Anda di halaman 1dari 27

PEMISAHAN DENGAN CARA KROMATOGRAFI

I.

Tujuan
1. Mengetahui harga Rf dari masing-masing noda
2. Mengetahui prinsip kerja dari berbagai macam jenis kromatografi

II.

Landasan Teori
Kromatografi adalah teknik pemisahan dimana suatu zat dalam
campuran diuraikan berdasarkan kemampuannya untuk diserap oleh
komponen lain yang ada dalam kromatografi yang dikenal sebagai fasa
diam. Dalam kromatografi, komponen-komponen terdistribusi dalam dua
fasa, yaitu fasa diam dan fasa gerak. Fasa diam dapat berupa zat cair atau
padat. Sedangkan fasa bergerak dapat berupa cairan atau gas. Dengan
demikian, kromatografi dapat dibedakan menjadi aras dasar kombinasi
antara fasa diam dan fasa bergerak. Kombinasi tesebut dapat berupa cairgas, padat-cair, cair-cair dan gas-padat
Transfer masa antara fasa dian dan fasa gerak terjadi karena bila
molekul-molekul terserap pada permukaan fasa diam yang dapat berupa
zat padat atau zat cair. Kemampuan fasa diam untuk mengadopsi fasa
bergerak sangat bergantung pada sifat-sifat fasa diam dan fasa bergerak.
Untuk setiap zat, hal ini sangat spesifik sehingga teknik kromatografi
dusamping bertujuan untuk pemisahan dapat pula digunakan untuk
mengidentifikasi suatu zat. Pada saat ini telah dikenal cukup banyak teknik
kromatpgrafi, diantaranya: kromatografi kertas, lapis tipis (TLC), gas
(GC), kolom dan ekslusi. Dengan berbagai cara tersebut, kegiatan prevatif
dan analitik semakin valid dan reliablw hasil yang diperoleh.
(Tim kimia analitik II, 2014)
Teknik kromatografi kertas diperkenalkan oleh Consden, Gordon
dan Martin (1994), yang menggunakan kertas saring sebagai penunjang
fase diam. Kertas merupakan selulosa murni yang memiliki afinitas
terhadap air atau pelarut polar lainnya. Bila air diadsorbsikan pada kertas,
maka akan membentuk lapisan tipis yang dapat dianggap analog dengan
kolom. Lembaran kertas berperan sebagai penyangga dan air bertindak
sebagai fase diam yang terserap di antara struktur pori kertas. Cairan fase
bergerak yang biasanya berupa campuran dari pelarut organik dan air, akan
1

mengalir membawa noda cuplikan yang didepositkan pada kertas dengan


kecepatan yang berbeda. Pemisahan terjadi berdasarkan partisi masingmasing komponen diantara fase diam dan fase bergeraknya.
(Yazid, 2005)
Dalam teknik kromatografi kertas, proses pengeluaran asam
mineral dari kertas disebut desalting. Larutan ditempatkan pada kertas
dengan menggunakan mikropipet pada jarak 2-3 cm dari salah satu ujung
kertas dalam bentuk coretan garis horizontal. Setelah kertas dikeringkan,
diletakkan di ruang yang sudah dijenuhkan dengan air atau dengan pelarut
yang sesuai. Penjenuhan dapat dilakukan 24 jam sebelum analisis.
Descending adalah salah satu teknik di mana cairan dibiarkan bergerak
menuruni kertas akibat gravitasi. Pada teknik ascending, pelarut bergerak
ke atas dengan gaya kapiler. Nilai Rf harus sama baik pada descending
maupun ascending. Sedangkan yang ketiga dikenal sebagai cara radial atau
kromatografi kertas sirkuler. Kondisi - kondisi berikut harus diperhatikan
untuk memperoleh nilai Rf yang reprodusibel. Temperatur harus
dikendalikan dalam variasi tidak boleh lebih dari 0,5oC. Kertas harus
didiamkan dahulu paling tidak 24 jam dengan atmosfer pelarutnya, agar
mencapai kesetimbangan sebelum pengaliran pelarutnya pada kertas.
Dilakukan beberapa pengerjaan yang parallel, Rfnya tidak boleh berbeda
lebih dari 0,02.
Suatu atomiser umumnya digunakan sebagai reagent penyemprot
bila batas permukaan pelarut dan zat terlarut dalam kertas ingin dibuat
dapat dilihat. Atomiser yang halus lebih disukai. Gas - gas juga dapat
digunakan sebagai penanda bercak, untuk karbohidrat notasi Rg digunakan
untuk menggantikan Rf. Setelah penandaan bercak batas permukaan,
selanjutnya dapat dilakukan analisis kalorimetri atau spektroskopi
reflektansi bila sampel berupa logam. Materi yang terdapat di dalam kertas
dapat ditentukan secara langsung dengan pelarutan. Kromatografi kertas
selain untuk pemisahan dan analisis kuantitatif, juga sangat bermanfaat
untuk identifikasi. Hal ini dapat dilakukan misalkan dengan membuat
grafik antara Rm terhadap jumlah kation dalam suatu deret homolog.
(Khopkar, 2008)

Kromatografi dapat digolongkan berdasrkan fase yang terlibat


antar lain:
1. Kromatografi gas-cair, bila fase geraknya berupa gas dan fase
diamnya berupa

cairan

yang

dilapiskan

pada

padatan

pendukung yang inert


2. Kromatografi gas-padat, bila fase geraknya berupa gas dan fase
diamnya berupa padatan yang dapat menyerap/mengadsorpsi
3. Kromatografi cai-cair, bila fase gerak dan diamnya berupa
cairan, dimana fase diamnya dilapiskan pada permukaan
padatan pendukung yang inert
4. Kromatografi cair-padat, bila fase geraknya berupa gas
sedangkan fase diamnya berupa padat an yang amorf yang
dapat menyerap
Kromatografi juga dapat didasarkan atas prinsipnya, misalnya
kromatografi partisi (partition chromatography) dan kromatografi serapan
(adsorption chromatography).
Fase Bergerak
Gas
Cair

Fase Diam Prinsip


Padat
Adsorbsi

Teknik Kerja
Kromotografi gas-

Padat

padat
Kromatografi

Adsorbsi, Partisi

kolom,
Cair

Cair

Partisi

kromatografi kertas
Kromatografi
kolom,

Gas

Cair

Partisti

KLT,

KLT,

kromatografi kertas
Kromatografi gascair
(Yazid, 2005)

III.

Prosedur Percobaan
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Seperangkat alat-alat gelas
b. Kertas saring whatman
c. Palt TLC
d. Chamber
e. Pipa kapiler
f. Gunting
g. Seperangkat alat kromatografi gas
3

h. Seperangkat alat kromatografi kolom


i. Mistar
j. Pensil
k. Lumpang porselen
l. Pipet tetes
m. Corong pisah
2. Bahan
a. Butanol pa
b. Kristal iod
c. Sampel ekstrak daun
d. Kloroform
e. n-pentana
f. n-heptana
g. n-heksana
h. Asam nitrat
i. Aniline ptalat
j. Etanol
k. Aseton
l. Kapas
m. Aseton dan natrium sulfat

B. Skema Kerja
1. Pemisahan dan Penentuan Karbohidrat dengan Kromatografi
Kertas
Butanol : Disiapkan
asam asetatsebagai
: air (4 :1
: 5)gerak dengan dicampurkan
fasa
larutan tersebut
Disiapkan kertas whatman no. 1 yang telah
dijenuhkan dengan uap air
Larutan sampel
Disiapkan yang terdiri dari beberapa macam
karbohidrat
Larutan penyemprot berupa aniline platat
Disiapkan untuk menandai berkas gula reduksi dan
uap iodine untuk gula non reduksi
Larutan standar
Disiapkan yang tediri dari zat murni untuk glukosa,
fruktosa, maltose dan amilum
Disiapkan perangkat kromatografi kertas
Diberi garis pada kertas + 0,5 cm dari pinggirnya
Larutan standar
4

Ditotolkan 3-4 larutan pada garis tersebut


Dimasukkan kertas tersebut dalam posisi tegak pada
chamber yang telah berisi larutan standar
Dibiarkan beberapa lama hingga pelarut naik
mendekati batas tepi atas kertas lalu diangkat dan
dikeringkan
Disemprot zat pemula noda yang sesuai dengan
larutan standar yang digunakan
Dicatat nilai RF-nya
Diulangi kegiatan ini untuk semua larutan standard
dan juga sampel
Dibandingkan RF yang diperoleh dan dapat
ditentukan jenis karbohidrat yang terdapat dalam
sampel
Hasil
2. Pemisahan Komponen Penyusun Daun Bayam secara TLC
50 gr
daun
Diekstraksi
zat dengan menggunakan 10 mL aseton
dan 25 mL FE
Dipindahkan hasil ekstraksi ke dalam corong
Ditambahkan 10 mL air dan dikocok serta
dipisahkan
Lapisan aseton,
FEdan
danditambahkan
zat terekstraknatrim sulfat
Diambil
Dipanaskan beberapa saat secara perlahan sehingga
ekstrak tersebut dapat lebih pekat
Digunakan ekstrak ini sebagai

sampel

dan

ditotolkan pada plat TLC


Dilakukan hal serupa sebagaimana kromatografi
kertas
Etanol
dan kloroform
: 1)
Dicampur
dan (1
diguanakan
sebagai fasa gerak
(eluen)
Diganti kertas dengan plat TLC
Diberi garis pada kedua sisi kertas + 1 cm dan pada
salah satu garisnya ditotolkan sampel
Dimasukkan plat ke dalam chamber yang berisi fasa
gerak dan dibiarkan beberapa saat hingga eluen
mancapai batas garis atas

Diangkat plat TLC dan ditempatkan dalam gelas


kimia yang berisi padatan iodium
Ditutup gelas kimia tersebut dengan kertas saring
dan dibiarkan beberapa saat hingga noda pada plat
tampak
Ditandai noda-noda yang terlihat dan dihitung nilai
Rf-nya
Dilakukan hal serupa tetapi menggunakan fasa
bergerak yang terdiri dari etanol dan kloroform (2 :
1) atau (1 : 2)
Dibandingkan nilai Rf-nya
Hasil
3. Pemisahan Zat dengan Kromatografi Kolom
a. Siapkan kolom dengan cara berikut
Kapas atau glass woll
Ditempatkan dalam kolom kering dan
ditekan hingga mencapai dasar kolom
Ditutup klem dan ditambahkan 10 mL PE
dan dihilangkan gelembung pada kapas
dengan batang pengaduk
Ditambahkan pasir + 3 mm dari tinggi kapas
20 gr alumina
Dicampurkan dalam gelas kimia 100 mL
dengan menggunakan 40 gr PE
Diaduk
dengan
sampel

untuk

menghilangkan gelembung udara


Dimasukkan campuran tersebut ke dalam
kolom secara perlahan-lahan
Dipadatkan dengan cara

diketuk-ketuk

dinding kolom dengan pensil


Dibiarkan lapisan alumina turun, kemudian
ditambahkan lagi pasir setinggi 5 mm diatas
lapisan alumina tersebut
Ditambahkan secara perlahan eluen di atas
lapisan pasir
Hasil
b. Pengerjaan Kolom Kromatografi
Pelarut
6

Ditampung di dalam gelas Erlenmeyer 250


mL ketika klem dibuka hingga pelarut tepat
di atas lapisan eter
Ditambahkan 25 tetes (0,6 mL) zat yang
telah diekstrak dari percobaan TLC
Dibuka kran hingga zat ini turun sebagian,
tetapi jangan sampai kolom benar-benar
kering
Ditambahkan 5 mL PE dan dibiarkan
mengalir melalui kolom dengan cara dibuka
klem dan ditutup klem
Ditambahkan eluen pertama (PE : CH2Cl2 =
4 : 1)
Dibuka klem dan dibiarkan pelarut turun
Dipisahkan tiap fraksi yang berbeda warna
ke dalam tabung yang berbeda
Dilakukan penambahan eluen (CH2Cl2 :
methanol = 95 : 5)
Diulangi lagi prosedur elusi ini hingga
semua fraksi yang berbeda warna di peroleh
Diberi label tiap tabung yang berisi larutan
dengan warna yang berbeda
Diidentifikasi komponen yang

terdapat

dalam tiap tabung dengan cara TLC tersebut


Hasil
4. Pemisahan Senyawa dengan Kromatografi Gas
Campuran standar
Disiapkan yang terdiri dari 5 mL n-pentana, 10 mL
n-heksana dan 15 mL n-heptana
CampuranDisiapkan
larutan sampel
yang perbandingan jumlahnya tidak
diketahui
Diset alag GC sesuai dengan kondisi percobaan
yang diperlukan
Digunakan syringe yang sesuai dan diambil
kromatografi untuk tiap-tiap senyawa

Dibandingkan

dengan

kromatogram

campuran

larutan standard an kromatogram dari tiap individu


larutan standar
Hasil

IV.

Hasil dan Pembahasan


A. Hasil
1. Data pengamatan
a. Pemisahan dan penentuan karbohidrat dengan kromatografi
kertas
Percobaan ini gagal, karena noda tidak naik ke atas.
b. Pemisahan komponen penyusun daun bayam secara TLC
Perlakuan
Pengamatan
a.50 gr bayam + 75 mL dietil Menghasilkan
eter

30

larutan

yang

mL

aseton berwarna hijau tua


V ekstrak = 28,5 mL
didiamkan selama 20 menit
Terbentuk 2 lapisan
b.28,5 mL ekstrak + 10 mL
Lapisan atas = larutan ekstraks
aquades
Lapisan bawah = air

c.Dipisahkan
d.Dipanaskan
e.Ekstrak ditotolkan pada plat
TLC
f. Plat TLC

dimasukkan

ke

dalam eluen I (etanol :


kloroform = 2 : 1)

Volume ekstrak = 22 mL
Larutan menjadi lebih pekat
Menghasilkan 3 noda yang baik
Noda 1 = berwarna hijau tosca
dengan jarak 3,1 cm dan Rf =
0,775
Noda 2 = berwarna hijau tua
dengan jarak 3,4 cm dan Rf =
0,85
Noda 3 = berwarna hijau muda

Disinari sinar UV

dengan jarak 0 cm dan Rf = 0


Terjadi perbuhan warna pada
noda 2 dari hijau tua menjadi

g.Plat TLC dimasukkan dalan


eluen II (etanol : kloroform =
1 : 1)

coklat
Menghasilkan

noda

yang

kurang baik
Noda 1 = berwarna hijau tosca
dengan jarak 2 cm dan Rf = 0,5
Noda 2 = berwarna hijau muda
dengan jarak 0 cm dan Rf = 0
Noda 3 = berwarna kuning

Disinari sinar UV

dengan jarak 3,4 cm dan Rf =


0,85
Terjadi perubahan warna pada

h.Plat TLC dimasukkan dalam


eluen III (etanol : kloroform
= 1 : 2)

noda 3 dari kuning menjadi jelas


dan noda 1 dari hijau tosca
menjadi coklat
Menghasilkan 3 noda yang tidak
baik
Noda 1 = berwarna hijau tosca
dengan jarak 2,1 cm dan Rf =
0,525
Noda 2 = berwarna hijau muda

Disinari sinar UV

dengan jarak 0 cm dan Rf = 0


Noda 3 = berwarna kuning
dengan jarak 3,4 cm dan Rf =

0,85
Tidak ada perubahan apapun
c. Pemisahan zat dengan kromatografi kolom
Percobaan ini gagal, karena pada saat membuka bagian
keran pada kolom, keran tersebut tidak mau terbuka
d. Pemisahahn senyawa dengan kromatografi gas
Percobaan ini tidak dilakukan, karena alat yang digunakan
pada kromatografi gas ini tidak ada
2. Perhitungan
Pemisahan Komponen Penyusun Daun Bayam secara TLC
Rf = Jarak noda
Jarak eluen
a. Etanol : kloroform (2 : 1)
Rf1 = 3,1 cm
4 cm
= 0,775
Rf2 = 3,4 cm
4 cm
= 0,85
Rf3 = 0 cm
4 cm
=0
b. Etanol : klorofom (1 : 1)
Rf1 = 2 cm
4 cm
= 0,5
Rf2 = 0 cm
4 cm
=0
Rf3 = 3,4 cm
4 cm
= 0,85
c. Etanol : kloroform (1 : 2)
Rf1 = 2,1 cm
4 cm
= 0,525
Rf2 = 0 cm
4 cm
=0
Rf3 = 3,4 cm
4 cm
= 0,85

10

B. Pembahasan
Kromatografi

adalah

teknik

pemisahan

fisik

suatu

campuran zat-zat kimia yang berdasarkan pada perbedaan migrasi


dari masing-masing komponen campuran yang terpisah pada fase
diam dibawah pengaruh pergerakan fase yang bergerak. Beberapa
sifat fisika umum dari molekul yang dipakai sebagai asa teknik
pemisahan kromatografi adalah :
Kecenderungan molekul untuk teradsorpsi oleh partikel

partikel padatan yang halus


Kecenderungan mlekul untuk melarut pada fase cair
Kecenderungan molekul untuk teratsir
Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan dengan

proses berlipat ganda, artinya selama proses berlangsung terjadi


berulang kali kontak adsorbsi; atau partisi dari komponenkomponen yang dipisahkan.
Harga Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu
senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan
besaran karakteristik dan reprodusibel. Harga Rf didefinisikan
sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak
tepi muka pelarut dari titik awal. Ada beberapa faktor yang
menentukan harga Rf yaitu pelarut, suhu, ukuran dari bejana, dan
kertas. Perubahan suhu dapat merubah koefisien partisi dan juga
kecepatan aliran sedangkan ukuran tau volume dari bejana dapat
mempengaruhi homogenitas dari atmosfer jadi mempengaruhi
kecepatan penguapan dari komponen-komponen pelarut dari
kertas.
Ciri noda yang baik adalah ketika noda yang ditotolkan
terserap dengan bentuk yang konstan atau tidak meninggalkan
noktah pada jalan yang dilaluinya
Pada percobaan pemisahan secara kromatografi ini
dilakukan beberapa perlakuan, yaitu pemisahan dan penentuan
karbohidrat dengan kromatografi kertas, pemisahan komponen
penyusun daun bayam secara TLC dan pemisahan zat dengan
11

kromatografi kolom. Sedangkan untuk pemisahan senyawa dengan


kromatografi gas tidak dilakukan, karena alat yang digunakan tidak
ada.
1. Pemisahan dan penentuan karbohidrat dengan kromatografi
kertas
Prinsip

dasar

kromatografi

kertas

adalah

partisi

multiplikatif suatu senyawa antara dua cairan yang saling tidak


bercampur. Jadi partisi suatu senyawa terjadi antara kompleks
selulosa-air dan fasa gerak yang melewati berupa pelarut organik
yang sudah dijenuhkan dengan air dan melalui serat dari kertas
oleh gaya kapiler dan menggerakkan komponen dari campuran
cuplikan pada perbedaan jarak pada arah aliran pelarut. Bila
permukaan pelarut telah bergeser sampai jarak yang cukup jauh
atau setelah waktu yang telah ditentukan, kertas diambil dari
bejana dan kedudukan dari permukaan pelarut diberi tanda dan
lembaran kertas dibiarkan kering. Jika senyawa-senyawa berwarna
maka mereka akan terlihat sebagai pita atau noda yang terpisah.
Jika senyawa tidak berwarna harus dideteksi dengan cara fisika dan
kimia. Yaitu dengan menggunakan suatu pereaksi-pereaksi yang
memberikan sebuah warna terhadap beberapa atau semua dari
senyawa-senyawa. Bila daerah dari noda yang terpisah telah
dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap individu dari senyawa.
Metoda identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada
kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut,
menggunakan harga Rf.
Pengaruh utama kertas pada harga Rf timbul dari perubahan
ion dan serapan, yang berbeda untuk macam-macam kertas. Kertas
mempengaruhi

kecepatan

aliran

juga

mempengaruhi

kesetimbangan partisi.
Kromatografi kertas dapat digunakan terutama untuk
kandungan tumbuhan yang mudah larut dalam air, satu keuntungan
utama

kromatografi

kertas

adalah

kemudahan

dan

12

kesederhanaannya pada pelaksanaan pemisahan, yaitu hanya pada


lmbaran kertas saring yang berlaku sebagai medium pemisahan dan
penyangga. Untuk kromatografi kertas preparatif diperlukan kertas
yang lebih besar dari pada utuk analisis. Suatu analisis kimia
menjadi meragukan jika pengukuran sifat tidak berhubungan
dengan

sifat

spesifik

senyawa

terukur. Analisis

meliputi

pengambilan cuplikan, pemisahan senyawa pengganggu, isolasi


senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu sebelum
identifikasi dan pengukuran.
Pada percobaan ini, kita akan menentukan nilai Rf dari
larutan cuplikan dengan menggunakan kromatografi kertas.
Cuplikan yang digunakan larutan karbohidrat yang menggandung
glukosa fruktosa, maltose dan amilum. Larutan karbohidrat yang
digunakan adala sari nanas, sari Dalam kromatografi kertas, fase
diam adalah kertas saring atau kertas serap yang sangat seragam.
Fase gerak adalah pelarut atau campuran yang sesuai. Alasan untuk
menutup wadah adalah untuk meyakinkan bahwa astmosfer dalam
gelas kimia terjenuhkan denga uap pelarut.
Percobaan ini, tidak dapat ditentukan nilai Rf nya, karena
noda tidak naik ke atas. Hal ini mungkin disebabkan pada larutan
standar yang ditotolkan pada kertas tidak disemprot dengan aniline
ptalat atau diuapkan dengan iodin. Aniline ptalat digunakan untuk
menandai berkas gula reduksi, sedangkan uap iodine digunakan
untuk gula non reduksi.
Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan
untuk mereduksi. Hal ini dikarenakan adanya gugus aldehid atau
keton bebas. Senyawa-senyawa yang mengoksidasi atau bersifat
reduktor adalah logam-logam oksidator seperti Cu (II). Contoh
gula yang termasuk gula reduksi adalah glukosa, manosa, fruktosa,
laktosa, maltosa, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk dalam
gula non reduksi adalah sukrosa.
2. Pemisahan komponen penyusun dau bayam secara TLC

13

Bayam (Amaranthus spp.) merupakan tumbuhan yang biasa


ditanam

untuk

dikonsumsi daunnya sebagai

sayuran

hijau.

Tumbuhan ini berasal dari Amerikatropik namun sekarang tersebar


ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber
zat besi yang penting.
Langkah pertama yang dilakukan adalah eksttraksi sampel.
Daun bayam yang akan digunakan terlebih dahulu dikeringkan,
kemudian ditimbang sebanyak 50 gram lalu ditambahkan 30 mL
aseton dan 75 mL dietil eter. Penambahan larutan ini berfungsi
untuk melarutkan klorofil. Sehingga didapatkan ekstraknya
sebanyak 28,5 mL.
Pada ekstrak tersebut ditambahkan 10 mL aquades lalu
dikocok larutan tersebut. Saat terbentuk 2 lapisan, lapisan tersebut
dipisahkan. Pada dasar corong pisah masih terdapat sedikit air,
sehingga perlu ditambahkan natrium sulfat. Penambahan natrium
sulfat ini berfungsi untuk menghilangkan air yang masih terdapat
pada larutan ekstrak. Larutan ekstrak didapatkan sebanyak 22 mL.
Larutan ekstrak tersebut dipanaskan. Dilakukan pemanasan agar
larutan tersebut lebih pekat.
Fase gerak membawa zat terlarut melalui media fase diam
sehingga terpisah dari zat terlarut lainnya yang terelusi lebih awal
atau paling atau paling akhir karena perbedaan afinitas masingmasing zat terlarut dengan fase diam. Fase diam disini adalah
berupa zat padat yang disebut adsorben yang digunakan adalah
pelat TLC silika gel. Silika gel merupakan penyerap yang paling
banyak digunakan dalam kromatografi lapis tipis. Senyawa netral
yang merupakan gugusan sampai tiga pasti dapat dipisahkan pada
lapisan yang diaktifkan dengan memakai pelarut organik atau
campuran pelarut yang normal. Karena sebagian besar silika gel
bersifat sedikit asam, maka asam agak mudah dipisahkan, jadi
meminimumkan reaksi asam-basa antara penyerap dengan senyawa
yang dipisahkan. Sedangkan fase gerak yang sering digunakan
adalah berupa campuran dari pelarut organik dengan tujuan untuk

14

memperoleh pemisahan yang lebih baik. Kombinasi pelarut


berdasarkan atas polaritasnya, sehingga akan diperoleh sistem
pengembang yang cocok. Pelarut yang digunakan dalam percobaan
ini adalah etanol dan kloroform.
Dalam 4 buah gelas kimia diisikan campuran pelarut yaitu,
etanol : kloroform = 2 : 1, etanol : kloroform = 1 : 1, etanol :
kloroform = 1 : 2. Masing-masing campuran pelarut tersebut
digunakan untuk menguji sampel dengan menggunakan pelat TLC.
Pelat TLC sebelumnya telah dibentuk dengan ukuran 5x1 cm.
Kemudian diberi batas atas dan batas bawahnya menggunakan
pensil. Alat yang digunakan haruslah pensil, kerena jika
menggunakan pena ataupun spidol, tintanya akan ikut terjerap.
Pelat TLC menggunakan alumina sebagai stasioner. Kemudian
larutan sampel diambil dengan menggunakan pipa kapiler dan
ditotolkan pada tengah salah satu batas. Pelat yang telah ditotolkan
larutan sampel dimasukkan secara vertikal atau diagonal pada gelas
kimia berisi campuran larutan pelarut. Lalu ditunggu sampai noda
terbawa oleh pelarut dan pelarut mencapai batas atas. Kemudian
diukur jarak yang ditempuh noda dan jarak garis depan pelarut dan
dihitung Rf-nya.
Pada eluen etanol : kloroform (2 : 1), menghsilkan 3 noda
yang baik. Noda pertama berwarna hijau tosca dengan jarak 3,1 cm
dan Rf-nya 0,775, noda kedua berwarna hijau tua dengan jarak 3,4
cm dan Rf-nya 0,85 dan noda ketiga berwarna hijau muda dengan
jarak 0 cm dan Rf-nya 0. Lalu pada plat TLC disinari dengan sinar
UV pada panjang gelombang 254 nm. Pada saat disinari sinar UV
terjadi perubahan warna pada noda kedua, yaitu dari warna hijau
tua menjadi coklat.
Pada eluen etanol : kloroform (1 : 1), menghsilkan 3 noda
yang kurang baik. Noda pertama berwarna hijau tosca dengan jarak
2 cm dan Rf-nya 0,5, noda kedua berwarna hijau muda dengan
jarak 0 cm dan Rf-nya 0 dan noda ketiga berwarna kuning dengan
jarak 3,4 cm dan Rf-nya 0,85. Lalu pada plat TLC disinari dengan

15

sinar UV pada panjang gelombang 254 nm. Pada saat disinari sinar
UV noda kuning menjadi jelas dan noda yang berwarna hijau tosca
menjadi coklat.
Pada eluen etanol : kloroform (1 : 2), menghsilkan 3 noda
yang tidak baik. Noda pertama berwarna hijau tosca dengan jarak
2,1 cm dan Rf-nya 0,525, noda kedua berwarna hijau muda dengan
jarak 0 cm dan Rf-nya 0 dan noda ketiga berwarna kuning dengan
jarak 3,4 cm dan Rf-nya 0,85. Lalu pad plat TLC disinari dengan
sinar UV pada panjang gelombang 254 nm. Pada saat disinari sinar
UV tidak terjadi perubahan apapun.
3. Pemisahan zat dengan kromatografi kolom
Pemisahan berdasarkan kromatografi adsorpsi, sangat
tergantung pada distribusi pada kedua fase cair dan padat. Untuk
pemisahan pigmen dari tumbuhan, dapat dilakukan dengan
kromatografi kolom. Alat yang digunakan yaitu kolom yang di
dalamnya berisi fase stasioner (padat atau cair). Campuran
ditambahkan ke kolom dari satu ujung dan campuran akan
bergerak dengan bantuan pengembang yang cocok (fase gerak).
Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-masing
komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi
atau koefisien partisi antara fase gerak dan fase diam (stationer).
Kromatografi kolom bertujuan untuk mengisolasi
komponen dari campurannya. Pada kromatogarfi kolom digunakan
kolom dengan adsorben sillika gel karena kolom yang dibentuk
dengan silika gel memiliki tekstur dan struktur yang lebih kompak
dan teratur. Silika gel memadat dalam bentuk tetrahedral raksasa,
sehingga ikatannya kuat dan rapat. Dengan demikian, adsorben
silika gel mampu menghasilkan proses pemisahan yang lebih
optimal.
Silica

gel

dapat

membentuk

ikatan

hidrogen

di

permukaannya, karena pada permukaannya terikat gugus hidroksil.


Oleh karenanya, silica gel sifatnya sangat polar. Jika fasa gerak
yang digunakan sifatnya non-polar, maka pada saat campuran
16

dimasukkan, senyawa-senyawa yang semakin polar akan semakin


lama tertahan di fasa stasioner, dan senyawa-senyawa yang
semakin tidak (kurang) polar akan terbawa keluar kolom lebih
cepat.
Dalam proses pemisahan dengan kromatografi kolom,
adsorben silika gel harus senantiasa basah karena, jika dibiarkan
kering, kolom yang terbentuk dari silika gel bisa retak, sehingga
proses pemisahan zat tidak berjalan optimal. Selain itu, kondisi
yang senantiasa basah berperan untuk memudahkan proses elusi
(larutan melewati kolom) dalam kolom.
Kolom yang digunakan dalam kromatografi kolom dapat
berupa gelas, plastik atau nilon. Ukuran kolom yang lazim
digunakan mempunyai diameter dalam 2 cm dan panjang 45 cm.
Ujung bagian bawah dilengkapi dengan kran untuk mengatur laju
alir eluen. Untuk menahan fasa diam (adsorben) biasanya
digunakan kapas gelas (glass wool) atau gelas berpori (fritted
glass). Sorben yang digunakan dalam kromatografi kolom
diantaranya arang, magnesium silikat, alumina, silika gel, kalsium
sulfat dan serbuk selulosa. Berikut ini beberapa golongan solutnya
misalnya alkana, alkena, aromatis, eter, ester, keton, aldehid dan
alkohol.
Berikut ini gambar-gambar bagan dalam kromatografi kolom :

17

Pada percobaan ini, tidak bisa dilakukan sampai akhir,


karena keran yang terdapat pada kolom tidak bisa dibuka, sehingga
percobaan mengenai pemisahan dengan kromatografi kolom ini
tidak dapat dilanjutkan.
Sehingga praktikkan mencari diliteratur pemisahan zat
(daun bayam) dengan kromatografi kolom. Pada literature yang
praktikkan dapatkan langkah pertama adalah menyiapkan kolom
yang akan digunakan untuk pemisahan pigmen tersebut dengan
menimbang silica sebanyak 2 gram, kemudian silica dilarutkan
dengan pelarut aseton sehingga terbentuk bubur silica. Setelah itu
dimasukkan bubur silica tersebut ke dalam kolom yang mana
kolom tersebut sudah disumbat dengan kapas pada bagian
ujungnya. Pelarut aseton : heksana (3 : 7) dialirkan ke dalam kolom
silica dan diketuk-ketuk dinding kolom agar bubur silica tersebut
tertata rapi atau padat hingga tidak ada udara yang menempati
kolom tersebut, kolom harus bebas dari gelembung udara karena
bila ada gelembung udara maka proses pemisahan yang terjadi
tidak akan sempurna sehingga akan terjadi penyebaran noda.
Pelarut aseton : hekasan (3 : 7) ini berfungsi sebagai fase geraknya.
Proses pemisahan dengan kromatografi kolom, bubur silica harus
basah karena apabila dibiarkan kering, kolom yang terbentuk dari
bubur silica bisa retak, sehingga proses pemisahan zat tidak
berjalan optimal. Selain itu, kondisi yang basah berperan untuk
memudahkan proses elusi (larutan melewati kolom) dalam kolom.
Setelah kolom kromatografi siap dipakai, ekstrak sampel daun
bayam dimasukkan ke dalam kolom, lalu memasukkan pelarut ke
dalam kolom dan membuka kerannya, dan terlihat pigmen dari
sampel daun mulai bergerak turun dan mulai menetes. Fraksi-fraksi
yang keluar dari kolom ini ditampung dalam tabung reaksi dan
mengganti tabung reaksinya ketika warna mulai berubah. Larutan
warna ini adalah pigmen dari dau bayam.

18

Fraksi yang diperoleh tersebut diuji dengan KLT,


mengamati jenis pigmen apa saja yang terdapat pada tiap fraksi
yang didapat.
Hasil yang didapatkan yaitu berupa noda-noda pada
lempeng silica tersebut, dimana farksi I berwarna kuning ++, fraksi
II berwarna hijau dan fraksi III berwarna kuning + . Warna-warna
noda ini menunjukkan senyawa tertentu karena senyawa-senyawa
tertentu memiliki warna tertentu pula. Noda yang berwarna kuning
pekat (kuning ++) kemungkinan adalah senyawa -karoten, warna
hijau kemungkinan adalah senyawa klorofil a dan berwarna kuning
muda (kuning +) adalah kemungkinan klorofil b. Namun nodanoda ini belum pasti senyawa karotenoid, klorofil a dan klorofil b,
karena banyak senyawa yang memiliki warna yang sama. Untuk
mengetahui dengan pasti jenis noda-noda ini merupakan senyawa
karotenoid, klorofil a dan klorofil b maka harus dihitung harga Rf
nya karena harga Rf merupakan identitas dari suatu senyawa.
Berdasarkan hasil perhitungan, harga Rf dari masingmasing fraksi adalah fraksi I sebesar 0,31, fraksi II sebesar 0,28
dan fraksi III sebesar 0,19. Dari harga Rf ini menunjukkan nodanoda tersebut bukan senyawa -karoten, klorofil a dan klorofil b
karena berdasarkan literatur harga Rf klorofil a, klorofil b dan
karotenoid masing-masing sebesar 0,4; 0,38 dan 0,625.
Namun bisa saja noda-noda tersebut merupakan senyawa
yang

dimaksud

mengingat

warna-warna

dari

noda

dan

karena seringkali nilai Rf berbeda dari satu kertas ke kertas


lainnya. Kemungkinan harga Rf dari literatur menggunakan kertas
yang berbeda dengan kertas yang digunakan saat praktikum
sehingga nilai Rf yang diperoleh juga berbeda. Jenis pigmen pada
sampel bayam dilihat dari warna nodanya antara lain fraksi I
adalah -karoten, fraksi II adalah klorofil a dan fraksi III adalah
klorofil b.
4. Pemisahan senyawa dengan kromatografi gas

19

Pemisahan senyawa dengan kromatografi gas ini tidak


dilakukan percobaan, karena alat yang akan digunakan pada
percobaan ini tidak ada. Sehingga praktikkan mengambil
pembahasan ini dari literature.
Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat
untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang
dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran
sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung
500-1000 komponen. Komponen campuran dapat diidentifikasikan
dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang khas
pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang
menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam
kolom.waktu tambat diukur dari jejak pencatat pada kromatogram
dan serupa dengan volume tambat dalam KCKT dan Rf dalam
KLT. Dengan kalibrasi yang patut, banyaknya (kuantitas)
komponen campuran dapat pula diukur secara teliti. kekurangan
utama KG adalah bahwa ia tidak mudah dipakai untuk
memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada
tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan campuran pada tingkat
mg mungkin dilakukan; tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau
ton sukar dilakukan kecuali jika tidak ada metode lain.
Pada saat penyuntikan, alat kromatografi gas melaporkan
hasil dari kromatografi dalam bentuk signal, adapun hasil signal
tersebut untuk beberapa senyawa/larutan adalah sebagai berikut:
Methanol:

Propanol:

20

Butanol:

Pentanol:

Larutan standar dengan komposisi 1:1:1:1. Dengan RT


adalah waktu retensi (Retention Time), Area adalah luas segitiga di
bawah puncak, Type adalah jenis puncak yang tercatat (PB:
Penetrate to Base, BB: Base to Base), Width adalah jebar dasar
puncak, dan Area% adalah persentase perbandingan luas segitiga di
bawah puncak (untuk suatu komponen) dengan luas total segitiga
yang ada.
Cara kerja alat kromatografi gas
Pada dasarnya, dalam alat kromatografi gas, ada dua jenis
detektor, yang pertama adalah Flame Ionization Detektor, dan yang
kedua adalah Thermal Conductivity Detektor. Namun, untuk
praktikum kali ini, jenis detektor yang dipakai adalah Thermal

21

Conductivity Detektor. Fasa diam yang dipakai adalah metal


silicon gum. Gas yang digunakan sebagai gas pembanding dan gas
pembawa adalah gas nitrogen karena di samping nitrogen
cenderung murah jika dibandingkan dengan jenis gas yang lain,
nitrogen juga inert, aman (dibandingkan dengan gas lain yang
mudah terbakar), dan mudah didapat.
Pada percobaan kali ini, suhu kolom yang digunakan adalah
50-90C dengan Initial time 1 menit, laju perubahan suhu adalah
10C per menit, dan final time adalah 1 menit. Maksudnya, pada
saat alat kromatografi gas digunakan, suhu kolom akan bertahan di
50C selama 1 menit, setelah itu suhu akan naik secara bertahap
dengan kelajuan 10C per menit sampai suhu kolom itu mencapai
90C. Setelah mencapai suhu 90C, alat kromatografi gas pun akan
kembali menahan suhu kolom selama 1 menit dan setelah itu,
proses kromatografi akan berhenti. Dalam kromatografi gas, suhu
di bagian injeksi harus lebih tinggi dari suhu akhir kolom. Pada
detektor pun, suhu yang digunakan cukup relative tinggi, yaitu
160C. Kolom yang digunakan pun adalah kolom kapiler yang
sangat panjang namun mempunyai diameter yang sangat kecil.
Total panjang kolom kapiler dalam alat kromatografi gas ini adalah
30 meter dengan diameter 0,053 mm. Metil Silicon Gum yang ada
di dalam kolom kapiler ini mempunyai sifat polar yang cenderung
tarik menarik dengan senyawa yang mempunyai sifat polar juga.
Prinsip utama pemisahan dalam kromatografi gas adalah
berdasarkan perbedaan laju migrasi masing-masing komponen
dalam melalui kolom. Komponen-komponen yang terelusi dikenali
(analisa kualitatif) dari nilai waktu retensinya (RT).
Factor-faktor yang mempengaruhi waktu retensi
Nilai/harga waktu retensi (RT) tiap komponen disebabkan
oleh perbedaan titik didih (Td) masing-masing komponen,
perbedaan

massa

molekul

relative

(Mr)/perbedaan

ukuran

komponen, interaksi/keterikatan masing-masing komponen dengan


fasa stasioner/fasa diam (misalnya oleh karena sifat kepolaran fasa
diam serta fasa geraknya), panjang kolom, diameter kolom,
22

temperatur kolom dan laju/temperatur aliran gas pembawa serta


tingkat kejenuhan kolom.
Semakin rendah titik didih suatu komponen maka waktu
retensinya akan semakin kecil/singkat karena pada temperatur
tertentu zat tersebut sudah menjadi fasa uap sehingga bisa bergerak
bebas/lebih cepat sebagai fasa gerak dalam kolom kapiler
sedangkan komponen lainnya masih dalam fasa cairan. Jadi
komponen yang terlebih dahulu menjadi uap akan lebih cepat
keluar dari kolom. Oleh karena itu, methanol mempunyai waktu
retensi lebih singkat dari propanol, propanol mempunyai waktu
retensi yang lebih singkat dari butanol, dan butanol mempunyai
waktu retensi yang lebih singkat dari pentanol.
Semakin kecil ukuran sebuah komponen dan semakin kecil
nilai massa molekul relatifnya (Mr) maka sebuah komponen akan
lebih dapat bergerak bebas/lebih cepat keluar dari kolom. Jadi
semakin kecil ukuran komponen dan semakin kecil Mr komponen
maka waktu retensinya akan semakin kecil pula. Oleh karena itu,
methanol mempunyai waktu retensi lebih singkat dari propanol,
propanol mempunyai waktu retensi yang lebih singkat dari butanol,
dan butanol mempunyai waktu retensi yang lebih singkat dari
pentanol.
Jika fasa diamnya bersifat nonpolar, maka komponen yang
akan terelusi lebih cepat adalah komponen yang paling polar,
karena ikatan dengan fasa diamnya relatif lebih lemah. Begitu juga
sebaliknya jika fasa diamnya polar maka komponen yang lebih
cepat yaitu komponen yang paling nonpolar. Jadi kepolaran fasa
diam dan fasa gerak sangat mempengaruhi waktu retensi masingmasing komponen.
Semakin panjang kolom, maka RT menjadi lambat karena
jarak yang harus ditempuh oleh senyawa tersebut cenderung lebih
jauh. Sebaliknya, jika kolom pendek, maka RT menjadi lebih cepat
karena jarak yang harus ditempuh oleh senyawa tersebut untuk
menuju detektor cenderung lebih dekat.

23

Temperatur kolom harus disesuaikan dengan titik didih


larutan senyawa organik. Apabila temperatur kolom terlalu rendah
daripada titik didih larutan, maka tidak akan timbul puncak karena
kalor atau temperature kolom tidak cukup untuk menguapkan
senyawa yang ada. Sedangkan jika temperatur kolom jauh lebih
tinggi daripada titik didih larutan, maka T R menjadi sangat cepat
karena senyawa yang ada langsung menerima kalor dengan cepat
untuk segera mengubah wujudnya menjadi gas.
Pengaruh pengotor
Pada percobaan kali ini, jika kita memperhatikan hasil
cetakan dari alat kromatografi gas, kita dapat melihat adanya
puncak puncak kecil. Puncak-puncak kecil itu adalah pengotor,
baik itu pengotor yang ada di dalam kolom yang akhirnya terbaca
oleh detektor, maupun pengotor yang ada di dalam senyawa
(terbawa oleh senyawa ketika penyuntikkan). Seharusnya, tidak
ada pengotor di dalam kita melakukan suatu analisis terhadap suatu
sampel atau suatu senyawa. Hasil yang paling ideal adalah ketika
yang dihasilkan adalah suatu garis lurus yang ada pada base yang
diikuti

oleh

puncak-puncak

yang

cukup

significant

yang

menunjukkan komponen utama dari senyawa tersebut.


Factor kesalahan
Dalam praktikum ini, ada beberapa factor kesalahan yang
membuat hasil kromatografi gas tidak seideal yang diharapkan,
yaitu kemurnian analit dan ketidaktepatan waktu penginjeksian
dengan penekanan tombol start pada alat kromatografi gas. Untuk
itu, kita dapat menggunakan analit dengan tingkat kemurnian yang
lebih tinggi dan kita dapat melatih atau membiasakan diri
melakukan kromatografi gas sehingga waktu penginjeksian dan
penekanan tombol dapat dioptimalkan setepat mungkin.
Pembahasan hasil percobaan
Pada saat senyawa methanol dianalisis, hasil analisis
menyatakan bahwa waktu retensi untuk methanol adalah 1,369
menit dan keseluruhan analit adalah methanol murni.
Pada saat menganalisis senyawa propanol, timbul/ terdapat
dua buah puncak, yaitu dengan waktu retensi 1,302 menit dan
24

1,795 menit dengan perbandingan persentase area 15,51498% dan


84,48502. Jika kita bandingkan dengan waktu retensi methanol
(1,369), maka kita bisa mendapatkan hasil bahwa senyawa
propanol yang kita analisis mengandung kurang lebih 15%
methanol dan bukan 100% propanol murni. Kemungkinan
penyebabnya adalah propanol yang ada sudah berinteraksi dengan
udara bebas karena dibiarkan terbuka, sehingga ada rantai propanol
yang terputus dan menjadi methanol.
Sama halnya seperti propanol, hasil analisis buthanol juga
menunjukkan bahwa buthanol yang kita analisis mengandung 14%
methanol karena terdapat puncak pada waktu retensi 1,310 dengan
persentase area 14%. Selebihnya, terdapat puncak pada waktu
retensi 2,414 dengan persentase area 85% yang tidak lain adalah
buthanol itu sendiri.
Pada saat menganalisis pentanol, ternyata pentanol yang
ada pun bukanlah pentanol murni 100%. Terdapat 8% methanol
yang kemungkinan juga merupakan hasil dari pentanol yang terurai
karena telah cukup lama berinteraksi dengan udara bebas. Waktu
retensi dari pentanol itu sendiri adalah 2,818 menit.
Jika kita perhatikan waktu retensi masing masing senyawa
tersebut, kita telah berhasil membuktikan bahwa waktu retensi
methanol lebih kecil dari waktu retensi propanol, waktu retensi
propanol lebih kecil dari waktu retensi buthanol, dan waktu retensi
buthanol lebih kecil dari waktu retensi pentanol.
Ketika senyawa campuran dengan dianalisis, timbul empat
buah puncak yang masing masing puncaknya timbul di sekitar
waktu retensi berada di sekitar waktu retensi methanol, propanol,
buthanol dan pentanol. Dari waktu retensi dan perbandingan
persentase area yang ada, kita bisa melihat bahwa perbandingan
antara methanol, propanol, buhanol, dan pentanol dalam senyawa
campuran mendekati 1:1:1:1. Namun jika kita amati lebih lanjut,
persentase area untuk pentanol hanya sekitar 20%, kemungkinan
penyebabnya adalah pentanol itu sudah terurai menjadi senyawa
yang lain karena berinteraksi dengan udara bebas.
25

Untuk sample, setelah dianalisis dengan menggunakan


kromatografi gas, didapatkan juga ada 4 buah puncak yang waktu
retensinya juga berkisar di antara waktu retensi methanol,
propanol, buthanol, dan pentanol. Untuk puncak dengan waktu
retensi 1,330 (methanol), persentase perbandingan area terhadap
total area puncak adalah 48,88542% mendekati 50%. Untuk
puncak dengan waktu retensi 1,590 (propanol), persentase
perbandingan area puncak adalah 15,96455%, mendekati 15%.
Untuk

puncak

dengan

waktu

retensi

2,125

(buthanol),

perbandingan persentase area puncak terhadap total area puncak


adalah 19.80757% mendekati 20%. Dan untuk puncak dengan
waktu retensi 2,754 (pentanol), perbandingan persentase area
puncak terhadap total area puncak adalah 15,34246% mendekati
15%. Jika kita bandingkan keempat persentase tersebut, maka kita
bisa mendapatkan perbandingan methanol : propanol : buthanol :
pentanol = 50 : 15 : 20 : 15 = 10 : 3 : 4 :3.
V.

Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
1. Kromatografi adalah teknik pemisahan fisik suatu campuran
zat-zat kimia yang berdasarkan pada perbedaan migrasi dari
masing-masing komponen campuran yang terpisah pada fase
diam dibawah pengaruh pergerakan fase yang bergerak
2. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak
senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik
awal
3. Percobaan pemisahan dengan kromatografi kertas, tidak dapat
ditentukan nilai Rf nya, karena noda tidak naik ke atas
4. Percobaan pemisahan daun bayam secara KLT didapatkan nilai
Rf-nya, pada eluen etanol : kloroform (2 : 1) Rf-nya noda 1 =
0,775 ; noda 2 = 0,85 dan noda 3 = 0. Pada eluen etanol :
kloroform (1 : 1) Rf-nya noda 1 = 0,5 ; noda 2 = 0 dan noda 3 =
0,85. Pada eluen etanol : kloroform (1 : 2) Rf-nya noda 1 =
0,525 ; noda 2 = 0 dan noda 3 = 0,85

26

5. Secara literature pada daun bayam terdapat senyawa -karoten,


klorofil a dan klorofil b.
6. Dari keempat persentase tersebut, didapatkan perbandingan
methanol : propanol : buthanol : pentanol = 50 : 15 : 20 : 15 =
10 : 3 : 4 :3
B. Saran
Pada percobaan pemisahan dengan cara kromatografi ini,
ada beberapa percobaan yang gagal dan ada juga percobaan yang
tidak dilakukan. Hal ini disebabkan karena alat yang digunakan
rusak dan juga ada alat yang tidak tersedia di laboratorium serta
bahan yang digunakan pada sebagian percobaan tidak disediakan.
Untuk itu praktikkan menyarankan agar menyediakan alat dan
bahan yang lengkap sesuai dengan percobaan yang akan dilakukan,
sehingga praktikum dapat berjalan dengan lancar.
VI.

Daftar Pustaka
Khopkar, SM. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press
Tim kimia organik I. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Organik I.
Jambi: Universitas Jambi
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisik untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI

27