Anda di halaman 1dari 13

1

PORTOFOLIO
Kasus-5
Topik: Depresi tanpa gejala Psikotik
Tanggal (Kasus) : 7 Mei 2015
Presenter : dr. Dwi Akbarini
Tanggal Presentasi : 30 Mei 2015
Pendamping : dr. Asep Zainudin , Sp.PK
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Sekayu
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan
Pustaka
Diagnostik
Bayi

Manajemen
Anak

Remaja

Masalah
Dewasa

Lansia

Neonatus
Deskripsi : Tn. J, 28 Tahun, depresi tanpa gejala psikotik
Tujuan : Diagnosis dan tatalaksana Depresi
Bahan Bahasan :
Tinjauan
Riset
Kasus
Cara membahas

Pustaka
Diskusi

Presentasi dan diskusi

Istimewa
Bumil

Audit
Email

Pos

Data

Nama : Tn. J
Umur : 28 Tahun Pekerjaan : Wiraswasta
No. Reg :
Alamat : Sekayu Agama : Islam
10-67-66
Pasien :
Suku Bangsa : Melayu, Indonesia
Nama RS: RSUD Sekayu
Telp :
Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi:
1 Diagnosis / Gambaran Klinis: Pasien Laki-laki, 28 tahun, belum menikah, dibawa keRS
oleh keluarganya karena pasien sering diam menyendiri dan tidak mau bicara dengan
keluarga sejak 1 bulan yang lalu. Pasien juga tidak mau makan sejak 1 minggu yang lalu.
Menurut pengakuan ibu pasien, pasien 1 bulan yang lalu sedang menghadapi masalah
dengan pacarnya. Pasien putus dengan pacarnya, pasien sudah berencana menikah dengan
pacarnya. Namun pacar pasien memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas. Sejak saat
itu, pasien mengalami perubahan perilaku seperti menjadi pendiam dan penyendiri. Pasien
juga tidak mau makan. Pasien juga tidak bias berkomunikasi dengan siapapun.
2. Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah berobat
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien belum pernah menderita penyakit serupa
sebelumnya.
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sama dengan pasien
5. Riwayat Pekerjaan : Os belum bekerja
6. Lain-lain : Riwayat Imunisasi: Imunisasi dasar lengkap
Daftar Pustaka:
a Maslim, Rusdi dr. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari PPDGJ
b

III Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya. Jakarta, 2001.


Ismail, R.I. dan K.Siste. Gangguan Depresi Dalam: Elvira, S.D. (Editor). Buku Ajar
Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Badan Penerbit FKUI. Jakarta,

Indonesia,2002. hal 209-222


Kaplan, H. I dkk. Synopsis of Psychiatry (jilid 1). Terjemahan oleh: Kusuma, Widjaja.

Binarupa Aksara Publisher. Tangerang, Indonesia, 2010.


Hasil Pembelajaran
1.Definisi Gangguan Depresi
2.Etiologi dan Patofisiologi GangguanDepresi
3.Manifestasi Klinis Gangguan Depresi
4.Terapi Gangguan Depresi

Subjektif
Alloanamnesis (Orang Tua Pasien)

Pasien Laki-laki, 28 tahun, belum menikah, dibawa keRS oleh keluarganya karena pasien
sering diam menyendiri dan tidak mau bicara dengan keluarga sejak 1 bulan yang lalu. Pasien
juga tidak mau makan sejak 1 minggu yang lalu. Menurut pengakuan ibu pasien, pasien 1
bulan yang lalu sedang menghadapi masalah dengan pacarnya. Pasien putus dengan pacarnya,
pasien sudah berencana menikah dengan pacarnya. Namun pacar pasien memutuskan
hubungan tanpa alasan yang jelas. Sejak saat itu, pasien mengalami perubahan perilaku
seperti menjadi pendiam dan penyendiri. Pasien juga tidak mau makan. Pasien juga tidak bias
berkomunikasi dengan siapapun.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Kejang (-)
Riwayat Trauma Capitis (-)
Riwayat NAPZA (-), Alkohol (-)
Riwayat Demam lama (-)
Riwayat Alergi obat (-)
Riwayat hidup dan gambaran premorbid:
Bayi
: lahir normal, cukup bulan, ditolong oleh bidan, tidak ada masalah
selama kehamilan dan menyusui
Anak Anak
: Pendiam, tidak terlalau banayak teman
Remaja dan Dewasa: Pendiam, tertutup, tidak terlalu banyak teman.

Riwayat Keluarga :

Ket: Os anak pertama dari 3


bersaudara, os memilika dua adik
laki-laki.
Ayah dan ibu os masih hidup

Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal.


Riwayat Pendidikan :
SD : tamat, tidak pernah tinggal kelas, nilai rata-rata
SMP : tamat, tidak pernah tinggal kelas, nilai rata-rata
Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta
Riwayat Perkawinan : Belum menikah
Riwayat agama :
Os beragama Islam tetapi os tidak taat dalam menjalankan ibadahnya.
Hubungan dengan keluarga :
Os memiliki hubungan yang baik dengan ayah kandung, ibu kandung dan saudaranya.
Keluarga Os juga mendukung Os untuk sembuh. Pada saat ini Os tinggal di rumah milik
orang tuanya.
Status Ekonomi:
Os hidup bersama ayah dan ibunya. Ayah os bekerja sebagai PNS dan ibu os sebagai ibu
rumah tangga. Os bekerja membuka usaha jual hp.
2

Objektif
Dari hasil anamnesis pasien yang mengarah
Objektif :
Pemeriksaan fisik:
TD 120/80, HR 80x/menit, RR 18x/menit, Suhu: 36,5C
Status generalisata: dalam batas normal
Gejala rangsang meningeal: negatif
Nervus cranial: Tidak ada kelainan
Fungsi motorik, sensorik dan koordinasi: normal
Refleks fisiologis: normal
Refleks patologis: negatif

Pemeriksaan Psikiatri:
Keadaan Umum
Kesadaran/Sensorium
Perhatian
Sikap
Inisiatif
Tingkah Laku Motorik

: Compos mentis
: Adekuat
: Kooperatif
: Ada
: Normoaktif

Verbalisasi
Cara Bicara
Kontak Psikis :

: Jelas
: Lancar
- Kontak Fisik
- Kontak Mata
- Kontak Verbal

: Ada, adekuat
: Ada, adekuat
: Ada, adekuat

Keadaan Khusus
Keadaan afektif: Distimik
Hidup emosi: Labil
Keadaan fungsi intelek: daya ingat baik, daya konsentrasi baik, orientasi baik,
kemunduran itelektual tidak ada.
Kelainan proses berpikir: waham (-)
Sensasi dan persepsi: Halusinasi (-) dan ilusi (-)
Keadaan dorongan instinktual dan perbuatan: baik
Anxietas: tidak ada
RTA (Reality Testing Ability): tidak terganggu dalam pikiran, perasaan dan
perbuatan.
Pemeriksaan Lanjutan:
Laboratorium: Belum dilakukan
3

Assessment

Depresi
Definisi
Buckley and Buckley (2006) menyebutkan bahwa depresi adalah menurunnya mood
dan hilangnya minat terhadap aktivitas-aktivitas yang biasanya dilakukan. Ismail dan Siste
(2010) mengatakan pasien dalam keadaan depresi memperlihatkan kehilangan energi dan
minat, merasa bersalah, sulit berkosentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh
diri.
Berdasarkan DSM-IV seseorang mengalami gangguan depresi jika dia merasakan 5
gejala secara bersamaan dari 9 gejala yang ada, antara lain :
1. Kehilangan mood, biasanya terjadi di pagi hari
2. Merasakan letih atau kehilangan energi setiap harinya
3. Merasakan ketidakberhagaan diri atau perasaan bersalah hampir setiap hari
4. Hilang kemampuan berkosentrasi dan bimbang
5. Susah untuk tidur atau bahkan selalu tidur setiap harinya
6. Kehilangan minat atau merasakan kesenangan dalam setiap aktivitas setiap harinya
7. Timbul pemikiran-pemikiran tentang kematian atau bahkan pemikiran-pemikiran
untuk melakukan tindakan bunuh diri.

8. Gelisah, tidak dapat diam tenang, gerakkannya terlihat tidak memiliki tenaga
9. Berat badan turun atau bertambah (5% dari berat badan sebelumnya dalam waktu 1
bulan).
Dari sembilan gejala yang ada Waller dan Rumball (2004) membagi ke dalam 4 gejala
berdasarkan ranah tingkah lakunya :
1. Affective Symptoms
2. Cognitive Symptoms
3. Behavioral Symptoms
4. Physical Symptoms
Tingkatan Depresi
Berdasarkan The International Classification of Disease (ICD)-10 Classification of
Mental Behavioural Disorder, World Health Organization (1993), mengklasifikasi tingkatan
depresi sebagai berikut :
1. Mild / Minor Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami mild depression akan merasakan 2 dari
3 gejala pertama diikuti dengan 2 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Mild depression seringkali terjadi pada kondisi konstan (3-4 bulan)

dan secara

episodik. Jika seseorang yang mengalami mild depression ditanggulangi dengan perawatan
yang baik akan mencegah untuk menjadi lebih buruk.
2. Moderate Depression

Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami moderate depression akan merasakan 2


dari 3 gejala diikuti dengan 4 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Biasanya seseorang yang mengalami moderate depression akan jelas terlihat


mengalami penurunan kepercayaan diri dan self esteem, tidak produktif dalam bekerja,
menjadi sangat sensitif perasaannya.
3. Major/ Severe Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami severe depression akan merasakan 3
gejala pertama diikuti 5 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat


badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Seseorang yang mengalami major/ severe depression akan mengalami perasaan


bersalah, stress yang parah sehingga tidak dapat bekerja, bersosialisasi maupun berinteraksi
dengan keluarga ataupun kerabat dekatnya.
Etiologi
Ismail dan Siste (2010) membagi faktor penyebab depresi menjadi faktor
organobiologi, faktor genetik, faktor psikososial, faktor kepribadian dan faktor psikodinamik.
1. Faktor organobiologi
2. Faktor genetik
3. Faktor psikososial
4. Faktor kepribadian.
5. Faktor psikodinamik pada depresi
6. Teori Kognitif
Macam-macam Depresi
Harun (2009) membagi depresi menjadi :
1. 1.

Depresi pasca kausa

2. Depresi pasca stroke


3. Depresi Neurotik
4. Depresi Siklitimik
5. Depresi Pasca NAPZA
Gejala Klinis Depresi
Harun (2009) mengatakan bahwa gangguan kejiwaan pada alam perasaan atau mood
disorder yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak
berguna, putus asa dan lain-lain. Berikut gejala-gejala dari depresi :
1. Perasaan murung (afek disforik), sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat
2. Merasa tidak berdaya, perasaan bersalah, berdosa, penyesalan
3. Berat badan menurun, nafsu makan menurun
4. Kosentrasi dan daya ingat menurun
5. Gangguan tidur (insomnia)
6. Agitasi (gaduh, gelisah dan lemah tak berdaya)
7. Hilang rasa senang, semangat dan minat.
8. Kreativitas menurun, produktivitas menurun

9. Gangguan seksual berupa libido menurun


10. Pikiran akan kematian, bunuh diri
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, diagnosis
depresi ditegakkan dengan adanya gejala utama berupa afek depresif, kehilangan minat dan
kegembiraan dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
mudah lelah yang nyata sesudah bekerja) dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya berupa
kosentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan kepercayaam diri berkurang, gagasan tentang
rasa berasalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan
atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan
berkurang. Diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis,
tetapi periode pendek dapat dibenarkan bila gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
PPDGJ III mengklasifikasikan depresi menjadi 3 kategori yaitu ringan, sedang dan berat.
Pedoman diagnsotik untuk depresi ringan yaitu : sekurang-kurangnya harus ada 1 dari 3
gejala utama depresi seperti tersebut diatas, ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala
lainnya. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya, lamanya seluruh episode berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu, hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial
yang biasa dilakukannya.
Pedoman diagnostik untuk depresi sedang yaitu : sekurang-kurangnya harus ada 2 dari
3 gejala utama depresi seperti pada episode ringan, ditambah sekurang-kurangnya 3 gejala
lainnya, lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu dan penderita
mengalami kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan
rumah tangga.
Pedoman diagnsotik untuk depresi berat yaitu : harus ada semua 3 gejala utama depresi,
ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya berintensitas
berat, bila ada gejala penting (misal agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka
mungkin pasien tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara
rinci, episode depresif harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi gejala
sangat berat dan beronset cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam
kurun waktu kurang dari 2 minggu dan umumnya tidak mungkin penderita akan mampu
meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga.
2.1.7. Skala Penilaian Objektif Untuk Depresi
Skala penilai objektif yang dapat digunakan dalam praktek dokter atau untuk
dokumentasi keadaan klinik pasien depresi.

The Zung Self-Rating Depression Scale terdiri dari 20 item skala pelaporan. Skala
normal adalah < 34 : skor depresi adalah > dari 50. Skala tersebut meliputi indek global
intensitas gejala depresi pasien, termasuk kecenderungan ekspresi dari depresi (Ismail dan
Siste, 2010)
Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) adalah suatu skala pengukuran depresi
terdiri dari 17 pertanyaan dengan tiap pertanyaan memiliki 4 pilihan jawaban, masing-masing
pilihan dengan skor 0,1,2 dan 3 dengan sensitivitas sebesar 78,4% dan spesifisitas 81,3%.
HDRS saat ini merupakan salah satu test yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi
depresi pada berbagai lembaga penelitian. Keakuratan diagnosis HDRS dapat mencapai
87,1% pada skor > 17, oleh karena itu lebih baik dalam proses penegakkan diagnosis
(Nardeeka, 2007). HDRS merupakan test yang dilakukan secara wawancara oleh observer
sedangkan test-test serupa menggunakan metode penilaian diri sendiri oleh pasien (Self
Rating). Skor akhir HDRS berkisar dari 0-54 dengan klasifikasi skor 0-6 tidak ada depresi,
skor 7-17 depresi derajat ringan, skor 18-24 depresi sedang dan skor > 24 depresi derajat
berat (Amir, 2005)
4

Plan

Diagnosis Multiaksial
AKSIS I
:
AKSIS II
: Gambaran kepribadian skizoid
AKSIS III
: Tidak ada Diagnosis
AKSIS IV
: Masalah keluarga : pasien putus hubungan dengan calon istrinya.
AKSIS V
:
- GAF Scale saat ini: 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik).
DIAGNOSIS DIFERENSIAL

Terapi Farmakologi
Psikofarmaka :
Antidepresan Amitryptilin 2 x 25 mg
Psikoterapi :
Pada Keluarga:
o Memotivasi keluarga untuk membawa pasien kontrol ke dokter dan minum
obat secara teratur dan menciptakan suasana yang dapat membantu
penyembuhan.

10

o Bila pada saat keluhan datang dan pasien merasa ketakutan, pasien dapat
mencari perlindungan dari anggota keluarganya atau jika masih mengganggu
juga segera kontrol ke dokter.
Pada pasien
o Jika ada suara-suara jangan dipedulikan.
o Mencoba mengalihkan pikiran-pikiran negatif dengan mengisinya dengan
kegiatan positif yang bermanfaat.
o Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Terhadapat Lingkungan
o Tidak menjauhi pasien dan membiarkan pasien berinteraksi dengan
lingkungan sehingga membantu bersosialisasi
Prognosis:
Dubia ad Bonam
DM

: Assalamualaikum bu, saya Dwi, dokter yang bertugas di sini. Dengan ibu siapa?

: Er dok.

DM

: Oke, ibu er. Ada yang bisa saya bantu bu?

: Saya ngunde anakku dok nak berobat.

: kenapa anaknya bu?

P
bae.

: Anakku kak dok gawenye melamun bae, dak endak makan, dak endak tido, melamun

DM

: La lame cak ikak bu?

: Sudah lame dok.

DM

: Kalau boleh tau, ade sebab ape lah bu ?

P
: Ada masalah dengan calon istrinye dok, sekitar dua bulan yang lalu anakku kak dak
jadi nikah dengan calonnye itu dok. Sejak itulah die jadi mak ikak.
DM

: Sering dok, baru kalau saya melamun tiba-tiba kayak kosong pikiranku

11

DM
: Bisa di jelaskan kosong bagaimana yang kita maksud bu? Apa kita pikir kalau
sedang melamun bu??
P

: Tidak tau dok, tiba-tiba kayak kosong saja dok, saya pikirkanji ini masalahku dok.

DM :Mungkin kita pernah merasa mendengarkan bisikan-bisikan di telingata atau melihat


sesuatu yang orang lain tidak lihat?
P

: Tidak pernahji dok.

DM
ini?

: Oh, bagaimana awal mulanya ini bu? Sejak kapan ibu mulai sering melamun seperti

P
: Waktu bulan puasa kemarin dok saya pergi taraweh di mesjid, tiba-tiba saya
menangis lama sekali dok.
DM

: Memangnya apa yang ibu rasakan?

P
: Saya pikir mungkin masalahku ini karena ada dosaku sama orangtuaku, mungkin
memang ada salahku sampai mertuaku seperti ini.
DM

: memangnya mertuanya kenapa bu kalau boleh tau?

P
: Sepertinya terlalu mencampuri urusan rumah tangga kami dan suami saya selalu
menurut apa kata keluarganya
DM

: Dalam hal apa saja itu bu?

P
: Soal gaji biasa dok, keluarganya suamiku tau semua pemasukan suamiku, sedang
saya istrinya tidak tau.
DM

: oh, begitu, ibu makan dan tidurnya bagaimana bu?

P
: Makan yah agak kurang nafsu dok, tidur juga susah dan agak terbangun-bangun
kaget dok.
DM

: Kalau terbangun bisa tidur kembali?

: Susah dok

DM

: Bagaimana perasaanta sekarang bu?

12

: Sedihka pikir masalahku dok

DM

: Bagaimana dengan pekerjaan sehari-hari bu? Terganggu tidak dengan masalah ini?

: Kadang-kadang dok, saya kayak bingung mau bikin apa.

DM

: Tidak cepat capek ji bu?

: Lemas badanku dok, kayak tidak bertenaga.

DM

: Kalau sedang tidak berkegiatan, ibu biasanya bikin apa?

: Paling nonton TV

DM

: Masih menikmati acara televisi jeki bu?

: Biasaji dok, tidak terlalu kuperhatikan juga

DM

:Ibu suka kumpul dengan tetangga?

: Tidak dok, saya malas keluar rumah.

DM

: Sejak ada masalah ini?

: Dari dulu ji dok, tidak terlalu suka bergaul.

DM

: Oh ya, jadi selama 2 tahun ini masih sering bertemu dengan suami?

: Sudah tidak dok, saya sudah tidak ada juga keinginan kembali.

DM

: Memangnya kenapa bu?

: Sudah ada katanya juga surat cerai keluar

DM

: Oh, begitu. Ibu saya dengar dulu dijodohkan ya dengan suami?ibu setuju?

: Iya dok, pasrah saja

DM

:Ttapi setelah menikah ibu senang dengan suami?

: Iya, dia sebetulnya orang baik tapi begitulah terlalu menurut dengan keluarganya.

DM

: Ada lagi yang bisa kita sampaikan?

13

: Kadang tiba-tiba saya rasa takut

DM

: Takut dengan apa bu?

: Tidak tau juga

DM
: Kalau ada perasaan takut begitu, jantungnya berdebar-debar tidak bu? atau
tangannya dingin?
P

: Tidak ji dok

DM

:Oh, baiklah, masih ada bu.

: Tidak adami dok

DM

: Terimakasih bu sudah mau berbincang-bincang

: Sama-sama dok