Anda di halaman 1dari 14

DIRECT ESTHETIC RESTORATIVE

BLOK IMTKG III

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK


SEMESTER IV
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
Kelompok 1

Melinda Dwi Astari

2012.07.0.0006

Ardin Christian

2012.07.0.0009

Dita Yuarita

2012.07.0.0014

Tiffany Augusta Posuma

2012.07.0.0015

Cindy Indah Permatasari

2012.07.0.0056

Safina Majdina

2012.07.0.0066

Nevy Triditha Putri

2012.07.0.0069

Diah Intan Apriliani

2012.07.0.0081

Aldo Alveno Dayasoeharso

2012.07.0.0082

Safira Junieta Ananda

2012.07.0.0088

Helmy Yusrizal

2012.07.0.0091

Dinda Davila Kartika

2012.07.0.0093

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR
Ucapan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menyertai
serta membimbing penulis selama proses pembuatan makalah, sehingga makalah yang
berjudul Direct Veneer dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah
ini membahas mengenai direct veneer khususnya direct esthetic restorative.
Berbagai pihak telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.

Sarianoferni, drg., M.Kes. selaku fasilitator.

2. Orangtua, teman-teman, serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, yang
telah mendukung penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Tanpa bantuan dari mereka penulis tidak mungkin dapat menyelesaikan karya tulis ini
dengan baik.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi semua orang pada umumnya, dan
bagi mahasiswa fakultas kedokteran gigi Universitas Hang Tuah pada khususnya. Di samping
itu, penulis sangat menghargai masukan serta kritik yang bersifat membangun demi kebaikan
penulisan selanjutnya.

Surabaya,

Mei 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Dalam pemilihan bahan selalu dilakukan pertimbangan seperti indikasi, sifat
dan karakteristik bahan, cara dan proses manipulasi, biaya, dan riwayat pasien
terhadap bahan. Direct Veneer adalah sebuah bahan pelapis yang sewarna dengan gigi
yang diaplikasikan pada sebagian atau seluruh permukaan gigi yang mengalami
kerusakan atau pewarnaan intrinsic. Dalam kedokteran gigi pemilihan bahan pelapis

1.2.

1.3

ini sering dijumpai dalam kasus saat praktek.


Batasan Topik
1.2.1 Veneer
1.2.1.1 Definisi
1.2.1.2 Klasifikasi (Direct & Indirect)
1.2.2 Direct esthetic restorative
1.2.2.1 Definisi
1.2.2.2 Macam bahan
1.2.2.3 Syarat-syarat bahan
1.2.3 Syarat-syarat bahan komposit
1.2.3.1 Komposisi
1.2.3.2 Kegunaan
1.2.3.3 Manipulasi
1.2.3.4 Karakteristik
1.2.4 Alasan pemilihan bahan untuk kasus

Peta Konsep

Perubahan warna gigi anterior


Esthetic buruk
Direct esthetic restorative
Bahan
Komposit

GIC

Kompomer

Hybrid ionomer

Pertimbangan pemilihan bahan untuk direct veneer


Komposit Mikrofiler

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Veneer
2.1.1 Definisi
Veneer adalah sebuah bahan pelapis yang sewarna dengan gigi yang
diaplikasikan pada sebagian atau seluruh permukaan gigi yang mengalami kerusakan
atau pewarnaan intrinsic.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan veneer dapat dari komposit atau
poselen. Veneer porselen mempunyai kelebihan dibandingkan veneer resin komposit
Antara lain estetik yang baik warna yang stabil dan daya tahan terhadap abrasi yang
tinggi.
2.1.2 Klasifikasi direct dan indirect
Direct Veneer
- Veneer langsung sebagian (Direct Partial Veneer)
Pewarnaan atau kerusakan kecil atau yang terlokalisir yang dikelilingi dengan
gingiva yang sehat adalah kondisi ideal untuk teknik ini. Kerusakan ini bisa
direstorasi dalam satu kali kunjungan dengan komposit light cured.
Sebelum pembuatan veneer dilakukan pre eliminir seperti pembersihan,
pemilihan bentuk, isolasi dengan cotton roll atau menggunakan rubber dam.
- Veneer langsung penuh (Direct Full Veneer)

Gigi anterior yang mengalami hypoplasia disertai diastema Antara gigi insisif
sentral dapat direstorasi dengan teknik yang menggunakan komposit light cured
mokrofill dalam satu kali kunjungan, tetapi untuk mengurangi trauma bagi pasien
maupun operator lebih baik dikoreksi dalam dua kali kunjungan.
Kedua insisif sentral dipreparasi dengan kedalaman 0,5-0,7 mm, akhiran
preparasi bentuk chamfer, preparasi direct veneer umumnya berakhir pada bagian
labial sampai kontak proksimal gigi sebelahnya kecuali terdapat diastema. Untuk
mengoreksi diastema preparasi diperluas sampai permukaan mesial dan berakhir
pada mesio-lingual line angles.
Insisal edge tidak dipreparasi karena akan melindungi dari daya kunyah yang
besar. Veneer sebagian diindikasikan untuk permukaan fasial gigi yang mengalami
pewarnaan. Kerusakan yang terlokalisir, sedangkan veneer penuh untuk restorasi
yang memerlukan pelapisan permukaan fasial secara luas. Beberapa faktor penting
terutama usia pasien, oklusi, kesehatan jaringan sekitarnya, letak dan posisi gigi
dan kebersihan rongga mulut harus dievaluasi sebelum pembuatan veneer penuh.
Jika veneer telah terpasang harus diperhatikan bentuk tepi anatomis khususnya
daerah gingival untuk menjaga kesehatan jaringan. Jika hanya melibatkan
beberapa gigi saja atau jika permukaan fasial tidak seluruhnya mengalami
kerusakan dapat langsung diaplikasikan veneer komposit dalam satu kali
kunjungan.
Indirect Veneer
Pembuatan indirect veneer, karena banyak dokter gigi yang merasa dalam
melakukan preparasi, aplikasi, dan finishing pada prosedur direct veneer terlalu
susah, melelahkan dan menghabiskan waktu. Pasien juga tidak nyaman selama
perawatan
- Digunakan bahan komposit, feldspathic porcelain dan keramik ( pressed or cast
ceramic)
- Warna dan kontur veneer lebih mudah dikontrol dan tidak kehabisan waktu
karena dibuat di laboratorium
- Veneer teknik indirect ditempelkan di email dengan menggunakan etsa asam dan
bonding dengan semen resin light cured.
Keuntungan dibandingkan teknik direct :
1. Indirect tidak terlalu sensitif dibandingkan direct, keahlian dan ketepatan
dalam membuat veneer lebih bisa di capai,

2. Jika ada 2 gigi yang harus dibuat veneer secara bersamaan --> teknik
indirect lebih melihatkan hasil yang maksimal,
3. Lebih tahan lama.
2.2.

Direct Estetic Restorative


2.2.1 Definisi
Bahan restorasi yang secara langsung dapat diaplikasikan pada suatu kavitas
pada rongga mulut dengan memperhatikan faktor estetik dan karakteristik bahan
Antara lain meliputi tahan gesekan, pelepasan fluoride, kekuatan, dan mudah
manipulasinya. Terlebih mengingat kebutuhan akan material restorasi yang terlihat
seperti jaringan gigi asli yang dapat ditempatkan secara langsung pada kavitas yang
diperbaiki dan lebih baik dalam bentuk pasta.
2.2.2 Macam Bahan
-

Glass Ionomers
Komposisi :
1. Powder :
Dihasilkan dgn cara pembaruan quartz dan alumina
flux/crytolite/aluminium fosfat pd suhu 1000-3000C,
-

dalam suatu

Kaca silikat ini hanya dapat bereaksi dgn asam keras spt asam fosfor.

2. Liquid :
- Larutan polyacrylic acid/itaconic acid copolymer asam itaconic dalam air,
- Tartaric acid : accelerator,
- Formula aslinya tidur dari larutan asam akrilik/copolymer asam itaconic dalam 4050%, distabilisasi dengan 5% asam tartar untuk mencegah pengentalan dan
pembentukan gel sewaktu penyimpanan.
Sifat :
- fisik: kelarutan asam rendah, adhesi kurang baik, dan pada enamel dan dentin
melekat.
- biologis: bio compatible, anti karies dan selalu melepas flour.
- kimia: mudah bereaksi shg mudah dimodifikasi.
Klasifikasi :
1. Tipe 1 sebagai luting agent yang merupakan bahan perekat, bersifat kental,

2. Tipe 2 sebagai restorasi, biasanya bersifat lebih kenyal,


3. Tipe 3 sebagai basis kavitas untuk melindungi pulpa.
-

Kompomer
Komposisi :
-

Terdiri dari modifikasi monomer yaitu polyacid seperti : fluoride releasing silitate
glasses dan tanpa air . Beberapa compomer telah dimodifikasi dengan monomer
yang dilengkapi fluoride release
Perbandingan cairan = 42% - 67% , powder = 0,8-5
Dikemas dalam single paste formulations compules dan syringes

Sifat :
-

Compomer melepaskan fluoride sama seperti glass dan hybrid ionomer


Jumlah pelepasan fluoride rendah dari glass ionomer dan hybrid ionomer
Pada kompomer juga tidak terjadi recharge dari obat-obatan yang mengandung
fluoride atau sikat gigi dengan obat kumur yang mengandung fluoride sebanyak
glass dan hybrid ionomer (Powers,John;Wataha.2008)

Manipulasi :
-

Manipulasi kompomer dengan cara single paste in unit dose compules


Karena kompomer termasuk resin sehingga membutuhkan bonding agent (bahan
pengikat) untuk dapat mengikat atau melekat dengan struktur gigi
(Powers,John;Wataha.2008)

Kegunaan :
-

Digunakan untuk lesi cervical


Digunakan untuk kelas II ,V primary teeth
Digunakan untuk kelas I pada anak anak
Digunaka untuk kelas II sandwich technique
Pasien dengan resiko rendah karies

- Hybrid Ionomer

Komposisi :
Sama dengan GIC, liquid mengandung monomer, polyacid dan air
Setting dengan basis asam dan light-curred serta self-curred menempatkan dentin
bonding agent sebelum memasukkan hybrid ionomer
Indikasi :
Lesi servikal
Kelas II dan V pada gigi susu
Kelas I pada anak-anak
Kelas II sandwich technique
Pasien dengan risiko karies tinggi

Manipulasi :
Hybrid ionomer dikemas dalam bentuk cairan/encapsulated
Manipulasi sama dengan GIC
Tidak sama dengan GIC, hybrid ionomer setting segera ketika light-curing dan dapat
dilakukan finishing segera
Karateristik :
Terikat dengan gigi tanpa bonding agent
Gigi dietsa dengan asam poliakrilik
Melepas fluoride > compomer tetapi < GIC
Compressive strength < GIC dan < composite
Wear resistant > GIC dan < composite
Aesthetic > GIC lebih jelek dari composite dan compomer
Reaksi setting :
Pengerasan terjadi karena acid-base dan light-cured serta reaksi self-cured resin
polimerisasi
2.2.3 Syarat-syarat bahan
Pertimbangan biologis
- Tidak mengiritasi pulpa,
- Toksisitas sistemik rendah,
- Bersifat kariostatik,
- Sebaiknya air tidak larut atau erosi dalam saliva atau dalam cairan yang biasa
dimasukkan dalam rongga mulut. Juga penting untuk tidak mengabsorbsi banyak

air.
Sifat mekanis
Harus kuat menerima beban pengunyahan,
Modulus elastisitas kekuatan sebaiknya menyamai kekuatan dentin dan enamel,
Tidak mudah abrasi karena pasta gigi dan konstitusi makanan (terutama restorasi

gigi belakang).
Sifat thermis
Koefisien ekspansi thermis sebaiknya sama dengan koefisien ekspansi thermis

enamel dan dentin,


Sebaiknya mempunyai difasitas thermis yang rendah.
Sifat estetik yang baik (terutama untuk tambahan gigi depan)
Restorasi dapat menyamai gigi asli (warna, translusensi, dan indeks refraksi),
Tidak terjadi staining atau perubahan warna dalam jangka waktu lama.
Sebaiknya terjadi adhesi Antara bahan tambal dengan enamel dan dentin
Perubahan dimensi selama seting sebaiknya sangat kecil
Bahan mudah dipoles permukaan licin
Bahan sebaiknya cukup radiopak sehingga dapat dilakukan
Deteksi adanya karies sekunder,
Identifikasi adanya overhanging pada suatu restorasi,
Deteksi adanya tampalan kavitat yang tidak penuh akibat udara yang
terperangkap.
Pertimbangan radiology

2.3.

Bahan tambal sebaiknya mempunyai waktu kerja yang cukup dan terjadi

perubahan viskositas (kekentalan) bahan.


Syarat-syarat bahan komposit
2.3.1 Komposisi
Resin Matriks
- Merupakan bahan dasar utama komposit,
- Dimetacrylate atau urethane dimethacrylate digomer,
- Untuk mengontrol konsistensi pasta komposit,
- Dikarakteristik oleh ikatan ganda karbon yang beraksi mengubah ke polimer.
Bahan Pengisi/filler
- Bahan pengisi halus : quartz, litium aluminium silicate, barium, strontium, zinc,
- Bahan pengisi sangat halus : colloidal silica farticles,
- Filter halus yang mengandung barium, strontium, zinc yang akan menghasilkan
-

foto radiopaque,
Mengurangi kontraksi polimerisasi,
Meningkatkan sifat mekanis komposit,
Mengurangi penyerapan air, kelunakan, dan pewarnaan.
Coupling Agent
Berfungsi untuk membentuk ikatan yang baik Antara resin matriks dengan bahan
pengisi atau filler,
Bahan yang paling banyak digunakan adalah vinyl silane.
Bahan-bahan tambahan lain
- Pigmen : pigmen inorganic ditambahkan dalam jumlah kecil sehingga warna
komposit sama dengan struktur gigi. Composite disediakan dalam 10 atau lebih
warna yang berkisar pada warna-warna manusia,
- Inisiator : Self cured adalah organic peroxide atau diketone dan Light cured

adalah camphoroquinone dengan amin alifatik,


- Accelator : organic amina,
- Inhibitor : hydroquinone.
2.3.2 Kegunaan
Tipe

Penggunaan

Komposit Konvensional

Klas I, II, III, IV, V untuk pasien dengan


risiko karies rendah.

Komposit Microfilled

Klas III dan V.

Komposit Nanofilled

Klas I, II, III, IV, V.

Komposit Packable

Klas I, II, mesial, distal, oklusal, MOD


(Mesial Distal Oklusal).

Komposit Flowable

Cervical, pediatric restoration, restorasi


dengan stress bearing yang rendah.

Laboratory Composite

Klas II, 3 unit bridge dengan fiber


reinforcement.

2.3.3 Manipulasi
a. Etching dan bonding
Untuk membentuk ikatan antara komposit dan struktur gigi maka gigi harus dietsa
( etsa enamel dan dentin dari preparasi kavitas dengan asam phosporic acid 30-50%
selama 30 detik ) dengan etchant.
Dengan menggunakan bonding agent , enamel dan dentin pada kavitas preparasi
dietsa dengan asam selama 30 detik . dan asam tersebut kemudian dibilas dengan air
dan permukaannya dikeringkan dengan udara . Permukaan gigi yang sudah dietsa
tampak kusam.
Pada saat yang sama , bonding agent mempenetrasi permukaan enamel dan dentin
yang teretsa dan menyebabkan retensi mikromekanik pada restorasi.
hindari kontaminasi (darah dan saliva).
Berikan tekanan ketika setting marginal adaptation.
b. Single paste komposit ( light cured )
Menggunakan 1 pasta komposit . Syringe dibuat dari plastik opaque untuk
melindungi bahan dari eksposur cahaya dan menyediakan shelf life yang cukup.
c. Two paste composit ( dual cured composite / self cured )
1 Syringe mengandung initiator peroksida / katalis , syringe lain mengandung
accelerator amine . Campurkan dalam 20 30 detik . Gunakan spatula kayu / plastik ,
tetapi hindari spatula dari logam karena inorganic filler bersifat abrasif dan logam
dapat terabrasi dan menyebabkan perubahan warna komposit . Waktu kerja 1 1
menit . Waktu setting 4-5 menit setelah pengadukan.
d. Proteksi pulpa
Sebelum komposit dimasukkan ke dalam kavitas , pulpa harus dilindungi dengan
liner ( Ca(OH)2 ) atau GIC , hybrid ionomer , dan compomer base.
e. Insersi
Insersi bahan yang sudah dicampur ke kavitas dengan beberapa metode
menggunakan plastik instrumen , ujung plastik dari syringe.
f. Finishing dan polishing
Menggunakan instrumen abrasive impregnated rubber rotary / rubber cup
dengan berbagai pasta polishing . finishing diselesaikan dengan water soluble
lubricant.

Makro

Mikro

Nano

Hybrid

Ukuran

8-12 m

0,04 0,4 m

1 5 nm

0,6 - 1 m

Kekuatan

kuat

Lebih kuat dari


makro

Paling kuat

Lebih kuat dari


mikro

Kekuatan tarik

Kuat

Sedang

Paling kuat

Lebih kuat

Ekspansi termal

kuat

Paling kuat

Paling lemah

Lebih kuat

Penyerapan air

Banyak

Paling banyak

Banyak

banyak

Tumpatan karies

Indikasi II & IV

Indikasi III & V

Indikasi I,
II,III,IV,V, VI

Indikasi I,
II,III,IV,V,VI

Kontra = -

Kontra = I, II, IV, Kontra = VI

Kontra = -

2.3.4 Karakteristik
a. Polimerasi shringkage
Polimerasi redah sehingga menimbulkan celah akibat adanya shrinkage.
b. Konduktivitas Termal
Konduktivitas termal lebih rendah daripada restorasi metal/logam dan
kecocokan mendekati enamel dan dentin .
c. Ekspansi termal
Ekspansi termal lebih bagus daripada struktur gigi. Mempunyai perubahan
dimensi lebih bagus dengan adanya peruahan dalam temperature RM daripada
struktur gigi.
d. Absorbsi
Absorbs air rendah.
e. Radiopacity
Radiopacity tinggi. Kebanyakan composite bersifat radiopak (mikrohibrid).
Lebih radiopak jika di bandingkan dengan dentin. Lebih radiolusen dibandingkan
dengan enamel.
f. Kekuatan konmpresif dan fleksural
Kekuatan pada umumnya meningkat seimbang dengan volume fraksi dari
filter karena restorasi komposit kebanyakan mungkin gagal menegang/menekuk
daya rentang dan kekuatan flexural harus di perhatikan.
g. Modulus elastis
Didominasi oleh jumlah filler + peningkatan secara seimbang dengan volume
fraksi filler. Kandungan filler yang sedikit dari hasil komposit mikrofilled yang
dihasilkan elastic moduli - lebih tinggi komposit mikrohybrid filled.

Kegagalan restorasi servical kelas V sangat tinggi dari pada komposit mikrohybrid
ketika dibandingkan komposit mikrofilled. Modulus yang rendah dari komposit
mikrofilled mungkin dapat mengurangi stress pada ikatan dari restorasi dengan
dentin.
h. Kekerasan dan pemakaian
Kandungan filler yang lebih tinggi pada komposit mikrohybrid berguna untuk
member resistensi lebih tinggi pada penetrasi nonrecorerable dan pemakaian
abrasif.
i. Kekuatan ikatan
Dengan kekuatan ikatan 20 Npa bertujuan untuk mengurangi celah akibat
shringkage.
j. Pemakaian
Estetiknya bagus dan kekuatan oklusal rendah. Perubahan warna minimal.
Adaptasi marginal bagus. Kerusakan akibat karies minimal. Kekurangannya
komposit akan kekuningan kontur pecah pada restorasi komposit karena adanya
kombinasi pemakaian abrasif dari pengunyahan, sikat gigi dan pemakaian erosive
dari degradasi komposit di lingkungan oral. (Powers,john;wataha. 2008)
2.4.

Alasan pemilihan bahan untuk kasus

Bahan yang digunakan pada kasus adalah Komposit nanofiller karena merupakan
bahan restorasi universal yang di aktifkan oleh visible light yang dirancang untuk restorasi
gigi anterior dan posterior.
1. Memiliki sifat kekuatan dan ketahanan hasil poles yang sangat baik
dikembangkan dengan konsep nanotechnology, yang biasanya di gunakan untuk
memberi ukuran suatu produck dimensi kompenen kritisnya adalah sekita 0.1 100 nanometer,
2. Karena bersifat universal, komposit bisa digunakan untuk gigi anterior maupun
posterior,
3. Lebih ringan, lebih kuat, lebih murah, dan lebih tepat,
4. Pada nanofiller terdapat gabungan antara nanopartikel dan nanocluster sehingga
mengurangi jumlah ruang intersititial antara partikel filler sehingga dapat
meningkatkan sifat fisis dan hasil poles yang lebih baik dibandingkan dengan
tempat lain,
5. Dalam mukosa, hanya nanopartikel saja yang terkelupas sementara permukaan
nano cluster masih rata, sehingga ketahanan polesnya sangat baik,
6. Sistem resin dari komposit ini merupakan hasil dari modigikasi dari beberapa
resin untuk mendapatkan sifat fisik konposit yang baik. dalam nanl TEGDMA
dikurangi dan menambahkan campiran UDMA dan Bis-Gma sehingga penyusutan
lebih sedikit dan komposit menjadi lebih halus,
7. Komposit nano yang dikembangkan dengan menggunak tekni nanotekhnology l,
memiliki hasil poles yang baik seperti pads mikro, dan memiliki kekuatan dan
tingkat keausan yang rendah seperti pada hybrid .

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Sebelum melakukan tindakan, diperlukan pertimbangan bahan yang akan
digunakan. Pertimbangan tersebut adalah indikasi,sifat dan karakteristik bahan, cara
dan proses manipulasi, biaya, dan riwayat pasien terhadap bahan. Pada kasus,
diperlukan restorasi menggunakan direct veneer karena pada kasus terjadi perubahan
warna pada gigi. Untuk veneer pada kasus menggunakan bahan komposit microfilled
atau nanofilled karena bahan ini dapat dipoles dengan baik sehingga menyerupai
enamel yang sesungguhnya dan hasil poles dapat bertahan untuk jangka waktu yang
cukup lama.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anusavice KJ, 2004. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi, alih bahasa : Johan
Arief Budiman dan Susi Purwoko, editor edisi bahasa indonesia, Lilian Juwono, edisi ke 10,
Jakarta: EGC

2. Arifin, Dudi, 2006. Indikasi dan cara aplikasi berbagai tipe resin komposit yang beredar di
pasaran, Jurnal kedokteran gigi, volume 18, edisi khusus, UNPAD Press,

3. Craig RB; Obrien WJ; Power IM, 2000. Dental Material Properties And Manipulation . 6 th
Ed., Cv. Mosby Co.

4. Craig Rb, 2000. Restorative Dental Material, Mosby Co.


5. Fejerskov O dan Kidd E, 2008. Dental Caries. The Disease and Its Clinical
Management, 2nd edition. Oxford : Blackwell Munksgaard Ltd.
6. Graham J.Mount dan W.R.Hume 2005. Preservation and Restoration of Tooth
Structure, 2nd Edition. Knowledge Books and Software
7. Obrien WJ, 2002. Dental Materials and their Selection, Third edition, Quintessence books
8. Powers IM; Wataha J, 2008. Dental materials properties and manipulation, ninth edition,
Mosby Co.

9. Powers John 2006; Craigs Restorative Dental Material, Twelfth edition, Mosby Inc,
10. Gracia Adela, Composit resin, A review of the materials and clinical indication, available at:
http://scielo.isciii.es/pdf/medicorpa/v11n2/en_23.pdf

11. Rina permatasari, Penutupan diastema dengan menggunakan komposit nanofiller. Indonesian
Journal of Dentistry 2008; 15 (3): 239-246

12. Adenan

Aprillia,

2011,

Seleksi

kasus

vneer

porcelain

available

at

;http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2011/08/seleksi_kasus_veneer_porselen.pdfFK
G UNPAD