Anda di halaman 1dari 11

DASAR DASAR EKOLOGI

Oleh : Abdul Latief Burhan


PSL Universitas Airlangga
Email: burhanltf@yahoo.com

PENDAHULUAN
Alam semesta yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa
mengandung prinsip-prinsip alami yang telah ada dan diatur oleh suatu
mekanisme keteraturan, interaksi (saling mempengaruhi), interdipendensi
(saling ketergantungan), kompetisi, distribusi dan adanya faktor-faktor
pembatas yang secara keseluruhan berproses menurut kaidah-kaidah alami
secara terus menerus, hingga berakhirnya zaman ini. Manusia bertugas
mengelola seluruh isi alam semesta untuk kemanfaatan dalam kehidupan
secara berkelanjutan, dengan tetap berpegang pada prinsip dan konsep
alami agar kemanfatan dan kualitasnya tetap terjaga dan terpelihara
sepanjang masa. Prinsip dan proses ekologis berlangsung secara alami
dalam kaidah-kaidah fitrah yang terus menerus hingga akhir zaman di
planet bumi. Prinsip keberkanjutan dan keseimbangan system alam terjadi
dengan sendirinya atas kekuasaan pencipta kehidupan yaitu Allah, Tuhan
seru sekalian alam,
Pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang
telah banyak dikembangkan dalam banyak negara, termasuk negara
Republik Indonesia, mempunyai kata kunci yaitu ekosistem atau sistem
ekologi. Kalimat ini sudah menjadi 'jargon' yang sering dibahas dalam
perencanaan pembangunan wilayah ekosistem (orientasi pendekatan
ekosistem), yang mendasarkan pada sifat integrasi atau keterpaduan antar
sektor, yang dikenal sebagai pendekatan holistik, pendekatan lintas sektor
maupun program pembangunan berwawasan lingkungan. Model
pendekatan ekosistem telah banyak pula dikembangkan dengan berbagai
program komputasi dan permodelan matematika, yang pada dasarnya
bertumpu pada asas suitabilitas dan elastisitas komponen-komponen
ekosistem yang ada. Cara pendekatan holistik yang digunakan juga dipakai
sebagai cara mengkaji secara integratif/ terpadu atas suatu permasalahan
DSR-EKO

lingkungan hidup, dengan pendekatan analisis dari berbagai sektor/


disiplin ilmu yang terkait, melalui metode-metode kompilasi dan
modifikasi maupun metode Delphi yang digunakan untuk jenis kasus
lingkungan tertentu yang kompleks.
RUANG LINGKUP
Seorang biologist dari Jerman (1869 M) Ernest Haeckel untuk
pertama kalinya memperkenalkan istilah ekologi. Arti harfiahnya adalah
oikos = rumah atau tempat tinggal/habitat, dan logos = telaah , studi
ataupun kajian. Secara umum ekologi dapat diartikan sebagai studi tentang
interaksi antara individu/kelompok mahluk hidup dengan lingkungannya.
Hubungan timbal balik saling mempengaruhi (interaksi) tersebut, juga
bersifat interdependensi yang menuju pada keseimbangan sistem ekologi
secara alami (steady state). Perkembangan yang pesat disiplin ekologi ,
telah memperkenalkan berbagai bidang ilmu, diantaranya biologi
lingkungan (environmental biology) dan ilmu-ilmu lingkungan
(environmental sciences). Odum dan Cox (1971) memberikan arti ekologi
adalah studi tentang struktur dan fungsi ekosistem. Sedangkan lingkungan
secara umum dapat diartikan sebagai lingkungan alami dan lingkungan
binaan, atau lingkungan biotis dan lingkungan abiotis, ataupun lingkungan
geobiofisikokimia, lingkungan sosiobudaya & lingkungan sosioekonomi,
dan beberapa arti lainnya yang berdasarkan pada pokok bahasan yang
dikaji dalam ruang lingkup disiplin ekologi..
Disiplin ekologi berasal dari biologi, dalam 'kue lapis biologi'
secara vertikal (morfologi, anatomi, fisiologi, genetika, ekologi dsb.) dan
secara horizontal (entomologi, mikrobiologi, botani, zoologi dsb.) yang
mempunyai ruang lingkup bahasan seperti dalam 'spektrum biologi' (sel jaringan - organ - sistem organ - organisme/individu populasi - komunitas ekosistem dan biosfer ). Dengan demikian studi ekologi dimulai dari
tingkat populasi sampai komunitas, ekosistem dan biosfer yang dalam
jangkauan luas, berupaya untuk mengungkap rahasia sistem kehidupan di
alam semesta raya ini. Tampaknya seorang ecologist merupakan integrator
berbagai disiplin ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kehidupan mahluk
hidup dan ekosistemnya, untuk mampu mengerti dan memahami
lingkungan alam dan pencipta alam semesta ini.

DSR-EKO

Pembagian dasar lingkungan alami secara garis besar merupakan


interaksi dan interdependensi antara atmosfer, biosfer, hydrosfer, lithosfer,
dan pedosfer. Sedangkan bidang kajian ekologi dapat dibagi menjadi
autekologi (studi interaksi individu dengan lingkungannya) dan sinekologi
(studi kelompok/populasi dengan lingkungannya), kemudian secara luas
dibagi berdasarkan taksonomi ekologi yaitu ekologi hewan, tumbuhan,
serangga, mikroba, manusia dsb, lalu yang berdasar habitat ekologi dibagi
menjadi ekologi pantai, ekologi sungai/danau, erkologi estuaria, ekologi
bahari, ekologi hutan, ekologi pulau, ekologi landscap/bentang alam,
ekologi kota-sosial dsb. Disamping itu, ekologi mempunyai kaitan erat
dengan disiplin ilmu lainnya, misalkan ilmu fisika, ilmu kimia,
matemayika, manajemen, geologi, ilmu sosial, ilmu budaya dsb, terutama
bila subyek kajiannya adalah dimensi kehidupan manusia di planet bumi
yang hanya satu ini (only one earth).
Wilayah ekosistem atau lingkungan hidup pada dasarnya tidak
memiliki batas yang jelas, sebagaimana batas administrasi lokasi yang
mempunyai batas lokasi yang jelas. Dalam ekosistem dikenal batas
ekologis yang dapat berupa batasan tumpang tindih antara dua atau lebih
komunitas biotis yang secara geografis berdekatan, misalkan pantai, sungai,
gunung, pulau, hutan, lembah/bukit dan lainnya. Di samping itu juga
dikenal wilayah ekoton, yaitu percampuran dari berbagai sifat biofisik dari
dua atau lebih tipe ekosistem yang berbeda dan saling berbatasan dalam
lokasi geografis. Dalam lokasi peralihan atau percampuran tersebut akan
muncul sifat campuran interaktif dari berbagai tipe biotis dan abiotis yang
menyebabkan kawasan tersebut rentan terhadap perubahan habitat (tempat
tinggal organisme di alam) atau relung/niche (perilaku organisme dalam
habitatnya) atau ekosistemnya bersifat labil. Misalkan ekosistem muara,
ekosistem hutan bakau, ekosistem lereng gunung ekosistem dataran rendah,
ejosistem pegunungan, ekosistem danau , ekosistem pesisir dsb.
APLIKASI EKOLOGI
Dalam perkembangan sain dan teknologi serta teknik pengelolaan
ekosistem dalam biosfer, membutuhkan beberapa konsep-konsep ekologi
yang memuat asas keberlanjutan. Artinya, proses-proses alami yang terjadi
tidak dapat dihentikan atau diatur oleh manusia, dan dalam dimensi waktu
DSR-EKO

dan ruang seluruh proses- proses alam dan sebab-akibat yang ada, terjadi
begitu saja. Inilah salah satu bentuk atau bukti kekuasaan Tuhan atas bumi
dan seisinya. Untuk itulah maka aplikasi ekologi dibutuhkan untuk
melakukan pengelolaan sumber alam dan lingkungan bagi kemanfaatan
manusia seluruhnya secara berkelanjutan. Upaya mengelola alam semesta
ini harus didasarkan pada kaedah, konsep, dan prinsip ekologi, agar dapat
dipelihara kemanfaatan alam semesta atau ekosistem, serta menghindari
terjadinya pencemaran maupun kerusakan lingkungan yang dapat
merugikan berbagai kehidupan dan ekosistemnya.
Beberapa bentuk aplikasi ekologi adalah pengelolaan lingkungan
hidup (PLH), penyusunan tata ruang ekosistem, perencanaan wilayah/kota,
memelihara keseimbangan ekosistem binaan, pengendalian pencemaran
dan kerusakan lingkungan, pengelolaan DAS (daerah aliran sungai),
konservasi tanah dan air, Ekologi perairan, Ekologi pesisir dan laut,
Ekologi hutan, Amdal, Audit lingkungan dan EMS (Environmental
Management System). Penerapan sistem ekologi pada berbagai bidang
tersebut menggambarkan adanya keterkaitan antar dan inter disiplin ilmu
maupun lintas sektor pembangunan dalam suatu model dinamika, dengan
indikator perubahnya dapat diidentifikasi secara nyata dan kuantitatif. Cara
pendekatan terpadu ini sangat penting untuk perencanaan wilayah maupun
untuk penyusunan berbagai model simulasi komputer. Penggunaan sistem
ekologi sebagai dasar perencanaan pembangunan dan lingkungan dapat
memberikan manfaat jangka panjang dalam pengelolaan sumberdaya dan
lingkungan, agar kelestarian fungsinya dapat terus menopang keterlanjutan
kualitas kehidupan di bumi ini. Di samping itu perlu dikembangkan terus
penggunaan sistem ekologi bagi kebutuhan berbagai kehidupan manusia
untuk mencapai kesejahteraan secara arif dan bijak.
PRINSIP DASAR
Mahluk hidup di alam semesta tidak akan dapat hidup sendiri dan
terlepas dari faktor lainnya. Kelangsungan semua mahluk hidup saling
dipengaruhi dan ketergantungan dengan berbagai variasi faktor
disekelilingnya. Hubungan antar individu/populasi dengan habitat atau
relung hidupnya, akan kompleks, spesifik dan beraneka, bahkan bisa
menjadi rumit keterkaitan antar komponen yang ada dalam suatu
DSR-EKO

ekosistem. Pemahaman dalam analisis ekosistem tersebut dapat dijelaskan


melalui berbagai konsep dan prinsip ekologi, yang mengandung kaidah,
asas, dalil dan prinsip yang terjadi di alam semesta. Istilah hukum alam
yang banyak ditulis pada dasarnya merupakan bentuk fenomena alami yang
dapat dikaji dan dibuktikan kebenarannya, dan kejadian itu dapat terjadi
begitu saja, karena kekuatan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada setiap habitat alami akan mengandung unsur hayati dan nonhayati yang berinteraksi, sehingga terbentuk suatu sistem ekologi. Sebagai
satuan fungsional dasar, ekosistem mempunyai komponen autotropik
(dapat membuat makanan dengan fotosintesis) dan heterotropik ( tidak
dapat fotosintesis dan harus memakan lainnya). Sedangkan struktur
penyusun ekosistem terdiri atas bahan non hayati seperti, air, uadara, tanah,
iklim, sinar matahari, curah hujan dan lainnya, serta kelompok hayati
seperti, produsen/ autotrof, konsumen/ heterotrof dan pengurai/
decomposer yang keseluruhannya berproses dalam rangkaian tak terputus
yang disebut siklus materi dalam rantai makanan (food chains). Dalam
skala biosfer siklus tersebut dikenal sebagai siklus biogeokimiawi, yang
memutar siklus unsur-unsur kimia seperti, unsur-unsur karbon, oksigen,
sulfur, hidrogen dan nitrogen, untuk dapat menyediakan kebutuhan mahluk
hidup.
Pemisahan komponen ekosistem dapat pula didasarkan pada pola
nutrisi dan sumber enerji yang digunakannya. Apabila berbagai rantai
makanan di alam terjalin dalam rangkaian saling menyilang disebut sebagai
jaring makanan (food web). Berbagai jenis biota yang ada dalam habitat
alam, melangsungkan hidupnya dengan cara saling memakan antara
predator (pemakan) dan prey (yang dimakan) dalam keserasian dan
keseimbangan alami. Kompetisi dan asosiasi dapat terjadi diantara jenis
biota tersebut, yang dapat bersifat saling menguntungkan (simbiosis
mutualisme), ada yang dirugikan atau diuntungkan (komensalisme), saling
menunjang/ menguntungkan (sinergisme) atau saling mengalahkan/
mematikan (kompetisi alami). Keserasian dalam keseimbangan berbagai
jenis biota tersebut akan menghasilkan perilaku spesifik biota dalam
habitatnya, yang dikenal sebagai relung/ niche ekologis.
Siklus materi di alam yang dimulai dari produsen, berbagai
konsumen dan diakhiri oleh dekomposisi oleh bakteri, biota tanah
DSR-EKO

digambarkan dalam piramida ekologi (piramida massa, piramida jumlah


dan piramida enerji). Dimana perubahan bentuk senyawa materi dalam
siklus ini, diikuti pula dengan perpindahan aliran enerji dalam setiap
tahapan, diikuti terjadinya entropi enerji. Dengan demikian aliran enerji
dari sumber sinar matahari akan semakin berkurang jumlahnya, karena
adanya entropi dalam setiap tahap perubahannya, yang akhirnya akan
'habis'. Jadi di alam semesta, yang bersiklus hanyalah materi dan energi
tidak pernah bersiklus, tapi berupa aliran perpindahan dan entropi. Entropi
enerji merupakan gejala alami yang didasarkan pada hukum
termodinamika,
dimana enerji itu tidak dapat dimusnahkan atau
diciptakan, serta selalu terjadi entropi enerji ('loss of energy') pada setiap
perubahan bentuk enerji di alam. Tidak ada pemanfaatan enerji oleh
kehidupan ini dapat berlangsung seratus persen efisien.
Penggunaan enerji fosil bagi kehidupan manusia secara berlebihan
dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya kenaikan suhu di bumi atau
dampak globalnya berupa perubahan iklim dunia maupun pemanasan
bum,i. Kenaikan kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer karena emisi gas
buang, kebakaran hutan, membakar sampah akan mendorong terjadinya
efek rumah kaca (green house effect), yang mempengaruhi kehidupan biota
dan manusia di bumi. Efek rumah kaca tersebut berupa panas matahari
yang diserap bumi, pada malam hari dilepas kembali ke angkasa dan
terperangkap/terhambat oleh lapisan gas polutan di atmosfer, hingga panas
memantul kembali ke bumi. Akibatnya terjadilah kepengapan di muka
bumi, terutama wilayah yang memiliki kelembaban udara relative yang
tinggi dan ada kenaikan suhu permukaan bumi yang berdampak negatif
bagi kehidupan.
Organisme hidup yang tinggal pada lokasi tertentu akan memiliki
habitat dan territorial jelajah yang khas, sedangkan status fungsional atau
tingkah lakunya dalam habitat tersebut menunjukkan adaptasi atau profesi
biologis yang disebut relung/niche ekologis. Kajian relung ekologis
kelompok biota ini penting dilakukan untuk dapat melihat karakter dan
kebiasaan biota dalam kehidupan rantai makanannya. Manfaat lainnya
untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dalam habitat utamanya,
terutama untuk menetapkan status satwa langka, unik dan khas yang perlu
dilindungi dari ancaman kepunahan. Pada umumnya berbagai jenis biota
atau populasinya di alam, dapat mempunyai habitat dan relung yang sama,
DSR-EKO

tapi juga dapat mempunyai habitat sama dengan relung berbeda, atau
relung yang sama dengan habitat berbeda. Ciri khas organisme di habitat
maupun relung ekologis akan sangat banyak variasi dan bentuknya, karena
setiap jenis/species memiliki karakter khas yang cocok untuk lokasi
tertentu, hingga dikenal ada biota endemik, kosmopolit dan unik yang
spesifitasnya bisa beraneka ragam.
Unsur unsur kimia di alam tertentu sangat dibutuhkan dalam
kehidupan, misalkan magnesium dalam klorofil, ferrum dalam sel darah.
Unsur kimia tersebut telah dibuktikan cenderung melakukan siklus dalam
biosfer melalui siklus biogeokimia. Berbagai unsur/senyawa kimia yang
siklus adalah nitrogen, karbondioksida, air, oksigen, fosfor. Siklus nitrogen
hampir terjadi sempurna di alam, walaupun secara lokal dapat berperan
sebagai faktor pembatas dalam sistem biologi. Upaya tumbuhan untuk
mengikat unsur nitrogen di udara tersebut banyak dilakukan oleh golongan
Leguminoceae, melalui bintil akar dan bakteri Rhizobium. Proses
transformasi dan akumulasi materi dalam siklus biogeokimia yang
kompleks digambarkan melalui jaring makanan dan piramida trofik
ekologi. Dalam berbagai penelitian kompleksitas dalam ekosistem sering di
sederhanakan menjadi model-model dinamika, agar sistem kompleks yang
multivariabel tersebut menjadi sederhana, mudah dimengerti, dapat
diprediksi perubahannya per waktu, dinamika pola tingkah laku sistem
dapat diikuti dan diprediksi arah perkembangannya.
Prinsip ekologi yang penting diperhatikan adalah faktor pembatas
(limiting factor atau Hukum minimum Liebig), hukum toleransi oleh VE
Shelford, konsep suksesi ekologis, asas holocoenitik, produktivitas
biomassa, asosiasi dan kompetisi, dinamika polpulasi, preservasi dan
konservasi plasma nutfah, pengelolaan sumber alam (eksplorasi dan
eksploitasinya), exobiologi, manajemen ekosistem (remote sensing atau
analisis citra landsat), permodelan ekosistem/ model dinamika ekosistem
dan berbagai bentuk konsep lainnya.
Asas holocoenitik adalah proses ekosistem yang terjadi interaksi faktor
intra dan ekstra lingkungan biotik dalam kesatuan utuh/integrasi, hingga
perubahan salah satu faktor akan berpengaruh pada faktor lainnya secara
berantai. Cara pandang secara keseluruhan dan terpadu terhadap obyek
masalah lingkungan seperti ini, juga merupakan sebab akibat proses
DSR-EKO

dinamika ekosistem. Sangat sulit memisahkan satu faktor lingkungan


tanpa mengganggu faktor lainnya dalam ekosistem, karena interaksi
maupun interdependensi sangat erat.
Faktor pembatas dalam ekosistem merupakan salah satu aspek kontrol
lingkungan terhadap perkembangan organisme di alam. Tumbuhnya
organisme dapat dibatasi oleh satu atau lebih faktor lingkungan. Apabila
satu faktor pembatas dapat di atasi, sangat mungkin dapat muncul faktor
pembatas yang lain. Faktor lingkungan tersebut dapat berupa unsur hara,
air, api, tanah, cahaya/naungan dan faktor lainnya. Dalam analisis
ekosistem munculnya faktor-faktor pembatas ini dapat dikaji faktor
penyebabnya, untuk selanjutnya dapat diatasi. Misalkan, padi (Oryza
sativa) memerlukan cahaya matahari penuh, genangan air, unsur mineral
makro dan mikro yang bila ada unsur yang tidak tersedia akan berfungsi
sebagai faktor pembatas.
Hukum Toleransi yang dikemukakan oleh VE Shelford (1913)
merupakan batas minimum dan maksimum suatu faktor lingkungan
dalam kisaran toleransi yang mempengaruhi pertumbuhan organisme.
Setiap kondisi alami atau derajad faktor lingkungan yang mendekati
atau melampaui batasan toleransi yang sempit maupun luas dapat
berfungsi sebagai faktor pembatas. Keberhasilan organisme hidup di
alam akan dibatasi oleh jumlah dan variabilitas nutrien, kebutuhan
minimum, faktor fisik kritis dan batas toleransi ekologis dari masingmasing organisme terhadap faktor lingkungannya (Odum, 1971).
Misalkan, biota yang memiliki batas toleransi sempit terhadap suhu
(stenotermal) akan memiliki batas minimum, optimum dan maksimum
saling berdekatan, sehingga ada perbedaan suhu sedikit saja sudah dapat
menjadi kondisi kritis bagi biota tersebut. Keadaan ini akan
berkebalikan bila biota tersebut bersifat eurythermal, memiliki toleransi
luas terhadap suhu lingkungan.
Produktivitas biomassa adalah ukuran laju pembentukan bahan bakar
organik oleh kegiatan fotosintesis produsen. Hasil panen berbentuk
bahan bakar organik per luas areal per waktu tertentu tersebut,
merupakan jumlah enerji atau kalori ditimbun oleh tumbuhan dan
melibatkan karbondioksida, klorofil/zat hijau daun, air dan sinar
matahari. Aktivitas produsen ekosistem inilah yang menjadi dasar dalam
pengukuran hasil panen di daratan maupun perairan, dengan pengaruh
iklim atau biogeoklimat yang berubah-ubah.

DSR-EKO

Siklus hara-mineral pada rimbunan vegetasi hutan terjadi secara


tertutup, artinya timbunan hara-mineral bukan berada di tanah tapi
berada pada batang tumbuhan tersebut. Kesan kawasan hutan
bervegetasi lebat adalah subur menjadi keliru, karena kenyataannya
tanah tersebut miskin bila ada penebangan pohon besar dan diangkut ke
luar lokasi. Penebangan hutan tidak terencana dan terkontrol akan
menghilangkan atau menguras gudang hara-mineral yang terdapat
dalam pohon, dan sisa hara-mineral pada pucuk tanah akan terbasuh
oleh aliran air hujan dan terjadi erosi tanah. Demikian pula pembakaran
lahan, setelah penebangan dapat menghilangkan seresah dan humus
hingga tanah cenderung miskin
hara. Dampak keseluruhan kondisi
tersebut akan menurunkan fungsi hidroorologis hutan sebagai pengatur
dan pelindung tat aliran air. Jumlah luasan hutan pada suatu wilayah
tertentu mempunyai peran sebagai penyangga keseimbangan ekosistem,
yang diperkirakan 30-40 % dari luas wilayah seharusnya berupa lahan
hutan-vegetasi lebat.
Preservasi dan konservasi ekosistem dapat diterapkan dalam
perencanaan tata ruang ekosistem. Penetapan fungsi dan peruntukan
dalam alokasi lahan dapat dibagi menjadi tiga yaitu, fungsi preservasi
dimana wilayah tersebut tidak boleh dialih fungsikan untuk apapun
juga, kecuali perlindungan ekosistem alami; lalu fungsi konservasi
dimana ada peran perlindungan terbatas dan ada yang dapat dikonversi
untuk pemanfaatan budidaya dengan pertimbangan ketat, rational dan
legal; lalu fungsi budidaya yang memang diperuntukan bagi aktivitas
budidaya manusia untuk pemukiman, industri, pertanian, pelayanan
umum dsb. Pentaatan dan konsistensi atas tata ruang wilayah/RUTRRDTR harus dibuktikan dalam kebijaksanaan dan pelakasanaan
program pemanfaatan wilayah bagi pembangunan, dengan selalu
mempertimbangan kepentingan ekologi yang serasi dengan kebutuhan
ekonomi.
Daya Dukung Lingkungan (DDL) merupakan konsep ekologi yang
mengatur beban ekologis yang dapat didukung oleh satuan
lahan/perairan tertentu terhadap sejumlah kehidupan biota diatasnya
secara berkelanjutan, mempunyai batas ambang tertentu. Walaupun
satuan ekosistem juga memiliki daya lenting bila keseimbangannya
terganggu, tapi bila beban ekologis terlalu besar, melampaui batas
ambang dan tidak mampu lagi melakukan purifikasi alami atau

DSR-EKO

melemahnya daya lenting alami, maka akan terjadi pencemaran yang


bila dibiarkan dapat menjadi kerusakan lingkungan yang tak
terbalikkan.
KESEIMBANGAN EKOSISTEM
Kemampuan berbagai komponen ekosistem untuk menahan beban
dari tekanan perubahan dalam sistem secara keseluruhan atau daya lenting
untuk kembali ke keadaan semula-seimbang diregulasikan oleh mekanisme
keseimbangan ekosistem, atau dikenal sebagai homeostatis lingkungan.
Ekosistem alami yang terdiri dari hutan, tanah, air dan gen sewajarnya
dalam kondisi seimbang-serasi dengan ekosistem binaan yang terdiri dari
produksi, limbah dan daur ulang. Aktivitas dalam ekosistem binaan untuk
produksi yang mengambil sumber alam untuk proses produknya, misalkan
mengambil air yang bersih, tidaklah adil dan pantas limbah hitam yang
dihasilkan dibuang begitu saja ke ekosistem alami, sehingga menimbulkan
pencemaran. Diperlukan upaya-upaya daur ulang, pemanfatan limbah dan
pengendalian pencemaran yang baik agar beban ekosistem alami tidak
terlampaui kemampuan purifikasi alaminya.
Demikian pula perbedaan kualitas udara antara ekosistem hutan
yang bersih, alami dan tidak tercemar, dengan ekosistem kota yang penuh
bahan polutan akibat dari konsumsi batubara dan minyak bumi untuk
menggerakkan enerji bagi kehidupan kota. Limbah gas buang ke udara ada
yang beracun bagi kehidupan dan sirkulasi udara tidak baik, menjadikan
kota sebagai perangkap udara buruk yang mengotori dan mencemari
pernafasan manusia dan biota lainnya. Oleh karena itu program langit biru
dan pengendalian pencemaran air dan tanah harus diprioritaskan agar
keseimbangan ekosistem binaan/kota dapat kembali mendekati kondisi
alami. Penetapan ruang terbuka hijau, BBM bebas timbal, sampah kota,
drainase pengendali banjir, limbah rumah tangga maupun industri, dan
fasilitas publik lainnya perlu dimasukkan dalam perencanaan wilayah dan
diprioritaskan anggarannya secara proposional.
Keseimbangan ekosistem alami dan ekosistem binaan dapat
bekerja berdasarkan prinsip interaksi dan interdependensi, dengan
menggunakan batas-batas ekologis dan administratif untuk pengelolaannya.
DSR-EKO

10

Keseimbangan tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang sama, artinya
tersedianya sumberdaya alam hayati dan non-hayati di ekosistem alami
bagi pembangunan atau produksi harus dapat tersedia kuantitas dan
kualitasnya, sepanjang masa atau berkelanjutan, terutama bagi kepentingan
kehidupan masa depan. Merusak ekosistem alami sama saja
menjerumuskan diri dan masyarakat dalam keadaan tanpa harapan masa
depan akan menjadi semakin baik. Oleh karena itu hak dan kewajiban
setiap orang untuk memelihara dan menjaga keseimbangan fungsi
lingkungan hidup secara berkelanjutan, baik dan sehat dalam skala
regional maupun global, pada hakekatnya merupakan bagian hak asasi
manusia.. Kualitas lingkungan hidup juga sudah merupakan kebutuhan
dalam era globalisasi, terutama dengan adanya EMS (Environmental
Management System atau Sistem Manajemen Lingkungan) yang
memberikan standarisasi kualitas lingkungan, melalui ISO seri 14000,
ekolabel, produksi bersih, BPR, audit lingkungan, bisnis hijau, dalam
perdagangan global.
PUSTAKA
Anonim, 1981. Book of Nature. And illustrated encyclopedia of Man & Nature. George Allen
& Unwin, London.
Clark, JR. 1977. Coastal Ecosystem Management. A technical manual for the conservation of
coastal zone resources. A Wiley Interscience Publication
Odum, EP. 1971. Fundamental of ecology. WB Saunders, Philladelphia.
Odum, EP. 1983. Basic Ecology. Saunders College Publishing.
Meadows,R and Behrens, 1972. The Limit to Growth. Universe Book, NY
Soemarwoto, O. 1985. Ekologi, lingkungan hidup dan Pembangunan. Djambatan, Jakarta
Soeriaatmadja, RE. 1979. Ilmu Lingkungan. Penerbit ITB, Bandung
Kormondy, EJ.1978. Concept of ecology. Prentice Hall of India, New Delhi

DSR-EKO

11

Anda mungkin juga menyukai