Anda di halaman 1dari 11

MANIFESTASI ORAL SINDROM SJORGEN

A. DEFINISI
Sindrom Sjogren merupakan keadaan gangguan autoimun yang berkembang lambat
yang mencakup anggota khusus tubuh secara meluas dan menimbulkan manisfestasi sistemik.
Ditemukan oleh seorang ophthalmologist Swedia bernama Hendrik Sjogren pada tahun 1933
menyatakan keratoniungtivitis sicca adalahsalah satu aspek penyakit kulit kompleks, yang
terutama timbul pada wanita setelah menopause. Ia menyatakan bahwa sindrom ini
merupakan inflamasi kronik dan penyakit autoimun yang dikarakteristikkan dengan
hipofungsi eksokrin dan kelainan serologis yang menyebabkan kekeringan pada mulut, mata
dan pembesaran kelenjar parotis.
Sindrom ini terbagi dalam dua bentuk yaitu bentuk primer dan sekunder, dengan
bentuk pertama dikenal dengan nama penyakit Mikuliczs. Bentuk yang sekunder melibatkan
kelenjar lakrimalis dan kelenjar saliva, serta terkait dengan penyakit pada jaringan ikat.
Sindrom Sjogren merupakan kondisi yang relative sering terjadi dan diperkirakan
timbul pada sekitar 50% penderita arthritis rheumatoid. Kondisi ini lebih banyak melibatkan
wanita dengan perbandingan 9:1 dengan laki-laki dan dapat melibatkan penderita berbagai
umur namun lebih banyak melibatkan wanita usia 50 tahun.
B. ETIOLOGI
Etiologi dari penyakit ini masih belum diketahui, namun banyaknya antibodi yang
abnormal maupun adanya kaitan dengan kondisi kolagen membuat para imunologis meyakini
bahwa SS merupakan suatu keadaan autoimnunitas. Cummings meneliti SS yang terkait
dengan arthritis rheumatoid dan serum antibodi yang berfungsi melawan antigen kelenjar
saliva pada 70% pasien. Beberapa penemuan klinis menyatakan sindrom ini berbeda dengan
penyakit mikulicz tapi faktor imunologis banyak menunjukkan penyakit kompleks yang
berhubungan dengan hiperaktivitas poliklonal sel B yang menggambarkan regulasi dari
subpopulasi dan sel T sebagai lesi limpo epithelial
Talal menyatakan adanya kaitan predisposisi genetik pada individu tertentu yang
menyebabkan reaksi imunitas abnormal pada reaksi terhadap sebuah virus, dimana ia

melakukan percobaan ini pada tikus New Zealand. Menurut studi serologis, menunjukkan
peristiwa dari inti Ro (SS-A) antibodi dan antibodi anti La (SS-B).
C. PATOFISIOLOGI
Pusat dari patofisiologi SS adalah adanya rangsangan sistem imunitas yang kronik.
Proses yang mempengaruhi rangsangan humoral dan reaksi autoimunitas yang diamati pada
penderita SS tidak diketahui, tapi baik limfosit T maupun B ikut terlibat. Hiperaktivitas sel B
terlihat melalui hipergamaglobulinemia dan sirkulasi autoantibodi.
Autoantibodi non-organ spesifik ditemukan pada sekitar 60% dari penderita SS.
Autoantibodi ini melibatkan faktor rheumatoid, antibodi antinuklear dan antibodi pada
kompleks kecil protein RNA, Ro/ SS-A dan La/ SS-B. autoantibodi ini dapat menyebabkan
disfungsi jaringan sebelum terlihat adanya inflamasi.
Terdapat banyak petunjuk bahwa hal ini, menyangkut gangguan autoimun. Antigenantigen ini dalam keadaan normal terdapat dalam makrofag, limfosit B, limfosit T, yang
diaktifkan dan sel-sel endotel kapiler. Pada penderita SS lebih dari 70% limfosit yang
merembes mempunyai antigen HLA-DR berhubungan dengan hiperglobulinemia dan respon
antibodi yang tinggi molekul dan Epstein-Bar Virus (EBV) pada kelenjar saliva epitel selalu
menyertai SS ini.
D. GEJALA KLINIS
Syndrome sjogren dalam bentuk perkembangan sempurna ditandai dengan kondisi
xerostomia, keratokonjungtivitis sicca dan xerophthalmis. Disamping itu terjadi pula
pembengkakan kelenjar saliva mayor, artritis rheumatoid dan gangguan jaringan ikat.
Pasien mengeluhkan dengan adanya kotoran atau benda asing yang terus-menerus
berada di mata. Keringnya faring dan esophagus memicu terjadinya kesulutan menelan,
sehingga penderita sering makanan yang menyangkut di tenggorokan, sering muncul rasa
sakit perut, dan diare.
Peradangan pembuluh darah terlihat pada beberapa penderita, terutama mereka
dengan hipergamaglobulinemia atau cryoglobulinemia. Fenomena raynould terlihat pada
20% penderita SS. Keluhan juga ditunjukkan pada adanya kekeringan pada laring dan hidung
oleh beberapa penderita. Keluhan ini ditunjukkan oleh karena kurangnya sekresi pada system
seluran pernafasan bagian atas, yang dapat memicu terjadinya pneumonia. Pasien penderita

SS dapat mengalami kekeringan mukosa tracheobronchial, yang dapat memicu terjadinya


batuk kering. Sekitar 5% wanita penderita SS juga terdapat keluhan adanya kekeringan pada
vagina.
Cummings pada tahun 1971 melaporkan dari 90% kasus penyakit pada jaringan ikat
menunjukkan kekeringan pada mata maupun rongga mulut. Keluhan utama dirongga mulut
adalaah xerostomia, menyebabkan lidah tidak berpapila, licin dan mengkilap. Hal ini
menyebabkan kesukaran pemakaian gigi tiruan dan perasaan tidak enak dalam
pemakaiannya.
E. DIAGNOSIS
Banyak gejala SS seolah-olah tidak spesifik dan spectrum manifastasi klinis sangat
luas. Karena SS sangat sering terlihat pada wanita paruh baya, tanda-tanda tertentu,
kekeringan oral dan vagina dapat terkait terutama pada kondisi menopause. Gejala awal dari
kekeringan mata dan mulut membingungkan dengan penyakit atropik dan kegelisahan.
Tanda sugestif dari limpoproliferasi termasuk pembesaran yang bermakna dari
kelenjar saliva, limfodenopati, spelomegali dan infiltrasi pulmonary. Pengamatan longitudinal
dari parameter laboratorium pada penderita SS dapat menunjukkan penemuan yang
dihubungkan dengan perkembangan limfoma, seperti adanya suatu protein monoclonal,
leucopenia, serangan leukopeni anemia, dan kehilangan antibody spesifik.
Diagnosis SS masih merupakan problema. Keluhan terhadap mata dan mulut kering
marupakan hal yang biasa terjadi dan nonspesifik. Produksi air mata yang menurun secara
subjektif dapat didokumentasikan secara objektif dengan tes schimer.
Pengujian untuk kuantitas dari kekeringan mulut sangat terbatas. Scintigraf saliva
dapat dilakukan untuk menentukan fungsi kelenjar saliva parotis dan mandibularis. Sialigrafi,
menggunakan injeksi intraduktus dengan agen kontras berbasis air, dapat memperlihatkan
gangguan, menggambarkan duktus saliva. Biopsi dari kelenjar saliva mayor tidak dilakukan
secara rutin, tapi biopsi bibir menunjukkan jumlah limfosit dari 50 atau lebih sel dalam
bagian periduktaldari kelenjar saliva minor dipastikan sebagai standar emas diagnose dari SS.
Deteksi faktor rheumatoid dan antibody antinuclear ada titer bermakna mendukung
diagnosis dari prose autoimun sistemik dibanding fenomena lokal. Beberapa peneliti
menemukan kehadiran dari anti Ro spesifik (SS-A) dan anti La (SS-A) antibody sebagai

kriteria diagnostic untuk keberadaan SS, walaupun tidak ada penyakit yang spesifik.
Diagnosis deferensial AA dihindarkan dari pengobatan dan gangguan lain yang dapat
menimbulkan gejala sicca obat-obatan dengan efek samping antikolenergik signifikan atau
perawatan seperti fibromyalgia, gangguan tidur, tekanan darah, disritmia kardiak, gangguan
gigi tiruan, gangguan psikiatrik atau Parkinson dapat menyebabkan gejala eksaserbasi.
Gangguan dapat menyebabkan gejala sicca menyerupai SS, termasuk proses infeltratif
(contoh amiloidosis, limfoma, sarkoidosis dan penyakit versus host). Proses infeksi ( contoh
hepatitis B, C dan HIV, retrovirus lain, sifilis dan tuberculosis), autonom dan neuropati lain
(perubahan dan kekurangan dalam produksi air mata dan saliva normal, yang terkait dengan
usia.
Berkurangnya rangsangan rata-rata aliran saliva (PFR) 5ml perkelenjar dalam 10
menit adalah faktor petunjuk xerostomia yang spesifik. Scintigraf saliva yang memastikan
pengambilan, konsentrasi dan ekresi dari II-Tc-pertecnetate oleh kelenjar saliva mayor adalah
indeks sensitive dari fungsi glandula, namun scintigraf sangat mahal dan tidak menunjukkan
kelebihan dan keuntungan dalam sensitivitas diagnosis dari biopsi kelenjar saliva minor.
Biopsi bibir adalah prosedur diagnosis spesifik dan sensitive, ditoleransi dengan baik oleh
penderita, tidak menyebabkan perubahan. sebagai tambahan untuk memasyikan diagnosis,
biopsi memenuhi kuantifikasi serajat dari infiltrasi linfosit dan kerusakan jaringan. Jumlah
limfosit dalam setiap jaringan asinar adalah 50 sel atau lebih.
F. MANIFESTASI SINDROM SJORGEN PADA RONGGA MULUT
1. Saliva
Sejak Sjorgen pertama kali menerangkan hubungan antara xerostomia dan artritis
rematoid timbul bermacam-macam kriteria diagnostik untuk SS. Manifestasi utama pada SS
adalah xerostomia, yang dapat merupakan symber terjadinya kesulitan dalam proses makan
dan berbicara. Pada kondisi xerostomia, pasien mengeluhkan beberapa kesulitan selain
kesulitan makan dan berbicara, keadaan tersebut biasanya meliputi perubahan terhadap
pengecapan dan ketidaknyamanan secara menyeluruh di dalam rongga mulut. Bagi yang
mengenakan protesa, maka akan terjadi rendahnya retensi terhadap protesa yang digunakan.
Volume saliva menurun dan saliva yang ada terlihat seperti bertalian

Gambar 1. Saliva yang bertalian

Simtom di rongga ulut yang biasa dikeluhkan meliputi rasa sakit, melekatnya
makanan kepermukaan mukosa bukal, celah pada lidah dan disfagia. Papila pengecapan juga
menjadi abnormal, meningkatkan penderita hipogeusia idiopatik. Pada pasien rawat jalan, SS
adalah penyebab utama terjadinya bakterial sialadenitis akut, yang biasanya terkait dengan
stafilokokus dan pneumokokus. Biasanya pasien juga mengeluhkan rasa sakit yang akut,
trismus dan kecenderungan membengkaknya kelenjar saliva. Kelenjar limfonode juga
membesar, lunak dan pada beberapa kasus penderita akan mengeluhkan demam dan malaise.
Penyingkaran debris makanan, mikroorganisme, sel-sel mati dalam rongga mulut,
yang menjadikan mulut dalam keadaan bersih dan mencegah terjadinya kolonisasi bakteri.
Seiring perkembangan penderita SS dan hipofungsi saliva yang terjadi, maka jumlah
Streptokokus mutans, laktobasilus, kandida, Actinomyces viscosus dan Streptococcus mitis
meningkat. Sebaliknya jumlah Streptococcus salivarius, Streptococcus sanguis, veilonella,
neisseria, bacteroides dan fusobacterium anaerob berkurang.

2. Mukosa
Mukosa bukal menjadi lebih lengket dan melekat pada permukaan kaca mulut yang
diposisikan pada mukosa bukal. Kurangnya volume saliva akan memperlihatkan warna
kemerahan secara menyeluruh pada permukaan mukosa mulut dan dorsum lidah yang
berlobul

Gambar 2. Dorsum lidah yang berlobus penderita xerostomia

Pada tahap awal terjadinya SS, mulut masih dalam konsistensi kelembaban yang
wajar, namun seiring perkembangan kondisi ini, saliva yang biasanya menggenangi dasar
mulut menjadi hilang, sehingga terjadi kontak antara jaringan lunak dan saliva yang hebat,
akan menyebabkan lidah yang melekat pada palatum, memicu terjadinya bunyi berdecak
ketika penderita bicara.

3. Gigi
Akibat kurangnya saliva akan terlihat adanya kandidiasis dan angular cheiltis. Gigi
menjadi rentan terhadap karies pada daerah leher gigi dan restorasi yang ada menjadi rusak.

Gambar 3. Angular cheiltis

Perubahan dalam mikroflora mulut dan skeresi saliva yang berkurang menyebabkan
proses karies yang cepat menjalar. Dalam 3-6 bulan setelah permulaan xerostomia, elemen
gigi geligi yang mulanya utuh menderita karies yang parah dan mudah patah. Proses karies
terutama terjadi pada permukaan-permukaan elemen gigi geligi seperti daerah-daerah
servikal, insisal dan oklusal

Gambar 4. Karies servikalis pada penderita xerostomia

Selain karies dentin, penderita ini juga cenderung rentan terhadap penyakit
periodontal, pembesaran kelenjar parotis, yang kerap kali terjadi dan simetrik pada 50%
penderita. Penderita juga menegluhkan rasa terbakar pada mukosa rongga mulut, lidah
menjadi lebih licin, tanpa papilla, halus dan mengkilap dan banyaknya plak.
G. PERAWATAN SINDROM SJORGEN
Tindakan pencegahan pada rongga mulut sangat penting untuk mengendalikan
xerostomia. Tindakan oral hygiene yang cermat, modifikasi diet, terapi fluorida secara topikal
dan larutan remineralisasi sangat penting dalam mempertahankan jaringan gigi dan rongga
mulut. Penggunaan sialogogue seperti pilokarpin digunakan dalam jumlah terbatas saja dan
bahkan pada beberapa kasus dapat merupakan kontraindikasi.
Tujuan perawatan adalah untuk meredakan secara simtomatis dan mengurangi resiko
perawatan dalam waktu jangka panjang. Produksi saliva dapat dirangsang dengan bermacam
tindakan secara lokal maupun sistemik. Untuk mengatasi xerostomia, dapat dilakukam
dengan menggunakan rangsangan zat-zat asam seperti asam sitrun yang merangsang kuat

sekresi encer dan menyebabkan rasa segar didalam mulut. Kerugiannya adalah bahan ini
cepat mengiritasi selaput lendir yang peka. Zat-zat manis seperti sukrosa juga dapat
digunakan untuk menginduksi sekresi saliva encer seperti air. Rasanya menyenangkan dan
meringakan selaput lendir, namun akan menyebabkan meningkatnya proses karies.
Penggunaan mentol juga dapat dilakukan perangsangan terhadap sekresi saliva, yaitu dengan
meningkatkan daya pengunyahan. Sayuran keras seperti wortel, ketimun, apel dapat
digunakan, tapi kurang cocok bila selaput lendir peka. Dapat juga digunakan permen karet
bebas gula, walaupun bahan-bahan ini mengandung karbohidrat lain yang juga dapat
menyebabkan karies pada gigi. Mengunyah substansi seperti parafin secara perlahan atau
menghisap biji buah juga dapat merangsang aliran saliva. Meminum air secara periodik dapat
membantu untuk mempertahankan kelembaban rongga mulut pada kondisi yang
menunjukkan simptom pada taraf sedang. Untuk mengatasi kondisi xerostomia yang
berpengaruh terhadap resiko dental telah dikembangkan pasta gigi khusus. Untuk
meringankan akibat xeristomia, nasihat-nasihat berikut dapat diberikan pada pasien, porsi
kecil makanan yang disajikan sangat menarik untuk membangkitkan nafsu makan serta
merangsang sekresi saliva. Oleh karena lamanya periode sekresi laten, paling tidak 510
menit, dianjurkan untuk sebelumnya diberi sop atau kaldu hangat. Makanan yang paling baik
dimakan sudah dingin atau hangat; makanan panas memberi tanggapan rasa sakit karena
mukosa tidak lagi mempunyai lapisan lendir pelindung. Makanan cair dan lunak lebih
dianjurkan daripada makanan keras dan kering. Bahan makanan yang mengurangi rasa sakit
antara lain adalah ketimun, tomat, karena terasa sakit pada mukosa dan memberikan rasa licin
pada lidah. Produk-produk susu sering memberikan rasa tambahan seperti lendir. Makanan
dengan rempah-rempah sering mengiritasi, sebaiknya dihindari. Pada kondisi kurang makan
yang diikuti oleh turunnya berat badan, dianjurkan pemberian makanan tambahan yang agak
encer dengan minuman kaya protein.
Merawat manifestasi oral dari SS ditujukan untuk meminimalisir xerostomia dengan
menggunakan saliva pengganti, merangsang aliran saliva, mencegah karies dentis dan infeksi
yang ditimbulkan akibat xerostomia. Pengganti cairan saliva atau saliva penggantiharus
menggantikan fungsi pokok ludah manusia, seperti, perlindungan, pertahanan dan
pembasahan jaringan lunak mulut dan mempermudah bicara dan makan. Saliva pengganti
menjaga agar jaringan lunak tetap basah dan terlindung dari agensia yang merugikan dan
kerusakan mekanis, dengan suatu lapisan yang tersusun dari protein saliva dan glikoprotein
saliva. Lapisan protein basah ini berfungsi sebagai bahan peluncur lidah saat bicara, makan

dan menelan. Lapisan protein saliva pada permukaan gigi, pelikel, melindungi email gigi
terhadap keausan dan demineralisasi. Walaupun tersedia saliva pengganti, banyak pasieen
yang enggan menggunakannya karena masa kerjanya yang singkat dan menimbulkan rasa
yang tidak nyaman. Namun, saliva pengganti harus diresepkan pada pasien dengan
kekeringan rongga mulut yang berat dan tidak menghasilkan sekresi saliva. Gel pelembab
dalam rongga mulut, seperti oral balance, bertahan lebih lama dan cocok pada penggunaan
secara oles.
Terdapat banyak jenis saliva pengganti yang diperdagangkan. Tabel 1 menggambarkan
susunan beberapa jenis saliva pengganti yang tersedia
TABEL 1. SUSUNAN BEBERAPA JENIS SALIVA PENGGANTI YANG TERSEDIA
Amerongen APN, Ludah dan kelenjar ludah arti dari kesehatan gigi. Alih bahasa Abyono R.
Jogja Karta: Gadjah Mada Universitas Press, 1991:204
Komponen(g)

Saliment

PA Oralube

Glandosane

Salisynth

Saliva

Carboxymethyl

7,5

10,0

10,0

Orthana
-

30,0
1,20
0,85
0,05
0,20
0,35
+
Ad1000

30,0
0,63
0,87
0,06
0,17
0,08
0,33
0,42
Ad1000

30,0
1,20
0,84
0,05
0,15
0,34
Ad1000

0,63
0,87
0,13
0,33
1,05
0,33
0,42
0,10
Ad1000

40
20
1,20
0,85
0,05
0,20
1,35
Ad1000

Sellulose
(CMC)
Musin
Sorbitol
Xilitol
KCL
NaCL
MgCL2-6H2O
CaCL2-6H2O
CaCL2-2H2O
K2HPO4
KH2PO4
NaF (mg)
KCNS
Aetherolumcitri
Akuades (ml)

Perawatan gigi secara cermat dibutuhkan, termasuk didalamnya pengamatan gigi


secara teratur serta aplikasi fluoride drumah maupun dikantor. Beberapa simtom dapat
muncul sebagai kandidiasis intraoral, yang dapat dirawat dengan menggunakan nistatin.
Bentuk asupan nistatin oral mengandung sejumlah sukrosa , karenanya sebagai alternative

tablet nistatin vaginal dilarutkan pada rongga mulut. Sebagai tambahan, klotrimazole
lozenges, digunakan lima kali sehari selama empat belas sehari. Nistatin atau krim
klotrimazole juga dapat digunakan untuk merawat angular cheilitis. Pasien dengan SS
sebaiknya dapat menghindari obat-obatan diuretika, antihipertensi, antidepresi dan
antihistamin, yang dapat memperburuk kondisi hipoplasia.
Tujuan lain dari perawatan ini adalah untuk meminimalisir efek sekunder dari
menurunnya sekresi endokrin. Kondisi xerostomia dari SS juga dapat diatasi dengan
menggunakan metil selulosa atau produk saliva pengganti lain yang digunakan tiga kali
sehari. Penggunaan pilokarpin juga dapat menolong kekeringan dalam mulut. Pasien dengan
SS dalam tahap berkembang dapat dirawat dengan kortikosteroid sistemik atau obat-obatan
imunosupresif
Penggunaan produk ini pada tahap menengah menunjukan efek samping yang lebih
besar daripada keuntungannya. Vitamin A, vitamin B kompleks dan nikotinamida, zat besi
dan srtenat telah dicoba namun tidak menunjukan keberhasilan yang berarti. Perawatan
dengan kortison tidak sepenuhnya menunjukan keberhasilan. Penggunaan asam gama linoleat
dilaporkan dapat membantu pada pasien SS.

REFERENSI
1. Kassan SS and Moutsopoulus MM. Clinical manifestation and an early diagnosis of
sjorgen syndrome. In: Archieves of internal medicine Chicago 2004; vol. 164: 1-13
2. Lehner T. Imunologi pada penyakit mulut. Alih Bahasa Farida R dan Suryadhana.
Jakarta penerbit buku EGC, 1995

3. Burket LW. Oral medicine diagnosis and treatment. 8th Ed. Philadelphia: JB
Lippinchot Co, 1984
4. Gupta LC, Gupta A. Pral medicine 1st. Dehli. AITBS publisher & distributor, 1990: 50
5. Francis ML. eMedicine. Sjorgen Sindrom. Emedicine. 2004
6. Regezi JA, Sciubba JJ. Oral Pathology: clinical pathology correlations. Philadelphia:
WB Saunders Company. 1989

Anda mungkin juga menyukai