Anda di halaman 1dari 6

PENENTUAN KADAR NH3 DALAM URIN MENURUT CARA NESSLER

Ayu Syafitri S (G84110002)1 Syahrul Mustofa2 Syaefuddin3


Nama Mahasiswa (NIM)1 Asisten Praktikum2 Dosen Praktikum3
Metabolisme
Departemen Biokimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
2013
ABSTRAK
Amonia yang terdapat dalam urin berfungsi untuk menyangga derajat
keasaman urin melalui pengikatan proton. Analisis kuantitatif kadar amoniak
(NH3) dalam urin dapat dilakukan menurut metode Nessler dengan menggunakan
pereaksi Nessler yang selanjutnya akan diukur dengan menggunakan
spektrofotometer. Praktikum bertujuan menentukan kadar NH3 dalam urin dengan
menggunakan cara Nessler. Konsentrasi amoniak (NH3) yang terkandung dalam
sampel urin ulangan pertama, kedua, dan ketiga masing- masing sebesar 0.069
mg/mL, 8.23610-3 mg/mL, dan 0.024 mg/mL. Konsentrasi NH3 di dalam sampel
urin tersebut rata-ratanya sebesar 0.034 mg/mL. Nilai tersebut diperoleh dari
perhitungan dari absorbansi. Nilai absorbansi sampel yang terukur akan
berbanding lurus dengan konsentrasi sampel.
PENDAHULUAN
Urin atau air seni adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang
kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urin
diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring
oleh ginjal dan untuk menjaga homeostatis cairan tubuh. Urin disaring di dalam
ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar
tubuh melalui uretra. Fungsi utama urin adalah membuang zat sisa seperti racun
atau obat-obatan dari dalam tubuh (Pringgodigdo 1973).
Urin dibentuk di dalam ginjal melalui serangkaian proses, yaitu filtrasi,
reabsorpsi, dan augmentasi. Filtrasi terjadi pada glomerulus dan terjadi
penyaringan zat-zat sisa yang dapat menjadi racun bagi tubuh. Hasil penyaringan
pada proses filtrasi akan menghasilkan urin primer. Reabsorpsi terjadi di tubulus
proksimal dan terjadi proses penyerapan kembali urin primer yang masih
mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh.
Proses reabsorpsi pada tubulus proksimal ini akan menghasilkan urin
sekunder. Proses yang terakhir adalah augmentasi yang terjadi pada pelvis renalis.
Pada proses ini terjadi pengeluaran zat-zat sisa yang tidak diperlukan lagi oleh

tubuh. Zat-zat yang tidak berguna seperti ion hidrogen (H +), kalium (K+), dan
amonium (NH4+) akan dilepaskan ke dalam urin sekunder. Selanjutnya, urin akan
akan mengalir ke saluran pengumpul menuju rongga ginjal dan terjadi penyerapan
air sehingga terbentuk urin

yang sesungguhnya (Laila dan Sudjadi 2004).

Menurut (), dalam kondisi normal urin mengandung 95% air; urea, asam ureat,
dan amonia yang merupakan sisa reduksi protein; bilirubin dan biliverdin;
bermacam-macam garam, terutama NaCl; serta beberapa zat yang bersifat racun.
Kadar amonia dalam urin dapat ditentukan dengan menggunakan metode
Nessler. Pada metode tersebut digunakan pereaksi yang merupakan campuran
senyawa K2[HgI4] dengan NaOH. Keberadaan amonia ditunjukkan dengan
terbentuknya warna kuning sebagai hasil reaksi yang terjadi antara amonium
dengan pereaksi Nessler. Warna kuning yang terbentuk banyaknya berbanding
lurus dengan konsentrasi amonia, sehingga konsentrasi amonia dapat diukur
dengan menggunakan spektrofotometer dengan akurasi antara 0.01 0.05 mg
amonia (Matthews & Miller 1913).
Praktikum bertujuan menentukan kadar NH3 dalam urin dengan
menggunakan cara Nessler.
METODE PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biokimia,
Departemen Biokimia FMIPA IPB. Praktikum dilaksanakan pada hari Jumat, 13
Desember 2013.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain, tabung Nessler,
pipet Mohr, bulb, spektrofotometer, pipet tetes, labu takar, dan gelas kimia.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain urin, akuades, standar amonia, pereaksi
Nessler, dan aluminium foil.
Penentuan kadar NH3. Urin dimasukkan ke dalam labu takar sebanyak 1
mL. Urin ditera dengan akuades hingga volume mencapai 50 mL. Tabung Nessler
disiapkan sebanyak lima buah dan diberi label. Tabung pertama diberi label
blanko. Tabung ini diisi dengan 50 mL akuades dan 3 mL pereaksi Nessler.
Tabung kedua diberi label standar dan diisi dengan 1 mL standar amonia, 49 mL
akuades, dan pereaksi Nessler. Tabung ketiga, keempat, dan kelima berturut-turut

diberi label sampel 1, sampel 2, dan sampel 3. Ketiga tabung diisi dengan 1
mL urin yang telah diencerkan. Akuades sebanyak 49 mL dan 3 mL pereaksi
Nessler ditambahkan ke dalam larutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan kali ini mengenai perhitungan kadar NH3 dalam urine menurut
cara Nessler. Urin yang diekskresikan oleh manusia mengandung komponen
organik dan anorganik. Komponen organik yang terdapat dalam urin antara lain
urea, asam urat, dan kreatinin. Sedangkan, komponen anorganik yang terdapat
dalam urin adalah kation dan anion. Kation yang terdapat dalam urin antara lain
Na+, K+, Ca2+, Mg2+, dan NH4+. Sedangkan, anion yang terdapat dalam urin antara
lain Cl-, SO42-, dan HPO42-(Ganong 2001).
Amonia yang terdapat dalam urin berfungsi untuk menyangga derajat
keasaman urin melalui pengikatan proton. Amonia tidak bermuatan sehingga
dapat berdifusi melalui membran ke dalam urin dan mengikat proton dari urin
menjadi ion NH4+ atau amonium. Amonia yang terkandung dalam urin manusia
sehat dikeluarkan sekitar 30 50 mmol setiap harinya (Koolman & Roehm 1994).
Analisis kuantitatif kadar amoniak (NH3) dalam urin dapat dilakukan
menurut metode Nessler dengan menggunakan pereaksi Nessler yang selanjutnya
akan diukur dengan menggunakan spektrofotometer. Amoniak yang terdapat
dalam urin berasal dari metabolisme asam amino melalui siklus urea ketika tubuh
mengalami kelebihan protein. Hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu
menyimpan kelebihan asam amino sebagai cadangan energi (Lehninger 1982).
Menurut Julijanto (1998), kadar amonia pada urin normal sebesar 894,1975 ppm.
Sampel urin yang akan dianalisis kadar NH 3-nya dengan metode Nessler
terlebih dahulu direaksikan dengan pereaksi Nessler (HgI2.2KI) dan akuades agar
tingkat kepekatan urin menurun sehingga dapat dianalisis menggunakan
spektofotometer. Komposisi pereaksi Nessler adalah campuran senyawa K2[HgI4]
dengan NaOH (Ganong 2001). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
2(HgI2.2KI) + NH4OH + 3NaOH

Larutan

sampel

kemudian

OHg2NH2I + 3H2O + 4KI + 3NaI

diukur

nilai

absorbansinya

dengan

menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm yang

merupakan panjang gelombang spesifik untuk amoniak. Data percobaan disajikan


pada tabel 1.
Tabel 1 Kadar NH3 dalam urin
Larutan uji
Blanko
Standar
1
2
3

A Terukur
0.000
1.032
0.142
0.017
0.049

A Terkoreksi
1.032
0.142
0.017
0.049

[NH3] (mg/mL)
0.069
8.236x10-3
0.024

Contoh perhitungan (sampel 1):


A terkoreksi = A sampel A blanko
= 0.142 0.000
= 0.142
50
FP
= 1
= 50
[NH3]

A terkoreksi
A standar

0.142
1.032

x C standar x FP

x 0.01 mg/mL x 50

= 0.069 mg/mL
Berdasarkan percobaan diperoleh data kadar amoniak yang dihasilkan dari
beberapa ulangan menunjukan nilai absorbansi dan konsentrasi yang berbedabeda dengan perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan kadar amoniak pada
masing-masing ulangan mungkin disebabkan oleh pereaksi dan sampel yang
bereaksi sehingga mempengaruhi intensitas warna. Kadar amonia yang terdapat di
dalam sampel urin ulangan pertama adalah 0.069 mg/mL, kadar amonia pada
sampel urin ulangan kedua adalah 8.23610-3 mg/mL, dan kadar amonia pada
sampel urin ulangan ketiga adalah 0.024 mg/mL serta rata-ratanya sebesar 0.034
mg/mL.
Nilai tersebut dperoleh dari perhitungan dari absorbansi. Umumnya nilai
absorbansi sampel yang terukur akan berbanding lurus dengan konsentrasi
sampel. Hal ini berarti semakin besar nilai absorbansi sampel maka kadar
(konsentrasi) amoniak di dalam urin akan semakin besar juga (Ganong 2001).
Berdasarkan aspek klinis, semakin banyak kadar amoniak dalam tubuh maka
kelebihan protein juga makin banyak sebab saat tubuh kelebihan protein maka
akan diproses melalui siklus urea dan akan menghasilkan amonia yang ada
bersamaan dengan urin. Hal ini terjadi karena mamalia tidak mempunyai

kemampuan untuk menyimpan protein dalam tubuh sehingga protein lebih banyak
digunakan ketika dalam keadaan berlebih (Lehninger 1982). Hal ini sesuai dengan
diperolehnya nilai absorbansi minus dari probandus yang berarti probandus
mengalami kekurangan protein.
Metode lain dalam menentukan unsur yang terdapat dalam urin yaitu
metode pemeriksaan mikroskopik sedimen urine. Metode ini lebih dianjurkan
untuk dikerjakan dengan pengecatan Stenheimer-Malbin. Dengan pewarnaan ini,
unsur-unsur mikroskopik yang sukar terlihat pada sediaan natif dapat terlihat jelas
(Ganong 2001).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan, konsentrasi amoniak (NH3) yang terkandung
dalam sampel urin ulangan pertama, kedua, dan ketiga masing- masing sebesar
0.069 mg/mL, 8.23610-3 mg/mL, dan 0.024 mg/mL. Konsentrasi NH3 di dalam
sampel urin tersebut rata-ratanya sebesar 0.034 mg/mL. Umumnya nilai
absorbansi sampel yang terukur akan berbanding lurus dengan konsentrasi
sampel. Berdasarkan aspek klinis, semakin banyak kadar amoniak dalam tubuh
maka kelebihan protein juga makin banyak sebab saat tubuh kelebihan protein
maka akan diproses melalui siklus urea dan akan menghasilkan amonia yang ada
bersamaan dengan urin.
DAFTAR PUSTAKA
Ganong WF.2001. Fisiologi Kedokteran edisi 14. Terjemahan Petrus Andrianto.
Jakarta (ID): EGC.
Julijanto N. 1998. Penentuan kadar amonia dalam urin dengan metoda Nessler
[Tesis]. Semarang (ID). Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro.
Koolman J, Roehm K. 1994. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia. Wanandi,
penerjemah. Jakarta (ID): Hipokrates. Terjemahan dari: Color Atlas of
Biochemistry.
Laila S dan Sudjadi B. 2004. Sains dalam Kehidupan. Jakarta (ID): Yudhistira.
Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia jilid 3. Jakarta (ID): Erlangga.

Matthews SA, Miller EM. A Study of the Effect of Changes in Circulation of The
Liver on Nitrogen Metabolism. [terhubung berkala]. http://www.jbc.org.
[18 Desember 2013].
Pringgodigdo Ag. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta (ID): Kanisius.