Anda di halaman 1dari 16

1

PORTOFOLIO
Kasus-5
Topik: Depresi dengan gejala Psikotik
Tanggal (Kasus) : 27 Mei 2015
Presenter : dr. Dwi Akbarini
Tanggal Presentasi : 10 Juni 2015
Pendamping : dr. Asep Zainudin , Sp.PK
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Sekayu
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan
Pustaka
Diagnostik
Bayi

Manajemen
Anak

Remaja

Masalah
Dewasa

Lansia

Neonatus
Deskripsi : Tn. E, 18 Tahun, depresi dengan gejala psikotik
Tujuan : Diagnosis dan tatalaksana Depresi
Bahan Bahasan :
Tinjauan
Riset
Kasus
Cara membahas

Pustaka
Diskusi

Presentasi dan diskusi

Istimewa
Bumil

Audit
Email

Pos

Data

Nama : Tn. E Umur : 18 Tahun Pekerjaan : Wiraswasta


No. Reg :
Alamat : Sekayu Agama : Islam
10-67-66
Pasien :
Suku Bangsa : Melayu, Indonesia
Nama RS: RSUD Sekayu
Telp :
Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi:
1 Diagnosis / Gambaran Klinis: Pasien Laki-laki, 18 tahun, belum menikah, dibawa keRS
oleh keluarganya karena pasien mengalami BAB disertai darah dan pasien sering diam
menyendiri dan tidak mau makan sejak 3 bulan yang lalu.
2. Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah berobat
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien belum pernah menderita penyakit serupa
sebelumnya.
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sama dengan pasien
5. Riwayat Pekerjaan : pegawai di peternakan ayam
6. Lain-lain :
Daftar Pustaka:
1 Maslim, Rusdi dr. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari PPDGJ III
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya. Jakarta, 2001.
2 Ismail, R.I. dan K.Siste. Gangguan Depresi Dalam: Elvira, S.D. (Editor). Buku Ajar Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Badan Penerbit FKUI. Jakarta, Indonesia,2002.
hal 209-222
3 Kaplan, H. I dkk. Synopsis of Psychiatry (jilid 1). Terjemahan oleh: Kusuma, Widjaja.
Binarupa Aksara Publisher. Tangerang, Indonesia, 2010.
Hasil Pembelajaran
1.Definisi Gangguan Depresi
2.Etiologi dan Patofisiologi GangguanDepresi

3.Manifestasi Klinis Gangguan Depresi


4.Terapi Gangguan Depresi
1

Subjektif
Alloanamnesis (Orang Tua Pasien)
Sekitar tiga bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit, os sering nampak murung dan

malas bekerja. Menurut ibu pasien, ini bermula ketika os ditetapkan sebagai saksi atas
hilangnya mobil majikan os. Os bekerja disebuah perternakkan ayam.

Awalnya Os

mengantarkan ayam ke pelanggan bersama anak majikannya, kemudian diantar pulang


oleh si anak majikan. Besoknya, pasien ditanya majikannya kalau mobil majikan hilang.
Majikan mengira mobil hilang saat si anak majikan bersama pasien. Pasien merasa tidak
tahu apa-apa di bawa ke kantor polisi. Pasien menceritakan kepada polisi dan majikan kalau
dia tidak tahu apa-apa karena sudah di antar pulang. Anak si majikanlah yang terakhir
membawa mobil. Ternyata anak majikan takut pulang, karena menghilangkan mobil saat dia
sedang mampir di cafe. Jadi pasien menjadi saksi, dan oleh teman-temannya pasien ditakuttakuti kalau kenapa mau jadi saksi dan bagaimana kalau nanti jadi tersangka. Sejak saat itu
menurut ibu pasien, anaknya mulai sering melamun, tidak mau makan dan susah tidur.
Pasien menjadi malas mandi, pasien baru mandi apabila disuruh keluarganya. Pasien tidak
ada niat untuk menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain. Pasien juga tidak bisa dan malas
melakukan aktivitas sehari-hari.Pasien berhenti bekerja dan pasien menyesal pernah bekerja
disana.
Sejak Dua bulan yang lalu menurut ibunya, pasien sering mengoceh kalau dia tidak
bersalah. Os sering berteriak-teriak bila ada yang marah. Dan os mengaku pada ibunya bila
ada orang berbaju hitam yang mau menangkapnya. Sejak kejadian itu os dibawa ibunya
untuk menjalani ruqyah sebanyak dua kali. Menurut ibu os keluhan sejak itu agak
berkurang.p
Os dibawa ke rumah sakit oleh keluarga karena os BAB disertai darah sejak 1 minggu
yang lalu. BAB disertai darah warna merah segar, konsistensi tinja keras, frekuensi BAB 1-2
kali perhari. Mual dan muntah tidak ada, demam tidak ada dan os tampak lemas dan lesu. Os
masih sering melamun, sulit tidur dan susah makan. Os jarang berbicara dengan keluarga, os
hanya sering berdiam diri di kamarnya.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Kejang (-)
Riwayat Trauma Capitis (-)

Riwayat NAPZA (-), Alkohol (-)


Riwayat Demam lama (-)
Riwayat Alergi obat (-)
Riwayat hidup dan gambaran premorbid:
Bayi

: lahir normal, cukup bulan, ditolong oleh bidan, tidak ada masalah

selama kehamilan dan menyusui


Anak Anak

: Pendiam, tidak terlalau banyak teman

Remaja dan Dewasa: Pendiam, tertutup, tidak terlalu banyak teman.


Riwayat Keluarga :
Ket: Os anak pertama dari 3
bersaudara, os memilika dua adik
laki-laki.
Ayah dan ibu os masih hidup

Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal.


Riwayat Pendidikan :
SD

: tamat, tidak pernah tinggal kelas, nilai rata-rata

SMP : tamat, tidak pernah tinggal kelas, nilai rata-rata


Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta
Riwayat Perkawinan : Belum menikah
Riwayat agama :
Os beragama Islam tetapi os tidak taat dalam menjalankan ibadahnya.
Hubungan dengan keluarga :
Os memiliki hubungan yang baik dengan ayah kandung, ibu kandung dan saudaranya.
Keluarga Os juga mendukung Os untuk sembuh. Pada saat ini Os tinggal di rumah milik
orang tuanya.
Status Ekonomi:

Os hidup bersama ayah dan ibunya. Ayah os bekerja sebagai buruh serabutan. Os pernah
bekerja di peternakan ayam.

Objektif
Pemeriksaan fisik:
TD 120/80, HR 87x/menit, RR 21x/menit, Suhu: 37,3C
Status generalisata: dalam batas normal
Gejala rangsang meningeal: negatif
Nervus cranial: Tidak ada kelainan
Fungsi motorik, sensorik dan koordinasi: normal
Refleks fisiologis: normal
Refleks patologis: negatif

STATUS MENTAL
A.

DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Seorang laki-laki, berperawakan kurus, berambut lurus hitam dan pendek
Penderita mengenakan baju kaos putih dengan infuse di tangan kiri. Kulit sawo
matang.
Saat diajak berkenalan (pemeriksa menyalami pasien) tampak pasien tidak
mau menerima perkenalan dari pemeriksa serta tidak mau menyalami pemeriksa.
Pasien tidak mau berbicara sama sekali saat ditanya siapa namanya oleh
pemeriksa. Pasien hanya menatap kosong kedepan dan tidak ada reaksi dan tidak
mau berbicara sapatah kata pun
2

Kesadaran
Compos mentis

Perilaku dan Aktivitas Psikomotor


Hipoaktif

Pembicaraan
Pasien tidak mau berbicara sepatah kata pun. Mutisme (+)

Sikap terhadap Pemeriksa


Non- kooperatif

Kontak Psikis
Kontak ada berupa kontak mata, tidak wajar, tidak dapat dipertahankan

KEADAAN AFEKTIF, PERASAAN EKSPRESI AFEKTIF KESERASIAN SERTA


EMPATI
1. Afek (mood)

Hipotym

2. Emosi

Sedih

3. Ekspresi afektif

Depresif

4. Keserasian

Inappopriate

5. Empati

Tidak dapat dirabarasakan

Kesadaran

Orientasi

FUNGSI KOGNITIF

Waktu

Sulit dievaluasi

Tempat

Sulit dievaluasi

Orang

Sulit dievaluasi

Situasi

Sulit dievaluasi

3. Konsentrasi

Sulit dievaluasi

4. Daya Ingat

Jangka pendek

Sulit dievaluasi

Jangka panjang

Sulit dievaluasi

Segera

Sulit dievaluasi

Komposmentis

5. Intelektual, Intelegensia dan Pengetahuan Umum :


Sulit dievaluasi
Pikiran abstrak

Sulit dievaluasi

A GANGGUAN PERSEPSI
1

Halusinasi

: Halusinasi visual
2

Depersonalisasi/derealisasi

B PROSES PIKIR
1

Arus pikir
- Produktivitas

: Sulit dievaluasi

- Kontuinitas

: Sulit dievaluasi

- Hendaya berbahasa

: Sulit dievaluasi

Isi pikir
a. Preokupasi

: Sulit dievaluasi

: Sulit dievaluasi

b. Waham
3

: Sulit dievaluasi

Bentuk pikir
a. Autistik

: Tidak ada

C PENGENDALIAN IMPULS
Terganggu
D DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial

: Sulit dievaluasi

2. Uji daya nilai

: Sulit dievaluasi

3. Penilaian realitas

: Sulit dievaluasi

TILIKAN
Sulit dievaluasi, karena pasien tidak mau berbicara
TARAF DAPAT DIPERCAYA
Sulit dievaluasi
IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
STATUS INTERNUS
a. Keadaan umum : Tampak sakit sedang
b. Tanda vital

: TD : 120/80 mmHg

N : 87 x/menit

RR : 21 x/menit

T : 37,30C

c. Bentuk badan

: kurus

d. Kulit

: Sawo matang

e. Kepala
-

Rambut hitam, tipis, bergelombang, tidak alopesia.

Bentuk normal.

Wajah simetris, tidak ada edema.

Mata : palpebra tidak edema dan hiperemi, alis dan bulu mata tidak
rontok, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, produksi air mata
dalam batas normal.

Pupil : diameter 3 mm/3 mm, isokor, refleks cahaya +/+ normal.

Kornea : refleks kornea +/+ normal.

Telinga : bentuk dalam batas normal, sekret tidak ada, serumen minimal.

Hidung : bentuk normal, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada
epistaksis, kotoran hidung minimal.

Mulut : bentuk normal, mukosa bibir kering, gusi tidak berdarah dan tidak
bengkak.

Lidah : tidak kotor, tepi hiperemi, tremor halus.

Pharing : tidak hiperemi.

Tonsil : warna merah muda, tidak ada pembesaran.

Leher : vena jugularis : pulsasi tidak terlihat, tekanan tidak meningkat, tidak
ada pembesaran KGB, tidak kaku kuduk, tidak ada massa dan tortikolis.agak
kaku.

Thoraks :
Inspeksi

: bentuk simetris, tidak retraksi, tidak dispnoe, ritme pernafasan


normal, frekuensi 21x/menit

Palpasi

: fremitus vokal simetris

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: vesikuler, tidak ada rhonki, tidak ada wheezing

Jantung :
Inspeksi

: tidak tampak voussure cardiac, pulsasi ataupun iktus

Palpasi

: thrill tidak ada, apex teraba di ICS V LMK kiri

Perkusi

: Batas kanan : ICS IV LPS kiri

Auskultasi
i

Batas kiri

: ICS V LMK kiri

Batas atas

: ICS II LPS kanan

: S1 dan S2 tunggal, murmur tidak ada

Abdomen :
Inspeksi

: bentuk datar, simetris

Palpasi

: Nyeri tekan epigastrium (+)

Perkusi

: timpani, tidak ada tanda-tanda ascites

Auskultasi

: bising usus normal

Ekstremitas :
- Atas

: tidak ada edema dan sianosis , tremor halus (+).

- Bawah

: tidak ada edema dan sianosis , tremor halus(+)

STATUS NEUROLOGIS
Nervus I-XII

: tidak ada kelainan

Gejala rangsang meningeal

: tidak ada

Gejala TIK meningkat

: tidak ada

Refleks fisiologis

: normal

Refleks patologis

: tidak ada

Pemeriksaan Lanjutan:
RUTIN
Hemoglobin

: 13,8 g/dL

Hematokrit

: 39 %

Leukosit

: 9400/L

Trombosit

: 171.000/L

LED

: 8 mm/jam

Diff Count

:0/1/1/73/20/1

KIMIA DARAH

Ureum

: 12 mg/dL

Creatinin

: 0,54 mg/dL

GDS

: 82 mg/dL

Na

: 146 meq/L

: 3,4 meq/L

Assessment

Depresi
Definisi
Buckley and Buckley (2006) menyebutkan bahwa depresi adalah menurunnya mood
dan hilangnya minat terhadap aktivitas-aktivitas yang biasanya dilakukan. Ismail dan Siste
(2010) mengatakan pasien dalam keadaan depresi memperlihatkan kehilangan energi dan
minat, merasa bersalah, sulit berkosentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh
diri.
Berdasarkan DSM-IV seseorang mengalami gangguan depresi jika dia merasakan 5
gejala secara bersamaan dari 9 gejala yang ada, antara lain :
1. Kehilangan mood, biasanya terjadi di pagi hari
2. Merasakan letih atau kehilangan energi setiap harinya
3. Merasakan ketidakberhagaan diri atau perasaan bersalah hampir setiap hari
4. Hilang kemampuan berkosentrasi dan bimbang
5. Susah untuk tidur atau bahkan selalu tidur setiap harinya
6. Kehilangan minat atau merasakan kesenangan dalam setiap aktivitas setiap harinya
7. Timbul pemikiran-pemikiran tentang kematian atau bahkan pemikiran-pemikiran
untuk melakukan tindakan bunuh diri.
8. Gelisah, tidak dapat diam tenang, gerakkannya terlihat tidak memiliki tenaga

9. Berat badan turun atau bertambah (5% dari berat badan sebelumnya dalam waktu 1
bulan).
Dari sembilan gejala yang ada Waller dan Rumball (2004) membagi ke dalam 4 gejala
berdasarkan ranah tingkah lakunya :
1. Affective Symptoms
2. Cognitive Symptoms
3. Behavioral Symptoms
4. Physical Symptoms
Tingkatan Depresi
Berdasarkan The International Classification of Disease (ICD)-10 Classification of
Mental Behavioural Disorder, World Health Organization (1993), mengklasifikasi tingkatan
depresi sebagai berikut :
1. Mild / Minor Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami mild depression akan merasakan 2 dari
3 gejala pertama diikuti dengan 2 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Mild depression seringkali terjadi pada kondisi konstan (3-4 bulan)

dan secara

episodik. Jika seseorang yang mengalami mild depression ditanggulangi dengan perawatan
yang baik akan mencegah untuk menjadi lebih buruk.
2. Moderate Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami moderate depression akan merasakan 2

10

dari 3 gejala diikuti dengan 4 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Biasanya seseorang yang mengalami moderate depression akan jelas terlihat


mengalami penurunan kepercayaan diri dan self esteem, tidak produktif dalam bekerja,
menjadi sangat sensitif perasaannya.
3. Major/ Severe Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami severe depression akan merasakan 3
gejala pertama diikuti 5 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat


badan

Libido menurun

11

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Seseorang yang mengalami major/ severe depression akan mengalami perasaan


bersalah, stress yang parah sehingga tidak dapat bekerja, bersosialisasi maupun berinteraksi
dengan keluarga ataupun kerabat dekatnya.
Etiologi
Ismail dan Siste (2010) membagi faktor penyebab depresi menjadi faktor
organobiologi, faktor genetik, faktor psikososial, faktor kepribadian dan faktor psikodinamik.
1. Faktor organobiologi
2. Faktor genetik
3. Faktor psikososial
4. Faktor kepribadian.
5. Faktor psikodinamik pada depresi
6. Teori Kognitif
Macam-macam Depresi
Harun (2009) membagi depresi menjadi :
1. 1.

Depresi pasca kausa

2. Depresi pasca stroke


3. Depresi Neurotik
4. Depresi Siklitimik
5. Depresi Pasca NAPZA
Gejala Klinis Depresi
Harun (2009) mengatakan bahwa gangguan kejiwaan pada alam perasaan atau mood
disorder yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak
berguna, putus asa dan lain-lain. Berikut gejala-gejala dari depresi :
1. Perasaan murung (afek disforik), sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat
2. Merasa tidak berdaya, perasaan bersalah, berdosa, penyesalan
3. Berat badan menurun, nafsu makan menurun
4. Kosentrasi dan daya ingat menurun
5. Gangguan tidur (insomnia)
6. Agitasi (gaduh, gelisah dan lemah tak berdaya)
7. Hilang rasa senang, semangat dan minat.
8. Kreativitas menurun, produktivitas menurun
9. Gangguan seksual berupa libido menurun

12

10. Pikiran akan kematian, bunuh diri


Kriteria Diagnosis
Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, diagnosis
depresi ditegakkan dengan adanya gejala utama berupa afek depresif, kehilangan minat dan
kegembiraan dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
mudah lelah yang nyata sesudah bekerja) dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya berupa
kosentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan kepercayaam diri berkurang, gagasan tentang
rasa berasalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan
atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan
berkurang. Diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis,
tetapi periode pendek dapat dibenarkan bila gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
PPDGJ III mengklasifikasikan depresi menjadi 3 kategori yaitu ringan, sedang dan berat.
Pedoman diagnsotik untuk depresi ringan yaitu : sekurang-kurangnya harus ada 1 dari 3
gejala utama depresi seperti tersebut diatas, ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala
lainnya. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya, lamanya seluruh episode berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu, hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial
yang biasa dilakukannya.
Pedoman diagnostik untuk depresi sedang yaitu : sekurang-kurangnya harus ada 2 dari
3 gejala utama depresi seperti pada episode ringan, ditambah sekurang-kurangnya 3 gejala
lainnya, lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu dan penderita
mengalami kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan
rumah tangga.
Pedoman diagnsotik untuk depresi berat yaitu : harus ada semua 3 gejala utama depresi,
ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya berintensitas
berat, bila ada gejala penting (misal agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka
mungkin pasien tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara
rinci, episode depresif harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi gejala
sangat berat dan beronset cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam
kurun waktu kurang dari 2 minggu dan umumnya tidak mungkin penderita akan mampu
meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga.
2.1.7. Skala Penilaian Objektif Untuk Depresi
Skala penilai objektif yang dapat digunakan dalam praktek dokter atau untuk
dokumentasi keadaan klinik pasien depresi.
The Zung Self-Rating Depression Scale terdiri dari 20 item skala pelaporan. Skala

13

normal adalah < 34 : skor depresi adalah > dari 50. Skala tersebut meliputi indek global
intensitas gejala depresi pasien, termasuk kecenderungan ekspresi dari depresi (Ismail dan
Siste, 2010)
Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) adalah suatu skala pengukuran depresi
terdiri dari 17 pertanyaan dengan tiap pertanyaan memiliki 4 pilihan jawaban, masing-masing
pilihan dengan skor 0,1,2 dan 3 dengan sensitivitas sebesar 78,4% dan spesifisitas 81,3%.
HDRS saat ini merupakan salah satu test yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi
depresi pada berbagai lembaga penelitian. Keakuratan diagnosis HDRS dapat mencapai
87,1% pada skor > 17, oleh karena itu lebih baik dalam proses penegakkan diagnosis
(Nardeeka, 2007). HDRS merupakan test yang dilakukan secara wawancara oleh observer
sedangkan test-test serupa menggunakan metode penilaian diri sendiri oleh pasien (Self
Rating). Skor akhir HDRS berkisar dari 0-54 dengan klasifikasi skor 0-6 tidak ada depresi,
skor 7-17 depresi derajat ringan, skor 18-24 depresi sedang dan skor > 24 depresi derajat
berat (Amir, 2005)
4

Plan

Diagnosis Multiaksial
AKSIS I
: F. 32. 3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
AKSIS II
: Gambaran kepribadian skizoid
AKSIS III
: K00-K93 Masalah sistem perncernaan ( Hemotoschezia ec Hemoroid gr. II)
AKSIS IV
: Masalah pekerjaan : pasien menjadi saksi hilangnya mobil majikan.
AKSIS V
: GAF Scale saat ini: 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik).

Terapi Farmakologi
Psikofarmaka :
1. IVFD D5 : RL 20 tpm (makro)
2. Inj Ranitidin 2x1 amp (i.v)
3. Inj Asam tranexamat 3x 1 amp (i.v)
4. Lansoprazole 1x1 tab (p.o)
5. Antihemoroid supp 1x1
6. Antidepresan : Kalxentin 2 x 10 mg
7. Antipsikotik : Risperidone 2 x 2 mg
Psikoterapi :
Pada Keluarga:
o Memotivasi keluarga untuk membawa pasien kontrol ke dokter dan minum

14

obat secara teratur dan menciptakan suasana yang dapat membantu


penyembuhan.
o Bila pada saat keluhan datang dan pasien merasa ketakutan, pasien dapat
mencari perlindungan dari anggota keluarganya atau jika masih mengganggu
juga segera kontrol ke dokter.
Pada pasien
o Jika ada suara-suara jangan dipedulikan.
o Mencoba mengalihkan pikiran-pikiran negatif dengan mengisinya dengan
kegiatan positif yang bermanfaat.
o Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Terhadapat Lingkungan
o Tidak menjauhi pasien dan membiarkan pasien berinteraksi dengan
lingkungan sehingga membantu bersosialisasi
Prognosis:
Dubia ad Bonam
Alloanamnesis
D
: Assalamualaikum bu, saya Dwi, dokter yang bertugas di bagian kesehatan
jiwa di sini. Nama ibu siapa?
Ibu Pasien
: Er dok.
D
: Baik, ibu Er. Saya mau memeriksa anak ibu mengenai keadaannya yang
berdasarkan menurut dokter yang merawat dari bagian Penyakit Dalam, perlu diperiksa juga
kenapa anak ibu tidak mau makan. Boleh saya periksa ya bu?
Ibu P
: Boleh dok.
D
: Anak ibu kenapa dirawat di rumah sakit ?
Ibu P
: Anak saya ini masuk rumah sakit karena kalau BAB keluar darah. Tapi
memang sejak tiga bulan ini, anak saya memang sering melamun dok.
D
: Oh seperti itu. Sering melamun, kalau makan dan tidurnya gimana bu?
Ibu P
: Awalnya dok kerjaannya melamun terus, dak endak makan, dak endak tido,
melamun bae, mandi be die segan , mendak disuruh-suruh dulu dok.
D
: Sudah lama seperti ini bu?
Ibu P
: Sudah lame dok.
D
: Kalau boleh tau, ada sebab apa bu?
Ibu P
: Ada masalah di tempat dia kerja dok. Jadi sekitar tiga bulan yang lalu, anak
saya pernah bekerja ditempat ternak ayam. Jadi sewaktu mengantarkan ayam bersama anak
yang punya ternak, kemudian anak saya diantar pulang oleh si anak yang punya ternak
tersebut. Nah, sepulang dari situ ternyata mobilnya hilang. Besoknya, anak saya ditanya
majikannya. Karena baru tahu pas subuh. Majikan mengira mobil hilang saat si anak majikan
bersama anak saya. Anak saya tidak tahu apa-apa di Bawa ke kantor polisi. Disana

15

anak saya bercerita kalau dia tidak tahu apa-apa karena sudah di antar pulang. Anak si
majikanlah yang terakhir membawa mobil.
D
: Terus bu, teruskan ceritanya..?!
Ibu Pasien : Nah jadi dok, ternyata anak majikan dirampok pas mau pulang kerumah, waktu
itu katanya hampir tengah malam. Karena mereka mengantarkan ke daerah Z sana dong,
sedangkan rumah bapak ini di daerah X, rumah saya di daerah Y, jadi jarak rumah saya
sekitar setengah jam. Ternyata anak majikan ini takut pulang dok, karena menghilangkan
mobil saat dia sedang mampir di cafe sana dok. Jadi anak saya jadi saksi, dan oleh temantemannya anak saya ini ditakut-takuti kalau kenapa mau jadi saksi. Bagaimana kalau nanti
jadi tersangka. Sejak saat itulah dok, anak saya mulai melamun, tidak mau makan dok. Susah
sekali mengajaknya makan.
D
: Jadi, selama ini aktifitasnya apa bu?
Ibu Pasien
: Tidak ada dok, kebanyakan di kamar saja, anak saya sudah berhenti dari
pekerjaannya. Dia menyesala pernah bekerja disana.
DM
:Mungkin dia pernah merasa mendengarkan bisikan-bisikan di telinga atau
melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat?
P
: Pernah dok. Si E sering ngomong ada orang yang mau mengurung dia,
memakai baju hitam. Terus dia sering teriak-teriak kalau ada yang marah sama dia. Jadi dok,
saya sudah dua kali bawa anak saya untuk ruqyah. Alhamdulillah kalau teriak-teriak sendiri
dak pernah lagi. Sekarang tinggal sering melamun dan tidak ada seperti gairah untuk
beraktivitas seperti biasa. Kerjaannya dirumah melamun itu saja.
D
: Oh, bagaimana dengan tidur dan makannya bu ??
Ibu P
: Kalau tidur kadang bisa tidur tetapi pernah juga tidak tidur sama sekali dok,
dia masih di depan tv.
Dokter mencoba menganamnesis pasien.
D
: Assalamualaikum E, apa kabarnya ?
P
: ....................................*Pasien tidak menjawab, tatapannya kosong ke
depan*
D
: Ibu, apakah seperti ini bila diajak bicara, hanya diam saja?
Ibu P
: Iya dok, interaksi sama saya hanya saat bila dia ingin buang air besar atau
buang air kecil.
D
: Maaf ya bu, apa pernah anak ibu ingin mencoba bunuh diri?
Ibu P
: Oh kalau itu, Alhamdulillah belum pernah dok, dan jangan sampai dok.
D
: oh, begitu. Iya bu sukurlah. Tetapi sekarang dia tidak pernah lagi ya bu
mendengar bisikan-bisikan lagi ? atau melihat sesuatu yang hanya dia yang lihat?
Ibu P
: Tidak dok. Tetapi keluhan yang membuat saya sedih itu. Beberapa minggu
ini, dia mudah sekali menangis dok. Badannya kayak lemas gitu dok, layu. Makan saja
susah.

16

D
tidak bu?
Ibu P
D
Ibu P

: Maaf bu, sepengetahuan ibu anak ibu pernah menggunakan obat terlarang
: Kalau sepanjang pengetahuan saya tidak pernah dok.
: Terimakasih bu sudah mau berbincang-bincang
: Sama-sama dok