Anda di halaman 1dari 109

RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN)

r*T

ie

trW

ee,_

MEI 1996

BADAN KOORDINASI TATA RUANG NASIONAL

s7[I y

4'{'.0('*

le it- 7t

DAF'TAR ISI

BAB I

BAB tr

PENDAHULUAN

MUATAN, FUNGSI DAN PENDEKATAN

PENYUSUNAN RTRWN

A. Muatan Isi dan Fungsi RTRWN

B. Pendekatan

1,.
2.

Penyusunan RTRWN

Dasar Penataan Ruang

Kesahran Ruang

Dara! Laut dan Udara

3. PendekatanWilayah

BAB III

PEMANFAATAN RUANG WII-A.YAH NASIONAL

PADA PJP r

A. Letak Geografis dan Sumberdaya

B. Sumberdaya Buatan

AIam

(Infrastrukfur)

C. Perkembangan Penduduk

1.

Iumlah

dan Struktur Umur Penduduk-

2. Sebaran Penduduk Antar Witayah
3.

Mobilitas Penduduk

D. Perkembangan Ekonomi Wilayah

E. Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional Akhir PIP t

F. Pola danShuktur

RuangWilayah Nasional Akhir PIp L

1. Jaringan Transportasi

2. ]aringan

3. Jaringan Telekomunikasi
4.

5. Prasarana Pengairan

Prasarana Kelistrikan

Kondisi Kawasan Permukiman Perkotaan

Halaman

 

I

2

2

2

3 5

8

:

8

8

8

8

12

12

12

14

14

14

14

14

74

BAB TV ARAHPEMBANGUNAN JANGKA

TATA RUANG WILAYAH

PANIANG KEDUA DAN

NASIONAL

15

A. Arah Pembangunan NasionaI

B. Arah Pembangunan Daerah

C. Ruang Wilayah Nasional Akhir PIP [

D. Arah dan Perkiraan Pengembangan

E. Perkiraan

Perkembangan Penduduk

1. Umum

Wilayah dalam plp tr

2. Perkembangan Penduduk Perkotaan

15

15

15

16

18

18

18

BAB V

STRATEGI DAN ARATIAN KEBIIAKSANAAN PEMANFAATAN

RUANG WTLAYAH NASIONAL

A. Tujuan Nasional Pemanfaatan Ruang
B.

1.

3. Struktur Ruang Wilayah
4.

Sbuktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional

Strategi Pengembangan Kawasan
2.

Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional

Nasional

Kawasan yang Diprioritaskan Pengembangannya dan Kawasan Tertenfu

BAB VI

KRITERIA DAN POI-A PENGELOI-AAN KAWASAN

22

22

22

26

27

32

A.

Kriteria dan Pola Pengelolaan

1. Tujuan
2.

dan Sasaran

Ruang Lingkup

4. Perencanaan

Kawasan Lindung

U

M

Lindung Kawasan Lindung

Kawasan

Kawasan Lindung

34

94

3T

lT

38

38

38

33

M

45

46

46

46

46

49

49

3. Pokok-Pokok Kebijaksanaan

dan Penetapan

5. Pemanfaatan dan Pengendalian

B. Kriteria dan Pola Pengelolaan

Tujuan
2.

Ruang Lingkup
3.

1.

dan Sasaran

4. Perencanaan

C. IGiteria dan Pola

Ruang Lingkup

Kawasan Budi daya

,

Pokok-Pokok Kebijaksanaan Kawasan Budi

dan Penatapan

daya

Kawasan Budi daya

5. Pemanfaatan dan Pengendalian

Pengelolaan

Kawasan Budi daya

Kawasan Tertentu

1. TujuandanSasaran
2.

3.

Pokok-Pokok Kebijaksana€rn
4.

Perencanaan dan Penetapan

Kawasan Terbentu Kawasan Tertenfu

5. Pemanfaatan dan Pengendalian Kawasan Tertentu

RENCAI{A TATA RUAIIG WILAYAH NASIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan jangka paqiang, upaya pembangunan perlu

ditingkatkan melalui perencanatn, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan yang lebih baik, agar

selunrh pikiran dan sumber daya dapat diarahkan secara efisien dan efektif Satah satu hal pokok yang

dibutuhkan untuk mencapai maksud tersebut adalah peningkatan keterpaduan dx1 |5s5s1xsien

pembangunan di segala bidang.

Garis-garis Besar Flaluan Negara (GBHN) 1993 BAB II mengenai Pembangunan Nasionaf

mengamanatkan bahwa wawasan dalam penyelenggaraan pembangunan nasional adatah Wawasan

Nusantara yang mencakup perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politi\ Satu

Kesanran Ekonomi Satu Kesatuan SosialBudaya, dan Satu Kesatuan Pertahanan Keamanaa. Dalam

GBHN 1993 juga digariskan bahwa perekonomian daerah harus dikembargkan secara serasi dan

seimbang antar daerah dalam satu kesatuan perekonomian nasional dengan mendayagr:nakan potensi dan peran serta daerah secara optimal dnlam rangka perwujudan Wawasan Nusantara dan Ketahanan

Nasional.

Selanjutnya GBHN 1993 mengarabkan pula bahwa pendayagunaan sumber daya alam dilatukan

secara terencana, rasional, optimal, bertanggrrng jawab dan sesuai de,ngan kemampuan daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besanrya mtuk ke,mahuran rakyag serta meryerhatikan

kelesarian firngsi-fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup guna pembangunar yang berkelanjutan.

Sehubungan de,ngan rtu, perlu disusun "Pola Tata Ruang Nasional' yang dapat d[iadikan pedoman bagi perencanaan pembangunan, yang meryerhatikar penataan lingkungan niaup dan pemanfaatan sumber daya alam dimana kegiatan pembangunan dapat dilakgkan secafa aman, tertib, efuien dan

efektif

Pola Tata Ruang memadukan dan menyerasikan tata guna tanah, tata guna udara, tata guna air, dan tata guna sumber daya alam lainnya dalam satu kesatuan tata lingkungan yang harmonis dan dinamis

serta ditunjang oleh pengelolaan perkembangan kependudukan yang serasi, disusun melalui pendekatan wilayah dengan memperhatikan sifat lingkungan alam dan lingkungan sosial.

Sejalan dengan upaya pe,lrataan rurxg tersebut, Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang penataan

Ruang (UUPR) menetapkan bahwa pada tingkat nasional dizusun Rencana Tata Ruang Wilayah

Nasional (RTRWN), yang merupakan StrategiNasional Pengembangan Pola Tata Ruang (SNPPTR) wilayah nasional yang memuat strategi dan arahan kebiiaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasionaL

RTRWN

BAB tr

MUATAN, ISI, FIINGSI DAN

PENDEKATAN PEIYYUSUNAN RTRWN

A. Muatan,Isi dan Fungsi RTRWN

Di dalam Pasal 20 Undang-Undang No. 24 Tahun L992 tertmg Penataan Ruang (tJItPR),

digariskan petqiuk menge,nai nmratan, isr, dan fungsi Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

(RTRWN) sebagai berikut :

1. Muatan RTRWN

RTRWN merupakan strategr dan arahan kebifaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara, yang meliputi:

a. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan;
b. struktur dan pola pemanfaatan rurng wilayah nasional;

c. kriteria dan pola pe,ngelolaan kawasan lindung, kawasan budi daya, dan

kawasan tertentu.

2. RTRWN berisi :

a.

penetapan kawasan lindung, kawasan budi daya, dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional;

b

nonna dan kiteria pemanfaatan ruang;

c.

pedomenpengendalianpemanfaatanrurng.

3. Fungsi RTRWN

RTRWN berfirngsi sebagai pedoman untuk :

a. perumusan kebiiaksanaan

pokok pemanfaatan

ruang di wilayah nasional;

b. mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan antarwilayah serta keserasian antarsektor;

c. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan oleh pemerintah dan atau

masyarakat;
d.

dan wilayah

Penataan runng wilayah Propinsi Daerah Tingkat I

Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat tI.

RTRWN

B. Pendekatan Penyusunan RTRWN

Penyrsrnan RTRWN berlandaskan : (l) Dasar Penataan Ruang, (2) Kesatuan Ruang Darat,

Laut dan Udara, dan (3) Pendekatan Wilayah.

1. Dasar Penataan Ruang

Sezuai dengan Pasal T UUPR5 RTRWN didasarkan pada:

Fungsi Utame Kawasan

Berdasarkan firngsi utama kawasan, ruang wilayah nasional dibagi atas kawasan berfungsi lindung dan kawasan budi daya. Kawasan berfirngsi lindung direncanakan untuk mewujudkan pemanfaatan ruang yang

memperhatikan kelestarian fungsi lingkungaa serta optimasi dalam

pengguuan srmber daya alam sesuai dengan daya dukung lingkungan hidup

untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Kawasanbudi daya direncanakan untuk mencapai pemanfaatan zumber da-va

seoptimal mungkin sesuai dengan daya dukung lingkungan dengan tetap

memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Di dalam kawasan budi daya

terdapat (diindikasikan) sebaran pengembangan kegiatan produksi, jasa dan permukiman beserta prasarana wilayah pendukungnya.

pi dalam kawasanbudi daya terdapat kawasan yang memiliki potensi tertentu baik yang sudah berkembang maupun yang prospektif untuk dikembangkan. Kawasan ini srategis bagi pembangunan serta pengembangan ruang wilayah

nasional sehingga dapat disebut sebagai kawasan andalan.

Kawasan andalan yang sudah berkembang mempunyai potensi untuk lebih

dikembangkan karena didalamnya terdapat antara lain aglomerasi kota,

aglomerasi kegiatan self,or produksi yang didukung oleh ketersediaan sumber

daya manusia, zumber daya alam, kedekatan lokasi terhadap pusat-pusat pertumbuhan regional dan mempunyai ffiastruktur pendukung.

Kawasan andalan yang prospektif untuk berkembang mempunyai peluang

untuk dikembangkan karena didalamnya terdapat zumber daya alam,

mempunyai akses terhadap pusat pertumbuhan, dekat dengan dan dapat

menjadi pusat-pusat permukiman dan dimungkinkan untuk pengadaan

prasarana pendukung.

Untuk mendorong pernrmbuhan, pemerataan dan kesafuan wilayah nasional,

kawasan-kawasan andalan diupayakan menyebar dalam ruang wilayah

RTRIVN

Nasional baik di ruanB daratan rnaupun ruang lautan dan saling terkait serta

menguatkan satu sama lain. (lihatGambar2.LA)

b. Fungsi Kawasan dan Kegiatan

Fungsi kawasan didasarkan pada pengamatan dominasi kegiatan atau sifat

tertentu dari suatu kawasan. Dalam kaitan ini ruang wilayah nasional dapat

terdiri atas kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan tertentu.

Kawasan perdesaan meliputi teapat permukiman perdesaan" tempat kegiatan

pertanian, kegiatan pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan" tempat

pem$atatr dan pendistribusian kegiatan non pertanian se,pertipelayanan jasa

pemerintaha4 kegiatan pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan-kegiatan yang

strategis secara nasional, yaitu :

t)

kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap (upaya)

2)

3)

4\

pengembangan tata rurng

di wilayah sekitarnya;

kegiatan yang mempunyai dampak terhadap kegratan lain dalam

bidang yang sejenis maupun terhadap kegratan di bidang lain;

kegiatan yang merupakan fahor pendorong bagi peningkatan

kesej ahteraan masyarakat ;

kegiatanyangmenduhrngkepentinganpertahanankeflmanan

negara

yang bersifat strategis.

Aspek Administrasi

Berdasarkan sistem administrasi pemerintahan, dibedakan adanya Ruang

Wilayah Nasionaf Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Ruang

Wilayah Kabupaten/I(otamadya Daerah Tingkat II.

RTRWN disusun dengan melihat wilayah nasional sebagai satu kesatuan wilayah, lebih lanjut dijabarkan kedalam strategi serta struktur dan pola

pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan disebut sebagai Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I (RTRWP).

Kawasan andalan dan kawasan tertentu dalam RTRWN menjadi salah satu dasar dalam penentrum kawasan prioritas dalam RTRWP. Pemerintah Daerah Tingkat I dengan pertimbangan tertentu dapat menentukan kawasan prioritas

di luar kawasan andalan dan kawasan tertentu, akan tetapi firngsinya harus

saling memperkuat dengan kawasan andalan dan kawasan terteNrtu yang

ditetapkan dalam RTRWN (lihat Gambar 2.1.8).

RTRWN

Selanjutnya strategi dan struktur pemanfaatan ruang propinsi tersebut

dijabarkan kedalam rencana pemanfaatan nung

wilayah

Kabupaten4(otamadya Dati II. Rencana ini disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/I(otamadya Daerah Tingkat II (RTRWK). Kawasan prioritas di RTRWP menjadi salah satu dasar dalam penentuan kawasan prioritas di RTRWI( Daerah tingkat II dengan pertimbangan tertentu dapat menentukan kawasan prioritas tambahan di luar kawasan prioritas dalam

RTRWP. (lihat Gambar 2.1.C)

,,

Kesatuan Ruang Daral Laut dan Udara

Ruang adalah wadah yang meliputi r.uang daratan, ruang lautan, dan ruang udara

sebagai satu kesatuan wilayall tenryat manusia dan maltluk hidup lainnya melakukan

kegiatan serta memelihara kelangsungan hidup. Dengan pengertian itu yang diatur dalam RTRWN adalahruang yang merupakan tempat manusia dan mahluk lain hidup dan melalcukan kegiatan serta memelihara kelangsungan kehidupan" yaitu :

a. rurng darat yang meliputi bagian muka bumi yang dibatasi garis pantai dan

ruang di bawahnya sampai kedalaman 100 (seratus) meter. (Catatan : batas

lrzdalanwt 100 nrcter ini diambil berdasarlan kenyataan bahwa hingga hni

kegiatan kehidupan marutsia di bawah permul<aan tarnh yang berlaitan

dengan kegiatan di atasnya, tidak ada yang lebih dalam dari 100 m, kecuali

lcegiatan pertantbotgol. Flalyang berkaitan de,ngan pnggunaan lebih dalam dari 100 meter diatur oleh peraturan perundangan lain.

b. nurng laut yang meliputi wilayah perairan laut dalam dan laut teritodal sebatas

12 mil dari garis pangkal sesuai dengan konvensi hukum laut intemasional.

Pemanfaatan sumber daya laut, dimunekinkan saryai bttas Zona Ekonomi

Eksklusif- ZEE.

c. ruang udara yang meliputi wlayah udara yang berada di atas wilayah teritorial

nasional setinggi I (satu) kilometer.

Hal lain di luar pengertian di atas akan diatur kemudian seperti yang

digariskan dalam Pasal 9 Ayat 2 UUPR

Ruang darat, ruang laut dan ruang udara, yang dilihat sebagai zuatu kesatuan,

digunakan sebesar-besamya untuk kemakmuran masyarakat dan perlu dipelihara

kelestariannya.

Oleh karena itu, dalam pemanfaatan fllitng, disamping kegiatan pengembangan budi

di darat, di laut dan di udara

untuk menjaga kelestarian lingkungan. Kedua kegiatan ini dikembangkan dengan

suatu pendekatan kesatuan sistem wilayah.

daya, dilakukan kegiatan perlindungan kawasan-kawasan

3

RTRWN

Gambar 21 SKEMA PENATAAN RUANG BERDASARKAN FUNGSI UTAMA DAN ADMINISTRASI A WILAYAH NASIONAL r"t t
Gambar 21
SKEMA PENATAAN RUANG BERDASARKAN
FUNGSI UTAMA DAN ADMINISTRASI
A WILAYAH NASIONAL
r"t
t
: Kawasan Andalan
,r/
: Kawasan Tertentu
: Batas Administrasi
Dati I
KL:KawasanLindung
KB:lGwasanBudidaya
KwL ; Kawasan di Laut
"r : Kawasan Prioritas
O : Pusat Permukiman
H:
PrasaranaWilayah
- Transportasi
- Air Bersih
- Liskik
Telekomunikasi
,---*''-- : Sungai
: Pertanian pangan
| : Industri
,rt*"""n Lindung
},
C WILAYAH DATI II
O ' Kawasan Komersial
D Kawasan Perikanan
|
:Pelabuhan
: Batas Administrasi
Dati ll
: Kawasan Prioritas
di Dati ll
: Sempadan Sungai
Penyusunan Strategi dan Pola Pemanfaatan Ruang Konsep Wilayah Ruang Darat, Laut dau Udara diberikan secara
Penyusunan Strategi dan Pola Pemanfaatan Ruang
Konsep Wilayah Ruang Darat, Laut dau Udara diberikan secara skematis pada
Dengan memperhatikan, pennasalahan yang ada dan kebijaksanaan
Gambar 2.2.
pengembangan ruang wilayah. disusun strategi pengembangan struktur dan
pola pemanfaatan ruang wilayah nasional.
3. Pendekatan Wilavah
Secara skematis tahapan penyusunan RTRWN diberikan pada Gambar 2.3.
Pendekatan wrlayah pada prinsipnya memandang wilayah sebagai suatu sistem.
Keselunrhan unsrpembentuk wilayah yang meliputi zumber-daya alam, sumberdaya
buatan dan manusia beserta kegiatannya yang meliputi politrlq ekono-i, sosial budaya
dan pertahanan keamanan negara berinteraksi membentuk zuatu wujud ruang.
UUPR menjelaskan bahwa wujud pemenfaxlsn ruang wilayah yang direncanakan atau
tidalq disebut tata ruang. Dengan demikian tata ruang dapat juga diidentifikasikan
sebagai wujud interaksi unsur-unsur pembentuk ruang.
Mengingat wilayah adalah zuatu sistem dan merupakan tempat manusia bermukim
serta mempertahankan hidupnya maka dalam penataan ruang yang paling utama
diwujudkan adalah meningkatkan kinerja atau kualitas ruang wilayah untuk
penyediaan produksi dan jasa yang cukup, permukiman sehat dan kelestarian
lingkungan hidup.
Oleh karena itu suatu hal yang mendasar dalam penataan ruang dengan pendekatan
wilayah adalah memadukan unsur pembentuk ruang wilayah agar kinerja wilayah
meningkat dalem lingkungan yang tetap lestari dan kondusifterhadap pengembangan
kesejahteraan mn syarakat yang berkelanjutan.
Memperhatikan hal-hal tersebut penyusunan RTRWN dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut :
a. Pengenalan Kondisi Tata Ruang
Pada tahap ini dilakukan pengkajian untuk melihat pola dan interaksi dari
unsur-unsur pembentuk ruang terutama yang meliputi kondisi dan sebaran
sumber daya alam dan buatan, kegiatan produksi, sebaran dan sruktur
penduduk Pengkajian ini dilalaftan untuk mengetahui gambaran kondisi tata
ruang yang ada.
b. Pengenalan Masalah Tata Ruang serta Perumusan Kebljaksanaan
Pengembangan Ruang Wilayah Nasional
Pada tahap ini dikenali masalah tata ruang melalui pembandingan kondisi tata
ruang yang ada dengan arahan-arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang di
masa mendatang serta kendala-kendala yang dihadapi.
RTRWN
RTRIYi\'
GAMBAR 2.2 Konsep Ruang Darat, Laut, dan Udara ,i#'Fffi \\ batas batas permukiman hutan hutan
GAMBAR 2.2
Konsep Ruang Darat, Laut, dan Udara
,i#'Fffi \\
batas batas
permukiman
hutan
hutan
kawasan
Budidaya
permukiman
hutan hutan
permukiman
hutan . gari6 batas
jalur
ZEE
pertanian
produksi Penanlan
lindung
pantai /
laut :
pertanian
produksi
lindung
teritorial
industri
Produksi
pantai teritorial
internasional
terbatas
terbatas
(2@ mil) (12 mil)
terbatas
Pelabuhan
perikanan
(12 mil)
't
.;'
I
kawaean pantal
I
!
i
I
\ \
I I
\
Jalur
\
Li '\
\,
n
Kawasan Andalan
Kawasa n untuk Pemanfaatan
Sumber Daya Kelautan
Pusat Permukiman
Pengembangan Kawasan Pantai
Kawasan lindung
Kawasan Darat
Lahan Gambut
Konservasi Pantai
Pertanian tanaman pangan
Permukiman
lndustri
Perkebunan
GAMBAR 2.3 KERANGKA PIKIR PENYUSUNAN RTRWN PEiIGEMI.AN KONDISI AWAL TATA STRATEGI PENGEMBANGAN PERUMLJSAN RENCAM
GAMBAR 2.3
KERANGKA PIKIR PENYUSUNAN
RTRWN
PEiIGEMI.AN KONDISI AWAL TATA
STRATEGI PENGEMBANGAN
PERUMLJSAN RENCAM
RUANG WILAYAH i{ASIOML
RUANG WII.AYAH i{ASIOML
STRI.,(TURDAI{
POtA
KA'IAN:
PE}TANFAAATAI.{ RIIAI.IG
. sTlJot€Tlff REGTONA|-
r.r sroML
.RTRYiPDATI
I
i STIJU€TIIT SEKTOR
l.PO( l(^WASAll
-SEBARAN
UNO(AG'
SI IEEFDAYA
. KAJIAN FRASrCF^NA
2 POII, P€}.IG EM BAN GA'{
WUYAH
KAWASAI.I g,JUOAYA
I@NDSIAT^/AL
- t-ot(Ast xEGt{TA l
STR.JKIT.RDAAI FOIA
SEKTOff STRATEIS
s-SlSTEilr PEFfr/lr<lMAr.V
RJANG I.IASIOI,IAL:
ll
krnA
.SF4FIAN
XDTA{OTA
B
.SFN4F4!
KAWASAI
A
.KDNMII|\|FRA
4.PCXI J RNGA}I
N
o
TMNSPOFTTASI
sTR.
CtRntt.AYAfl
.SR4R^N
u
NASTOML
XECiIATAAI
N
FROCttSI
A
.SEBAMNSOA
5'FCItJ\ PRASIRAN{
N
PENGOI'J{^N OAAI
.SEBARAN PENU,.EI,X
usTBs.JstAF.
APOI.A' JIRNGAI{ PRASA
R^NATENIGA I.JSTHK
7. PCItAJARNCTAIITEE-
xDMtRlr{r6l
1
BAB III produksi lainnya seperti pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Lahan potensial untuk kegiatan pertanian
BAB III
produksi lainnya seperti pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Lahan potensial untuk
kegiatan pertanian letaknyatersebar dengan komposisi terbesar di KBI (Pulau Jawa dan Pulau
KONDISI TATA RUANG
WILAYAH NASIONAL PADA PJP I
Sumatera).
Umum
Kondisi tata ruang digambarkan oleh dua aspek utama yaitu pola pemanfaatan ruang dan
Hutan Indonesia juga potensial digunakan untuk pembangunan nasional. Sampai saat ini
kawasan hutan digolongkan dalam kawasan-kawasan hutan lindung, hutan suaka alanr, hutan
produksi dan hutan konversi. Kawasan hutan konversi adalah kawasan hutan yang dapat
dialihfungsikan penggunaannya menjadi kawasan produksi selain hasil hutan. Kawasan hutan
struktur ruang. Pola pemanfaatan ruang memperlihatkan sebaran kawasan
budidaya
beserta
sektor-sektor di dalamnya, sedangkan struktur ruang digambarkan oleh pusat-pusat
permukiman atau perkotaan dan jaringan infrastruktur pendukung
pusat perkotaan.
Disamping itu untuk lebih memberikan gambaran yang jelas, kondisi tata
ruang juga
dilengkapi dengan penjelasan kondisi zumber daya alam, perkembangan ekonomi dan
produksi terutama diperuntukkan bagr pengembangan produksi bahan mentah berupa hasil
hutan untuk kebutuhan industri dan penghasil jasa. Luas hutan perpropinsi diperlihatkan pada
tabel 3.1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa presentase luas hutan di Pulau Jawa dan Bali
adalah sebesar 21,74oh, jauhlebih rendah dibandingkan prosentase luas hutan di pulau lain
seperti Sumatera (63,24 o/o), Sulawesi (66,32 Yo) dan Kalimantan (77,9 %).
persebaran penduduk.
D sapming itu terlihat juga dari Tabel 3.1 terlihat pula luas lahan yang belum diusahakan,
B. Letak Geografis dan Sumber Daya AIam
seperti semak-semalq dimana di luar Jawa masih cukup luas. Data potensi tanah tersebut
memperlihatkan bahwa tanah-tanah di Pulau Jawa sudah tinggl tingkat pemanfaatannya"
Wilayah nusantara yang luas berkedudukan di khatulistiwa pada posisi silang antara dua benua
dan dua samudera yang sangat strategis bagi pengembangan ekonomi.
sedangkan di luar Jawa terutama di KTI potensi tanahnya masih sangat besar.
Dilihat dari potensi mineral di seluruh wilayah Indonesi4 mempunyai potensi yang cukup
Dilihat dari kedudukan geografis Indonesi4 Jawa dan Sumatera terutama
perairan
dalamnya"
berada tepat pada jalur perdagangan internasional (perhubungan laut) terutama yang
baik, khuzusnya di wilayatr KTI dan belum dimanfaatkan seluruhnya. Pengembangan wilayah
KTI di bidang pertanrbangan sangat didukung oleh ketersediaan bahan tambang. Sebaran
menghubungkannya dengan Negara-negara Industri, Negara-negara Industri Baru dan
potensi mineral dan energi diberikan pada Peta 3.1. Disamping potensi tersebut di atas, hal
Negara-negara ASEAN lainnya.
yang pedu diwaspadai adalah potensi bahaya lingkungan bagi pengembangarq seperti bahaya
Pada umumnya keadaan ekonomi pulau-pulau di wilayah nasional Indonesia telah mengalami
perkembangan tetapi masih terdapat perbedaan tingkat kemajuan antara satu dengan lainnya.
banjir, tanatr longsor dan bahwa gempa. Persebaran potensi bahaya linglarngan tersebut
diberikan pada P eta 3.2.
Kawasan Barat Indonesia (KBI) yaitu Pulau Jawa dan Pulau Sumatera pada umumnya lebih
C. Perkembangan Penduduk
berkembang dibandingkan dengan Kawasan Timur tndonesia (KTI), yaitu pula-u-pulau
lainnya.
1. Jumlah dan Struktur Umur Penduduk
Akhir PJP I penduduk Indonesia berjumlah sekitar 189 juta jiwa dengan laju
Secara geografis, KTI memiliki wilayah yang relatif lebih luas dibandingkan dengan KBI,
pertumbuhan penduduk sekitar I,9/o peftahun. Walaupun pertumbuhannya menurun
namun tidak seluruh wilayahnya dapat dikembangkan bagi kegiatan produktif. Secara umum
tetapi jurnlah penduduk akan terus bertambah. Apabila pertumbuhannya tidak
stunber daya lahan di KTI lebih cocok untuk tanaman keras, budi daya kelautan dan kegiatan
pertambangan.
dikendalikan dapat terjadi ketidakseimbangan
antara jumlah penduduk dengan daya
dukung dan daya tampung lingkungan alanr, kawasan budi daya dan lingkungan sosial.
Sampai saat ini struktur umur penduduk Indonesia masih termasuk penduduk muda
Wilayah KTI mempunyai prospek untuk dikembangkan bagi mernacu perkembangan ekonomi
nasional. Luas lautan Indonesia adalah 5,8 juta km2 terdiri dari 0,3 juta km2 perairan
teritorial 2,8 juta km2 perairan laut nusantara dan2,7 juta km2 zona ekonomi eksklusif. KTI
dimana proporsi penduduk yang berusia 0 - 14 tahun masih diatas 30olo, penduduk
usia kerja sekitar 60yo, sedangkan penduduk usia tua sekitar 10olo, sehingga beban
tanggungan kerja menjadi tinggi.
memiliki lautan lebih luas dibandingkan dengan KBI. Kondisi ini memberi peluang terhadap
kemungkinanlebihberkembangryaKTl
pada PJP II melalui pengembangan potensi kelautan
Sebaran Penduduk Antar Wilayah.
baik perikanarq industri kelautan maupun wisata.
Pada tahun 1993, persebaran penduduk Indonesia menunjukkan ketidak-merataan
Di samping sumber daya kelautan yang terdapat di wilayah nasional Indonesia, terutama di
yang cukup menonjol, sebagian besar masih terkonsentrasi di P. Jawa yaitu
sekitar 59,3yo, dan di P. Sumatera sekitar 20,7yo,P. Sulawesi sekitar j,Oyo,P.
KTI, Indonesia juga memitiki lahan yang sangat luas berupa kawasan hutan dan kawasan
Kalimantan 5,3yo, Irian Jaya 1.0%. Di lihat dari sebaran penduduk berdasarkan
Peta 3.1 PETA POLA PEMANFAATAN RUANO AKHIR PJP I -"ry u'\r ? KETERANGA|\I n-mri HUIAI{
Peta 3.1
PETA POLA
PEMANFAATAN
RUANO
AKHIR PJP I
-"ry u'\r
?
KETERANGA|\I
n-mri
HUIAI{
UNIXTNO
riil,
irrli DAN KoNsEF/Asl
HUTAI'I PRODUI€|
/
I
nousnr
::r:r i: pERKEzuMN
PARIWISATA
o
I
,@r
r-q
I
eenrruB rreAN
,,",d
&.mLr: &
R.PPPTIL lm
XI{D
I\T
]E
S
NA
ofi,sw/wt2/fi
Peta 3.e
Peta 3.e
<^F (\ Y\ IFIGD^IEIN tt Oo- I tr BllrrsrF (@) { EUrrBrEr GE{@IEI4 a1 I
<^F
(\ Y\
IFIGD^IEIN
tt Oo-
I
tr BllrrsrF (@)
{
EUrrBrEr GE{@IEI4
a1
I I
n|Trr
\i
'
a
a*
o ElElrl DtsrB r!6tl
BlEllf
Dlltl lfill
a \/
(rNDrtlIE)
Ar@. DErrr|D
;\xmr'
VUrP,/Org r1al
e IANOllIt
I nrn rs
4rB
(uwrmt
u$
$ orrnrcrx uuf,c urrrr
,,lman
o
I
unrno urP PnoonEE
Gffi"f' -"
IITEI
lornrn
qrmban
1.
Ptb
R.Ftu lee0
2. Dapoft.'nan
F tatrlergon
ftn
grcrll
INDOI\TS
IA
rI
ET.D^N
ISOORD:tr\ASI
RUANO
NAIIONAIJ
Peta 3.8 bo Ol- I KETEMNGAN E3ffiffir* I *u* psrarsr s$rR MERAIi WLJO}IIS IKTIF o\,
Peta 3.8
bo
Ol-
I
KETEMNGAN
E3ffiffir*
I *u* psrarsr s$rR
MERAIi WLJO}IIS IKTIF
o\,
fb
)
i
I
3
I
V^
-t
sfirb€n P6 RaFFRot legO
propinsi, tiga propinsi di Jawa merupakan yang terbesar yaitu masing-masing Jawa Barat 20,0o/o, Jawa Tengah
propinsi, tiga propinsi di Jawa merupakan yang terbesar yaitu masing-masing Jawa
Barat 20,0o/o, Jawa Tengah 15,50 dan Jawa Timur 17 .60 . Yang terendah terdapat
di Timor Timur sebesar 0,4o/o dan Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Tengah masing-
Perkembangan Ekonom i Wilayah
Meski terdapat perbaikan, perkembangan ekonomi wilayah di seluruh Indonesia masih
masing 0,8o/o.
menunjukkan adanya ketidakmeratazn. Hal ini terlihat dari kontribusi PDRB (Produk
Domestik Regional Bruto) yang dihasilkan ekonomi per pulau utama dalam total PDB
Kepadatan penduduk Indonesia (iwa/km2) adalah sekitar 99 orang, dimana P. Jawa
(Produk Domestik Bruto) Nasional. Pada tahun 1993, kontribusi PDRB Pulau Jawa dalam
merupakan pulau yang paling padat yaitu sehtar 880 orang per km2. Pulau-pulau
lainnya yaitu P. Sumatera 8l orang P. Sulawesi 69 orang P. Kalimantan 18 orang,
harga berlaku (tidak termasuk minyak dan gas) terhadap perekonomian nasional adalah
63,4yo, sedangkan pada tahun yang samaP. Sumateramemberikankontribusi
18,3 oZ,
dan Irian Jaya 5 orang. Berdasarkan propinsi maka Propinsi DKI Jaya merupakan
P. KalimantanT%o, P. Sulawesi4,5yo dan selebihnya(5,9Yo) berasal dari pulau-pulau Bali,
propinsi terpadat yaitu sekitar 13,242 orang per kno. Propinsi-propinsi dip. Jawa
lainnya kepadatannya adalah DIY Yogyakarta sekitar 900, Jawa Barat dan Jawa
Nusa Tenggara, Irian Jaya, Maluku dan Timor Timur.
Tengah sekitar 870 dan paling rendah Jawa Timur sekitar 690 orang. Propinsi lain
umumnya mempunyai kepadatan di bawah 100 orang kecuali Sumatera Utara 15l
orang, Lampung 182 orang, Bali 507 orang, Nusa Tenggara Barat 176 orang dan
Sulawesi Selatan 118 orang, sedangkan propinsi yang paling rendatr yaitu propinsi
Ditinjau dari laju pertumbuhan ekonomi wilayah juga masih terdapat ketidakmerataan antar
propinsi di seluruh Indonesia. Data laju pertumbuhan rata-rata PDRB per propinsi dalam
periode 1983-1993 (harga konstan 1983 tanpa minyak dan ga.s) menunjukkan batrwa beberapa
propinsi menunjukkan laju pertumbuhan tinggr di atas rata-rata nasional (7,5o/o), yuttt
Irian Jaya yaitu 5 orang.
Sumatera Utara (8,2yo), Jawa Barat
(8,7yo),I-ampung
(8,6yo),
Kalimantan Barat
(8,5olo),
atau
Kalimantan Timur (ll,l%).
Sedangkan beberapa propinsi lainnya menunjukkan laju
Penduduk perkotaan merupakan salah satu ciri dari daerah urban, dan apabila dilihat
sSagai penduduk yang berpotensi dibandingkan dengan penduduk perdesaan, mereka
merupakan modal pembangunan di daerah perkotaan. Sampai dengan tahun 1993
pertumbuhan di bawah rata-rata nasional seperti Jawa Tengah (6,60A), Sulawesi Selatan
(7,3o ),Jawa Timur (6,6Yo), Nusa Tenggara Barat (6,8yo), atau Nusa Tenggara Timur (6,1
%).
Perbedaan laju pernrmbuhan ini menunjukkan adanya perbedaan kinerja kegiatan
penduduk perkotaan mencapai sekitar 34% daijumlah penduduk dan penduduk
perdesaan sekitar 66,0yo. Apabila dibandingkan dengan penduduk perkotaan pada
perekonomian di setiap daerah.
tahun 1990 yaitu sekitar 3OYo, maka pertanrbahan penduduk perkotaan dalam tiga
tahun ini cukup pesat.
Dlihat dari sisi pendapatan per kapit4 juga terlihat adanya perbedaan yang cukup menonjol
dari sanr propinsi ke propinsi lainryra. Padatahun 1990, pendapatan per kapita setiap propinsi
yang diular dari PDRB per kapita (tidak termasuk migas) bervariasi dari Rp.2,8 juta di DKI
Mobilitas Penduduk
Jal€rtayaitu tertinggi di seluruh Indonesia, hingga Rp. 360 ribu di Timor Timur. Di antara
kedua batas tersebut, Jawa Barat misalnya memiliki PDRB per kapita sebesar Rp 790 ribu,
Pola perpindatran penduduk antarpulau selama dekade terakhir ini tidak banyak
Sulawesi Utara sebesar Rp. 608 ribtl atau di Sumatera Utara sebesar sekitar Rp. I juta.
mengalami perubahan, akan tetapi jumlah orang yang pindah yang tercatat dalam
sensus 1990 lebih besar dari yang tercatat pada sensus 1980. Penduduk yang keluar
Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional Akhir PJP I
dari berbagai pulau di Indonesia seba,gan besar menuju ke P. Jawa" kecuali dari P.
Sulawesi. Orang yang keluar dari P. Sumatera 90olo, lebih tujuannya adatah P.
Jawa" yang keluar dari P. Kalimantan hampir 80% pindah ke P. Jawa. Sebaliknya
orang yang pindah ke pulau - pulau lain berasal dari P. Jawa, orang yang pindah ke
P. Sumatera 90Yo berasal dari P. Jawa, begitu pula untuk P. Kalimantan dan P.
Sulawesi masing-masing 7SYo dan 600/o.Ini memberikan gambaran bahwa P. Jawa
Pemanfaatan ruang wilayah nasional sampai dengan alCrir PJP I memperlihatkan bahwa
tingkat pemanfaatan ruang untuk kegiatan budi daya di P.Jawa danP. Sumaterajauh
lebih tinggi dari pulau-pulau lainnya.
Tingkat pemanfaatan ruang pada umumnya sejalan dengan tingkat kepadatan penduduk,
masih merupakpn daerah asal dan daerah tujuan perpindahan penduduk.
dimana Pulau Jawa dan Sumatera mempunyai kepadatan penduduk yang lebih tinggi dari
pulau-pulau lain.
Beberapa propinsi di Jawa yang dikenal sebagai pengirim transmigrasi, yaitu Jawa
Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, memperlihatkan migrasi net yang negatif,
Pulau-pulau di KBI umumnya manpunyai tingkat pemanfaatan ruang untuk kegiatan produksi
sedangkan Jawa Barat dan DK[ Jaya mendapat tambahan terus sehingga migrasi
seperti sawah, perkebunan dan industri serta permukiman juga lebih tinggi dibandingkan
netnya besar. Propinsi-propinsi di luar Pulau Jawa yang terkenal dengan penduduknya
sebagai perantau juga menunjukan migrasi net yang negatif yaitu Sumatera Barat dan
Sulawesi Selatan.
pulau-pulau lainnya (perhatikan Peta 3.3).
t2
Peta 3.4 PETA BESARAN KOTA DTN JAEINGAN TRANSPORTAIII TAHT'N 109{I \,JV KETEMNGAN O Kqr MErRo
Peta 3.4
PETA BESARAN KOTA DTN
JAEINGAN TRANSPORTAIII
TAHT'N 109{I
\,JV
KETEMNGAN
O
Kqr MErRo
rC'TA EESTR
E
K'TA SEDANO
,
I(0TA KEqL
JALAN
i\.ix
ri
JAI.A}I ARTER
.l
1-l ,nn rcurcm
ri
*t--tt\r
'ffi
(r-
t-
\;
\
AqNOIM UDIARA
,?o {Cr.=- 'T
\
m xErs urArA
A xE.ls otJ
\
PELAg,J}I^N |.AI'T
I
rFrs UrAHA
E
xElrs DUA
c\ 1i
\
INDONESIA
n
F. Pola dan Struktur Ruang Wilayah Nasional Akhir pJp I 1. Jaringan Transportasi a. Transportasi
F. Pola dan Struktur Ruang Wilayah Nasional Akhir pJp I
1. Jaringan Transportasi
a. Transportasi Jalan
Pulau Jawa dan Pulau Sumatera telah memiliki prasarana jalan yang relatif
telah berkembang bailc, sedangkan Pulau Kalimantan dan Irian Jaya
ketersediaannya terbatas. Tingkat pelayanan tertinggi terdapat di Pulau Jawa
yakni 0.52 Km/Ih2, Nusa Tenggara O,23 KrnIKm2, Pulau Sumatera 0,14
Km/I(m2, sedangkan yang terendah adalah Irian Jaya 0,0lKm/Km2. Panjang
jalan di Indonesia 224.172,6 Km terdiri dari jalan nasional 5,630/o, jalan
propinsi 18,0 5yo, j al an kabup aten 7 0,89Yo, j alan kotamadya 5,3yo, j alan tol
O,l3yo. Rata-rata pertambahan jalan5,20Yo per tahun (lihat Peta 3.4)
b. Transportasi Kereta Api
Di Pulau Jawa, transportasi kereta api menghubungkan wilayah bagian barat
dan wilayah bagtan timur dan merupakan sistem jaringan. Untuk Pulau
Sumatera jaringan kereta api terdiri atas tiga sistem yang saling terpisah dan
membentuk pola konsentris, berpusat pada pelabuhan laut. Ketiga sistem itu
adalah jaringan kereta api Sumatera Utar4 jaringan kereta api Sumatera
Barat, dan jaringan kereta api Sumatera Selatan yang melayani Propinsi
Sumatera Selatan dan propinsi Lampung.
c. Transportasi Sungai dan Danau
Transportasi sungai dan danau sangat penting peranannya di Pulau
Xatimantan' Pulau Sumatera dan Pulau kian Jaya. Di daerah-daerah tersebut,
khususnya di Pulau Kalimantan angkutan sungai turut berperan sebagai
angkutan utatna maupun angkutan pengumpul dan lokal, sedangkan untuk
transportasi danau berperan sebagai pelayanan lokal.
d. Transportasi Penyeberangan
Transportasi penyeberangan menurut fungsinya adalatr
bagran dari prasarana
transportasi jalan atau transportasi jalan rel. Sampai dengan aldrir PJP I
terdapat 88 lintasan penyeberangan,42Yo lintasan berada di wilayah KBI dan
58% lintasan berada di KTI.
e. Transportasi Laut
Di Indonesia terdapat 1889 pelabuhan yang terdiri atas 656 buah pelabuhan
umum dan 1233 buah pelabuhan khusus. Pelabuhan-pelabuhan tersebut di
atas memberikan pelayanan menurut status, kelas, peran dan fungsinya.
Penyebaran pelabuhan laut relatif kurang merata. Pelabuhan di Pulau
Sumatera dan di Pulau Jawa relatif lebih banyak dibanding dengan pulau-pulau
lainnya. Pada unnrmnya tingkat utilitas rata-rata pelabuhan di Indonesia
cukup tinggr (>60%) kecuali sebugan pelabuhan di Kawasan Timur Indonesia
(<40%).
t4
f. Transportasi Udara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera memiliki jumlah pelabuhan udara yang lebih banyak
f. Transportasi Udara
Pulau Jawa dan Pulau Sumatera memiliki jumlah pelabuhan udara yang lebih
banyak dibandingkan dengan KTL Bandar udara di tndonesia yang digunakan
untuk umum berjumlah 146 yang berdasarkan fungsinya, dibedakan atas :
bandar udara pusat penyebar primer (3 buah), bandar udara pusat penyebar
sekunder (10 buah), bandar udara pusat penyebar tersier (l I buah) dan bandar
udara bukan penyebar (122 buah) Dari 146 bandar udara tersebut 23
diantaranya merupakan bandar udara internasional, yang tersebar di pulau-
pulau besar di wilayah Indonesia. Selain itu terdapat lebih dari 400 bandar
udara khusus, yaitu bandar udara yang dipergunakan untuk keperluan sendiri,
bukan untuk umum.
Jaringan Prasarana Kelistrikan
Jaringan prasarana kelistrikan di Indonesia belum merata. Di Pulau Jawa dan Bali
jaringan kelistrikan sudah terinterkoneksi dengan tegangan 500 Kv. Di pulau
Sumatera belum terinterkoneksi dan bersifat jaringan wilayal,U dan di Pulau Sulawesi,
Irian Jaya serta pulau lainnya jaringannya masih bersifat lokal.
Jaringan Telekomunikasi
Jurnlah satuan sambungan (ss) telepon yang terdapat di Indonesia mencapai lebih
dari 3,0 Juta ss. Tingkat kepadatan telepon per 100 penduduk baru mencapai 1,59 ss
per 100 penduduk. Adapuntingl€t kepadatan telepon per 100 penduduk
di masing-
masing pulau adalah sebagai berikut : P. Sumatera 1,18, p. Jawa
p.
1,92,
Kalimartan 1,06, P. Bali danNusa Tenggara G\ffB +NTf) 1,02, Pulau Sulawesi 0,91
dan Kepulauan Maluku dan Irian Jaya 1,47.
Kondisi Kawasan Permukiman Per*otaan.
Secara menyeluruh, perkembangan penyebaran kota relatif lebih baik bila
dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya seperti Thailand dan
Meksiko. Namun bila dilihat antarpulau, kota-kota metro dan kota besar pada
umumnya terdapat di KBI @ulau Jawa dan Pulau Sumatera). Dari 6 kota metro, 6
kota terdapat di Kawasan Barat tndonesia; dan dari 7 kota besar, 6 diantaranya
terdapat di Kawasan Barat Indonesia. (Lihat Peta 3.4)
Prasarana Pengairan.
Pembangunan pengairan bertujuan mendukung peningkatan produksi pangan dan
mempercepat pertumbuhan kawasan di luar Pulau
Jawa. Pembangunan
irigasi,
baik
yang berzumber dari air
nuupun airtanall lebih banyak di arahkan ke luar
Pulau Jawa" yang juga meliputi daerah rawa. Selama PJP I telah dilaksanakan
perbaikan jaringan irigasi pada areal 2,92 juta H4 pembangunan irigasi termasuk
irigasi air tanah seluas I ,66 juta Ha dan pengembangan daerah rawa sekitar 1, I 6 juta
Ha.
BAB IV B. Arahan Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Daerah ARAH PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN RUANG WILAYAH
BAB IV
B.
Arahan Pengembangan Wilayah dan Pembangunan Daerah
ARAH PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN
RUANG WILAYAH NASIONAL JANGKA PANJANG KEDUA
Pengembangan wilayah dimaksudkan untuk meningkatkan daya dan hasil guna sumber daya
yumg tersebar di wilayah nasional dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Dalam
upaya pengembangan wilayah arah dan kebijaksanaan yang ditempuh adalah
A.
Arah Pembangunan Nasional
l.
Pembangunan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap
Titik berat Pembangunan Jangka Panjang Kedua diletakkan pada bidang ekonomi, yang
memperkokoh kesatuan dan ketahanan nasional serta mewujudkan Wawasan
merupakan penggerak utama pembangunan, seiring dengan lnralitas sumber daya manusia dan
Nusantara.
didorong secara saling memperkuat, saling terkait dan terpadu dengan pembangunan bidang-
2.
Pembangunan selctoral dilakukan secara saling memperkuat untuk meningkatkan
bidang lainnya yang dilaksanakan seiram4 selaras, dan serasi dengan keberhasilan
pembangunan bidang ekonomi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan
pertumbuhan, pemerataan dan kesatuan wilayah nasional serta pembangunan yang
berkelanjutan.
nasional.
3.
Perkembangan wilayah diupayakan saling terkait dan menguatkan sesuai dengan
potensiwilayah.
Memperhatikan keadaan ekonomi nasional sampai akhir PJP I dan masalah-masalah yang
dihadapi, ditentukan rencana pembangunan ekonomi nasonal dengan penekanan pada
penguatan struktur industri dan pemantapan produksi pangan. Perkiraan perfumbuhan
ekonomi nasional selama PJP II terdapat pada Tabel 4.1.
Pengembangan wilayah dilakukan selaras dan menguatkan dengan pembangunan daerah,
mengingat pembangurun daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang
terpadu dengan pembangunan sektoral dalam rangka mengupayakan pemerataan
pembangunan antar daerah. Arah kebijaksanaan pembangunan daerah dalam PJP II adalah
TABEL 4.1. TARGET PEMBANGI.]NAN EKONOMI PADA PJP tr
sebagai berikut :
REPELITAV
REPELITA X
l.
PRODI.]K NASIONAI
Memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka meningkatkan
Pertumbuhan
PDB (%)
2.1
3.5
kesejahteraan rakyat.
Pertsnian
10.0
8.7
Industri Pengolahan
I r.0
9.0
2.
Meningkatkan prakarsa dan peran
serta aktif masyarakat.
Non Migas
6.9
9.5
3.
L:in kin
6.4
E.7
Total
Meningkatkan pendayagunaan potensi daerah secara optimal dan terpadu dalam
mengisi otonomi daerah.
4.
PENDIIDUK (tahrn terakhir)
Jumlah Penduduk (uta orang)
Pertumbuhan (7o per tahun)
189.1
258.2
t.7
0.9
Mengupayakan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air, daerah dan
kawasan yang kurang berkembang (sepeni kawasan timur Indonesia, daerah terpencil
dan daerah perbatasan).
Pendapatan per kapita riil
t.t71
4.993
Iuta Rupiah (harga konstan 1989)
685
2.603
c.
Visi Ruang Wilayah Nasional Akhir PJP tr
TENAGA KERIA
rPAK (%)
55.9
62.1
Argkatan Kerja (uu onng)
78.8
l1'1
.9
Pertumbuhan
(7o per tahun)
J.I
2.0
Dalam rencana pengembangan ekonomi sampai akhk PJP tr (Tabel 4. 1.) terlihat pertumbuhan
Tingkat pengangguran (rata-rata)
3.2
2.O
Produlrivitas (US S / orang)
1.670
4.839
Pertumbuhan (% per tahun)
3.3
6.8
ekonomi akan diupayakan tinggi, dimana industri pengolahan menjadi tulang punggung yang
didukung oleh pertanian yang mantap.
jiwa)
Penyerapan sektoral (uta
Perianian
78.8
147.5
3 8.0
40.8
lndustri pengolahan
[.ain - lain
9.9
28.9
't1.8
Jika upaya pengembangan industri yang memperhatikan keadaan tata ruang yang ada
30.9
dilakukan tanpa melakukan upaya-upaya pemerataan, maka akan terjadi akumulasi
Keterangan :
- Penduduli usia keria adalah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas
- Angkatan ke{a adalah penduduk usia 15 tahun yang bekerja atau mencari pekerjaan
pertumbuhan di kawasan-kaw.asan sudah berkembang. Sikap ini dapat menimbulkan
permasalahan dalam pengembangan wilayah nasional, misalnya.
- TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja) adalah persentase angkatan kerja terhadap
penduduk usia kerja
l.
kawasan-kawasan yang mengalami perkembangan cepat seperti pantai utara P. Jawa,
- Sumber: REPELITA VI. BUKU II
pantai timur P. Sumatera akan semakin berkembang dan menimbulkan implikasi
masalah tata ruang. Perkembangan pantai selatan dan utara P. Jawa menjadi semakin
tidak seimbang dan mendorong terjadinya migrasi dari pantai selatan ke pantai utara,
15
diikuti dengan akumulasi kegiatan ekonomi di pantai utara. Kondisi ini akan 4 industri di P.
diikuti dengan akumulasi kegiatan ekonomi di pantai utara. Kondisi ini akan
4
industri di P. Jawa tetap berkembang akan tetapi perlu memberi perhatian khusus paCa
menimbulkan masalah lingkungan di pantai utara, khususnya di kota-kota besar.
ketersediaan air dan kelestarian
lingkungan
Sementara di Pantai Selatan, kegiatan ekonomi kurang ber-kembang, sehingga
5
meningkatkan
masalah ketertinggalan
desa yang saat ini sudah
banyak
ditemui.
luas lahan pertanian secara nasional tetap dipertahankan untuk menjaga kemandirian
dibidang produksi pangan Dengan demikian perubahan fungsi lahan pertanian yang
2. perkembangan ini akan mempertajam konflik penggunaan lahan subur antara
permukiman, industri dan tanaman pangan di wilayah tersebut, dan akan dapat
ada di P. Jawa yang menjadi permukiman dan kawasan industri harus diganti dengan
pembukaan sawah baru di luar P. jawa.
mempengaruhi produksi pangan nasional.
6.
penyebaran kegiatan ekonomi didorong ke KTI dengan memperhltikan potensi
3. perkembangan pantai utara P. Jawa juga akan menarik migrasi dari luar pulau yang
sumber daya alanq saling menguatkan dengan pengembangan pusat-pusat permukiman
mengakibatkan polarisasi penduduk di P. Jawa dan mengakibatkan semakin
dan dapat menciptakan kesempatan kerja sehingga dapat menarik penduduk dari
terbatasnya daya
4.
dukung lahan dan air
daerah padat.
pantai timur P. Sumatera akan berkembang jauh lebih cepat dari pantai barat dan akan
membawa implikasi spasial terhadap masalah lingkungan di perkotaan pantai timur P.
D. Perkiraan Perkembangan Ekonomi Wilayah dalam PJP II
Sumatera serta terbat:rsnya perkembangan ekonomi di pantai barat.
5. perkembangan pantai timur P. Sumatera dan pantai utara P. Jawa akan menyebabkan
ti"gLat perkembangan P. Sumatera dan P. Jawa semakin tingg dan jauh meninggalkan
Berdasarkan visi ruang akhir PJP II di atas, dilakukan perkiraan persebaran kegiatan
ekonomi wilayah yang konsisten dengan perkiraan ekonomi makro PJP II.
KTI. Hal ini dapat menyebabkan polarisasi kegiatan ke KBI sehingga semakin sulit
mewujudkan pemerataan pembangunan antarwilayah dalam ruang wilayah nasional.
6.
Perkiraan ini dilakukan dengan unit analisis propinsi dan pulau-pulau utama berdasarkan
ekonomi KTI akan terbebani biaya
tinggi
karena jauh dari pusat-pusat pertumbuhan.
7. investor semakin kurang tertarik ke KTI sehingga akan mengalami kesulitan untuk
perkembangan ekonomi wilayah dalam periode PJP I dan skenario intervensi kebijaksanaan
pembangunan dalam PJP II, yaitu intervensi kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong
mempromosikan sumber daya alam yang potensial untuk perkembangan ekonomi
pemerataan pembangunan. Juga digambarkan pentahapan perubahan kegiatan sektor-sehor
nasional.
ekonomi secara spasial dan perkembangan penduduk dan lahan pertanian.
8. dalam jangka panjang kerusakan linglamgan dan daya dukung P. Jawa pada akhirnya
akan dapat menghalangi efisiensi pertumbuhan ekonomi nasional karena biaya
I
.
Metodologi Perkiraan Perkembangan Ekonomi Wilayah
pemeliharaan lingkungan yang semakin mahal.
Menghadapi masalah tersebut, dari sisi spatial (keruangan) dibutuhkan suatu pandangan ke
Perkiraan ekonomi wilayah (propinsi dan pulau) dilakukan atas dasar Tabel Input--
Output (I-O) Nasional terakhir (1990) dan data perkembangan ekonomi wilayah
depanatau visi pemanfaatan ruang dalam PJP II' dimana pola persebaran kegiatan ekonomi
dan penduduk lebih merata di wilayah nasional.
terakhir, yang kemudian dirinci lebih lanjut ke dalam bentuk Tabel I-O regional
sektoral. Tabel I-O menggambarkan hubungan dinamis antarsektor produksi dalam
suatu ekonomi maupun hubungannya dengan sektor-sektor di ekonomi (negara)
Visi ruang tersebut di atas secara skematis digambarkan pada Peta 4.1, dimana sebaran
kegiatan ekonomi yang lebih merata diantara pulau-pulau utama serta keterkaitan kegiatan
lainny4 serta menggambarkan seberapa besar output yang dihasilkan berdasarkan
input yang diberikan pada selctor produksi dan besaran fakror produksi.
ekonomi antar pulau.
Perkiraan perkembangan ekonomi u'ilayah didasarkan atas perubahan-perubahan yang
Dalam visi ruang tersebut tercakup pemikiran-pemikiran mengenai pemanfaatan ruang wilayah
nasional sebagai berikut :
diharapkan pada permintaan akhir sebagai variabel eksogen, khususnya investasi
pemerintah dan besaran ekspor (antar propinsi maupun ke luar negeri) sebagai akibat
adanya intervensi kebij aksanaan pengemb angan wilayah.
I
perkembangan kegiatan ekonomi antarpulau yang semakin seimbang dan semakin
terkait untuk mendorong terwujudnya pemerataan pembangunan dan kesatuan
Pendekatan yang diambil dan 1'ang melatarbelakangi perkiraan ekonomi wilayah ini
wilayah nasional.
adalah:
2
sektor industri yang semakin menyebar di luar P. Jawa dan P. Sumatera sesuai dengan
potensinya
untuk mempercepat
perkembangan
ekonomi
wilayah.
a.
Proporsi hubungan antarsektor dalam satu propinsi maupun antar propinsi
3.
penyebaran kegiatan ekonomi yang sezuai dengan potensi kawasan di wilayah nasional
(technical coefficient) diasumsikan sama dengan proporsi hubungan
dan membentuk keterkaitan yang mewujudkan penguatan struklur ekonomi secara
antarseklor secara nasional.
sekloral dan reeional.
b
Hubungan ekspor-impor antarpulau didasarkan pada data ekspor-impor
antarpulau, data I-O nasional dan asumsi hubungan dan intensitas ekspor-
l6
VIEI RUAI{G frIIAYAII NAiIIONAI. AIGIB PJP II O TNDUSTRI PEhI/EDAAN B{HAN AAKU,/DAS\R FooT LOOSE/ PADAT
VIEI RUAI{G
frIIAYAII
NAiIIONAI.
AIGIB PJP II
O TNDUSTRI
PEhI/EDAAN B{HAN
AAKU,/DAS\R
FooT LOOSE/
PADAT KARYA
A
PERTANIAN
TAMIY1AN PANGAN
PERKEBUMN
ffi
PERil(A}.|AN
KEHIJTAMN
tl
PARrttusArA
B{I-IAN OI.AHAN
E BAHAN E{KU
,2d\o
Hplxosl a(oNoMl
fi \oad
]tI{DOI{]TSTA
4t
impor antarpulau berdasarkan hubungan geografi s terdekat. ekonomi juga mempengaruhi perkembangan perkotaan yang terlihat
impor antarpulau berdasarkan hubungan geografi s terdekat.
ekonomi juga mempengaruhi perkembangan perkotaan yang terlihat dari
c. Kebijaksanaan investasi didasarkan atas keinginan untuk mendorong daerah-
daerah diluar Jawa dan Kawasan Timur Indonesia (KTD dengan :
meningkatnya tingkat urbanisasi. Tingkat urbanisasi ini meningkat disebabkan karena
i. Porsi investasi untuk Sumatera terhadap investasi total nasional sama
sepertr porsi pada awal PJP I[.
tiga hal: pertama, pemekaran kota itu sendiri sebagai akibat meluasnya kegiatan
penduduk kota; kedua, meningkatnya arus migrasi penduduk desa ke kota, karena
adanya faktor penarik dari kota itu (seperti kegiatan ekonomi, dan lainnya); dan yang
ii. Porsi investasi untuk propinsi-propinsi KTI terhadap investasi total
terakhir adalah karena faktor pendorong di daerah asal (perdesaan)- Perkiraan
nasional rata-rata selama PJP II ditingkatkan 1,6 kali investasi pada
penduduk perkotaan diberikan pada Tabel 4.4 dan gambar persebaran kota diberikan
awal PJP II.
padaPeta 4.2.
iii. Porsi investasi untuk Pulau Jawa ditetapkan 0,4 kali investasi pada
awal PJP II.
d. Peningkatan laju ekpor non migas di KTI rata-rata l3%o, danrata-rata di KBI
sekitar l lo%.
e. Perkiraan komsumsi masyarakat didasarkan atas asumsi besaran elastisitas
konsumsi terhadap PDB.
Berdasarkan analisis perkembangan masa lalu (dengan data tahun dasar 1993) serta
perubahan-perubahan kebijaksanaan tersebut di atas, maka dapat diperkirakan
perkembangan ekonomi wilayah (propinsi dan/atau pulau) untuk Repelita VI hingga
Repelita X yang diindikasikan oleh perkembangan laju pertumbuhan ekonomi per
propinsi atau per pulau, peranan setiap propinsi dalam ekonomi Indonesia secara
keseluruhan baih termasuk seklor migas maupun di luar sektor migas, serta
perubahan struktur ekonomi (pergeseran peranan sektor pertaniarl seldor industri,
dan sektor jasa-jasa). Perkiraan ekonomi propinsi menggunakan tahun dasar 1993
diberikan pada T abel 4.2.
E.
Perkiraan Perkembangan Penduduk
l.
Umum
Dengan memperhatikan perkembangan seklor-sekfor produksi di masing-masing
propinsi, diperkirakan jumlah penduduk akan meningkat di setiap propinsi sebagai
akibat meningkatnya kesempatan kerja di berbagai sektor produksi. Perkiraan
peningkatan penduduk ini menggunakan asumsi-asumsi elastisitas tenaga kerja di
masing-masing sektor produksi. Selanjutnya dengan menggabungkan pertumbuhan
penduduk disebabkan migrasi akibat meningkatnya kesempatan kerja dengan
pertumbuhan penduduk secara alamiah, diperoleh perkiraan pertumbuhan penduduk
secara total pada akhir PJP II. Perkiraan penduduk diberikan pada Tabel 4.3.
)
Perkembangan Penduduk Perkotaan
Sejalan dengan perkembangan kegiatan ekonomi yang semakin meningkat, struktur
perekonomian yang semula didominasi seklor pertanian dan primer lainnya mulai
bergeser ke sektor industri (industri dan pertambangan) serta ke seklor tersier
(konstruksi, utilitas, keuangan dan jasa lainnya). Kegiatan ekonomi di kedua sektor
terakhir umumnya berlokasi di daerah perkotaag sehingga transformasi struktur
l8
TABEL 4.3. PERK|RAAN PENDUDUK (TOTAL DAN KOTA) PADA Tabel4.2. PERIflRAAI\EKONOMIPROPINSI AKHIR PJP II (Dalam Juta
TABEL 4.3. PERK|RAAN PENDUDUK (TOTAL DAN KOTA) PADA
Tabel4.2.
PERIflRAAI\EKONOMIPROPINSI
AKHIR PJP II (Dalam Juta Jiwa)
PDRB TOTAL
PDRB NON MIGAS
Laju
DISTRIBUSI PDRB
Laju
DISTRIBUST PDRB
Propinsi
JUMLAII PEI\IDIJDUK
Rata-Rata
Reta-Rata
I 993
2018 o/o
I 993
2018
(o/o)
o/o
% Yo
Vo
TAIIUN 1990
AKHIRPJPtr
PULAU
D.l. Aceh
l8l
TOTAL
KOTA
TOTAL
8_10
3.49
3.90
100
KOTA
3.68
Sumatera Utara
9-80
5_64
9.46
9.90
6-t0
9-62
Jrrmlnh
(%)
Jrrmleh
(%)
Jumlah
(%)
Jrrmlah
(%)
Sumatera Barat
9-30
t-76
2.62
9.30
1.95
2-68
Jawa
107,50
60p2
36,70
6't 99
144,05
55,79
8123
60,53
Riau
660
453
3.62
10.80
t66
3.20
?? ?,
Srrmatera
36.40
2032
to20
18,65
58.40
22,61
24,83
Jambi
9-30
o74
t09
9-30
0.81
l^l
Kalims6l
Sumatera Seletan
8.80
3-76
4.99
9.20
3.50
9,10
5,08
2,50
4,57
16,47
6,38
5,15
3,U
4.71
Benskulu
7.90
0-46
0-49
7.90
0.51
0.50
Sularvesi
12,50
698
2,70
4,94
18,67
723
8,15
697
Lempung
10.50
1.77
3.45
l0-50
197
3.53
Lainnva
13.60
7,59
2,60
4,'15
20,63
7,99
6,36
4;14
D.K.l. Java
7.20
l4-09
12-.93
720
15.66
13.22
TOTAL
179,10
100,00
54,7O
100,00
2582
100,00
r342
100,00
Jawa Barat
6_20
16.46
1.90
6.30
l7-35
I1.98
t?0
Jawa Tensah
5.20
6-80
5.40
I 1.83
6.55
I05
tos
D.I. Yowakarta
7.70
l.t7
l.l8
7 -70
Jawa Timur
6^80
t6 l6
192
6.30
17.95
12.19
TABEL 4.4. PERKIRAAN JTJMLAII KOTA DAI{ PEI\DT'DTJK MENURUT
BESARAN KOTA PADA TAHUN 1990 DAN AKITIR PJP II
Kalimantan
Barat
1220
l) )o
l -53
4-44
l -7l
4.54
Kalimanten Tensah
9.30
0-82
t.24
9.30
0-92
t.26
TAHIJN T99O
AKHIRPJP II
BESARAN
Kelimenten Selatan
8.90
t-41
l-90
890
l-55
1.93
KOTA
Jumlah
Jumlah
Kalimantan Timur
6.80
4_87
407
9t0
2-90
3.80
Sulawesi Utarr
9.20
0.80
l.t7
9.20
0-88
l9
Kota
Penduduk
Kota
Penduduk
fiuta jiwa)
Sulawcsi Teneah
RSO
0.5t
0.63
8-50
0.56
o64
fiuta jiwa)
Sutawesi Selatan
t0 70
2-35
4.78
10.70
261
4.89
Metro )
6
14,10
t6
45,01
Sulawesi Tcnseara
8t0
o.42
o.47
8.10
046
0.48
Besar
4.95
23
14,09
Bali
9.10
l-64
2.34
9_10
t.82
2.39
NTR
ROO
o7R
oR6
Rnn
o87
ORR
Sedang
62
12,50
t75
49,98
N.T.T
o7)
7.90
0-66
7-90
0-73
075
Kecil/l-ainnya
1237
23.t5
t67 4
25,r2
Maluku
9.60
o79
1.34
9-90
0-88
136
Irian Java
7.70
1.56
1.62
7.90
t.66
1.67
TOTAL
13l2
s4JO
1888
1342
Timor Timur
7.90
0.16
0.18
7 -90
0.18
0.20
*)
Catatan :
Sumate ra
8.80
22.15
t8-3r
l
29.62
9.90
a)
29.03
Metro : Kota
dengan
penduduk lebih
dari 1juta
Jawa + Bali
b)
6,60
61.19
46.98
6.50
65.78
47.51
Mega Urban . Kota yang terdiri dari aglomerasi beberapa kota
Kalimantan
8.70
8-63
I65
t0.00
7.08
I 1.53
c)
Sulawesi
10.00
408
7.05
10.00
4.51
720
dengan penduduk lebih besar dari 5 juta.
Megapolitan: Kota yang terdid dari aglomerasi beberapa kota
metropolitan dan kota-kota lainnya.
Pulau KTI lainnya
8,20
3,95
4,72
8.40
4,32
4,86
2.
KBI fl.r)
730
83.34
76.60
7.50
84 09
76.54
Pada tahun 1990 kota metro yang sudah megapolitan (berpenduduk
> 5 juta) adalah Jakarta.
KTI(I3)
8.90
l6-66
23.42
9.60
15.91
23.59
lndones in
I fn-fxl
ln{l fm
7qo
7 -60
10,0-(}0
I flo ()(l
l9
t J. Pada akhir PJP II kota-kota metro diperkirakan membentuk aglomerasi dengan kota disekitamya (megaurban)
t
J.
Pada akhir PJP II kota-kota metro diperkirakan membentuk
aglomerasi dengan kota disekitamya (megaurban) antara lain :
a)
DKI bersama Bekasi, Tangerang,
Depolq
Cibinong dengan
jumlah penduduk sekitar
l5,l
juta
jiwa
(megaurban/
megapolitan).
b) Bandung bersama Cimahi dan kota-kota lain disekitarnya
dengan
jumlah
penduduk
4,5
juta jiwa.
c) Surabaya bersama Gresih Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan
dengan
jumlah
penduduk
sekitar 5,1juta
jiwa.
d) Medan bersama Binjar, Lubuk Pakam dengan jumlatr
penduduk
4,5
jiwa.
e) Ujug Pandang dengan Sungguminasa, Maros, Takalar,
Parrgkajene dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa.
20
Peta 4.2 (t lr- Oo- I W i$,rim (p ,* gpplx (q s JurA) MEIRO
Peta 4.2
(t
lr- Oo-
I
W i$,rim
(p
,*
gpplx (q s JurA)
MEIRO
B6AR
lG-l srorr.re
lT-l recu
JALAN
JI,I.AN ARIEil
JAII}I KOLEKTOR
FIEIBUMN I4TT
I
UrAMA FRI,B
E
UTAIA SEToNDER
BANqARA UDARA
E
urArr^
Ao.A
JI,I.UR AI€KUTAN
E t.*r
HAtEArAl{
F:E uux xffirA Apl
zEE
=EArfs
nll DONESIA
rI

BAB V

STRATEGI DAI\ ARAHAN KEBIJAKSANAAN

PEMANFAATAN RUANG WILAYAH NASIONAL

Tujuan Nasional Pemanfaatan Ruang

Sesuai dengan Pasal20 ayat I UIJP& salah satu muatan RTRWN adalah tujuan nasional pemanfaatan ruang.

Memperhatikan tata ruang yang ada dan tata ruang akhir PJP II yang diinginkan, tujuan

nasional pemanfaatan nrang untuk peningkatan kesejahteraan maqyarakat dan pertahanan

keamanan ditetapkan sebagai berikut :

1. Mencegah timbulnya kenrsakan frmgsi lingkungan hidup melalui :

a. peningkatan frmgsilindung te,rhadap tanah, air, iklim, keaneka-ragaman hayati,

tumbuhan dan satwa serta nilai

sejarah dan budaya bangsa;

b. pemeliharaan keanekaragaman hayatq ekosistem dan keunikan alam serta kearifan tradisional;

c. petretapan pokok-pokok lriteria pe,nentuan kawasan berfungsi lindung serta

kebij aksanaan pengelolaannya.

2. Mencapaipemanfaatan sumber daya yang optimal melalui :

a. pemenfaatan sumber daya alam yang seoptimal mungkin dengan tetap

memperhatikan kelestarian

lingkungan;

b. pengaturan lokasi pemanfaatan lahan yang menghasilkan sinerg keterkaitan sektor dalam wilayah nasional dan mengfuindari konflik pemanfaatan nrang dan sumber daya.

c. penetapan pokok-pokok kriteria penentuan kawasan budi daya serta

kebii aksanaan p e,ngelolaannya.

3. Meningkatkan keseimbangan perkembangan antar kawasan melalui pemanfaatan

ruang kawasan secara serasi selaras dan seimbang serta berkelanjutan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mempercepat perhrmbuhan kawasan tertinggal

dan meningkatkan daya dukung lingkungan.

4. Meningkatkan kemampuan memelihara pertahanan keaman an negara yang dinamis

dan memperkuat integrasi nasional.

Untuk mewujudkan tujuan pemanfaatan tersebut ditempuh strategi pengembangan dan pemanfaatan kawasan berfrrngsi lindung dan budi daya beserta keterkaitannya dengan

pengembangan permukiman, prasarana pendukung dan dengan pertahanan keamanarl ss13 strategi pengembangan kawasan tertentu.

22

Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional

Struktur dan pola ruang wilayah nasional meliputi strategi atau langkah-tangkah yang perlu

dibuktikan delam pengembangan dan pengelolan kawasan untuk mewujudkan tata ruang yang

dinginkan.

1. Strategi Pengembangan Kawasan

a. Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan Berfungsi Lindung

1)

Memeliharakelestarianlingkungan

a)

b)

c)

(1)

(2)

(3)

(4)

Untuk mewujudkan kelestarian alam diupayakan dengan melakukan perlindungan kawasan-kawasan di darat, laut dan udara yang saling

serasi dan selaras.

Perlindungan kawasan di darat dan di laut diupayakan untuk

melindungi lingkungan fisik alam, buatan dan budaya meliputi :

kawasanyang memberikan perlindungan kawasan bawahnya;

kawasanperlindungansetempat;

kawasan zuaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya; kawasan rawan bencana alam-

Perlindungan kawasan di laut diupayakan untuk melindungi

d)

e)

0

lingkungan alam dan kekayaan laut meliputi :

(1)

(2)

kawasan-kawasan taman laut;

kawasan-kawasan

teryat reproduksi

hayati laut.

Perlindungan kawasan di udara diupayakan untuk melindungi

kelestarian iklim dan kualitas udara serta kedaulatan negara.

Untuk itu di

(1)

(2)

(3)

udara ditetapkan adanya:

kawasan terbatas;

kawasan terlarang; kawasan terkendali.

Penentuan kawasan-kawasan berfungsi lindung didasarkan pada

prinsip melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup

sumber daya alam, zumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya

bangsa guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu

faktor-faktor fisik seperti sifat-sifat tanah, kemiringan lahan,

ketinggian permukaan bumt penutupan lahan, kondisi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, teknologi yang tersedia, nilai sejarah

dan budaya bangsa digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan kawasan berfirngsi lindtrng.

Kawasan-kawasan yang berfirngsi lindung diupayakan agar dapat membentuk suatu kesatuan pada setiap pulau.

Untuk itu :

(l)

(2)

(3)

kawasan berfungsi lindung pada daerah perbatasan wilayah

administrxsi harus

selaras satu sama lain;

kawasan berfrrngsi lindung di pantai, seperti hutan bakau, perlu diupayakan membentuk suatu kesatuan sezuai dengan

sistem hidrologi dan kondisi pantai;

kawasan berfungsi lindung, seperti hutan dan gambut, perlu

diupayakan membentuk ruatu kesatuan sezuai dengan kondisi

hidrologi tanah dan habitat yang ada didalamnya.

g) Diupayakan secara bertahap mengembatikan firogsi kawasan yang

berfungsi lindung yang telah terganggu untuk dapat memelihara

keseimbangan alam dengan memperhatikan ftsmampuan nasional

2)

3)

teknologi yang tersedia, kondisi sosial ekononi dan budaya.
h)

Kawasan-kawasan yang berfirngsi lindung selain untuk melindungi pelestarian alam dan budaya, juga dapat dimanfaatkan unnrk kegiatan sosial ekonomi seperti pertambangan, penelitian" pariwisata dan lain- lain dengan qyarat bahwa fungsi lindung yang diemban kawasan

tersebut tidak terganggu.

Kegiatan Budi Daya dalamKawasan Berfrrngsi Lindung :

a)

Dalam kawasan lindung sejauh mungkin dihindari kegiatan budi daya dan permukiman.

b) Apabila dalam kawasan lindung perlu dikembengl<mkegiatan budi daya yang sangat menguntmgkan unfuk pembangunan nasional

kefSiatn'tersebut dapat dilakukan dengan syarat fitogsi lindung tidak terganggu.

Kegiatan Permukiman Dalam Kawasan Lindung.

Apabila terdapat kegiatan permukiman di dalam kawasan rindung,

diusahakan agar kawasan permukiman tidak berkembang atau meluas secara

spasial mengganggu fungsi lindung. Perlu diupayakan secara bertahap,

sesuai dengan kemaryuan pendanaan, teknologi dan kondisi sosial budaya,

trntuk mengembalikan fungsi lindung.

4)

Kegiatan Pengembangan Prasarana Dasar Dalam Kawasan Berfunesi

Lindung. a)

Apabila dibutuhkan, jaringan prasarana dasar seperti jaringan

b)

transportasi, jaringan kelistrikan, jaringan telekomunikasi, prasarana dan sarana distribusi air bersih serta bangunan pengendali gempa dan bencana alam dapat dibangun melalui atau dalam kawasan lindung dengan tetap meryertahankan fungsi kawasan lindung.

untuk pembangunan prasarana pada butir a) di atas pada kawasan

lindung, diperbolehkan melakukan penelitian pendahuluan dengan

tetap meryertahankan agar frurgsi lindung dan kawasan tersebut tidak terganggu.

5)

Pertahanan Keamanan Dalam Kawasan Lindung

a) Selunrh kawasan lindung dapat digunakan untuk pertahanan

keamanan, dengan syarat firngsi lindung tetap terpelihara.

b) penelitian dan latihan di

Dalam kondisi damai

dimungkinkan trntuk melakukan penelitian--

kawasan lindung dengan tetap

memp ertahankan fungsi lindungnya.

b. Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan Budi Daya

1)

Pengembangan Kegiatan Budi Daya

a)

(b)

c)

d)

e)

0

g)

Pemanfaatan ruang dan sumber daya untuk kegiatan produksi dalam

kawasan budi daya di darat, laut dan udara diutamakan untuk

kemahnuran maqyarakat melalui upaya peningkatan keterkaitan yang saling mengkaitkan dengan kegiatan lainnya yang berdekzfan, sertl upaya mengurangi semaksimal mungkin dampak negatif terhadap

kelestarian lingkungan dan kehidupan sosial-budaya masyarakat

disekitarnya.

Kegiatan budi daya di darat, laut dan udara dikembangkan saling

menguatkan, serasi dan selaras dengan pengembangan permukiman,

dengan memperhatikan potensi sumber daya alam, sumber daya

buatan, prasarana pen-dukung, kemampuan investasi nasional dan

kondisi ekonomi global

Pengembangan kegiatan budi daya dipantai harus menjaga kelestarian

pantai untuk itu apabila dilakukan pe,ngunrkan daerah pantai harus

betul-betul memperhatikan kelestarian alam dan tidak menggangu

sistem hidrologi p antai

Untuk mempertahankan swasembada pangan nasiona! secara

nasiona! luasan lahan pqrtanian pangan perlu dipertahankan, untuk itu perubahan fungsi lahan pertenian untuk kegiatan lain harus selalu diganti dengan membuka lahan pertanian baru. Perkembangan kegiatan industri diupayakan menyebar di wilayah nasional dengan meryerhatikan potensi dan kondisi wilayah nasional.

Pengembangan kegiatan-keglatan budi daya beserta prasarana

penuqiangnya di darat dan laut dilakukan dengan memperhatikan

ketentuan pengaturan penggunaan ruang udara yang berlaku agar

dapat menghasilkan sinergi antar kegiatan dalam mewujudkan tata

ruang yang tertib, teratur, efisien, selaras dan serasi dalam memrnjang

kegiatan pembangunan.

Diupayakan untuk menyebarkan perkembangan kawasan-kawasan

andalan dengan sektor unggulannya di

wilayah nasional untuk

mendorong pertumbuhan dan pemerataan perkembangan

antarwilayah. Perkembangan tersebut dilakukan dengan

memperhatikan potensi daerah, permukiman dan penduduk,

23

fSe*?;

kemampuan investasi nasional sumber daya buatan dan kondisi

ekonomi global.

h) Dalam pengembangan kawasan andalan dan sektor unggulannya seperti disebut pada butir g) di atas, perlu dipadukan dengan

pengembangan kegiatan transmigrasi dan permukiman perambah

hutan, agar pengembangan wilayah di Indonesia dapat saling

menguatkan dengan p engem-bangan kep endudukan. i) Diupayakan unnrk meningkatkan keterkaitan yang saling menguatkan

antar kawasan andalan dalam wilayah nasional untuk meningkatkan

2)

sinergi p erkembangan sebesar-besanrya.

j) Kawasan