Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam suatu sediaan farmasi emulsifikasi merupakan sistim dua fase
yang salah satu cairannya terdispersi kedalam cairan lain dalam bentuk
tetesan kecil. Sediaan emulsi terdiri terbagi atas 4 tipe yaitu O/W, W/O,
O/W/O, W/O/W. Suatu sediaan emulsi dapat stabil jika di tambahkan
emulgator yang fungsinya untuk menstabilkan emulsi.
Secara normal emulsi dibentuk oleh pencampuran dua cairan yang
tidak saling bercampur. Tipe yang paling umum dari emulsi farmasi dan
emulsi kosmetik terdiri dari air sebagai salah satu fase dan minyak sebagai
atau lemak sebagai fase yang lainnya. Jika tetesan minyak didispersikan
didalam suatu fase air kontinu, emulsi tersebut merupakan tipe minyak dalam
air, dan jika minyak merupakan fase kontinu, emulsi tersebut merupakan tipe
air dalam minyak. Perubahan tipe minyak ini disebut inversi.
Ahli fisika kini menentukan emulsi sebagai suatu campuran yang
tidak stabil secara termodinamis, dari dua cairan pada dasarnya tidak
bercampur. Sifat ketidakstabilan emulsi wajib diketahui dan dipahami oleh
seorang ahli farmasi, seorang ahli farmasi dapat menggunakan pengetahuan
mereka mengenai ketidakstabilan suatu emulsi sebagai referensi dalam
merancang, memformulasi, meracik, hingga membuat sediaan emulsi yang
stabil dan layak digunakan oleh masyarakat. Sediaan emulsi dikatakan stabil
dan layak digunakan apabila dalam penyimpanan dua fase tidak berubah
menjadi dua cairan yang tidak saling bercampur, selain itu sediaan emulsi
tersebut mengandung formula yang rasional (Dirjen pom, 1979).
ketidakstabilan suatu sediaan emulsi sangatlah penting untuk
diketahui, khususnya bagi seorang ahli farmasi, agar seorang ahli farmasi
dapat membuat dan meracik sediaan emulsi yang stabil. Pada percobaan ini
kita akan mempelajari cara pembuatan emulsi dengan menggunakan
emulgator dari golongan surfaktan yaitu Tween 80 dan Span 80. Dalam
pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang

penting untuk diperlihatkan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak
dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan, misalnya perubahan volume,
perubahan warna dan pemisahan fase terdispersi, perlu diketahui maka
dilakukanlah percobaan ini.
1.2 Masud percobaan
Mengetahui dan memahami cara pembuatan emulsi dan hal-hal yang
mempengaruhi kestabilan emulsi
1.3 Tujuan percobaan
1. Menghitung jumlah emulgator yang digunakan dalam pembuatan
emulsi minyak.
2. Membuat emulsi menggunakan emulgator Na CMC dan Gom arab
3. Menentukan tipe emulsi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Teori Umum


Emulsi adalah suatu sistem yang secara termodinamika tidak stabil,
terdiri dari paling sedikit dua fasa sebagai globul-globul dalam fasa cair
lainnya. Sistem ini biasanya distabilkan dengan emuulgator (syamsuni,
2006).
Emulsi yang digunakan dalam bidang farmasi adalah sediaan yang
mengandung dua cairan immiscible yang satu terdispersi secara seragam
sebagai tetesan dalam cairan lainnya. Sediaan emulsi merupakan golongan
penting dalam sediaan farmasetik karena memberikan pengaturan yang
dapat diterima dan bentuk yang cocok untuk beberapa bahan berminyak
yang tidak diinginkan oleh pasien (Jenkins, 1957).
Dalam bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air.
Berdasarkan fasa terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu : (Ansel,
1989).
1. Emulsi minyak dalam air, yaitu bila fasa minyak terdispersi di dalam
fasa air.
2. Emulsi air dalam minyak, yaitu bila fasa air terdispersi di dalam fasa
minyak.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan
faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu
emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan.Salah satu
emulgator

yang

aktif

permukaan

atau

lebih

dikenal

dengan

surfaktan.Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antar muka


permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan
globul-globul fasa terdispersinya (Jenkins, 1957).
Teori terbentuknya emulsi: (Syamsuni, 2006).
Untuk megetahui proses terbentuknya emulsi dikenal empat macam
teori yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang
berbeda-beda.
a. Teori tegangan permukaan (surface tension)

Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis


yang disebut daya kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarikmenarik antar rmolekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya
kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair akan
terjadi perbedaantegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi.
Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan
permukaan (surfacetension). Dengan cara yang sama dapat dijelaskan
terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat
bercampur (immicibleliquid). Tegangan yang terjadi antara dua cairan
tersebut dinamakan tegangan bidang batas (interfacial tension). Semakin
tinggi perbedaan tegangan yangterjadi dibidang batas, semakin sulit kedua
zat car tersebut untuk bercampur.
Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan
garam-garam anorganik atau senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang
dengan penambahan senyawa organik tertentu, antara lain sabun (sapo).
Dalam teori dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan atau
menghilangkan tegangan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara
kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.
b. Teori orientasi baji (orienter wedge)
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan
adanya kelarutan selektif dar bagian molekul emulgator, ada bagian yang
bersifat suka air atau mudah larut dalam air, dan ada bagian yang suka
minyak atau mudah larut dalam minyak. Jadi, setiap molekul emulgator
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian emulgator yang suka air.
2. Kelompok lipofilik, yaitu bagian emulgator yang suka minyak.
Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang
disenanginya, kelompok hidrifil ke dalam air dan kelompok lipofil ke dalam
minyak. Dengan demikian, emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat
antara air dan minyak antar kedua kelompok tersebut akan membuat suatu
keseimbangan. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang
besarnya tidak sama. Harga keseimbangan ini dikenal dengan istilah HLB

(Hydrophyl Lipofhyl Balance), yaitu angka yang menunjukan perbandingan


antara kelompok hidrofil dengan kelompok lipofil. Semakin besar harga
HLB, berarti semakin banyak kelompok yang suka air, artinya emulgator
tersebu lebih mudah larut Dalam air dan demikian sebaliknya.Dalam tabel
ini dapat dilihat kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya.
Kegunaan emulgator dan harga HLB
Harga HLB
1-3

Kegunaan
Anti foaming agent

4-6

Emulgator tipe o/w

7-9

Bahan pembasah (wetting agent)

8-10

Emulgator tipe w/o

13-15

Bahan pembersih (detergent)

15-18

Pembantu kelarutan (solubilizing agent)

Nilai HLB beberapa tipe surfaktan


Surfaktan

Nilai Keterangan

Tween 20 (polioksitile sorbitan monolaurat)

HLB
16,7 Cairan

Tween 40 (polioksitilen sorbitan monopalmitat) 15,6

Cairan minyak

Tween 60 (polioksitilen sorbitan monostearat)

14,9

Semi padat seperti

Tween 65 (polioksitilen sirbitan tristearat)

10,5

minyak

Tween 80 (polioksitilen sorbitan monoleat)

15,0

Padat seperti lilin

Tween 85 (polioksitilen sorbitan trioleat)

11,0

Cair seperti minyak

Arlacel atau span 20 (sorbitan monolaurat)

8,6

Cair seperti minyak

Arlacel atau span 60 (sorbitan monostearat)

4,7

minyak

Arlacel atau span 80 (sorbitan monooleat)

4,3

Cairan minyak

Arlacel 83 (sorbitan)

3,7

Padat seperti malam

Gom

8,0

Cairan minyak

TEA (trietanolamin)

12,0

Cairan minyak

Untuk menentukan komposisi emulgator sesuai dengan nilai HLB


yang dikehendaki, dapat dilakukan dengan perhitungan.

Rumus 1:
A% b =

(X HLBb)
(HLBa HLBb) x 100%
B% a

= (100% - A%)

Keterangan : X = Harga HLB yang diminta (HLB butuh)


A =Harga HLB yang tinggi
B = Harga HLB yangh rendah
Rumus 2 :

(B1 x HLB1 ) + (B2 xHLB2) = (BcampuranxHLBcampuran)


c. Teori Film Plastic (interfacial film)
Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas
antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan
membungkus partikel fasedispers atau fase internal. Dengan terbungkusnya
partikel tersebut, usaha antarpartikel yang sejenis untuk bergabung menjadi
terhalang dengan kata lain, fase dispers menjadi stabil.Untuk memberikan
stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yangt dipakai adalah:
1. Dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak.
2. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers.
3. Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua
partikel bdengan segera.
d. Teori lapisan listrik rangkap (electric double layer)
Jika minyak terdispersi kedalam air, satu lapia air yang langsung
berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan
lapisanberikutnya akan memunyai muatan yang berlawanan denagn lapisan
didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi
oleh2 benteng lapisan istrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan
menolak setiap usaha partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan
menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi
setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Denagn demikian
antara sesama partikel akan tolak menolak, dan stabilitas emulsi akan
bertambah.

Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara
dibawah ini:
1. Terjadinya ionisasi molekul pada permukaan partikel.
2. Terjadinya absorbs ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
3. Terjadinya gesekan pertikel dengan cairan disekitarnya.
Mekanisme kerja emulgator surfaktan, yaitu: (Parrot, 1970).
1. Membentuk lapisan monomolekuler ; surfaktan yang dapat menstabilkan
emulsi bekerja dengan membentuk sebuah lapisan tunggal yang
diabsorbsi molekul atau ion pada permukaan antara minyak/air. Menurut
hukum Gibbs kehadiran kelebihan pertemuan penting mengurangi
tegangan permukaan. Ini menghasilkan emulsi yang lebih stabil karena
pengurangan sejumlah energi bebas permukaan secara nyata adalah fakta
bahwa tetesan dikelilingi oleh sebuah lapisan tunggal koheren yang
mencegah penggabungan tetesan yang mendekat.
2. Membentuk lapisan multimolekuler ; koloid liofilik membentuk lapisan
multimolekuler disekitar tetesan dari dispersi minyak. Sementara
koloidhidrofilik diabsorbsi pada pertemuan, mereka tidak menyebabkan
penurunan tegangan permukaan. Keefektivitasnya

tergantung pada

kemampuan membentuk lapisan kuat, lapisan multimolekuler yang


koheren.
3. Pembentukan kristal partikel-partikel padat ; mereka menunjukkan
pembiasang anda yang kuat dan dapat dilihat secara mikroskopik
polarisasi. Sifat-sifatoptis yang sesuai dengan kristal mengarahkan
kepada penandaan KristalCair. Jika lebih banyak dikenal melalui
struktur spesialnya mesifase yang khas, yang banyak dibentuk dalam
ketergantungannya dari struktur kimia tensid/air, suhu dan seni dan cara
penyiapan emulsi. Daerah strukturisasi kristal cair yang berbeda dapat
karena pengaruh terhadap distribusi fase emulsi.
4. Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah satu sediaan yang terdiri
dari dua cairan tidak bercampur, dimana yang satu terdispersiseluruhnya
sebagai globula-globula terhadap yang lain. Walaupun umumnya kita
berpikir bahwa emulsi merupakan bahan cair, emulsi dapat dapat

diguanakan untuk pemakaian dalam dan luar serta dapat digunakan


untuk sejumlah kepentingan yang berbeda.
Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan emulgator yang
mencegah koslesensi, yaitu penyatuan tetesan besar dan akhirnya
menjadi satu fase tunggal yang memisah. Bahan pengemulsi (surfaktan)
menstabilkan dengan cara menempati daerah antar muka antar tetesan
dan fase eksternal dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel
yang akan brekoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan antar
permukaan dari fase dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel
yang akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan antar
permukaan dari fase, hingga meninggalkan proses emulsifikasi selama
pencampuran (Jenkins, 1957).
Menurut teori umum emulsi klasik bahwa zat aktif permukaan
mampu menampilakn kedua tujuan yaitu zat-zat tersebut mengurangi
tegangan permukaan (antar permukaan) dan bertindak sebagai penghalang
bergabungnya tetesan karena zat-zat tersebut diabsorbsi pada antarmuka atau
lebih tepat pada permukaan tetesan-tetesan yang tersuspensi. Zat pengemulsi
memudahkan pembentukan emulsi dengan 3 mekanisme: (syamsuni, 2006).
1.

Mengurangi tegangan antarmuka-stabilitas termodinamis.

2.

Pembentukan suatu lapisan antarmuka yang halus-pembatas mekanik


untukpenggabungan.

3.

Pembentukan lapisan listrik rangkap-penghalan gelektrik untuk mendeka


ti partikel.
HLB adalah nomor yang diberikan bagi tiap-tiap surfaktan. Daftar di
bawah ini menunjukkan hubungan nilai HLB dengan bermacam-macam tipe
sistem:
Nilai HLB
36
79
8 18
13 15
15 18

Tipe sistem
A/M emulgator
Zat pembasah (wetting agent)
M/A emulgator
Zat pembersih (deterjent)
Zat penambahan pelarutan

Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan maka akan makin lipofil
surfaktan tersebut, sedang makin tinggi nilai HLB surfaktan akan makin
hidrofil. (Anief, 2000).
Cara menentukan HLB ideal dan tipe kimi surfaktan dilakukan
dengan eksperimen yang prosedurnya sederhana, ini dilakukan jika
kebutuhan HLB bagi zat yang diemulsi tidak diketahui. Ada 3 fase: (Anief,
2007).
a.Fase I
Dibuat 5 macam atau lebih emulsi suatu zat cair dengan sembarang
campuran surfaktam, dengan klas kimi yang sama, misalnya campuran Span
20 dan Tween 20. Dari hasil emulsi dibedakan salah satu yang terbaik
diperoleh HLB kira-kira.Bila semua emulsi baik atau jelek maka percobaan
diulang dengan mengurangi atau menambah emulgator.
b. Fase II
Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB di sekitar HLB
yang diperoleh dari fase I. dari kelima emulsi tersebut dipilih emulsi yang
terbaik maka diperoleh nilai HLB yang ideal.
c.Fase III
Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB yang ideal dengan
menggunakan bermacam-macam surfaktan atau campuran surfaktan.dari
emulsi yang paling baik, dapat diperoleh campuran surfaktan mana yang
paling baik (ideal).
Ketidakstabilan dalam emulsi farmasi dapat digolongkan sebagai
berikut: (Anief, 2007)
1. Flokulasi dan creaming
Creaming merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis
cairan, dimana masing-masing lapis mengandung fase dispers yang berbeda.
Nama cream berasal dari peristiwa pemisahan sari susu daru susu (milk).
Sari susu tersebut dapat dibuat Casein, keju dan sebagainya.
2. Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking atau breaking)

10

Creaming adalah proses yang bersifat dapat kembali, berbeda dengan


proses cracking (pecahnya emulsi) yang bersifat tidak dapat kembali.Pada
creaming, flokul fase dispers mudah didispers kembali dan terjadi campuran
homogen bila digojok perlahan-lahan. Sedang pada cracking, pengojokan
sederhana akan gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam
bentuk emulsi yangstabil.
II.2 Uraian Bahan
1. Parafin (Dirjen, 1995)
Nama latin
: Paraffinum
Sinonim
: Parafin
Pemerian
: Hablur tembus cahaya atau agak buram ;
tidak berwarna atau putih ; tidak berbau ;
Kelarutan

tidak berasa ; agak berminyak.


: Tidak larut dalam air dan dalam
etanol mudah larut dalam kloroform, dalam
eter, dalam minyak menguap dalam hampir semua
jenis minyak

lemak

hangat; suka larut dalam

etanol mutlak.
Khasiat

: Laksativum yaitu obat yang dapat mempercepat


gerakan peristaltikdidalam usus

sebagai reflex dari rangsangan langsung


terhadap dinding usus dengan demikian
menyebabkan pembuangan air besar
(defekasi)
2. Na CMC (Dirjen, 1995)
Nama Resmi
: Carboxymethyl cellulosum Natricum
Nama lain
: Karboksil metilsellulosa Natrium
Rumus Molekul
: C20H6C4
Pemerian
: serbuk atau granul, putih sampai krem,
Higroskopik.
Kelarutan

: mudah terdispersi dalam air membentuk larutan


Kloidal, tidak larut dalam etanol, dalam eter, dan
dalam pelarut organik lain

Khasiat

: Zat tambahan sebagai emulgator

11

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup rapat

3. Gom Arab (Dirjen, 1979)


Nama Resmi
: Gummi Acaciae
Nama Lain
: Gom akasia
Pemerian
: hampir tidak berbau, rasa tawar seperti lendir
Kelarutan
: mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang
Kental dan tembus cahaya, praktis tidak larut
dalam etanol (95%)
Khasiat

: Zat Tambahan sebagai emulgator

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapar

4. Propil Paraben (Dirjen, 1995)


Nama resmi
: Propylis Parabenum
Nama lain
: propil paraben
Rumus molekul
: C10H12oO3
Pemerian
: Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna
Kelarutan
: sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam
Etanol dan dalam eter, sukar larut dalam air
Mendidih
Khasiat
: Pengawet
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
5. Metil Paraben( Dirjen, 1995)
Nama Resmi
: Methylis Parabenum
Nama lain
: Metil paraben
Rumus Molekul
: C10H12oO3
Pemerian
: hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur
Putih, tidak berbau atau berbau khas lemah,
Mempunyai sedikit rasa terbakar
Kelarutan
: sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam
Karbon tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan
Dalam eter.
Khasiat
: Pengawet
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
6. Aqua destilata (Dirjen,1979)
NamaResmi
: Aqua Destilata
Sinonim
: Air Suling
Rumus Molekul
: H2O
Pemerian
: cairanjernih, tidakberwarna, tidakberbau, tidak
mempunyai rasa

12

Kegunaan

: sebagai fase air

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat dan cegah


pemaparan terhadap panas berlebih.
BAB III
METODE KERJA

III.1

Perhitungan Bahan

Larutan Stok Na CMC 10 ml


10
x 10=1 gr
Na CMC = 100
Air
= 10 1 = 9 ml
Fase Minyak
20
x 30=6 gr
Paraffin
= 100
Propil paraben =

0,5
x 30=0,15 gr
100

Fase Air
Na CMC

10
x 30=3 gr
100

Gom arab

5
x 30=1,5 gr
100

Metil Paraben =
Air ad 30 ml

0,3
x 30=0,09 gr
100

= 30 (6+0,15+3+1,5+0,09)
= 30 10,74 = 19,26 ml

III.2 Alat Dan Bahan


III.2.1 Alat-alat yang digunakan :
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Batang pengaduk
Gelas ukur 100 ml (Pyrex)
Gelas kimia 50 ml (Pyrex)
Hot plate
Neraca analitik (Citizen)
Ultraturax

III.2.2 Bahan-bahan yang digunakan :

13

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
III.3

Aluminium foil
Aquadest
Gom arab
Metil paraben
Na CMC
Parrafin cair
Propil paraben

Cara Kerja
1. Disiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dihitung bahan yang akan digunakan
3. Ditimbang Na CMC 1 gr dan 3 gr, parafin cair 6 gram, gom arab 1,5
gram, metil paraben 0,09, propil paraben 0,15.
4. Dibuat larutan stok Na CMC sebanyak 10 ml dengan melarutkan Na
CMC 1 gram dengan menggunakan air 9 ml
5. Dilarutkan gom arab dengan air panas secukupnya kemudian
didiamkan selama 10 menit
6. Dibasahi Na CMC dengan air secukupnya kemudian ditambahkan gom
arab sedikit demi sedikit
7. Dicampurkan metil paraben dengan Na CMC dan Gom Arab.
Campuran ini sebagai fase air
8. Ditambahkan larutan stok Na CMC 10 ml ke dalam fase air
9. Dilarutkan propil paraben dengan menggunakan parafin cair.
Campuran ini sebagai fase minyak.
10. Dimasukkan fase minyak ke dalam fase air
11. Dicampurkan kedua fase tersebut dengan menggunakan ultra turax
12. Dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket yang disertai dengan
aturan pakai.

BAB IV
PEMBAHASAN

14

Emulsifikasi merupakan sistim dua fase yang salah satu cairannya


terdispersi kedalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil. Dalam praktikum ini di
buat emulsi dengan HLB 7 tujuannya untuk melihat apakah emulsi tersebut dapat
stabil pada HLB tersebut.
Pada percobaan yang dilakukan yaitu menimbang semua bahan yang
digunakan yaitu Na CMC, gom arab, parafin cair, metil paraben dan propil
paraben. Gom arab dan Na CMC merupakan emulgator untuk menstabilkan
emulsi. Fase minyak pada sediaan ini adalah parafin dan propil paraben
sedangkan fase air adalah Na CMC, gom arab dan metil paraben. Fase air dan fase
minyak kemudian dipanaskan pada ultraturax sambil diaduk tujuannya untuk
menghasilkan fase minyak dan fase air yang yang homogen, keduanya dicampur
di dalam gelas beker dan kemudian diaduk menggunakan ultraturax selama 2
menit agar kedua fase tercampur, setelah 2 menit sediaan emulsi dimasukkan
kedalam gelas ukur untuk mencegah agar tidak terjad penguapan gelas ukur yang
berisi emulsi ditutup dengan almunium foil, kemudian diamati perubahan yang
terjadi pada menit ke 10, 20, dan 30 menit dan dicatat hasil yang diperoleh.
Pada waktu 3 menit pertama diperoleh tinggi busa 2 ml, volume pekat 17
ml dan volume encer 7 ml. Sedangkan pada waktu 10 menit tinggi busa yang
diperoleh 2 ml, volume pekat 14 ml dan volume encer 10 ml. Selanjutnya pada
waktu 20 menit tinggi busa yang diperoleh 3 ml, volume pekat 10 ml dan volume
encer 3 ml, dan pada waktu 30 menit tinggi busa yang diperoleh 4 ml, volume
pekat 7 ml dan volume encer 15 ml.
Hasil yang diperoleh pada percobaan tersebut adalah pada menit ke 10
terjadi perubahan tinggi emulsi pada gelas ukur yang sebelumnya tinggi awalnya
ml berubah menjadi 26 ml, pada menit ke 20 tinggi emulsi menjadi 24 ml dan
setelah 30 menit terdapat pemisahan dan tinggi emulsi menjadi 22 ml, tinggi
pekatnya 20 ml dan tinggi encer 2 ml.
Pada teori emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat, terdispersi kedalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi adalah sediaan yang mengandung
dua zat yang tidak bercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang saat

15

terdispersi menjadi butir-butir yang kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini
tidak stabil (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah.
Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar
memperoleh emulsi yang stabil
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film (lapisan) disekeliling
butir-butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah
terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispersi sebagai fase terpisah.
Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu minyak dalam air dan air dalam minyak
Jika dibandingkan dengan teori pada percobaan ini tidak menghasilkan
emulsi yang stabil karena masih terjadi pemisahan pada 30 menit. Beberapa
kemungkinan kesalahan yang terjadi yaitu pada pencampuran terlalu cepat dan
kurangnya emulgator yang ditambahkan.

BAB V
PENUTUP

16

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Emulgator yang digunakan dalam pembuatan yaitu Na CMC dan Gom
arab. Kedua emulgator ini berada pada fase air
2. Tipe emulsi yang didapat yaitu emulsi minyak dalam air. Didapat emulsi
tipe minyak dalam air karena dilihat dari kondisi fisik dan perhitungan
bahan yang memiliki jumlah fase air yang lebih banyak dari fase minyak
V.2 Saran
Untuk praktikan harus diperhatikan dalam menimbang dan mengukur
bahan, lebih teliti dalam melakukan perhitungan serta berhati-hati dalam
menggunakan alat-alat yang ada di laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, 2007. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM
Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ke III. Jakarta : Depkes RI
Dirjen POM, 1995. Farmakope Indonesia Edisi Ke IV. Jakarta : Depkes RI

17

Syamsuni, H. 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Buku Kedokteran


Syamsuni, H. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta : Buku
Kedokteran