Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat
ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor
ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut.
Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah
penderita kanker 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita
kankerdiantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat
sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah
penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker pertahun.Menurut
Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas
Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumortulang yang terdiri
dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM
jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari
seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas.Dari jumlah seluruh kasus
tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker
tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita
bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis ( Smeltzer. 2001: 2347 )..
Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga
penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke
organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan
pembedahan radikal diikuti kemotherapy.Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering
menyerang kelompok usia 15 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ).
Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak lakilaki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di
temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui.Melihat jumlah
kejadian diatas serta kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan penanganan sejak
dini.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian
Osteosarkoma adalah tumor tulang ganas yang berasal dari sel primitif pada regio
metafisis tulang panjang orang berusia muda. (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor tulang ganas,
yang biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa remaja.
Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak.
Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun.Angka kejadian pada anak laki-laki dan
anak perempuan adalah sama, tetapi pada akhirmasa remaja penyakit ini lebih banyak
ditemukan pada anak laki-laki.Penyebab yang pasti tidak diketahui. Bukti-bukti mendukung
bahwa osteosarkomamerupakan penyakit yang diturunkan.
Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang lengan atas
(ujungatas) dan tulang kering (ujung atas).Ujung tulang-tulang tersebut merupakan daerah
dimana terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan yang terbesar. Meskipun demikian,
osteosarkoma juga bisa tumbuh di tulang lainnya.3.
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung.
Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi
jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh( Wong. 2003).
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim
pembentuk tulang. Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer
yang sangatganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering
terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut ( Wong. 2003).
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling
sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor
inimenyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketikapasien
pertama kali berobat( Smeltzer. 2001).
2. Etiologi
Etiologi osteosarcoma belum diketahui secara pasti, tetapi ada berbagai
macam faktor predisposisi sebagai penyebab osteosarcoma. Adapun faktor
predisposisi yang dapat menyebabkan osteosarcoma antara lain :

1. Trauma
Osteosarcoma

dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah

terjadinya injuri. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai
penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah
jarang menyebabkan osteosarcoma.
2. Ekstrinsik karsinogenik
Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis
juga diduga merupakan penyebab terjadinya osteosarcoma ini. Salah satu
contoh adalah radium. Radiasi yang diberikan untuk penyakit tulang seperti
kista tulang aneurismal, fibrous displasia, setelah 3-40 tahun dapat
mengakibatkan osteosarcoma.
3. Karsinogenik kimia
Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita tuberculosis
mengakibatkan 14 dari 53 pasien berkembang menjadi osteosarcoma.
4. Virus
Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan

osteosarcoma

baru

dilakukan pada hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan


oncogenik virus pada

osteosarcoma

manusia tidak berhasil. Walaupun

beberapa laporan menyatakan adanya partikel seperti virus pada sel


osteosarcoma dalam kultur jaringan. Bahan kimia, virus, radiasi, dan faktor
trauma. Pertumbuhan yang cepat dan besarnya ukuran tubuh dapat juga
menyebabkan terjadinya

osteosarcoma

selama masa pubertas. Hal ini

menunjukkan bahwa hormon sex penting walaupun belum jelas bagaimana


hormon dapat mempengaruhi perkembanagan osteosarcoma.
5. Keturunan ( genetik )
3. Anatomi dan fisiologi
Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk gerak pasif, proteksi alat-alat
di dalam tubuh, pembeda Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan
hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer untuk
menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat. Ruang ditengah tulang-tulang

tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat.
Sebagaimana jaringan pengikat lainnya, tulang terdiri dari komponen matriks
dan sel. Matriks tulang terdiri dari serat-serat kolagen dan protein non-kolagen.
Sedangkan sel tulang terdiri dari osteoblas, oisteosit, dan osteoklas.
Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan
proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses
yang disebut osifikasi.Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid,
osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan
penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian
maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik
tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada
kasus metastasis kanker ke tulang.Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang
bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang
padat.
Osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas
mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecahkan
matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulan90g sehingga kalsium
dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton.
1997).
4. Patofisiologi
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer
yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang
paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama
lutut. Penyebab osteosarkoma belum jelas diketahui, adanya hubungan
kekeluargaan menjadi suatu predisposisi. Begitu pula adanya hereditery.
Dikatakan beberapa virus onkogenik dapat menimbulkan osteosarkoma pada
hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung
osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor gene yang

berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma yaitu


protein P53 ( kromosom 17) dan Rb (kromosom 13).
Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang
memunculkan perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis osteosarkoma. Mulai
tumbuh bisa didalam tulang atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai
pada jaringan lunak sekitar tulang epifisis dan tulang rawan sendi bertindak
sebagai barier pertumbuhan tumor kedalam sendi. Osteosarkoma mengadakan
metastase secara hematogen paling sering keparu atau pada tulang lainnya dan
didapatkan sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis
ditegakkan.
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons
osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang).
Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang terjadi, beberapa tidak
menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang sangat berbahaya dan
mengancam jiwa.
Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang panjang dan biasa ditemukan pada
ujung bawah femur, ujung atas humerus dan ujung atas tibia. Secara histolgik,
tumor terdiri dari massa sel-sel kumparan atau bulat yang berdifferensiasi jelek
dan sring dengan elemen jaringan lunak seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa
atau kartilaginosa yang berselang seling dengan ruangan darah sinusoid.
Sementara tumor ini memecah melalui dinding periosteum dan menyebar ke
jaringan lunak sekitarnya; garis epifisis membentuk terhadap gambarannya di
dalam tulang.
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor.
Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi
atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan
tulang. Terjadi destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel
tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi
terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Keganasan sel pada mulanya berawal pada sumsum tulang (myeloma) dari
jaringan sel tulang (sarcoma) sel-sel tulang akan berada pada nodul-nodul limfe,
hati dan ginjal sehingga dapat mengakibatkan adanya pengaruh aktifitas

hematopeotik sumsum tulang yang cepat pada tulang sehingga sel-sel plasma
yang belum matang/tidak matang akan terus membelah terjadi penambahan
jumlah sel yang tidak terkontrol lagi (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton.
1997).
5. Klasifikasi
Klasifikasi menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas criteria histologist,
jenis diferensiasi sel-sel tumor yang diperhatikan dan jenis inter seluler matriks
yang di produksi. Dalam hal ini dipertimbangkan sifat-sifat tumor, asal usul sel
serta pemeriksaan histologist menetapkan jenis tumor bersifat jinak atau ganas.
Sel-sel dari musculoskeletal berasal dari mesoderm tapi kemudian
berdiferensiasi menjadi beberapa sel osteoklas, kondroblas, fibroblas, mieloblas.
Oleh karena itu sebaiknya klasifikasi tumor tulang berdasarkan atas asal sel, yaitu
bersifat osteogenik, kondrogenik atau mielogonik.Meskipun demikian terdapat
kelompok yang tidak termasuk dalam kelompok tumor yaitu kelainan reaktif
(reactive bone) atau hamartoma yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas.
Beberapa hal yang penting yang sehubungan dengan penetapan klasifikasi yaitu :
a. Jaringan yang mudah menyebar tidak selalu harus merupakan jaringan asal.
b. Tidak ada hubungan patologis atau klinis dalam kategori khusus.
c. Sering tidak ada hubungan antara kelainan jinak dan ganas dengan unsureunsur jaringannya. Misalnya osteoma dan osteosarkoma.
d. Beberapa tumor hanya disebut dalam suatu kelompok yang sederhana,
misalnya osteosarkoma
Tabel 2.1
Klasifikasi tumor tulang berdasarkan criteria histologik
tumor tulang (WHO)
Asal sel
Osteogenik
Osteoblastoma
Kondrogenik

Jinak
Osteoma
Osteoid Osteoma
Osteoblastoma
Kondroma
Osteokondroma

Ganas
Osteosarkoma
Parosteal Osteosarkoma
Kondrosarkoma
Kondrosarkoma

Juksta

Kortikal
Fibroma Kondromiksoid Kondroblastoma
Fibroma Kondromiksoid
Giant Cell Tumor
Mielojenik

Osteoklastoma
Sarkom Ewing
Sarkoma Retikulum

Vaskuler
Intermediate :
Hemangio-Endotelioma
Hemangio-Perisitoma
Jaringan Lunak

Tumor lain
Tumor tanpa klasifikasi

Hemangioma
Limfangioma
Tumor Glomus
Fibroma Desmo Plastik
Lipoma
Neurinoma
Neurofibroma
Kista Soliter
Kista Aneurisma
Kista Juksta-Artikuler
Defek Metafisis
Granuloma Eosinofil
Displasia Fibrosa
Miositis Osifikans
Tumor Brown
Hiperparatiroidisme

Limfosarkoma
Mieloma
Angiosarkoma

Fibrosarkoma
Liposarkoma
Mesenkimoma Ganas
Sarkoma tak berdeferesiansi
Kondroma
Adamantinoma

6. BEBERAPA VARIASI DARI OSTEOSARKOMA


a. Parosteal Osteosarkoma
Parosteal osteosarkoma yang tipikal ditandai dengan lesi pada permukaan
tulang, dengan terjadinya diferensiasi derajat rendah dari fibroblast dan
membentuk waven bone atau lamellar bone. Biasanya terjadi pada umur
lebih tua dari osteosarkoma klasik, yaitu pada umur 20 40 tahun. Bagian
posterior dari distal fermur merupakan daerah predileksi yang paling sering,
selain bisa juga mengenai tulang-tulang panjang yang lainnya. Tumor
dimulai dari daerah korteks tulang dengan dasar yang lebar, yang makin
lama lesi ini bisa invasi kedalam korteks dan masuk ke endosteal.
Pengobatanny adalah dengan cara operasi, melakukan eksisi dari tumor dan
survival ratenya bisa mencapai 80-90%.
b. Periosteral Osteosarkarmo
Periosteral osteosarkoma merupakan osteosarkoma derajat sedang
(moderate-grade) yang merupakan lesi pada permukaan tulang bersifat
kondroblastik, dan sering terdapat pada daerah proksimal tibia. Sering juga

dapat pada diafise tulang panjang seperti pada femur dan bahkan bisa pada
tulang pipih seperti mandibula. Terjadi pada umur yang sama dengan klasik
osteosarkoma. Derajat metastasenya lebih rendah dari osteosarkoma klasik
yaitu 20%-35% terutama ke paru-paru. Pengobatannya adalah dilakukan
operasi marginal-wide eksisi (wide-margin surgical resection), dengan
didahului preoperative kemoterapi dan dilanjutkan sampai post-operasi.
c. Telangiectasis Osteosarkoma
Telangiectasis osteosarkoma pada plain radiografi kelihatan gambaran
lesi yang radiolusen dengan sedikit kalsifikasi atau pembentukan tulang.
Dengan gambaran seperti ini sering dikelirukan dengan lesi binigna pada
tulang seperti aneurismal bone cyst. Terjadi pada umur yang sama dengan
klasik osteosarkoma. Tumor ini mempunyai derajat keganasan yang sangat
tinggi dan sangat agresif. Diagnosis dengan biopsy sangat sulit oleh karena
tumor sedikit jaringan yang padat, dan sangat vaskuler. Pengobatannya sama
dengan osteosarkoma klasik, dan sangat reposif terhadap adjuvant
chemotherapy.
d. Osteosarkarmo Sekunder
Osteosarkoma dapat terjadi dari lesi jinak pada tulang, yang mengalami
mutasi sekunder dan biasanya terjadi pada umur yang lebih tua, misalnya
bisa berasal dari pagets disease, osteblastoma, fibous dysplasia, benign
giant cell tumor, Contoh klasik dari osteosarkoma sekuder adalah yang
berasal dari pagets disease yang disebut pegetic osteosarcomas. Di Eropa
merupakan 3% dari seluruh osteosarkoma dan terjadi pada umur yang tua.
Lokasi yang tersering adalah humerus, kemudian di daerah pelvis dan femur.
Perjalanan penyakit sampai mengalami degenerasi ganas memakan waktu
cukup lama 15-25 tahun dengan mengeluh nyeri pada daerah inflamasi dari
pagets disease. Selanjutnya rasa nyeri nertambah, disusul oleh terjadinya
destruksi tulang. Prognosis dari pegetic osteosarcomas sangat jelek dengan
five years survival rate rata-rata hanya 8%. Oleh karena terjadi pada orang
tua, maka pengobatan dengan kemoterapi tidak merupakan pilihan karena
toleransinya rendah.
e. Osteosarkarmo Intrameduler derajat Rendah

Tipe ini sangat jarang dan merupakan variasi osseofibrous derajat rendah
yang terletak intrameduler. Secara mikrospik gambarannya mirip parosteal
osteosarkoma. Lokasinya pada daerah metafise tulang dan terbanyak pada
daerah lutut. Penderita biasanya mempunyai umur yang lebih tua yaitu 1565 tahun, mengenai laki-laki dan wanita hampir sama. Pada pemeriksaan
radiografi, tampak gambaran sklerotik pada daerah intrameduler metafise
tulang panjang. Seperti pada parosteral osteosarkoma, osteosarkoma tipe ini
mempunyai prognosis yang baik dengan hanya melakukan local eksisi saja.
f. Osteosarkarmo Akibat Radiasi
Osteosarkarmo bisa terjadi setelah mendapatkan radiasi melebihi dari
30Gy. Onsetnya biasanya sangat lama berkisar antara 3-35 tahun, dan
derajat keganasannya sangat tinggi dengan prognosis jelek dengan angka
metastasenya tinggi.
g. Multisentrik Osteosarkarmo
Disebut juga Multifocal Osteosarcoma. Variasi ini sangat jarang yaitu
terdapatnya lesi tumor yang secara bersamaan pada lebih dari satu tempat.
Hal ini sangat sulit membedakan apakah sarcoma memang terjadi bersamaan
pada lebih dari satu tempat lesi tersebut merupakan suatu metastase. Ada
dua tipe yaitu: tipe Synchronous dimana terdapatnya lesi secara bersamaan
pada lebih dari satu tulang. Tipe ini sering terdapat pada anak-anak dan
remaja dengan tingkat keganasannya sangat tinggi. Tipe lainnya adalah tipe
Metachronous yang terdapat pada orang dewasa, yaitu terdapat tumor pada
tulang lain setelah beberapa waktu atau setelah pengobatan tumor pertama.
Pada tipe ini tingkat keganasannya lebih rendah.
7. Manifestasi Klinik
a. Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi
semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas
penyakit)
b. Fraktur patologik
c. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas

d. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya
pelebaran vena
e. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat
badan menurun dan malaise.
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Radiologi
Biasanya gambaran radiogram dapat membantu untuk menentukan keganasan relatif
daritumor tulang. Sebagai contoh, suatu lesi bertepi bulat dan berbatas tegas cenderung
bersifatjinak. Lesi seperti itu sering kali memiliki tepi yang sklerotik, menunjukkan bahwa
tulangyang terserang memiliki cukup waktu dan kemampuan untuk memberikan respon
terhadapmassa yang tumbuh. Gambaran tepi lesi yang tidak tegas menandakan bahwa
proses invasitumor ke jaringan tulang yang berada di sekitarnya.Lesi ini tumbuh dengan
cepat dan tulang tidak mempunyai cukup waktu guna mengadakanrespon pembelahan
untuk bereaksi melawan massa tersebut. Perluasan lesi melalui kortekstulang merupakan
cirri khas suatu keganasan. Kalau tumor menembus korteks, periosteumnyamungkin akan
terkelupas. Mungkin periosteumnya akan mengadakan respon denganmenimbun suatu
lapisan tipis tulang yang reaktif, lalu tulang akan terangkat, dan reaksiperiosteal tersebut
berulang kembali. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan untuk membantumenegakkan
diagnosis meliputi foto sinar-x lokal pada lokasi lesi atau foto survei seluruh tulang ( bone
survey ) apabila ada gambaran klinis yang mendukung adanya tumor ganas/ metastasis.
Foto polos tulang dapat memberikan gambaran tentang:
1) Lokasi lesi yang lebih akurat, apakah pada daerah epifisis, metafisis, diafisis, atau pada
organ - organ tertentu.
2) Apakah tumor bersifat soliter atau multiple.
3) Jenis tulang yang terkena.
4) Dapat memberikan gambaran sifat tumor, yaitu: Batas, apakah berbatas tegas atau
tidak, mengandung kalsifikasi atau tidak.
5) Sifat tumor, apakah bersifat uniform atau bervariasi, apakah memberikanreaksi pada
periosteum, apakah jaringan lunak di sekitarnya terinfiltrasi.
6) Sifat lesi, apakah berbentuk kistik atau seperti gelembung sabun.
Pemeriksaan radiologi lain yang dapat dilakukan, yaitu:
1) Pemindaian radionuklida. Pemeriksaan ini biasanya dipergunakan pada lesi yang
kecil seperti osteoma.

10

2) CT-scan.

Pemeriksaan

CT-scan

dapat memberikan informasi tentang

keberadaantumor, apakah intraoseus atau ekstraoseus.


3) MRI . MRI dapat memberika informasi tentang apakah tumor berada dalam
tulang,apakah tumor berekspansi ke dalam sendi atau ke jaringan lunak.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksan laboratorium merupakan pemeriksaan tambahan/ penunjang dalam
membantumenegakkan diagnosis tumor.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi:
1) Darah. Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan laju endap darah, haemoglobin,
fosfatase alkali serum, elektroforesis protein serum, fosfatase asam serum yang
memberikan nilai diagnostik pada tumor ganas tulang.
2) Urine . Pemeriksaan urine yang penting adalah pemeriksaan protein Bence-Jones.
c. Biopsi
Tujuan pengambilan biopsi adalah memperoleh material yang cukup untuk
pemeriksaanhistologist, untuk membantu menetapkan diagnosis serta grading tumor.
Waktu pelaksanaanbiopsi sangat penting sebab dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
radiologi yangdipergunakan pada grading. Apabila pemeriksaan CT-scan dilakukan
setelah biopsi, akan tampak perdarahan pada jaringan lunak yang memberikan kesan
gambaran suatu keganasanpada jaringan lunak.
Ada dua metode pemeriksaan biopsi, yaitu :
1) Biopsi tertutup, dengan menggunakan jarum halus ( fine needle aspiration,
FNA) dengan menggunakan sitodiagnosis, merupakan salah satu biopsi untuk
melakukandiagnosis pada tumor.
2) Biopsi terbuka
Biopsi terbuka adalah metode biopsi melalui tindakan operatif. Keunggulan biopsi
terbuka dibandingkan dengan biopsi tertutup, yaitu dapatmengambil jaringan yang
lebih besar untuk pemeriksaan histologis dan pemeriksaanultramikroskopik,
mengurangi kesalahan pengambilan jaringan, dan mengurangikecenderungan
perbedaan diagnostik tumor jinak dan tunor ganas (seperti antaraenkondroma dan
kondrosakroma, osteoblastoma dan osteosarkoma). Biopsi terbuka tidak boleh
dilakukan bila dapat menimbulkan kesulitan pada prosedur operasi berikutnya,
misalnya pada reseksi end-block .

11

9. Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul,antara lain gangguan produksi antibodi,infeksi yang biasa disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang yang luas dan
merupakan juga efek dari kemoterapi,radioterapi,dan steroid yang dapat
menyokong terjadinya leucopenia dan fraktur patologis,gangguan ginjal dan
system hematologis,serta hilangnya anggota ekstremitas.Komplikasi lebih lanjut
adalah adanya tanda tanda apatis dan kelemahan
10. PENATALAKSANAAN
Osteosarkoma mempunyai program yang lebih baik, disebabkan oleh
prosedur penegakkan diagnosis dan staging dari tumor yang lebih baik, begitu
juga dengan adanya pengobatan yang lebih canggih. Dalam penanganan
osteosarkoma modalitas pengobatannya dapat dibagi atas dua bagian yaitu dengan
kemoterpai dan dengan operasi.
a. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat vital pada
osteosarkoma, terbukti dalam 30 tahun belakangan ini dengan kemoterapi
dapat

mempermudah

melakukan

prosedur

operasi

penyelamatan

ekstremitas (limb salvage proceure) dan meningkatkan survival rute dari


penderita. Kemoterapi juga mengurangi metastase ke paru paru dan
sekalipun ada, mempermudah melakukan eksisi pada metastase tersebut.
Regimen standar kemoterapi yang dipergunakan dalam pengobatan
osteosarkamo

adalah

kemoterapi

preoperative

(preoperative

chemotherapy) yang disebut juga dengan induction chemotherapy atau


neoadjuvant chemotherapy dan kemoterapi postoperative (postoperative
chemotherapy) yang disebut juga dengan adjuvant chemotherapy.
Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor
primernya, sehingga tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan
pengobatan secara dini terhadap terjadinya mikro-metastase. Keadaan ini
akan membantu mempermudah melakukan operasi reseksi secara luas
dari tumor dan sekaligus masih dapat mempertahankan ekstrimnya.
Pemberian kemoterapi posperatif paling baik dilakukan secepat mungkin
sebelum 3 minggu setelah operasi.

12

Obat-obat kemoterapi yang mempunyai hasil cukup efektif untuk


osteosarkoma adalah : doxorubicin (Andriamycin), cisplatin (Platinol),
ifosfamide (Ifex), mesna (Rheumatrex). Protocol standar yang digunakan
adalah doxorubicin dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis
tinggi, baik sebagai terapi induksi (neoadjuvant) atau terai adjuvant.
Kadang-kadang

dapat

ditambah

dengan

ifosfamide.

Dengan

menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang intensif,


terbukti memberikan perbaikan terhadap survival rate 60-80%.
b. Operasi
Saat ini prosedur Limb Salvage merupakan tujuan yang diharapkan
dalamoperasi suatu osteosarkoma. Maka dari itu melakukan reseksi tumor
dan melakukan rekrontruksinya kembali dan mendapatkan fungsi yang
memuaskan dari ektermitas merupakan salah satu keberhasilan melakukan
operasi. Dengan memberikan kemoterpi preoperatif (induction =
neodjuvant

chemotherapy)

ekstremitas

(limb-sparing

melakukan
resection)

operasi
dan

mempertahankan

sekaligus

melakukanj

rekonstruksi akan lebih aman dan mudah, sehingga amputasi tidak perlu
pada 90 sampai 95% dari penderita osteosarkoma. Dalam penelitian
terbukti tidak terdapat perbedaab survival rate antara operasi amputasi
dengan limb-sparing resection. Amputasi terpaksa dikerjakan apabila
prosedur limb-savage tidak dapat atau tidak memungkinkan lagi
dikerjakan.
Setelah melakukan reseksi tumor, terjadi kehilangan cukup banyak
dari tulang dan jaringan lunaknya, sehingga memerlukan kecakapan untuk
merekonstruksi kembali dan ekstremitas tersebut. Biasanya untuk
rekonstruksi

digunakan

endo-protesis

dari

methal.

Protesis

ini

memberikan stabilitas fiksasi yang baik sehingga penderita dapat


menginjak (weight-bearing) dan mobilitas secara cepat, memberikan
stabilitassendi yang baik, dan fungsi dari ekstremitas yang baik dan
memuaskan. Begitu juga endoprotesis methal meminimalisasi komplikasi
post operasinya disbanding dengan menggunakan bone graft.
c. Follow-up Post-operasi

13

Post operasi dilanjutkan pemberian kemoterapi obat multiagent


seperti sebelum operasi. Setelah pemberian kemoterapinya selesai maka
dilakukan pengawasan terhadap kekambuhan tumor secara local maupun
adanya metastase, dan komplikasi terhadap proses rekonstruksinya.
Biasanya komplikasi yang terjadi terhadap rekonstruksinya adalah :
longgarnya protesis, infeksi, kegagalan mekanik. Pemerikasaan fisik
secara rutin pada tempat operasinya mupun secara sistematik terhadap
terjadinya kekambuhan maupun adanya metastase. Pembuatan plain-foto
dan CT scan dari local ekstremitasnya maupun paru-paru merupakan hal
yang harus dikerjakan. Pemerikasaan ini dilakukan setiap 3 bulan dalam 2
tahun pertama post operasinya, dan setiap 6 bulan pada 5 tahun
berikutnya.
11. PROSES KEPERAWATAN DENGAN OSTEOSACROMA
a. pengkajian
1) Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, pendidkan, pekerjaan, status perkawinan,
alamat, dan lain-lain.
2) Anamnesa
Pengkajian berdasarkan karakterisitik nyeri:
P : palliative : tidak teridentifikasi
Q : quality/quanty : pada kasus nyeri yang dirasakan klien terus menerus.
R ::region ; nyeri terletal pada tungkai bawah kanan.
S : scale ; klien menyatakan bahwa nyerinya ada pada skala 9 (0-10)
T : nyeri terjadi sejak 3bulan yang lalu dan akan bertambah nyeri apabila area
bengkaknya disentuh atau bergesekan dengan kain.
3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada daerah tulang yang terkena.
Klien mengatakan susah untuk beraktifitas/keterbatasan gerak
Mengungkapkan akan kecemasan akan keadaannya
b) Riwayat kesehatan dahulu

14

Perlu dikaji apakah klien pernah menderita suatu penyakit yang


berat/penyakit

tertentu

yang

memungkinkan

berpengaruh

pada

kesehatan sekarang, kaji adanya trauma prosedur operatif dan


penggunaan obat-obatan.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan
seperti yang dialami klien/gangguan tertentu yang berhubungan secara
langsung dengan gangguan hormonal seperti gangguan pertumbuhan
dan perkembangan.

3. Pengkajian fisik
Inspeksi :
a. Postur: terlihat massa sebesar bola tenis di tungkai kanan,kemerahan,dan mengkilap
b. Gaya berjalan: nyeri dirasakan klien pada skala9 sehingga dapat dipastikan klien
tidak bisa berjalan dengan baik.
c. ROM : klien tidak dapat bergerak bebasd.
Perubahan warna kulit : terlihat perubahan kulit berupa rubor dan mengkilat pada
areapembengkakan,ditemukan adanya pus berwarna hijau.
Palpasi:
a. Nyeri tekan bertambah apabila disentuh dan bergesekan dengan kain,sehingga
perawat tidak bolehmenekannya.
b. Edema (tempat,ukuran,temperature)Edema pada tungkai bawah kanan klien sebesar
bola tennis dan timbul rubor dan mengkilat.
4. Hasil laboratorium/radiologi
Terdapat

gambaran

adanya

kerusakan

tulang

dan

pembentukan

tulang
baru.
Adanya gambaran sun ray spicules atau benang-benang tulang dari kortek
tulang.
Terjadi peningkatan kadar alkali posfatase.

15

b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
(amputasi).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
masalah nyeri akut teratasi seluruhnya.
DS : Klien mengatakan nyeri sebelum dan setelah pembedahan
DO :
Fokus diri klien tampak menyempit, dan
Perilaku klien tampak melindung diri / berhati-hati.
Kriteria Hasil :
Klien mengatakan nyeri hilang dan terkontrol,
Klien tampak rileks, tidak meringgis, dan mampu istirahat/tidur dengan
tepat,
Tampak memahami nyeri akut dan metode untuk menghilangkannya, dan
Skala nyeri 0-2.
Intervensi:
a) Catat dan kaji lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10). Selidiki
perubahan karakteristik nyeri.
R : Untuk mengetahui respon dan sejauh mana tingkat nyeri pasien.
b) Berikan tindakan kenyamanan (contoh ubah posisi sering, pijatan
lembut).
R : Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang
luka.
c) Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka.
R : Peningkatan vena return, menurunkan edema, dan mengurangi
nyeri.
d) Berikan lingkungan yang tenang.
R : Agar pasien dapat beristirahat dan mencegah timbulnya stress.
e) Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgetik, kaji efektifitas
dari tindakan penurunan rasa nyeri.
R : Untuk mengurangi rasa sakit / nyeri.
2) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan
muskuluskletal, nyeri, dan amputasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
masalah kerusakan mobillitas fisik teratasi seluruhnya.
DS : Klien mengatakan sulit untuk bergerak
DO : Klien tampak mengalami Gangguan koordinasi; penurunan
kekuatan otot, kontrol dan massa.

16

Kriteria Hasil :
a) Pasien menyatakan pemahaman situasi individual, program
pengobatan, dan tindakan keamanan,
b) Pasien tampak ikut serta dalam program latihan / menunjukan
keinginan berpartisipasi dalam aktivitas,
c) Pasien menunjukan teknik / perilaku yang memampukan tindakan
beraktivitas, dan
d) Pasien tampak mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai
tingkat optimal.
Intervensi :
a) Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi
pasien tentang immobilisasi tersebut.
R /: Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak
proporsional).
b) Dorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca
koran dll ).
R / : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi,
memusatkan perhatian, meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien
dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial.
c) Anjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang
cedera maupun yang tidak.
R / : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk
meningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah
kontraktur / atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan.
d) Bantu pasien dalam perawatan diri.
R / : Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien
dalam mengontrol situasi, meningkatkan kemauan pasien untuk
sembuh.
e) Berikan diit Tinggi protein Tinggi kalori , vitamin , dan mineral.
R / : Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan BB,
karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB.
f) Kolaborasi dengan bagian fisioterapi.
R / : Untuk menentukan program latihan.
3) Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan penekanan
pada daerah tertentu dalam waktu yang lama.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
masalah kerusakan integritas kulit / jaringan taratasi seluruhnya.

17

Kriteria Hasil : Klien Menunjukkan prilaku / tehnik untuk mencegah


kerusakan kulit tidak berlanjut.
Intervensi :
a) Kaji adanya perubahan warna kulit.
R / : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit.
b) Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan.
R / : Untuk menurunkan tekanan pada area yang peka resiko
kerusakan kulit lebih lanjut.
c) Ubah posisi dengan sesering mungkin.
R / : Untuk mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan
meminimalkan resiko kerusakan kulit.
d) Beri posisi yang nyaman kepada pasien.
R / : Posisi yang tidak tepat dapat menyebabkan cedera kulit /
kerusakan kulit.
e) Kolaborasi dengan tim kesehatan dan pemberian zalf / antibiotic.
R / : Untuk mengurangi terjadinya kerusakan integritas kulit.
4) Resiko infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka kerusakan jaringan
lunak.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
masalah resiko infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
a) Tidak ada tanda-tanda Infeksi,
b) Leukosit dalam batas normal, dan
c) Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
a) Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya: edema,
rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.
R/ : Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.
b) Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka.
R/ : Meminimalkan terjadinya kontaminasi.
c) Rawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik
R/ : Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi silang.
d) Mewaspadai adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak,
edema lokal, eritema pada daerah luka.
R/ : Merupakan indikasi adanya osteomilitis.
e) Kolaborasi pemeriksaan darah : Leukosit
R/ : Leukosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi.

18

Daftar Pustaka
1. Brunner & Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi
8 Volume 2. Jakarta : EGC
2. Hide G. 2007. Osteosarkoma, Variants. (online), (http://www.emedicine.
com).
3. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/dr
%20siki_9.pdfhttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19573/4/Ch
apter%20II.pdf.
4. http://ifaria.files.wordpress.com/2010/01/patofis-osteosarcoma.doc.
5. http://www.scribd.com/doc/49448400/PATOFISIOLOGIOSTEOSARCOMA
6. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19573/4/Chapter
%20II.pdf.
7. http://wikimedya.blogspot.com/2010/11/definisi-konsep-penyakitosteosarcoma.html.
8. National Cancer Institute. 2008. Osteosarkoma/Malignant Fibrous
Histiocytoma of Bone Treatment. (online), (http://www.cancer.gov).
9. Otto, Shirley E. 2003. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.
10. Patel SR, Benjamin RS. Soft Tissue and Bone Sarcomas and Bone
Metastases. Dalam: Kasper DL et al. Harrisons Principles of Internal
Medicine 16th ed. USA: McGRAW-HILL. 2005
11. Rasjad, Choiruddin. (2003). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar :
Bintang Lamimpatue.
12. Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Volume 2. Jakarta : EGC
13. Springfield D. Orthopaedics. Dalam: Brunicardi FC. Schwartzs Manual of
Surgery 8th ed. USA: McGRAW-HILL. 2006.
14. Syamsuhidayat, R dan Wim de Jong. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi
2. Jakarta : EGC.
15. Wilkinson, Judith M. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta :
EGC.

19

PATHWAY

GENETIKA

VIRUS
ONKOGENIK

KELAINAN GENETIK
PADA LENGAN PANJANG
KROMOSOM 13

TERPAPAR
RADIASI

TUMOR

MASUK KEDALAM TUBUH

TUMBUH KEDALAM JARINGAN METAFIN


TERJADI DELESI PADA TULANG

OSTEOLITIK

MENGEROSI KORTEKS
PERTUMBUHAN
TULANG ABNORMAL

JARINGAN LUNAK TERSERANG

OSTEOSARKOMA

OSTEOBLASTIK

TULANG RUSAK

TIMBUL LESI
DESTRUKTIF
IREGULAR

NYERI TULANG RAWAN


METASTASIS KE ORGAN LAIN
GANGGUAN RASA
NYAMAN NYERI
INFEKSI

KERUSAKAN
INTEGRITAS KULIT

TERAPI

KOMPLIKASI
PENYAKIT

BEDAH

RADIASI X-RAY

KEMOTERAPI

MUAL/
MUNTAH

ALOPESIA
KERUSAKAN
INTEGRITAS
KULIT

BIOPSI

PERUBAHAN
NUTRISI

AMPUTASI

INTOLERANSI
AKTIVITAS;
KELETIHAN
GANGGUAN
CITRA TUBUH
GANGGUAN
RASA
NYAMAN
NYERI

KERUSAKAN MOBILITAS FISIK

BERAT
BADAN
TURUN