Anda di halaman 1dari 10

BAB V

BATUAN METAMORF
5.1

5.2
5.2.1

Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui

jenis-jenis

batuan

metamorf

dengan

cara

mengidentifikasi batuan metamorf.


Mengetahui batuan metamorf dengan cara menganalisa tekstur,

komposisi mineral dan struktur batuan metamorf.


Agar dapat menentukan batuan metamorf Felsik dan Non Felsik dari

data analisa yang ada.


Dasar Teori
Proses Terbentuknya Batuan Metamorf
Proses awal siklus metamorfisme, yaitu adanya Batuan Beku Dalam
atau Batuan Beku Intrusif ( Igneous Rock ) dan Batuan Sedimen yang ada
pada kerak bumi yang cukup dalam yang mendapat tekanan dan suhu
yang sangat tinggi. Sehingga mengubah mineral yang ada dalam batuan.
Proses ini sering disebut proses metamorfisme.

Gambar 5.1 Proses Terbentuknya Batuan Metamorf

Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme.


Sehingga batuan berubah menjadi batuan metamorf. Akibat tekanan dan
suhu yang tinggi dalam jangka waktu yang lama, mengakibatkan batuan
metamorf meleleh kembali menjadi magma.
2.2

Pengertian Batuan Metamorf

85

Batuan Metamorf adalah batuan yang mengalami perubahan


mineralogi dan struktur akibat proses metamorfisme dan terjadi pada fase
padat. Metamorfisme dapat digolongkan menjadi :

Gambar 5.2 Metamorfisme

Metamorfisme Kontak / Termal, terjadi pada zona kontak dengan


tubuh magma. Adanya suhu yang tinggi menyebabkan terjadinya
perubahan bentuk maupun warna batuan. Contoh batu kapur berubah
menjadi marmer.

86

Gambar 5.3 Metamorfisme Kontak / Termal

Metamorfisme Dinamik / Kataklastik, tejadi pada zona sesar. Contoh


mudstone berubah menjadi slate.

Gambar 5.4 Metamorfisme Dinamik / Kataklastik

Metamorfisme Regional, terjadi pada daerah yang luas akibat


orogenesis. Contoh kuarsa dengan gas fluorium berubah menjadi
topas.

87

Gambar 5.5 Metamorfisme Regional

Metamorfisme regional terbagi menjadi :


a) Burial : Metamorf burial terjadi karena tekanan lithostatik pada
timbunan sedimen dan batuan 5ulkanik, tekanan berpengaruh besar
pada proses ini.
b) Barrovian
c) Subduction
Biasanya metamorfisme terjadi di tepi Benua (Continental Margins).
Adapun syarat-syarat terjadinya proses metamorfisme :
1) Adanya batuan sumber.
2) Peningkatan suhu.
3) Peningkatan tekanan dan stress.
4) Adanya penambahan dan pengurangan fluida.
5) Waktu.
Tingakt metamorfisme dibedakan menjadi 2 macam, yaitu Low Grade
Metamorphism dan High Grade Metamorphism.
1) Low Grade Metamorphism, yaitu metamorfisme dengan suhu antara
200 - 320o C dan tekanan yang rendah serta Hydrous Mineral
berlimpah.
2) High Grade Metamorphism, yaitu metamorfisme dengan suhu > 320 o C
dan tekanan yang tinggi serta Non hydrous minerals melimpah &
hydrous minerals kehilangan H2O.
Facies Metamorfisme merupakan suatu pengelompokkan mineralmineral

metamorfik

berdasarkan

tekanan

dan

temperatur

dalam

pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap facies pada batuan

88

metamorf pada umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan


mineral), kesamaan sifat-sifat fisik atau kimia.

Gambar 5.6 Facies Metamorfisme

Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat


dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur dalam proses metamorfisme. Dan
dalam facies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor
yang dominan, dimana semakin tinggi derajat metamorfisme (facies
berkembang), struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral
metamorfik akan semakin tampak kasar dan besar.
Karakteristik batuan metamorf dipengaruhi oleh beberapa faktor pada
saat pembentukan batuan berlangsung, diantara faktor-faktor yang
mempengaruhi, yaitu :
1. Komposisi mineral batuan asal.
2. Tekanan dan Temperatur saat proses metamorfisme.
3. Pengaruh gaya tektonik.
4. Pengaruh fluida.
5.2.3 Struktur Batuan Metamorf
Struktur pada batuan metamorf terdiri dari Struktur Foliasi dan
Struktur Non Foliasi.

89

1. Struktur Foliasi, apabila pada batuan metamorf terlihat ada penjajaran


mineral. Terbagi menjadi 4 macam, yaitu :
a) Struktur Slaty Clea5age, kesejajaran mineraloginya sangat halus,
berukuran lempung, mineral pipih sangat dominan.
b) Struktur Phylitic, sama dengan struktur salty clea5age hanya saja
mineral dan kesejajarannnya sudah mulai agak kasar.
c) Struktur Schitose, struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral
pipih lebih banyak dibanding mineral granular.
d) Struktur Gneissic, struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral
granular yang relatif lebih banyak dibanding mineral pipih.

Gambar 5.7 Struktur Foliasi

2. Struktur Non Foliasi, apabila tidak terlihat adanya penjajaran mineral.


Struktur ini terbagi menjadi 8 macam, yaitu:
a) Struktur Hornfelsik, struktur yang memperlihatkan butiran-butiran
mineral yang relatif seragam.
b) Struktur Kataklastik, struktur

yang

memperlihatkan

adanya

penghancuran terhadap batuan asal.


c) Struktur Milonitik, struktur yang memperlihatkan liniasi o,leh
orientasi mineral yang berbentuk lentikuler dan butiran mineral
halus.
d) Struktur Pilonitik, struktur yang memperlihatkan liniasi dari belahan
permukaan berbentuk pararel dan butiran mineralnya kasar.
e) Struktur Flaser, sama seperti struktur kataklastik. Namun struktur
batuan asal berbentuk lensa tertanam pada masa dasar milonit.
f) Struktur Angen, sama seperti struktur flaser. Namun, lensa-lensanya
terdiri dari butir feldspar dalam massa dasar yang lebih halus.
g) Struktur Granulose, sama seperti struktur hornfelsik. Namun
butirannya mempunyai ukuran yang beragam.

90

h) Struktur Liniasi, struktur yang memperlihatkan adanya mineral yang


berbentuk jarum atau fibrous.
5.2.4 Tekstur Batuan Metamorf
Tekstur dalam batuan metamorf tebagi menjadi 2 macam, yaitu
Tekstur Krisrtoblastik dan Tekstur Sisa / Palimpset.
1. Tekstur Kristoblastik, dimana tekstur batuan asal sudah tidak kelihatan
lagi atau memperlihatkan kenampakan yang sama sekali baru. Dalam
penamaannya menggunakan akhiran kata blastik. Tekstur ini terbagi
menjadi 6 macam, yaitu :
Porfiroblastik, identik dengan porfiritik batuan beku dan terdapat

porfiroblast (kristal besar) dalam suatu massa dasar.


Granoblastik, tektur yang memiliki butiran mineral berukuran

seragam.
Lepidoblastik, tekstur yang memperlihatkan susunan mineral saling

sejajar dan berarah dengan bentuk mineral pipih.


Nematoblastik, tekstur yang memperlihatkan adanya mineral-

mineral prismatik yang sejajar dan terarah.


Idioblastik, tekstur yang memperlihatkan adanya mineral-mineral

euhedral.
Xenoblastik, tekstur yang memperlihatkan adanya mineral-mineral

anhedral.
2. Tekstur Sisa / Palimpset, Tekstur batuan metamorf yang memiliki sisa
tekstur dari batuan asal yang masih bisa diamati. Dalam penamaannya
menggunakan awalan kata blasto. Tekstur ini terbagi menjadi 4
macam, yaitu :
Blastoporfiritik, tekstur yang memperlihatkan batuan asal yang

porfiritik.
Blastopsefit, tekstur yang memperlihatkan batuan asal sedimen yang

ukuran butirnya lebih besar dari pasir.


Blastopsamit, sama dengan tekstur blastopsefit, hanya ukuran

butirnya sama dengan pasir.


Blastopellit, tekstur yang memperlihatkan batuan asal sedimen yang
ukuran butirnya lempung.

5.2.5

Klasifikasi Batuan Metamorf


91

Klasifikasi batuan metamorf dibagi berdasarkan tekstur dan mineralmineral penyusunnya.

Tabel 5.1 Klasifikasi Batuan Metamorf

92

5.3

Peralatan dan Bahan

5.3.1

Peralatan
1. Lembar identifikasi batuan metamorf
2. Kuku jari
3. Larutan HCl

Gambar.77.Kuku Jari

5.3.2

Gambar.78.Larutan HCl

Bahan
6 buah batuan metamorf yang telah disediakan

Gambar.11.Musko5it Schist

Gambar.12.Mika Schist

Gambar.13.Mika Gneiss

Gambar.14.Amphibole Schist

Gambar.15.Mika Schist

Gambar.16.Marble

5.4

Waktu Praktikum
Adapun waktu pelaksaan praktikum geologi dilaksanakan pada :
93

1. Sabtu, 10 Desember 2011. Pukul 12.30 - 14.00


2. Minggu, 11 Desember 2011. Pukul 10.00 - 11.30

5.5

Prosedur Kerja
1. Pertama ambil batuan metamorf yang telah disediakan.
2. Amati warna batuan yang ada pada batuan metamorf, mulai amati
warna segar dan lapuk pada batuan.
3. Kemudian menentukan jenis batuan metamorf dengan melihat
permukaan batuan metamorf tersebut.
4. Setelah itu menentukan struktur batuan metamorf dengan melihat
penjajaran mineralnya.
5. Berikutnya menentukan komposisi mineral yang terdapat pada batuan
metamorf.
6. Selanjutnya menentukan nama batuan, dengan cara menuliskan nama
mineral disertai dengan struktur batuan metamorf tersebut.
7. Menentukan protolith dapat dilakukan dengan melihat ukuran butir dari
mineral yang ada pada batuan metamorf.
8. Kemudian menentukan jenis metamorfosa batuan metamorf tersebut.
9. Terakhir menentukan genesa batuan metamorf yang diamati.

94