Anda di halaman 1dari 16

1

Difraksi Laser pada Celah Tunggal


Elva Erinda (081311333035), Magfira Maulidiyah (081311333081), Ilham Nur Dimas Y
(081311333083), Minda Pujiati (081311333084), Isniar Wardani (081311333098), Osas Lisa
I (081311333102), M Nizar Zulmi (081311333103)
Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Jl. Mulyorejo, Kampus C, Unair Surabaya 60115 Indonesia
AbstrakTelah dilakukan percobaan difraksi
cahaya oleh celah tunggal yang bertujuan untuk
menentukan panjang gelombang sinar laser He-Ne.
Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini yaitu
cahaya dapat mengalami proses interferensi serta
difraksi atau pelenturan sebagaimana sifat cahaya
sebagai gelombang. Peralatan yang digunakan pada
percobaan ini antara lain yaitu laser He-Ne, detektor
optis, mikrovoltmater, celah (kisi), kabel
penghubung, multi clamp dan bangku optik.
Percobaan ini dilakukan dengan laser, lensa dan
celah disusun secara sejajar. Laser diarahkan
kecelah tunggal yang telah diberikan (kisi). Laser
diarahkan sampai menghasilkan bayangan garis
dengan pola gelap-terang secara sempurna sehingga
mudah diamati dan diukur. Percobaan dilakukan
dengan melakukan variasi terhadap pergeseran layar
kekanan dan kekiri guna mendapatkan nilai dari
bentuk maksimum gelombang. Kesimpulan dalam
percobaan ini adalah hasil pelenturan gelombang
cahaya melalui sebuah celah sempit yang
mengakibatkan pola gelombang yang lebih terang
(interferensi maksimum) dan keadaan yang gelap
(interferensi minimum). Dalam percobaan ini
diketahui lebar celah tunggal yang digunakan
sebesar d= 0,24 mm dan didapatkan hasil
perhitungan panjang gelombang laser He-Ne
sebesar 778,93 nm dengan prosentase kesalahan
23,09%.
Kata Kuncidifraksi celah tunggal, laser He-Ne
I. PENDAHULUAN
Di akhir tahun 1940-an dan sekali lagi di awal tahun
1960-an, fisika kuantum membuat dua konstribusi
yang sangat besar kepada teknologi, yakni transistor
dan laser. Laser memimpin jalan ke arah bidang
baru yang kadang-kadang dinamakan fotonik

(photonics) yang membahas interaksi (pada tingkat


kuantum) antara foton dan bahan yang besar.
Foton adalah sebuah partikel dasar (yang
artinya sebuah partikel yang tidak bisa diuraikan
lagi). Foton dikenal juga sebagai unit terkecil dalam
bidang elektromagnetik, yang menarik dari foton
adalah ia mempunyai ciri gelombang dan juga
mempunyai ciri partikel. Artinya, foton bisa
dibiaskan oleh lensa, bisa berinterferensi dengan
gelombang lain, dan dia juga bisa diteksi ketika
dianalisis sebagai sebuah partikel. Dengan
demikian, foton juga memiliki sifat dualisme seperti
halnya cahaya.
Apabila berkas sinar laser dengan panjang
gelombang yang dilewatkan pada sebuah celah
sempit dengan lebar f akan mengalami difraksi.
Pola difraksi ini dapat dilihat pada layar atau diukur
dengan sensor cahaya. Jika antara c dengan layar
jauh lebih besar dari pada lebar celah maka berkas
yang sampai di layar dapat dianggap paralel.

Gambar 1.1 Difraksi Celah Tunggal


A. Difraksi
Difraksi adalah penyebaran gelombang karena
adanya halangan. Semakin kecil halangan,
penyebaran gelombang semakin besar. Penghalang
itu dapat berupa layar dengan celah kecil yang
mengizinkan sebagian kecil muka gelombang
datang untuk lewat. Selain itu juga dapat berupa
benda kecil, contohnya kawat atau cakram. Difraksi
cahaya dapat terjadi ketika cahaya melewati suatu

celah sempit (lebar celah lebih kecil dari panjang


gelombang), sehingga gelombang cahaya tampak
melebar pada tepi celah. Efek yang sama terjadi
ketika gelombang cahaya berjalan melalui medium
dengan indeks bias bervariasi. Difraksi terjadi pada
semua gelombang, termasuk gelombang suara,
gelombang air, dan gelombang elektromagnetik
seperti cahaya tampak, sinar-X dan gelombang
radio. Sebagai objek fisik yang memiliki sifat
seperti gelombang (pada tingkat atom), difraksi juga
terjadi dengan materi dan dapat dipelajari sesuai
dengan prinsip-prinsip mekanika kuantum.

gelombang yang baru pada suatu waktu kemudian


akan didapatkan dengan membangun sebuah
permukaan yang menyinggung gelombang kecil
sekunder, atau yang dinamakan pembungkus dari
gelombang itu.
.

Gambar 1.3
Prinsip Huygens menjelaskan pemancaran
gelombang cahaya

Gambar 1.2
Proses terjadinya difraksi pada gelombang
Hasil dari peristiwa difraksi adalah garis-garis
terang dan garis garis gelap seperti pada peristiwa
interferensi. Difraksi cahaya sulit untuk diamati
karena biasanya sumber cahaya polikromatik,
sehingga pola difraksi yang ditimbulkan setiap
gelombang cahaya saling tumpang tindih dan sumber
cahaya terlalu lebar sehingga pola difraksi yang
ditiimbulkan masing masing bagian akan saling
tumpang tindih dan cahaya tidak selalu koheren yang
menyebabkan polanya berubah-ubah sesuai beda
fasenya.
B. Prinsip Huygens
Prinsip Huygens menerangkan bahwa tiap-tiap
titik dari sebuah muka gelombang dapat ditinjau
dari sebuah muka gelobang dapat ditinjau sebagai
sumber gelombang-gelombang kecil sekunder yang
menyebar keluar ke segala arah dengan laju yang
sama degnan laju perambatan gelombang itu. Muka

Dari gambar 1.3 dapat dilihat bagaimana prinsip


Huygens menjelaskan perpindahan posisi dari AB
ke posisi CD. Setiap titik pada muka gelombang AB
berperan sebagai sumber gelombang titik yang
sangat kecil yang memancar ke arah CD. Muka
gelombang CD merupakan pembungkus atau
permukaan gelombang AB. Prinsip Huygens bisa
dipakai untuk menerangkan terjadinya difraksi
cahaya pada celah kecil. Pada saat melewati celah
kecil, muka gelombang akan menimbulkan wavelet
baru yang jumlahnya tak terhingga sehingga
gelombang tidak mengalir lurus saja, tetapi
menyebar.
C. Difraksi celah tunggal
Pada difraksi celah tunggal, apabila celah lebih
lebar daripada gelombang tunggal cahaya, maka
akan terjadi efek seperti interferensi pada celah. Hal
ini dapat dijelaskan dengan menganggap bahwa
celah bertindak sebagai sumber dari banyak titik
yang terpisah secara merata. Difraksi mengacu pada
penyimpangan (deviasi) dari perambatan garis lurus
yang terjadi ketika suatu gelombang bergerak
melewati suatu penghalang parsial. Ini biasanya
sesuai dengan pembengkokan atau penyebaran
gelombang pada tepi-tepi lubang dan penghalang.
Bentuk paling sederhana dari difraksi cahaya adalah
difraksi Fraunhofer atau far-field. Difraksi ini
diamati pada sebuah layar yang sangat jauh dar

lubang atau penghalang yang mengganggu arus


gelombang-gelombang datar yang datang.

Gambar 1.5

Gambar 1.4
Proses difraksi pada celah tunggal
Syarat terjadinya garis gelap ke m adalah :
d sin = m(1.1)
dengan m = 1, 2, 3
untuk sudut yang kecil berlaku :
pd
=m (1.2)
l
Syarat terjadinya garis terang ke m adalah :
1
d sin = ( m + 2

) .

(1.3)
dengan m= 0, 1, 2,.
untuk sudut yang kecil berlaku :
pd
1
=( m+ )
l
2
(1.4)

Proses difraksi celah tunggal ditinjau secara


matematis
Berkas-berkas cahaya yang melewati celah
tunggal, akan dibelokkan dengan sudut tertentu ().
Cahaya yang memasuki suatu celah terdiri dari
berkas-berkas cahaya. Setiap bagian celah berfungsi
sebagai sumber gelombang sehingga cahaya dari
bagian celah dapat mengalami superposisi pada
suatu titik y pada layar dengan gelombang cahaya
yang lainnya. [4]
D. Interferensi gelombang
Salah satu dari sifat cahaya adalah interferensi.
Interferensi merupakan perpaduan dua
gelombang atau lebih yang memiliki
beda fase konstan dan amplitudo yang
hampir sama. Interferensi dapat bersifat
membangun dan merusak. Bersifat
membangun jika beda fase kedua
gelombang sama sehingga gelombang
baru yang terbentuk adalah penjumlahan
dari kedua gelombang tersebut. Bersifat
merusak jika beda fasenya adalah 180
derajat, sehingga kedua gelombang
saling menghilangkan. Prinsip Huygens
menerangkan bahwa setiap wave front
(muka gelombang) dapat dianggap
memproduksi wavelet atau gelombanggelombang
baru
dengan
panjang
gelombang yang sama dengan panjang
gelombang sebelumnya. Wavelet bisa
diumpamakan
gelombang
yang
ditimbulkan oleh batu yang dijatuhkan ke
dalam air. [2]

lebih rendah, tidak harus ke keadaan dasar semula.


Proses acak ini dikenalsebagai fluoresensi terjadi
dalam selang waktu rerata yang disebut umur rerata,
lamanya tergantung pada keadaan dan jenis atom
tersebut.

Gambar 1.6
Pembentukan pita terang dan pita gelap pada
layar
Interferensi cahaya menghasilkan suatu pola
interferensi (terang-gelap). Pada inteferensi, berlaku
prinsip superposisi, yaitu Bila dua atau lebih
gelombang tumpang tindih, maka pergeseran
resultan di sembarang titik dan pada sembarang
saat, dapat dicari dengan menambahkan pergeseran
sesaat yang akan dihasilkan di titik itu oleh
gelombang-gelombang itu seandainya setiap
gelombang itu hadir sendirian.
E. Laser
Kata laser adalah singkatan dari Light
Amplification by Stimulated Emission of Radiation,
yang artinya perbesaran intensitas cahaya oleh
pancaran. Laser merupakan sumber cahaya koheren
yang monokromatik dan amat lurus. Cara kerjanya
mencakup optika dan elektronika. Para ilmuwan
biasa menggolongkannya dalam bidang elektronika
kuantum. Laser yang memancarkan sinar tampak
disebut laser - optik. Pada tahun 1917, Albert
Einstein mempostulatkan pancaran imbas pada
peristiwa radiasi agar dapat menjelaskan
kesetimbangan termal suatu gas yangsedang
menyerap dan memancarkan radiasi. Terdapat 3
proses yang terlibat dalam kesetimbangan itu,
yaitu : serapan, pancarn spontan (disebut fluorensi)
dan pancaran terangsang ( atau lasing dalam
bahasa Inggrisnya, artinya memancarkan laser).
Proses yang terakhir biasanya diabaikan terhadap
yang lain karena pada keadaan normal serapan dan
pancaran spontan sangat dominan. Sebuah atom
pada keadaan dasar dapat dieksitasi ke keadaan
tingkat energi yang lebih tinggi dengan cara
menumbukinya dengan elektron atau foton. Setelah
beberapa saat berada di tingkat tereksitasi ia secara
acak akan segera kembali ke tingkat energi yang

II. METODE
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini
antara lain laser He-Ne (sebagai sumber cahaya),
celah kisi (sebagai media untuk mendapatkan pola
yang terlihat pada layar dengan celah tunggal),
detektor optis foto sel (BPY 47), layar (sebagai
media pengamatan hasil difraksi), bangku optik,
multi clamp, kabel-kabel penghubung, dan
mikrovoltmeter (pengukur tegangan keluaran).

Gambar 2.1 Layar dan mikrovoltmeter


Langkah pertama dalam percobaan ini yaitu
dipasangkan semua alat dan bahan yang digunakan.
Laser dinyalakan sampai cahaya yang dipancarkan
oleh laser tersebut dapat melewati celah kisi
sehingga akan muncul pola difraksi yang mncul
pada layar maka gelombang tidak mengalir lurus
saja, tetapi menyebar.
Laser pada percobaan ini menghasilkan cahaya
koheren, yang berarti cahaya akan memasuki celah
dengan fase yang sama. Apabila cahaya lalu jatuh
pada layar yang ditempatkan dengan jarak tertentu
dari celah maka akan terjadi suatu pola gelap terang
pada layar. Pola cahaya tersebut dikenal dengan
nama pola difraksi celah tunggal atau pola difraksi
Fraunhoffer.
Pada difrakasi celah tunggal, pola difraksi yang
terbentuk ditentukan oleh panjang gelombang
cahaya dan lebar dari celah penghalang. Apabila
celah lebih lebar daripada gelombang tunggal
cahaya, maka akan terjadi efek seperti interferensi
pada celah. Hal ini dapat dijelaskan dengan
menganggap bahwa celah bertindak sebagai sumber

dari banyak titik yang terpisah merata. Apabila


sumber cahaya bersifat koheren, maka gelombangya
sefase. Cahaya yang tampak pada layar merupakan
kontribusi dari tiap titik sumber dan jika perbedaan
fase relatif dari gelombang ini bernilai 2pi. Pola
gelap terang yang tampak pada layar merupakan
hasil dari adanya proses interferensi gelombang
cahaya.
Peristiwa interferensi adalah penggabungan
atau superposisi gelombang. Gelombang ini saling
tumpang tindih sehingga menimbulkan superposisi
gelombang. Gelombang-gelombang yang memiliki
beda fase yang sama akan menghasilkan amplitudo
yang lebih besar sehingga interferensi ini disebut
sebagai interferensi konstruktif atau menguatkan.
Interferensi konstruktif ini menghasilkan pola
terang. Sedangkan gelombang-gelombang yang
memiliki beda fase yang berbeda akan saling
merusak sehingga interferensi ini disebut sebagai
interferensi destruktif. Interferensi destruktif ini
menghasilkan pola gelap.

III. ANALISIS DATA


1. Tabel hasil perhitungan celah tunggal (dari sisi kiri)

10

2. Tabel hasil perhitungan celah tunggal (dari sisi kanan)

11

12

13

Hubungan Pergeseran terhadap Tegangan Keluaran (dari sisi kiri)


1600
1400
1200
1000
Tegangan keluaran (mV)

800
600
400
200
0
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
Pergeseran(mm)

Hubungan Pergeseran terhadap Tegangan Keluaran (dari sisi kanan)


3000
2500
2000
Tegangan keluaran (mV) 1500
1000
500
5
0
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
Pergeseran(mm)

14

3. Tabel panjang gelombang sinar He-Ne

15

16