Anda di halaman 1dari 23

TUGAS EKONOMI KESEHATAN

ANALISA BIAYA PRODUKSI, BEP DAN CRR PELAYANAN RAWAT


JALAN POLI GIGI DAN ALAT HAEMATOLOGI LABORATORIUM
DI YAYASAN KESEHATAN TELKOM SURABAYA

OLEH :
IDA ERNANI,DRA

NIM

: 101214453034

MIGIT S, DRG

NIM

: 101214453037

ROCHATI,SKM

NIM

: 101214453039

DIAN ISLAMI,DR

NIM

: 101214453046

TRI SUKMA SETIANI,DR

NIM

: 101214453047

PASCA SARJANA UNIVERSITAS AIRLANGGA


PROGRAM STUDI ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN
MINAT STUDI MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
SURABAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan

kata ekonomi.

Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata iaitu
oikos, yang berarti rumah tangga,dan nomos yang berarti peraturan,jadi
definisi Ekonomi adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam memenuhi
kebutuhan manusia yang tidak terbatas sementara jumlah sumber daya
yang ada sangat terbatas.
Dari pengertian itu maka sudah selayaknya kita mempu
menerapkan prinsip ekonomi dalam segala tindakan ekonomi yang akan
kita lakukan.Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai analisis
biaya dalam proses produksi yang merupakan bagian dari istilah ekonomi
yang sudah dijelaskan diatas,dan mengulas pentingnya analisis biaya
produksi pada proses produksi yang hendak dilakukan oleh produsen.
Setiap proses produksi akan melibatkan sumber daya dalam suatu proses
produksi seperti manusia, mesin, dan uang yang akan menghasilkan hasil
atau output yang menjadi hasil akhir dari proses produksi itu.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal haruslah dihitung dan di
analais biaya yang di keluarkan dalam melakukan proses produksi
tersebut,sehingga produsen dapat mengetahui dan memperkirakan
keuntungan yang akan ia dapatkan dari produk yang akan dijual dan untuk
membantu apakah produsen sudah melakukan proses produksi yang
memperhitungkan segala aspek biaya yang terkait dalam tindakan
ekonomi,dan apakah produsen sudah mengerti biaya yang akan atau telah
dikeluarkan sebanding dengan hasil yang akan kita dapat dari hasil
penjualan atau tidak, oleh karena itu haruslah kiranya dihitung dan di
pertimbangkan secara cermat dan sangat rinci, itulah yang manjadi alasan
dilakukannya kegiatan analisis terhadap pelayanan kesehatan Poli Gigi dan
Laboratorium Haematologi di Yayasan Telkom Surabaya. Diharapkan
dengan makalah ini dapat bermanfaat khususnya dalam perencanaan dan
evaluasi pembiayaan pelayanan kesehatan tersebut.
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep biaya produksi?
2. Bagaiaman bentuk klasifikasi biaya produksi?

3. Bagaimana cara penghitungan biaya produksi total?


4. Bagaiaman penghitungan biaya produksi rata-rata?
5. Bagaimana penghitungn BEP (Break Even Point) ?
6. Bagaimana penghitungan CRR (Cost Recovery Rate) ?
I.3 Tujuan
I.3.1 Tujuan Umum
Mempelajari aplikasi biaya produksi dalam jasa pelayanan kesehatan
I.3.2 Tujuan Khusus
1. Mempelajari konsep biaya produksi
2. Mempelajari bentuk klasifikasi biaya produksi
3. Mempelajari cara penghitungan biaya produksi total
4. Mempelajari penghitungan biaya produksi rata-rata
5. Mempelajari penghitungan BEP (Break Even Point)
6. Mempelajari penghitungan CRR (Cost Recovery Rate)

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Biaya Produksi


2.1.1 Pengertian Biaya
Untuk menghasilkan suatu produk (output) tertentu diperlukan
sejumlah input. Dari sudut pandang produsen, biaya adalah nilai dari
sejumlah input (faktor produksi) yang digunakan untuk menghasilkan
suatu produk (output).
Output atau produk bisa berupa jasa pelayanan atau bisa juga
berupa barang. Di sektor kesehatan misalnya Rumah Sakit dan Puskesmas,
produk yang dihasilkan berupa jasa pelayanan kesehatan. Untuk
menghasilkan pelayanan pengobatan di Rumah Sakit, diperlukan sejumlah
input (faktor produksi) yang antara lain berupa obat, alat kedokteran,
tenaga dokter, perawat, gedung dan sebagainya. Dengan demikian biaya
pelayanan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dapat dihitung dari nilai
(jumlah unit X harga) obat, alat kedokteran, tenaga dokter, perawat, listrik,
gedung dan sebagainya yang digunakan untuk menghasilkan pelayanan
kesehatan.
Biaya juga sering diartikan sebagai nilai dari suatu pengorbanan
untuk memperoleh suatu output tertentu jika dianalisis dari sudut pandang
konsumen. Pengorbanan itu bisa berupa uang, barang, tenaga, waktu
maupun kesempatan. Dalam analisis ekonomi nilai kesempatan untuk
memperoleh sesuatu yang hilang karena melakukan suatu kegiatan juga
dihitung sebagai biaya
(opportunity

cost).

yang

Apapun

disebut dengan biaya


wujud

pengorbanan

kesempatan

tersebut,

dalam

penghitungan biaya semuanya harus ditransformasikan ke dalam nilai


2.1.2

uang.
Pengertian Produksi
Menurut Ahyari (2002) produksi adalah suatu cara, metode
ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa dengan
menggunakan faktor produksi yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan
baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Menurut
Setiaji (2008), produksi adalah penciptaan atau penambahan faedah,

bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi sehingga lebih


bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia.
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa produksi
adalah kegiatan untuk menciptakan dan menambah kegunaan (Utility)
2.1.3

suatu barang dan jasa.


Pengertian Biaya Produksi
Biaya produksi merupakan sebagian keseluruhan faktor yang
dikorbankan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk hingga
produk tersebut sampai di tangan konsumen (Widjajanta, Widyaningsih,
2007). Jadi biaya produksi merupakan pengertian biaya yang dilihat dari
sudut pandang produsen, sehingga biaya produksi dapat diartikan sebagai
besarnya biaya atau pengorbanan yang harus dikeluarkan oleh produsen
untuk mendapatkan faktor produksi yang nantinya bisa digunakan untuk
menghasilkan output yang berupa jasa pelayanan ataupun berupa barang.

2.2

Klasifikasi Biaya
Klasifikasi

biaya

adalah

penggolongan

atau

proses

mengelompokkan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke


dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat
memberikan informasi yang lebih punya arti atau lebih penting.
2.2.1 Klasifikasi Biaya Menurut Hubungannya dengan Skala Produksi
1. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang dalam periode waktu tertentu
jumlahnya tetap, tidak bergantung pada jumlah pelayanan

yang

dihasilkan. Contohnya : nilai dari gedung rumah sakit yang digunakan


(biaya gedung yang digunakan tidak berubah baik ketika pelayanannya
meningkat maupun menurun), nilai dari peralatan kedokteran, nilai
tanah tempat berdirinya rumah sakit.
2. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada output
yang dihasilkan. Misalnya biaya bahan untuk menghasilkan suatu
produk. Semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin banyak
bahan yang digunakan. Tak heran jika biaya semakin besar.
3. Biaya semitetap (semifixed cost)

Biaya semitetap adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume


kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang kostan pada volume
produksi tertentu.
4. Biaya semi variabel (semivariable cost)
Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding
dengan perubahan volume kegiatan. Biaya ini mengandung unsur biaya
tetap dan unsur biaya variabel. Misalnya Biaya Tagihan Telepon, Biaya
Tagihan PLN (Listrik).
2.2.2 Jenis biaya berdasarkan fungsi dan aktivitas sumber daya
a. Biaya langsung (direct cost)
Biaya langsung adalah biaya yang dapat dihitung untuk tiap unit
output yang dihasilkan. Termasuk biaya langsung misalnya adalah
biaya tenaga kesehatan di Rumah Sakit.
b. Biaya tidak langsung (indirect cost)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan, tetapi tidak bisa
dihitung untuk tiap unit produk yang dihasilkan karena adanya unsurunsur biaya penggunaan fasilitas bersama. Biaya tidak langsung ini
disebut pula overhead cost. Contohnya biaya peralatan kantor
manajemen Rumah Sakit.
2.2.3 Jenis biaya berdasarkan pertanggungjawaban
a. Biaya Terkendali (controllable cost)
Adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang
pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Contoh : Biaya pemasangan iklan merupakan biaya terkendali bagi
manager Pemasaran.
b. Biaya Tak Terkendali (noncontrollable cost)
Adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan
tertentu berdasarkan wewenang yang dimiliki atau tidak dapat
dipengaruhi oleh seorang pimpinan dalam jangka waktu tertentu.
Contoh : Biaya penggunaan bahan merupakan biaya tidak terkendali
bagi Manager Pembelian
2.2.4 Jenis biaya yang digunakan dalam pengambilan keputusan
a. Avoidable cost
Biaya-biaya yang dapat dihindari sebelum terjadinya suatu keputusan.
b. Sunk cost
Biaya-biaya yang telah dikeluarkan/ diterima sebelum terjadinya suatu
keputusan.
c. Incremental cost

Biaya yang timbul akibat adanya pertambahan/pengurangan output.


d. Opportunity cost
Biaya alternatif yang ditimbulkan akibat dipilihnya suatu keputusan.
2.3

Penghitungan Total Cost / Biaya Total


Dalam menjalankan suatu proses produksi tentu dihasilkan produk
baik berupa barang atau pun jasa. Sesuai dengan rumus produksi yaitu
adanya input, proses, dan output. Barang atau jasa yang dihasilkan
merupakan hasil dari penggunaan input modal, tenaga kerja, dan bahan
yang selanjutnya diproses menjadi barang dan jasa. Perusahaan
mendapatkan input tersebut dari pasar pasar faktor produksi. Selanjutnya
tentu sebuah perusahaan akan menghitung berapa jumlah biaya total yang
timbul untuk memproduksi sejumlah barang.

2.3.1 Rumus Dalam Penghitungan Biaya Total


Biaya total adalah keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan
oleh suatu perusahaan. Biaya total berarti pula total pengeluaran terendah
yang diperlukan untuk memproduksi setiap tingkat output. Biaya total
akan meningkat ketika kuantitas dari barang yang diproduksi juga
meningkat. Dalam makalah ini dicontohkan tiga jenis penghitungan biaya
produksi yang berbeda klasifikasi namun hasil penghitungan
akhirnya tetap sama, adapun penghitungannya sebagai berikut :
1. Berdasarkan Skala Produksi.
TC = FC + VC
Keterangan : TC = Total cost
FC = Fixed cost
2. Berdasarkan Lama penggunaannya
TC = IC + OC + MC
Keterangan : TC = Total cost
IC = Investment cost
OC = Operasional cost
MC = Maintanance cost
3. Berdasarkan Fungsi Produksi
TC = IDC + DC
Keterangan : TC = Total cost
IDC = Indirect cost
DC = Direct cost
2.3.2 Penghitungan Satuan Biaya Rata-Rata
Biaya satuan adalah biaya yang dihitung untuk satu satuan produk
(pelayanan). Biaya satuan diperoleh dari biaya total (TC) dibagi jumlah

produk (Q) atau TC/Q. Dengan demikian dalam menghitung biaya satuan
harus ditetapkan terlebih dahulu besaran produk. Biaya satuan seringkali
disamakan dengan biaya rata-rata (average cost). Penetapan besaran
satuan produk itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Makin kecil satuan
produk/pelayanan akan makin rumit dalam menghitung biaya satuan.
Rumus biaya satuan :
Unit cost/Average cost

AC = AFC + AVC

Keterangan :
TC = Total Cost
VC = variable Cost
FC = Fixed Cost
Q = Quantity of Output
AC = Average cost
AFC = Average fixed cost
AVC = Average variable cost
Dengan melihat rumus biaya satuan (TC/Q) tersebut, maka jelas
tinggi rendahnya biaya satuan suatu produk tidak saja dipengaruhi oleh
besarnya biaya total tetapi juga dipengaruhi oleh besarnya produk atau
pelayanan.
Biaya satuan ada 2 macam, yaitu:
a. Biaya satuan actual/biaya tetap rata-rata/average fixed cost = AFC
Yaitu biaya tetap yang dikeluarkan unit produksi perusahaan untuk
menghasilkan satu output berdasarkan besaran produk perusahaan.
Nilai AFC hanya dipengaruhi oleh perubahan output karena jumlah
TFC sifatnya konstan.
AFC = TFC
Q
Kurva AFC merupakan sebuah garis lengkung yang mengarah ke
kanan bawah. Hal ini memang seharusnya demikian sebab kedua ujung
kurva AFC semakin lama semakin mendekati garis sumbu grafik tetapi
tidak pernah menyinggung apalagi memotong sumbu-sumbunya. Hal
ini karena di ujung kiri, pada tingkat output nol, nilai AF adalah tak
hingga (~). Sedangkan di ujung kanan, nilai AFC tidak mungkin sama
dengan nol, berapapun jumlah output yang dihasilkan.
Biaya Rerata

AFC

Grafik Kurva biaya tetap rata-rata


b. Biaya satuan normative/biaya variabel rata-rata/Average variable cost
= AVC
Yaitu biaya yang diperlukan untuk menghasilkan satu jenis produk
perusahaan menurut standar baku dengan melihat kapasitas dan
utilitasnya.
AVC = TVC
Q
Penetapan harga yang rasional mutlak memerlukan informasi tentang
biaya satuan. Dalam kenyataan tidak mudah menghitung biaya satuan,
antara lain karena produk perusahaan cenderung sangat banyak. Kurva
TC memiliki memiliki bentuk persis dengan kurva VC (hanya letaknya
saja yang berbeda), bentuk kurva biaya rata-rata (AC) itu pun juga
menyerupai bentuk kurva biaya variabel rata-rata (AVC). Kalau bentuk
kurva biaya variabel rata-rata menyerupai huruf U, bentuk kurva biaya
rata-rata itu pun juga menyerupai huruf U. Biaya rata-rata mula-mula
sekali turun dan sesudah dicapai suatu titik tertentu, lalu mulai naik.
Biaya Rerata
AVC
L

Grafik 0Kurva Biaya Variabel Rata-rataAFC


Q

Namun demikian, meskipun bentuk kurva biaya rata-rata (AC) ini


juga menyerupai huruf U tetapi ada perbedaan dengan kurva biaya
varibel rata-rata (AVC). Bedanya adalah bahwa kurva biaya rata-rata
(AC) itu turun dengan cepat, tetapi naik dengan perlahan-lahan.
Dengan kata lain, bagian kiri kurva itu lebih curam dibandingkan
bagian kanannya. Hal ini dapat terjadi karena adanya pengaruh dari
kurva biaya tetap rata-rata (AFC). Kita ketahui bahwa kurva biaya
tetap rata-rata mula-mulai turun dengan tajam, untuk kemudan makin
lama makin melandai. Bagian pertama kurva AFC yang curam itu

ketika bergabung dengan bagian kurva AVC yang juga turun


menghasilkan kurva biaya rata-rata yang curam.
Selanjutnya bagian kanan kurva biaya variabel rata-rata yang naik
ketika bergabung dengan bagian kanan kurva biaya tetap rata-rata yang
landai, lalu menghasilkan kurva biaya rata-rata yang sekalipun naiklandai. Itu sebabnya mengapa kurva biaya rata-rata mempunyai bentuk
yang sebelah kiri turun dengan cepat dan bagian kananya naik dengan
lebih lambat, dan itu pula sebabnya mengapa kurva biaya rata-rata
tidak terletak tepat di atas kurva biaya variabel rata-rata sebagaimana
kurva TC terletak tepat di atas kurva VC, melainkan antara keduanya
terpisahkan oleh jarak vertikal yang makin ke kanan makin
menyempit. Berkaitan dengan hal ini, setiap titik di sepanjang kurva
biaya rata-rata menyatakan besarnya biaya total yang harus dipikul
oleh setiap satuan output.
Biaya rata-rata ini paling rendah ketika kurva biaya rata-rata
mencapai titiknya yang terendah. Hal ini menerangkan bahwa pada
saat biaya rata-rata terendah itu output telah dihasilkan dengan cara
yang paling efisien, artinya setiap satuan output telah dihasilkan
dengan biaya yang serendah-rendahnya. Itulah sebabnya tingkat output
yang dihasilkan ketika biaya rata-rata adalah terendah atau minimum
seperti itu disebut sebagai tingkat output yang optimal.
Biaya satuan pada pelayanan kesehatan memiliki karakteristik,
antara lain sebagai berikut:
a Biaya yang dihitung tersebar di unit Biaya produksi dan unit
penunjang. Sehingga perlu metode distribusi biaya untuk
mengalokasikan biaya yg ada di unit penunjang ke unit
b

produksi
Output pelayanan kesehatan sangat beragam, baik unit

pelayanan maupun tindakannya.


Ada yg sifatnya ideal (kapasitas) dan aktual (apa adanya),
yang disebut unit cost normatif dan unit cost actual

2.4

Break Even Point (Titik Impas)

2.4.1 Pengertian Break Even Point (Titik Impas) menurut para ahli
a. Syarifuddin Alwi (1990)
Suatu keadaan perusahaan dimana dengan keadaan tersebut perusahaan
tidak mengalami kerugian juga perusahaan tidak mendapatkan laba
sehingga terjadi keseimbangan atau impas. hal ini bisa terjadi bila
perusahaan dalam pengoperasiannya menggunakan biaya tetap dan
volume penjualannya hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya
variable.
b. Bambang Riyanto (1995)
Volume penjualan di mana penghasilannya (revenue) tepat sama
besarnya dengan biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mendapatkan
keuntungan atau menderita kerugian.
c. Mulyadi (2001)
Keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita
rugi. Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah
pendapatan atau revenue (penghasilan) sama dengan jumlah biaya, atau
apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya
tetap saja.
d. Menurut Dwi Prastowo Darminto dan Rifka Julianty (2002) dalam
bukunya Analisa Laporan Keuangan :
Konsep dan Manfaat Titik impas adalah titik dimana total biaya sama
dengan total penghasilan.
e. Menurut Henry Simamora

(2002)

dalam

bukunya

Akuntansi

Manajemen,
Volume penjualan dimana jumlah pendapatan dan jumlah bebannya
sama, tidak terdapat laba maupun rugi.
f. Armila Krisna Warindrani, (2006) Break Even Point kondisi perusahaan
yang tidak memperoleh laba dan tidak mengalami kerugian, dengan
mengetahui Break Even Point dimana perusahaan akan meningkatkan
penjualan diatas break even point untuk mendapatkan laba dan
menghindarkan penjualan dibawah Break Even Point karena akan
menderita kerugian.adalah
g. Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008)
Posisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita
kerugian. BEP atau titik impas sangat penting bagi manajemen untuk

mengambil keputusan untuk menarik produk atau mengembangkan


produk.
h. Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009) dalam bukunya Akuntansi
Biaya Melalui Pendekatan Manajerial Titik impas
Suatu keadaan dimana perusahaan yang pendapatan dan penjualannya
sama dengan jumlah total biayanya atau besarnya kontribusi marjin sama
dengan total biaya tetap.
2.4.2 Manfaat Break Even Point
Menurut Soehardi Sigit, (2002), Analisis Break Even Point dapat
digunakan untuk membantu menetapkan sasaran dan tujuan perusahaan.
Analisis Break even secara umum dapat memberikan informasi kepada
pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya,
dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu.
Dalam analisis BEP terdapat manfaat bagi manajemen antara lain:
1) Membantu pengendalian melalui anggaran (budgetery control).
Membantu menunjukkan perubahan apabila ada yang diperlukan
untuk menjadikan biaya selaras dengan pendapatan.
2) Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan. Berlaku sebagai
sinyal

peringatan

untuk

menggugah

manajemen

terhadap

kemungkinan kesulitan dalam program penjualan. Jika penjualan


secara relatif tidak cukup tinggi dibandingkan dengan biasanya
seperti semestinya, kenyataan ini akan diperhatikan. Dengan
demikian akan tersedia cukup waktu guna mengevaluasi kembali
teknik penjualan.
3) Menganalisa dampak volume penjualan. Memberi jawaban atas
pertanyaan seperti:
a. Berapa banyak volume penjualan saat ini bisa berkurang
sebelum industri menderita rugi?
b. Berapa kenaikan laba bila ada kenaikan volume penjualan?
4) Menganalisis harga jual dan dampak perubahan biaya. Menunjukkan
pengaruh yang mungkin terjadi atas laba akibat perubahan harga jual
yang disertai oleh perubahan lain, sebagai contoh:
a. Perubahan apa yang dapat diharapkan dalam laba jika terjadi
perubahan

harga dengan asumsi

tetap/konstan?

semua

faktor

lainnya

b. Jika harga barang dikurangi apa kombinasi perubahan volume


dan biaya yang paling praktis untuk diberikan dan apa pengaruh
bersih kombinasi industri tersebut terhadap laba?
c. Demikian pula jika harga naik apa kombinasi perubahan dan
pengaruhnya terhadap laba yang layak untuk diharapkan?
5) Merundingkan upah. Membantu manajemen karena:
a. Menunjukkan dengan cepat kemungkinan pengaruh perubahan
usulan gaji terhadap laba (dianggap tidak ada perubahan
efisiensi karyawan).
b. Memberikan bantuan

dalam

menentukan

kemungkinan

penghematan efisiensi yang dapat melindungi posisi laba


industri.
6) Menganalisa bauran produk. Memungkinkan dilakukan pengujian
krisis atas bauran produk. Analisa impas untuk tiap jalur produk
merupakan bantuan yang berharga dalam menentukan produk mana
yang mungkin harus dihapuskan.
7) Menilai keputusan-keputusan kapitulasi dan ekspansi lanjutan
memberi sarana guna menilai terlebih dahulu usulan belanja barang
modal yang dapat mengubah struktur biaya industri
8) Menganalisa margin pengamanan sebagai cadangan

margin

pengaman dan cara untuk mempengaruhi melalui pengamanan.


Analisis break even dapat membantu pimpinan dalam mengambil
keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut:
a. Jumlah

penjualan

minimal

yang

harus

dipertahankan

agar

perusahaan tidak mengalami kerugian.


b. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan
tertentu.
c. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak
menderita rugi.
d. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan
volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.
2.4.3 Tujuan Break Even Point
a. Mencari tingkat aktivitas dimana pendapatan sama dengan biaya.
b. Menunjukan suatu sasaran volume penjualan minimal yang harus
diraih.
c. Memungkinkan perusahaan mengetahui apakah mereka beroperasi
dekat atau jauh dari titik impas.

2.4.4 Asumsi Dasar BEP


Dalam penggunaan teknik analisis titik impas digunakan beberapa asumsi
dasar sebagai berikut :
1. Tarif setiap jenis pelayanan diasumsikan konstan pada berbagai
tingkatan

volume

pemakaian.

Asumsi

ini

diperlukan

untuk

menggambarkan penerimaan dalam bentuk garis lurus.


2. Semua elemen biaya produksi dapat dikelompokkan kedalam
kelompok biaya tetap dan biaya variabel. Biaya variabel mempunyai
variabilitas terhadap output yang diproduksi bukan terhadap kegiatan
lain di luar produksi.
3. Harga faktor produksi (seperti upah pegawai, harga kapital, dll)
diasumsikan konstan pada berbagai tingkatan kegiatan produksi.
Asumsi ini diperlukan untuk menggambarkan biaya dalam bentuk
garis lurus.
4. Kapasitas yang dimiliki firma adalah tidak berubah, karena perubahan
kapasitas yang dimiliki rumah sakit dapat merubah pola hubungan
antara biaya penerimaan dan laba. Asumsi ini menunjukkan bahwa
analisis titik impas hanya kita gunakan dalam periode jangka pendek.
5. Tingkat efisiensi dari rumah sakit tidak berubah, karena program
efisiensi yang sangat berhasil ataupun sebaliknya tingkat pemborosan
yang luar biasa akann berpengaruh terhadap pola hubungan biaya
penerimaan dan laba.
6. Tingkat dan metode teknologi yang digunakan oleh rumah sakit tidak
berubah. Perubahan tingkat dan metode teknologi yang digunakan
rumah sakit dapat mempengaruhi pola hubungan antara biaya
penerimaan dan laba.
7. Apabila rumah sakit menyediakan bermacam-macam jenis pelayanan
(diversifikasi) maka komposisi jasa yang ditawarkan diasumsikan
tidak berubah. Perubahan komposisi ini akan berakibat berubahnya
persentase laba kontribusi.
2.4.5 Menentukan Break Even Point (BEP) / Titik Impas
1) Rumusan untuk menghitung BEP = titik impas dengan rumus
matematika
a) Atas dasar rupiah
b) Atas dasar unit

Keterangan:
FC
VC
P
S
BEP(Rp)

: Biaya tetap
: Biaya variabel per unit
: Harga jual per unit
: Penjualan
: Jumlah untuk produk yang dihasilkan impas dalam

BEP (Q)

rupiah
: Jumlah untuk produk yang dihasilkan impas dalam
unit

2) Analisis BEP dengan grafik


Q

P
(000)

TC

30
0

BEP

15
0

Grafik 1.2.Grafik BEP

VC

3) Metode Trial and Error

FC

Penghitungan Break Even Point dapat dilakukan dengan cara Trial


and Error atau cara
(000)
60 coba-coba, yaitu dengan Qmenghitung
keuntungan netto dari suatu volume produksi atau penjualan tertentu.
Apabila penghitungan tersebut menghasilkan keuntungan, maka
diambil volume penjualan yang lebih rendah. Apabila dengan
mengambil suatu volume penjualan tertentu perusahaan menderita
kerugian, maka kita akan mengambil volume penjualan yang lebih
besar. Demikian seterusnya sehingga dicapai volume penjualan
dimana penghasilan penjualan tepat sama dengan biaya total.
2.4.6 CRR (Cost Recovery Rate)

Cost Recovery Rate adalah nilai dalam persen yang menunjukkan


seberapa besar kemampuan rumah sakit menutup biayanya (Cost)
denganpenghasilan yang didapatkan retribusi pasien (revenue). Rumus
perhitungannya adalah :

Tujuan dari perhitungan CCR dapat digunakan sebagai indikator


kinerja keuangan rumah sakit serta mengidentifikasi keadaan untung atau
ruginya rumah sakit. Idealnya CRR di suatu organisasi adalah >1 atau >
100%, Jika CRR =1 atau 100% berarti organisasi tersebut belum
memperoleh keuntungan secara finansial, tidak ada selisih antara
pendapatan dengan pengeluaran (wulandari, 2003). Dalam Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2005 tentang pengelolaan
keuangan badan layanan umum Pasal 1, yang disebut BLU (Badan
Layanan Umum) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk
untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan
barang dan atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan
dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan
produktivitas. Persyaratan rumah sakit yang ingin menjadi BLU, antara
lain harus memiliki cost recovery rate atau anggaran yang bias diperoleh
dari pelayanan sebesar 60 % , rumah sakit harus memiliki rencana bisnis
dan neraca yang siap di audit serta memiliki peraturan atau hospital by
law.

BAB III
APLIKASI PENGHITUNGAN BIAYA PRODUKSI, BEP DAN CRR PADA
PELAYANAN HAEMATOLOGI LABORATORIUM DI YAYASAN
KESEHATAN TELKOM SURABAYA

3.1 Analisa Biaya Produksi, BEP dan CRR pada Poli Gigi Yayasan
Kesehatan Telkom Surabaya
1. Identifikasi biaya per bulan di poli gigi Yayasan Kesehatan Telkom
Surabaya adalah sebagai berikut :
No.

Unsur Biaya

Biaya (Rp)

FC/VC

DC/IDC

IC/OC

1.

Nilai Investasi Tanah

19.666.667

FC

IDC

IC

2.

Depresiasi Nilai Gedung

20.000.000

FC

DC

IC

3.

Depresiasi Alat Medis

15.000.000

FC

DC

IC

4.

Depresiasi Alat Non Medis

5.500.000

FC

DC

IC

5.

Biaya Pemeliharaan Gedung

250.000

VC

DC

OC

6.

Biaya Pemeliharaan Alat Medis

500.000

VC

DC

OC

7.

Gaji Dokter Gigi (1 orang)

4.500.000

FC

DC

OC

8.

2.500.000

FC

DC

OC

900.000

FC

IDC

OC

10.

Gaji Perawat Gigi (1 orang)


Gaji Tenaga Kebersihan (1
orang)
Biaya Listrik

500.000

VC

DC

OC

11.

Biaya Air

250.000

VC

IDC

OC

12.

Biaya Telepon

200.000

VC

IDC

OC

13.

Biaya Bahan Habis Pakai

1.000.000

VC

IDC

OC

14.

Biaya Pencetakan Kartu Pasien

150.000

VC

DC

OC

9.

Total Cost (Biaya Produksi Total)

70.916.667

2. Penghitungan Unit Cost


UCn = TFC/Qcap + TVC/Qac
= Rp 68.816.667,00 / 900+ Rp 2.100.000,00 / 630
= Rp 76.463,00 + Rp 3.334,00

= Rp 79.797,00
Keterangan :
UCn
= Unit Cost Normatif
TFC
= Total Fixed Cost
Qcap
= Jumlah target pasien per bulan, diperoleh dari pasien supply
TVC
Qac

maksimal
= Total Varible Cost
= Jumlah pasien actual, diperoleh dari data rata-rata pasien per

bulan
Jadi unit cost normatif Poli Gigi Yayasan Telkom Surabaya adalah Rp.
79.797,00
Penghitungan Unit Cost Aktual:
UCac = TC/Qac
= Rp 70.916.667,00/630
= Rp 112.566,00
Keterangan :
UCac
= Unit Cost Aktual
TC
= Total Cost
Qac = Jumlah pasien aktual per bulan, diperoleh dari jumlah ratarata pasien per bulan
3. Penghitungan BEP
QBEP(u)
= TFC / (P-AVC)
= Rp. 68.816.667,00 / (Rp 100.000,00 - Rp. 3.334,00)
= Rp. 68.816.667,00/ Rp 96.666,00
= 711 pasien
Keterangan :
QBEP(u)
TFC
P
AVC
QBEP(sales)

: Tingkat output dimana keadaan titik impas terjadi


: Biaya tetap total
: Tarif per unit, diasumsikan rata-rata Rp 100.000,00
: Biaya variabel per unit
= TFC / [1-(AVC/P)]
= Rp. 68.816.667,00 / [1 - (Rp. 3.334,00 / Rp 100.000,00)]
= Rp. 68.816.667,00 / 0,96666

= Rp 71.190.147,00

Keterangan :
QBEP(sales) : Tingkat penjualan dimana keadaan titik impas terjadi
TFC
: Biaya tetap total
P
: Tarif per unit
AVC
: Biaya variabel per unit
Jadi, poli gigi mengalami keadaan titik impas pada pasien ke 711 atau
tingkat penjualan sebesar Rp. 71.190.147,00.

4. Penghitungan CRR
CRR pada poli gigi Yayasan Telkom dapat dihitung dengan cara:
CRR Total
= TR / TC x 100%
= 630 x Rp. 100.000,00 / Rp 70.916.667,00 x 100%
= Rp 63.000.000,00 / Rp 70.916.667,00 x 100%
= 88,9 %
Keterangan :
CRR Total

: Cost Recovery Rate

TR

: Total Revenue = Qac x P

TC

: Total Cost

Jadi tingkat kemampuan pengembalian biaya poli gigi adalah sebesar 88,9%

3.2 Analisa Biaya Produksi, BEP dan CRR pada Pelayanan Haematologi
Laboratorium di Yayasan Kesehatan Telkom Surabaya
1. Identifikasi biaya per tahun di Pelayanan Haematologi Laboratorium di
Yayasan Kesehatan Telkom Surabaya adalah sebagai berikut :
No.

Unsur Biaya

Biaya (Rp)

FC/VC

DC/IDC

IC/OC

1.

Nilai Investasi Tanah

236.000.000

FC

IDC

IC

2.

Depresiasi Nilai Gedung

200.000.000

FC

DC

IC

3.

Depresiasi Alat Medis

150.000.000

FC

DC

IC

4.

Depresiasi Alat Non Medis

180.000.000

FC

DC

IC

5.

Biaya Pemeliharaan Gedung

9.000.000

FC

DC

OC

6.

Biaya Pemeliharaan Alat Medis

12.000.000

FC

DC

OC

7.

Gaji analis medis (2 orang)

66.000.000

FC

DC

OC

8.

21.600.000

FC

DC

OC

10.800.000

FC

IDC

OC

10.

Gaji administrator (1 orang)


Gaji Tenaga Kebersihan (1
orang)
Biaya Listrik

9.000.000

VC

DC

OC

11.

Biaya Air

4.200.000

VC

IDC

OC

12.

Biaya Telepon

2.400.000

VC

IDC

OC

13.

Biaya Bahan Habis Pakai

12.000.000

VC

DC

OC

14.

Biaya Pencetakan Kartu Pasien

1.800.000

VC

DC

OC

9.

Total Cost (Biaya Produksi Total)

914.800.000

2. Penghitungan Unit Cost


UCn = TFC/Qcap + TVC/Qac
= Rp 885.400.000,00 / 3600 + Rp 29.400.000,00 / 3240
= Rp 245.945,00 + Rp 9.075,00
= Rp 255.020,00
Keterangan :
UCn
= Unit Cost Normatif
TFC
= Total Fixed Cost
Qcap
= Jumlah target pasien per tahun, misal target yayasan adalah 3600
TVC
Qac

pasien setahun
= Total Varible Cost
= Jumlah pasien actual, diasumsikan 90% dari target = 3240 pasien

Penghitungan Unit Cost Aktual:


UCac
= TC/Qac
= Rp 914.800.000,00 /3240
= Rp 282.345,00
Keterangan :
UCac
= Unit Cost Aktual
TC
= Total Cost
Qac
= Asumsi jumlah pasien aktual dalam setahun (90% dari target)
Jadi, di Pelayanan Haematologi Laboratorium di Yayasan Kesehatan
Telkom Surabaya memiliki unit cost normatif = Rp. 255.020,00 dan unit
cost actual = Rp 282.345,00

3.

Penghitungan BEP
QBEP(u)
= TFC / (P-AVC)
= Rp. 885.400.000,00 / (Rp 250.000,00 - Rp. 9.075,00)
= Rp. 885.400.000,00 / Rp 240.925,00
= 3676 pasien

Keterangan :
QBEP(u)
TFC
P
AVC
QBEP(sales)

: Tingkat output dimana keadaan titik impas terjadi


: Biaya tetap total
: Tarif per unit, diasumsikan Rp 250.000,00
: Biaya variabel per unit
= TFC / [1-(AVC/P)]
= Rp. 885.400.000,00 / [1 - (Rp 9.075,00 / Rp 250.000,00)]
= Rp. 885.400.000,00 / 0,96364
= Rp 918.807.854,00

Keterangan :
QBEP(sales) : Tingkat penjualan dimana keadaan titik impas terjadi
TFC
: Biaya tetap total
P
: Tarif per unit
AVC
: Biaya variabel per unit
Jadi, Pelayanan Haematologi Laboratorium di Yayasan Kesehatan Telkom
Surabaya mengalami keadaan titik impas pada pelayanan pasien ke 3676
atau tingkat penjualan sebesar Rp 918.807.854,00.

4. Penghitungan CRR
CRR pada poli gigi Yayasan Telkom dapat dihitung dengan cara:
CRR Total = TR / TC x 100%
= 3240 x Rp. 250.000,00 / Rp 914.800.000,00 x 100%
= Rp 810.000.000,00 / Rp 914.800.000,00 x 100%
= 88,54 %
Keterangan :

CRR Total

: Cost Recovery Rate

TR

: Total Revenue = Qac x P

TC

: Total Cost

Jadi tingkat kemampuan pengembalian biaya poli gigi adalah sebesar


88,54%