Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Pengobatan bedah ortopedi secara umum mengikuti prinsip dasar pengobatan
penyakit lainnya dan berpedoman kepada hukum penyembuhan (law of nature), sifat
penyembuhan, serta sifat manusia pada umumnya. Disamping pemahaman tentang
prinsip dasar pengobatan yang rasional, Metode pengobatan disesuaikan pula secara
individu terhadap setiap penderita. Pengobatan yang diberikan juga harus berdasarkan
alasan mengapa tindakan ini dilakukan serta kemungkinan prognosisnya.

(1)(2)

Secara umum prinsip pengobatan ortopedi adalah:

Jangan membuat keadaan lebih buruk bagi penderita (iatrogenik)


Pengobatan berdasarkan diagnosis dan prognosis yang tepat.
Pilih jenis pengobatan yang sesuai dengan keadaan penyakit penderita
Tujuan utama pengobatan penderita adalah mengurangi, membantu dan
mengatasi penyakit yang dideritanya. Sebagai contoh, seorang penderita yang
datang dengan kelainan musculoskeletal dengan gejala-gejala nyeri, gangguan
fungsi dan adanya deformitas, maka tujuan pengobatan adalah menghilangkan
nyeri, memperbaiki fungsi anggota gerak, dan mencegah atau mengkoreksi

kelainan yang ada.


Ciptakan kerjasama yang baik tanpa melupakan hukum penyembuhan alami
Terutama pada anak-anak yang masih bertumbuh sangat menakjubkan sehingga

hukum penyembuhan dan sifat jaringan tubuh hahrus dipertimbangkan


Pengobatan yang praktis dan logis
Pilih pengobatan secara individu
Perlu dipertimbangkan pengobatan berdasarkan keadaan penderita serta pilihan
pengobatan yang tersedia. Kadang kala, kita arus memilih pengobatan sesuai
dengan kemauan dan kemampuan penderita tetapi tetap tidak melupakan

prinsip-prinsip dasar pengobatan yang rasional.


Jangan melakukan pengobatan yang tidak perlu

Pada umumnya, metode pengobatan pada bidang ortopedi dibagi dalam tiga
cara, yaitu tanpa pegobatan, pengobatan non-operatif (konservatif), dan pengobatan
1

operatif. Sekurang-kurangnya 50% penderita (tidak termasuk fraktur) tidak memerlukan


pengobatan dan hanya diperlukan penjelasan serta nasihat-nasihat seperlunya dari
dokter. Tapi tidak jarang penderita belum merasa puas bila hanya diberi nasihat
(terutama oleh dokter umum) sehingga perlu dirujuk ke dokter ahli bedah tulang untuk
penjelasan rinci tetntang penyakit dan prognosisnya.
Metode pengobatan non operatif diantaranya adalah:

(1)(2)

Istirahat
Istirahat merupakan salah satu jenis pengobatan, baik secara umum ataupun
hanya lokal dengan mengistirahatkan anggota gerak/tulang belakang dengan
cara-cara tertentu. Istirahat juga dimaksudkan dari aktivitas sehari-hari atau

aktivitas olahraga.
Pemberian alat bantu
Pemberian alat bantu bertujuan untuk mengistirahatkan bagian tubuh yang
mengalami gangguan, untuk mengurangi beban tubuh, membantu untuk
berjalan, untuk stabilisasi sendi atau untuk mencegah deformitas yang ada
bertambah berat. Alat bantu ortopedi bisa bersifat sementara dengan
menggunakan bidai pada badan (gips korset), bisa juga untuk pemakaian jangka
lama/permanen misalnya pemberian ortosis, protesa, tongkat atau pemberian
alat jalan lainnya untuk menyangga bagian-bagian dari anggota tubuh atau

anggota gerak yang mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada penderita.


Pemberian obat-obatan
Anti-bakteri, antiinflamasi, anagetik dan sedatif, obat-obat sitistatik, vitamin,

injeksi local yang biasanya menggunakan kortikosteroid.


Manipulasi
Manipulasi bertujuan untuk mengoreksi deformitas, menambah gerakan sendi,
dan mengurangi neri kronik pada sekitar sendi atau pada sendi. Tindakan
manipulasi dapat dilakukan dengan atau tanpa anesthesia, baik lokal maupun

umum, dan kadangkala diperlukan relaksasi otot maksimal.


Pemasangan gips (plester of paris)
Pemasangan gips merupakan salah satu pengobatan konservatif pilihan
(terutama pada fraktur) dan dapat dipergunakan di daerah terpencil dengan hasil
yang cukup baik bila cara pemasangan, indikasi, kontraindikasi serta perawatana
setelah pemasangan diketahui dengan baik.
2

Pemasangan traksi
Traksi merupakan salah satu pengobatan konservatif yang mudah dilakukan
oleh setiap dokter dan bermanfaat dalam mereduksi suatu fraktur atau kelainankelainan lain seperti spasme otot. Traksi yang dipasang memakai pemberat

dengan berat badan sebagai counter traksi.


Fisioterapi dan terapi okupasi
Fisioterapi terutama diaplikasikan untuk pengobatan anggota gerak bawah dan
tulang belakan, sedangkan terapi okupasi lebih diarahkan untuk mengembalikan

fungsi sehari-hari anggota gerak atas


Radioterapi

BAB II
PENGERTIAN TRAKSI

Traksi mempunyai peran penting dalam menangani kasus-kasus Ilmu Bedah


Tulang. Traksi merupakan salah satu pengobatan konservatif yang mudah dilakukan
oleh setiap dokter dan bermanfaat dalam mereduksi suatu fraktur atau kelainankelainan lain seperti spasme otot. Traksi yang dipakai memakai pemberat dengan
berat badan penderita sebagai counter traksi. (1)
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk
menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi
adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk
memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama dari
traksi: traksi skeletal dan traksi kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah
penanganan. Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian
tubuh, tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan
pada arah yang berlawanan yang disebut dengan counter traksi. Mekanisme traksi
meliputi tidak hany a dorongan traksi sebenarnya tetapi juga tahanan yang dikenal
sebagai kontertraksi, dorongan pada arah yang berlawanan,diperlukan untuk
keefektifan traksi, kontertraksi mencegah pasien dari jatuh dalam arah dorongan
traksi. Tanpa hal itu, spasme otot tidak dapat menjadi lebih baik dan semua
keuntungan traksi hanya menjadi lewat saja.
Tujuan traksi diantaranya adalah:

(5)

Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu kesegarisan (alignment)


maupun keseimbangan (stability) pada suatu patah tulang dan dislokasi.

Meringankan nyeri akibat spasme otot

Imobilisasi anggota tubuh

Memperbaiki deformitas

KULIT
JENIS

TRAKSI

SKELETAL

TRAKSI KULIT

DUNLOP'S SKIN
TRACTION

TRAKSI SKELETAL

OVERBODY /LATERAL
SKELETAL TRACTION

EKSTREMITAS ATAS

TRAKSI KULIT BUCK'S


EXTENSION
EKSTREMITAS
TRAKSI KULIT

TRAKSI HAMILTON
RUSSELL
TRAKSI GALLOWS

EKSTREMITAS BAWAH
KESATUAN TRAKSI
CHARNLEY
TRAKSI SKELETAL

TRAKSI SKELETAL
BALANCEDSUSPENSION
TRAKSI SKELETAL
TERPAKU

BAB III
PEMBAHASAN

JENIS-JENIS TRAKSI (1)(2)(5)


Dikenal dua jenis pemasangan traksi, yaitu:
3.1 Traksi Kulit
Traksi kulit menggunakan plester lebar yang direkatkan pada kulit dan
diperkuat dengan verban elastis. Berat maksimum yang dapat diberikan adalah 5 kg
yang merupakan batas toleransi kulit. Traksi kulit digunakan untuk periode yang
pendek dan lebih sering untuk manajemen temporer fraktur femur dan dislokasi
serta untuk mengurangi spasme otot dan nyeri sebelum pembedahan.

(1)(6)

Traksi kulit dapat untuk terapi definitif maupun sementara atau sebagian
pertolongan pertama. Tenaga traksi dilanjutkan pada tulang lewat fasia superficial,
fasia dalam (deep) dan / serta intermuskular. Tenaga traksi berlebih dapat
menimbulkan laserasi kulit. Berat maksimum sebaiknya tidak melebih 5 Kg,
tergantung dari besar atau kecilnya penderita dan dari usia penderita. Bilamana
digunakan beban maksimal sebaiknya hanya 1 minggu. Bilamana kurang dari beban
tersebut, dan kulit penderita diperiksa 2 kali minggu, traksi kulit dapat digunakan
dengan aman selama 4-6 minggu.
A Indikasi traksi kulit: (1)(2)
Indikasi traksi kulit antara lain :
Terapi pilihan pada fraktur femur dan beberapa fraktur suprakondiler
humeri anak-anak.
Pada reduksi tertutup dimana manipulasi dan mobilisasi tidak dapat
dilakukan.
Pengobatan sementara pada fraktur sampai menunggu terapi definitif.
Fraktur yang sangat bengkak dan tidak stabil misalnya pada fraktur
suprakondiler humeri pada anak-anak.
Untuk traksi pada spasme otot atau pada kontraktur sendi.
6

B Kontraindikasi traksi kulit :


Pemasangan traksi kulit hendaknya tidak dilakukan pada keadaan-keadaan
beriku :
-

Jika terdapat abrasi kulit

Laserasi pada kulit

Gangguan sirkulasi seperti varises atau impending gangrene.

Dermatitis

Beban yang dibutuhkan lebih besar dari maksimal beban traksi kulit.

C Komplikasi traksi kulit.


Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pemasangan traksi, yaitu:
-

Timbul reaksi alergi pada traksi kulit berperekat

Abrasi, ekskoriasi atau infeksi kulit

3.1.1. Traksi kulit pada ekstremitas atas(5)


a. Dunlops skin traction.
Penderita telentang, bahu abduksi dan sedikit fleksi, siku dalam fleksi.
Modifikasi :
-dengan countertraction pada humerus.
Traksi Dunlop dapat dilakukan pada fraktur suprakondiler humerus yang
disertai pembengkakan selama beberapa hari sampai pembengkakan
mereda. Setelah pembengkakan mereda dapat dilajutkan dengan reposisi
tertutup.
Kerugian :
- tidak dapat dilakukan bila mana terdapa luka-luka pada lengan.
- bilamana ada gangguan vaskuler sirkulasi bahaya

3.1.2. Traksi kulit ekstremitas bawah


a. Traksi Kulit Bucks Extension
Traksi Buck adalah traksi kulit seimbang dengan menggunakan dorongan
pada satu tempat terhadap ekstremitas bawah melalui perluasan kulit. Traksi
Buck digunakan sebagai pengukuran jangka pendek dengan tahanan traksi
yang dibutuhkan untuk imobilisasi fraktur panggul sebelum pembedahan dan
mengurangi spasme otot. Hal ini juga bisa digunakan untuk dislokasi panggul,
kontraktur panggul dan lutut, dan nyeri pinggang bawah bilateral.
Pasien diposisikan dalam posisi supine dengan kaki lurus pada posisi
alami, dimana melalaikan abduksi. Pembungkus kemudian diaplikasikan dan
tahanan traksi digunakan segaris dengan panjang aksis kaki melalui tali yang
diikat di kaki dari perluasan melewati katrol pada akhir tempat tidur yang
dihubungkan dengan pemberat. Katrol tidak mempunyai efek pada tahanan
fraksi tetapi bertindak untuk merubah arah dorongan untuk bekerja dengan
gravitasi.Kontertraksi dicapai dengan mengelevasikan kaki dari tempat tidur
pada ketinggian tertentu untuk mencegah pasien terjatuh dari tempat tidur.
Untuk mengoptimalisasi kenyamanan pasien adalah hal yang penting
untuk mempunyai keseimbangan antara tahanan traksi dengan tahanan
kontertraksi. Jika tempat tidur butuh untuk dielevasikan terlalu tinggi untuk

mencegah pasien terdorong dari tempat tidur maka pemberat dapat terlalu
berat dan perlu untuk ditinjau ulang.
Tujuan utama penggunaan adalah untuk mengurangi spasme otot-otot
disekitar lutut atau panggul. Jangan gunakan traksi ini untuk kelainan
kelainan pada tulang panggul. Kuasai sebagian rotasi untuk meletakkan
tungkai diatas bantal dan dengan penggunaan kantong-kantong pasir pada
sisi lateral dan medial (seperlunya).
Management nyeri merupakan bagian penting dalam perawatan. Nyeri
dapat dinilai dengan menggunakan skala 1-10 dan pasien harus diberi
analgetik sebelum nyeri menjadi lebih parah. Beri pendidikan kesehatan
untuk mencegah ketakutan. Sama dengan pasien yang imobilisasi ada
tingginya resiko untuk konstipasi tidak hanya menghasilkan imobilitas tetapi
juga kombinasinya dengan pemberian analgetik.
Pada dislokasi panggul tipe anterior, traksi kulit menurut cara ekstensi
Buck sampai beberapa hari setelah dilakukan reposisi. Setelah itu dilanjutkan
dengan pemasangan spika panggul selama 4-6 minggu.

(1)(2)

Bahaya Traksi Kulit :

Distal oedema

Kerusakan vaskular

Peroneal nerve palsy

Nekrosis kulit melalui tulang-tulang prominen

b. Traksi Hamilton- Russell

Dapat digunakan untuk patah tulang panjang atau femur, terutama


untuk anak-anak dengan berat badan dari sekitar 20-30 kg dan
patokan lain adalah usia

Dapat digunakan dengan pemasangan traksi kulit atau dalam


keadaan tertentu dengan pin lewat tibia distal

Gunakan juga sling di bawah paha pada distal bagian posterior untuk
mencegah penekanan terhadap fosa poplitea

10

c. Traksi Gallows
Traksi ini digunakan pada bayi dan anak-anak dengan fraktur femur.
Adapun Indikasi Traksi Gallows adalah:

Berat anak-anak harus kurang dari 12 kg

Fraktur femur

Kulit harus intak

Kedua dari femur yang fraktur dan yang baik ditempatkan


Dalam traksi kulit dan bayi ditahan dari sudut yang istimewa.

Compromise vascular merupakan bahaya terbesar. Periksa sirkulasi dua


kali sehari. Pantatnya harus diangkat jangan mengenai tempat tidur.
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali
pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa
sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah.

11

3.2.

Traksi Skeletal

Traksi pada tulang biasanya menggunakan kawat Kirschner (K-wire) atau


batang dari steinmann pada lokasi-lokasi tertentu, yaitu:

Proksimal tibia

Kondilus femur

Olekranon

Kalkaneus (jarang dilakukan karena komplikasinya)

Traksi pada tengkorak

Trokanter mayor

Bagian distal dari metakarpal

(1)(2)

Traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi
panjang untuk mempertahankan traksi. Traksi ini menunjukkan tahanan
dorongan yang diaplikasikan langsung ke skeleton melalui pin, wire yang telah
dimasukkan kedalam tulang. Untuk melakukan ini berat yang besar dapat
digunakan. Traksi skeletal digunakan untuk fraktur yang tidak stabil, untuk
mengontrol rotasi dimana berat lebih besar dari 25 kg dibutuhkan dan fraktur
membutuhkan traksi jangka panjang.
Pada traksi tulang, pin metal atau kawat diletakkan melalui tulang. Hal ini
berarti tenaga traksi diaplikasikan langsung ke tulang. Traksi tulang jarang
digunakan pada penanganan fraktur bagian tubuh atas namun sering digunakan
dalam penanganan fraktur bagian tubuh bawah. Komplikasi serius pada traksi
tulang adalah osteomyelitis.

12

Kulit hanya bisa dapat menahan sekitar 5 kg traksi pada orang dewasa.
Jika lebih dari ini tahanan yang dibutuhkan untuk mendapatkan dalam menjaga
reduksi, traksi tulang mungkin diperlukan. Hindari traksi tulang pada anak-anakplate pertumbuhan dapat dengan mudah hancur dengan pin tulang.
Setiap tahanan diperlukan tahanan yang berlawanan. Jika traksi
mendorong tungkai kedistal pasien akan meluncur turun melalui katrol, dan traksi
tidak akan menjadi efektif. Berikan tahanan yang berlawanan dengan
meninggikan kaki dari kasur pada blok tertentu. Dengan merubah tempat tidur
pada arah berlainan tendensi untuk meluncur akan ditahan. Pada traksi servikal
sisi depan dari tempat tidur harus ditinggikan, dan dengan traksi Dunlop sisi
tempat tidur dekat dengan luka membutuhkan elevasi.
A Indikasi
Indikasi penggunaan traksi tulang:

Apabila diperlukan traksi yang lebih berat dari 5 kg

Traksi pada anak-anak yang lebih besar

Pada fraktur yang bersifat tidak stabil, oblik, atau kominutif

Fraktur-fraktur daerah sendi

Fraktur terbuka dengan luka yang sangat jelek dimana fiksasi eksterna
tidak dapat dilakukan

Dipergunakan sebagai traksi langsung pada traksi yang sangat berat,


misalnya dislokasi panggul yang lama sebagai persiapan terapi definitif.

B Komplikasi Traksi Skeletal:

Infeksi
Terkenal

dengan

nama

Pin

Tract

Infection.

Dimana

cara-cara

pemasangan dan perawatan harus betul-betul dikuasai dan bila timbul


sequester sebaiknya pin wire dicabut.

Distraksi.
Harus waspada dengan mengukur / membandingkan panjang tungkai
karena bahayanya (delayed union, non union).
13

Paralisa Syaraf
Hati-hati bila menggunakan beban berat serta harus adanya observasi
seksama.

Patahnya pin/kawat
Gunakan busur yang baik. Kegunaan diliputi pin dalam gips (kesatuan
Charnley).

Dekubitus

Kongesti paru

Konstipasi

Anoreksia

Trombosis vena profunda

3.2.1. Traksi skeletal ekstremitas atas


a Overbody atau lateral skeletal traction (overhead).

Traksi skeletal dengan pin lewat olekranon, siku 90 derajat, bahu


dalam fleksi tanpa abduksi. Untuk mencegah tangan dan pergelangan
terlalu pegal pakai bidai gips. Bisa dengan menggunakan Shoulder
Spica Cast.
3.2.2. Traksi skeletal ekstremitas bawah
Indikasi umum untuk traksi skeletal pada ekstremitas bawah yaitu:

(7)

Fraktur vertical tidak stabil pada cincin pelvis ketika fiksasi eksternal tidak
dapat menjaga stabilitas vertical, dan ketika fiksasi internal pada bagian
posterior dari cincin pelvis tidak memungkinkan.

14

Fraktur

pada asetabulum dengan perpindahan minimal ketika fiksasi

interna tidak diindikasikan, fraktur berpotensi tidak stabil, dan pasien


merupakan calon baik untuk terapi traksi.

Fraktur tidak stabil pada asetabulum ketika salah satu dari tulang atau
kondisi jaringan lunak atau factor sistemik kontraindikasi fiksasi interna.

Fraktur
jaringan

panggul (basilar neck, intertrokanter atau subtrokanter) ketika


lunak

lokal

atau

kondisi

tulang

atau

kondisi

sistemik

kontraindikasi operasi

Fraktur pada batang dan area suprakondilar femur dimana internal atau
eksternal fiksasi merupakan kontraindikasi.

Fraktur kominutif pada tibia ketika traksi merupakan kebutuhan untuk


menjaga kesegarisan (alignment) dan memudahkan gerakan dini, dan
ketika internal atau eksternal fiksasi tidak mungkin dikerjakan

Fraktur pada batang tibia dan fibula ketika keterlambatan dalam terapi
inisial atau pemendekan yang tidak dapat diterima dengan koreksi
pembalut gips.

Fraktur kominutif pada distal tibia dan fibula dan sendi pergelangan kaki,
dimana gerakan dini pada sendi pergelangan kaki diinginkan dan internal
atau eksternal traksi merupakan kontraindikasi.

15

Gambar. skeletal traksi


a Kesatuan Traksi Charnley
i Berguna untuk penggunaan traksi pada tungkai bawah, dan sangat
dianjurkan penggunaanya.
ii Dengan menggunakan pin atau wire pada proksimal tibia dan kemudian
pin atau wire diliputi oleh gips atau tungkai pendek
iii Kegunaan:
1 Kaki dan pergelangan kaki dapat dipertahankan dalam posisi
fungsional
2 Karena tungkai dalam gips tidak ada tekanan pada otot betis atau
nervus peroneus.
3 Gerakan pada pin atau wire sedikit sekali

b Traksi Skeletal Balanced- Suspension


i Melakukan traksi langsung pada tibia atau femur melalui pin atau wire
ii Tungkai diletakan pada suatu Thomas Spint dengan atau tanpa suatu
Pearson Attachment
iii Pearson Attachment memungkinkan pergerakkan pada sendi lutut,
sehingga berguna untuk mencegah kekakuan sendi lutut

16

iv

Dengan menggunakan katrol-katrol pada Thomas Spint, keseluruhan


tungkai dapat mengambang bebas, dengan traksi pada tempat patah
tetap berjalan.

c Traksi Skeletal Terpaku (Fixed Skeletal Traction)


Digunakan untuk patah tulang femur sambil menunggu tindakan terapi
tetap, berupa fiksasi interna atau untuk pengangkutan ke rumah sakit
rujukan yang letaknya agak jauh.
Gunakan :
1 Bilamana karena kedudukan buruk, diperlukan anastesi umum atau
regional.
2 Kesatuan traksi Charnley

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitive,


prinsip pengobatan fraktur ada empat (4R), yaitu:

Recognition
17

Prinsip pertama adalah diagnosis dan menilai keadaan fraktur, dilakukan dengan
melakukan

anamnesis,

pemeriksaan

klinik

dan

radiologis.

Pada

awal

pengobatan Perlu diperhatikan lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan


teknik yang sesuai untuk pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi selama
dan sesudah pengobatan
Reduction
Reduksi fraktur apabila perlu. Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk
mendapatkan posisi yang dapat diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan
reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan
mencegah komplikasi serta kekauan, deformitas, serta perubahan osteoarthritis
dikemudian hari.
Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna.
Fraktur seperti fraktu klavikula, iga, dan fraktur impaksi humerus tidak
memerlukan reduksu. Angulasi <5% pada tulang panjang anggota gerak bawah
dan lengan atas dan angulasi sampai 10% pada humerus dapat diterima.
Terdapat kontak sekurang-kurangnya 50% dan over-riding tidak melebihi 0,5
inchi pada fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapt diterima dimanapun lokalisasi
fraktur.
Retention
Imobilisasi fraktur
Rehabilitation
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Pemilihan metode pengobatan


Pada fraktur terbuka fiksasi internal harus dihindari, kecuali jika cedera
lain yang menyertai menentukan lain. Pada fraktur tertutup, terdapat empat
metode pilihan: traksi, traksi yang diikuti dengan penguatan (bracing), reduksi
terbuka dengan pemasangan paku intramedula, dan pemasangan paku
intramedula secara tertutup.
Traksi dapat mereduksi dan mempertahankan sebagian besar fraktur
dalam penjajaran yang memadai, dan mobilitas sendi dapat terjamin dengan
latihan aktif. Kelemahan utamanya adalah lamanya waktu yang dihabiskan di
tempat tidur (10-14 minggu untuk orang dewasa) serta adanya masalah
18

mempertahankan pensejajaran fraktur hingga akhirnya dan mengurangi


morbiditas dan frustasi pasien. Beberapa gangguan ini dapat diatasi dengan
mengurangi masa traksi dan kemudian diubah menjadi penguatan (bracing)
fungsional . sesungguhnya untuk fraktur bagian bawah femur metode ini di
anggap sebagai metode pilihan oleh beberapa ahli. Deformitas tersisa hampir
tidak dapat dielakkan. Tetapi pemendekan sampai 2cm, angulasi 10 derajat dan
15 derajat pembengkokan ke anterior biasanya dapat diterima tanpa banyak
kehilangan fungsi.
Tetapi, terapi

non operasi tak dapat diandalkan untuk fraktur pada

sebagian atas femur, kelompok dimana fiksasi intenal, terutama dengan


pemasangan paku intramedula dapat dilakukan dengan mudah dan dapat
dipercaya, karena itu, asalkan tersedia keahlian dan fasilitas yang diperlukan,
fiksasi internal dapat (beberapa ahli berkata harus) digunakan untuk fraktur
melintang pada setengah bagian ptoximal tulang, terutama kalau reduksi tertutup
sulit dipertahankan. Indikasi yang lain adalah fraktur patologik, fraktur multiple,
fraktur yang disertai cedera pembuluh darah dan fraktur pada pasien yang sulit
dirawat. Dalam tahun-tahun belakangan ini, metode telah diperluas dengan
dengan pengembangan pemasangan paku medula secara tertutup, yang tak
perlu membuka fraktur, dan dengan penambahan skrup pengunci, yang
memungkinkan digunakannya fiksasi internal untuk fraktur kominutif dan tak
stabil atau fraktur sepertiga bagian bawah.
Rencana tatalaksana dianjurkan mulai dari pra-reduksi. Pada awalnya
semua pasien ditempatkan pada traksi, traksi kulit untuk anak-anak, traksi
kerangka untuk orang dewasa. Kalau ini harus diubah, terapi yang pasti dimulai
dalam seminggu. Terapi tertutup dilanjutkan kalau fasilitas kurang ideal, dan
fraktur itu telah tereduksi (atau hampir tereduksi). Ini adalah metode pilihan bagi
anak-anak yang mempunyai banyak kemampuan dalam penyembuhan dan
remodeling tulang. Reduksi diperiksa dengan sinar X dengan interval 1 minggu.
Setelah 3 minggu pada anak-anak dan 5-6 minggu pada orang dewasa, traksi
mungkin perlu dihentikan dan tungkai dipertahankan dalam spika (untuk anakanak) atau brace fungsional (untuk orang dewasa). Fiksasi internal sangat
19

diindikasikan untuk fraktur patologik dan untuk pasien dengan cedera ganda.
Cara ini juga jauh lebih baik untuk fraktur tertutup lain pada orang dewasa,
asalkan tersedia fasilitas dan keahlian yang diperlukan untuk pemasangan paku
medulla secara tertutup. Fiksasi luar kadang digunakan untuk fraktur terbuka
yang tak cocok untuk fiksasi internal dan sulit dipertahankan dengan traksi dan
pembebatan.
Traksi dan pembebatan pada anak-anak, traksi kulit tanpa bebat-lah yang
biasanya diperlukan.

Bayi dengan berat kurang dari 12 kg paling mudah

ditangani dengan menngantungkan tungkai bawah pada kerekan diatas, tetapi


tidak boleh menggunakan beban yang lebih dari 2 kg dan kaki harus sering
diperiksa untuk mecari ada tidaknya masalah peredaran darah. Anak-anak yang
lebih tua lebih cocok dengan traksi Russel. Penyatuan fraktur terjadi dalam 2-4
minggu (tergantung pada umur anak), dan pada stadium itu dipasang spica
panggul dan anak

itu diperbolehkan bangun. Konsolidasi biasanya selesai

setelah 4-8 minggu.


Orang dewasa (dan remaja yang lebih tua) membutuhkan traksi kerangka
dengan pen atau kawat Kirchner yang diikan kuat-kuat dibelakang tuberkel tibia.
Traksi (8-10 kg untuk orang dewasa) dipasang melalui kerekan di kaki tempat
tidur. Tungkai biasanya disokong dengan bebat Thomas, dan suatu belah fleksi
akan memungkikan gerakan lutut. Tetapi bebat tidak begitu diperlukan,
sesungguhnya traksi kerangka tanpa bebat (traksi perkins) memiliki keuntungan
karena memperkecil distorsi fraktur dan memungkinkan gerakan yang kebih
bebas di tempat tidur. Latihan dimulai sesegera mungkin (sekitar 6 minggu oada
orang dewasa) traksi dapat dihentikan dan pasien diperbolehkan bangun untuk
menahan beban sebagian dalam gips atau brace. Untuk fraktur pada setengah
bagian atas femur, sppika gips adalah yang paling aman, tetapi cara ini hamper
pasti memperpanjang masa kekakuan lutut. Jenis perlindungan ini diperlukan
hingga fraktur telah konsolidasi (16-24 minggu).
Pada kasus fraktur femur pada anak yang biasanya diakibatkan oleh
benturan langsung misalnya pada kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari tempat
tinggi. Tetapi pada anak berumur dibawah 2 tahun penyebab yang paling lazim
20

adalah penyiksaan pada anak kalau terdapat beberapa stadium penyembuhan


yang berbeda. Perlu ditekankan bahwa terapi terbuka sangat jarang diperlukan.
Pilihan pada metode terutama tergantung pada umur dan berat anak.
Bayi membutuhkan traksi berimbang tak lebih dari 1-2 minggu, diikuti
dengan gips spika selama 3-4 minggu lagi. Angulasi sampai 30 derajat dapat
diterima, karena tulang mengalami pembentukan ulang sejalan dengan
pertumbuhan.
Anak-anak antara unur 2-10 tahun dapat diterapi dengan traksi berimbang
(traksi Russel) selama 2-3 minggu diikuti dengan gips spika selama 4 minggu
lagi, atau dengan reduksi awal dan gips spika sejak permulaan. Pemendekan
sebesar 1-2 cm dan angulasi samai 20% dapat diterima.
Remaja membutuhkan traksi berimbang sedikit lebih lama, sekitar 4-6
minggu, dan mereka yang berumur lebih dari 15 tahun atau bahkan remaja yang
lebih muda kalau mereka besar dan berotot dapat memerlukan traksi kerangka.
Bila fraktur telah terasa kokoh, traksi ditukar dengan gips spika (pada kasus
fraktur sepertiga bagian atas dan fraktur batang pertengahan) atau dengan
penahan gips (gips penyangga) (untuk fraktur sepertiga bagian bawah), yang
dipertahankan selama 6 minggu lagi. Posisinya harus dicek setiap beberapa
minggu, batas angulasi yang dapat diterima adalah 15 derajat pada sinar X
anteroposterior dan 25 derajat pada foto lateral.
Waktu penyembuhan fraktur bervariasi secara individual dan berhubungan
dengan beberapa factor penting pada penderita, antara lain:

(1)(2)

Umur
Waktu penyembuhan tulang pada anak jauh lebih cepat daripada orang

dewasa. Hal ini terutama disebabkan oleh aktifitas proses osteogenesis pada
periosteum dan endosteum dam juga berhubungan dengan proses remodeling
tulang bayi yang sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah.

Lokalisasi dan penyembuhan fraktur


Fraktur

metafisis

penyembuhannya

lebih

cepat

daripada

diafisis.

Disamping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur tranversal lebih lambat


penyembuhannya dibandingkan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak.
21

Pergeseran awal fraktur


Pada fraktur yang tidak bergeser dimana periosteum intak, maka

penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan pada fraktur yang bergeser.

Vaskularisasi pada kedua fragmen


Bila salah satu sisi fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami

kematoan, maka akan menghambat terjadinya union atau bahkan non union.

Reduksi serta imobilisasi


Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang

lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilsasi yang sempurna akan mencegah
pergerakan

dan

kerusakan

pembuluh

darah

yang

akan

mengganggu

penyembuhan fraktur.

Waktu imobilisasi
Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum

terjadi union, maka kemungkinan untuk terjadinya nonunion sangat besar.

Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak


Bila ditemukan interposisi jaringan baik berupa periost, maupun otot atau

jaringan fibrosa lainnya, maka akan menghambat vaskularisasi kedua ujung


fraktur.

Faktor adanya infeksi


Bila terjadi infeksi pada daerah fraktur, misalnya pada operasi terbuka

fraktur tertutup atau terbuka, maka akan mengganggu terjadinya proses


penyembuhan.

Cairan synovia
Pada persendian dimana terdapat cairan synovia merupakan hambatan

dalam penyembuhan fraktur.

Gerakana aktif dan pasif pada anggota gerak


Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak akan meningkatkan

vaskularisasi daerah fraktur, tetapi gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur
tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi.

22

Penyembuhan fraktur berkisar antara tiga minggu sampai empat bulan.


Waktu penyembuhan pada anak secara kasar waktu penyembuhan daripada
orang dewasa.
Perkiraan penyembuhan fraktur pada orang dewasa
Lokalisasi
Waktu penyembuhan
Falang/metacarpal/metatarsal/kosta
3-6 minggu
Distal radius
6 minggu
Diafisis ulna dan radius
12 minggu
Humerus
10-12 minggu
Klavikula
6 minggu
Panggul
10-12 minggu
Femur
12-16 minggu
Kondilus femur/tibia
8-10 minggu
Tibia/fibula
12-16 minggu
Vertebra
12 minggu
Penilaian penyembuhan fraktur (union) didasarkan atas union secara
klinis dan union secara radiologik. Penilaian secara klinis dilakukan dengan
pemeriksaan pada daerah fraktur dengan melakukan pembengkokan pada
daerah fraktur, pemutaran dan kompresi untuk mmengetahui adanya gerakan
atau perasaan nyeri pada penderita. Keadaan ini dapat dirasakan oleh
pemeriksa atau penderita sendiri. Apabila tidak diteukan adanya gerakan, maka
secara klinis terjadi union dari fraktur.
Union secara radiologic dinilai dengan pemeriksaan rontgen pada daerah
fraktur dan dilihat adanya garis fraktur atau kalus dan mungkin dapat ditemukan
adanya trabekulasi yang sudah menyambung pada kedua fragmen. Pada tingkat
lanjut dapat dilihat adanya medulla atau ruangan dalam daerah fraktur.

23

BAB III
KESIMPULAN
Metode pengobatan pada bidang ortopedi dibagi dalam tiga cara, yaitu
tanpa pegobatan, pengobatan non-operatif (konservatif), dan pengobatan
operatif. Traksi merupakan salah satu pengobatan konservatif yang mudah
dilakukan oleh setiap dokter dan bermanfaat dalam mereduksi suatu fraktur atau
kelainan-kelainan lain seperti spasme otot. Traksi yang dipasang memakai
pemberat dengan berat badan sebagai counter traksi. Traksi adalah tahanan
yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau
gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi reposisi dan imobilisasi. Traksi
dapat mereduksi dan mempertahankan sebagian besar fraktur dalam penjajaran
yang memadai, dan mobilitas sendi dapat terjamin dengan latihan aktif.
Kelemahan utamanya adalah lamanya waktu yang dihabiskan di tempat tidur.
Waktu penyembuhan fraktur dipengaruhi oleh berbagai faktor. Traksi digunakan
sampai terjadi union secara klinis.

24

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Rasjad, C. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi ed. III. Yarsif
Watampone. Makassar: 2007.
2. Salter. Textbook of Disorders and injuries of the Musculoskeletal System.
2nd ed. Baltimore/London: Willians & Wilkins: 1983.
3. De jong. Buku Ajar Ilmu Bedah: Sistem Muskuloskeletal. Ed 2.

EGC:

Jakarta. 2002. Hal 835-54


4. Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah, BagianBedah FKUI
5. Swiontkowski. Manual of Orthopedics: Traction. 6th ed. Williams and
Wilkins: New York. p138-51
6. Graham, Salomon L. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem
Apley.Edisi 7, Widya Medika, Jakarta
7. Chapman, Michael W. Editors, 2001. Chapman's Orthopaedic Surgery, 3rd
Edition, Fracture Healing and Closed Treatment of Fractures and
Dislocations. Lippincott Williams & Wilkins

25