Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR DASAR ILMU TANAH

JURUSAN ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah memiliki beberapa sifat fisik, salah satunya adalah tekstur tanah. Tekstur
tanah berkaitan dengan halus atau kasarnya tanah tersebut. Tekstur merupakan
ukuran relatif partikel tanah yang mengacu pada kehalusan atau kekasaran tanah.
Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Teristimewa
tekstur merupakan perbandingan relatif pasir, debu dan liat atau kelompok partikel
dengan ukuran lebih kecil dari kerikil (diameternya kurang dari 2 milimeter). Pada
beberapa tanah, kerikil, batu dan batuan induk dari lapisan-lapisan tanah yang ada
juga mempengaruhi tekstur dan mempengaruhi penggunaan tanah. Ukuran relatif
partikel tanah dinyatakan dalam istilah tekstur, yang mengacu pada kehalusan atau
kekasaran tanah. Lebih khasnya, tekstur adalah perbandingan relatif antara fraksi
pasir, debu dan tanah liat (lempung). Laju dan berapa jauh berbagai reaksi fisika
dan kimia penting dalam pertumbuhan tanaman diatur oleh tekstur karena tekstur
ini menentukan jumlah permukaan tempat terjadinya reaksi. Oleh karena itu,
tekstur pula menunjukkan perbandingan antara fraksi pasir, debu, dan liat.
Perbandingan tersebutlah yang menyebabkan kekasaran atau kehalusan suatu
tekstur tanah.
Untuk keperluan pemilihan ada 12 kelas tekstur tanah. Dan pembagian itu
kemudian disederhanakan menjadi 7 kelas yang terdiri dari pasir, lempung kasar,
lempung halus, debu kasar, debu halus, liat debu dan liat sangat halus. Tekstur
merupakan sifat yang sangat penting karna berpengaruh pada sifat sifat kimia,
fisik dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelas

yaitu tanah bertekstur kasar dan tanah bertekstur halus. Berdasarkan uraian
tersebut, maka perlu dilakukan praktikum analisis tekstur tanah untuk mengetahui
perbandingan partikel tanah dalam hubungannya dengan penentuan kelas tekstur
tanah.
1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan dari analisa tekstur tanah yaitu untuk mengetahui perbandingan antara
fraksi pasir, debu dan liat. Kegunaannya yaitu sebagai bahan informasi dalam
proses perbandingan antara materi kuliah dan praktikum.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tekstur Tanah
Tekstur merupakan perbandingan partikel-partikel tanah. Dimana partikel-partikel
tanah ini terdiri dari sand (pasir), silt (debu), clay (liat). Tekstur tanah juga satu
sifat fisik tanah yang secara praktis yang dapat dipakai sebagai alat evaluasi atau
jugging (pertimbangan) dalam suatu potensi penggunaan tanah. Tanah terdiri dari
butir-butir tanah berbagai ukuran. Bagian tanah yang berukuran lebih dari 2 mm
sampai lebih kecil dari pedon disebut fragmen batuan (rock fragment) atau bahan
kasar (kerikil sampai batu).Bahan-bahan yanah yang lebih halus (< 2mm) disebut
fraksi tanah halus (fine earth fraction) (Hardjowigeno.2009).
Tekstur tanah menunjukkan perbandingan kasar-halusnya suatu tanah,
yaitu perbandingan pasir, liat, debu serta pertikel-partikel yang ukurannya lebih
kecil daripada kerikil. Partikel-partikel tersebut dapat berupa bahan-bahan induk
yang belum terurai sempurna (Tan, 1991).
Tekstur tanah merupakan perbandingan kandungan partikel-partikel tanah
primer yaitu debu, liat dan pasir dalam satu masa tanah. Partikel tanah itu
mempunyai ukuran serta bentuk yang berbeda-beda yang dapat digolongkan ke
dalam tiga fraksi seperti yang disebutkan diatas. Ada yang berdiameter besar
sehingga mudah untuk dilihat dengan mata telanjang tetapi ada pula yang
sedemikian halusnya seperti koloidal sehingga tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang (Rahmat, 2009).

Pengelompokan tanah terdiri dari pasir, debu, liat. Pasir memiliki ciri
terasa kasar jika dipegang, berbutir, tidak lengket, tidak bisa dibentuk bola atau
gulungan pengalirkan air (porous/permeable). Debu/Endapan memiliki ciri terasa
tidak kasar, masih terasa berbutir, agak melekat, dapat dibentuk bola atau tegak.
Liat memiliki ciri terasa berat, halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan
baik, mudah digulung. (Kemas, 2008).
Beberapa ciri tambahan, dari pasir bahwa luas permukaan kecil, peranan
dalam mengatur sifat kimia tanah kecil, ukuran besar ruang pori tanah (banyak),
Memperlancar gerakan udara dan air. Debu memiliki ciri bahwa luas permukaan
lebih besar dari pasir, Partikel debu terasa licin seperti tepung & kurang melekat.
Sedangkan, liat memiliki ciri bahwa dengan luas permukaan paling besar, Jumlah
liat, menentukan kapasitas memegang air tanah, Mengabsorbsi unsur hara dlm
tanah (Tan, 1991).
Menurut USDA, tekstur tanah dibagi menjadi 12 kelas, yaitu liat, liat
berpasir, lempung berliat, liat berdebu, lempung liat berpasir, lempung liat
berdebu, lempung berpasir, lempung, lempung berdebu, debu, pasir, dan pasir
berlempung (Hakim, 1986).
Sifat dari tekstur tanah tersebut, yaitu tanah pasir, sifatnya seperti rasa
kasar jelas, tidak membentuk bola dan gulungan serta tidak melekat. Pasir
berlumpur, sifatnya, seperti rasa kasar sangat jelas, membentuk bola yang mudah
sekali hancur serta sedikit sekali melekat. Lempung berpasir sifatnya, seperti rasa
kasar agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah hancur serta melekat.

Lempung berdebu sifatnya, seperti rasa licin, membentuk bola teguh, membentuk
pita, lekat. Lempung sifatnya, seperti rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk
bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta melekat.
Debu sifatnya, seperti rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit
digulung dengan permukaan mengkilat serta agak melekat. Lempung berliat
sifatnya, seperti rasa agak kasar, membentuk bola teguh (kering), membentuk
gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekatnya sedang. Lempung
liat berpasir sifatnya, seperti rasa kasar agak jelas, membentuk bola teguh
(kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekat.
Lempung liat berdebu sifatnya, seperti rasa jelas licin, membentuk bola teguh,
gulungan, gulungan mengkilat serta melekat. Liat berpasir sifatnya, seperti rasa
licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah di
gulung serta melekat sekali. Liat berdebu sifatnya, seperti rasa agak licin,
membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung serta
melekat. Liat sifatnya, seperti rasa berat membentuk bola baik serta melekat
sekali. Liat berat sifatnya, sama seperti rasa dan sifat tanah liat, tetapi rasa berat
sekali. (Saifuddin,1998).

2.2 Pengaruh tekstur tanah terhadap produktivitas tanaman


Hubungan Tekstur Tanah dengan Daya Menahan Air dan Ketersediaan Hara.
Tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yasng lebih besar sehingga
kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur
halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar. Tanah
bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit
menyerap (menahan) air dan unsur hara (Madjid, 2009).
Tanah yang bertekstur lempung atau liat mempunyai luas permukaan yang
besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara sangat
tinggi. Tekstur tanah ringan yaitu tanah yang didominasi fraksi pasiran lebih
mudah diolah dibandingkan dengan tekstur berat yang didominasi fraksi lempung
(Hakim, 1986).
Apabila dirasai, partikel pasir di jari terasa keras dan tajam. Debu kering
terasa seperti talk atau bedak, apabila lembab terasa agak licin seperti sabun.
Sedangkan lempung apabila kering terasa menepung dan dalam keadaan basah
melekat di jari dan liat. Tanah cukup mengandung debu dan lempung untuk
membuat tanah bersifat kohesi dan dapat dibentuk bola yang mudah retak.
Sebagian besar terdiri dari pasir, tetapi ada cukup lempung utuk menimbulkan
konsistensi agak liat. Dalam keadaan lembab setelah penambahan air bersifat
kohesi dan meninggalkan selaput tanah. Oleh karena itu, entisol digolongkan pada
pasir geluhan. (Foth,1994).

Tanah berkonsistensi liat dan lekat apabila dalam keadaan lembab, fraksi
pasir dapat dirasakan dominan merajai. Tekstur tanah sangat mempengaruhi sifat
fisik tanah seperti daya serap atau daya simpan air, permeabilitas aerasi, drainase,
plasitas dan kelekatan (Kemas, 2008).
Pengaruh struktur tanah dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman
terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah pada umumnya menghasilkan
laju pertumbuhan tanaman dan produksi per satuan waktu yang lebih tinggi
dibandingkan dengan struktur tanah yang padat. Jumlah dan panjang akar
tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah rendah umumnya lebih banyak
dibandingkan dengan akar pada tanah yang berstruktur ringan lebih cepat per
satuan waktu dibandingkan pada akar tanaman pada tanah kompak sebagai akibat
mudahnya intersepsi akar pada setiap pori-pori tanah yang tersedia banyak pada
tanah remah. Selain itu, akar tanaman memiliki kesempatan untuk bernafas secara
maksimal pada tanah yang berpori dibandingkan pada tanah padat. Tanaman yang
tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti berlempung tinggi sulit
mengambangkan akarnya karena sulit bagi akar untuk menyebar akibatnya
rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan turut mengalami kesulitan untuk
menembus struktur tanah sehingga perakaran tersumbat (Agrostologi, 2010).

III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Pengamatan analisis tekstur ini dilaksanakan pada hari selasa 18 Oktober 2013
pukul 15.20 WITA sampai selesai dan dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan
KesuburanTanah, jurusan ilmu tanah, universitas hasanuddin.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam analisis tektur tersebut, yaitu timbangan ohaus, botol
tekstur, saringan, cawan, oven, mesin pengocok, stopwatch, hydrometer dan
thermometer.
Adapun bahan yang digunakan, yaitu tanah yang sudah dikering udarakan dan
dihaluskan, 10 ml calgon, air aquades, kantong plastic dan karet gelang, serta
tissu.
3.3. Prosedur Kerja
1. timbang 20 gram tanah yang telah dikering udarakan, butir-butir tanah ini
berukuran kurang dari 2 mm.
2. masukkan ke dalam erlenmayer atau botol tekstur dan tambahkan 10 ml
calgon 0,05% dan air secukupnya.
3. Tutup dengan plastic Kemudian, kocok dengan mesin pengocok selama 1-2
jam.
4. Tuangkan secara kualitatif semua isinya ke dalam selinder sedimentasi 500 ml
yang diatasnya dipasangi saringan dengan diameter lubang sebesar 0,005 dan
bersihkan botol tekstur dengan bantuan botol semprot.

5. Semprot dengan spayer sambil diaduk-aduk semua suspense yang masih


tinggal pada saringan sehingga semua partikel debu dan liat telah turun (air
saringan telah jernih).
6. Pasir yang tertinggal dipindahkan ke dalam cawan dengan pertolongan botol
semprot, kemudian masukkan dalam oven bersuhu 105o C selama 2 x 24 jam,
selanjutnya masukkan dalam desikator dan timbang hingga berat pasir
diketahui (catat dengan C gram).
7. Cukupkan larutan suspensi dalam selinder sedimentasi dengan air destilasi
hingga 500 ml.
8. Angakat selinder sedimentasi, sumbat baik-baik dengan karet lalu kocok
dengan memasukkan pengocok ke dalam selinder sedimentasi lalu aduk naik
turun selama 1 menit.
9. Dengan cepat tuangkan kira-kira 3 tetes amyl alchohol kepermukaan suspense
untuk menghilangkan gangguan buih yang mungkin timbul.
10. Setelah 15 detik, masukkan hydrometer ke dalam suspensi dengan hati-hati
agar suspensi tidak banyak terganggu.
11. Setelah 40 detik, baca dan catat pembacaan hydrometer pertama (H 1). Dengan
hati-hati keluarkan hydrometer dari suspensi. Selanjutnya, masukkan
termometer, ukur suhunya, dan catat sebagai suhi suspense (t1).
12. Dengan hati hati keluarkan hydrometer dari suspense.
13. Setelah 8 jam, masukkan hydrometer dan catat pembacaan hydrometer kedua
(H2), dan suhu suspense (t2).

14. Hitung berat debu dan liat dengan menggunakan parsamaan dibawah ini ;
Berat debu dan liat

Berat liat

H 1 0,3 t1 19,8

0,5............(a)
2

Berat debu

H 2 0,3 t 2 19,8

.....................(b)
2

berat (debu + liat) -berat liat(a + b)

15. Hitunglah persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan :


% pasir

C
100%
ac

% debu :

% liat

(a - b)
ac

100%
b
ac

100%

16. masukkan nilai yang didapat ke dalam segitiga tekstur.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai
berikut :
Tabel 1. hasil pengamatan analisis tekstur

Lapisan

Presentase

Kelas tekstur

Pasir
(%)

Debu (%)

Liat (%)

44%

31%

25%

Lempung

II

64%

4%

32%

Lempung Berpasir

Sumber : data primer 2013


4.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan tekstur pada tanah lapisan pertama diperoleh tekstur tanah
Lempung, dengan rincian pasir 44 %, debu 31 % dan liat 25 %. Sedangkan pada
lapisan kedua diperoleh lempung berpasir, dengan rincian pasir 64 %, debu 4 %,
dan liat 32 %. Hal ini disebabkan karena tanah pada lapisan pertama agak basah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim, dkk (1986) yang menyatakan tanah liat
tanah berliat akan menyimpan lebih banyak air.

Tekstur tanah memiliki hubungan dengan kesuburan tanah, karena kita


harus menyesuaikan antara tekstur tanah dan tanaman yang akan ditanaminya.
Apabila tanaman tidak cocok dengan jenis tanah, maka tanaman susah untuk
tumbuh dengan subur. Hal ini sesuai dengan (Hardjowigeno, 2009) bahwa tekstur
tanah juga bisa mempengaruhi kesuburan tanaman.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat disumpulkan bahwa :
1. Tekstur tanah pada lapisan pertama adalah lempung berliat, dengan persentase
pasir 25,5 %, debu 45,1 %, dan liat 29,4 %.
2. Faktor faktor yang dapat mempengaruhi tekstur tanah pada tiap lapisan tanah
adalah Iklim, suhu, tingkat porositas, dan proses pelapukan.
5.2 Saran

Tanah yang bertekstur lempung berliat sangat cocok ditanami tanaman


holtikultura, karena tanah ini banyak menyimpan air.

DAFTAR PUSTAKA
Agroastrologi, 2010. Tekstur tanah. http://www.iel.ipb.ac.id/sac/hibah.htm.
Foth, Hendry D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Edisi keenam. Erlangga
Jakarta.
Hakim, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas lampung. Lampung
Hardjowigero, 2009. Ilmu Tanah. PT. Meddiyatama Sarana
Perkasa. Jakarta .
Kemas Ali Hanafiah. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo
Persada
Jakarta.
Madjid, Abdul, 2099. Definisi Tanah dan Profil Tanah. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah. Blogspot : http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2008/02/definisitanah-fungsi-dan-profil-tanah.html.
Rahmat.2008. Tekstur Tanah. Rahmat Kusnadi :

http://mastegar.blogspot.com/2009/08/tekstur-tanah.html
Saifuddin.1998. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Jakarta
Tan, K. H. 1991. Principles of Soil Chemistry ( Dasar-Dasar Kimia
Tanah).
Gadjah
Mada
University
Press.
Yogyakarta.

LAMPIRAN
Lapisan I :
Dik :

H1

:7

H2 : 1

t1

: 29 oC

t2 :28 oC

: 1,5 gram

Berat debu dan liat :

H 1 0,3 t1 19,8

0,5
2

7 0,3 29 19,8

0,5
2

7 0,3(9,2)

0,5
2

7 2,76

0,5
2

9,76
2 0,5

4,88 0,5

4,38

Berat liat

Berat debu

% pasir

H 2 0,3 t 2 19,8

1 0,3 28 19,8

1 0,3(8,2)

1 2,46

3,46
2

1,73

Berat (debu + liat ) berat liat

4,38 1,73

2,65

C
100%
ac
1,5

: 4,38 1,5 100%


1,5

: 5,88 100%
: 25,5 %

% debu

(a - b)
ac

(4,38 - 1,73)
100%
4,38 1,5

100%

2,65

: 5,88 100%
: 45,1 %
% liat

b
ac
1,73

100%

: 4,38 1,5
1,73

: 5,88 100%
: 29,4 %

100%

Lapisan I
Pasir

: 25,5 %

Debu

: 45,1 %

Liat

: 29,4 %

Dari segitiga tekstur diatas maka didapat bahwa lapisan 1 merupakan lempung
berliat.