Anda di halaman 1dari 8

Spermatogenesis

Spermatogenesis merupakan proses pembentukan spermatozoa. Spermatozoa


merupakan sel yang dihasilkan oleh fungsi reproduksi pria (Junqueira dan Jose, 2007).
Spermatozoa merupakan sel hasil maturasi dari sel germinal primordial yang disebut dengan
spermatogonia. Spermatogonia berada pada dua atau tiga lapisan permukaan dalam tubulus
seminiferus. Spermatogonia mulai mengalami pembelahan mitosis, yang dimulai saat
pubertas, dan terus berproliferasi dan berdiferensiasi melalui berbagai tahap perkembangan
untuk membentuk sperma (Guyton dan Hall, 2007).
Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus selama masa seksual aktif akibat
stimulasi oleh hormon gonadotropin yang dihasilkan di hipofisis anterior, yang dimulai ratarata pada umur 13 tahun dan terus berlanjut hampir di seluruh sisa kehidupan, namun sangat
menurun pada usia tua (Guyton dan Hall, 2007). Pada tahap pertama spermatogenesis,
spermatogonia bermigrasi di antara sel- sel sertoli menuju lumen sentral tubulus seminiferus.
Sel-sel sertoli ini sangat besar, dengan pembungkus sitoplasma yang berlebihan yang
mengelilingi spermatogonia yang sedang berkembang sampai menuju bagian tengah lumen
tubulus (Guyton dan Hall, 2007).
Proses berikutnya adalah pembelahan secara meiosis. Pada tahap ini spermatogonia
yang melewati lapisan pertahanan masuk ke dalam lapisan sel Sertoli akan dimodifikasi
secara berangsur-angsur dan membesar untuk membentuk spermatosit primer yang besar.
Setiap spermatosit tersebut, selanjutnya mengalami pembelahan mitosis untuk membentuk
dua spermatosit sekunder. Setelah beberapa hari, spermatosit sekunder ini juga membelah
menjadi spermatid yang akhirnya dimodifikasi menjadi spermatozoa (sperma) (Guyton dan
Hall, 2007).
Selama masa pergantian dari tahap spermatosit ke tahap spermatid, 46 kromosom
spermatozoa (23 pasang kromosom) dibagi sehingga 23 kromosom diberikan ke satu
spermatid dan 23 lainnya ke spermatid yang kedua (Sherwood, 2012). Keadaaan ini juga
membagi gen kromosom sehingga hanya setengah karakteristik genetik bayi yang berasal
dari ayah, sedangkan setengah sisanya diturunkan dari oosit yang berasal dari ibu.
Keseluruhan

proses

spermatogenesis,

dari

spermatogonia

membutuhkan waktu sekitar 74 hari (Guyton dan Hall, 2007).

menjadi

spermatozoa,

Proses selanjutnya adalah pembentukan sperma. Ketika spermatid dibentuk pertama


kali, spermatid tetap memiliki sifat-sifat yang lazim dari sel-sel epiteloid, tetapi spermatid
tersebut segera berdiferensiasi dan memanjang menjadi spermatozoa. Masing-masing
spermatozoa terdiri atas kepala dan ekor. Kepala terdiri atas inti sel yang padat dengan hanya
sedikit sitoplasma dan lapisan membran sel di sekeliling permukaannya. Di bagian luar, dua
pertiga anterior kepala terdapat selubung tebal yang disebut akrosom yang terutama dibentuk
oleh apparatus Golgi. Selubung ini mengandung sejumlah enzim yang serupa dengan enzim
yang ditemukan pada lisosom dari sel-sel yang khas, meliputi hialuronidase (yang dapat
mencerna filamen proteoglikan jaringan) dan enzim proteolitik yang sangat kuat (yang dapat
mencerna protein).
Enzim ini memainkan peranan penting sehingga memungkinkan sperma untuk
memasuki ovum dan membuahinya (Guyton dan Hall, 2007). Ekor sperma, yang disebut
flagellum, memiliki tiga komponen utama yaitu (1) kerangka pusat yang secara keseluruhan
disebut aksonema, yang memiliki struktur yang serupa dengan struktur silia yang terdapat
pada permukaan sel tipe lain; (2) membran sel tipis yang menutupi aksonema; dan (3)
sekelompok mitokondria yang mengelilngi aksonema di bagian proksimal ekor ( badan ekor)
(Guyton dan Hall, 2007).

Gerakan maju-mundur ekor (gerakan flagella) memberikan

motilitas sperma. Gerakan ini disebabkan oleh gerakan meluncur longitudinal secara ritmis di
antara tubulus posterior dan anterior yang membentuk aksonema. Sperma yang normal
bergerak dalam medium cair dengan kecepatan 1 sampai 4 mm/menit. Kecepatan ini akan
memungkinkan sperma untuk bergerak melalui traktus genitalia wanita untuk mencapai ovum
(Guyton dan Hall, 2007).
Proses selanjutnya setelah pembentukan sperma adalah pematangan sperma di
epididimis. Setelah terbentuk di tubulus seminiferus, sperma membutuhkan waktu beberapa
hari untuk melewati tubulus epididimis yang panjangnya 6 meter. Sperma yang bergerak dari
tubulus seminiferus dan dari bagian awal epididimis adalah sperma yang belum motil, dan
tidak dapat membuahi ovum. Akan tetapi, setelah sperma berada dalam epididimis selama
18-24 jam, sperma akan memiliki kemampuan motilitas (Guyton dan Hall, 2007).
Kemampuan bergerak maju (motilitas progresif) yang diperoleh di epididimis, melibatkan
aktivasi suatu protein unik yang disebut CatSper, yang berada di bagian utama ekor sperma.
Protein ini tampaknya adalah suatu kanal Ca2+ yang memungkinkan influx Ca2+
generalisata c-AMP. Selain itu, spermatozoa mengekspresikan reseptor olfaktorius, dan
ovarium menghasilkan molekul mirip odoran. Bukti-bukti terkini mengisyaratkan bahwa

berbagai molekul ini dan reseptornya saling berinteraksi, yang memperkuat gerakan
spermatozoa ke arah ovarium (Ganong, 2008).
Semen

Cairan yang diejakulasikan pada saat orgasme, yakni semen (air mani),

mengandung sperma dan sekret vesikula seminalis, prostat, kelenjar Cowper, dan mungkin
kelenjar uretra (Tabel 2.3). Volume rerata per ejakulat adalah 2,5-3,5 mL setelah beberapa
hari tidak dikeluarkan. Volume semen dan hitung sperma menurun cepat bila ejakulasi
berkurang. Walaupun hanya diperlukan satu sperma untuk membuahi ovum, setiap milliliter
semen normalnya mengandung 100 juta sperma. Lima puluh persen pria dengan hitung
sperma 2040 juta/mL dan pada dasarnya, semua pria dengan nilai hitung yang kurang dari 20
juta/mL dianggap mandul. Adanya banyak spermatozoa yang immotil atau cacat juga
berkorelasi dengan infertilitas. Prostaglandin dalam semen, yang sebenarnya berasal dari
vesikula seminalis, kadarnya cukup, namun fungsi turunan asam lemak in di dalam semen
tidak diketahui (Ganong, 2008). Sperma manusia bergerak dengan kecepatan sekitar 3
mm/menit melintasi saluran genitalia wanita. Sperma mencapai tuba uterina 30-60 menit
setelah kopulasi. Pada beberapa spesies, kontraksi organ wanita mempermudah transportasi
sperma ke tuba uterina, namun tidak diketahui apakah kontraksi semacam itu penting pada
manusia (Ganong, 2008).

Anatomi dan Mekanisme Ereksi Penis

Secara fisiologis ereksi penis adalah hasil dari relaksasi otot polos meliputi dilatasi
arteri, relaksasi sinusoidal dan kompresi vena, ketika aliran darah ke penis melebihi aliran
darah dari penis (Lowe, 2005).
Penis memiliki jaringan erektil berupa dua corpus cavernosum (tersusun dari dua
silinder paralel jaringan erektil) dan satu corpus spongiosum (silinder tunggal terletak
dibagian ventral, mengelilingi urethra, sedangkan bagian ujungnya membentuk glans penis).
Jaringan erektil berupa jaringan berongga (sinusoid-sinusoid) yang tersusun dari sel-sel otot
polos. Kontraksi dan relaksasi sel-sel otot polos ini bersifat involunter atau tidak disadari.
Sinusoid dibatasi oleh tunica albuginea yaitu jaringan ikat yang kuat. Tunica albuginea pada
corpus cavernosum lebih tebal daripada di corpus spongiosum. Tunica albuginea ini
merupakan pembatas sebesar apa jaringan erektil penis bisa terisi darah dan membesar saat
ereksi.
Pada glans penis tidak terdapat tunica albuginea. Radix penis bulbospongiosum
diliputi oleh otot bulbokavernosus sedangkan corpus cavernosum diliputi oleh otot
Ischiocavernosus (El-Sakka and Lue, 2004; Kirby, 2005). Penis dipersarafi oleh sistem
persarafan otonom (parasimpatik S2-S4 dan simpatik T10-L2) serta persarafan somatik S2-S4
(sensoris dan motoris). Dari neuron di sumsum tulang belakang dan ganglia perifer, saraf
simpatis dan parasimpatis bergabung dan membentuk saraf cavernosa, yang memasuki corpus
cavernosum dan corpus spongiosum untuk mempengaruhi peristiwa neurovaskular saat ereksi
dan detumescence. Saraf somatik bertanggung jawab untuk sensasi dan kontraksi otot-otot
bulbocavernosus dan ischiocavernosus (Dean and Lue, 2005; Kirby, 2005).
Sumber perdarahan penis berasal dari arteri iliaka interna cabang dari arteri iliaka
komunis yang kemudian menjadi arteri pudenda interna yang selanjutnya menjadi arteri penis
komunis dan kemudian bercabang tiga menjadi arteri cavernosa (arteri penis profundus),
arteri dorsalis penis dan arteri bulbouretralis. Arteri cavernosa memasuki corpus cavernosum
dan membagi diri menjadi arteriol-arteriol helisin yang bentuknya seperti spiral bila penis
dalam keadaan flaksid. Dalam keadaan tersebut arteriol helisin pada corpora berkontraksi dan
menahan aliran darah arteri ke dalam rongga lakunar. Sebaliknya dalam keadaan ereksi,
arteriol helisin tersebut berelaksasi sehingga aliran darah arteri bertambah cepat dan mengisi
rongga-rongga lakunar. Keadaan relaksasi atau kontraksi dari otot-otot polos trabekel dan
arteriol menentukan penis dalam keadaan ereksi atau flaksid (Kirby, 2005).

Peran Vaskuler (Pembuluh Darah)


Ereksi sebenarnya sangat terkait dengan darah dan pembuluh darah. Tingkat ereksi
tergantung pada keseimbangan antara aliran darah arteri menuju penis dan aliran darah vena
keluar dari penis. Ketika aliran darah arteri rendah atau sedikit maka penis dalam kondisi
flaksid, sedangkan bila aliran arteri meningkat dan aliran darah vena keluar rendah, maka
terjadilah ereksi. Peran Otot Polos Otot polos terdapat pada dinding pembuluh darah dan
jaringan erektil. Apabila otot polos pembuluh darah berkontraksi, maka pembuluh darah
menyempit (vasokontriksi) yang menyebabkan aliran darah berkurang. Sebaliknya bila otot
polos pembuluh darah melebar (vasodilatasi) maka aliran darah akan bertambah. Begitu pula
dengan otot polos jaringan erektil. Bila kontriksi maka akan susah mengembang terisi darah
sehingga penis flaksid. Bila relaksasi, tahanan jaringan erektil berkurang sehingga mudah
terisi darah dan mengembang (ereksi). Otot polos ini bersifat tidak disadari, dan di bawah
pengaruh saraf otonom. Peran Saraf Ereksi adalah proses yang otonom atau tidak bisa
dikontrol karena melibatkan otot polos pembuluh darah dan jaringan erektil. Pada saat
kondisi flaksid, saraf otonom yang dominan adalah saraf simpatis. Hal ini menyebabkan
vasokonstriksi arteri dan kontraksi otot polos jaringan erektil (corpus cavernosum dan
spongiosa) akibatnya aliran ke penis akan rendah. Sebaliknya pada saat kondisi ereksi,
stimulasi parasimpatis dominan. Parasimpatis menyebabkan vasodilatasi arteri dan relaksasi
otot polos jaringan erektil sehingga aliran darah ke penis meningkat.
Secara ringkas, struktur diatas bertanggung jawab atas tiga jenis ereksi: 1. Ereksi
psikogenik diawali secara sentral sebagai respon terhadap rangsang audiovisual atau
imajinasi. Impuls dari otak memodulasi pusat ereksi di tulang belakang (T10-L2 dan S2-S4)
untuk mengaktifkan proses ereksi. 2. Ereksi reflexogenik terjadi akibat pacuan pada reseptor
sensoris pada penis, yang dengan interaksi spinal, menyebabkan aksi saraf somatis dan
parasimpatis. 3. Ereksi nokturnal sebagian besar terjadi selama rapid-eye-gerakan tidur
(REM). Mekanisme ini belum diketahui (EI-Sakka and Lue, 2004).
Pada corpus cavernosum ditemukan adanya neurotransmiter yang bukan adrenergik
dan bukan pula kolinergik (non-adrenergic non-cholinergic = NANC) yang ternyata adalah
Nitric Oxide (NO). NO (merupakan mediator neural) akan menyebabkan serangkaian
perubahan enzimatis yang menyebabkan relaksasi otot polos corpus cavernosum sehingga
terjadi proses ereksi (Taylor et al, 2008; Gacci et al, 2011).

Secara lebih rinci, Setelah rangsangan seksual, terjadi aktivitas serat parasimpatis
yang mensyarafi otot polos corpus cavernosum dan sel endotel sinusoidal melepaskan
asetilkolin, yang mengaktifkan produksi endothelial Nitric Oxide Synthase (eNOS), yang
kemudian mensintesis Nitric Oxide (NO). NO yang merupakan neurotransmiter
mengaktifkan

enzim

Guanylate

Cyclase

yang

akan

mengkonversikan

Guanosine

Triphosphate (GTP) menjadi Cyclic Guanosine Monophosphate (cGMP) sehingga kadar


cGMP meningkat.
Mekanisme vasodilator kedua melibatkan produksi Cyclic Adenosine Monophosphate
(cAMP) dari Adenosine Triphosphate (ATP) oleh Adenylate Cyclase (AC). Vasoactive
Intestinal Polypeptide (VIP) dan Prostaglandin E1 (PGE1) mengaktifkan AC. Baik cGMP
dan cAMP merangsang kalsium keluar (kadar kalsium intrasel menurun) dari otot polos
corpus cavernosum, sehingga terjadi relaksasi otot polos penis (corpus cavernosum) dan
pembuluh darah penis, sehingga aliran darah meningkat ke jaringan trabecular dan ruang
sinusoidal. Meningkatkan aliran darah penis, menyebabkan ereksi. Kompresi venula
subtunical mengurangi aliran vena dari corpus cavernosum dan memelihara tumescence.
NO dilepaskan bila ada rangsangan seksual. cGMP ini tidak terus menerus ada karena
selanjutnya akan dipecah oleh enzim Phosphodiesterase 5 (PDE5) yang akan mengakhiri /
menurunkan kadar cGMP sehingga ereksi akan berakhir (Traish et al, 2000; Lowe, 2005;
Kirby, 2005; Muneer et al, 2007; Taylor et al, 2008; Gacci et al, 2011).

Mekanisme ereksi

EJAKULASI
rangsang seks
penyemprotan kuat semen kedalam uretra dan keluar dari penis

refleks simpatis

Pengisian uretra oleh semen


Tdd 2 fase

plexus hipogastrik
FASE EMISI

kontraksi vas deferens & ampula

sperma keluar, bercampur mucus

Impuls saraf
FASE EKSPULSI
(+) serangkaian otot rangka di
pangkal penis

me tekanan di dalam penis

dari vesikula seminalis

semen di duktus ejakulatorius.

Memaksa semen keluar melalui


uretra ke eksterior

Serangkaian otot rangka di pangkal penis


Disertai oleh denyut ritmik involunter otot-otot panggul dan memuncaki intensitas respon
tubuh keseluruhan
(bernapas berat, kec jtg 180x/m, kontraksi otot generalisata, peningkatan emosi)

Berkaitan dengan rasa nikmat intens yang ditandai rasa lepas dan puas
(ORGASME)

FASE RESOLUSI
Impuls vasokontriktor

Memperlambat aliran darah ke dalam penis

Ereksi mereda

(+) relaksasi dalam


(tonus otot, CVS, pernapasan kembali normal)