Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMEN 1

MODUL-1

Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran

Senin, 12 Oktober 2009

Abstrak

Setiap benda yang berbentuk lingkaran atau bola pasti akan mengalami gerak
apabila di beri sebuah gaya. Gerak yang terjadi pada benda tersebut tergantung pada
sumber gaya yang bergerak terhadapnya. Khusus pada praktikum kali ini, gerak yang
mendasar adalah gerak osilasi. Dimana pada gerak osilasi dalam kasus yang sederhana
yaitu saat kita mengamati sebuah pendulum yang digantung dengan seutas tali kemudian
tali di ikat pada pendulum. Lalu kita beri gaya terhadap pendulum yang sedang berada
dalam keadaan diam atau berada pada titik kesetimbangannya, maka hasil yang di
dapatkan bahwa benda itu bergerak bolak-balik melewati titik kesetimbangannya dan hal
itu yang dinamakan gerak osilasi atau disebut juga sebagai gerak harmonis sederhana.
Secara sederhana gerak osilasi dapat menghasilkan frekuansi dan peroida pada benda
pendulum atau benda yang di jadikan objek percobaan.
Salah satu aplikasi dari gerak osilasi adalah rotator harmonis. Dalam praktikum
kali ini mengenai rotator harmonis, praktikan lebih menekankan pada penggunaan suatu
benda yang dapat bergerak rotasi. Karena dari rotasi yang dialami suatu benda maka akan
menghasilkan besaran-besaran yang terjadi pada benda tersebut misalnya kecepatan
sudut, percepatan sudut dan sudut perubahan yang di alami benda pada setiap detiknya.
Karena alat percobaan yang digunakan menurut prosedur dapat digunakan secara manual
atau dengan menggunakan mesin pemutar pendulum torsi yang dihubungkan pada power
supply. Maka, akan terjadi tiga sistem frekuensi yang di bentuk pada sumber gaya yang
berbeda, yaitu frekuensi alamiah, frekuensi redaman dan frekuensi paksaan.
Percobaan pertama yang kita lakukan adalah getaran bebas dengan frekuensi
alamiah,kita menghitung waktu untuk sepuluh getaran dengan amplitudo dengan skala
15. Kemudian percobaan kedua getaran bebas dengan frekuensi paksaan,dengan
memasukan tegangan pada motor,kita menghitung tegangan dan amplitudo maksimum
pada setiap skala grob dari skala 6-26. Percobaan ketiga adalah getaran bebas dengan
frekuensi redaman,dengan mengalirkan arus pada kumparan dari power supply,kita
menghitung amplitude pada saat 2 periode,3 periode sampai amplitude yang masih bisa
diamati. Dan percobaan keempat adalah getaran bebas dengan frekuensi paksaan dan
redaman dengan memasukkan tegangan dan mengalirkan arus dari power supply,kita
menghitung amplitudo dan tegangannya
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakng
Setiap benda yang bergerak kembali kekeadaan semula dan melewati titik
setimbang disebut benda itu mengalami gerak osilasi. Dari gerak osilasi
didapatkan beberapa besaran seperti besaran frekuensi, perioda dan besaran-
besaran lain yang pada kasus ini lebih menekankan pada kasus benda yang
bergerak rotasi.
1.2 Identifikasi Masalah
Gerak rotasi akan menghasilkan besaran-besaran berupa percepatan sudut,
kecepatan sudut dan sudut yang dapat dianalogikan sebagai gerak pada linier..
Metoda yang digunakan dengan menggunakan hukum hooks.
1.3 Tujuan Percobaan
1. Menentukan frekuensi resonansi dari suatu osilator.
2. Menentukan gaya luar paksaan.
3. Mengukur redaman suatu getaran paksaan teredam.

II. TEORI DASAR

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa di sadari kita sering menemukan kasus-kasus


yang berhubungan dengan ilmu fisika. Salah satunya adalah saat kita mengamati suatu
benda apa pun oleh seutas tali kemudian digerakan benda tersebut oleh gaya terhadapnya.
Maka, benda itu akan mengalami suati gerak yang bolak-balik dari satu sisi ke sisi yang
berlawanan atau dikenal dengan mengayun. Dalam ilmu fisika hal tersebut di kenal
dengan gerak osilasi. Sebelum beranjak mengenai gerak osilasi, ada yang namanya
getaran dan gelombang. Kedua istilah tersebut merupakan suatu dampak yang berkerja
terhadap objek yang di berikan gaya atau objek yang bergerak. Tetapi kedua istilah
tersebut memiliki perbedaan yang mendasar.

Getaran adalah gerak bolak-balik sedangkan gelombang adalah getaran yang


merambat. Getaran yamg bergetar bolak-balik secara periodic melalui titik
kesetimbanannya adalah gerak harmonis sederhana. Pada gerak harmonis sederhana
bekerja suatu gaya yang selalu mengarah ke titik kesetimbangan, disebut dengan gaya
pemulih.

Dalam menentukan simpangan pada gerak harmonis sederhana ada beberapa


istilah yang perlu diketahui,

Periode adalah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu kali gerak bolak-
balik A-O-B-O-A pada gambar diatas. Sedangkan frekuensi dari suatu getaran adalah
banyaknya gerak bolak-balik yang dapat dilakukan dalam waktu satu sekon. Jadi
frekuensi merupakan kebalikan dari periode. Simpangan gerak harmonis sederhana dapat
diperoleh dari proyeksi gerak melingkar beraturan terhadap sumbu koordinatnya.

Suatu osilator yang digetarkan secara manual akan bergetar dengan frekuensi
alamiahnya. Apabila osilasi tersebut digetarkan dengan paksa oleh osilator lain,maka
getarannya akan dipengaruhi oleh gaya paksaan tersebut,ketika amplitude maksimum
getaran itu mengalami resonansi dan amplitude getaran mungkin berkurang dari suatu
waktu disebabkan oleh adanya gaya peredam. Suatu gerak yang berulang pada selang
waktu yang tetap disebut sebagai gerak periodic. Waktu untuk menempuh satu getaran
penuh disebut sebagai perioda (T), sedangkan jumlah getaran dalam satu satuan waktu
disebut frekuensi (f), sehingga :

f=1

Beberapa contoh dari gerak periodic adalah gerak ayun bandul lonceng, getaran
senar biola dan gerak ayun dari satu massa yang tergantung pada seutas tali. Apabila
dilihat dari sudut mikroskopis, misalnya pada suatu partikel yang bergetar disekitar posisi
setimbang, sedangkan gaya pada partikel sebanding dengan jarak partikel dari posisi
setimbang maka partikel tersebut dikatakan melakukan gerak harmonis sederhana dimana
gaya untuk mengembalikan partikel pada posisi setimbang tersebut disebut gaya balik.

Pada praktikum ini, dikenal ada 3 getaran yang terjadi sehingga menimbulkan
frekuensi, yaitu :

1. Getaran bebas tanpa hambatan


2. Getaran bebas dengan redaman
3. Getaran dengan gaya luar periodis
Pada kenyataannya, kebanyakan gerak di atas tidaklah betul- betul periodic
karena pengaruh gaya gesekan yang membuang energi gerak. Jika gaya gesekan ini
dimasukkan dalam hitungan, maka gaya gesekan yang terjadi disebut gerak periodic
teredam.

1. Getaran Bebas Tanpa Hambatan

Jika suatu partikel bergetar sekitar suatu posisi setimbang, sedangkan gaya pada
partikel sebanding dengan jarak partikel dari posisi setimbang, maka partikel tersebut
melakukan gerak harmonik sederhana. Gaya untuk mengembalikan partikel pada posisi
setimbang disebut gaya balik. Salah satu contoh osilator harmonis sederhana adalah gerak
suatu partikel bermassa yang diikat pada sebuah pegas. Pada keadaan ini akan berlaku
hukum II Newton,

F=m.a …………………………………... (1)

Pada pegas akan berlaku gaya pulih yang arahnya berlawanan dengan arah
partikel dan gaya pulih ini disebut juga sebagai hokum Hooke yang besarnya

F=-k.x …………………………………... (2)

Pada percobaan ini menggunakan piringan kuning sebagai partikel yang bergetar
harmonis dan dihubungkan dengan per spiral dan ujung yang lainnya dihubungkan ke
motor yang berputar. Gaya yang timbul terhadap poros rotasi disebut sebagai torsi (τ)
yang besarnya

τ=I.α …………………………………… (3)


Dari persamaan (2) dan (3) didapatkan :

-k.x = I.α

I.α + k.x =0 ………………………………..… (4)

Jika persamaa (4) dianalogikan , maka didapat persamaan gerak dari rotator
sebagai berikut :

I d²Ф + DФ = 0 …………………………….....… (5)

dt²
dengan : Ф = simpangan sudut

I = momen kelembaman ( momen inersia ) rotator

D = konstanta spiral

Frekuensi benda untuk gerak linier adalah

ωo = [ D ]1/2 …………..………………..……… (6)

I disini adalah momen inersia,momen gaya dan percepatan sudut adalah analogi
dari gaya dan percepatan linear. Untuk itu dicarai analogi lain,misalnya massa dalam
gerak linear adalah ukuran inersia suatu benda yaitu kecenderungan untuk tidak
mengalami perubahan gerak. Sedangkan untuk gerak rotasi yaitu kecenderungan untuk
tidak mengalami perubahan ini selain ditentukan oleh massa juga dipengaruhi oleh pola
distribusi massa terhadap sumbu putar yang disebut dengan momen inersia. Jadi,analogi
massa pada gerak linear adalah momen inersia pada gerak rotasi.

Momen inersia dari sebuah partikel bermassa m terhadap poros yang terletak
sejauh r dari massa partikel didefinisikan sebagai hasil kali massa partikel terhadap
kuadrat jarak dari titik poros:

I = m.r2
Apabila sebuah benda pejal terdiri dari distribusi materi yang kontinu maka dapat
dianggap benda terdiri dari sejumlah elemen massa dm yang tersebar merata di seluruh
benda dan momen inersia semua elemen massa tersebut r2.dm dan untuk dm yang
jumlahnya bayak penjumlahan menjadi integral :

I = ∫r 2 dm

Bila kita menganggap ada sebuah pegas yang diberikan beban pada satu sisi dan
sisi yang lain digantungkan, kemudian kita memulai getaran sistem dengan meregangkan
pegas sejauh A setelah itu melepaskannya, solusi persamaan di atas yang memberikan
gerakan massa adalah:

…………………………………………….(7)

Solusi ini menyatakan bahwa massa akan berosilasi dalam gerak harmonis
sederhana yang memiliki amplitudo A dan frekuensi fn. Bilangan fn adalah salah satu
besaran yang terpenting dalam analisis getaran, dan dinamakan frekuensi alami takredam.
Untuk sistem massa-pegas sederhana, fn didefinisikan sebagai:

………………………………………………(8)
Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa frekuensi sudut ω (ω = 2πf) dengan
satuan radian per detik kerap kali digunakan dalam persamaan karena menyederhanakan
persamaan, namun besaran ini biasanya diubah ke dalam frekuensi "standar" (satuan Hz)
ketika menyatakan frekuensi sistem. Kemudian bila massa dan kekakuan (tetapan k)
diketahui frekuensi getaran sistem akan dapat ditentukan menggunakan rumus pada
persamaan (8).

2. Getaran Bebas Dengan Redaman

Bila peredaman diperhitungkan, berarti gaya peredam juga berlaku pada massa
selain gaya yang disebabkan oleh peregangan pegas. Bila bergerak dalam fluida benda
akan mendapatkan peredaman karena kekentalan fluida. Gaya akibat kekentalan ini
sebanding dengan kecepatan benda. Konstanta akibat kekentalan (viskositas) c ini
dinamakan koefisien peredam, dengan satuan N s/m (SI)
Dengan menjumlahkan semua gaya yang berlaku pada benda kita mendapatkan
persamaan

Solusi persamaan ini tergantung pada besarnya redaman. Bila redaman cukup
kecil, sistem masih akan bergetar, namun pada akhirnya akan berhenti. Keadaan ini
disebut kurang redam, dan merupakan kasus yang paling mendapatkan perhatian dalam
analisis vibrasi. Bila peredaman diperbesar sehingga mencapai titik saat sistem tidak lagi
berosilasi, kita mencapai titik redaman kritis. Bila peredaman ditambahkan melewati titik
kritis ini sistem disebut dalam keadaan lewat redam. Nilai koefisien redaman yang
diperlukan untuk mencapai titik redaman kritis pada model massa-pegas-peredam adalah:

Untuk mengkarakterisasi jumlah peredaman dalam sistem digunakan nisbah yang


dinamakan nisbah redaman. Nisbah ini adalah perbandingan antara peredaman
sebenarnya terhadap jumlah peredaman yang diperlukan untuk mencapai titik redaman
kritis. Rumus untuk nisbah redaman (ζ) adalah

Sebagai contoh struktur logam akan memiliki nisbah redaman lebih kecil dari
0,05, sedangkan suspensi otomotif akan berada pada selang 0,2-0,3.

Solusi sistem kurang redam pada model massa-pegas-peredam adalah

Nilai X, amplitudo awal, dan φ, ingsutan fase, ditentukan oleh panjang regangan pegas.

Dari solusi tersebut perlu diperhatikan dua hal: faktor eksponensial dan fungsi
cosinus. Faktor eksponensial menentukan seberapa cepat sistem teredam: semakin besar
nisbah redaman, semakin cepat sistem teredam ke titik nol. Fungsi kosinus
melambangkan osilasi sistem, namun frekuensi osilasi berbeda daripada kasus tidak
teredam. Frekuensi dalam hal ini disebut "frekuensi alamiah teredam", fd, dan terhubung
dengan frekuensi alamiah takredam lewat rumus berikut.
Frekuensi alamiah teredam lebih kecil daripada frekuensi alamiah takredam, namun
untuk banyak kasus praktis nisbah redaman relatif kecil, dan karenanya perbedaan
tersebut dapat diabaikan. Karena itu deskripsi teredam dan takredam kerap kali tidak
disebutkan ketika menyatakan frekuensi alamiah.
Kemudian pada kasus pendulum yang digantungkan dengan sebuah tali kita
berikan gaya maka pendulum itu akan bergerak bolak-balik dari satu ke sisi yang lain
dengan melewati pusat kesetimbangannya atau disebut berosilasi. Jika tidak ada gesekan,
maka suatu ayunan akan terus berosilasi tanpa berhenti. Pada kenyataannya amplitudo
osilasi makin lama berkurang, dan akhirnya osilasi akan berhenti. Besar gaya gesekan
bergantung pada laju gerak.

Persamaan gerak dari suatu osilator harmonik teredam dapat diperoleh dari
hokum II Newton, yaitu F = m a , dimana F adalah jumlah dari gaya balik - k x, dan gaya
redam -b dx/dt

Jika F=τ=I.α

- k x - b dx = I . α

dt

I d²Ф + k . x + b dx = 0

dt² dt

dianalogikan

I d²Ф + D . Ф + R dФ = 0 ……………..……………. (7)

dt² dt
atau d²Ф + 2 β dФ + ωo² Ф = 0 ………………...……..…. (8)

dt² dt

frekuensi osilasi adalah lebih kecil, atau perioda osilasi lebih besar jika ada
gesekan. Jika tidak ada gesekan, maka R = 0. Amplitudo osilasi lama-kelamaan
berkurang menjadi nol. Faktor amplitudo adalah suatu fungsi eksponensial. Jika tidak ada
gesekan, maka eksponensial sama dengan satu, dan amplitudo osilasi tidak teredam.

Ada tiga macam gerak yang teredam :

a. Kurang teredam, jika ω2 > β2

b. Redaman kritis, jika ω2 = β2

c. Terlampau teredam, jika ω2 < β2

Dari ketiga hal di atas, yang menghasikan ayunan adalah yang kurang
redam (ω2 > β2) .

3. Getaran Dengan Gaya luar Periodis

Karena piringan dihubungkan ke per spiral, dan per spiral dihubungkan ke motor,
maka gaya yang ditimbulkan diset sebagai gaya luar. Osilasi yang terjadi di bawah
pengaruh gaya luar di sebut osilasi paksa. Dalam osilasi paksa frekuensi osilasi adalah
sama dengan frekuensi gaya luar periodic yang bekerja, dan tidak sama dengan frekuensi
natural dari osilasi bebas.

Untuk mudahnya, misalkan gaya luar ini kita nyatakan sebagai Fm sin ω t. Di
sini Fm adalah harga maksimum dari gaya luar, dan ω adalah frekuensi sudut. Suatu
osilator harmonik redam yang digerakkan oleh gaya F(t) = Fm sin ω t. Gaya ini berasal
dari motor listrik yang berputar dengan frekuensi ω. Harga frekuensi putaran motor dapat
diatur dengan mengubah arus listrik di dalam motor. Gaya gravitasi dapat diabaikan.

F=ma

F = - k . x - b dx + Fm sin ω t = m d² x ,atau
dt dt²

Fm sin ω t = m d² x + b dx + k . x

dt² dt

dianalogikan

 Fο sin ω t = I d² Ф + R dФ + D. Ф ………………..…………...… (9)

dt² dt

Untuk keadaan stasioner, penyelesaian persamaan di atas adalah :

 Ф = A sin ( ω t + φ ) ……………………...…………….….… (10)

Persamaan (10) dimasukkan ke persamaan (9), maka akan didapat :

- I A ω² sin (ωt - φ) + R Aω cos (ωt - φ) + D A sin (ωt - φ) = Fο sin ω t

dimana : sin (ωt - φ) = sin ωt . cos φ - cos ωt . sin φ

cos (ωt - φ) = cos ωt . cos φ + sin ωt . sin φ

sehingga :

 sin ωt [ - I.A.ω² cos φ + R.A ω sin φ + D.A cos φ ] + cos ωt [ I.A.ω² sin φ +
R.A.ω cos φ - D.A sin φ ] = Fο sin (ωt)

Untuk suku : sin ωt [ - I.A.ω² cos φ + R.A.ω sin φ + D.A cos φ ] = Fο sin (ωt)

Karena R = 2.β.I dan D = ωο².I , maka

I.A ( ωο² - ω² ) cos φ + 2.β.I.A.ω sin φ = Fο …………...………. (11)

Untuk suku : cos ωt [ I.A.ω² sin φ + R.A.ω cos φ - D.A sin φ ] = 0

( ωο² - ω² ) sin φ = 2.β.ω cos φ

sin φ / cos φ = tan φ = 2.β.ω / ( ωο² - ω² ) …...………………... (12)

φ = arc tan 2. β. ω

ωο² - ω²
Jika persamaan (12) merupakan sisi segitiga siku- siku, maka akan didapatkan
panjang sisinya.

 Sin φ = 2.β.ω / [ ( ωο² - ω² )² + 4. β ². ω² ]1/2

 Cos φ = ωο² - ω² / [ ( ωο² - ω² )² + 4. β ². ω² ]1/2

Nilai sin φ dan cos φ yang didapatkan di masukkan ke persamaan (11)

 I.A ( ωο² - ω² ) cos φ + 2.β.I.A.ω sin φ = Fο

1/2
 I.A ( ωο² - ω² ) [ ωο² - ω² / [ ( ωο² - ω² )² + 4. β ². ω² ] ] + 2.β.I.A.ω [ 2.β.ω / [
1/2
( ωο² - ω² )² + 4. β ². ω² ] ] = Fο

1/2
 I . A { ( ωο² - ω² )² + 4. β ². ω² ] = Fo ( setelah dikalikan sekawan )

Maka amplitudonya dapat dihitung dengan rumus sebagai beikut :

A = ( Fo / I ) / {( ωο² - ω² )² + 4. β ². ω² ]1/2 } …….…………..……... (13)

Persamaan (13) di atas dipakai jika terjadi redaman, apabila tidak terjadi redaman
( R = 2.β.I = 0 ) maka persamaannya adalah :

A = ( Fo / I ) / ( ωο² - ω² ) ………………………………………(14)
III. PERCOBAAN

III.1 ALAT DAN BAHAN

1. Pendulum torsi

Sebagai pendulum Torsi digunakan suatu piringan kuningan dengan as yang


dihubungkan ke per spiral.

2. Motor

Ujung dari per spiral dihubungkan dengan motor yang dapat bergerak harmonis
dengan amplitudo yang tetap dan frekuensinya dapat diubah- ubah bila motor
dalam keadaan berjalan.

3. Magnet Permanen

Dua buah magnet permanen yang diletakkan sedemikian rupa sehingga apabila
magnet itu diberi arus akan menimbulkan redaman pada pendulum torsi.

4. Multimeter

Digunakan untuk mengukur tegangan dan arus.

5. Power Suplay

Untuk menghubungkan motor agar mendapat daya gerak, juga untuk


menghubungkan kepada multimeter.

III.2 PROSEDUR PERCOBAAN


A. Frekuensi Alamiah

1. Mengatur pendulum sehingga amplitudo pendulum pada skala 15


secara manual.

2. Menggerakkan pendulum, mencatat waktu untuk 10 kali getaran.

3. Melakukan prosedur dua , minimal tiga kali.


4. Mengulangi prosedur 1-3 untuk amplitudo 14 s/d 5.

B. Frekuensi Paksaan

1. Menetapkan skala fein pada motor , pada skala 27.

2. Memasukkan tegangan untuk motor (input bagian atas)dengan


tegangan 24 V(output Power Suplay sebelah kanan).

3. Menentukan selektor grob pada motor pada skala 6.

4. Mengukur dan mencatat tegangan motor (output bawah) pada skala


tersebut.

5. Mencatat amplitudo maksimum pada skala tersebut , minimal 3


kali.

6. Mengulangi prosedur 2 s.d 5 untuk skala berikutnya, sampai


dengan skala 26!

C. Frekuensi Redaman

1. Memasukkan arus pada kumparan dari Power Suplay


(output sebelah kiri).

2. Mengatur slektor Power Suplay hingga arus yang masuk


pada kumparan sebesar 0,1 A.

3. Menentukan secara manual amplitudo pada skala 15


sebagai amplitudo awal Ao .

4. Menggerakkan pendulum , mencatat amplitudo A1 setelah


pendulum mencapai satu periode.

5. Mencatat amplitudo saat 2 perioda, 3 perioda, dan


seterusnya hingga amplitudo yang masih dapat diamati.
6. Mengulangi prosedur 3 s/d 5 untuk variasi arus 0,2 s/d
1A.

D. Frekuensi Paksaan dan Redaman

1. Memasukkan arus pada kumparan dari poiwer suplay.

2. memasukkan tegangan pada motor dari Power Suplay.

3. Pada arus kumparan 0,2 A. Melakukan prosedur seperti


pada frekuensi paksaan.

4. Mengulangi prosedur 3 untuk arus 0.4, 0.6, 0.8 dan 1 A


IV. DATA DAN ANALISA
IV.1 Percobaan A
waktu T=
waktu 1/T frekuensi stdev
(detik) t/10
A
rata-
t1 t2 t3 (detik) (Hz) wo (hz) frekuensi
rata
15 17.95 18 17.66 17.87 1.7873 0.56 0.564 0.002871
14 17.76 17.9 17.96 17.88 1.788 0.56
13 17.84 17.9 17.76 17.82 1.7817 0.56
12 17.62 17.7 17.74 17.67 1.7673 0.57
11 17.63 17.7 17.73 17.7 1.77 0.56
10 17.5 17.6 17.62 17.58 1.758 0.57
9 17.62 17.7 17.78 17.7 1.7697 0.57
8 17.73 17.6 17.83 17.72 1.7723 0.56
7 17.7 17.6 17.75 17.68 1.7683 0.57
6 17.73 17.7 17.7 17.7 1.7697 0.57
5 17.68 17.7 17.77 17.72 1.7717 0.56

IV.2 Percobaan B
skala Amplitudo maksimum Volt frekuensi
grob A1 A2 A3 motor (Hz)
6 0.8 0.8 0.8 2.34 0.0739
7 0.6 0.6 0.8 2.58 0.0697
8 1 0.8 0.8 2.86 0.0936
9 0.8 0.8 0.8 3.12 0.1089
10 0.9 0.9 0.8 3.39 0.1332
11 0.6 0.6 0.6 3.8 0.1546
12 0.6 0.6 0.6 4.08 0.1794
13 0.6 0.6 0.6 4.6 0.2071
14 0.8 0.8 0.8 5.3 0.2297
15 0.9 1 1 5.82 0.2613
16 1.4 1.4 1.4 6.54 0.2935
17 3 3 3.2 7.4 0.3212
18 12 12.2 9.8 8.25 0.3658
19 5.8 5.4 4.8 8.75 0.6747
20 2.4 1.8 1.6 10.01 0.753
21 11.95 1 0.8 11.95 0.8333
22 12.95 0.6 0.8 12.95 0.9434
23 14.9 0.7 0.6 14.9 1.0571
Grafik frekuensi terhadap tegangan pada
frekuensi paksaan

1.5

Frekuensi motor
y = 0.0828x - 0.1706
1

(Hz)
0.5

0
0 5 10 15 20

Tegangan (volt)

grafik percobaan IV. 2


1. Menghitung gaya luar
Contoh perhitungan ;

f o( A) = I . A. (w o2 − w 2 )
f o(0,6) = 1 1 0 .25 85x0,6 x(0,5 5 5 12 8− 02,0 7 3 29) 5= 2 0 0.433 9d y n e
Gaya Luar untuk amplitude selanjutnya;
f motor f alami Amplitudo Inersia Fo
w (Hz) wo (Hz) (A) grcm^2 dyne
0.0739 0.564 0.8 11028.55 2758.33
0.0697 0.564 0.666666667 11028.55 2303.04
0.0936 0.564 0.86666667 11028.55 2956.65
0.1089 0.564 0.8 11028.55 2701.88
0.1332 0.564 0.86666667 11028.55 2870.8
0.1546 0.564 0.6 11028.55 1946.73
0.1794 0.564 0.6 11028.55 1891.91
0.2072 0.564 0.6 11028.55 1820.8
0.2297 0.564 0.8 11028.55 2341
0.2613 0.564 0.96666667 11028.55 2663.3
0.2935 0.564 1.4 11028.55 3581.36
0.3212 0.564 3.06666667 11028.55 7269.01
0.3658 0.564 11.3333333 11028.55 23034
-
0.6748
0.564 5.3333333 11028.55 8073.43
-
0.753
0.564 1.9333333 11028.55 5307.29
-
0.8333
0.564 4.5833333 11028.55 19020.7
0.9434 0.564 4.7833333 11028.55 -30170
-
1.0571
0.564 5.4 11028.55 47605.5
2. Menghitung Besarnya sudut fase
Contoh menghitung sudut fase;

 2β ω  β = 0,
ϕ = arctan 2
 (ω o − ω ) 
2 

ϕ = arctan[ 0] ϕ =0

Sudut fase selanjutnya;

wo(Hz) wo^2 w^2 w B^2 fasa


0.564 0.318096 0.2154 0.464092 0 0
0.564 0.318096 0.1916 0.437716 0 0
0.564 0.318096 0.3455 0.587808 0 0
0.564 0.318096 0.4677 0.683892 0 0
0.564 0.318096 0.6997 0.836496 0 0
0.564 0.318096 0.9426 0.970888 0 0
0.564 0.318096 1.2693 1.126632 0 0
0.564 0.318096 1.6932 1.301216 0 0
0.564 0.318096 2.0809 1.442516 0 0
0.564 0.318096 2.6928 1.640964 0 0
0.564 0.318096 3.3973 1.84318 0 0
0.564 0.318096 4.0688 2.017136 0 0
0.564 0.318096 5.2772 2.297224 0 0
0.564 0.318096 17.958 4.237744 0 0
0.564 0.318096 22.362 4.72884 0 0
0.564 0.318096 27.386 5.233124 0 0
0.564 0.318096 35.1 5.924552 0 0
0.564 0.318096 44.071 6.638588 0 0

IV.3 Percobaan C
I (Ampere)
I = 0.1 I = 0.2 I = 0.3 I = 0.4 I = 0.5 I = 0.6 I = 0.7 I = 0.8 I = 0.9 I=1
A A A A A A A A A A
Periode Amplitudo
1 14 13.8 12.6 11.6 10 8.6 7 5.8 4.6 3.4
2 13 12.4 10.8 8.6 6.8 4.8 3.4 2.4 1.4 0.4
3 12.4 11.2 9 6.6 4.4 2.6 1.6 0.8 0.4 0.2
4 11.8 10 7.6 4.8 2.8 1.4 0.8 0.2 0.2
5 10.8 9 6.2 3.6 1.8 0.8 0.3 0.1
6 10 7.8 5 2.6 1.2 0.4 0.1
7 9.4 7 4 1.8 0.6 0.2
8 8.8 6.2 3.4 1.4 0.4 0.1
9 8 5.4 2.6 0.8 0.2
10 7.6 5 2.2 0.6
11 6.8 4 1.6 0.4
12 6.2 3.6 1.4 0.2
13 5.6 3 1 0.2
14 5 2.6 0.8
15 4.6 2.2 0.6

a). i=0.1 A
A t (sekon)
14 1.6
13 3.2
12.4 5.8
11.8 6.4
10.8 7.6
10 8.4
9.4 9.7
8.8 10.8
8 11.5
7.6 13.5
6.8 15.4
6.2 16.7
5.6 17.4
5 20.8
4.6 22.1
Grafik amplitudo terhadap waktu pada
untuk arus 0,1 A pada frekuensi
redaman

15 y = -0.4816x + 14.42

Amplitudo
10

0
0 5 10 15 20 25

Waktu T (detik)

b). i = 0.2 A
A t(sekon)
13.8 1.4
12.4 2.5
11.2 4.6
10 5.6
9 6.8
7.8 8.1
7 9.7
6.2 10.8
5.4 12.2
5 13.6
4 15.4
3.6 16.9
3 19.2
2.6 21.4
2.2 22.8
Grafik amplitudo terhadap waktu untuk
arus 0,2 A pada frekuensi redaman

15
amplitudo

10 y = -0.6134x + 13.993
5

0
0 5 10 15 20 25

Waktu T (detik)
c). i=0.3 A
A t(s)
12.6 1.3
10.8 2.6
9 3.7
7.6 4.2
6.2 5.6
5 6.2
4 7.4
3.4 9.2
2.6 10.4
2.2 11.5
1.6 13.2
1.4 14.4
1 16.3
0.8 17.5
0.6 18.3
Grafik amplitudo terhadap waktu untuk
arus 0,3 A pada frekuensi redaman

15
y = -0.683x + 10.896
amplitudo

10
5
0
-5 0 5 10 15 20

Waktu T (detik)

d). i=0.4 A
t(sekon) A
1.2 11.6
2.4 8.6
4.1 6.6
5.3 4.8
6.4 3.6
7.9 2.6
8.3 1.8
9.5 1.4
10.2 0.8
11.6 0.6
12.8 0.4
13.6 0.2
14.8 0.2
Grafik amplitudo terhadap waktu untuk
arus 0,4 A pada frekuensi redaman

15
y = -0.7851x + 9.8518

Amplitudo
10
5
0
-5 0 5 10 15 20

waktu A (detik)

e). i=0.5 A
t(sekon) A
1.1 10
2.7 6.8
3.9 4.4
5.7 2.8
7.2 1.8
8.9 1.2
11.3 0.6
12.6 0.4
14.2 0.2
Grafik amplitudo waktu untuk arus 0,5 A
pada frekuensi redaman

15
y = -0.6625x + 8.1097
Amplitudo

10
5
0
-5 0 5 10 15

waktu T (detik)
f). i=0.6 A
t(sekon) A
0.9 8.6
2.7 4.8
3.8 2.6
5.1 1.4
6.2 0.8
7.7 0.4
9.1 0.2
11.6 0.1
Grafik amplitudo terhadap waktu T
untuk arus 0,6 A pada frekuensi
redaman
y = -0.7242x + 6.6262
10
Amplitudo

0
0 5 10 15
-5

Waktu T (detik)

g) i=0.7 A
t(sekon) A
0.8 7
2.9 3.4
5.1 1.6
6.4 0.8
8.3 0.3
9.2 0.1

Grafik amplitudo terhadap waktu untuk


arus 0.7 A pada frekuensi redaman

10 y = -0.7751x + 6.4243
Amplitudo

0
0 2 4 6 8 10
-5

Waktu T (detik)
h). i=0.8 A
t(sekon) A
0.6 5.8
2.1 2.4
4.2 0.8
5.1 0.2
7.2 0.1

Grafik amplitudo terhadap waktu untuk


arus 0.8 A pada frekuensi redaman

8
y = -0.8327x + 5.0574
6
Amplitudo

4
2
0
-2 0 2 4 6 8

Waktu T (detik)

i). i=0.8 A
t(sekon) A
0.5 4.6
3.2 1.4
4.5 0.4
5.3 0.2
Grafik amplitudo terhadap waktu T
untuk arus 0.9 A pada frekuensi
redaman

6
y = -0.9523x + 4.8641
Amplitudo

4
2
0
-2 0 1 2 3 4 5 6

Waktu T (detik)
j). i=1 A
t(sekon) A
0.4 3.4
2.1 0.4
3.1 0.2
Grafik amplitudo terhadap waktu T
untuk arus 1.0 A pada frekuensi
redaman

4
3 y = -1.2469x + 3.6608
Amplitudo

2
1
0
-1 0 1 2 3 4

Waktu T (detik)

IV.3 Percobaan D
a). Frekuensi paksaan dan redaman pada I=0.2 A

arus 0.2 A
A Fmotor (Hz)
0.4 0.0739
0.5 0.0697
0.5 0.0936
0.4 0.1089
0.6 0.1332
0.6 0.1546
0.6 0.1794
0.8 0.2072
0.8 0.2297
1 0.2613
1.2 0.2935
2.6 0.3212
5.4 0.3658
1.8 0.6748
1.4 0.753
0.8 0.8333
0.6 0.9434
0.6 1.0571
0.4 1.0756
0.6 1.0847
0.2 1.0924
Grafik amplitudo terhadap frekuensi
untuk arus 0.2 A

6
5

Amplitudo
4
3
2
1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

Frekuensi motor (Hz)

b). Frekuensi paksaan dan redaman pada I= 0.4 A


Fmotor
A
(Hz)
0.6 0.0739
0.5 0.0697
0.4 0.0936
0.5 0.1089
0.6 0.1332
0.6 0.1546
0.6 0.1794
0.8 0.2072
0.8 0.2297
1.2 0.2613
1.6 0.2935
3.8 0.3212
2 0.3658
1.4 0.6748
1.2 0.753
0.4 0.8333
1.2 0.9434
0.6 1.0571
0.4 1.0756
0.2 1.0847
0.2 1.0924
Grafik Amplitudo terhadap frekuensi
untuk arus 0.4 A

4
3.5
3

Amplitudo
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0 0.5 1 1.5

Frekuensi motor (Hz)

c). Frekuensi paksaan dan redaman pada I= 0.6 A


A Fmotor(Hz)
0.5 0.0739
0.5 0.0697
0.5 0.0936
0.6 0.1089
0.6 0.1332
0.6 0.1546
0.6 0.1794
0.8 0.2072
0.8 0.2297
0.8 0.2613
1.2 0.2935
2 0.3212
1.8 0.3658
1.2 0.6748
1 0.753
0.4 0.8333
0.8 0.9434
0.8 1.0571
0.6 1.0756
0.6 1.0847
0.4 1.0924
Grafik amplitudo terhadap frekuensi
untuk arus 0.6 A

2.5

Amplitudo
1.5

0.5

0
0 0.5 1 1.5

Frekuensi motor (Hz)