup mereka ada artinya. Beberapa orang yang merasa gagal dan tidak
lagi punya harapan untuk mencapai impian mereka, pada saat-saat ini berusaha untuk
merengkuh masa-masa yang bagi mereka terlewat sia-sia.
Kita tentu pernah mendengar mereka yang meninggalkan istri dan anak-anaknya yang
kebingungan dan kekurangan, mencari istri baru dan keluarga baru untuk membangun hidup
baru. Inilah mereka yang tidak berhasil melihat peranan mereka dengan lebih luas, melainkan
hanya melihat apakah hidup ini bermanfaat bagi mereka pribadi. Apakah yang diperoleh
mereka yang berhasil menjalani fase ini dengan sukses? Kapasitas yang luas untuk peduli.
Apabila kapasitas untuk peduli dengan partner di panggil Love oleh Erikson, maka untuk
hubungan yang lebih luas disebutnya Caring. Salah seorang psikolog yang mengkhususkan
diri dalam konsultasi dalam bidang spiritual segera pergi ke Afrika setelah membaca tentang
Aids, dan mengorbankan penghasilannya yang luar biasa. Dia adalah contoh langsung bagi
saya tentang orang-orang dengan kapasitas Caring ini.
Begitu pula para sukarelawan yang setelah membaca tentang Alzeimer atau Ambon
segera mencari tahu apa yang mereka dapat lakukan, bukan karena ada keluarga yang terkena
tetapi karena ada orang yg menderita. Kabar baiknya adalah bahwa makin banyak anak-anak
muda yang melakukan hal ini, dan kebanyakan
dari negara yang sudah maju.

Perkembangan sosial
Masa Dewasa madya ( Middle Adulthood).
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai umur enam puluh tahun.
Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain:
1. Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari seluruh kehidupan
manusia.

2. Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan
ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam
kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.
3. Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson, selama usia madya
ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
4. Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan
dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap
agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan
individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya
mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela
orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan
Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya

Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis

Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu

Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab
dan berbahagia

Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan

Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa

Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

Persoalan mengenai faktor-faktor apakah yang memungkinkan atau mempengaruhi


perkembangan, dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda.
Para ahli yang beraliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu sematamata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung
kepada faktor dasar/pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Scopenhauer.

Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yag mengikuti aliran Empirisme berpendapat
bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan,
sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran empririsme ini
menjadikan faktor lingkungan/pembawaan maha kuasa dalam menentukan perkembangan
seseorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke.
Aliran yang tampak menengahi kedua pendapat aliran yang ekstrim di atas adalah
aliran Konvergensi dengan tokohnya yang terkenal adalah Willian Stern. Menurut aliran
Konvergensi, perkembangan individu itu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan
tersebut. Baik faktor dasar/pebawaan maupun factor lingkungan/pendidikan keduanya secara
convergent akan menentukan/mewujudkan perkembangan seseorang individu. Sejalan
dengan pendapat ini, Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional juga mengemukakan
adanya dua faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu faktor
dasar/pembawaan (faktor internal) dan faktor ajar/lingkungan (faktor eksternal).
Menurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi
eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan
seseorang. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan,
terlebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting. Tetapi bailklah
beberapa diantara faktor faktor-faktor tersebut ditinjau:
1. Intelligensi
Intellegensi merupakan faktor yang terpenting. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh
perkembangan yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan
terbelakang dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Berdasarkan penelitian Terman LM (Genetic studies of Genius) dan Mead TD (The age of
walking and talking in relation to general intelligence) telah dibuktikan adanya pengaruh
intellegensi terhadap tempo perkembangan anak terutama dalam perkembangan berjalan
dan berbicara.
2. Seks
Perbedaan perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas. Yang nyata kelihatan
adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaniyah. Pada waktu lahir anak laki-laki lebih

besar dari perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat perkembangannya dan lebih
cepat pula dalam mencapai kedewasaannya dari pada anak laki-laki.
Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan seksnya kira-kira satu
atau dua tahun lebih awal dan pisiknya juga tampak lebih cepat besar dari pada anak
laki-laki. Hal ini jelasa pada anak umur 9 sampai 12 tahun.
3. Kelenjar-kelenjar
Hasil penelitian di lapangan indoktrinologi (kelenjar buntu) menunjukkan adanya peranan
penting dari sementara kelenjar-kelenjar buntu ini dalam pertumbuhan jasmani dan
rohani dan jelas pengaruhnya terhadap perkembangan anak sebelum dan sesudah
dilahirkan.
4. Kebangsaan (ras)
Anak-anak dari ras Meditarian (Lautan tengah) tumbuh lebih cepat dari anak-anak eropa
sebelah timur. Amak-anak negro dan Indian pertumbuhannya tidak terlalu cepat
dibandingkan dengan ank-anak kulit putih dan kuning.
5. Posisi dalam keluarga
Kedudukan anak dalam keluarga merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi
perkembangan. Anak kedua, ketiga, dan sebagainya pada umumnya perkembangannya
lebih cepat dari anak yang pertama. Anak bungsu biasanya karena dimanja
perkembangannya lebih lambat.
Dalam hal ini anak tunggal biasanya perkembangan mentalitasnya cepat, karena pengaruh
pergaulan dengan orang-orang dewasa lebih besar.

6. Makanan
Pada tiap-tiap usia terutama pada usia yang sangat muda, makanan merupakan faktor yang
penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan. Bukan saja makanannya,
tetapi isinya yang cukup banyak mengandung gizi yang terdiri dari pelbagai vitamin.

Kekurangan gizi/vitamin dapat menyebabkan gigi runtuh, penyakit kulit dan lain-lain
penyakit.
7. Luka dan penyakit
Luka dan penyakit jelas pengaruhnya kepada perkembangan, meskipun terkadang hanya
sedikit dan hanya menyangkut perkembangan fisik saja.
8. Hawa dan sinar
Hawa dan sinar pada tahun-tahun pertama merupakan faktor yang penting. Terdapat
perbedaan antara anak-anak yang kondisi lingkungannya baik dan yang buruk.
9. Kultur (budaya)
Penyelidikan Dennis di kalangan orang-orang Amerika dan Indiana menunjukan bahwa sifat
pertumbuhan anak-anak bayi dari kedua macam kultur adalah sama. Ini menguatkan
pendapat bahwa sifat-sifat anak bayi itu adalah universal dan bahwa budayalah yang
kemudian merubah sejumlah dasar-dasar tingkah laku anak dalam proses
perkembangannya. Yang termasuk faktor budaya disini selain budaya masyarakat juga di
dalamnya termasuk pendidikan, agama, dsb.

Elizabeth B. Hurlock juga mengemukakan beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya
perkembangan (Cause of Development) yaitu:
1. Kematangan (Maturation)
Perkembangan fisik dan mental adalah sebagian besar akibat dari pada kodrat yang
telah menjadi bawaan dan juga dari pada latihan dan pengalaman si anak. Kodra ini
diperoleh dari turunan perkembangan (Heredity Endownment) dan menimbulkan
pertumbuhan yang terlihat, meskipun tanpa dipengaruhi oleh sebab-sebab nyata dari
lingkungan.
Pertumbuhan karena kodrat terkadang timbulnya secara sekonyongkonyong.
Rambut tumbuh di muka, suara berubah dengan tiba-tiba. Sikapnya terpengaruh antara

lain terhadap seks lain, yang berkembang menjadi kegila-gilaan gadis atau kegila-gilaan
pemuda sebagai kebalikan dari kebencian yang ditujukan pada masa sebelumnya (Masa
Pueral).
Pada anak-anak sering terlihat, tiba-tiba anak itu dapat berdiri, berbicara, dan
sebagainya yang terkadang setelah seseorang berpendapat bahwea anak-anak itu sangat
terbelakang dalam pekembangannya.

2. Belajar dan latihan (Learning)


Sebab terjadinya perkembangan yang kedua adalah dengan melalui proses belajar
atau dengan latihan. Disini terutama termasuk usaha anak sendiri baik dengan atau tidak
dengan melalui bantuan orang dewasa.
3. Kombinasi kematangan dan belajar (Interaction of Maturation and Learning)
Kedua sebab kematangan dan belajar atau altihan itu tidak berlangsung sendirisendiri, tetapi bersama-sama, bantu membantu. Biasanya melalui suatu latihan yang tepat
dan terarah dapat menghasilkan perkembangan yang maksimum, tetapi terkadang
meskipun bentuan kuat dan usahanya efektif tidak berhasil seperti yang diharapkan, jika
batas perkembangannya lekas tercapai atau daya berkembangnya sangat terbatas.
Kematangan selain berfungsi sebagai pemberi bahan mentah yang berupa potensipotensi yang siap untuk dilatih/dikembangkan juga sebagai penentu batas atau kualitas
perkembangan yang akan terjadi. Kematangan itu dalam periode perkembangan tidak
hanya dicapai setelah lahir, tetapi sebelum lahir juga ada kematangan; bedanya ialah
bahwa kematangan dalam masa sebelum lahir hanya dipengaruhi kodrat dan tidak
memerlukan latihan.
Kematangan suatu sifat sangat penting bagi seorang pengasuh atau pendidik untuk
mengetahuinya, karena pada tingkat itulah si anak akan memberikan reaksi yang sebaikbaiknya terhadap semua usaha bimbingan atau pendidikan yang sesuai bagi mereka.

Telah banyak percobaan-percobaan diadakan untuk mengetahui sampai dimana


seorang anak dapat berkembang hanya atas dasar kodrat dan sejauh mana atas dasar
pengajaran/pengalaman. Hasilnya antara lain:
1. Pada tahun-tahun pertama kematangan ini penting karena memungkinkan
pengajaran/pelatihan.
2. Dalam hal perkembangan phylogenetic tidak terdapat perbedaan di antaraanak
kembar dan anak yang berbeda rasnya (Nego dan Amreika misalnya).
3. Berlangsungnya secara bersama-sama antara pertumbuhan kodrat (kematangan)
dengan pengajaran/latihan adalah sangat menguntungkan bagi perkembangan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B. 2002. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta : Erlangga.
Mappiare, A. 1983. Psikologi Orang Dewasa, Surabaya : Usaha Nasional.
Mujib, A. 2002. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta : Pt Raja Grafindo.
Santrock, J. W. 2002. Life Span Development, Jakarta : Erlangga.
www.scribd.com/doc/6137587/PERKEMBANGAN-DEWASA-MIDLIFE - 110k - diakses
pada sabtu 21 Maret 2009.