Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PEMANASAN GLOBAL (Global Warming)

Oleh
Muhammad Azkhar Minullah
C 201 07 031

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2008
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan

hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul

“Pemanasan Global” ini dengan lancar.

Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang diperoleh dari

buku panduan yang berkaitan dengan Pemanasan Global, serta informasi dari media

massa. Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak

yang terlibat, khususnya kepada dosen matakuliah Biologi Dr. Ir. Shahabuddin, M. Si.

atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah

ini. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari

pembaca demi perbaikan selanjutnya menuju arah yang lebih baik. Akhir kata, Penulis

berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal menambah

wawasan kita mengenai Pemanasan Global.

Palu, 22 September 2008


TTD

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL I
KATA PENGANTAR II

DAFTAR ISI III

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………. 1
1.2 Perumusan Masalah …………………………………………………. 5
1.3 Tujuan …………………………………………………………………. 5
1.4 Kegunaan…………………………………………………………………. 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………. 6

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Pengertian Pemanasan Global ………………………………………..... 8
3.2 Penyebab Pemanasan Global …………………………………………. 9
3.3 Akibat Dari Terjadinya Global Warming …………………………. 13
3.4 Cara Membatasi Global Warming …………………………………. 17

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ………………………………………………………….. 20
B. Saran ………………………………………………………………….. 21

DAFTAR PUSTAKA …………….…………………………………………... 22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya hutan adalah kekayaan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa

yang dapat memberikan manfaat serba guna bagi kehidupan mahluk di bumi ini
sepanjang masa. Peranan sumber daya alam hutan terhadap manusia baik secara

ekologis, ekonomi dan sosial dibutuhkan terus menerus.

Menurut Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan, Hutan adalah

suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang

didominansi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan

yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan merupakan penyanggah ekosistem di muka

bumi ini, hal ini sangat erat kaitannya dengan Pemanasan global yang sedang menjadi

isu sentral di wacana lingkungan dunia. Kurangnya hutan menyebabkan peningkatan

suhu permukaan beberapa derajat per tahun sebagai dampak naiknya permukaan air

laut beberapa centimeter. Kenaikan ini dipicu oleh mencairnya es di kutub utara dan

selatan, yang diakibatkan oleh pemanasan global.

Isu pemanasan global begitu berkembang akhir-akhir ini. Pemeran utamanya tentu

saja manusia dengan berbagai aktivitasnya. Pemanasan global telah menyebabkan

perubahan iklim yang signifikan, seperti yang terjadi di negara kita, efek dari

pemanasan ini telah menyebabkan perubahan iklim yang ekstrim. Di beberapa daerah

sering terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir bandang dan longsor, munculnya

angin puting beliung, bahkan kekeringan yang mengancam jiwa manusia. Makalah ini

akan membahas gambaran umum tentang pemanasan global, peran manusia dalam

pemanasan global, dampak, beserta usaha mengendalikan pemanasan global.

Berdasarkan World Development Report 1998/99 dari Bank Dunia, total emisi CO2

dunia pada tahun 1995, baik berasal dari penggunaan energi maupun dari sumber lain

sebesar 22.700 juta ton. Amerika Serikat menempati urutan pertama dalam hal

pembuangan emisi gas CO2 sebanyak 24,1% (melebihi Jepang, India, China, maupun

gabungan tiga negara ini, maupun jika dibandingkan dengan Eropa). Selain penggunaan

energi fosil, pemakaian barang-barang yang akan menimbulkan aerosol yang

berlebihan di atmosfer juga menimbulkan pemanasan global. Sebagai contoh


penggunaan freon pada AC, pemakaian hair dan parfum spray maupun asap kendaraan

bermotor yang menimbulkan senyawa timbal (Pb).

Semakin berkurangnya hutan memegang peranan dalam pemanasan global.

Kawasan hutan merupakan areal yang mempunyai manfaat langsung bagi masyarakat,

namun pada kenyataannya selama ini belum banyak dipahami kalangan awam sebagai

sesuatu yang berarti. Mereka menilai kawasan hutan merupakan kawasan tutupan hutan

yang hanya mempunyai makna ekonomi jika kayu yang ada di dalamnya bisa dijual

atau dimanfaatkan untuk bangunan. Jika dihubungkan secara global, ekosistem hutan

lebih dari itu. Hutan telah berjasa dalam keseimbangan iklim, mengurangi polusi,

mereduksi, menyerap CO2 dan mengurangi pemanasan global.

Beberapa tahun terakhir ini penjarahan hutan atau penebangan liar di kawasan

hutan makin marak terjadi dimana-mana seakan-akan tidak terkendali. Ancaman

kerusakan hutan ini jelas akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besarnya

karena adanya efek El-Nino dari hilangnya hutan, terutama pada kawasan-kawasan

yang mempunyai fungsi ekologis dan biodiversiti besar.

Seperti yang telah kita ketahui segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal

dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek,

termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari

cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap

sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya sebagai radiasi infra merah

gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di

atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca yang menjadi perangkap

gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi

gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di

permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata

bumi terus meningkat.


Sebenarnya efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup

yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. "Global

Warming," sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat

jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi

akibatnya

Di bidang pertanian, orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan

menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak

sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan

mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam.

Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin

tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-

gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang

berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa

tanam.

Tahun 2004, konsultan dari Pentagon juga merilis laporan dari akibat terburuk dari

pemanasan global terhadap keamanan nasional. Pemanasan global bisa membuat

sebagian besar area dunia tak dapat didiami. mengalami kekurangan air dan makanan,

peperangan dan migrasi tersebar luas.

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun.

Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang

dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah

mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah

semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat

dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara

lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang
lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan

tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan

tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-

lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas

rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan

menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut

carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah

kaca.

Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar

fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada

abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian

digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi

gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan

bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah

karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih

sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara.

Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi

pelepasan karbon dioksida ke udara.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diambil adalah :

1. Apa pengertian dari pemanasan global ?

2. Apa saja yang menyebabkan pemanasan global ?

3. Apa saja akibat yang ditimbulkan dari pemanasan global ?

4. Bagaimana cara membatasi pemanasan global ?


1.1 Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

1 Sebagai bahan dalam sosialisasi pengendalian pemanasan global.

2 Untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang peranan hutan dalam

pengendalian pemanasan global.

1.1 Kegunaaan

Kegunaan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Agar mahasiswa dapat mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pemanasan

global.

2. Agar mahasiswa dapat menerapkan cara-cara dalam pencegahan pemanasan global

dengan serius.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yang termasuk

dalam gas rumah kaca diantaranya CO2, NO2, CH4, SF6, PFCs, dan HFCs. CO2, NO2,

dan CH4 sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil baik dari sektor

industri maupun dari transportasi. Sementara SF6, PFCs, dan HFCs sebagian besar

merupakan hasil pemakaian aerosol. Gas-gas ini menyumbang kurang dari 1%, tetapi

tingkat pemanasannya jauh lebih tinggi dibandingkan CO2, NO2, maupun CH4. Tingkat

pemanasan ini ditunjukkan oleh indeks potensi pemanasan global. Dalam indeks ini

CO2 digunakan sebagai parameter. Berikut ini adalah tabel gas rumah kaca dan potensi

pemanasan global yang menurut UNFCCC.


Pemanasan global juga sering dikaitkan dengan perubahan iklim. Trenberth,

Houghton and Filho (1995) dalam Hidayati (2001) mendefinisikan perubahan iklim

sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh

aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer yang akan memperbesar

keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang.

Menurut Effendy (2001) salah satu akibat dari penyimpangan iklim adalah

terjadinya fenomena El-Nino dan La-Nina. Fenomena El-Nino akan menyebabkan

penurunan jumlah curah hujan jauh di bawah normal untuk beberapa daerah di

Indonesia. Kondisi sebaliknya terjadi pada saat fenomena La-Nina berlangsung.

Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada

hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik

melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer,

laut dan daratan Bumi. Pemanasan global telah menyebabkan perubahan iklim yang

signifikan, seperti yang terjadi di negara kita Republik Indonesia, efek dari pemanasan

ini telah menyebakan perubahan iklim yang ekstrim. Di beberapa daerah sering terjadi

hujan lebat yang mengakibatkan banjir bandang dan longsor, munculnya angin puting

beliung, bahkan kekeringan yang mengancam jiwa manusia. Keseluruhan ini sebagai

akibat berkurangnya hutan (Wikipedia Indonesia, 2007).

Badan Planologi Departemen Kehutanan melalui citra satelit menunjukkan luas

lahan yang masih berhutan atau yang masih ditutupi pepohonan di Pulau Jawa tahun

1999/2000 hanya tinggal empat persen saja. Kawasan ini sebagian besar merupakan

wilayah tangkapan air pada daerah aliran sungai (DAS). Akibat dari kejadian ini

hilangnya suatu kawasan hutan yang tadinya dapat mendukung kehidupan manusia

dalam berbagai aspek. seperti kebutuhan air, oksigen (O2), kenyamanan (iklim mikro),
keindahan (wisata), penghasil kayu, rotan, dammar, penyerapan karbon, pangan dan

obat-obatan, sekarang ini sudah sulit didapatkan lagi.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Pemanasan Global

Pemanasan global atau yang sering kita sebut global warming adalah adanya

proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar

energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak.

Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas

yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan

memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah

gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di

atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air,
karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan clorofluorocarbon (CFC) yang menjadi

perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali

radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan

tersimpan di permukaan Bumi.

Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan

bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca.

Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak

panas yang terperangkap di bawahnya.Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat

dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini

akan menjadi sangat dingin.

Dengan temperatur rata-rata sebesar 15°C (59°F),bumi sebenarnya telah lebih

panas 33°C (59°F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18°C sehingga

es akan menutupi seluruh permukaan Bumi).

3.2 Penyebab Pemanasan Global

Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai

proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air.

Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2,

pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke

atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus

berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu

kesetimbangan konsentrasi uap air.

Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas

CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara,

kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara
menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan

karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian

saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke

permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari

atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke

angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan

atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan

ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim,

antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas

komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang

digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat).

Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila

dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan)

dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya oleh

es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan

kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau

air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan

memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan

menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan

menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang

berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku

(permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain

itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik
positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia

menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic

sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan

penyerap karbon yang rendah.

Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil

akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata

global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada

program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel

atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan

terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari

atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan

bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat,

tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus

bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu

bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan

suatu kecenderungan (trend) yang jelas.

Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan

ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.

Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga

pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan

dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak

1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari

perkotaan), serta dari satelit.

Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen

permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan
bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika

dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus

tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun

1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan

kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam

pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek

rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer

sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer

bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila

aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan

ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi

mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan

aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-

industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari

mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University

mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%

peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35%

antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim

yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas

rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan

bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang

remeh.

Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan

sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan


yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss

menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan"

dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi

peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun

terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.

3.3 Akibat dari Terjadinya Global warming

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan

yang lain seperti meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim cuaca, tinggi

permukaan air laut, hilangnya pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan

manusia. Ø cuaca.

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara

dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-

daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan

mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-

daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya

lagi.

Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin

sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa

area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari

lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan

meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan

karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan

efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan
membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari

kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan.

Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1

% untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah

meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih

sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah

akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan

mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh

kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan

pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi.

Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim. Ø Tinggi Permukaan Laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil

secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan

menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan

laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland,

yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah

meningkat 10-25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC

memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah

pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda,

17,5% daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit

pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air

pasang akan meningkat di daratan.

Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi

daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan

evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat
mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan

separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan

terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan

muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Selain itu dengan adanya pemanasan global suhu permukaan air laut menjadi lebih

hangat, sehingga meningkatkan tekanan bagi ekosistem laut seperti batu karang yang

menjadi putih. Pada proses ini karang-karang melepaskas ganggang yang memberikan

warna dan makanan pada karang, sehingga karang menjadi putih dan mati.

Peningkatan suhu air juga membantu menyebarkan penyakit-penyakit yang sangat

mempengaruhi kehidupan mahkluk-mahkluk di dalam laut. Ø Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih

banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa

tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan

dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam.

Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika

mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi

dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim

dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-

bulan masa tanam.

Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang

lebih hebat. Ø Hewan dan Tumbuhan. Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup

yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah

dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke

arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya,

mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat.


Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini.

Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota

atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak

mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. Beberapa

spesies sangat sulit untuk dapat bertahan di habitatnya sekarang. Beberapa tanaman

bunga tidak dapat berbunga tanpa mengalami musim dingin yang benar-benar dingin.

Dan kegiatan manusia telah mempersulit tumbuhan dan binatang untuk mencapai

habitat barunya bahkan tidak memungkinkan bagi tumbuhan dan binatang untuk

mencari habitat baru. Ø Kesehatan Manusia.

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang

terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa

ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan

pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke

daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia

tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria;

persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat.

Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti

demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi

meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat

akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari. Penderita kanker kulit juga

meningkat. Gelombang panas yang terus menerus dapat menyebabkan penyakit dan

kematian. Banjir dan kekeringan meningkatkan kelaparan dan kekurang gizi. Gejala

yang sangat jelas terlihat dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya,

hujan deras masih sering datang meski sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah

terhitung musim kemarau.


Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir pergantian musim kemarau ke musim

penghujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari keadaan

normal.

Serangkaian bencana alam yang terjadi beberapa tahun terakhir ini seperti banjir,

kebakaran hutan, longsor, kekeringan, erosi besar-besaran semuanya berhubungan

dengan parahnya keadaan hutan kita.

Kebakaran hutan yang disebabkan oleh konsesi dan perkebunan telah menobatkan

Indonesia sebagai negara pengemisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia,”

Indonesia pantas malu karena telah menjadi negara terbesar ke-3 di dunia sebagai

penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut yang

diubah menjadi pemukiman atau hutan industri. Jika kita tidak bisa menyelamatkan

hutan mulai dari sekarang, diperkirakan 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10

tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, dan 15 tahun lagi seluruh hutan di Indonesia

tidak akan tersisa dan disaat itulah kita semua tidak bisa lagi menghirup udara bersih.

3.4 Cara Membatasi Global Warming

Para ilmuwan mempelajari cara-cara untuk membatasi pemanasan global. Kunci

utamanya adalah: Membatasi emisi CO2 Tehnik yang efektif untuk membatasi emisi

karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan sumber energi lainnya yang

tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan energi minyak sehemat

mungkin.

Energi alternatif yang dapat digunakan diantaranya angin, sinar matahari, energi

nuklir, dan panas bumi. Kincir angin dapt merubah energi angin menjadi energi listrik.

Sinar matahari juga dapat dirubah menjadi energi listrik atau sumber panas yang bisa

dimanfaatkan seperti pemanas air, kompor matahari, dll. Energi panas bumi bisa

dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik.


Sumber energi alternatif memang lebih mahal dibanding energi minyak namun

penelitian lebih lanjut akan membantu untuk lebih menekan biaya. Emisi CO2 dapat

dikurangi jika mobil-mobil bisa lebih hemat bahan bakar. Para ilmuwan dan insinyur

telah bekerja untuk menciptakan mesin yang hemat bahan bakar. Penemuan-penemuan

telah mengembangkan alat untuk menggantikan mesin pembakaran atau menggunakan

mesin yang lebih kecil. Sebuah mobil dengan tenaga batery listrik telah memasuki

pasar, tetapi masih dilengkapi dengan mesin kecil berbahan bakar minyak.

Bahan bakar sel yakni sebuah alat yang mampu merubah energi kimia menjadi

energi listrik bisa dikembangkan untuk mobil-mobil di masa depan. Menyembunyikan

karbon yang juga membantu mencegah karbon dioksida memasuki atmosfer atau

mengambil CO2 yang ada. Menyembunyikan karbon dapat dilakukan dengan 2 cara,

yaitu dibawah tanah atau penyimpanan air tanah dan penyimpanan didalam tumbuhan

hidup.

Bawah tanah atau air bawah tanah bisa digunakan untuk menyuntikkan emisi CO2

ke dalam lapisan bumi atau ke dalam lautan. Lapisan bumi yang dapat digunakan

adalah penyimpanan alami minyak dan gas bumi di tambang-tambang minyak. Dengan

memompakan CO2 kedalam tempat-tempat penyimpanan minyak di perut bumi akan

membantu mempermudah pengambilan minyak atau gas yang masih tersisa. Hal ini

bisa menutupi biaya penyembunyian karbon. Lapisan garam dan batubara yang dalam

juga bisa menyembunyikan karbon dioksida.

Lautan juga dapat menyimpan banyak karbon dioksida, tetapi para ilmuwan belum

dapat menetapkan pengaruhnya terhapad lingkungan hidup di dalam laut.

Tumbuhan hijau menyerap CO2 dari udara untuk tumbuh. Kombinasi karbon dari CO2

dengan hidrogen diperlukan untuk membentuk gula sederhana yang disimpan di dalam

jaringan. Setelah tanaman mati maka tubuhnya akan terurai dan melepaskan CO2.

Ekosistem dengan tumbuh-tumbuhan yang berlimpah seperti hutan atau perkebunan


dapat menahan lebih banyak karbon, tetapi generasi manusia yang akan datang harus

tetap menjaga ekosistem agar tetap utuh, jika tidak maka karbon yang disimpan dalam

tanaman akan lepas kembali ke atmosfer.

Adapun tindakan yang dapat kita lakukan dalam upaya mengantisipasi pemanasan

global adalah dengan mengubah perilaku sehari-hari agar hemat energi. Antara lain

dengan cara berikut: a. Menghemat listrik. Contohnya gunakan televise seperlunya,

Biasakan mematikan televisi bila tidak digunakan, demikian pula dengan perangkat

lainnya seperti DVD, HiFi dan Home Theater, gunakan seterika listrik yang

menggunakan sistem pengatur panas otomatis dan aturlah tingkat panas yang

diperlukan sesuai dengan bahan pakaiannya, ganti bohlam lampu dengan jenis CFL dan

bersihkan lampu karena debu dapat mengurangi tingkat penerangan hingga 5%. b. Jika

menggunakan AC, tutup pintu dan jendela selama AC menyala dan atur suhu

secukupnya atau sekitar 21-24ºC lalu matikan AC jika tidak digunakan. c. Tanam

pohon sebanyak mungkin di lingkungan anda. d. Menjemur pakaian diluar, karena

angin dan panas lebih baik dari pada menggunakan mesin dryer (pengering) yang

banyak mengeluarkan emisi karbon. e. Gunakan kendaraan umum yang bebas emisi.

Bike for work salah satu alternatifnya. f. Menghemat penggunaan kertas, karena bahan

bakunya berasal dari kayu. g. Say no to plastic, karena hampir semua sampah plastik

menghasilkan gas yang berbahaya ketika dibakar (plastic tersebut didaur ulang).
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1 Global warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut,

dan daratan bumi. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang

panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer

bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air,

karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan clorofluorocarbon (CFC) yang menjadi

perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali

radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan

tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan

mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

2 Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan

yang lain seperti meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim cuaca,

tinggi permukaan air laut, hilangnya pantai, dan lain-lain.

3 Cara membatasi global warming adalah dengan membatasi emisi CO2 dan

menanam pohon sebanyak mungkin yang berfungsi menekan tingginya

peningkatan CO2.

4 Pemanasan global merupakan akibat dari aktivitas manusia yang cenderung

possibleistik (manusia dapat mengubah alam). Aktivitas ini lah yang memacu

peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

5 Keberadaan hutan sebagai bagian dari sebuah ekosistem yang besar memiliki arti

dan peran penting dalam menyangga sistem kehidupan. Berbagai manfaat besar

dapat diperoleh dari keberadaan hutan melalui fungsinya baik sebagai penyedia

sumberdaya air bagi manusia dan lingkungan, kemampuan penyerapan karbon,

pemasok oksigen di udara, penyedia jasa wisata dan mengatur iklim global.
4.2 Saran

Sebagai salah satu makhluk yang tinggal di bumi, kita seharusnya bisa

bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada tempat kita tinggal yaitu bumi. Oleh

karena itu sebagai salah satu bentuk implementasi dari tanggung jawab tersebut

terhadap pemanasan global adalah dengan berusaha semaksimal mungkin menghemat

penggunaan energi.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi., 2001. Pemanasan Global. Erlangga, Jakarta.


Koento Wibisono S. dkk., 1997., Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu
Pengetahuan. Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.

Koento Wibisono S., 1984., Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam
Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan, Fakultas Pasca
Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.

____________________., 1996., Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme


Auguste Comte, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-
26, 40.

____________________., 1999., Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai


Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami
Filsafat Ilmu, Makalah, Ditjen Dikti Depdikbud – Fakultas Filsafat UGM
Yogyakarta, p.1.

Nuchelmans, G., 1982., Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu


Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono, Fakultas
Filsafat – PPPT UGM Yogyakarta p.6-7.

Soeparmo, A.H., 1984., Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam,
Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.