Anda di halaman 1dari 16

ASET/AKTIVA

Makalah
Disusun untuk memenuhi perkuliahan
Pelaporan
Oleh

Efi Susanti
Renita Kosasih

Program S-2
JurusanAkuntansi

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA


BANDUNG
2015

PENGERTIAN ASET
FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No. 6, prg.
25) :
Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau
dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu.
Berdasar uraian diatas, pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga karakteristik
utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat disebut aset, yaitu:
1. Manfaat ekonomik yang datang cukup pasti
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat
ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Uang atau kas mempunyai manfaat
atau potensi jasa karena daya belinya atau daya tukarnya. Sumber selain kas
mempunyai manfaat ekonomik karena dapat ditukarkan dengan kas, barang, atau
jasa, karena dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa, atau karena
dapat digunakan untuk melunasi kewajiban.
Manfaat ekonomi masa mendatang dapat juga berhubungan dengan sumbersumber ekonomi. Ada dua karakteristik utama diantaranya adalah kelangkaan dan
kemanfaatan. APB No.4 mendefinisikan sumber ekonomik sebagai berikut
(prg.57) :
a. Sumber produktif
Sumber produktif kesatuan usaha yang meliputi : bahan baku, gudang, pabrikan,
perlengkapan, sumber alam, paten, dan sumber lain yang digunakan dalam
produksi barang dan jasa.
b. Produk yaitu barang yang siap dijual/ barang yag masih dalam proses produksi.
c. Uang
d. Klain untuk menerima uang
e. Hak pemilikan atau investasi pada perusahaan lain
2

2. Dikuasai atau dikendalikan entitas


Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh
entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Oleh, karena itu, konsep penguasaan
atau kendali lebih penting daripada konsep kepemilikan. Penguasaan disini berarti
kemampuan entitas untuk mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan,
menggunakan manfaat ekonomik dan mencegah akses pihak lain terhadap
manfaat tersebut. Hal ini dilandasi oleh konsep dasar substansi mengungguli
bentuk yuridis (substance over form). Pemilikan (ownership) hanya mempunyai
makna yuridis atau legal. Artinya, unutk memiliki suatu objek diperlukan proses
yang disebut transfer kepemilikan.
3. Timbul akibat transaksi masa lalu
Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus
sebagai kriteria atau tes pertama (first-test) pengakuan objek sebagai aset. Aset
harus timbul akibat dari transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk
memenuhi definisi. Penguasaan harus didahului oleh transaksi atau kejadian
ekonomik. FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria aset karena
transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan (menambah) atau meniadakan
(mengurangi) aset. Misalnya perubahan tingkat bunga, punyusutan atau
kecelakaan.
PENGGOLONGAN ASET
1. Aset Lancar (Current Assets)
a. Kas
Uang tunai yang disimpan di brankas atau di kantor, ataupun simpanan di
bank, yang berbentuk giro atau simpanan lain yang dapat diambil setiap saat.
b. Deposito Bank
Simpanan pada bank yang berbentuk deposito yang dapat diambil pada waktuwaktu tertentu misalnya 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan.

c. Surat Berharga
Surat berharga/efek (marketable securities) adalah saham dan obligasi
perusahaan lain yang segera dapat diuangkan atau dijual di bursa efek.
d. Piutang Usaha
Hak untuk menagih kepada pihak lain karena sebelumnya perusahaan
memberikan pinjaman atau menjual barang/jasa secara kredit kepada pihak
lain.
e. Piutang Wesel/Wesel Tagih (notes receivable)
Piutang wesel/wesel tagih (notes receivable) adalah surat perintah yang
ditujukan kepada seseorang atau badan tertentu untuk membayar sejumlah
uang tertentu pada tanggal yang telah ditentukan pada orang yang namanya
ditulis dalam surat tersebut atau pada orang yang membawa surat tersebut.
f. Persediaan Barang Dagang
Persediaan barang yang siap dijual.
g. Perlengkapan Kantor
Perlengkapan yang digunakan untuk lancarnya administrasi perkantoran.
Contoh : kertas HVS, isi stapler, disket, flashdisk dan lain-lain.
h. Perlengkapan Toko
Perlengkapan yang digunakan untuk kelancaran kegiatan di toko. Contoh :
Kantong plastik.
i. Beban Dibayar di Muka (prepaid expenses)
adalah Beban yang telah dikeluarkan oleh perusahaan, tetapi belum menjadi
kewajiban atau belum digunakan. Contoh : Asuransi dibayar di muka (prepaid
insurance) dan sewa dibayar di muka (prepaid rent).
j. Pendapatan yang Masih Harus Diterima (accurued revenus)
Pendapatan yang sudah diperhitungkan/sudah menjadi hak, tetapi belum
diterima pembayarannya. Contoh : bunga yang akan diterima, dan piutang
sewa.

2. Investasi Jangka Panjang


Investasi jangka panjang adalah penanaman modal pada perusahaan lain dalam
jangka panjang, yang tujuannya selain untuk memperoleh tambahan pendapatan,
juga untuk mengkontrol atau mengendalikan perusahaan tersebut, seperti
investasi dalam saham dan obligasi.

3. Aset Tetap
Aset tetap (fixed assets) adalah kekayaan perusahaan yang pemakaiannya dalam
waktu lama (lebih dari satu periode akuntansi). Aset tersebut digunakan dalam
kegiatan normal perusahaan serta mempunyai nilai material (relatif besar
nilainya).
Berdasarkan sifatnya, aset tetap dibagi menjadi :
a. Aset tetap berwujud (tangible assets)
b. Aset tetap tidak berwujud (intangible assets)
Aset tetap berwujud seringkali disebut saja aset tetap, aset tetap yang mempunyai
bentuk fisik, dalam hal ini terdapat tiga jenis aset tetap yaitu :
a. Aset yang merupakan sumber penyusutan (depresiasi), seperti : gedung,
peralatan, kendaraan.
b. Aset yang merupakan sumber deplesi, seperti : tambang mineral/sumbersumber alam (mineral deposit).
c. Aset ysng tidak mengalami penyusutan atau deplesi, seperti : tanah untuk
tempat bangunan perusahaan.
4. Aset Tetap Tidak Berwujud
Aset tetap tidak berwujud (intangible assets) adalah hak istimewa yang dimiliki
perusahaan dan mempunyai nilai, namun tidak mempunyai bentuk fisik. Aset
tidak berwujud antara lain sebagai berikut :

a. Good will, yaitu nilai lebih yang dimiliki suatu perusahaan yang timbul karena
adanya keistimewaan-keistimewaan tertentu, seperti letak yang sangat stategis
dan nama yang sudah sangat dikenal.
b. Hak paten, yaitu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada perseorangan atau
badan usaha untuk menggunakan penemuan baru.
c. Hak cipta, yaitu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada perseorangan atau
badan usaha untuk memperbanyak/menjual barang-barang hasil karya seni atau
tulisan.
d. Merek dagang, yaitu hak yang diberikan oleh pemerintah kepada badan usaha
untuk menggunakan nama, cap atau lambang bagi usahanya.
e. Hak sewa (leasing), yaitu hak untuk menggunakan aktiva tetap pihak lain dalam
jangka waktu panjang.
f. Frenchise, yaitu hak istimewa yang diperoleh perusahaan atau perseorangan dari
pihak lain untuk mengkomersilkan produk, teknik, atau formula tertentu.
5. Aset Lain-Lain (Other Assets)
adalah aktiva yang tidak dapat digolongkan dalam empat jenis aktiva diatas,
misalnya biaya pendirian dan biaya emisi saham serta aktiva tetap yang tidak
dipakai.

PENGAKUAN ASET
Suatu jumlah rupiah atau kos diakui sebagai aset apabila jumlah rupiah
tersebut timbul akibat transaksi, kejadian, atau keadaan yang mempengaruhi aset.
Pada umumnya pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi,
kejadian, atau keadaan tersebut.
Menurut FASB dalam SFAC No. 5 menyatakan pengakuan suatu pos
didasarkan pada empat kriteria sebagai berikut :
a. Definisi (Definition)
Suatu pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memenuhi definisi elemen
laporan keuangan.
b. Keterukuran (Measurability)
Suatu pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur jumlahnya
dengan reliabilitas yang tinggi.
c. Relevansi (Relevance)

Informasi yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan untuk
membuat suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemakai laporan keuangan.

d. Reliabilitas (Reliability)
Informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau
direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya (verifiable) dan netral.
Keempat hal yang dikemukakan FASB di atas merupakan kriteria pengakuan
(recognition criteria). Praktik menunjukkan bahwa banyak aturan yang digunakan
untuk mengidentifikasi aset tertentu yang dapat diuraikan menjadi beberapa kriteria.
Oleh karena itu, perlu dibuat perbedaan antara aturan pengakuan (recognition rules)
dengan kriteria pengakuan (recognition criteria). Aturan pengakuan menunjukkan
aturan khusus yang digunakan untuk mengidentifikasi aset tertentu. Kriteria
pengakuan merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan
aturan pengakuan.

PENGUKURAN/PENILAIAN ASET (TERMASUK IMPAIRMENT)


Pengukuran
Salah satu kriteria pengakuan aset adalah keterukuran (measureability)
manfaat ekonomik yang akan datang. Yang dimaksud pengukuran di sini adalah
penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek aset pada saat
terjadinya, yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut.
Dengan konsep kesatuan usaha, pos atau sumber ekonomik akan mengalami tiga
tahap perlakuan sejalan dengan kegiatan usaha yaitu tahap perolehan, pengolahan, dan
penjualan/penyerahan. Tahap terakhir melibatkan penyerahan barang atau jasa
(keluarnya sumber ekonomik).

Penilaian
Di dalam akuntansi, istilah pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan
karena adanya asumsi bahwa akuntansi menggunakan unit moneter untuk mengukur
makna ekonomik (economic attribute) suatu objek, pos, atau elemen. Pengukuran
biasanya digunakan dalam akuntansi untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah
7

yang harus dicatat untuk objek pada saat pemerolehan. Penilaian biasanya digunakan
untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada tiap
elemen atau pos statemen keuangan pada saat penyajian.
Tujuan dari penilaian aset adalah untuk merepresentasi atribut pos-pos aset
yang berpaut dengan tujuan laporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian
yang sesuai. Sedangkan tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi
yang dapat membantu investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat, dan
ketidakpastian aliran kas bersih ke badan usaha. Singkatnya, tujuan penilaian aset
harus berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan.
FASB mengidentifikasi lima makna atau atribut yang dapat direpresentasi
berkaitan dengan aset, dasar penilaian menurut FASB (SFAC No. 5, prg. 67) dapat
diringkas sebagai berikut:
a. Historical cost. Tanah, gedung, perlengkapan, perlengkapan pabrik, dan
kebanyakan sediaan dilaporkan atas dasar kos* historisnya yaitu jumlah rupiah
kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperolehnya. Kos historis ini
tentunya disesuaikan dengan jumlah bagian yang telah didepresiasi atau
diamortisasi.
b. Current (replacement) cost. Beberapa sediaan disajikan sebesar nilai sekarang atau
penggantinya yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang harus dikorbankan
kalau aset tertentu diperoleh sekarang.
c. Current market value. Beberapa jenis investasi dalam surat berharga disajikan atas
dasar nilai pasar sekarang yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang dapat
diperoleh kesatuan usaha dengan menjual aset tersebut dalam kondisi perusahaan
yang normal (tidak akan dilikuidasi). Nilai pasar sekarang juga digunakan untuk
aset yang kemungkinan akan laku dijual dibawah nilai bukunya.
d. Net realizable value. Beberapa jenis piutang jangka pendek dan sediaan barang
disajikan sebesar nilai terealisasi bersih yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya
yang akan diterima (tanpa didiskun) dari aset tersebut dikurangi dengan

pengorbanan (kos) yang diperlukan untuk mengkonversi aset tersebut menjadi kas
atau setaranya.

e. Present (or discounted) value of future cash flows. Piutang dan investasi jangka
panjang disjikan sebesar nilai sekarang penerimaan kas di masa mendatang
sampai piutang terlunasi (dengan tarif diskun implisit) dikurangi dengan tambahan
kos yang mungkin diperlukan untuk mendapatkan penerimaan tersebut.

Penyajian
Pengungkapan dan penyajian pos-pos aset harus dipelajari dari standar yang mengatur
tiap pos. Secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan
pengungkapan aset sebagai berikut:
a. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau di bagian atas
dalam neraca berformat laporan.
b. Aset diklasifikasi menjadi aset lancar dan aset tetap.
c. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling
lancar dicantumkan pada urutan pertama.
d. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan
(misalnya metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang.
Pengungkapan
Kelompok aset tetap harus diungkapkan dengan:
a. Dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat.
b. Metode penyusutan yang digunakan.
c. Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
d. Jumlah tercatat dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
e. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan
penambahan dan pelepasan.
f. Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, dan aset tetap yang
dijaminkan untuk utang.
g. Jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap.
9

PSAK 30 SEWA
Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan kepada lessee hak untuk
menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya,
lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.
KLASIFIKASI SEWA
PA 08. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut
mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan
aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara
substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
PA 10. Klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan pada
substansi transaksi dan bukan ada bentuk kontraknya.
1. Capital Lease
Perusahaan leasing pada jenis ini berlaku sebagai suatu lembaga keuangan. Lesssee
yang akan membutuhkan suatu barang modal menentukan sendiri jenis serta
spesifikasi dari barang yang dibuthkan. Lessee mengadakan negosiasi langsung
dengan supplier mengenai harga, sedangkan lesor mengeluarkan dana untuk
membayar barang kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada
lessee. Sebagai imbalan atas jasa penggunaan barang tersebut lessee akan membayar
secara berkala kepada lessor sejumlah uang berupa rental untuk jangka waktu tertentu
yang telah disepakati bersama. Jumlah rental secara keseluruhan akan meliputi harga
barang yang akan dibayar oleh lessor ditambah faktor bunga. Berkut capital atau
finance lease dibagi menjadi dua yaitu :
a. Direct finance lease
Pihak lessor membeli barang modal atas permintaan dari lessee dan langsung
disewagunausahakan kepada lessee.
b. Sale and lease back
Pihak lessee menjual barang modalnya kepada lessor untuk kemudian dilakukan
kontrak sewa guna usaha atas barang tersebut dengan jangka waktu yang

10

disepakati bersama. Metode transaksi ini membantu lessee yang mengalami


kesulitan modal kerja.
2. Operating Lesae
Pada operating lesae, leasor membeli barang modal dan disewagunausahakan kepada
lesee untuk jangka waktu tertentu. Pembayaran periodik yang dilakukan oleh lessee
tidak mencangkup biaya yang dikeluarkan oleh lessor untuk mendapatkan barang
modal tersebut dan bunganya. Lessor mengharapkan keuntungan dari penjualan
barang modal yang disewagunausahakan. Lessor dapat juga memperoleh sumber
penghasilan dari perjanjian sewa sewa guna usaha yang lain.
3. Sales Type Lease (Lease Penjualan)
Biasanya dilakukan oleh perusahaan industri yang menjual lease barang hasil
produksinya.
4. Leveraged Lease
Pada leasing ini dilibatkan pihak ketiga yang disebut credit provider. Lessor tidak
membiayai objek leasinghingga 100% dari harga barang melainkan hanya antara
20%-40%. Kemudian sisa dari harga barang akan dibiayai oleh credit provider.
5. Cross Border Lease
Transaksi jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan dengan
melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lessee terletak pada
dua negara yang berbeda. Barang-barang yang ditransaksikan meliputi nilai jutaan
dollar Amerika Serikat, seperti pesawat terbang bermesin jet dari pabrikan Boeing dan
Airbus.

SEWA DALAM LAPORAN KEUANGAN LESSEE


PA 26. Sewa pembiayaan menimbulkan beban penyusutan untuk aset tersusutkan dan

beban keuangan pada setiap periode akuntansi. Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan
konsisten dengan set yang dimiliki sendiri, dan penghitungan penyusutan yang diakui
berdasarkan PSAK 16. Jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa lessee akan
mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa, maka aset sewaan disusutkan secara
penuh selama jangka waktu yang lebih pendek antara masa sewa dan umur manfaatnya.

SEWA DALAM LAPORAN KEUANGAN LESSOR


PENGAKUAN AWAL
11

PA 35. Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa
pembiayaan dalam laporan posisi keuangan sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa
neto.
PSAK 48 PENURUNAN NILAI ASET
IDENTIFIKASI AKTIVA YANG SECARA POTENSIAL TURUN NILAINYA
PA 07. Pada setiap tanggal neraca, perusahaan harus mereview ada atau
tidaknya indikasi penurunan nilai aktiva. Jika terdapat indikasi penurunan nilai aktiva
perusahaan harus menaksir jumlah yagn dapat diperoleh kembali dari aktiva tersebut.
PA 08. Suatu aset mengalami penurunan nilai jika jumlah tercatatnya melebihi
jumlah terpulihkan.
PA 12. Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa aset mungkin
mengalami penurunan nilai, entitas harus mempertimbangkan, minimum, hal-hal
berikut ini:

Informasi dari luar perusahaan :


a. Selama periode tertentu, nilai pasar aset telah turun secara signifikan melebihi
penurunan akibat proses normal depresiasi (amortisasi)
b. Perubahan signifikan dalam hal teknologi, pasar, ekonomi atau lingkup hukum
tempat entitas beroperasi atau di pasar tempat aset dikaryakan, yang
berdampak merugikan terhadap entitas, telah terjadi selama periode tersebut,
atau akan terjadi dalam waktu dekat.
c. Selam periode tertentu, tarif diskonto pasar atau tingkat kembalian investasi
pasar telah meningkat, dan peningkatan ini cenderung akan menurunkan nilai
aktiva yagn dapat diperoleh kembali secara material.

Informasi dari dalam perusahaan :


a. Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aset.
b. Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang
bersifat merugikan sehubungan dengan cara penggunaan aset.
c. Terdapat bukti dari pelaporan internal yang menunjukkan bahwa kinerja
ekonomi aktiva tidak memenuhi harapan atau akan lebih buruk dari yang
diharapkan.
PA 46. Restrukturisasi adalah suatu program yang direncanakan dan
dikendalikan manajemen dan mengubah secara material baik ruang lingkup bisnis
yang dilakukan oleh entitas maupun cara bagaimana bisnis dilaksanakan.

12

Kasus Aktiva Tetap (Mobil)


Perusahaan PT Abadi akan membeli sebuah mobil untuk menunjang usahanya. Harga mobil
adalah sebesar Rp 200.000.000 secara tunai, biaya perakitan sebesarRp 50.000.000 dan biaya
iklan Rp 50.000.000. Pembelian dilakukan pada tanggal 1 Januari 2010. Mobil tersebut
mempunyai nilai ekonomis selama 10 tahun. Penyusutan menggunakan metode garis lurus
dan tidak ada nilai sisa. Pada akhir periode pelaporan keuangan, manajemen PT Abadi
menemukan indikasi bahwa telah terjadi perubahan teknologi yang cukup signifikan yang
akan mempengaruhi nilai dari aset tetap PT Abadi. Selain itu, terjadi pula restrukturisasi
dalam tubuh direksi Abadi. Pada tanggal 1 Januari 2012, nilai wajar dikurangi biaya
penjualan sebesar Rp 190.000.000 dan nilai pakai sebesar Rp 185.000.000. Dan pada 1
januari 2015 perusahaan menjual mobil karena kurang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,
dijual dengan harga Rp 140.000.000.
Soal :
1. Apa yang dimaksud dengan aset tetap dalam psak 16?
2. Elemen-elemen biaya apa saja yang termasuk dalam kos mobil tersebut sebagai
aktiva tetap PT. Abadi?
3. Berapa kos yang dicatat oleh PT. Abadi?
4. Buat jurnal mengenai pengakuan aset tetap-mobil!
5. Berdasarkan cerita diatas Hitung besar biaya penyusutan pada 31 desember 2012
dan buatlah jurnalnya!
6. Adakah penurunan nilai aset dari kasus tersebut, jika ada berapakah nilai
penurunannya? dan buatkan jurnalnya!
7. Buatkan jurnal penjualannya!
8. Sebutkan kriteria pengakuan dan pengungkapan aset tetap!
Jawab :
1. Aset tetap adalah aset berwujud yang:
a. dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
b. diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

2. Sesuai PSAK 16 (Revisi 2011) yang mengadopsi IAS 16 (2009) menjadi komponen biaya
perolehan (kos) adalah (par.16) :
a. harga perolehannya, dalam hal ini harga belinya.

13

b. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung, dalam hal ini adalah biaya
perakitan (par.17).
Selain itu juga disebut biaya-biaya yang bukan merupakan biaya perolehan aset tetap
(par.19), dalam kasus ini adalah biaya iklan.
3. Harga beli
Biaya perakitan
Kos

Rp 200.000.000
Rp 50.000.000
Rp 250.000.000

4. Jurnal pada saat pembelian 1 Januari 2010


Mobil
Rp 250.000.000
Kas

Rp 250.000.000

5. Jurnal pada akhir periode


31 des 2011
Biaya penyusutan mobil
Rp 25.000.000
Akumulasi penyusutan mobil
Rp 25.000.000
31 des 2012
Biaya penyusutan mobil
Rp 25.000.000
Akumulasi penyusutan mobil
Rp 25.000.000
6. Ada penurunan nilai dalam kasus ini.
Jumlah terpulihkan lebih kecil dari jumlah tercatat
Jumlah tercatat aset = Rp 250.000.000 Rp 50.000.000 = Rp 200.000.000
Jumlah terpulihkan = Rp 190.000.000
Jumlah terpulihkan Rp 190.000.000 < Jumlah tercatat Rp 200.000.000. Oleh karena itu,
rugi penurunan nilai aset adalah sebesar Rp 200.000.000- Rp 190.000.000 =
Rp10.000.000
Jurnal pada tanggal 1 Januari 2012
Rugi penurunan nilai mobil
Akumulasi penyusutan mobil

Rp 10.000.000
Rp 10.000.000

7. Jurnal Penjualan 1 Januari 2015


Kas
Akumulasi depresiasi
Keuntungan Penjualan aset tetap
Mobil

Rp 140.000.000
Rp 125.000.000
Rp 15.000.000
Rp 250.000.000

8. PENGAKUAN
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:
14

(a) kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomik masa depan dari aset
tersebut; dan
(b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
PENGUNGKAPAN
Laporan keuangan mengungkapkan, untuk setiap kelompok aset tetap:
(a) dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto;
(b) metode penyusutan yang digunakan;
(c) umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
(d) jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (dijumlahkan dengan akumulasi rugi
penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan
(e) rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
(i) penambahan;
(ii) aset diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalam kelompok
lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual sesuai PSAK 58 (revisi
2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan
pelepasan lainnya;
(iii) akuisisi melalui kombinasi bisnis;
(iv) peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai paragraf 31, 39, dan 40
serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau dijurnal balik dalam pendapatan
komprehensif lain sesuai PSAK No. 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset;
(v) rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
(vi) rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
(vii) penyusutan;
(viii)selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan dari mata
uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang berbeda, termasuk penjabaran dari
kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang pelaporan dari entitas pelapor; dan
(ix) perubahan lain.
Untuk aset tetap, pengungkapan tersebut dapat muncul dari perubahan estimasi dalam:
(a) nilai residu;
(b) estimasi biaya pembongkaran, pemindahan atau restorasi suatu aset tetap;
(c) umur manfaat; dan
(d) metode penyusutan.
15

16