Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Audit internal merupakan jaminan, independen objektif dan aktivitas konsultasi
yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Ini
membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa pendekatan yang
sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses
manajemen risiko, pengendalian, dan tata kelola. Audit internal adalah katalis untuk
meningkatkan efektifitas organisasi dan efisiensi dengan menyediakan wawasan dan
rekomendasi berdasarkan analisis dan penilaian data dan proses bisnis. Dengan
komitmen terhadap integritas dan akuntabilitas, audit internal yang memberikan nilai
untuk mengatur badan dan manajemen senior sebagai sumber tujuan dan saran
independen.
Audit Internal merupakan suatu aktivitas independen dalam memberikan
jasa konsultasi dan penjaminan (keyakinan) secara objektif yang dirancang untuk
memberikan nilai tambah dan perbaikan operasi suatu organisasi, dengan maksud
untuk membantu organisasi mencapai tujuannya dengan cara menggunakan
pendekatan yang sistematis dan terarah (sesuai disiplin ilmu) dalam mengevaluasi
dan memperbaiki efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses tata kelola
(governance processes). Oleh sebab itu Internal Auditor senatiasa berusaha untuk
menyempurnakan dan melengkapi setiap kegiatan dengan penilaian langsung atas
setiap bentuk pengawasan untuk dapat mengikuti perkembangan dunia usaha yang
semakin kompleks. Dengan demikian Internal Auditing muncul sebagai suatu
kegiatan khusus dari bidang akuntansi yang luas yang memanfaatkan metode dan
teknik dasar dari penilaian.
Dengan demikian pemeriksa Intern (Internal Auditor) harus memahami sifat
dan luasnya pelaksanaan kegiatan pada setiap jajaran organisasi, dan juga diarahkan
untuk menilai operasi sebagai tujuan utama. Hal ini berarti titik berat pemeriksaan
yang diutamakan adalah pemeriksaan manajemen. Pemeriksaan ini dapat dilakukan
1

dengan memahami kebijaksanaan manajemen (direksi), ketetapan rapat umum


pemegang saham, peraturan pemerintah dan peraturan lainnya yang berkaitan.
Ruang lingkup audit internal dalam suatu organisasi yang luas dan mungkin
melibatkan topik-topik seperti efektivitas operasi, keandalan pelaporan keuangan,
menghambat dan menyelidiki kecurangan serta mengamankan aset, dan juga
kepatuhan terhadap hukum dan ketentuan. Audit internal sering melibatkan
pengukuran sesuai dengan kebijakan entitas dan prosedur. Namun, auditor internal
tidak

bertanggung

jawab

atas

pelaksanaan

kegiatan

perusahaan,

mereka

menyarankan manajemen dan Dewan Direksi (atau serupa badan pengawas) tentang
bagaimana untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.
Perlu tidaknya fungsi audit internal dikukuhkan sebagai bagian/unit
organisasi tersendiri, tergantung kepada tingkat urgensinya bagi organisasi
perusahaan yang bersangkutan. Bertambah besarnya ukuran organisasi perusahaan
yang berdampak terhadap melemahnya rentang pengendalian, bertambahnya volume
transaksi, dan semakin besarnya sumber daya yang harus dikelola, disamping
meningkatnya ketergantungan manajemen kepada informasi yang akurat dan
terintegrasi, merupakan faktor-faktor yang mendorong manajemen untuk membentuk
bagian audit internal dalam perusahaannya. Selain itu, faktor lain yang mendorong
manajemen/pemilik untuk memanfaatkan fungsi audit internal adalah adanya
tuntutan perundang-undangan.
Fungsi audit internal di sektor publik dewasa ini lebih dituntut untuk
meningkatkan profesionalitas dan kredibilitasnya di mata masyarakat. Terlihat dari
terjadinya perubahan paradigma pengawasan yang dilakukan oleh auditor sektor
publik dari fungsi awal hanya sebagai watch dog lalu berubah menjadi penjamin
mutu dan fungsi konsultasi. Perubahan paradigma ini juga menuntut perbaikan
kinerja dan kompetensi segenap aparat pengawas. Hal ini demi mewujudkan Good
Corporate Governance yang telah menjadi tuntutan globalisasi. Isu Good Corporate
Governance seyogyanya merupakan pemberdayaan kembali fungsi audit internal
sektor publik dalam melakukan audit keuangan negara. Dimana audit keuangan
negara adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan
secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar audit, untuk menilai

kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi mengenai pengelolaan


dan tanggungjawab keuangan negara. Dengan kata lain audit keuangan negara
merupakan unsur pokok bagi terciptanya akuntabilitas publik. Akuntabilitas
diperlukan untuk mengetahui : (1) pelaksanaan program yang dibiayai uang negara ;
(2) tingkat kepatuhan kepada perundang-undangan, dan ; (3) keekonomisan,
efisiensi, dan efektivitas.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraikan diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang
akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini, sebagai berikut :
1)
2)

Apa pengertian audit internal sektor publik?


Apa persamaan dan perbedaan audit internal sektor publik dengan audit

3)
4)

eksternal sektor publik?


Apa komponen audit internal sektor publik?
Bagaimana perubahan paradigma pengawasan dalam audit internal sektor

5)
6)
7)

publik?
Apa peran dan kontribusi auditor internal sektor publik?
Bagaimana proses dilaksanakannya audit internal sektor publik?
Bagaimana peranan audit internal dalam mewujudkan clean & good
governance?

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1)
2)

Memahami pengertian audit internal sektor publik.


Mengetahui persamaan dan perbedaan audit internal sektor publik dengan audit

3)
4)

eksternal sektor publik.


Mengetahui komponen audit internal sektor publik.
Memahami perubahan paradigma pengawasan dalam audit internal sektor

5)
6)
7)

publik.
Memahami peran dan kontribusi auditor internal sektor publik.
Mengetahui proses pelaksanaan audit internal sektor publik.
Mengetahui peranan audit internal dalam mewujudkan clean & good
governance.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian Audit Internal Sektor Publik

Audit internal sektor publik adalah audit yang dilakukan di lingkungan


organisasi/lembaga yang bergerak di bidang penyediaan barang dan jasa publik
(public goods and services), yaitu barang dan jasa yang dibutuhkan oleh khalayak
ramai atau masyarakat pada umumnya, seperti jalan raya, rumah, sekolah, rumah
sakit, tempat ibadah, pertahanan dan keamanan, penerangan, dan sebagainya.
Organisasi/lembaga sektor publik tersebut dapat berupa instansi pemerintah,
BUMN/BUMD, dan lembaga swasta. Memperhatikan hal tersebut, pengertian audit
internal sektor publik dapat dipertajam menjadi kegiatan audit yang dilakukan oleh
auditor

yang

bekerja

untuk

kepentingan

manajemen

organisasi/lembaga

pemerintahan, BUMN/BUMD, dan swasta yang melakukan upaya penyediaan


barang dan jasa publik.
Dalam makalah ini, sesuai tujuan penulisannya, yang dimaksud dengan sektor
publik adalah pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota). Dengan demikian audit
internal sektor publik dalam makalah ini adalah audit yang dilakukan instansi
struktural yang secara khusus ditugasi sebagai auditor internal dilingkungan
pemerintahan daerah (provinsi, kabupaten/kota), yang disebut juga dengan
inspektorat daerah.
Audit internal adalah audit yang dilakukan oleh pihak dari dalam organisasi
auditi. Pengertian organisasi auditi dalam hal ini harus dilihat dengan sudut pandang
yang tepat. Organisasi auditi misalnya adalah pemerintah daerah, kementerian
negara, lembaga negara, perusahaan, atau bahkan pemerintah pusat. Sebagai contoh,
untuk pemerintah daerah, maka audit internal adalah audit yang dilakukan oleh
aparat pengawasan internal daerah yang bersangkutan (Inspektorat). Sedangkan pada
organisasi kementerian negara audit intern dilakukan oleh inspektorat jenderal
departemen dan dalam organisasi pemerintah pusat audit intern dilakukan oleh Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Audit internal dilaksanakan
dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan dalam manajemen. Jadi pelaksanaan
audit

internal

sektor

publik

lebih

diarahkan

pada

upaya

membantu

bupati/walikota/gubernur/menteri/presiden untuk meyakinkan pencapaian tujuan


organisasi.

2.2. Persamaan Dan Perbedaan Audit Internal Sektor Publik Dengan Audit
Eksternal Sektor Publik
Auditor eksternal dan internal sektor publik memiliki persamaan dalam banyak
hal, terutama di bidang teknis, yaitu sama-sama melaksanakan pekerjaan berdasarkan
penugasan yang diberikan, dan dalam pelaksanaan tugas tersebut, juga menggunakan
prosedur dan teknik audit yang sama. Namun, di antara keduanya juga memiliki
perbedaan yang mendasar, yaitu:
Tabel 1. Perbedaan Auditor Internal dan Auditor Eksternal Sektor Publik
Auditor Internal

Auditor Eksternal

Subjek adalah aparat pengawas intern


pemerintah (APIP)

Subjek adalah pihak luar yang


independen (BPK)

Dipekerjakan oleh manajemen (Presiden,


Menteri/Ketua LPND, Kepala Daerah)

Ditugaskan oleh lembaga tertinggi


dalam organisasi pemerintahan (DPR)

Melayani kebutuhan manajemen, oleh


karena itu fungsi audit internal
merupakan bagian dari organisasi yang
bersangkutan.

Melayani kebutuhan pihak ketiga yang


memerlukan informasi keuangan yang
reliabel

Dalam audit atas laporan keuangan,


auditor internal tidak berhak memberikan
pendapat atas laporan keuangan lembaga
tempat dia bekerja karena dianggap tidak
independen

Dalam audit atas laporan keuangan,


sesuai standar pemeriksaan yang
berlaku, auditor eksternal memberikan
pendapat (opini) atas laporan
keuangan yang diauditnya

Setelah auditor internal menerbitkan


laporan, harus melakukan pemantauan
tindak lanjut yang dilakukan manajemen
atas saran/rekomendasi yang diberikan
sesuai hasil audit yang dituangkan dalam
laporannya tersebut

Lazimnya, kegiatan auditor eksternal


berhenti/selesai setelah menyerahkan
laporan hasil audit kepada yang
memberi penugasan

Selain bertugas melakukan audit, juga


diharapkan menjadi konsultan bagi
institusi di lingkungan organisasi tempat
dia bekerja

Melakukan pekerjaan sebatas


penugasan yang diberikan

Fokus ke masa depan untuk membantu


manajemen mencapai sasaran dan tujuan
organisasi secara efektif dan efisien

Fokus kepada akurasi dan dapat


dipahaminya kejadian historis seperti
yang diekspresikan dalam laporan

keuangan

Berkepentingan secara langsung dalam


pencegahan fraud dalam berbagai bentuk
atau tingkat aktivitas yang direview

Berkepentingan secara insidental


dalam pencegahan/pendeteksian fraud
secara umum, tetapi berkepentingan
secara langsung bila terdapat pengaruh
yang bersifat material pada laporan
keuangan.

Independen terhadap aktivitas yang


diaudit, tetapi siap merespon kebutuhan
dan keinginan manajemen.

Independen terhadap manajemen baik


dalam penampilan maupun sikap
mental.

Review atas aktivitas dilakukan secara


terus menerus (kontinyu).

Review atas catatan/dokumen yang


mendukung laporan keuangan secara
periodik (umumnya setiap satu tahun
sekali).

2.3. Komponen Audit Internal Sektor Publik


Audit internal terdiri dari lima komponen yang saling berhubungan. Komponen
ini bersumber dari cara pimpinan suatu organisasi menyelenggarakan tugasnya dan
oleh karena itu komponen ini menyatu dan terjalin dalam proses manajemen.
Komponen audit internal adalah:
1) Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Merupakan perwujudan suatu iklim manajemen di mana sejumlah orang
melaksanakan kegiatan dan tanggungjawab pengendalian. Faktor lingkungan
pengendalian ini termasuk integritas, etika, kompetensi, pandangan dan philosopi
manajemen dan cara manajemen membagi tugas dan wewenang/tanggungjawab
serta arahan dan perhatian yang diberikan pimpinan puncak.
2) Penaksiran Resiko (Risk Assessment)
Setiap entitas, dalam melaksanakan aktivitas menghadapi berbagai resiko, baik
internal maupun eksternal yang harus diperhitungkan terkait dalam mencapai
tujuan sehingga membentuk suatu basis penetapan bagaimana resiko tersebut
seharusnya dikelola. Penaksiran risiko mensyaratkan adanya tujuan organisasi
yang telah ditetapkan.
3) Aktifitas Pengendalian (Control Activities)

Meliputi kebijakan dan prosedur yang menunjang arahan dari manajemen untuk
diikuti. Kebijakan dan prosedur tersebut memungkinkan diambilnya tindakan
dengan mempertimbangkan risiko yang terdapat pada seluruh jenjang dan fungsi

dalam organisasi. Didalamnya termasuk berbagai jenis otorisasi dan verifikasi,


rekonsiliasi, evaluasi kinerja dan pengamanan harta serta pemisahan tugas.
4) Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)

Informasi yang relevan perlu diidentifikasikan, dicatat dan dikomunikasikan


dalam bentuk dan waktu yang tepat, sehingga memungkinkan pelaksanaan
tanggungjawab yang baik oleh anggota organisasi. Sistem informasi menghasilkan
laporan tentang kegiatan operasional dan keuangan, serta ketaatan terhadap
peraturan yang berlaku dalam rangka melaksanakan dan mengendalikan
pelaksanaan tugas.
5) Monitoring
Pemantauan adalah suatu proses yang mengevaluasi kualitas kinerja Sistem
Pengendalian

Manajemen

pada

saat

kegiatan

berlangsung.

Proses

ini

diselenggarakan melalui aktivitas pemantauan yang berkesinambungan dan


melalui pengawasan (audit) intern atau melalui kedua-duanya.
Komponen tersebut di atas merupakan suatu rangkaian yang terjalin erat.
Komponen lingkungan pengendalian menjadi landasan bagi komponen-komponen
yang lain. Dalam lingkungan pengendalian, manajemen melakukan penaksiran resiko
dalam rangka pencapaian tujuan. Aktivitas pengendalian diimplementasikan untuk
memastikan bahwa arahan manajemen telah diikuti. Sementara informasi yang
relevan dicatat dan dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi. Selanjutnya
keseluruhan proses tersebut dipantau secara terus menerus dan diperbaiki bilamana
perlu.
Pertalian dan sinergi dari antara komponen-komponen tersebut, membentuk
suatu sistem terintegrasi yang bereaksi dengan dinamis ke kondisi yang berubahubah. Sistem pengawasan intern terjalin dengan aktivitas organisasi. Pengawasan
intern merupakan alat yang paling efektif yang dibangun ke dalam infrastruktur
organisasi dan menjadi bagian dari inti organisasi. Pengawasan internal yang terpadu
akan meningkatkan mutu dan inisitif organisasi, menghindari biaya-biaya tak perlu
dan memungkinkan tanggapan yang cepat terhadap kondisi yang berubah-ubah.
2.4. Perubahan Paradigma Pengawasan Dalam Audit Internal Sektor Publik
Paradigma pengawasan yang telah meluas dari sekedar watchdog yang
cenderung lebih berfokus pada penemuan penyimpangan ke posisi yang lebih luas
yaitu pada efektivitas pencapaian misi dan tujuan organisasi, mendorong pelaksanaan

pengawasan ke arah pemberian nilai tambah yang optimal. Pengawasan harus


menekan-kan pada pemberian bantuan kepada manajemen dalam melaku-kan
pengelolaan terhadap risiko-risiko yang dapat menghambat pencapaian misi dan
tujuan, sekaligus memberikan alternatif peningkatan efisiensi dan efektivitas, serta
pencegahan atas potensi kegagalan sistem manajemen.
Idealnya pengawasan harus mampu memberikan nilai tambah terhadap
peningkatan kinerja penyelenggaraan manajemen peme-rintahan. Hal tersebut
penting mengingat keberadaan pengawasan adalah untuk menjembatani hubungan
antara pemimpin dengan para manajer dan staf dalam rangka memperkecil
ketimpangan informasi yang berkembang di antara mereka. Itu semua mencerminkan
bahwa pengawasan haruslah berorientasi pada peningkatan mutu (quality assurance)
yang dilakukan secara independen dan objective dengan menggunakan professional
judge-ment sebagai pengawas yang kompeten.
Paradigma yang lama sebagai watchdog mungkin berhasil dalam mencari
oknum, tetapi semakin banyak oknum yang diberikan hukuman atau sanksi akan
semakin merendahkan nilai trust yang sedang dibangun. Dengan demikian,
kepentingan internal pengawas adalah mengubah paradigma lama-nya suatu
organisasi agar tetap berisi individu-individu yang tidak mau melakukan
penyimpangan dengan metode dan kewenangan yang dimilikinya.
Pengawas dengan paradigma lama adalah organisasi intern dengan kegiatan
yang seolah-olah terpisah dengan organisasi yang mempekerjakannya. Kemampuan
yang ada diupayakan untuk ber-peran sebagai pihak yang mencari kesalahan dengan
melakukan pem-bandingan antara yang seharusnya berdasarkan kriteria yang
diingin-kannya sendiri atau bersama-sama dengan organisasi dengan yang
sebenarnya terjadi di lapangan. Namun, ternyata dalam per-kembangannya, telah
terjadi perubahan pandangan terhadap profesi pengawas dari paradigma lama yang
masih berorientasi pada mencari kesalahan (watchdog) menuju paradigma baru yang
lebih mengedepankan peran sebagai konsultan dan katalis. Selain itu telah terjadi
pendekatan baru dalam internal audit yaitu risk based audit approach.

Gambar 1. Perubahan Paradigma Pengawasan Internal Sektor Publik


Dalam paradigma baru, ukuran keberhasilan APIP bukan jumlah temuan, tetapi
dari ukuran sejauh mana dapat membantu manajemen mengatasi permasalahan yang
timbul, meliputi aspek pengelolaan resiko, kontrol, dan tata proses yang baik. Values
pengawasan didasarkan pada nilai transparansi, obyektif, independen, dan akuntabel.
Auditor internal diharapkan mengutamakan pengawasan preventif dan preemtif
dengan fokus pembinaan, advokasi, pendmapingan, dan pengendalian pada setiap
tahapan kegiatan yang dilakukan organisasi. Berikut ini perbandingan paradigma
lama dan baru dalam kegiatan audit internal:
Tabel 2 Perbandingan Paradigma Lama Dan Baru Dalam Kegiatan Audit Internal

URAIAN

PARADIGMA LAMA

Watchdog
Mengungkap

Fungsi

temuan

Mengganggu obyek

Reaktif

Sifat Audit /

Rekomendasi

Post audit
Korektif

PARADIGMA BARU
Watchdog, konsultan dan
katalisator
Memecahkan masalah
Proaktif
Post audit dan Pre audit
Korektif, Preventif,
Prediktif

Sikap

Kaku
Pasif

Fleksibel dan konstruktif


Aktif dan komunikatif

Pendekatan

Subyek - Obyek
Menang - Kalah

Subyek - Subyek
Menang - Menang

Type Staf

Setengah

Tuntas / Paripurna

10

setengah
Organisasi

Ukuran Sukses

Pelengkap /
memenuhi persyaratan

Jumlah temuan

Tools management
Pusat keunggulan
Jumlah bantuan / manfaat
Pencapaian tingkat Good
Corporate Governance
(GCG)

2.5. Peran Dan Kontribusi Auditor Internal Sektor Publik


Memperhatikan ketentuan dalam UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah,
Peraturan Pemerintah No. 79/2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.
23/2007 tentang Pedoman dan Tatacara Pengawasan atas Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah, tampak bahwa peran dari inspektorat provinsi, kabupaten/kota
cenderung hanya sebagai auditor saja.
Menurut the International Standard for the Professional Practice of Internal
Auditing (IIA), peran yang dimainkan oleh auditor internal dibagi menjadi dua
kategori utama, yaitu:
1)

Jasa assurance merupakan penilaian obyektif auditor internal atas bukti untuk
memberikan pendapat atau kesimpulan independen mengenai proses, sistem
atau subyek masalah lain. Jenis dan lingkup penugasan assurance ditentukan
oleh auditor internal.

2)

Jasa konsultansi merupakan pemberian saran, dan umumnya dilakukan atas


permintaan khusus dari klien (para auditi). Dalam melaksanakan jasa
konsultansi, auditor internal harus tetap menjaga obyektivitasnya dan tidak
memegang tanggung jawab manajemen.
Sesuai definisi dari the Institute of Internal Auditors (IIA), jasa assurance dan

konsultasi tersebut dimaksudkan untuk membantu organisasi mencapai tujuannya,


dilakukan

melalui

pendekatan

sistematis

dan

teratur

terhadap

efektivitas

pengelolaan risiko, pengendalian dan proses tata kelola. Mengenai ketentuan


yang mengatur peran aparat pengawas intern pemerintah (APIP) yang cenderung
11

hanya sebagai auditor dapat dipahami, karena yang menetapkan aturan adalah
penguasa yang cenderung membutuhkan umpan balik dalam bentuk hasil
pengawasan (assurance). Namun untuk meningkatkan nilai tambah dari APIP,
kiranya perlu pula dipertimbangkan pengembangan jasa auditor internal pada sisi
lain (klien/auditi), yaitu jasa konsultansi.
Pengembangan jasa konsultansi ini dimaksudkan agar auditor internal memberi
manfaat yang optimal bagi organisasi, sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan
sebagai kebutuhan, tidak hanya oleh penguasa/pimpinan, tetapi juga oleh para auditi.
Disamping memberikan jasa audit (tepatnya assurance) dan jasa konsultansi, auditor
internal juga dapat berperan dalam berbagai hal lain yang memberikan nilai tambah
bagi organisasi, seperti:
Memberikan masukan kepada pimpinan mengenai berbagai hal terkait dengan
pelaksanaan fungsi manajemen, mulai dari perencanaan (misal: penyusunan
usulan rencana anggaran pendapatan dan belanja) sampai pada penyusunan
laporan pertanggung jawaban keuangan pemerintah daerah. Auditor internal dapat
memberi masukan yang komprehensif kepada manajemen karena dia memiliki
akses dan pengetahuan yang luas terhadap seluruh satuan kerja di lingkungan
pemerintahan daerah.
Sebagai counterpart (pendamping) auditor eksternal (BPK dan/atau kantor
akuntan publik yang ditunjuk) dan pejabat pengawas pemerintah lainnya yang
melakukan pengawasan di lingkungan pemerintah daerah tempat dia bekerja.
Pejabat Pengawas Pemerintah lainnya tersebut meliputi; BPKP, Inspektorat
Jenderal Departemen/Unit Pengawasan LPND. Peran ini dimaksudkan agar
pelaksanaan audit oleh pejabat pengawas lainnya tersebut dapat berjalan lancar
dan dapat dilaksanakan secara efisien. Disamping itu, jika ada permasalahan yang
perlu diperhatikan segera dapat dikomunikasikan dengan pejabat terkait, termasuk
dengan kepala daerah.
Dalam hal tertentu, bila independensi, kompetensi dan kecermatan profesional
APIP dalam melaksanakan tugas dipandang memenuhi syarat, dimungkinkan hasil
pengawasannya akan dimanfaatkan oleh auditor eksternal, sebagai pendukung
terhadap laporan audit yang akan diterbitkannya. Dengan demikian, luas

12

pemeriksaan oleh auditor eksternal dapat dikurangi dan biaya auditnya dapat lebih
efisien.
Berkenaan dengan peran dari fungsi audit internal sektor publik, maka Buttery
et.al (1993) dengan pemikirannya menyatakan bahwa:
a) Seorang auditor internal harus memiliki independensi baik dalam arti status
organisasi; obyektivitas personil sehingga dapat memungkinkan ia melakukan
tugasnya dengan tepat. Independensi yang dimiliki oleh auditor internal dengan
menekankan pada: cakupan tugas; akses; laporan; aktivitas; personil; dan sikap.
b) Dalam posisi sebagai manajer audit pada fungsi audit internal, maka diskripsi
tugas/ pekerjaan itu adalah sebagai berikut:
Berupa tanggungjawab manajer audit untuk merekrut staf yang sesuai dan
berkualifikasi
Manajer audit harus dapat memastikan bahwa tujuan audit internal telah
tercapai.
Manajer audit harus menyiapkan rencana audit jangka panjang yang akan
diajukan kepada pihak yang lebih tinggi dalam lembaga untuk rentang waktu
tak lebih dari tiga tahun; merekonsiliasi sumberdaya staf yang tersedia sesuai
dengan berbagai tugas audit yang harus diselesaikan; mengidentifikasi area
utama risiko audit.
Manajer audit bertanggungjawab atas laporan auditnya, yang harus
disampaikan pada tanggal tertentu.
Manajer audit harus dapat memastikan bahwa terjadi komunikasi yang baik
dengan eksternal auditor ataupun konsultan manajemen guna menghindari
duplikasi pekerjaan audit. Di samping itu, perlu juga adanya hubungan yang
erat dengan kepolisian dan sejenisnya, dalam kaitannya dengan temuan/hasil
investigasi atas fraud dan/atau irregularity.
Senantiasa harus mengikuti setiap perubahan yang terjadi pada profesinya.
c) Setiap auditor internal seyogyanya memiliki kualifikasi personal sebagai berikut:
inteligensi yang tinggi; rasa ingin tahu yang besar; imajinasi; perilaku dan
kesantunan yang prima; komitmen; komunikasi yang baik; karakter yang baik.
d) Setiap auditor internal harus senantiasa meningkatkan kemampuannya melalui
pendidikan berkelanjutan; mengikuti latihan ketrampilan untuk bidang tertentu.

13

2.6. Proses Audit Internal Sektor Publik


Secara umum proses audit internal dikelompokkan dalam:
1)
Persiapan Penugasan
Kegiatan utama pada tahap ini adalah pengumpulan informasi umum tentang
auditi, untuk ditelaah dalam rangka menentukan sasaran audit tentantif
(tentative audit objectieves) atau perkiraan permasalahan yang perlu mendapat
perhatian pada tahap audit pendahuluan. Secara keseluruhan aktivitas persiapan
penugasan meliputi: penerbitan Surat Tugas, koordinasi dengan APIP lain,
pemberitahuan kepada Auditi, pengumpulan informasi umum, penyusunan
2)

rencana penugasan, penyiapan program audit untuk audit Pendahuluan.


Audit Pendahuluan
Pada tahap ini auditor berupaya memperoleh kerjasama dengan
auditimemperoleh gambaran yang lebih detil tentang auditi, serta bukti awal
dan melakukan berbagai penelaahan dengan memperhatikan sasaran audit
tentantif

(tentative

audit

objectives)

dan

mengikuti

langkah-langkah

pemeriksaan dalam program audit pendahuluan. Hasil pengumpulan bukti awal


dan penelaahan tersebut digunakan untuk menentukan permasalahan yang
perlu didalami (sasaran audit definitif/firm audit objectives) dalam rangka
merencanakan prosedur audit selanjutnya. Secara keseluruhan aktivitas yang
dilakukan oleh auditor pada audit pendahuluan ini, meliputi: pertemuan awal,
observasi lapangan, penelaahan dokumen, evaluasi pengendalian internal,
3)

prosedur analitis, dan penyusunan program audit lanjutan.


Pelaksanaan Pengujian
Pada tahap ini dilakukan pendalaman pemeriksaan, dengan mengumpulkan
bukti-bukti yang lebih banyak dan analisa yang lebih mendalam, dalam rangka
memperkuat/melengkapi atribut terkait dengan permasalahan yang perlu
mendapat perhatian sebagaimana diidentifikasi pada audit pendahuluan.
Kegiatan pelaksanaan pengujian ini disebut juga dengan pemeriksaan

4)

lanjutan/perluasan pengujian/pengembangan temuan.


Penyelesaian Penugasan
Pada tahap penyelesaian penugasan, auditor merangkum semua permasalahan
yang ditemukan dalam suatu daftar permasalahan/temuan, kemudian
mengkonfirmasikannya kepada pihak auditi untuk mendapatkan tanggapan dan
pengembangan rekomendasi untuk persetujuan dan komitmen dari menajemen
mengenai permasalahan yang dikemukakan dan pelaksanaan rekomendasi
14

tersebut. Kegiatan konfirmasi dengan pihak auditi tersebut biasanya dilakukan


5)

dalam forum pertemuan akhir atau clossing conference.


Pelaporan dan Tindak Lanjut
Pelaporan
Penyusunan laporan hasil audit, yaitu aktivitas menuangkan rangkuman
hasil audit kedalam laporan, biasanya dilakukan oleh Ketua Tim Audit,
direviu oleh Supervisor dan disetujui/ditanda tangani oleh Penanggung
Jawab Audit. Laporan yang telah disetujui kemudian digandakan sesuai
kebutuhan

dan

didistribusikan

kepada

pihak-pihak

yang

berhak

menerimanya.
Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan
Dalam laporan hasil audit diungkapkan pula berbagai permasalahan yang
ditemukan dan rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti oleh manajemen atau
pihak lain yang terkait. Terhadap rekomendasi yang diberikan itu, auditor
melakukan pemantauan dan evaluasi (monitoring dan evaluation).
Maksudnya adalah untuk mencapai tujuan akhir kegiatan audit internal,
yaitu adanya perbaikan, penertiban, penyempurnaan dan peningkatan
kinerja auditi, sekaligus bermanfaat dalam upaya peningkatan pelayanan
masyarakat dan kesejahteraan masyarakat.
2.7. Peranan Audit Internal Dalam Mewujudkan Clean & Good Governance
Semakin

meningkatnya

tuntutan

masyarakat

atas

penyelenggaraan

pemerintahan yang bersih, adil, transparan, dan akuntabel harus disikapi dengan
serius dan sistematis. Segenap jajaran penyelenggara negara, baik dalam tataran
eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus memiliki komitmen bersama untuk
menegakkan good governance dan clean government. Seiring dengan hal tersebut,
pemerintah pusat dan daerah telah mencanangkan sasaran untuk meningkatkan
pelayanan birokrasi kepada masyarakat dengan arah kebijakan penciptaan tata
pemerintahan yang bersih dan berwibawa (good governance).
Beberapa hal yang terkait dengan kebijakan untuk mewujudkan good
governance pada sektor publik antara lain meliputi penetapan standar etika dan
perilaku

aparatur

pemerintah,

penetapan

struktur

organisasi

dan

proses

pengorganisasian yang secara jelas mengatur tentang peran dan tanggung jawab serta
akuntabilitas organisasi kepada publik, pengaturan sistem pengendalian organisasi

15

yang memadai, dan pelaporan eksternal yang disusun berdasarkan sistem akuntansi
yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Selanjutnya, berkaitan dengan
pengaturan sistem pengendalian organisasi yang memadai, hal ini menyangkut
permasalahan tentang manajemen risiko, audit internal, pengendalian internal,
penganggaran, manajemen keuangan dan pelatihan untuk staf keuangan. Secara
umum, permasalahan-permasalahan tersebut telah diakomodasi dalam paket undangundang di bidang pengelolaan keuangan negara yang baru-baru ini telah diterbitkan
oleh pemerintah.
Paket peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara yang meliputi
UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara, dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara beserta peraturan-peraturan
pendukungnya menggambarkan keseriusan jajaran pemerintah dan DPR untuk
memperbaiki pengelolaan, pencatatan, pertanggungjawaban, dan pemeriksaan atas
pengelolaan keuangan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Salah satu
pertimbangan yang menjadi dasar penerbitan peraturan perundang-undangan tersebut
adalah bahwa keuangan negara wajib dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab
dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan sebagai salah satu prasyarat
untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan negara.
Berkaitan dengan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara, dalam pasal 9 ayat (1) UU Nomor 15 Tahun 2004 disebutkan bahwa: Dalam
menyelenggarakan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara,
BPK dapat memanfaatkan hasil pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah.
Seperti telah disebutkan di atas, peran dan fungsi audit internal termasuk unsur yang
penting dalam sistem pengendalian organisasi yang memadai. Untuk dapat
mendukung efektivitas pelaksanaan audit oleh auditor eksternal sesuai amanat pasal
9 ayat (1) tersebut di atas maka peran dan fungsi audit internal perlu diperjelas dan
dipertegas. Berikut ini berbagai alternatif berkaitan dengan pemberdayaan peran dan
fungsi audit internal serta formulasi sinerji fungsi pengawasan di antara berbagai
institusi audit internal dalam kerangka mewujudkan good governance yang
merupakan idaman dan cita-cita seluruh masyarakat Indonesia:

16

1. Kewajiban Pelaporan Keuangan dan Pelaksanaan Audit Berdasarkan


Undang-Undang di Bidang Keuangan Negara
Pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan merupakan salah satu bentuk
akuntabilitas penyelenggara pemerintahan kepada rakyat melalui perwakilannya
di lembaga legislatif. Dalam UU Nomor 1 Tahun 2004 telah secara tegas
dinyatakan bahwa pengelola keuangan pemerintah baik di tingkat pusat maupun
daerah diwajibkan untuk menyelenggarakan sistem akuntansi atas transaksi
keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan
perhitungannya. Sistem akuntansi tersebut digunakan sebagai sarana penyusunan
laporan keuangan Pemerintah Pusat/Daerah berdasarkan standar akuntansi
pemerintahan yang berlaku. Selanjutnya, selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan
setelah berakhirnya tahun anggaran, Presiden selaku kepala pemerintahan di pusat
dan

Gubernur/Bupati/Walikota

selaku

kepala

pemerintahan

di

daerah

menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat/daerah kepada Badan


Pemeriksa Keuangan (BPK).
Meskipun sudah ada kewajiban APIP untuk melaksanakan reviu atas laporan
keuangan sebelum disampaikan kepada BPK untuk diaudit, tetapi sampai saat ini,
pelaksanaan reviu tersebut ternyata masih belum sepenuhnya dapat meningkatkan
kualitas laporan keuangan pemerintah. Hal ini terbukti dari masih banyaknya
laporan keuangan pemerintah baik di tingkat kementerian maupun di tingkat
daerah yang masih mendapatkan opini disclaimer dari BPK. Menurut hemat
penulis, hal ini merupakan masalah serius yang harus segera dicari alternatif jalan
keluarnya sehingga tidak sampai menimbulkan kerugian pada pihak-pihak tertentu
yang terkait dengan permasalahan ini. Terdapat dua hal pokok yang penulis
uraikan pada bagian berikut sebagai wacana untuk meminimalisasi permasalahan
yang kemungkinan terjadi dalam audit atas laporan keuangan pemerintah oleh
BPK, yaitu pemberdayaan peran dan fungsi audit internal dan sinerji pengawasan
di antara sesama Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).
2. Pemberdayaan Peran dan Fungsi APIP
Dalam penjelasan UU Nomor 15 Tahun 2004 antara lain dinyatakan bahwa
untuk mewujudkan perencanaan yang komprehensif, BPK dapat memanfaatkan
hasil pekerjaan aparat pengawasan intern pemerintah. Dengan demikian, luas

17

pemeriksaan yang akan dilakukan dapat disesuaikan dan difokuskan pada bidangbidang yang secara potensial berdampak pada kewajaran laporan keuangan serta
tingkat efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan negara. Sebagai
konsekuensinya,

APIP

diwajibkan

untuk

menyampaikan

laporan

hasil

pemeriksaannya kepada BPK. Untuk dapat menghasilkan laporan hasil audit yang
dibutuhkan oleh BPK, tentunya diperlukan kejelasan wewenang, peran dan ruang
lingkup pekerjaan yang dilaksanakan oleh APIP. Apabila hal ini diabaikan maka
besar kemungkinan akan terdapat hasil pekerjaan APIP yang tidak dapat
dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung perencanaan dan pelaksanaan
audit oleh BPK.
Selama ini tugas-tugas yang dilaksanakan oleh APIP tidak hanya terbatas
pada pemeriksaan saja, tetapi juga banyak melakukan fungsi pelayanan dan
konsultansi dalam rangka peningkatan kinerja instansi pemerintah sesuai dengan
tuntutan paradigma auditor internal yang dikehendaki pada saat ini. Hanya saja,
masih sering terdengar suara sumbang yang mengecilkan peran dan arti penting
APIP dalam membantu terwujudnya good governace pada sektor publik. Untuk
merespon wacana yang berkembang di masyarakat tersebut, sudah tiba saatnya
bagi Pemerintah Pusat dan Daerah untuk secara jelas memformulasikan ruang
lingkup pekerjaan, peranan, dan kewenangan audit internal pemerintah.
Berkenaan dengan peran dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh auditor
internal dalam rangka mewujudkan good governance pada sektor publik, The
International Federation of Accountants (IFAC) pada tahun 2001 dalam Study 13
tentang Governance in the Public Sector: A Governing Body Perspective
merumuskan bahwa fungsi audit internal yang efektif mencakup reviu yang
dilaksanakan secara sistematis, penilaian dan pelaporan atas kehandalan dan
efektivitas penerapan sistem manajemen, keuangan, pengendalian operasional dan
penganggaran, yang setidak-tidaknya meliputi berbagai aktivitas reviu sebagai
berikut:

Tingkat relevansi atas kebijakan yang ditetapkan, perencanaan dan prosedur,


tingkat kesesuaian antara praktik dengan kebijakan, rencana, dan prosedur
yang telah ditetapkan, termasuk implikasinya terhadap aspek keuangan negara.

18

Kehandalan dan keakuratan atas peraturan yang dibuat sebagai penjabaran


dari peraturan yang lebih tinggi tingkatannya.

Ketepatan mengenai penyusunan struktur organisasi, pengembangan sumber


daya manusia (personil), dan supervisi.

Reviu terhadap pelaksanaan program dan kegiatan berdasarkan rencana yang


telah ditetapkan dan manfaat atas program dan kegiatan apakah telah selaras
dengan tujuan diadakannya program dan kegiatan tersebut.

Evaluasi terhadap pertanggungjawaban dan pengamanan atas penggunaan


aset dan sumber daya lainnya dari penyalahgunaan wewenang, pemborosan,
kelalaian, salah urus, dan lain-lainnya.

Reviu terhadap ketepatan, keakuratan, dan kejujuran atas proses pengolahan


dan pelaporan informasi keuangan dan manajemen.

Penilaian terhadap tingkat keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber


daya.

Penilaian

terhadap

integritas

sistem

yang

terkomputerisasi

berikut

pengembangan sistemnya, dan

Evaluasi terhadap tindak lanjut yang telah dilaksanakan untuk mengatasi


permasalahan yang terjadi pada periode sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa ruang lingkup pekerjaan audit

internal sangat luas dan komprehensif agar dapat menjamin pencapaian tujuan
organisasi. Penulis yakin, apabila institusi audit internal di Indonesia yang
tergabung dalam wadah APIP diberikan kewenangan, peran, dan fungsi yang jelas
dan luas seperti tersebut di atas maka hasil pekerjaan APIP akan sangat
bermanfaat tidak hanya bagi pemerintah saja, tetapi juga bermanfaat bagi pihak
legislatif, eksternal auditor, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Akan
tetapi, untuk menjamin kualitas hasil pekerjaan APIP yang melibatkan sekian
banyak sumber daya manusia dengan berbagai jenis latar belakang pendidikan dan
pengalaman, diperlukan suatu program pendidikan dan pelatihan yang profesional
dan berkelanjutan. Di samping itu, untuk meningkatkan koordinasi dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan di antara jajaran APIP,
diperlukan adanya pengembangan sinergi pengawasan APIP.
3. Pengembangan Sinerji Pengawasan APIP

19

Pengembangan sinergi pengawasan sesama APIP dapat dilakukan dengan


cara mutual adjustment melalui koordinasi yang baik, direct supervision melalui
proses peer review, serta standardisasi input, proses kerja maupun output.
Selanjutnya, upaya pengembangan sinergi pengawasan APIP dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
Penajaman peran jajaran APIP dalam struktur pengawasan intern secara
keseluruhan.
Dalam hal ini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) yang
bertanggung jawab di bidang koordinasi pengawasan dapat memainkan peran
sebagai strategic apex, yaitu menyinergikan gerak dan langkah pengawasan
intern dalam rangka mendorong peningkatan kinerja organisasi pemerintahan
dan membangun good governance. Dalam konteks penajaman peran ini pun,
perlu pula dikukuhkan APIP yang secara teknis berfungsi sebagai
technostructure dan middle line.
Revitalisasi penerapan Standar Audit dan Kode Etik pada jajaran APIP.
Dengan karakteristik yang relatif spesifik mengingat basis disiplin keilmuan
dan profesinya, fungsi pengawasan intern perlu merevitalisasi penerapan
standar audit dan kode etik dalam pelaksanaan tugas pengawasan. Dengan
penerapan standar audit dan kode etik secara sungguh-sungguh dan konsisten,
maka pola perilaku aparat pengawasan dapat terprediksi dan terkendali. Hal ini
berarti bahwa secara tidak langsung akan terwujud standardisasi keahlian,
keterampilan

dan

pengetahuan

sumber

daya

manusia

pengawasan,

standardisasi proses kerja pelaksanaan audit, serta standardisasi hasil kerja


audit pada tataran mikro yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tataran
makro.
Pengembangan aturan main dan program kerja.
Aturan main pelaksanaan tugas pengawasan dan program kerja APIP yang
dituangkan dalam peraturan perundangan perlu disusun dan ditetapkan. Selain
sebagai acuan kalangan APIP, hal ini juga diperlukan bagi pihak auditan.
Pengembangan prosedur kerja dan dukungan teknologi informasi dan
komunikasi.

20

Prosedur kerja baku perlu dikembangkan untuk menginternalisasikan proses


sinergi pengawasan, baik pada tahapan perencanaan, pelaksanaan, pelaporan,
serta pemantauan dan evaluasi tindak lanjut.
Mewujudkan Good Corporate Governance bukan semudah membalik telapak
tangan. Memang disatu sisi auditor paling banyak tahu tentang Good Corporate
Governance, dimana peran auditor internal diharapkan dapat memberikan nilai
tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit Internal membantu
organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan
teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko,
pengendalian dan proses pengelolaan.
Perubahan peran APIP dalam paradigma baru mempengaruhi perubahan
mindset dan cultureset serta metodologi APIP. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu
yang luas, keahlian yang mumpuni, dan integritas yang mulia. Kesemuanya itu
merupakan senjata APIP dalam menghadapi tuntutan tugas, serta menghadapi
perubahan paradigma. Yang antara lain meliputi penguasaan Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah (SPIP), Pengelolaan Manajemen Risiko, Proses Tata Kelola
Pemerintahan Yang Baik. Pemahaman ketiga domain tersebut dapat memberikan
keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan program pemerintah dapat berjalan
secara efektif dan efisien; menjamin keandalan laporan keuangan pemerintah;
pengelolaan aset secara tertib; kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku; serta mengembangkan kemampuan deteksi dini (early warning) untuk
mencegah terjadinya penyimpangan yang mengakibatkan timbulnya kerugian negara.
Kunci sukses untuk merubah paradigma baru APIP adalah melandaskan hati nurani
(god spot) sebagai mahkota pengawasan.

21

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Audit internal sektor publik dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan fungsi
pengawasan dalam manajemen organisai sektor publik. Fungsi audit internal di
sektor publik dewasa ini lebih dituntut untuk meningkatkan profesionalitas dan
kredibilitasnya di mata masyarakat. Hal ini demi mewujudkan Good Corporate
Governance (GCG) yang telah menjadi tuntutan globalisasi. Isu GCG seharusnya
merupakan pemberdayaan kembali fungsi audit internal sektor publik. Terlaksananya
peran auditor internal diharapkan dapat melengkapi dan meningkatkan efektifitas
serta efisiensi pelaksanaan audit eksternal menuju perbaikan organisasi ke arah yang
lebih baik.
Perubahan paradigma pengawasan yang dilakukan oleh auditor sektor publik
dari fungsi awal hanya sebagai watch dog lalu berubah menjadi penjamin mutu
dan fungsi konsultasi menuntut perbaikan kinerja dan kompetensi segenap aparat
pengawas.
3.2. Saran
Pemahaman terhadap Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP),
Pengelolaan Manajemen Risiko, Proses Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dapat
menjadi senjata bagi APIP dalam memberikan keyakinan yang memadai bahwa

22

pelaksanaan program pemerintah dapat berjalan secara efektif dan efisien; menjamin
keandalan laporan keuangan pemerintah; pengelolaan aset secara tertib; kesesuaian
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; serta mengembangkan
kemampuan deteksi dini (early warning) untuk mencegah terjadinya penyimpangan
yang mengakibatkan timbulnya kerugian negara. Kunci sukses untuk merubah
paradigma baru APIP adalah melandaskan hati nurani (god spot) sebagai mahkota
pengawasan.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2012. Auditing. Salemba Empat, Jakarta


Albantani, Muhsin. 2011. Paradigma Baru Pengawasan: http://muchsinalmancaki.blogspot.com/2011/11/paradigma-baru-pengawasan.html
(diunduh pada tanggal 10 Mei 2015)
Bastian, Indra. 2014. Audit Sektor Publik, Pemeriksaan Pertanggungjawaban
Pemerintah. Salemba Empat, Jakarta.
Buttery, Roger, Chris Hurford, dan Robert K. Simpson, (1993), Audit in the public
sektor, 2nd Ed., ICSA Publishing Ltd.
Murwanto, R., Budiarso, A., Ramadhana, F. H. 2014. Audit Sektor Publik Suatu
Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah. Lembaga
Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan
Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI
Rai, I Gusti Agung. 2008. Audit Kinerja Pada Sektor Publik. Salemba Empat,
Jakarta.
Tjakrawala, F.X.K. 2001. Tinjauan Fungsi Audit Internal Sektor Publik Dalam
Upaya Perujudan Good Corporate Governance Di Indonesia. JURNAL
AKUNTANSI/FE-UNTAR/DECEMBER/2001
23

Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik. 2007.
Dasar-dasar Audit Internal Sektor Publik. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Zamzami, Faiz.

24