Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGINDERAAN JAUH DASAR


(GKP 0202)

Disusun Oleh :
Nama

: Salsabil Romanda Ageng Gumilang

NIM

: 14/365867/GE/07840

Program studi

: Geografi Ilmu Lingkungan

Hari, waktu

: Senin , 13.00 15.00 WIB

Asisten

: Nurul Maulida M
Nila Ratnasari

LABORATORIUM PENGINDERAAN JAUH DASAR


JURUSAN KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

I.

Judul
Kegiatan Lapangan

II.

Tujuan
Mampu memberi pelatihan dasar kepada mahasiswa untuk melakukan kegiatan
lapangan yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan lapangan, pasca lapangan

III.

Alat dan Bahan


1. Foto udara Blok A1 daerah Maguwoharjo dan sekitarnya skala 1:5500
2. Lembar Transparasi
3. Spidol OHP
4. Tabel Error Matrix
5. Grid

IV.

Cara Kerja
Input :
Foto udara Blok A1 daerah Maguwoharjo dan sekitarnya skala 1:5500
Proses :

Output :

Mendeleniasi objek pada foto udara berdasarkan penggunaan lahan


Membuat grid kotak-kotak dengan lebar 0,5x0,5 cm
Melakukan cek hasil interpretasi untuk pengunaan lahan di lapangan
Mencatat perubahan hasil interpretasi pada grid
Menginput data jumlah grid pada tabel
Menghitung nilai akurasi keseluruhan producer dan user

V.

Peta tentatif penggunaan lahan daerah Maguwoharjo pada


transparasi
Grid interpretasi penggunaan lahan Maguwoharjo
Tabel conffusion matrix

Hasil Praktikum
a. Peta tentatif penggunaan lahan daerah Maguwoharjo pada transparasi
b. Grid interpretasi penggunaan lahan Maguwoharjo
c. Tabel conffusion matrix

VI.

Pembahasan
Praktikim lapangan

mempunyai

tujuan yaitu membandingkan

kenampakan pada citra dengan kenampakan aslinya , dengan mempunyai


maksud yaitu mengetahui kenampakan aslinya dan kenampakan terbaru serta

menambah pengetahuan dalam penginderaan jauh. Melakukan kegiatan


lapangan mempunyai 3 tahap yang harus dilakukan pertama adalah melakukan
persiapan lapangan fungsinya adalah agar saat di lapangan alat yang dibutuhkan
tersedia jika melakukan perhitungan dan penentuan lokasi. Kedua adalah
pelaksanaan lapangan, Ketiga adalah pasca lapangan kegiatan ini adalah
mengumpulkan data dari hasil praktikum lapangan dan kemudian di lakukan
perhitungan untuk proses pembuatan laporan. Kegiatan lapangan mempunyai
tujuan untuk menguji nilai akurasi interpretasi. Interpretasi menggunakan peta
citra google blok B1 daerah Maguwoharjo dan sekitarnya tahun 2015. Skala
yang digunakan pada peta citra ini adalah 1:5.500 dengan komposit warna asli.
Interpretasi dilakukan terhadap objek penggunaan lahan yang meliputi
pemukiman desa, pemukiman kota, tegalan, sekolah, pekarangan, kebun, kolam,
sawah irigrasi, sawah taaadah hujan dan ada stadion dan area balapan di daerah
sekitar. Interpretasi yang dilakukan secara visual sehingga bersifat subjektif dan
tergantung dari kemampuan pengamat dalam menetukan objek. Adanya
pengecekan saat lapangan mempunyai tujuan yaitu mengurangi tingkat
subyektivitas dalam interpretasi jadi dalam melakukan pengecekan lapangan
lebih mengetahui fungsi dari daerah yang di interpretasi. Hasil dari interpretasi
berupa peta tentetif penggunaan laha daerah Maguwoharjo dan sekitarnya.
Menguji akurasiinterpretasi menggunakan peta tentatf yang telah dibuat
sebelumnya dan grid interpretsi. Peta tentatf dan grid tersebut sebagai dasar
untuk mengecek hasil interpretasi dengan keadaan sesungguhnya di lapangan.
Grid dibuat dengan ukuran 0,5x0,5 cm yang kemudian grid di plot pada peta
tentetif. Melalui hasil pengamatan objek secara langsung di lapangan dapat
diperoleh hasil interpretasi penggunaan lahan sesungguhnya di lapangan.
Kenampakan objek yang ditemukan untuk setiap grid kemudian di catat dalam
grid menggunakan simbol. Dalam pengecekan tidak semua objek harus di
kunjungi dan di identifikasi secara detail karena objek yang di identifikasi terlalu
banyak dan dilihat dengan efisiensi waktu , sehingga ditentukan beberapa
sample untuk mentukan daerah sekitanya saja. Daerah sample yang di tentukan
kebanyakan berada di daerah perbatasan antara objek satu dengan yang lainnya.
Daerah perbatasan di tentukan apabila dalam suatu grid membuat dua objek
yang salingberbatasan sehingga dipilih penggunaan lahan yang dominan dan

yang paling terlihat mencolok baik dalam citra maupun kenampakan langsung.
Untuk peta tentatif dilakukan juga pehitungan jumlah grid untuk setiap objek
antara peta tentatif dengan peta grid interpretasi. Perbedaan ini terjadi kareana
interpretasi bersifat subyektif dan masih dilakukan generalisasi objek, sehingga
kebenaran dalaminterpretasi belum dapat dipastikan kebenarannya. Sedangkan
pada grid interpretasi hasil perhitungan sudah tentu mengikuti kondisi
sesungguhnya pada lapangan.
Saat melakukan interpertasi digunakanlah kunci interpretasi antara lain
warna, bentuk, tekstur, pola,dan asosiasi. Pemukiman dapat dikenali dengan
mudah pada citra melalui interpretasi warna atap dan pola. Asosiasi pemukiman
di identifikasi dengan jalan. Objek berupa pemukiman dibagi menjadi 2 yaitu
pemukiman kota dengan pemukiman desa. Perbedaan dari kedua pemukiman ini
adalah dilihat dari atapnya jika dilakukan interpretasi peta. Namun saat di
lapangan pemukiman ini di bedakan berdasarkan bentuk pemukiman mewah dan
dengan rumah yang bagus dan pemukiman dengan rumah yang sederhana.
Pemukiman desa dapat di identifikasi dengan banyaknya pekarangan atau kebun
dan adanya jarak yang renggang antar rumah. Sedangkan pada pemukiman kota
di identifikasi dengan banyaknya rumah dengan pola teratur dan saling
berhimpit antara rumah satu dengan yang lainnya dan di identifikasi pula dengan
sedikitnya pekarangan pada rumah. Sawah dapat di kenali dengan pola lahan
yang berbentuk persegi dan rapat. Sawah sendiri dibedakan menjadi sawah
irigrasi dan sawah tadah hujan. Sawah irigrasi berpola persegi dengan
keteraturan antara satu dengan sawah lainnya simetris. Sedangkan pada sawah
tadah hujan di identifikasi dengan luas antara sawah yang satu dengan yang
lainnya tidak teratur seperti pada sawah irigrasi. Kolam di identifikasi dengan
warna yang gelap dan di kelilingi persegi yang di identifikasi sebagai pembatas
antara kolam yang satu dengan yang lainnya. Warna hijau dengan bentuk yang
tidak teratur dan berada pada pemukiman di identifikasi dengan perkebunan atau
kebun warga. Identifikasi dan interpretasi dilakukan secara kurang dtail karena
banyaknya objek yang dikaji. Namun banyak perbedaan antara objek yang di
peta dengan identifikasi secara langsung.
Berdasar hasil kegiatan lapangan, terdapat beberapa objek yang
mengalami perubahan, antara lain tegalan yang telah menjadi pemukiman,

pemukiman yang kemudian menjadi kebun atau pekarangan, lapangan menjadi


sawah, lahan kosong menjadi pemukiman, dan sebagainya. Beberapa kesalahan
dalam interpretasi antara lain yaitu menginterpretasi objek yang berbentuk
persegi yang di identifikasi kebun, namun kenyataan saat di lapangan adalah
lapangan. Tidak hanya satu objek yang terjadi kesalahan namun ada objek yang
sulit di identifikasi saat interpretasi namun saat di lapangan berupa objek lahan
kosong atau kebun yang tertutup oleh vegetasi maupun pemukiman karena objek
kebun di lapangan terlalu kecil sehingga pada citra hanya terlihat hijau. Diantara
pemukiman terdapat adanya pertokoan kecil , jika dilihat melalui citra pertokoan
ini hanya terlihat seperti rumah penduduk, namun jika dilakukan pengamatan
lapangan hasil yang terlihat adalah adanya pertokoan kecil diantara pemukiman
penduduk. Jadi banyak objek yang tidak sesuai interpretasi kita dibanding saat
lapangan, karena saat lapangan kita melihat objek secara langsung sedangkan
pada citra hanya secara terbatas visual yang ada pada citra yang terlihat dari
atap.
Tabel akurasi data menunjukkan keakurasian dalam interpretasi manual
dibanding pengamatan secara langsung. Dicontohkan hasil dari interpretasi
pemukiman kota terdapat 4 kesalahan dari hasil interpretasi sebelumnya. Tingkat
keakurasian dari data rata-rata diatas 90 walaupun ada beberapa yang dibawah
90 yang berarti dalam interpretasi dan hasil lapangan dalam user dan producer
accuracy ketepatanya cukup baik.
VII.

Kesimpulan
1. Interpretasi dan kegiatan lapangan terdiri dari riga tahap yaitu tahap pra
lapangan, pelaksanaan lapangan, dan pasca lapangan.
2. Kegiatan lapangan mempunyai tujuan untuk membuktikan kebenaran antara
hasil interpetasi dengan hasil lapangan
3. Dari hasil uji akurasi baik user accuracy dan producer accuracy cukup baik
namun producer accuracy lebih baik dibanding user accuracy

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Tim Penyusun. 2015. Pedoman Praktikum Penginderaan Jauh Dasar
(GKP0202). Yogyakarta : Program Studi Kartografi dan Penginderaan,
Jauh Jurusan Sains Informasi Geografi dan Pengembangan Wilayah,
Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.