Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberikan


kasih sayang yang tiada akhir kepada manusia. Dan atas izin ALLAH SWT,
akhirnya Makalah Mata Kuliah Politik Hukum tentang Hukum Sebagai
Produk Politik ini bisa selesai dikerjakan.
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua yang telah membantu
dalam menyelesaikan tugas makalah ini, terutama kepada orang tua kami yang
telah mendidik kami. Harapan kami adalah makalah ini bisa bermanfaat bagi
semua orang yang membacanya, terutama kami pribadi. Selain itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca karena kami tahu Makalah Mata
Kuliah Politik Hukum tentang Hukum Sebagai Produk Politik ini masih
sangat jauh dari sempurna.
Atas segala kekurangan dan kesalahan penyusun di dalam menyelesaikan
makalah ini, penyusun mohon maaf. Dan atas segala kelebihan dan kebenaran
penyusun di dalam menyelesaikan makalah ini, sesungguhnya itu semua hanya
dari ALLAH SWT.
Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang
diberikan terhadap makalah ini.

Jakarta, 2 Oktober 2011

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................iii
1.

Latar Belakang Masalah............................................................................iii

2.

Identifikasi Masalah..................................................................................iii

3.

Pembatasan Masalah..................................................................................iv

4.

Perumusan Masalah...................................................................................iv

5.

Kegunaan Pembahasan..............................................................................iv

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................1
1.

KONSEP DASAR.......................................................................................1

A.

HUKUM.....................................................................................................1

B.

POLITIK.....................................................................................................3

C.

POLITIK HUKUM.....................................................................................3

2.

HUKUM SEBAGAI PRODUK POLITIK.................................................5

BAB III PENUTUP...........................................................................................10


DAFTAR PUSTAKA........................................................................................11
BIODATA PENYUSUN....................................................................................12

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dengan suatu proses
yang dinamakan interaksi sosial. Sebagai makhluk sosial manusia juga akan
cenderung membentuk kelompok-kelompok tertentu demi mencapai tujuan yang
diinginkan. Dalam mencapai tujuannya ini manusia melalui beberapa kejadian
hingga akhirnya membentuk negara.
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang
mempunyai tujuan menjunjung tinggi supremasi hukum. Dan hal ini telah
dijelaskan dalam konstitusi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
merupakan rechtstate bukan machtstate. Oleh karena itu, hukum dijunjung tinggi
di negara ini. Akan tetapi, timbul suatu permasalahan ketika aplikasi dari
supremasi hukum di Indonesia secara realita ternyata dipengaruhi oleh politik
dari pemerintahan yang berkuasa, sehingga polltik hukum yang terjadi di
Indonesia saat ini menjadi suatu hal yang menarik untuk kami bahas dalam
makalah ini.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka, identifikasi masalah
adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari hukum?
2. Apa pengertian dari politik?
3. Apa pengertian dari politik hukum?
4. Bagaimanakah politik hukum di Indonesia?
5. Bagaimana pelaksanaan politik hukum di Indonesia?
6. Bagaimanakah baik dan buruknya politik hukum di Indonesia?
7. Bagaimanakah solusi untuk mengatasinya?

iii

3. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas maka,
makalah ini dapat dibatasi pada ruang lingkup permasalahan latar belakang
pengertian ataupun penjelasan dari politik hukum berdasarkan konsep hukum
sebagai produk politik dengan realita yang terjadi di Indonesia.
4. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka
kami merumuskan masalah makalah ini tentang : Bagaimanakah maksud
dari hukum sebagai produk politik dengan kenyataan yang terjadi di
Indonesia?
5. Kegunaan Pembahasan
Dari pembahasan makalah mata kuliah politik hukum tentang hukum
sebagai produk politik ini, mempunyai beberapa kegunaan seperti berikut:

1. Kita bisa mengetahui apa maksud dari politik hukum dan hukum
sebagai produk politik.
2. Kita bisa mengambil pelajaran dari contoh kasus pelanggaran hukum,
politik hukum, dan hukum sebagai produk politik.
3. Sebagai evaluasi terhadap pribadi dan sekitar (lingkungan).
4. Menambah wawasan mengenai politik hukum.

iv

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam pembahasan mengenai hukum sebagai produk poltik, untuk


pemahaman konsepnya kami membagi ke dalam pembahasan secara ringkas
mengenai hukum, poltik, dan politik hukum. Hal ini kami lakukan supaya ada
pemahaman konsep dari pembaca mengenai pembahasan hukum sebagai produk
politik dari sudut pandang kami. Selain itu, dalam bab ini kami juga membahas
serta memberikan suatu bukti nyata bahwa hukum sebagai produk politik di
Indonesia yang disertai analisis berdasarkan sudut pandang penyusun.
Pembahasan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. KONSEP DASAR
A. HUKUM
Supremasi hukum bisa diartikan sebagai penegakan hukum yang tidak
pandang bulu. Maksud dari kalimat ini adalah bahwa penegakan hukum ini
benar-benar berdasarkan asas keadilan yang tidak bisa ditawar oleh apapun. Jadi,
supremasi hukum ini merupakan suatu tindakan nyata dari aparat penegak hukum
dalam menegakkan keadilan.
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang
tentunya sangat menjungjung tinggi supremasi hukum sehingga keadilan
merupakan cita-cita yang luhur seperti yang tertuang di dalam pembukaan UUD
1945 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia serta kemanusiaan yang
adil dan beradab.
Hukum berdasarkan sumber yang kami temukan merupakan gejala sosial
yang selalu berubah mengikuti perkembangan yang ada di dalam masyarakatnya
yang dipengaruhi oleh zamannya. Dan sistem hukum yang digunakan di
Indonesia ini merupakan sistem hukum yang lebih condong kepada campuran

dari eropa continental dan anglo saxon. Akan tetapi, sistem hukum eropa
continental ini justru lebih condong dalam prakteknya. Jadi, dalam rangka
penegakkan hukum di Indonesia sesuai sistem hukum yang dianut sumber hukum
di Indonesia digolongkan ke dalam hukum kedalam hukum publik dan privat.
Langkah yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam rangka penegakkan
hukum atau yang lebih kita kenal dengan sebutan supremasi hukum adalah
dengan mengkodifikasikan hukum tersebut dan tentunya dengan pengangkatan
aparat penegak hukum. Akan tetapi, dalam realita saat ini upaya yang dilakukan
untuk menegakkan hukum di atas segalanya tampaknya masih bisa dikatakan
hanya sebuah angan-angan. Contoh nyata dari supremasi hukum yang masih
angan-angan saat ini adalah penyelesaian masalah korupsi yang dilakukan oleh
pejabat pemerintah terutama Soeharto. Selain itu, ada juga kasus yang sekarang
juga hangat diperbincangkan yaitu kasus korupsi di kemenpora dan
kemenakertrans. Apakah supremasi hukum di Indonesia itu memang seperti ini.
Seperti apa yang telah diungkapkan di atas tentang beberapa contoh kasus
dan tujuan negara Indonesia untuk menjadi negara hukum yang menjunjung
tinggi hukum di atas segalanya, seharusnya aparat penegak hukum beserta
pemerintah tidak boleh takut dalam rangka mencapai supremasi hukum yang
telah

dicita-citakan.

Tujuan

dari

suatu

negara

salah

satunya

adalah

menyelenggarakan ketertiban hukum dan mencapai kesejahteraan umum. Hal ini


membuktikan bahwa perlu untuk kita sadari sesunguhnya negara hukum ini
merupakan salah satu tujuan semua negara terutama negara Indonesia dalam
rangka melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia sesuai yang
tercantum di dalam pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, seluruh warga
negara Indonesia terutama pemerintah dan aparat penegak hukum perlu berperan
serta dan berpartisipasi dalam rangka supremasi hukum.
Kita tentunya perlu tahu dan mengingat kembali tentang apa tujuan
negara Indonesia. Tujuan negara Indonesia sebenarnya telah sangat jelas tertulis
di dalam pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, sekarang tinggal bagaimana
kita mewujudkannya. Tujuan negara ini bukan hanya tujuan dan juga cita-cita
pemerintah Indonesia, melainkan warga negara Indonesia.
2

B. POLITIK
Politik secara bahasa berasal dari kata polis yang artinya kota atau negara
kota. Kemudian berkembang menjadi politeia yang berarti semua yang
berhubungan dengan negara atau politika yang berarti pemerintahan negara dan
politikos yang berarti kewarganegaraan.
Aristoteles (384-322 SM) dapat dianggap sebagai orang pertama yang
memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang manusia yang dia
sebut zoon politikon. Dengan istilah itu dia ingin menjelaskan bahwa hakikat
kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah
pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai
kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia
mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha
meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain
agar menerima pandangannya.
Namun, beberapa ahli mempunyai pendapat atau definisi beragam
mengenai politik. Miriam Budiarjo berpendapat bahwa politik adalah bermacammacam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut
proses menetukan tujuan-tujuan dari sistem tersebut dan melaksanakan tujuantujuan tersebut. Politik menyangkut who gets what, when, and how (Harold
Laswell). Sedangkan Ramlan Surbakti mendefinisikan politik sebagai interaksi
antara pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan
pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masayarakat
yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
C. POLITIK HUKUM
Politik hukum adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang
hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun
dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara.1 Dengan
demikian, yang menjadi fokus dalam politik hukum ini adalah mengenai hukum
yang digunakan sebagai alat untuk mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara
seperti yang diungkapkan oleh Sunaryati Hartono. Teuku Mohammad Radhie
1

Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), Cet. IV, hlm.1.

mendefinisikan politik hukum sebagai suatu pernyataan kehendak penguasa


negara mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya dan mengenai arah
perkembangan hukum yang dibangun.
Dalam buku politik hukum di Indonesia karangan Moh. Mahfud MD,
politik hukum diungkapkan bisa bersifat permanen dan bersifat periodik. Politik
hukum yang bersifat permanen atau jangka panjang misalnya pemberlakuan
prinsip pengujian yudisial, ekonomi kerakyatan, keseimbangan antara kepastian
hukum, penggantian hukum-hukum peninggalan kolonial dengan hukum-hukum
nasional, penguasaan sumber daya alam oleh negara, dan sebagainya. Di sini
terlihat bahwa beberapa prinsip yang dimuat dalam UUD sekaligus berlaku
sebagai politik hukum. Sedangkan yang bersifat periodik adalah politik hukum
yang dibuat sesuai dengan perkembangan situasi yang dihadapi pada setiap
periode tertentu baik yang akan memberlakukan maupun yang akan mencabut,
misalnya pada periode1973-1978 ada politik hukum untuk melakukan kodifikasi
dan unifikasi dalam bidang-bidang hukum tertentu, pada periode 1983-1988 ada
politik hukum untuk membentuk Peradilan Tata Usaha Negara.
Dalam politik hukum, terdapat kurang lebih 3 pendapat yang
sesungguhnya ketiga pendapat ini sama-sama benar dengan situasi yang berbeda.
Pendapat yang dimaksudkan adalah mengenai letak dari pengaruh hukum dan
politik dalam politik hukum. Jadi, ada pendapat yang mengemukakan bahwa
hukum ini dipengaruhi oleh politik karena berkaca dari sudut pandang kenyataan
bahwa hukum ini dibuat oleh pihak yang berwenang(berkuasa). Dan ada pula
yang berpendapat bahwa politik dipengaruhi oleh hukum karena berkaca pada
harapan akan hukum yang menjadi alat untuk mencapai tujuan negara bukan
tujuan penguasa. Sedangkan pendapat yang terakhir adalah bahwa hukum dan
politik ini saling mempengaruhi atau tidak ada yang lebih unggul jika berkaca
pada konsep das sollen-sein, seperti yang diungkapkan oleh Mochtar
Kusumaatmadja bahwa politik dan hukum itu interdeterminan sebab politik
.tanpa hukum itu zalim, sedangkan hukum tanpa politik itu lumpuh.

2. HUKUM SEBAGAI PRODUK POLITIK


Dalam pembahasan di atas, telah diungkapkan mengenai 3 pendapat
dalam politik hukum. Dengan demikian, penyusun melakukan pembahasan
mengenai hukum sebagai produk politik ini menggunakan konsep bahwa hukum
dipengaruhi oleh politik. Hal ini penyusun lakukan karena dalam melakukan
pembahasan hukum sebagai produk politik ini penyusun berkaca pada kenyataan
yang terjadi di Indonesia. Dalam kenyataannya (das sein), hukum di Indonesia ini
dibuat oleh suatu badan yang berwenang (legislatif) yang dimana penguasa
negeri ini mempunyai anggota yang cukup banyak dii badan yang berwenang
tersebut.
Sebelum membahas pada contoh kasus dari hukum sebagai produk politik
di Indonesia, politik yang dianut oleh suatu negara ternyata menentukan dari
hukum negara tersebut. Di bawah ini terdapat kolom yang menunjukkan
konfigurasi politik dan produk hukum yang dianut oleh suatu negara sebagai
berikut:
Indikator Sistem Politik
Konfigurasi Politik Demokratis
Konfigurasi Politik Otoriter
Parpol dan parlemen kuat, menentukan Parpol dan parlemen lemah, di bawah
haluan atau kebijakan negara.
Lembaga eksekutif (pemerintah) netral.
Pers

bebas,

tanpa

sensor

kendali eksekutif.
Lembaga
eksekutif

(pemerintah)

intervensionis.
dan Pers terpasung, diancam sensor dan

pemberedelan.

pemberdelan.

Indikator Karakter Produk Hukum


Karakter Produk Hukum Responsif
Pembuatannya partisipatif.
Muatannya aspiratif.
Rincian isian limitatif.

Karakter Produk Hukum Ortodoks


Pembuatannya sentralistik-dominatif.
Muatannya positivist-instrumentalistik.
Rincian isinya open interpretative.

Produk hukum responsif adalah produk hukum yang mencerminkan rasa


keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. Dalam proses pembuatannya
memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau

individu dalam masyarakat. Hasilnya akan bersifat respon terhadap kepentingan


seluruh elemen, baik dari segi masyarakat ataupun dari segi penegak hukum.
Hasil dari produk hukum tersebut mengakomodir kepentingan rakyat dan
penguasanya. Prinsip check and balance akan selalu tumbuh terhadap dinamika
kehidupan masyarakat.
Lawan dari hukum responsif adalah produk hukum konservatif atau
hukum refresif yang merupakan produk hukum yang isinya mencerminkan visi
sosial elit politik, lebih mencerminkan keinginan pemerintah, bersifat positif
instrumentalis, yakni menjadi alat pelaksana idiologi dari program negara.
Berlawanan dengan hukum responsif, hukum konservatif lebih tertutup terhadap
tuntutan-tuntutan kelompok maupun individu-individu dalam masyarakat. Dalam
pembuatannya peranan dan partisipasi masyarakat relatif kecil (Moh Mahfud Md,
Politik hukum di Indonesia). Dalam realita masyarakat Indonesia pembentukan
produk hukum konservatif ralatif lebih mudah dan lebih gampang dilakukan.
Walaupun

dalam pensahannya

mendapat

pertentangan

ataupun melalui

perdebatan panjang yang akhirnya lahir produk hukum dalam bentuk


konsertvatif. Kenyataan ini akan menimbulkan reaksi dari mereka yang merasa
diskriminasi terhadap kelahiran sebuah produk hukum tersebut. Atau ada juga
produk hukum yang bertentangan dengan produk hukum yang ada diatasanya.
Hal ini sudah banyak terjadi di Indonesia, kasus-kasus judicial review merupakan
bukti nyata terhadap adanya sebuah aturan yang dianggap diskriminasi atau
peraturan tersebut bertentangan dengan peraturan yang ada diatasnya., pengajuan
judicial review terhadap peraturan yang lebih rendah apabila bertentangan dengan
peraturan yang lebih tinggi merupakan salah satu bukti lahirnya produk hukum
yang konservatif. Polemik bahwa produk hukum tersebut merupakan produk
hukum konservatif terlihat bahwa hukum itu berpihak pada kelompok tertentu
atau kepada kepentingan tertentu, artinya terjadinya aturan yang berlaku dalam
masyarakat bukan atas kehendak atau keinginan dari masyarakat namun lebih
tertuju terhadap kepentingan politik dari para pembuat aturan tersebut maka
lahirlah apa yang dinamakan produk hukum konservatif. .Salah satu produk
hukum yang juga dianggap konservatif adalah Undang-undang terorisme dimana
6

lahirnya undang-undang ini mengalami banyak perdebatan, kemudian Undangundang terorisme ini mengenyampingkan azas-azas hukum yang lain serta
mengenyampingkan Hak Asasi Manusia.
Untuk mengkalkulasikan apakah produk hukum tersebut responsif atau
konservatif, ada indikator yang bisa dipakai dalam penilaian sebuah produk
hukum tersebut. Penilaian yang dipakai adalah proses pembuatannya, sifat
hukumnya, fungsi hukum dan kemungkinan penafsiran terhadap pasal-pasal dari
produk hukum tersebut. Produk hukum yang berkarakter responsif proses
pembuatannya bersifat pertisipasif, yakni mengundang sebanyak-banyaknya
partisipasi semua elemen masyarakat, baik dari segi individu, ataupun kelompok
masyarakat. Kemudian dilihat dari fungsi hukum yang berkarakter responsif
tersebut harus bersifat aspiratif yang bersumber dari keinginan atau kehendak
dari masyarakat, produk hukum tersebut bukan kehendak dari penguasa untuk
melegitimasikan kekuasaannya. Sehingga fungsi hukum bisa menjadi nilai yang
telah terkristal dalam masyarakat.
Kemudian dilihat dari segi penafsiran produk hukum yang berkarakter
responsif tersebut biasanya memberikan sedikit peluang bagi pemerintah untuk
membuat penafsiran sendiri melalui berbagai peraturan pelaksana, dan peluang
yang sempit itupun hanyak berlaku untuk hal yang bersifat teknis, bukan dalam
sifat pengaturan yang bertentangan dengan aturan yang ada diatasnya.
Pembangunan hukum responsif ini harus disertakan dengan masyarakat
yang responsif pula. Karena pilar utama dari penegakan hukum ada dalam diri
masyarakat. Masyarakat responsif adalah masyarakat atau komonitas yang lebih
tanggap terhadap tuntutan warganya dan mau mendengarkan keluhan serta
keinginan-keingian warganya. Masyarakat jenis responsif ini adalah masyarakat
yang dalam mengungkapkan dan menegakan nilai-nilai sosialnya, tujuantujuannya, kepentingan-kepentingannya tidak dilakukan dengan melalui cara
paksaan akan tetapi cendrung dilakukan dengan cara penyebarluasan informasi,
pengetahuan dan komonikasi. Konsekuensinya, dalam memecahkan masalahmasalah sosial, politik, ekonomi, budaya, dan hankamnya terutama dilakukan
dengan cara-cara persuasif dan dengan memberikan dorongan, bukannya unjuk
7

kekuasaan atau bahkan melembagakan budaya kekerasan. Kenyataan ini


menunjukan betapa pentingan pembangunan hukum responsif harus diiringi
dengan masyarakat responsif.
Tuntutan untuk mengagendakan urgensi pembangan hukum responsif
tersebut secara teoritis juga dilandasi oleh suatu asumsi bahwa hukum, selain
dapat dipergunakan sebagai tool of social control juga seharusnya dipergunakan
pula sebagai tool of social engineering yang akan menuntun perubahanperubahan sosial dan cita hukum masyarakat bersangkutan. (M.Abdul kholiq,
Jurnal hukum dan Keadilan ) Dalam perspektif konstitusional misalnya, hukum
responsif yang aspiratif dalam arti mengakomodir segala kepentingan masyarakat
banyak dan dengan demikian juga berarti bahwa hukum tersebut bersifat
melindungi (social defence), menemukan legitimasinya dalam UUD tahun 1945.
Praktisi Hukum Pada Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM),
Sumbardalam hubungan ini, bahwa sesungguhnya pada pembukaan UUD 1945
dalam konteksnya dengan hukum mengandung empat nilai dasar yang merupakan
law frame yang harus diperhatikan dalam pembangunan hukum di Indonesia.
Pertama, hukum itu berwatak melindungi (mengayomi) dan bukan sekedar berisi
muatan norma imperatif (memerintah) begitu saja. Kedua, hukum itu
mewujudkan kadilan sosial bagi seluruh rakyat. Keadilan sosial disini bukan
semata-mata sebagai tujuan, akan tetapi sekaligus sebagai pegangan yang konkrit
dalam membuat peraturan hukum. Ketiga, hukum itu adalah dari rakyat dan
mengandung sifat kerakyatan. Keempat, hukum adalah pernyataan kesusilaan dan
moralitas yang tinggi baik dalam peraturan maupun dalam pelaksanaanya
sebagaimana diajarkan didalam ajaran agama dan adat rakyat kita (M. Abdul
Kholik). Keseiringan antara nilai hukum dengan keadaan masyarakat menjadikan
hukum tersebut berpihak serta melindungi masyar akat. Maka untuk tercapainya
sebuah keadilan akan lebih mudah.
Dalam mencapai tatanan hukum responsif ini paradigma politik kita juga
harus diobah. Tujuannya adalah agar kepentingan politik sesaat tidak selallu
ditonjolkan, yang terjadi dalam era reformasi sekarang ini adalah bahwa
pembuatan sebuah produk hukum akan selalu ditonjolkan kepentingan politik.
8

Makanya untuk membangun sebuah produk hukum yang responsif arah


perpolitikan Indonesia harus disertai dengan politik bermoral dengan tujuan
kebersamaan untuk masyarakat. Kalau selama ini banyak partai politik yang
menonjolkan kepentingan partainya maka untuk masa yang akan datang arah
politik tersebut lebih menjurus terhadap kepentingan rakyat. Karena kita sadari
bersama bahwa hukum merupakan produk dari politik, kalau politiknya baik
maka akan menghasilkan produk hukum yang baik, kalau politiknya buruk akan
melahirkan produk hukum yang menyengsarakan rakyat.
Untuk masa yang akan datang dalam proses perubahan, peran masyarakat
akan sangat dibutuhkan untuk menegakkan hukum, apalagi saat ini banyak para
elit politik yang mengatasnamakan rakyat namun untungnya adalah untuk elit
politik sendiri, mudah-mudahan kita membangun hukum responsif demi
kepentingan bersama. Apabila pembanguna hukum responsif terwujud maka
budaya hukum masyarakat akan datang dengan sendirinya. Karena dengan
produk hukum yang dihasilkan secara responsif maka lahirnya aturan itu adalah
kehendak bersama masyarakat bukan kehendak dari para pembuat kebijakan.

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan yang cukup panjang mengenai politik hukum
dan hukum sebagai produk politik, maka kami berkesimpulan sebagai berikut:
1. Pelaksanan supremasi hukum ini membutuhkan partisipasi aktif dari
seluruh warga negara Indonesia.
2. Aparat penegak hukum harus tegas dan tidak pandang bulu dalam
rangka penegakkan hukum.
3. Pemerintah harus serius dalam menyelesailkan semua kasus hukum,
dan bila perlu mengeluarkan suatu kebijakan yang ekstrim untuk
menegakkan supremasi hukum.
4. Kita harus menyadari bahwa untuk menegakkan hukum dan
menjadikan negeri ini supremasi hukum, maka harus kita mulai dari
diri sendiri.
5. Hukum merupakan alat untuk mencapai cita-cita dan tujuan negara,
bukan untuk meraih kepentingan suatu penguasa atau kelompok
semata.
6. Rakyat harus berperan aktif(responsif) dalam pembuatan hukum di
Indonesia supaya terjadi keselarasan antara hukum dan politik di
negeri ini.
7. Politik di Indonesia masih mempunyai peran(pengaruh) yang
signifikan dalam pembuatan hukum.

10

DAFTAR PUSTAKA

Budiarjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Penerbit PT


Gramedia Pustaka Utama. 2004.

Djamali, Abdoel. Pengantar Hukum Indonesia edisi revisi. Jakarta: PT


Raja Grafindo Persada. 2009.

Hidayat, Komarudin dan Azyumardi Azra. Demokrasi, Hak Asasi


Manusia, dan Masyarakat Madani edisi ketiga. Jakarta: ICCE. 2008.

Mahfud MD, Moh. Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.


Cet. IV, 2011.

R. Soeroso. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika. 2006.

Soehino. Ilmu Negara.Yogyakarta: Liberty. 2005.

11

BIODATA PENYUSUN

I
Nama

: MUHAMAD DADANG NURFALAH

Nama Panggilan

: Dadang, A Danu, Agil, Saduta, Ipang.

Moto Hidup

: Hiduplah untuk akhirat karena TUHAN

tidak melarang manusia untuk berharap.


Riwayat Singkat

: Lahir di Sukabumi pada tanggal 29

Desember 1988, menyelesaikan sekolah dasar di SDN 5 Caringin dengan


prestasi ranking pertama dari kelas 1-6. Lulusan MTs Yasti 1 Cisaat pada
tahun 2004 dan pada tahun 2007 lulus dari SMAN 1 Cisaat. Sekarang
kuliah di UNJ untuk mewujudkan doa dan harapan menjadi kenyataan
sebagai pendidik (calon pemimpin bangsa) yang ilmunya bermanfaat bagi
umat.

12

II
Nama

: ADITYA WIGUNA

Nama Panggilan

: Adit, Oge.

Moto Hidup

: Dum spiro spero.

Riwayat Singkat

: Lahir di Jakarta pada tanggal 19 Januari

1992, mengawali masa sekolah di TK Perwara. Kemudian menyelesaikan


sekolah dasar di SDS Perwara. Lulusan SMPN 5 Jakarta pada tahun 2006
dan pada tahun 2009 lulus dari SMAN 5 Jakarta. Atas izin Yang Maha
Kuasa saat ini sedang menyelesaikan studi di jurusan Ilmu Sosial Politik
Universitas Negeri Jakarta.
III
Nama

: ISMAIL SALEH

Nama Panggilan

: Mail.

Moto Hidup

: Jadikan kehidupan dunia untuk bekal

akhirat.
Riwayat Singkat

: Lahir di Jakarta pada tanggal 3 Desember

1991, mengawali masa sekolah di TK Insani di Tambun. Kemudian


menyelesaikan sekolah dasar di SDN 3 Setia Mekar. Lulusan SMP 3
Tambun Selatan pada tahun 2006 dan pada tahun 2009 lulus dari MAN 1
Bekasi. Saat ini kuliah di UNJ Jurusan Ilmu Sosial Politik.
IV
Nama

: AHMAD ANGGARA

Nama Panggilan

: Angga.

Moto Hidup

: Makan untuk hidup.

Riwayat Singkat

: Lahir di Karawang pada tanggal 29

November 1991, menyelesaikan sekolah dasar di SDN 2 Warung Bambu.


Lulusan SMPN 2 Karawang Timur pada tahun 2006 dan pada tahun 2009
lulus dari SMAN 3 Karawang. Sekarang kuliah di UNJ demi meraih
mimpi untuk menjadi pendidik yang ilmunya bermanfaat bagi umat.

13

MAKALAH POLITIK HUKUM


HUKUM SEBAGAI PRODUK POLITIK

Oleh :
Aditya Wiguna
Ahmad Anggara
Ismail Saleh
Muhamad Dadang Nurfalah

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN ILMU SOSIAL POLITIK
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
2011