Anda di halaman 1dari 3

Nama: Taufiq Zulyasman

NIM

:2014730089
1. Definisi pruritus (Gatal)

Pruritus atau gatal didefinisikan sebagai sensasi tidak


menyenangkan pada kulit yang memicu keinginan untuk
menggaruk.

2. Mekanisme Terjadinya Gatal


Patomekanisme terjadinya bintul merah pada kulit dapat dijelaskan dengan
respon imun yang melibatkan peranan limfosit, langerhans epidermal, eosinofil,
dan IgE secara global. Leung (1996) menyatakan mekanisme timbulnya reaksi
radang tergantung pada IgE sudah terpapar dengan alergen, sel mast yang
permuakaannya mengandung IgE akan mengeluarkan beberapa mediator,
sitokin, dan faktor kemotaktik leukosit (immediate reaction) setelah itu timbul
late cphase reaction (LPR) yang juga dipengaruhi oleh IgE dan ditandai dengan
timbulnya beberapa molekul adhesi pada endotel pembuluh darah sehingga
menimbulkan infiltrat sel eosinofil, netrofil, sel mononuklear ke jaringan
setempat yang akan menimbulkan reaksi radang IL-1 dan TNF-a berperan
timbulnya molekul ELAM-1, ICAM-1, dan VCAM-1 sehingga terjadinya infiltrasi sel
leukosit ke jaringan yang meradang tersebur, sehingga mengakibatkan
bertambahnya sel radang di tempat tersebut. Selain itu, didapatkan pula
adanya korelasi peningkatan jumlah VCAM-1 dengan jumlah sel eosinofil
termasuk MBP, EPO, ECP dan disimpulkan bahwa ekspresi VCAM-1 akan
meningkatkan pengumpulan dan infiltrat sel-sel eosinofil ke tempat radang ,
sehingga memperburuk lesi dermatitis atopik. Ekspresi molekul adhesi ini dapat
dihambat oleh antibodi IL-1 dan TNF-a akan meningkatkan jumlah sel-sel radang
ke tempat terjadinya radang. Terjadinya kelainan kulit pada dermatitis atopik
juga ditentukan oleh adanya trauma pada kulit. Trauma makanis pada
keratinosit menyebabkan dikeluarkannya sitokin yang dapat menginduksi
peradangan melalui pelepasan IL-1, TNF-a, dan IL-4. Sitokin tersebut selanjutnya
menginduksi molekul adhesi (misalnya ELAM-1, ICAM-1 dan VCAM-1) yang
menyebabkan limfosit, makrofag, dan eosinofil masuk ke dalam peradangan
kulit. Faktor pelepasan histamin ditemukan untuk mengaktivasi basofil melalui
peningkatan IgE. Jadi penderita yang hipersensitif terhadap makanan dan
terpajan untuk memproduksi antigen sitokin (faktor pelepasan histamin)
interaksi dengan IgE akan mengikat pada permukaan basofil dan menyebabkan
terjadinya pelepasan histamin. Proses inflamasi terjadi saat mediator histamin
dilepaskan ketika antigen memasuki area kulit yang spesifik. Secara lokal,
histamin yang dilepaskan akan menimbulkan vasodilatasi yang menginduksi
timbulnya kemerahan dan peningkatan permeabilitas kapiler setempat sehingga
dalam beberapa menit kemudian akan terjadi pembengkakan pada area yang

berbatas jelas. Histamine yang ada dalam tubuh berasal dari mastosit dan
basofil. Aktifitas histamine terjadi bila histamine berikatan dengan reseptor pada
target cell. Histamine dapat menyebabkan sel endothel memproduksi relaksan
otot polos seperti prostasiklin dan oxida nitrat yang mengakibatkan vasodilatasi.
Aktivitas histamine ini juga menimbulkan edema, flushing, dan pruritus sebagai
triple response of lewis. Histamine juga menarik eosinofil dan neutrofil ke arah
tertentu (chemotaksis). Pelepasan neutrofil yang keluar dari pembuluh darah
menuju ke jaringan yang mengalami inflamasi mengakibatkan terjadinya edema
oleh neutrofil yang dipusatkan pada lokasi inflamasi. Histamine ini juga bersifat
gatal sehingga bercak merah yang dialami penderita juga diiringi oleh sensasi
pruritus. Histamin tersebut merangsang sel-sel saraf pada kulit sehingga
menimbulkan rasa gatal.
Skuama
Skuama merupakan lapisan tanduk dari epidermis mati yang menumpuk pada
kulit yang dapat berkembang sebagai akibat perubahan inflamasi. Keadaan ini
ditemukan pada psoariasis

3. Mengapa rasa gatal Hanya terdapat di bagian lipatan kulit


saja?

lesi pada kulit memperlihatkan adanya edema dan berbagai


infiltrasi sel mononuklear dan eosinofil serta penimbunan cairan
dalam kulit (membentuk vesikel-vesikel yang jelas terlihat secara
klinis). Pecahnya vesikel kecil dalam jumlah banyak ini
mengakibatkan terbentuknya krusta dan kulit menjadi bersisik.
Perubahan ini dan pruritus berat yang mendahului dan menyertai
erupsi, terjadi karena kulit sangat kering.Pada keadaan ini terjadi
hambatan pengeluaran keringat dan retensi keringat yang
menimbulkan gatal-gatal berat yang disebabkan oleh panas.
Selain itu, sekresi kelenjarsebasea berkurang, dan kulit
memperlihatkan ambang rangsang pruritus yang rendah dan
meningkatnya kecenderungan likenifikasi (penebalan kulit dengan
garis-garis kulit terlihatlebih nyata). Kulit kering terjadi karena
kadar lipid di epidermis berkurang dan kehilangan airlewat
epidermis yang meningkat

Referensi
1. Kresno, Siti Boedina. 2010. IMUNOLOGI: Diagnosis dan Prosedur
Laboratorium. Edisi Kelima.Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
2. Freddberg IM, Elsen AZ, Wolff K, et al: Fitzpatrick`s Dermatology
General Medicine, 6th edition. New york: McGraw-Hill, 2003.
3.