Anda di halaman 1dari 12

A.

Peta Geologi Pulau Sulawesi

Sulawesi terletak pada pertemuan 3 Lempeng besar yaitu Eurasia, Pasifik,dan IndoAustralia serta
sejumlah lempeng lebih kecil (Lempeng Filipina) yang menyebabkan kondisi tektoniknya sangat
kompleks. Kumpulan batuan dari busur kepulauan, batuan bancuh, ofiolit, dan bongkah dari
mikrokontinen terbawa bersama proses penunjaman, tubrukan, serta proses tektonik lainnya (Van
Leeuwen, 1994).

B.

Setting Geologi Pulau Sulawesi

Sulawesi merupakan pulau yang khas dan terletak di tengah-tengah kawasan Wallacea. Kawasan
ini merupakan wilayah yang terletak di antara dua benua yaitu Asia dan Australia. Karena
posisinya di tengah, maka kawasan ini memiliki tingkat endemisitas yang tinggi dalam hal flora
dan fauna, serta memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan Kalimanta n yang hanya
dipisahkan oleh Selat Makassar yang tidak terlalu luas.

Hal ini pertama kali dilaporkan oleh Alfred Wallace yang melakukan perjalanan keliling
Indonesia pada tahun 1856 sampai 1862. Agar kita dapat lebih memahami keberadaan dan
keistimewaan pulau Sulawesi maka disusunlah suatu essai yang akan menjelaskan bagaimana
sejarah geologi terbentuknya pulau Sulawesi.
Alfred Russel Wallace adalah seorang berkebangsaan Inggris yang melakukan perjalanan
mengelilingi Indonesia dimulai dari Borneo sampai Irian termasuk Sulawesi. Wallace
mengemukakan pandangannya bahwa kepulauan Indonesia dihuni oleh dua fauna yang berbeda,
satu di bagian timur dan yang lainnya di bagian barat. Wilayah ini ditentukan atas dasar agihan
jenis-jenis burung dengan menempatkan batasnya antara Lombok dan Bali antara Kalimantan
dan Sulawesi. Kalimantan dan Sulawesi memiliki burung yang berbeda, padahal tidak
terpisahkan oleh perintang fisik atau iklim yang berarti. Wallace berpendapat bahwa Kalimantan,
Jawa dan Sumatra pernah merupakan bagian Asia dan bahwa Timor, Maluku, Irian dan
barangkali Sulawesi merupakan bagian benua Pasifik Australia. Fauna Sulawesi tampak
demikian khas, sehingga diduga Sulawesi itu pernah bersambung baik dengan benua Asia
maupun benua Pasifik Australia.

Di Sulawesi Wallace melakukan perjalanannya yang dimulai dari Ujung Pandang (Makassar)
pada bulan September Desember 1856, kemudian pada bulan Juni September 1859 berada di
Manado dan bagian Minahasa serta pulau pulau kecil di sekitarnya. Dari hasil perjalanannya ini
Wallace menyatakan bahwa pulau Sulawesi terletak di tengah-tengah kepulauan yang sebelah
utaranya berbatasan dengan Filipina, sebelah barat dengan Borneo, sebelah timur dengan pulau
Maluku dan sebelah selatan dengan kelompok Timor. Dengan demikian posisi Sulawesi dapat
lebih mudah menerima imigran dari semua sisi jika dibandingkan dengan pulau Jawa.
1.

Zaman Paleozoikum

Pada periode Perm (280 Ma.) semua daratan menjadi satu benua yaitu benua Pangea.
2.

Zaman Mesozoikum
Pada periode Trias (250 Ma), pecahnya Pangea menjadi dua yaitu Laurasia dan Gondwana.

Laurasia meliputi Amerika Utara, Eropa dan sebagian besar Asia sekarang. Sampai beberapa
tahun belakangan ini pandangan yang umum diterima dalam sejarah geologi adalah bahwa
Indonesia dan wilayah sekitar bagian barat (Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan
dan bagian barat Sulawesi) merupakan bagian benua Laurasia, yang belum lama berselang masih
terpisahkan dari bagian timur ( bagian Timur Sulawesi, Timor, Seram, Buru, dan seterusnya)
yang merupakan bagian benua Gondwana.

Pada Periode Jura (215 Ma.), Bagian barat Sulawesi bersama sama dengan Sumatera,

Kalimantan, dan daratan yang kemudian akan menjadi kepulauan lengkung Banda dianggap
terpisahkan dari antartika dalam pertengahan zaman Jura, atau dengan kata lain, Bagian barat
Indonesia bersama dengan Tibet, Birma Thailand, Malaysia dan Sulawesi Barat, terpisah dari
benua Gondwana.
3.

Zaman Konozoikum

Pada kurun Eosen (60 Ma) Australia terpisah dari Antartika, vulkanisme mulai timbul di

bagian barat Sulawesi.

Pada kurun Oligosen (40 Ma), Posisi Indonesia bagian barat dan Sulawesi bagian barat,

posisinya seperti posisi sekarang.

Pada kurun Miosen (25 Ma), Australia, Irian dan bagian timur Sulawesi barangkali

terpisahkan dari Irian sebelum bertabrakan dengan Sulawesi bagian barat, pada zaman
pertengahan miosen dimana mulai munculnya daratan. Dimana Australia, Sulawesi Timur dan
Irian terus bergarak ke utara kira kira 10 cm pertahun.

Peristiwa yang paling dramatik dalam sejarah geologi Indonesia terjadi dalam kurun
Miosen, ketika lempeng Australia bergerak ke Utara mengakibatkan melengkungnya bagian
timur, lengkung Banda ke Barat. Gerakan ke arah barat ini digabung dengan desakan ke darat
sepanjang sistem patahan Sorong dari bagian barat Irian dengan arah timur barat, mengubah
kedua masa daratan yang akan menghasilkan bentuk khas Sulawesi yang sekarang. Diperkirakan
tabrakan ini terjadi pada 19-13 Ma yang lalu. Kepulauan Banggai Sula bertabrakan dengan
Sulawesi timur dan seakan akan menjadi ujung tombak yang masuk ke Sulawesi barat, yang
menyebabkan semenanjung barat daya berputar berlawanan dengan arah jarum jam sebesar kira
kira 35 derajat, dan bersama itu membuka teluk Bone. Semenanjung Utara memutar ujung
utaranya menurut arah jarum jam hampir sebesar 90 derajat ,yang menyebabkan terjadinya
subduksi (penempatan secara paksa suatu bagian kerak bumi di bawah bagian lain pada
pertemuan dua lempeng tektonik), sepanjang Alur Sulawesi Utara dan Teluk Gorontalo. Dan
Obduksi (penempatan secara paksa suatu bagian kerak bumi diatas bagian lain pada pertemuan
dua lempeng tektonik),batuan ultra basis di Sulawesi timur dan tenggara diatas reruntuhan
pengikisan atau endapan batuan yang lebih muda yang bercampur aduk.
Diperkirakan juga bahwa, Sulawesi barat bertabrakan dengan Kalimantan timur pada
akhir Pliosen (3 Ma. yang lalu) yang sementara itu menutup selat Makasar dan baru membuka
kembali dalam periode Kwarter, meskipun tidak ada data pasti yang menunjang pendapat ini.
Endapan tebal dari sebelum Miosen di selat Makasar memberikan petunjuk bahhwa Kalimantan
dan Sulawesi pernah terpisahkan sekurang-kurangnya 25 Ma. dalam periode permukaan laut
rendah, mungkin sekali pada masa itu terdapat pulau-pulau khususnya di daerah sebelah barat
Majene dan sekitar gisik Doangdoang. Di daerah Doangdoang, penurunan permukaan air laut
sampai 100 m. akan menyebabkan munculnya daratan yang bersinambungan antara
Kalimamantan tenggara dan Sulawesi barat daya. Biarpun demikian, suatu pengamatan yang
menarik ialah bahwa garis kontur 1000 m di bawah laut di sebelah timur Kalimantan persis sama
dengan garis yang sama di Sulawesi barat, sehingga mungkin selat Makasar dulu hanya jauh
lebih sempit.
Sulawesi meliputi tiga propinsi geologi yang berbeda-beda, digabung menjadi satu oleh gerakan
kerak bumi. Propinsi-propinsi tersebut adalah Sulawesi barat dan timur yang dipisahkan oleh
patahan utara barat laut antara Palu dan Teluk Bone (patahan Palu Koro), serta Propinsi Banggai

Sula yang mencakup daerah Tokala di belakang Luwuk dan Semenanjung Barat laut, Kepulauan
Banggai, pulau Buton dan Kep. Sula (yang kenyataannya merupakan bagian Propinsi Maluku)

C.

Struktur Geologi Pulau Sulawesi

Peta Litektonik Pulau Sulawesi


Berdasarkan keadaan litotektonik Pulau Sulawesi dibagi 4 yaitu:

Mandala barat (West & North Sulawesi Volcano-Plutonic Arc) sebagai jalur magmatik

(Cenozoic Volcanics and Plutonic Rocks) yang merupakan bagian ujung timur Paparan Sunda;
Van Leeuwen (1994) menyebutkan bahwa mandala barat sebagai busur magmatik dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.

Bagian utara

Memanjang dari Buol sampai sekitar Manado. Batuan bagian utara bersifat riodasitik sampai
andesitik, terbentuk pada Miosen-Resen dengan batuan dasar basaltik yang terbentuk pada
Eosen-Oligosen.
SULUT

Geologi daerah Sulut didominasi oleh batugamping sebagai satuan pembentuk cekungan

sedimen Ratatotok.

Satuan batuan lainnya adalah kelompok breksi dan batupasir, terdiri dari breksi-konglomerat

kasar, berselingan dengan batupasir halus-kasar, batu lanau dan batu lempung yang didapatkan di
daerah Ratatotok-Basaan, serta breksi andesit piroksen.

Kelompok Tuf Tondano berumur Pliosen terdiri dari fragmen batuan volkanik kasar andesitan

mengandung pecahan batu apung, tuf, dan breksi ignimbrit, serta lava andesit-trakit.

Batuan Kuarter terdiri dari kelompok Batuan Gunung api Muda terdiri atas lava andesit-basal,

bom, lapili dan abu

Kelompok batuan termuda terdiri dari batugamping terumbu koral, endapan danau dan sungai

serta endapan alluvium aluvium.


(Sirtu atau batu kali banyak terdapat di daerah sungai Buyat dan saat ini telah diusahakan oleh
penduduk setempat dan perusahaan lokal untuk memenuhi kebutuhan PT. Newmont Minahasa
Raya (NMR) sebagai bahan pembuatan saluran penghubung antara pit 1 dengan pit lainya dan
sebagai bahan pondasi bangunan.)
GORONTALO

Daerah Gorontalo merupakan bagian dari lajur volkano-plutonik Sulawesi Utara yang

dikuasai oleh batuan gunung api Eosen - Pliosen dan batuan terobosan.

Pembentukan batuan gunung api dan sedimen di daerah penelitian berlangsung relatif

menerus sejak Eosen Miosen Awal sampai Kuarter, dengan lingkungan laut dalam sampai
darat, atau merupakan suatu runtunan regresif.

Pada batuan gunung api umumnya dijumpai selingan batuan sedimen, dan sebaliknya pada

satuan batuan sedimen dijumpai selingan batuan gunung api, sehingga kedua batuan tersebut
menunjukkan hubungan superposisi yang jelas.

Fasies gunung api Formasi Tinombo diduga merupakan batuan ofiolit, sedangkan batuan

gunung api yang lebih muda merupakan batuan busur kepulauan.


2.

Bagian barat

Dari Buol sampai sekitar Makasar. Busur magmatik bagian barat mempunyai batuan penyusun
lebih bersifat kontinen yang terdiri atas batuan gunung api-sedimen berumur Mesozoikum-

Mesozoikum Kuarter dan batuan malihan berumur Kapur. Batuan tersebut diterobos granitoid
bersusunan terutama granodioritik sampai granitik yang berupa batolit, stok, dan retas.
ENREKANG SULAWESI SELATAN
Berdasarkan pengamatan geologi pada data penginderaan jauh dan lapangan, maka batuan di
daerah Enrekang dapat dibagi menjadi 8 satuan,yaitu:

Satuan batupasir malih (Kapur Akhir)

Satuan batuan serpih (Eosen-Oligosen Awal)

Satuan batugamping (Eosen)

Satuan batupasir gampingan (Oligosen-Miosen Tengah)

Satuan batugamping berlapis (Oligosen-Miosen Tengah)

Satuan klastika gunungapi (Miosen Akhir)

Satuan batugamping terumbu (Pliosen Awal)

Satuan konglomerat (Pliosen)

Struktur geologi yang berkembang di daerah ini terdiri atas sesar naik, sesar mendatar, sesar
normal dan lipatan yang pembentukannya berhubungan dengan tektonik regional Sulawesi dan
sekitarnya.

Mandala tengah (Central Sulawesi Metamorphic Belt) berupa batuan malihan yang

ditumpangi batuan bancuh sebagai bagian dari blok Australia;

Mandala Tengah
Palu-Koro Fault Zone: New target for UHP metamorphic rock (coesite and diamond discovery)

Mandala timur (East Sulawesi Ophiolite Belt) berupa ofiolit yang merupakan segmen dari

kerak samudera berimbrikasi dan batuan sedimen berumur Trias-Miosen.


Sesar Lasolo yg merupakan sesar geser membagi lembar daerah Kendari menjadi dua lajur,
yaitu:
1)

Lajur Tinondo, yang menempati bagian barat daya merupakan himpunan batuan yang

bercirikan asal paparan benua, sedangkan


2)

Lajur Hialu, yang menempati bagian timur laut daerah ini, merupakan himpunan batuan

yang bercirikan asal kerak samudera (Rusmana dan Sukarna, 1985). Batuan yang terdapat di
Lajur Tinondo adalah Batuan Malihan Paleozoikum, dan diduga berumur Karbon.

KENDARI SULTRA
Hasil pengukuran gaya berat di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara, yang sebagian besar
daerahnya ditutupi oleh batuan ofiolit, menunjukan perkembangan tektonik dan geologi daerah
ini mempunyai banyak persamaan dengan daerah Lengan Timur Sulawesi dengan ditemukannya
endapan hidrokarbon di daerah Batui.
Struktur lipatan hasil analisis data gaya berat daerah ini menunjukkan potensi sumber daya
geologi yang sangat besar, berupa: panas bumi dan endapan hidrokarbon.

Panas bumi berada di sekitar daerah Tinobu, Kecamatan Lasolo, sepanjang sesar Lasolo

Cebakan hidrokarbon di sekitar pantai dan lepas pantai timur daerah ini, seperti: daerah

Kepulauan Limbele, Teluk Matapare (Kepulauan Nuha Labengke) Wawalinda Telewata Singgere
pantai Labengke), Wawalinda, Telewata, Singgere, utara Kendari, dan lain sebagainya.

BanggaiSula and Tukang Besi Continental fragments

kepulauan paling timur Banggai-Sula dan Buton merupakan pecahan benua yang berpindah ke
arah barat karena strike-slip faults dari New Guinea.
PETA GEOLOGI BANGGAI-SULAWESI

D.

Stratigrafi Pulau Sulawesi

KABUPATEN DONGGALA DAN TOLITOLI


Urut-urutan stratigrafi dari muda hingga tua sebagai berikut :

Endapan alluvium,

Endapan teras (Kuarter),

Batuan tufa (Pliosen Kuarter),

Batuan sedimen termetamorfose rendah dan batuan malihan yang keduanya termasuk

Formasi Tinombo (Kapur Atas Eosen Bawah),

Batuan gunungapi (Kapur Atas Oligosen Bawah) yang menjemari dengan Formasi

Tinombo,

Batuan intrusi granit (Miosen Tengah Miosen Atas) ditemukan menerobos batuan malihan

Formasi Tinombo.
Tatanan geologi P. Banggai dan P. Labobo disusun oleh 7 satuan batuan, yang dikelompokkan
dari satuan tertua hingga muda sebagai berikut :
1.

Kompleks batuan malihan adalah satuan batuan tertua yang terdiri dari sekis, gneis dan

kuarsit berwarna kelabu dan kehijauan, berumur Karbon.


2.

Granit Banggai yang terdiri dari granit, granodorit, diorit kuarsa dan pegmatit. Bentang alam

satuan batuan granit ini memperlihatkan bentuk morfologi bergelombang dengan permukaan
relatif halus membulat
3.

Sedimen Formasi Bobong (Jbs). Satuan batuan konglomerat dan batu pasir yang diendapkan

tidak selaras diatas Granit, Formasi ini diduga berumur Jura Awal sampai Jura Tengah,
4.

Batu gamping klastik, berwarna putih bersih hingga kotor kecoklatan, ukuran butir pasiran

(relatif seragam) sebagai kalkarenit hingga kalsirudit. Dari kumpulan fosil yang dikandungnya,
berumur dari Eosen sampai Miosen Tengah, tersebar luas dan hampir terdapat di seluruh P.
Banggai
5.

Batugamping Salodik (Tems) Adalah batugamping fragmen dengan ukuran Formasi Tems).

Kerakal (gravel) yang keras.


6.

Batugamping terumbu Formasi Peleng (QL): Endapan batuan berumur kuarter yang

penyebaran tidak merata, sebagian berupa batugamping konglomeratan, berwarna putih kotor
hingga kecoklatan, setempat berongga-rongga, tidak berlapisdan keras.

7.

Aluvium : Satuan batuan termuda daerah ini adalah, terdiri atas lumpur, lempung, pasir dan

kerikil, berupa endapan permukaan sungai dan di sekitar pantai, diantaranya terdapat di pantai
LambakoPasir putih yang merupakan muara Sungai Selangat dan Paisu M
E. Perkembangan Tektonik Sulawesi
Banyak model tektonik yang sudah diajukan untuk menjelaskan evolusi tektonik dari
Pulau Sulawesi. Ada dua peristiwa penting yang terjadi di Sulawesi bagian barat pada masa
kenozoikum. Yang pertama adalah rifting dan pemekaran lantai samudera di Selat Makassar pada
Paleogen yang menciptakan ruang untuk pengendapan material klastik yang berasal dari
Kalirnantan . Yang kedua adalah peristiwa kompresional yang dimulai sejak miosen. Kompresi
ini dipengaruhi oleh tumbukan kontinen di arah barat dan ofiolit serta fragmen-fragmen busur
kepulauan di arah timur. Fragmen-fragmen ini termasuk mikro-kontinen Buton, Tukang Besi dan
Baggai Sula. Kompresi ini menghasilkan Jalur Lipatan Sulawesi Barat (West Sulawesi Fold Belt)
yang berkembang pada Pliosen Awal. Meskipun ukuran fragmen-fragmen ini relatif kecil, efek
dari koalisinya dipercaya menjadi penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tektonik di seluruh
bagian Sulawesi (Calvert, 2003).

Gambar . Perkembangan Tektonik Sulawesi (Hall dan Smyth, 2008)


DAFTAR PUSTAKA

http://makalah-update.blogspot.com/2012/11/makalah-geologi-pulau-sulawesi.html
https://www.academia.edu/8630547/Struktur_Geologi_Sulawesi_Oleh

Anda mungkin juga menyukai