Anda di halaman 1dari 10

A.

Definisi
1. Preeklamsi merupakan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin, dan selama nifas,
yang terdiri atas trias gejala yaitu hipertensi, proteinuria, dan edema, kadang-kadang
disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan
vascular atau hipertensi sebelumnya.
2. Preeklampsia ( toksemia gravidarum ) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan
proteinuria ( protein dalam air kemih) atau edema ( penimbunan cairan), yang terjadi
pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan ( Nanda, nicnoc.2012 )
3. Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi
setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah yang
normal. Preeklampsia merupakan suatu penyakit vasospastik , yang melibatkan banyak
sistem dan ditandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi, dan proteinuria ( Bobak,2004)
4. Preeklamsi adalah komplikasi serius trimester kedua-ketiga,dengan gejala
klinis,seperti;edema hipertensi,proteinuria,kejang sampai koma dengan umur kehamilan
diatas 20 minggu ,dan dapat terjadi antepartum-intrapartum-pascapartus (Manuaba,2001)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa preeklampsia adalah tekanan darah
tinggi pada masa kehamilan yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
B. Etiologi
Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Teori yang terkenal sebagai penyebab
preeklamsia adalah teori iskemia plasenta. Akan tetapi, teori ini belum dapat menerangkan
semua hal yang berkaitan dengan preeklamsia. Teori yang dapat diterima adalah teori yang
dapat menerangkan hal-hal berikut
1. Mengapa frekuensimenjadi tinggi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan
mola hidatidosa.
2. Mengapa frekuensi bertambah seiring dengan tuanya kehamilan, umumnya pada triwulan
III
3. mengapa terjadi perbaikan keadaan penyakit, jika terjadi kematian janin dan kandungan.
4. Mengapa frekuensi lebih rendah pada kehamilan berikutnya.
5. Penyebab timbulnya hipertensi, proteinuria, edema dan konvulsi sampai koma.
Dengan demikian, jelaslah bahwa bukan hanya satu factor, melainkan banyak factor yang
menyebabkan preeklamsi dan eklamsia.
Factor-faktor yang menyebabkan terjadinya preeklamsi dan eklamsia adalah:

1. Jumlah primigravida terutama primigravida muda.


2. Distensi rahim yang berlebihan, seperti hidramnion, hamil ganda, mola hidatidosa.
3. Penyakit yang menyertai kehamilan, seperti diabetes mellitus(DM), kegemukan
4. Jumlah umur ibu di atas 35 tahun
5. Preeklamsia berkisar antara 3%-5% dari kehamian yang dirawat
C. Patofisiologi
1. Pada preeklamsia, terjadi spasme pada pembuluh darahdisertai dengan retensi garam dan
air
2. Pada biopsi ginjal, ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus
3. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui
oleh satu sel darah merah. Dengan demikian, jika semua arteriola dalam tubuh
mengalami spasme, tekanan darah naik, dalam usaha mengatasi kenaikan tekanan perifer
agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.
4. Kenaikan berat badan dan edema disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam
ruang interstitial, belum diketahui sebabnya, mungkin karena reteni air dan garam
5. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada
glomerulus
Terjadinya spasme pembuluh darah arteriol menuju organ penting dalam tubuh dapat
menimbulkan gangguan sebagai berikut.
1. Gangguan metabolism jaringan
a. Terjadi metabolism anaerobic lemak dan protein
b. Pembakaran yang tidak sempurna dapat menyebabkan pembentukan badan keton dan
asidosis
2. Gangguan peredaran darah dapat menimbulkan:
a. Nekrosis (kematian jaringan)
b. Perdarahan
c. Edema jaringan
3. Mengecilnya aliran darah menuju sirkulasi retroplasenter menimbulkan gangguan
pertukaran nutrisi, CO2 dan O2 yang menyebabkan asfiksia sampai kematian janin dalam
rahim
Perubahan pada organ
1. Otak
a. Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia jaringan otak,
perdarahan, dan nekrosis
b. Menimbulkan nyeri kepala yang hebat
2. Plasenta dan rahim
a. Spasme arteriol mendadak menyebabkan asfiksia berat sampai kematian jaringan.
b. Spasme yang berlangsung lama akan mengganggu pertumbuhan janin

c. Terjadinya peningkatan tonus otot rahim dan kepekaannya terhadap rangsangan


sehingga terjadi partus prematurus
3. Ginjal
a. Spasme pembuluh darah menyebabkan aliran darahh ke ginjal menurun sehingga
filtrasi glomerulus berkurang
b. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50% dari normal sehingga dalam keadaan
lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria
c. Penyerapan air dan garam tubulus tetap, terjadi retensi garam dan air
d. Edema pada tungkai dan tangan, paru-paru dan organ yang lain
4. Paru
a. Dapat terjadi bronkopneumonia sampai abses
b. Menimbulkan sesak nafas sampai sianosis
c. Kematian pada preeklamsia-eklamsia dapat disenbabkan oleh edema paru yang
menimbulkan dekompensasi kordis
5. Mata
a. Terjadi spasme arteriol dan edema retina
b. Pada eklamsia, dapat terjadi ablasio retina atau lepasnya plasenta. Hal ini karena
edema intraocular merupakan salah satu indikasi terminasi kehamilan
c. Gejala lain meliputi skotoma, diplopia, dan ambliopia yang disebabkan oleh adanya
perubahan peredaran darah pada pusat penglihatan di korteks cerebri atau di dalam
retina.
6. Hati
a. Perdarahan yang tidak teratur
b. Terjadi nekrosis, thrombosis pada lobus hati
c. Rasa nyeri di epigastrium karena perdarahan subkapsular
7. Jantung
a. Perubahan degenerasi lemak dan edema
b. Perdarahan subendokardial
c. Menimbulkan dekompensasi korditis sampai terhentinya fungsi jantung
8. Pembuluh darah
a. Permeabilitasnya terhadap protein makin tinggi sehingga terjadi vasasi protein ke
jaringan
b. Protein ekstravaskuler menarik air dan garam menimbulkan edema
c. Hemokonsentrasi darah yang menyebabkan gangguan fungsi metabolism tubuh dan
thrombosis
9. Keseimbangan cairan dan elektrolit
a. Terjadi perubahan pada metabolism air, elektrolit, kristaloid, dan protein serum
sehingga terjadi gangguan keseimbangan elektrolit
b. Gula darah, kadar natrium bikarbonat, dan ph darah dalam batas normal

c. Pada preeklamsia berat dan eklamsia, kadar gula darah naik sementara, asam laktat
dan asam organic lainnya naiksehingga cadangan alkali turun. Keadaan ini
disebabkan oleh kejang
d. Setelah konvulsi selesai, zat-zat organic di oksidasi dan dilepaskan natrium, lalu
bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk natrium bikarnonat. Dengan demikian,
cadangan alkali dapat kembali pulih normal
D. Manifestasi Klinis
1. Pertambahan berat badan yang berlebihan
2. Edema
3. Hipertensi
4. Proteinuria
5. Gejala subjektif meliputi:
a. Sakit kepala terutama pada daerah frontalis
b. Rasa nyeri pada epigastrium
c. Gangguan mata, penglihatan menjadi kabur
d. Terdapat mual sampai muntah
e. Gangguan pernafasan sampai sianosis
f. Terjadi gangguan kesadaran
E. Klasifikasi
1. Preeklamsi ringan
a. Tekanan darah sistolik 140 mmHg atau kenaikan 30 mmHg dengan interval
pemeriksaan 6 jam
b. Tekana darah diastolic 90 mmHg atau kenaikan 15 mmHg dengan interval
pemeriksaan 6 jam
c. Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam satu minggu
d. Proteinuria 0,3 gram atau lebih dengan kualitatif plus 1-2 pada urine keteter atau
urine alirn tengah
2. Preeklamsi berat
Ibu hamil dapat digolongkan ke dalam preeklamasia berat jika ditemukan salah satu
gejala atau tanda berikut:
a.
b.
c.
d.

Tekanan darah 160/110 mmHg


Oliguria urine kurang dari 400 cc/24 jam
Proteinuria lebih dari 3gram/liter
Keluhan subjektif, meliputi:
1) Nyeri epigastrium
2) Gangguan penglihatan
3) Nyeri kepala
4) Edema paru dan sianosis
5) Gangguan kesadaran
e. Pemeriksaan

1) Kadar enzim hati meningkat disertai ikterus


2) Perdarahan pada retina
3) trombosit kurang dari 100.000/mm
Peningkatan gejala dan tanda preeklamasia berat member petunjuk akan terjadi eklamasia
yang mempunyai prognosis buruk dengan angka kematian maternal dan janin yang tinggi.

II. Konsep Dasar Askep Preeklampsia


A. Pengkajian
Data yang dikaji pada ibu dengan preeklampsia adalah :
1. Data subyektif :
a. Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun
b. Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, edema, pusing, nyeri
c.

epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur


Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial,

hipertensi kronik, DM
d. Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta
riwayat kehamilan dengan preeklampsia atau eklampsia sebelumnya
e. Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun
selingan
f. Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan,
oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya
2. Data Obyektif :
a. Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
b. Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
c. Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
d. Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika
refleks + )
e. Pemeriksaan penunjang ;
1) Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan
interval 6 jam
2) Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya
meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar
hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid
3)
4)
5)
6)

biasanya > 7 mg/100 ml


Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak
USG ; untuk mengetahui keadaan janin
NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin

B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi
organ ( vasospasme dan peningkatan tekanan darah )
2. Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan
pada plasenta

3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan


pembukaan jalan lahir
4. Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif
terhadap proses persalina
C. Rencana Keperawatan
1. Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi
organ (vasospasme dan peningkatan tekanan darah).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi kejang pada ibu
Kriteria Hasil :
a. Kesadaran : compos mentis, GCS : 15 ( 4-5-6 )
b. Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah : 100-120/70-80 mmHg Suhu : 36-37 C
Nadi : 60-80 x/mnt RR : 16-20 x/mnt
Intervensi :
1) Monitor tekanan darah tiap 4 jam
R/. Tekanan diastole > 110 mmHg dan sistole 160 atau lebih merupkan
indikasi dari PIH
2) Catat tingkat kesadaran pasien
R/. Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah otak
3) Kaji adanya tanda-tanda eklampsia ( hiperaktif, reflek patella dalam,
penurunan nadi,dan respirasi, nyeri epigastrium dan oliguria )
R/. Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada otak, ginjal,
jantung dan paru yang mendahului status kejang
4) Monitor adanya tanda-tanda dan gejala persalinan atau adanya kontraksi
uterus
R/. Kejang akan meningkatkan kepekaan uterus yang akan memungkinkan
terjadinya persalinan
5) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti hipertensi dan SM
R/. Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk mencegah
terjadinya kejang.
2. Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan
pada plasenta
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi foetal
distress pada janin
Kriteria Hasil :
a. DJJ ( + ) : 12-12-12
b. Hasil NST :
c. Hasil USG ;
Intervensi :

1) Monitor DJJ sesuai indikasi


R/. Peningkatan DJJ sebagai indikasi terjadinya hipoxia, prematur dan solusio
plasenta
2) Kaji tentang pertumbuhan janin
R/. Penurunan fungsi plasenta mungkin diakibatkan karena hipertensi
sehingga timbul IUGR
3) Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta ( nyeri perut, perdarahan, rahim
tegang, aktifitas janin turun )
R/. Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala solutio plasenta dan tahu akibat
hipoxia bagi janin
4) Kaji respon janin pada ibu yang diberi SM
R/. Reaksi terapi dapat menurunkan pernafasan janin dan fungsi jantung serta
aktifitas janin
5) Kolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan USG dan NST
R/. USG dan NST untuk mengetahui keadaan/kesejahteraan janin

3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan


pembukaan jalan lahir
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan perawatan ibu mengerti penyebab
nyeri dan dapat mengantisipasi rasa nyerinya
Kriteria Hasil :
a. Ibu mengerti penyebab nyerinya
b. Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya
Intervensi :
1) Kaji tingkat intensitas nyeri pasien
R/. Ambang nyeri setiap orang berbeda ,dengan demikian akan dapat
menentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan respon pasien terhadap
nyerinya
2) Jelaskan penyebab nyerinya
R/. Ibu dapat memahami penyebab nyerinya sehingga bisa kooperatif
3) Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan nafas dalam bila HIS timbul
R/. Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi , terjadi vasodilatasi
pembuluh darah, expansi paru optimal sehingga kebutuhan 02 pada jaringan
terpenuhi
4) Bantu ibu dengan mengusap/massage pada bagian yang nyeri
R/. untuk mengalihkan perhatian pasien
4. Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif
terhadap proses persalinan

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu


berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
a. Ibu tampak tenang
b. Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan
c. Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang
Intervensi :
1) Kaji tingkat kecemasan ibu
R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian
pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa
2) Jelaskan mekanisme proses persalinan
R/. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi
emosional ibu yang maladaptif
3) Gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif
R/. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki ibu
efektif
4) Beri support system pada ibu
R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang sekarang
secara lapang dada asehingga dapat membawa ketenangan hati.
D. Implementasi
Pelaksanaan disesuaikan dengan intervensi yang telah ditentukan.
E. Evaluasi
Evaluasi disesuaikan dengan kriteria hasil yang telah ditentukan

Seri asuhan kebidanan kehamilan


Lily Yulaikhah,S.Si.TPreeklamsi
Buku kedokteran ECG
2006
Jakarta