Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH KIMIA KLINIK I

Sperma atau Semen

Disusun oleh:
Yuliana Sandra Prastiwi

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK


KESEHATAN KEMENKES BANTEN JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TANGERANG
2014

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Sholawat serta salam kita curahkan pada junjungan Nabi besar Muhammad SAW.
Berkat rahmat dan limpahannya, Penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna
memenuhi tugas mata kuliah Kimia Klinik tentang Sperma.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumber
pemikiran kepada pembaca. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini akan
kami terima dengan senang hati guna penyempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga
dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat untuk penyusun maupun pembacanya.

Tangerang, 19Oktober 2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................2
2.1

Pengertian Sperma....................................................................................................2

2.2

Komposisi Sperma.....................................................................................................2

2.3

Plasma Semen............................................................................................................3

BAB III PERSIAPAN DAN SAMPLING..............................................................................6


3.1

Persiapan dan Persyaratan.......................................................................................6

3.2

Cara memperoleh Sperma........................................................................................6

3.3

Wadah Penampung...................................................................................................7

3.4

Penyerahan Sample Sperma.....................................................................................7

3.5

Waktu Pemeriksaan..................................................................................................7

BAB IV METODE PEMERIKSAAN....................................................................................9


4.1

Pemeriksaan Sperma.................................................................................................9

4.2

Pemeriksaan Makroskopis........................................................................................9

4.3

Pemeriksaan Mikroskopis.......................................................................................11

4.4

Pemeriksaan Kimia.................................................................................................22

BAB V PENUTUP..................................................................................................................24
5.1

Kesimpulan..............................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................25

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mani atau semen (sperma) ialah ejakulat berasal dari seorang pria berupa cairan kental
dan keruh, berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar-kelenjar lain dan spermatozoa.
Pemeriksaan sperma merupakan salah satu jalan yang termudah untuk mengetahui tingkat
kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan ini memberi kesan,
akan kemampuan seorang pria untuk memperoleh keturunan. Sudah jelas bagi kita semua
bahwa seorang pria dengan tingkat kesuburan yang rendah atau dengan kata lain steril
sulit baginya untuk memperoleh keturunan, demikian juga sebaliknya. Oleh karena hal
tersebut diatas, maka seyogyanyalah seorang pria memeriksakan dirinya untuk
mengetahui tingkat kesuburannya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sperma
Sperma atau disebut juga spermatozoa adalah sel gamet dari laki-laki. Sel ini mempunyai
ukuran panjang keseluruhan 50-60 mikrometer, dimana terdiri tiga bagian yaitu bagian
kepala, bagian tengah (leher) dan ekor. Dimensi kepala dengan panjang 4 - 5 mikrometer,
lebar 2.5 - 3.5 mikrometer, dengan rasio antara panjang dan lebar yaitu 1.50 - 1.75.
Spermatozoa atau sperma dihasilkan oleh testis, sedangkan cairan seminal diproduksi
oleh kelenjar tambahan di sepanjang saluran reproduksi pria, yaitu kelenjar vesikula
seminalis, prostat, kelenjar bulbo urethralis (Cowpers) dan kelenjar urethra (Littres),
(Anonim, 2009).
2.2 Komposisi Sperma
Spermatozoa merupakan sel yang sangat terspesialisasi dan padat yang tidak lagi
mengalami pembelahan atau pertumbuhan, berasal dari gonosit yang menjadi
spermatogonium, spermatosit primer dan sekunder dan selanjutnya berubah menjadi
spermatid dan akhirnya berubah menjadi spermatozoa. Spermatozoa terdiri atas dua
bagian fungsional yang penting yaitu kepala dan ekor (Anonim, 2009).
Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah dan ekor (flagellata).
Kepala sperma mengandung nukleus. Bagian ujung kepala ini mengandung akrosom
yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisanlapisan sel telur pada
waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan
ATP sebagai sumber energi untuk pergerakan sperma. Ekor sperma berfungsi sebagai alat
gerak (Anonim, 2009).
1. Kepala
Kepala spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran panjang 5 mikron,
diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama dibentuk oleh nukleus berisi
bahan-bahan sifat penurunan ayah. Kepala sperma mengandung nukleus. Bagian
ujung kepala atau pada bagian anterior kepala spermatozoa terdapat akrosom, suatu
struktur yang berbentuk topi yang menutupi dua per tiga bagian anterior kepala dan
mengandung beberapa enzim hidrolitik antara lain: hyaluronidase, proakrosin,
akrosin, esterase, asam hidrolase dan Corona Penetrating Enzim (CPE) yang
semuanya penting untuk penembusan ovum (sel telur) pada proses fertilisasi
(Anonim, 2009).
Bahan kandungan akrosom adalah setengah padat yang dikelilingi oleh membran
akrosom yang terdiri dari dua lapis, yaitu membran akrosom dalam (inner acrosomal
membran) dan membran akrosom luar (outer acrosomal membran). Secara molekuler
susunan kedua membran akrosom ini sangat berbeda, membran akrosom luar bersatu
dengan plasma membran (membran spermatozoa) pada waktu terjadinya reaksi
akrosom sedang membran akrosom dalam menghilang. Bagian ekuatorial akrosom
merupakan bagian penting pada spermatozoa, hal ini karena bagian anterior pada
2

akrosom ini yang mengawali penggabungan dengan membran oosit pada proses
fertilisasi berubah menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi spermatozoa
(Anonim, 2009).
2. Ekor
Ekor dibedakan atas 3 bagian, yaitu sebagai berikut:
a. Bagian tengah (midpiece)
b. Bagian utama (principle piece)
c. Bagian ujung (endpiece).
Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikron dengan diameter yang makin ke ujung
makin kecil: di depan 1 mikron, di ujung 0,1 mikron. Panjang bagian tengah: 5-7
mikron, tebal 1 mikron; bagian utama panjang 45 mikron, tebal 0,5 mikron dan
bagian ujung panjang 4-5 mikron, tebal 0,3 mikron. Bagian ekor tidak bisa dibedakan
dengan mikroskop cahaya tetapi harus dengan mikroskop electron (Anonim, 2009).
Mitokondria sebagai pembangkit energi pada spermatozoa. Principle piece dibungkus
oleh sarung fibrous (fibrous sheath) yang perbatasannya disebut anulus. Sarung
fibrous bentuknya terdiri dari kolom ventral dan dorsal yang masing-masing melalui
rusuk-rusuk. Ke arah sentral ada semacam tonjolan yang memegangi cincin nomor 3,
8 dari aksonema. Keduanya (tahanan rusuk dan pegangan cincin aksonema)
memberikan gerak tertentu (Anonim, 2009).

Spermatozoa
Sel tunggal yang terdiri atas kepala, leher dan ekor, panjang 50 , kepala
berbentuk oval (lonjong), berisi nukleus, lebar 2,5-3,5 dan panjang 4-5 .
Akrosom adalah suatu massa yang terdapat pada bagian anterior spermatozoa yang
merupakan struktur berupa selubung yang menutupi 2/3 daerah kepala
spermatozoa. Mengandung enzim-enzim : akrosin, hyaluronidase, CPE (corona
penetrating enzyme). Akrosin adalah enzim proteolitik untuk menembus zona
pellusida, hyaluronidase untuk menembus cumulus ooforus dan CPE untuk
menembus corona radiata.

Spermatozoa Abnormal
Terdapat pada orang yang fertil maupun pada orang yang infertil. Terjadi karena
gangguan pada waktu spermatogenesis dan spermiogenesis. Sebab-sebab : faktor
hormonal, nutrisi, obat, akibat radiasi, penyakit.

2.3 Plasma Semen


Plasma semen yang merupakan sekret kelenjar genital tambahan sebenarnya tidak
dikeluarkan sekaligus sewaktu ejakulasi, tetapi secara bertahap. Ada 4 tahap atau fraksi
yaitu :
1. Fraksi Pre ejakulasi
Hasil sekresi dari kelenjar Cowper / Bulbo urethra dan kelenjar Littre. Sekret ini
dikeluarkan dari penis jauh sebelum ejakulasi, volume 0,2 ml. Diduga berfungsi
untuk melicinkan urethra dan melicinkan vagina waktu coitus.
3

2. Fraksi Awal
Hasil sekresi dari kelenjar Prostat, sekretnya berupa lendir, volume 0,5 ml. lendir
mengandung berbagai zat untuk memelihara spermatozoa ketika berada di luar tubuh.
3. Fraksi Utama
Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan spermatozoa yang berasal
dari epididimis. Volume 2 ml.
4. Fraksi Akhir
Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan sedikit sekali spermatozoa
(yang non motil). Volume 0,5 ml.
Kandungan zat kimia semen
1. Fruktosa
a. Dihasilkan oleh vesicula seminalis.
b. Berada dalam plasma semen
c. Sumber energi bagi motiitas spematozoa
d. 1,5-7,0 mg/ml.
2. Asam sitrat
a. Dihasilkan oleh kelenjar prostat
b. Menjaga keseimbangan osmotik semen
c. Bila zat ni tidak ditemukan dalam semen berarti ada kelainan pada kelenjar prostat.
d. Mencegah terjadinya kalkuli konkresi prostat dengan cara mengikat ion Ca.
3. Spermin
a. Dihasilkan oleh kelenjar prostat
b. Menyebabkan bau yang khas pada semen seperti bau bunga akasia
c. Suatu bakteriostatik.
4. Seminin
a. Dihasilkan oleh kelenjar prostat
b. Mengencerkan lendir servix.
5. Enzim Phosphatase Asam, Glukoronidase, Lisozim dan Amilase
a. Dihasilkan oleh kelenjar prostat.
b. Memelihara atau memberi nutrisi bagi spermatozoa di luar tubuh demi
kelangsungan hidup spermatozoa.
6. Prostaglandin
a. Dihasilkan oleh kelenjar vesicula seminalis dan kelenjar prostat.
b. Merangsang kontraksi otot polos saluran genitalia wanita sewaktu ejakulasi dan
untuk vasodilatasi pembuluh darah.
c. Melancarkan spermatozoa saat bermigrasi dari vagina ke tuba fallopi dengan
mengurangi gerakan uterus.
7. Na, K, Zn, Mg
a. Dihasilkan oleh kelenjar prostat dan vesicula seminalis
b. Memelihara pH plasma semen agar tetap pada pH normal 7,2-7,8.

BAB III
PERSIAPAN DAN SAMPLING
3.1 Persiapan dan Persyaratan
Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan
pantangan (abstinensi) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikit-dikitnya selama 3 hari
(3 x 24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup
untuk suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik. Tetapi untuk baiknya pasien
diminta supaya tidak mengadakan kegiatan seksual selama 3-5 hari. Pengeluaran ejakulat
sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum melakukan aktifitas, sedekat mungkin sebelum
pemeriksaan laboratorium.
3.2 Cara memperoleh Sperma
Banyak penderita tidak mengerti bagaimana cara memeriksakan sperma. Kita harus
maklum, bahwa pemeriksaan sperma lain dengan pemeriksaan kencing atau tinja, karena
bahan-bahan yang terakhir itu dengan wajar dapat dikeluarkan oleh penderita. Tetapi
masalah memperoleh sperma yang akan diperiksa merupakan persoalan tersendiri untuk
penderita. Hal ini dapat dimengerti, sebab tidak pada setiap kesempatan seseorang dapat
mengeluarkan sperma. Adapun cara-cara yang digunakan untuk memperoleh sampel
sperma yaitu dengan :
1. Masturbasi
Merupakan suatu metode pengeluaran sperma yang paling dianjurkan. Tindakan ini
berupa menggosok kemaluan lelaki (penis) berulang-ulang, sampai terjadi ketegangan
dan pada klimaks akan keluar sperma. Sebelum melakukan masturbasi hendaknya
penis dicuci dahulu agar tidak tercemar oleh kotoran. Untuk mempermudah
masturbasi kadang-kadang dalam menggosok penis diberi pelicin misalnya sabun,
krim atau jelly. Tetapi saat dipakai jangan sampai mencapai lubang keluarnya sperma.
Kebaikan dari cara ini, di samping menghindari kemungkinan tumpah ketika
menampung sperma, juga pencemaran sperma dari zat-zat yang tak diinginkan dapat
dihindari. Tempat penampungan sperma sebaiknya dari botol kaca yang bersih, kering
dan bermulut lebar atau boleh dengan tempat lain dengan syarat tidak spermatotoksik.
2. Coitus Interuptus
Cara ini dilakukan dengan menyela atau menghentikan hubungan saat akan keluar
sperma. Walaupun cara ini banyak dilakukan untuk memperoleh sampel sperma untuk
diperiksa, namun cara ini kurang baik karena hasilnya kurang dapat
dipertanggungjawabkan, lebih-lebih bila hasil pemeriksaannya mendapatkan hasil
dimana jumlah spermatozoanya di bawah kriteria normal (oligosperma). Tetapi cara
ini kelemahannya dikhawatirkan sebagian telah tertumpah ke dalam vagina sehingga
tidak sesuai lagi untuk pemeriksaan. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa sperma
yang dikeluarkan pada waktu ejakulasi terbagi menjadi beberapa tahap, paling sedikit
dua tahap. Tahap pertama adalah merupakan ejakulat yang mengandung spermatozoa
yang terbanyak, sedangkan tahap yang kedua hanya mengandung spermatozoa sedikit
saja atau bahkan sering tidak dijumpai spermatozoa, tetapi mengandung porsi fruktosa
yang terbanyak. Dalam pengendalian orgasme sewaktu melakukan interuptus tidak
menjamin bahwa sebagian besar atau sebagian kecil terlanjur dikeluarkan di vagina
5

sehingga mengakibatkan kita memperoleh sampel sperma yang tidak lengkap,


sehingga memberikan hasil yang tidak sewajarnya.
3. Coitus Condomatosus
Dengan alasan apapun pengeluaran sperma dengan memakai kondom untuk
menampung mani tidak dianjurkan dan tidak diperkenankan karena zat-zat pada
permukaan karet kondom mengandung suatu bahan yang bersifat spermicidal yang
mempunyai pengaruh melemahkan atau membunuh spermatozoa, biarpun kondom
sudah dicuci dan dikeringkan. Selain daripada itu kemungkinan terjadi tumpahnya
sperma sewaktu pelepasan kondom atau menuangkan ke botol penampung. Tetapi ada
beberapa kondom khusus yang dipergunakan untuk keperluan penampungan sperma,
karena bahan dipakai tidak bersifat spermasida.
4. Vibrator
Masih ada cara lain untuk mempermudah mengeluarkan sperma ialah dengan vibrator.
Alat ini mempunyai berbagai ukuran, terbuat dari plastik dengan permukaan halus,
dapat digerakkan dengan baterai yang menghasilkan getaran lembut. Alat ini kalau
ditempelkan pada glans penis, akan menimbulkan rasa seperti mastrubasi dan dengan
fibrasi yang cukup lama, diharapkan sperma akan keluar.
5. Refluks Pasca Sanggama
Dengan memeriksa sperma yang telah ke vagina. Cara ini tidak dianjurkan karena
dipergunakan cairan fisiologis untuk pembilasan, dan sperma tercampur dengan sekret
vagina, sehingga akan didapatkan hasil yang tidak mencerminkan keadaan
sesungguhnya.
3.3 Wadah Penampung
Mani langsung dikeluarkan ke dalam satu wadah terbuat dari gelas atau plastik yang
bermulut lebar dan yang lebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan. Wadah harus dapat
ditutup dengan baik untuk menjaga jangan sampai sebagian tertumpah. Pasien diminta
mencatat waktu pengeluaran mani tepat sampai menitnya dan menyerahkan sampel itu
selekasnya kepada laboratorium. Laboratorium juga wajib mencatat waktu pemeriksaanpemeriksaan dijalankan.
3.4 Penyerahan Sample Sperma
Segera setelah sperma ditampung, maka sperma harus secepatnya diserahkan kepada
petugas laboratorium. Hal tersebut perlu dilakukan karena beberapa parameter sperma
mempunyai sifat mudah berubah oleh karena pengaruh luar. Sperma yang dibiarkan
begitu saja akan berubah pH, viskositas, motiltas dan berbagai sifat biokimianya.
3.5 Waktu Pemeriksaan
Setelah penderita diberikan penerangan tentang cara-cara serta syarat-syarat pengeluaran
sperma dan lainnya, maka waktu pengeluaran sperma dapat pula ditetapkan. Hal ini
tergantung dari kesiapan pasien dan kesiapan laboratorium. Kalau syarat-syarat serta
semua persiapan baik penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran
sperma dapat dilakukan.
Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa.
Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh didinginkan
6

dibawah 20OC atau dipanaskan diatas 40OC, oleh karena kedua hal ini dapat
mempengaruhi motilitas dan viabilitas spermatozoa.
Hal - Hal Lain
Hal lain yang perlu diutarakan pada pasien adalah pada waktu abstinensia janganlah
minum obat - obat apapun, apalagi minum obat-obat perangsang seks, tonikum atau
semacamnya. Hal ini diperlukan agar benar-benar sperma yang diperiksa tidak
dipengaruhi oleh obat obatan. Kalau perlu dicatat obat yang dimakan dalam 1-2
minggu sebelum analisis dilakukan.

BAB IV
METODE PEMERIKSAAN
4.1 Pemeriksaan Sperma
Parameter sperma dapat berupa parameter sperma dasar serta parameter biokimia
sperma. Dalam pemeriksaan rutin atau pemeriksaan dasar, yang dilakukan adalah
mengukur parameter yang diperlukan sebagai dasar umum untuk mendiagnosis keadaan
andrologis, serta yang mudah dilakukan dengan tidak memakai alat-alat serta
pengetahuan yang lebih rumit.
Berikut parameter pemeriksaan sperma meliputi :
A. Pemeriksaan Makroskopis
1. Liquefaksi
2. Viscositas
3. pH Sperma
4. Bau Sperma
5. Warna Sperma
6. Volume Sperma
B. Pemeriksaan Mikroskopis
1. Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa
2. Vitalitas Spermatozoa
3. Jumlah Spermatozoa
4. Morfologi Spermatozoa
5. Aglutinasi spermatozoa (khusus)
6. Benda-benda khusus sperma (khusus)
C. Pemeriksaan Kimiawi dan Enzim
1. Kadar Fruktosa
2. Acid Phospatase/ACP (khusus)
4.2 Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan makroskopis memperhatikan volume, warna kekeruhan dan kentalnya
mani, selain itu biasanya pH juga diperiksa. Mengukur volume dilakukan dengan
memindahkan ejakulat kedalam gelas ukur 5 atau 10 ml sesuai dengan keadaan yang
dihadapi.
1. Likuefaksi (pencairan)
Sperma yang baru saja dikeluarkan selalu menunjukkan adanya gumpalan diantara
lendir putih yang cair. Liquefaction ini terjadi karena daya kerja dari enzim-enzim
yang diproduksi oleh kelenjar prostat antara lain enzim seminin. Untuk sperma yang
normal gumpalan ini akan mencair setelah waktu 15-20 menit.
Makna Klinis :
Jika liquefaction melebihi dari waktu 20 menit atau lebih lama lagi berarti terjadi
gangguan pada kelenjar prostat dan defisiensi enzim seminin.
2. Pemeriksaan Viscositas (Kepekatan)
8

Setelah terjadi likuefaksi, biasanya cairan sperma menjadi homogen, tetapi tetap
menunjukkan suatu sifat kepekatan. Untuk mengukur suatu viscositas dari sperma
yang termudah dengan jalan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang
pengaduk, kemudian ditarik, maka akan terjadi benang yang panjangnya antara 3-5
cm. makin panjang benang yang terjadi, maka makin tinggi viscositasnya.
Pengukuran viscositas seperti tersebut diatas sifatnya sangat subyektif dan tergantung
dari keterampilan si pemeriksa. Ada suatu cara yang lebih tepat untuk mengukur
suatu viscositas dengan mempergunakan suatu pipet standar yang disebut Pipet
Elliasson. Pipet ini mempunyai volume 0, 1 ml.
Prosedur Kerja :
Sperma diisap dengan pipet Elliason sampai menunjukkan volume 0,1 ml.
Kemudian tekanan dilepaskan.
Tetesan pertama diukur dengan stopwatch.
Normal : 1-2 detik
Catatan :
Baik liquefaction maupun viscositas tergantung dari daya kerja enzim-enzim
kelenjar prostat. Perlu ditekankan bahwa viscositas sangat erat hubungannya dengan
motilitas spermatozoa, artinya viscositas yang tinggi sering disertai dengan motilitas
yang rendah.
Makna klinis :
Jika semen terlalu kental (panjang benang > 5 cm) maka enzim likuefaksi dari
prostat kurang berfungsi.
Jika terlalu encer (panjang benang 8 maka radang akut pada kelenjar genitalia
tambahan atau epiddiymitis. Sedang pada pH 6 ml
Hypospermia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
- Sampel tumpah karena tidak hati-hati, ini disebut kesalahan tehnis.
- Gangguan patologis dan genetis pada organ genitalia
- Vesicula seminalis tidak berfungsi
- Gangguan hormonal atau akibat radang.
Hyperspermia disebabkan oleh abstinensi yang terlalu lama dan kelenjar genitalia
tambahan terlalu aktif

4.3 Pemeriksaan Mikroskopis


Pemeriksaan mikroskopis dilakukan setelah sperma mengalami liquefaction. Jadi kirakira 20 menit setelah dikeluarkan. Adapun pemeriksaan mikroskopis yang umum
dilakukan meliputi :
1. Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa
a. Mekanisme pergerakan

Spermatozoa bergerak (Motil), dengan maksud agar sampai dialat reproduksi


wanita untuk pembuahan. Energi untuk motilitas bersumber pada bagian tengah
spermatozoa. Dibagian tengah itu dapat diibaratkan generator spermatozoa.
Energi dari bagian tengah disalurkan kebagian distal, yaitu ke ekor, kemudian
ekor bergerak. Jadi ekor dapat diibaratkan sebagai kemudi juga sebagai
pendorong spermatozoa.
Energi yang keluar menyebabkan dua macam gerakan. Pertama, gerakan
bergelombang keujung ekor. Gelombang itu makin ke ekor makin lemah.
Gerakan kedua bersifat sirkuler. Energi yang keujung ekor itu tidak lurus
kebelakang tapi arahnya melingkari batang tubuh bagian tengah, terus keujung
ekor.
Resultante dari dua gerak tersebut menyebabkan motilitas spermatozoa, seluruh
tubuh spermatozoa mulai dari kepala sampai ke ekor bergerak melingkar pada asnya dan ke depan. Hal ini menyebabkan gerak lurus ke depan aktif, lincah dengan
irama getar ekor yang teratur.Irama getar ekor spermatozoa normal manusia ialah
15x/detik. Pada sapi getaran itu kira-kira 20 x/detik.
Maka dari itu dapat dibayangkan bahwa hanya spermatozoa yang normal saja
yang dapat bergerak normal pula. Sebab andaikata bentuk kepala spematozoa tak
normal katakanlah bentuk terato maka arah gerakan tak mungkin lurus ke depan
sebab bagian depan sedemikian tak ideal untuk memperoleh gerak lurus .
Demikian pula andaikata terdapat bagian tengah yang bengkok, bagian ekor yang
melingkar, bagian kepala yang masih tertempel oleh sisa sitoplasma (imatur)
kesemuanya mengakibatkan terganggunya gerak lurus ke depan dan lincah.
b. Macam Motilitas spermatozoa
Berdasarkan mekanisme motilitas tersebut dapat dibedakan dua macam motilitas
spermatozoa, yaitu :
Spermatozoa Motilitas Baik
Spermatozoa bergerak lurus kedepan, lincah, cepat dengan beat ekor yang
berirama.
Spermatozoa Motilitas Kurang Baik
Semua motilitas spermatozoa kecuali yang tersebut spermatozoa motilitas
baik, dianggap spermatozoa dengan motilitas kurang baik atau jelek.
Yang termasuk motilitas spermatozoa kurang baik ialah :
1) Motilitas bergetar atau berputar
Spermatozoa hanya bergetar dalam satu bidang saja dan kadang-kadang
berhenti. Ekor hanya bergetar kekiri atau ke kanan tak bergetar rotasi
meskipun frekuensi getarnya dapat tinggi. Karena terdapat kelainan
morfologis atau kelainan pengantaran energi gerak melingkar maka
spermatozoa dapat menempuh gerakkan kurva, spematozoa motilitasnya
berputar-putar saja.
2) Motilitas tanpa arah
10

Pada keadaan ini ekor spermatozoa dapat bergetar tinggi atau rendah.
Kepala bergerak tak teratur. Kelainan ini disebabkan adanya bentuk
spermatozoa abnormal maupun distribusi dan pengantaran energi tak
normal pada spermatozoa.
3) Motilitas karena asimetri kepala atau ekor
Motilitas jenis ini disebabkan karena kelainan morfologi spermatozoa
sehingga memyebabkan motilitasnya melingkar baik searah maupun
berlawanan dengan jarum jam. Kalau morfologi ekor spermatozoa asimetri,
amplitudo getaran juga tidak teratur. Kalau pengantaran energi rotasi ada
atau tak teratur sedang ekor asimetri terjadi motilitas dengan arah
melingkar.
4) Motilitas spermatozoa imatur
Spermatozoa imatur mungkin berbentuk normal dan mungkin pula tidak
normal karena adanya beban droplet (sisa) sitoplasma maka arah gerak
kepala berat sebelah. Kalau sistem pengantaran energi belum masak pula
dapat terjadi motilitas yang bemacam-macam rocking melingkar dan
gerak tak teratur. Demikian pula andaikata sisa sitoplasma terletak dibagian
tengah atau ekor spermatozoa motilitas yang timbul akan bermacammacam.
5) Motilitas spermatozoa teraglutinasi
Motilitas spermatozoa ini terbatas karena spermatozoa melekat satu dengan
yang lain (aglutinasi sejati) atau karena melekat pada benda lain (sel bulat,
kristal, bakteri, protozoa dll) bila terdapat aglutinasi palsu. Tergantung
macam aglutinasi (kepala-kepala, ekor-ekor, dan ekor-kepala) motilitas
yang terjadi akan berlainan pula.
6) Motilitas spermatozoa terperangkap
Motilitas jenis ini terbatas karena terperangkap oleh sperma yang belum
mengalami likuefaksi total, meskipun telah melewati batas normal waktu
likuefaksi. Hal ini akan terlihat kalau sperma diperiksa motilitas berurutan
yaitu langsung setelah ejakulasi dan setiap setengah jam setelah ejakulasi.
7) Motilitas spermatozoa yang lemah
Spema yang kekurangan energi mempunyai gerakan lemah, meskipun
arahnya ke depan beat ekor teratur, lurus namun tak lincah. Hal ini dapat
disebabkan karena sperma telah lama tak diperiksa, sehingga energi untuk
motilias berkurang. Dalam hal ini fruktosa telah banyak dipecah
(fruktolisis). Penyebab lain ialah memang cadangan energi berkurang sejak
awal misalnya pada kelainan vesika seminalis.
Spermatozoa yang tidak bergerak
Spermatozoa yang sama sekali tidak bergerak dan tetap diam ditempat.
c. Pemeriksaan motilitas spermatozoa
Pemeriksaan motilitas spermatozoa dilakukan dengan cara meneteskan setetes
sperma pada gelas obyek. Tetesan diusahakan sama besarnya untuk setiap
pemeriksaan. Bilamana tetesan tidak sama besarnya pengamatan spermatozoa
secara prosentase dan kuantitatif akan berbeda. Terdapat beberapa cara untuk
mendapatkan tetesan sperma yang sama, yaitu :
11

Sperma diteteskan dengan pipet


Diharapkan dengan tetesan pipet volume sperma yang diteteskan sama. Dalam
hal ini untuk setiap sperma harus memakai pipet yang berbeda dan harus
baru/bersih benar. Sebab kalau sebuah pipet telah pernah digunakan untuk satu
sperma, kemudian dipergunakan untuk sperma lainnya akan ada unsur pada
sperma pertama yang terpindahkan ke sperma kedua. Kalau misalnya sperma
yang kedua azoospermi maka kemungkinan akan dinilai tidak azoospermi
sebab telah tercampur oleh spermatozoa dari sampel pertama.
Sperma diteteskan dengan batang pangaduk terbuat dari pada gelas
Cara ini kebanyakan akan memperoleh tetesan yang sama besar. Apalagi kalau
ujung batang gelas tidak sama besarnya. Keadaan yang mempengaruhi ialah
kekentalan sperma . Bila sperma kental tetesan akan berbeda bilamana sperma
encer. Perbedaan-perbedaan ini dapat diatasi kalau para pemeriksa sperma
banyak pengalaman meneteskan sperma pada gelas objek.
Sperma diteteskan dengan batang kawat baja berujung bulat
Dengan cara ini memang diperoleh ukuran tetesan yang sama. Untuk
menghindari kontaminasi sperma lain maka setelah loop dipakai untuk satu
spesimen sperma, kemudian dibakar, setelah itu dapat dipergunakan untuk
memeriksa sperma yang lain.
Tujuan : untuk mengetahui dan menentukan baik tidaknya pergerakan
(motilitas) spermatozoa dan jumlah prosentase yang bergerak.
Prinsip : Sperma dengan zat tambahan atau tidak dilihat pergerakannya
dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x45 dan hasilnya dilaporkan dalam
persen ( % ).
Alat :
- Objek glass
- Cover glass
- Mikroskop
- Pipet tetes
Cara kerja :
- Ambil 1 tetes sperma letakkan diatas objek glass.
- Tutup dengan cover glass.
- Periksa dibawah mikroskop perbesaran objektif 40-45x.
- Periksa adanya spermatozoa yang :
Bergerak aktif (%)
Bergerak tidak aktif (%)
Tidak bergerak (%)

d. Penilaian motilitas spermatozoa


Penilaian motilitas spermatozoa dilakukan sebagai berikut :
Spermatozoa yang bergerak aktif adalah spermatozoa yang bergerak cepat ke
depan, lincah dan aktif (%).
Spermatozoa yang kurang aktif bergerak adalah spermatozoa yang bergerak
berputar di tempat (%).
Spermatozoa tidak bergerak (%).
12

Jumlah spermatozoa yang aktif ditentukan dalam persen (%). Misalnya :


jumlah spermatozoa 110 yang bergerak aktif 50 maka spermatozoa yang aktif
adalah 50/110 x 100% = 45,5%.
Besar kecilnya tetesen dan berat ringannya gelas penutup berpengaruh pada
motilitas spermatozoa. Sebelum diteteskan sperma terlebih dahulu diaduk rata
sehingga homogen. Motilitas spermatozoa biasanya dilihat setelah terjadi
likuefaksi lengkap.
Pemeriksaan harus segera dilakukan setelah gelas obyek ditempelkan. Bila
terlalu lama dibiarkan baru kemudian diperiksa akan terjadi perbedaan dalam
miotilitas spermatozoa.
Untuk tahap permulaan sediaan diperiksa dengan pembesaran objektif 10 x.
Setelah itu diganti dengan pembesaran objektif 40 x.
Dalam keadaan normal yang motil aktif harus diatas 70%, yang motil lemah
dibawah 20% dan tidak motil dibawah 0%.

e. Berkurangnya derajat motilitas


Spermatozoa akan berkurang motilitasnya bila dibiarkan setelah ejakulasi. Angka
yang dilaporkan perlu dihubungkan dengan waktu yang sudah berlalu sejak saat
ejakulasi, semakin banyak waktu lewat, semakin berkurang motilitas
spermatozoa. Penilaiannya :
Biasanya didapat bahwa sampai 1 jam setelah dikeluarkan, mani berisi 70%
atau lebih spermatozoa aktif, angka itu terus menerus menurun sehingga
menjadi 50% sekitar 5 jam lewat ejakulasi.
Pada keadaan normal kemunduran motilitas terjadi kira-kira 10-20% dalam
waktu 2-3 jam.
Dalam melaksanakan pemeriksaan motilitas berurutan ini temperatur
laboratorium harus dijaga agar konstan, sebab perbedaan suhu juga
berpengaruh terhadap motilitas spermatozoa.
Dalam pemeriksaan rutin tidak banyak gunanya mengikuti penyusutan
motilitas dari jam ke jam, berkurangnya motilitas banyak dipengaruhi oleh
cara menyimpan sampel.
2. Pemeriksaan Vitalitas Spermatozoa
Spermatozoa yang tidak bergerak, belum tentu mati. Adakalanya lingkungannya tidak
cocok, spermatozoa tidak bergerak. Tetapi kalau keadaan lingkungannya suatu ketika
baik, ada kemungkinan spermatozoa bergerak lagi. Maka dari itu perlu dibedakan
lagi antara spermatozoa yang hidup dengan spermatozoa yang mati. Pemeriksaan ini
adalah pemeriksaan vitalitas spermatozoa.
Untuk memeriksa vitalitas spermatozoa, dilakukan pengecatan vital atau vital
staining. Cara ini digunakan untuk memastikan diagnosa nekrozoospermia.
Metode : Eosin-Nigrosin Supravital Stainning Sperma Viability
Tujuan : Untuk membedakan dan mengetahui sperma yang hidup dan yang
mati.

13

Prinsip : Sampel sperma dibuat hapusan, diwarnai, dikeringkan dan diperiksa


sperma yang mati dan yang hidup dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100.
Alat
:
- Pipet tetes
- Objek glass
- Mikroskop
- Rak dan bak pewarnaan
- Tabung reaksi
- Botol semprot
Reagensia :
- Eosin 5 %
- Negrosin 10 %
Cara Kerja :
- Sampel sperma diteteskan kedalam tabung reaksi kecil
- Ditambahkan 1 tetes eosin 5 % dan 1 tetes negrosin 10 %, di aduk
- Diambil 1 tetes, dibuat hapusan diatas objek glass, dikeringkan.
- Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x100 pada 100 lapang
pandang dan hasil dinyatakan dalam persen ( % ).
Penilaian :
Spermatozoa yang mati akan berwarna merah
Spermatozoa yang hidup akan terlihat tidak berwarna
Nilai Normal : 75 % atau lebih spermatozoa yang hidup.
Catatan :
Spermatozoa yang mati berwarna kemerahan karena dinding spermatozoa
rusak, zat warna masuk ke dalam sel.
Spermatozoa yang hidup tetap tidak berwarna karena dinding sel masih utuh,
tak dapat ditembus zat warna.
Untuk membuat pengecatan vitalitas yang baik, zat warna harus baru, jangan
terlalu kental dan jangan banyak endapan.
3. Pemeriksaan Jumlah Spermatozoa
Menghitung jumlah spermatozoa dapat dilakukan dengan metode hemocytometer
biasa menggunakan pipet Thoma atau dengan modifikasi hemocytometer dengan
pengenceran dalam tabung menggunakan Clinipette. Larutan yang biasa yang
dipergunakan ialah larutan pengencer 5% Natrium bikarbonat dalam aquadest
ditambah dengan formaldehide 1 ml.
Larutan pengencer ini juga bertindak sebagai zat spermisida yang mematikan
spermatozoa, serta merupakan garam fisiologis. Dengan demikian spermatozoa yang
terdapat didalam kamar hitung dapat lebih cermat dihitung.
Jumlah spermatozoa dihitung menurut beberapa cara :
a. Jumlah Spermatozoa per ml ejakulat.
b. Jumlah Spermatozoa per volume ejakulat.
Namun yang umum dipakai adalah spermatozoa per ml ejakulat. Bilamana
menghendaki perhitungan untuk seluruh ejakulat, tinggal mengalikan dengan volume
ejakulat.
14

Tujuan : Untuk mengetahui jumlah sperma yang terdapat dalam sampel sperma
yang diperiksa.
Prinsip : Sampel sperma diencerkan dalam pipet lekosit dengan larutan
pengencer tertentu, diperiksa dalam bilik hitung.
Alat :
- Kamar hitung Improved Neubauer atau Burker
- Pipet Thoma leukosit atau eryhtrosit
- Kertas saring / tissue
Reagensia :
Larutan Pengencer Sperma :
- NaHCO3 ...............................5 gram
- Formalin 5%,..............................1 ml
- Larutan Eosin 2%.......................5 ml
- Aquadest add.........................100 ml
Prosedur :
Cara Pipet Thoma :
- Isap sperma dengan pipet leukosit sampai tanda 0,5 tepat.
- Isap larutan Pengencer Sperma sampai tanda 11 tepat.
- Kocok selama 2 menit, buang cairan 3-4 tetes, masukkan dalam kamar
hitung improved Neubauer dengan menempelkan ujung pipet ditepi kaca
penutup.
- Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang
- Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml
Cara Tabung dengan Clinipette :
- Masukkan 400 ul cairan pengencer sperma kedalam tabung reaksi dengan
clinipette.
- Buang 20 ul dengan clinipette cairan tadi.
- Pipet 20 ul sperma yang telah dihomogenkan dan campur dengan larutan
pengencer.
- Kocok beberapa kali tabung atau letakkan diatas pengocok khusus
(vibrator).
- Masukkan dalam kamar hitung improved Neubauer dengan menempelkan
ujung clinipette ditepi kaca penutup.
- Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang
- Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml
Perhitungan :
Misal jumlah didapat : 200 spermatozoa
200 x 50 = 10.000/mm3
= 10.000 x 1000 = 10 juta/ml
Nilai Normal : 20 70 juta / ml
Catatan :
- Untuk mempermudah penghitungan didalam bilik hitung dapat digunakan
pipet eryhtrosit sebagai pipet pengencer dan sperma diisap sampai 0,5
tepat dan pengencer 101. pengenceran pipet 200x dikalikan untuk
perhitungan.

15

Untuk pengenceran yang lebih teliti sebaiknya menggunakan pengenceran


menggunakan Clinipette dalam tabung. Pengenceran dapat diubah sesuai
dengan keinginan.
Menurut R. Gandasoebrata bila tidak memiliki larutan pengencer Natrium
bikarbonat maka dapat digunakan aquadest sebagai larutan pengencer.

4. Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa


Pemeriksaan morfologi spermatozoa ditujukan untuk melihat bentuk-bentuk
spermatozoa yang didasarkan atas bentuk kepala dari spermatozoa. Seperti diketahui
spermatozoa mempunyai beberapa macam bentuk. Dengan pemeriksaan ini diketahui
beberapa banyak bentuk spermatozoa normal dan abnormal. Bentuk yang normal
adalah spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval dan mempunyai ekor yang
panjang. Untuk pemeriksaan morfologi ini dimulai dengan pembuatan preparat smear
di atas objek glass, yang dibiarkan kering dalam temperatur kamar. Setelah preparat
smear tersebut kering, maka selanjutnya dilakukan prosedur pewarnaan.
Agar memperoleh hasil yang baik pemeriksaan morfologi spermatozoa dilakukan
pengecatan khusus. Terdapat berbagai macam pengecatan guna memeriksa morfologi
spermatozoa, diantaranya Giemsa, Wright, Romanowsky, May Grunwald, Kiewit de
Jong.
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan morfologi sperma dalam
sampel yang diperiksa.
Prinsip : Sperma dibuat hapusan diwarnai dengan giemsa, dicuci, dikeringkan dan
diperiksa morfologi sperma dibawah mikroskop dengan anisol perbesaran 10 x
100.
Alat alat :
- Pipet tetes
- Objek glass
- Rak dan Bak pewarnaan
- Mikroskop
- Botol semprot
- Lampu spritus
Reagensia : Karbol Fuchsin 0,25 %
Cara Kerja :
a. Cara Karbol Fuchsin
- Setetes sperma dibuat hapusan diatas objek glass.
- Difiksasi dengan nyala api 2 5 kali
- Diwarnai dengan carbol fuchsin 0,25% selama 5 Menit, dicuci dengan air.
- Dikeringkan dan diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam
100 spermatozoa
b. Cara Giemsa
- Sediaan hapus difiksasi dengan metanol selama 10 menit.
- Sisa metanol dibuang, sediaan dibiarkan kering di udara.
- Sediaan dicat dengan larutan Giemsa (17 tetes giemsa dicampur dengan 5
ml aquades) selama 20 menit.

16

Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan. diperiksa dibawah


mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa
c. Cara Hematoxilin Meyer
- Sediaan hapus ditetesi larutan formalin 10% selama 1 menit.
- Sediaan dibilas dengan aquadest.
- Sediaan dicat dengan hematoksilin menurut Meyer selama 2 menit.
- Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa
dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa
d. Cara O.Steeno
- Sediaan hapus dimasukkan ke dalam larutan metanol selama 5 menit dan
dikeringkan diudara.
- Sediaan dicelupkan kedalam larutan safranin 0,1% selama 5 menit
- Sediaan dibilas dalam air buffer dua kali.
- Sediaan dicelupkan kedalam larutan kristal violet 0,25% selama 5 menit
- Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa
dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa

e. Cara lain dengan Fast Green, Wright, Bryan/leishman, Papanicolou,


Romanowsky dan lainnya.
Morfologi spermatozoa :
Spermatozoa Normal :
Spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval, reguler, dengan bagian
tengah utuh dan mempunyai ekor tak melingkar dengan panjang 45 um.
Spermatozoa Abnormal :
Spermatozoa disebut abnormal bilamana terdapat satu atau lebih dari
bagian spermatozoa yang abnormal. Jadi meskipun kepala spermatozoa
oval, tetapi kalau bagian tengah menebal, maka dikatakan abnormal.
Abnormalitas kepala
- Kepala oval besar
Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih besar dari normal.
Panjang kepala >5 dan lebar >3
- Kepala oval kecil
Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih kecil dari normal.
Panjang kepala <3>2 .
- Kepala pipih (tapering head = lepto)
Kepala spermatozoa berbentuk seperti cerutu dengan kedua sisinya
sejajar, bentuk ramping dan agak panjang, akrosomnya dapat
berujung lancip atau tidak.
- Kepala berbentuk pir (piriform head)
Kepalanya nyata atau bahkan lebih menyolok berbentuk sebagai
tetesan air, bagian runcing berhubungan dengan bagian tengah.
- Kepala dua (duplicated head)
Spermatozoa dengan memiliki dua kepala.
- Kepala berbentuk amorfous (terato)
Bentuk kepala yang tak menentu atau sangat besar dengan struktur
yang aneh.
17

Abnormalitas bagian tengah


- Bagian tengah tebal
- Bagian tengah patah
- Tak mempunyai bagian tengah
Abnormalitas ekor
- Ekor sangat melingkar
- Ekor patah yang meninggalkan sisa ekor.
- Ekor lebih dari satu
- Ekor sebagai tali terpilin
Spermatozoa imatur
Spermatozoa yang masih mengandung sisa sitoplasma, yang paling
tidak besarnya separuh dari ukuran kepala dan masih terikat, baik pada
kepala, bagian tengah maupun pada ekor spermatozoa.

Leukosit dalam sperma :


Dalam sperma kecuali terdapat spermatozoa juga terdapat rundzellen /
round cell atau sel bundar yang terdiri dari leukosit dan sel-sel
spermiogenesis. Dalam keadaan biasa terdapat leukosit dalam sperma,
jumlahnya meningkat melebihi normal akan berpengaruh terhadap
gambaran spermiogenesis, sehingga perlu dilakukan penghitungan
leukosit.
Menghitung rundzellen (sel bundar) :
Karena terdiri dari dua sel yaitu sel muda sperma dan leukosit, maka
untuk membedakannya dapat dilakukan penghitungan sebagai berikut:
- 1 tetes sperma ditambah 1 tetes larutan Sedicolor (larutan
Methylen Blue) diaduk rata diobjek glass, dibiarkan beberapa
menit, diperiksa di mikroskop dengan pembesaran 400-600 kali.
- Dilakukan diferensiasi antara sel spermatozoa muda dan leukosit
yang dinyatakan dalam 100%.
- Ciri-ciri sel :
Sel spermiogenesis : Dinding sel tampak tebal dengan inti
yang kompak.
Leukosit : Dinding kelihatan tipis dengan inti yang khas untuk
leukosit.
- Dihitung 100-200 sel bundar dan cara ini dilakukan jika junlah sel
bundar per Lp lebih dari 6-10.
- Jika pada sediaan jelas terlihat adanya leukosit maka dapat dipakai
cara tanpa pengecatan, yaitu :
- 0,1 ml sperma diteteskan diatas objek glass lalu ditutup dengan
gelas penutup dan diperiksa dengan pembesaran 400-600 kali.
- Jika didapat sel leukosit 6-10/Lp atau lebih, kemungkinan
menunjukkan adanya infeksi pada traktus genitalis.
5. Aglutinasi Spermatozoa
Aglutinasi spermatozoa ialah penggumpalan atau perlekatan antara satu spermatozoa
dengan beberapa spermatozoa yang lain. Aglutinasi spermatozoa dapat disebabkan
18

oleh faktor imunologis dan non-imunologis. Cara membedakan keduanya dengan


mengukur titer antibodi yang terdapat pada pasangan suami isteri. Namun guna
informasi pendahuluan proses aglutinasi spermatozoa, dapat dilakukan cara :
Satu tetes sperma diberi garam fisiologis.
Kalau terjadi aglutinasi sejati, spermatozoa akan tetap melekat satu dengan yang
lain. Kalau dengan penambahan garam fisiologis spermatozoa lepas satu dengan
yang lain, maka aglutinasi tersebut adalah aglutinasi palsu.
Cara lain oleh Hellinga (1976)
Setetes sperma segar, setelah likuefaksi total, diletakkan pada objek glass, lalu
ditutup dengan gelas penutup. Sediaan dibiarkan tidak disentuh sedikitpun selama
paling tidak 1 jam. Pada sperma tertentu akan terjadi penggumpalan satu dengan
yang lain.
Macam-macam aglutinasi atau penggerombolan spermatozoa tersebut yaitu :
a. Aglutinasi ekor dan ekor
Pada keadaan ini ujung atau bagian ekor yang lebih proksimal bersentuhan atau
berlekatan satu dengan yang lain, sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini
dinamakan tail to tail agglutination (TT).
b. Aglutinasi kepala dan kepala
Pada keadaan ini kepala spermatozoa saling berlekatan atau bergerombol,
sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan head to head agglutination
(HH).
c. Aglutinasi kepala dengan ekor
Pada keadaan ini kepala satu spermatozoa atau lebih berlekatan dengan ekor
sebuah spermatozoa atau lebih. Ini dinamakan head to tail agglutination (HT).
d. Spermatozoa saling menggerombol atau melekat pada suatu sel muda
spermatozoa, epitel atau lain-lain benda pada sperma.
e. Spermatozoa dapat menggerombol seperti benang pada pinggir daerah sperma
tertentu. Ini dinamakan aglutinasi rantai (string agglutination).
6. Benda-benda khusus spermatozoa
Didalam sperma kecuali spermatozoa dan spermatozoa muda, terdapat benda-benda
khusus lainnya. Benda-benda itu berasal dari saluran genital atau kelenjar asesoria
atau benda-benda lain baik hidup maupun benda mati.
a. Benda-benda mati
- Sel epitil
Biasanya berupa sel epitil pipih, yang berasal dari lepasan sel pada saluran
urogenitalis. Sel pada traktus urogenitalis memang mudah lepas, apalagi kalau
terjadi proses keradangan, sehingga tambahan diagnostik untuk sesuatu
keradangan.
- Kristal-kristal
Kristal-kristal ini berasal dari kelenjar-kelenjar asesoria.kristal yang banyak
dijumpai pada sperma : fosfat, urat dan sitrat.
- Lemak
Lemak dalam sperma berasal dari kelenjar prostat, berbentuk bundar jernih.
Benda ini tak banyak artinya dalam klinis.
- Benda prostat
Berasal dari prostat, berbentuk bundar tepinya tidak rata, serta tidak berinti.
19

b. Benda-benda hidup
- Bakteri
Bakteri ini berasal dari infeksi traktus urogenitalis, benruknya tak nampak
jelas.
- Protozoa
Infeksi traktus urogenitalis oleh protozoa sering terjadi, misal Trichomonas,
amoeba dan Clamydia trachomatis.
- Jamur
Dapat dijumpaipad pasien yang dermatitis didaerah genitalia atau perineum.
4.4 Pemeriksaan Kimia
Karbohidrat yang ada dalam mani ialah fruktosa dan kadar fruktosa itu mempunyai
korelasi positif dengan kadar testosteron dalam tubuh. Penetapan kadar fruktosa
memakai reaksi Selivanoff sebagai dasar, pada reaksi itu fruktosa bereaksi dengan
resorcinol dengan menyusun warna merah.
Parameter
: Penetapan Fruktosa
Tujuan
: Untuk mengetahui dan menentukan kadar fruktosa dalam semen yang
bertalian dengan kadar testosteron.
Prinsip
: Fruktosa akan berubah menjadi furfural oleh pengaruh HCl dan
pemanasan, furfural yang terjadi akan berkondensasi dengan resorsinol menyusun
senyawa yang berwarna merah.
Reagensia
:
1. Larutan Ba(OH)2 0,3 N dibuat dengan melarutkan 47,5 g Ba(OH)2.8H2O dalam
1000 ml aqusdest.
2. Larutan ZnSO4 0,175 M dibuat dari 50 g ZnSO4.7H2O dalam 1000 ml aquadest.
3. Larutan resorcinol 0,1% dalam 100 ml alkohol 95%, larutan ini bertahan 2 bulan
bila disimpan dalan lemari es.
4. HCl 10 N dibuat dari 1 volume aquadest ditambah 6 volume HCl pekat.
5. - Standard fruktosa stock 50 mg fruktosa larutkan dalam 100 ml larutan asam
benzoat 0,2%.
- Standard fruktosa sebagai larutan kerja. 1 ml standard fruktosa stock diencerkan
dengan aquadest sampai 100 ml. Pada cara dicantumkan dibawah, larutan kerja
ini sesuai dengan 200 mg /dl fruktosa mani.
Prosedur Kerja :
1. Lakukan deproteinisasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih dahulu
mengencerkan 0,1 ml mani dengan 2,9 ml air. Kemudian tambah 0,5 ml larutan
Ba(OH)2, campur, tambahkan 0,5 ml larutan ZnSO4, campur lagi dan pusinglah
kuat-kuat.
2. Sediakan 3 tabung T (test), S (standard) dan B (blanko). Tabung T diisi 2 ml
cairan atas dari langkah 1, tabung S diisi 2 ml standard fruktosa larutan kerja dan
tabung B diisi 2 ml air/ aquadest.
Blanko

Standar

Sample

Aquadest

2ml

Standar

2ml

20

Sample

2ml

Resorsinol

2ml

2ml

2ml

HCL

6ml

6ml

6ml

3. Kepada tabung T, S dan B masing dibubuhkan 2 ml resorsinol dan 6 ml HCl.


4. Campur isi tabung masing-masing, panasilah dalam bejana air 90OC selama 10
menit.
5. Bacalah absorbansi T dan S terhadap B pada 490 nm.
6. Hitunglah kadar fruktosa dengan rumus AT/AS x 200 = mg / dl fruktosa mani.
Catatan :
Kadar fruktosa dalam mani normal berkisar antara 120-450 mg/dl dan fruktosa itu
berasal dari vesiculae seminales. Selain dipengaruhi oleh kadar testosteron dalam
tubuh, banyaknya fruktosa dalam mani juga mengalami perubahan oleh proses-proses
dalam vesiculae seminales dan ductuli ejaculatorii, pada hipoplasia dan radang
vesiculae seminales dan pada penyumbatan partial ductuli ejaculatorii kadar fruktosa
menurun. Penyumbatan ductuli ejaculatorii yang total berakibat kadar fruktosa dalam
mani menjadi nol.

21

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pemeriksaan sperma merupakan salah satu jalan yang termudah untuk mengetahui
tingkat kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan ini memberi
kesan, akan kemampuan seorang pria untuk memperoleh keturunan. Seorang pria dengan
tingkat kesuburan yang rendah atau steril sulit baginya untuk memperoleh keturunan.
Oleh karena hal tersebut diatas, maka seyogyanyalah seorang pria memeriksakan dirinya
untuk mengetahui tingkat kesuburannya.
Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan
pantangan (abstinensi) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikit-dikitnya selama 3 hari
(3 x 24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup
untuk suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik.
Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa.
Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh didinginkan
dibawah 20C atau dipanaskan diatas 40C, oleh karena kedua hal ini dapat mempengaruhi
motilitas dan viabilitas spermatozoa.

22

DAFTAR PUSTAKA
Koentjoro Soehadi.T, K.M.Arsyad, Analisis Sperma, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya,
FK Univ. Sriwijaya Palembang .Juli 1982.
Depkes RI, PusLabkes, Petunjuk Pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Lab.kes,1997.
Penuntun Laboratorium Klinik, R.Gandasoebrata, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1989
Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Frances.K.Widmann, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1995
Diktat Kimia Klinik Jilid I, Pusdiknakes, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1989
Ronald A.Sacher, Richard A. Mc.Pharson, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium,
Edisi 11, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

23

Anda mungkin juga menyukai