Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bak dua sisi dari mata uang yang tak terpisahkan, kehidupan manusia
tidak dapat dilepaskan dari alam. Berbanding lurus dengan peningkatan
jumlah penduduk setiap tahunnya, pemanfaatan bahan bahan alam untuk
memenuhi kebutuhan manusia juga meningkat. Eksploitasi terhadap alam
dapat menimbulkan berbagai masalah, terutama pada sumber daya alam yang
tidak dapat diperbarui. Berbagai jenis bahan tambang misalnya minyak bumi,
gas alam, dan batu bara merupakan sumber daya alam yang suatu saat akan
habis dan tidak dapat diperbarui lagi.
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2014 mencapai 253,60 juta
jiwa dan menduduki peringkat keempat dunia setelah China, India dan AS.
Banyak permasalahan lingkungan yang ditimbulkan akibat jumlah penduduk
Indonesia yang menembus angka 253,60 juta jiwa. Permasalahan lingkungan
ini seolah menjadi prestasi tersendiri yang membuat negeri ini lebih dikenal
dunia. Permasalahan kependudukan yang selalu dihadapi oleh negara maju
maupun berkembang adalah masalah over populasi, angka kelahiran dan
kematian bayi yang tinggi, urbanisasi, pengangguran, ketidakmerataan
penyebaran penduduk yang semakin kompleks akan mengimbas kepada
segmen terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu kelestarian lingkungan
hidup.
Sebelum kita membahas gagasan mengenai cara untuk mengatasi
pencemaran

lingkungan yang

lingkungan

dan

kelestarian

mengakibatkan
alam karena

kerusakan
tidak

keseimbangan

terkendalinya

laju

kependudukan ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa dan bagaimana
keadaan kependudukan dan lingkungan di Indonesia, pengertian dan jenis-

jenis pencemaran lingkungan yang terjadi di Indonesia terkait dengan polusi


yang menguasai ibu kota Jakarta, dan bencana-bencana alam yang terjadi
akibat

ulah

manusia

sendiri,faktor-faktor

penyebabnya,

dan

cara

menanggulanginya ditinjau dari berbagai pihak terkait, serta gagasan untuk


mengatasinya.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana dinamika penduduk di Indonesia saat ini ?
2. Bagaimana hubungan penduduk dengan lingkungan ?
3.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Dinamika Penduduk Di Indonesia
Dinamika penduduk adalah perubahan keadaan penduduk. Perubahan
perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Dinamika atau perubahan
lebih cenderung pada perkembangan jumlah penduduk suatu Negara atau
wilayah tersebut. Jumlah penduduk tersebut dapat diketahui melalui sensus,
registrasi dan survey penduduk.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 setelah
Amerika Serikat, China dan India. Jumlah penduduk yang besar, wilayah yang
luas, serta kondisi geografis berupa kepulauan serta persebaran penduduk yang
tidak merata menjadi permasalahan tersendiri bagi Indonesia. Jumlah penduduk di
Indonesia dari tahun ke tahun bertambah pesat. Hal ini dapat dilihat dalam kurun
waktu 40 tahun (tahun 1971-2010), penduduk Indonesia bertambah sekitar 88 juta
jiwa. Berdasarkan data terkini, jumlah penduduk Indonesia sebagaimana yang
tercatat dalam sensus penduduk 2010 sebesar 237.641.236 jiwa (www.bps.go.id).
Kondisi demikian menimbulkan beragam permasahan kependudukan seperti
kemiskinan, kriminalitas, pencemaran lingkungan, keterbatasan sumberdaya
alam dan masalah-masalah lainnya. Dimana sangat dibutuhkan kesadaran
berbagai pihak bahwa masalah kependudukan merupakan tanggung jawab
bersama. Pemerintah, Swasta serta Masyarakat sipil termasuk kelompok remaja
sebagai generasi muda bangsa memiliki tanggung jawab yang sama besar.
Dari tahun ke tahun jumlah penduduk selalu bertambah. Pertambahan
penduduk mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dibuktikan dengan
adanya kurva perolehan angka penduduk oleh badan pusat statistic di berbagai
kota di Indonesia yang selalu menunjukan peningkatan. Pertambahan jumlah
penduduk disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya : kelahiran dan kematian
seseorang dan juga migrasi penduduk yang tidak terkendali. Dampak yang

ditimbulkan

dari

pertambahan

jumlah

penduduk

akan

mempengaruhi

keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam didaerahnya. Keseimbangan


lingkungan akan terganggu karena luas daerah yang tersedia terkadang tidak
sesuai dengan banyaknya jumlah penduduk di suatu daerah. Begitu juga dengan
kelestarian

alam,

karena

jumlah

pertambahan

penduduk

yang

pesat

mengakibatkan penduduk tidak lagi perduli terhadap kelestarian alam


disekitarnya dan hanya memikirkan kepentingan individualisme.
B. Hubungan Penduduk dan Lingkungan
Masalah kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup merupakan dua
permasalahan yang kini sedang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya maupun
negara-negara lainnya di dunia umumnya. Brown (1992:265-280), menyatakan
bahwa masalah lingkungan hidup dan kependudukan yaitu masalah pencemaran
lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs eksploitasi terhadap sumbersumber alam, serta berbagai fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin
menujukkan peningkatan yang signifikan. Keprihatinan ini tidak saja memberikan
agenda penanganan masalah lingkungan yang bijak. Namun juga merupakan
warning bagi kehidupan, bahwa kondisi lingkungan hidup sedang berada pada
tahap memprihatinkan. Seandainya tidak dilakukan upaya penanggulangan secara
serius, maka dalam jangka waktu tertentu kehidupan ini akan musnah.
Hal ini terjadi menurut Soemarwoto (1991:1), karena lingkungan (alam) tidak
mampu lagi memberikan apa-apa kepada kita. Padahal seperti kita ketahui bahwa
manusia merupakan bagian integral dari lingkungan hidupnya, ia tidak dapat
dipisahkan dari padanya. Padatnya penduduk suatu daerah akan menyebabkan
ruang gerak suatu daerah semakin terciut, dan hal ini disebabkan manusia
merupakan bagian integral dari ekosistem, dimana manusia hidup dengan
mengekploitasi lingkungannya. Pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan
permintaan terhadap sumber daya alam. Pada saat yang sama meningkatnya
konsumsi yang disebabkan oleh membengkaknya jumlah penduduk yang pada
akhirnya akan berpengaruh pada semakin berkurangnya produktifitas sumber
daya alam.

Menurut Wijono (1998:5) kondisi sebagaimana digambarkan tersebut dapat


diibaratkan seperti lilin, pertumbuhan penduduk yang cepat akan membakar lilin
dari kedua ujungnya. Sehingga batang lilin itu akan cepat meleleh dan habis.
Konsekwensinya adalah berubahnya salah satu atau beberapa komponen dalam
ekosistem, mengakibatkan perubahan pada interaksi komponen-komponen itu,
sehingga struktur organisasi dan sifat-sifat fungsional ekosistem akan berubah
pula.
Dalam perspektif historis tentang kependudukan dan dampak lingkungan
Derek Lewlyn dan Jones (dalam Alfi, 1990:22) melakukan penelitian di kota
Sidney di Australia, berdasarkan hasil penelitiannya mereka menyimpulkan
bahwa sebenarnya keseimbangan ekologi itu tidak kekal. Kota Sidney yang
dulunya sangat asri dengan tatanan lingkungan kota yang nyaman, tetapi mulai
periode 80-an, semuanya telah berubah menjadi tidak nyaman lagi. Berdasarkan
hasil penelitian tersebut menandakan bahwa perkembangan penduduk sedikit
banyak akan mempengaruhi lingkungan hidup baik fisik maupun non fisik.
Dari kenyataan sejarah menurut Derek Lewlyn dan Jones, sebenarnya krisis
lingkungan hidup yang terjadi pada masyarakat modern ini sebagai dari peledakan
penduduk dan kemajuan teknologi modern, sudah dimulai ratusan tahun lalu.
Berdasarkan hal ini maka dapat dikatakan bahwa perkembangan penduduk dunia
dilihat dari perspektif sejarah sebenarnya mempunyai tiga tahapan transisi yang
biasa diistilahkan dengan konsep Demographis Transition. Tiga transisi itu
adalah:

pra-transition;
transition;
post transition.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Derek Lewlyn dan Jones, bahwa dalam masyarakat pratransition, tingkat kematian dan tingkat kelahiran sama tinggi. Masyarakatmasyarakat semacam ini masih ada dalam kehidupan masyarakat modern, seperti di
Afrika, Amerika Latin dan sebagian Asia.Masyarakat transition, rata-rata tingkat
kematian mulai menurun, terutama tingkat kematian bayi dan anak-anak. Akibat dari

keadaan ini maka tingkat kelahiran meningkat; lebih banyak anak-anak hidup
mencapai usia produktif. Pada tingkat akhir masa transition ini tingkat kelahiran juga
menurun sebagai akibat dari pelaksanaan birth control.
Pada

umumnya

sebagian

negara

berkembang

berada

pada

tingkat

transition.Sementara itu pada masyarakat post-transition rata-rata tingkat kelahiran


dan kematian rendah.Hal ini disebabkan jumlah bayi dan anak-anak sampai pada
tingkat minimum sekali. Tahapan transisi dalam pertumbuhan penduduk ini
membawa dampak kepada keseimbangan lingkungan.Artinya bahwa semakin cepat
pertumbuhan penduduk, maka akan membawa akibat kepada tekanan yang kuat
terhadap sumber daya alam. Seperti meningkatnya kebutuhan pangan, air bersih,
pemukiman dan sebagainya.Sehingga menimbulkan ketidakseimbangan antara
persediaan sumber daya alam dengan kebutuhan manusia.
Pertambahan penduduk yang cepat, makin lama makin meningkat hingga
akhirnya memadati muka bumi. Hal ini membawa akibat serius terhadap rentetan
masalah besar yang membentur keseimbangan sumber daya alam. Karena
bagaimanapun juga setiap menusia tidak lepas dari bermacam-macam kebutuhan
mulai dari yang pokok hingga sampai pada kebutuhan pelengkap. Sedangkan semua
kebutuhan yang diperlukan oleh manusia sangat banyak dan tidak terbatas, sementara
itu kebutuhan yang diperlukan baru akan terpenuhi manakala siklus dan cadangancadangan sumber daya alam masih mampu dan mencukupi. Tetapi akan lain jadinya
jika angka pertumbuhan penduduk kian melewati batas siklus ataupun jumlah
cadangan sumber-sumber kebutuhan. Andaikata kondisi perkembangan demikian
tidak diupayakan penanganan secara serius maka pada saatnya akan terjadi suatu
masa krisis. Lebih parah lagi sebagaimana dikemukakan diatas adalah terjadinya
bencana yang dapat memusnahkan kehidupan manusia.
Keterkaitan keseimbangan lingkungan dan kelestarian terhadap Peningkatan
jumlah penduduk diikuti dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal itu
menyebabkan kebutuhan akan barang,jasa, dan tempat tinggal meningkat tajam dan
menuntut tambahan sarana dan prasarana untuk melayani keperluan masyarakat.

Akan tetapi, alam memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Kebutuhan yang
terus-menerus meningkat tersebut pada gilirannya akan menyebabkan penggunaan
sumber daya alam sulit dikontrol. Pengurasan sumber daya alam yang tidak
terkendali tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering menimbulkan
dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan bahan
bangunan dan kertas, maka kayu di hutan ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan
lahan pertanian, maka hutan dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk
memenuhi kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat
transportasi, diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila tidak dilakukan
dengan benar, aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat menimbulkan
pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang
tidak terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah
longsor, serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan tersebut.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia secara tidak sadar telah merusak
alam yang telah memberi kecukupan untuk menjalani kehidupan ini. Tetapi, karna
perkembangan tekhnologi, ilmu pengetahuan, dan jumlah pertambahan penduduk
yang sangat pesat mengakibatkan hancurnya ekosistem alam yang sangat penting di
muka bumi ini. Jika keseimbangan alam telah rusak, maka manusia tidak akan bisa
hidup dengan tenang. Misalnya ketersediaan jumlah oksigen yang menipis karna
penebangan hutan untuk lahan industri, lahan pemukiman, dan lahan pertanian.

C. Data Kependudukan Antar Provinsi Di Indonesia


Berikut merupakan tabel Rasio Jenis Kelamin Menurut Provinsi 1971, 1980,
1990, 1995, 2000, 2005, 2010
Provinsi

1971

1980

1990

1995

2000

2005

2010

Aceh

100.21

101.49

101.05

100.01

101.10

100.20

Sumatera Utara

101.32

100.72

99.76

99.24

99.80

99.62

99.80

Sumatera Barat

93.69

95.53

95.88

94.07

96.10

97.49

98.40

Riau

104.63

103.99

105.16

102.77

104.40

104.24

106.30

Jambi

107.45

105.65

104.32

101.65

104.20

105.92

105.50

Sumatera Selatan

99.51

102.05

101.19

102.08

101.00

102.43

103.70

Bengkulu

101.99

103.23

105.63

101.85

103.20

104.09

104.60

Lampung
Kepulauan Bangka
Belitung
Kepulauan Riau

102.33

107.28

105.51

104.89

106.20

107.63

106.10

104.00

109.00

108.00

99.87

105.50

DKI Jakarta

102.13

102.58

101.95

100.56

102.50

98.70

102.80

Jawa Barat

96.79

99.12

100.51

100.82

102.10

102.71

103.60

Jawa Tengah

95.25

96.62

97.47

96.76

99.20

99.77

98.80

DI Yogyakarta

94.28

96.25

96.71

98.34

98.30

100.17

97.70

Jawa Timur

94.32

95.51

95.96

96.24

97.90

98.65

97.50

101.50

103.79

104.70

Bali

97.94

98.39

99.46

100.21

101.00

103.14

101.70

Nusa Tenggara Barat

97.45

98.29

95.51

92.59

94.20

93.49

94.30

Nusa Tenggara Timur

101.99

99.56

98.34

98.09

98.60

100.41

98.70

Kalimantan Barat

104.21

103.49

103.85

104.81

104.70

104.98

104.60

Kalimantan Tengah

101.75

106.32

106.63

104.91

106.80

106.46

109.00

Kalimantan Selatan

96.31

98.82

99.63

99.39

100.50

101.83

102.60

Kalimantan Timur

106.96

111.64

110.91

106.23

109.70

109.71

111.30

Sulawesi Utara

100.57

102.27

102.74

102.99

104.90

103.85

104.40

Sulawesi Tengah

104.63

106.44

105.08

102.67

104.70

105.23

105.20

Sulawesi Selatan

94.77

94.94

95.50

94.88

95.10

94.78

95.50

Sulawesi Tenggara

Banten

91.31

96.89

99.70

96.61

100.70

101.60

101.00

Gorontalo

101.00

101.34

100.70

Sulawesi Barat

100.80

Maluku

103.00

104.43

103.82

102.98

102.80

103.09

102.30

Maluku Utara

104.70

105.21

104.90

Papua Barat

112.40

Papua

141.44
109.29
110.49
103.83
110.40
112.34
INDONESIA
97.18
98.82
99.45
99.09
100.60
101.11
Sumber: Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 1995, 2000, 2005, 2010 dan Survei Penduduk Antar Sensus (1995)

D. Data Kependudukan Desa-Kota


Berikut merupakan luas wilayah, jumlah penduduk, dan kepadatan penduduk
provinsi Sulawesi Selatan menurut Kabupaten/Kota 2013
Kabupaten/Kota

Luas

Penduduk

Kepadat

113.40
101.40

(1)
01. Kepulauan
Selayar
02. Bulukumba
03. Bantaeng
04. Jeneponto
05. Takalar
06. Gowa
07. Sinjai
08. Maros
09. Pangkep
10. Barru
11. Bone
12. Soppeng
13. Wajo
14. Sidrap
15. Pinrang
16. Enrekang
17. Luwu
18. Tana Toraja
22. Luwu Utara
25. Luwu Timur
26. Toraja Utara
71. Makassar
72. Pare-Pare
73. Palopo

(2)

(3)

(4)

(5)

an
Pendudu
k
Orang/K
m2
(6)

1,199.91
1,170.10
397.06
837.99
620.26
1,802.08
924.15
1,538.44
814.95
1,192.39
4,593.38
1,337.99
2,394.15
2,081.01
1,892.42
1,821.41
2,940.51
2,149.67
7,365.51
7,315.77
1,169.95
181.35
88.92
254.57

2.60
2.54
0.86
1.82
1.35
3.91
2.01
3.34
1.77
2.59
9.97
2.90
5.20
4.52
4.11
3.95
6.38
4.66
15.98
15.87
2.54
0.39
0.19
0.55

127,220
404,896
181,006
351,111
280,590
696,096
234,886
331,796
317,110
169,302
734,119
225,512
390,603
283,307
361,293
196,394
343,793
226,212
297,313
263,012
222,393
1,408,072
135,192
160,819

1.52
4.85
2.17
4.21
3.36
8.34
2.82
3.98
3.80
2.03
8.80
2.70
4.68
3.40
4.33
2.35
4.12
2.71
3.56
3.15
2.67
16.88
1.62
1.93

106
346
456
419
452
386
254
216
389
142
160
169
163
136
191
108
117
105
40
36
190
7,764
1,520
632

Sulawesi Selatan

46,083.94

100.00

8,342,047

100.00

181

Km2

Jumlah

Berikut merupakan jumpalh penduduk Sulawesi Selatan menurut jenis


kelamin dan rasio jenis kelamin, 2010-2013
Tahun

Jumlah Penduduk (Ribuan Jiwa)


Laki-Laki

Perempuan

Total

Rasio
Jenis
Kelamin

2010

3,924.4

4,110.3

8,034.8

95.5

2011

3,977.7

4,178.4

8,156.1

95.2

2012

4,025.1

4,214.9

8,240.0

95.5

2013

4,071.4

4,270.6

8,342.0

95.3

Sumber: Proyeksi Penduduk, BPS

E. Upaya Penanggulangan Masalah Kependudukan Di Indonesia


Masalah-masalah kependudukan di Indonesia yaitu:
1. Jumlah penduduk besar
Negara Indonesia yang berpenduduk besar yaitu nomor 4 di dunia
menghadapi masalah yang cukup rumit yaitu:
a. Pemerintah harus dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan hidupnya.
Dengan kemampuan pemerintah yang masih terbatas masalah ini sulit
diatasi sehingga berakibat seperti masih banyaknya penduduk
kekurangan gizi makanan, timbulnya pemukiman kumuh.
b. Penyediaan lapangan kerja, sarana dan prasarana kesehatan dan
pendidikan serta fasilitas sosial lainnya. Dengan kemampuan dana
yang terbatas masalah ini cukup sulit diatasi, oleh karena itu
pemerintah menggalakkan peran serta sektor swasta untuk mengatasi
masalah ini. Peran serta swasta yang telah dilakukan antara lain
pembangunan pabrik/industri, sekolah swasta, rumah sakit swasta dan
lain-lain.
2. Pertumbuhan penduduk cepat
Terdapat beberapa solusi yang bisa digunakan sebagai upaya
pencegahan atas masalah kependudukan ini, diantaranya:
a. Melaksanakan program KB (2 anak lebih baik)
Dalam program ini setiap keluarga dianjurkan mempunyai dua atau
tiga anak saja atau merupakan keluarga kecil. Dengan terbentuknya

keluarga kecil diharapkan semua kebutuhan hidup anggota keluarga


dapat terpenuhi sehingga terbentuklah keluarga sejahtera.
b. Menunda pernikahan dini
Tujuannya yaitu:
1. Menurunkan angka kelahiran agar pertambahan penduduk tidak
melebihi kemampuan peningkatan produksi.
2. Meningkatkan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai keluarga
sejahtera.
3. Persebaran Penduduk Tidak Merata
Persebaran penduduk di Indonesia tidak merata baik persebaran antar
pulau, propinsi, kabupaten maupun antara perkotaan dan pedesaan. Pulau
Jawa dan Madura yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah daratan
Indonesia, dihuni lebih kurang 60% penduduk Indonesia. Jika kondisi ini
dibiarkan diperkirakan angka tersebut akan cenderung meningkat diwaktu
yang akan datang.
Akibat dari tidak meratanya penduduk yaitu luas lahan pertanian di
Jawa semakin sempit. Lahan bagi petani sebagian dijadikan permukiman dan
industri. Sebaliknya banyak lahan di luar Jawa belum dimanfaatkan secara
optimal karena kurangnya sumber daya manusia. Sebagian besar tanah di luar
Jawa dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan pertanian. Keadaan demikian
tentunya sangat tidak menguntungkan dalam melaksanakan pembangunan
wilayah dan bagi peningkatan pertahanan keamanan negara. Persebaran
penduduk antara kota dan desa juga mengalami ketidakseimbangan.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota di Indonesia terus mengalami
peningkatan dari waktu ke waktu.
Oleh karena dampak yang dirasakan cukup besar maka perlu ada
upaya untuk meratakan penyebaran penduduk di tiap-tiap daerah. Upayaupaya tersebut adalah:
a. Pemerataan pembangunan

b. Penciptaan

lapangan

kerja

di

daerah-daerah

yang

jarang

penduduknya dan daerah pedesaan


c. Pemberian penyuluhan terhadap masyarakat tentang pengelolaan
d.
e.
f.
g.
h.

lingkungan alamnya
Meratakan persebaran penduduk di Indonesia
Peningkatan taraf hidup transmigran
Pengolahan sumber daya alam
Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia
Menyediakan lapangan kerja bagi transmigran

4. Kualitas Penduduk Rendah


Kualias penduduk tercermin dari tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan
tingkat kesehatan.
a. Masih rendahnya pendapatan perkapita penduduk Indonesia, terutama
disebabkan oleh:
1. Pendapatan/penghasilan negara masih rendah, walaupun Indonesia
kaya sumber daya alam tetapi belum mampu diolah semua untuk
peningkatan kesejahteraan penduduk.
2. Jumlah penduduk yang besar dan pertambahan yang cukup tinggi
setiap tahunnya.
3. Tingkat teknologi penduduk masih rendah sehingga belum mampu
mengolah semua sumber daya alam yang tersedia.
Oleh karena itu upaya menaikan pendapatan perkapita, pemerintah
melakukan usaha:
1. Meningkatkan pengolahan dan pengelolaan sumber daya alam
yang ada.
2. Meningkatkan

kemampuan

bidang

teknologi

agar

mampu

mengolah sendiri sumber daya alam yang dimiliki bangsa


Indonesia.
3. Memperkecil

pertambahan

penduduk

diantaranya

penggalakan program KB dan peningkatan pendidikan.

dengan

4. Memperbanyak

hasil

produksi

baik

produksi

pertanian,

pertambangan, perindustrian, perdagangan maupun fasilitas jasa


(pelayanan).
5. Memperluas lapangan kerja agar jumlah pengangguran tiap tahun
selalu berkurang.
b. Tingkat Pendidikan Rendah
Walaupun bangsa Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan
tingkat pendidikan namun karena banyaknya hambatan yang dialami maka
hingga saat ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong
rendah.Beberapa faktor penyebab rendahnya tingkat pendidikan penduduk
Indonesia adalah:
1. Pendapatan

perkapita

penduduk

rendah,

sehingga

orang

tua/penduduk tidak mampu sekolah atau berhenti sekolah sebelum


tamat.
2. Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan
yang ada seperti jumlah kelas, guru dan buku-buku pelajaran. Ini
berakibat tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di
sekolah.
3. Masih rendahnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya
pendidikan, sehingga banyak orang tua yang tidak menyekolahkan
anaknya.
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia
yaitu:
1. Menambah jumlah sekolah dari tingkat SD sampai dengan
perguruan tinggi.
2. Menambah jumlah guru (tenaga kependidikan) di semua jenjang
pendidikan.
3. Pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang
telah dimulai tahun ajaran 1994/1995.

4. Pemberian bea siswa kepada pelajar dari keluarga tidak mampu


tetapi berprestasi di sekolahnya.
5. Membangun perpustakaan dan laboratorium di sekolah-sekolah.
6. Menambah sarana pendidikan seperti alat ketrampilan dan olah
raga.
7. Meningkatkan pengetahuan para pendidik (guru/dosen) dengan
penataran dan pelatihan.
8. Penyempurnaan kurikulum sekolah dalam rangka peningkatan
mutu pendidikan.
9. Menggalakkan

partisipasi

pihak

swasta

untuk

mendirikan

lembaga-lembaga pendidikan dan ketrampilan.


c. Tingkat Kesehatan Rendah
Faktor-faktor yang dapat menggambarkan masih rendahnya tingkat
kesehatan di Indonesia adalah:
1. Banyaknya lingkungan yang kurang sehat.
2. Penyakit menular sering berjangkit.
3. Gejala kekurangan gizi sering dialami penduduk.
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan
penduduk Indonesia yaitu:
1. Melaksanakan program perbaikan gizi.
2. Perbaikan lingkungan hidup dengan cara mengubah perilaku sehat
penduduk, serta melengkapi sarana dan prasarana kesehatan.
3. Penambahan jumlah tenaga medis seperti dokter, bidan, dan
perawat.
4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
5. Pembangunan Puskesmas dan rumah sakit.
6. Pemberian penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
7. Penyediaan air bersih.

8. Pembentukan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), kegiatan


posyandu meliputi:
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Penimbangan bayi secara berkala


Imunisasi bayi/balita
Pemberian makanan tambahan
Penggunaan garam oralit
Keluarga berencana
Peningkatan pendapatan wanita

5. Komposisi penduduk sebagian besar berusia muda


Golongan usia muda adalah penduduk yang berusia 0-14. Kebutuhan
penduduk usia muda yang harus disediakan oleh pemerintah yaitu sarana
pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan sarana pendidikan dan kesehatan yang
disediakan pemerintah sering tidak seimbang dengan jumlah penduduk. Oleh
karena itu pemerintah terus menggalakkan partisipasi pihak swasta agar
bersedia membangun sekolah maupun rumah sakit.
F. Dampak Pertumbuhan Penduduk Terhadap Lingkungan Hidup
Penduduk adalah orang-orang yang tinggal disuatu daerah/ wilayah
tertentu yang terikat oleh peraturan yang berlaku dan saling berinteraksi secara
terus menerus. Di Indonesia, penduduk adalah semua orang yang berdomisili
diwilayah geografis Indonesia selama enam bulan atau lebih atau mereka yang
berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan untuk menetap.
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk disuatu
wilayah tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Petumbuhan penduduk
diakibatkan oleh tiga komponen yaitu: fertilitas, mortalitas dan migrasi.
Fertilitas atau kelahiran dalam pengertian demografi adalah kemampuan
riil seorang wanita untuk melahirkan yang dicerminkan dalam jumlah bayi yang
dilahirkan. Kelahiran menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk. Mortalitas
atau kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen.

Migrasi adalah perpindahan penduduk yang relatif permanen dari suatu daerah ke
daerah lain.
Peningkatan kepadatan populasi manusia berakibat pula pada peningkatan
kebutuhan hidup yang mau tidak mau terjadi eksploitasi pada sumber daya alam.
Semakin bertambahn ya jumlah penduduk, semakin banyak pula kebutuhan yang
harus dipenuhi dan semakin banyak pula sumber daya alam yang dibutuhkan.
Permasalahan yang timbul akibat pertumbuhan penduduk, antara lain:
1. Air bersih
Meskipun 2/3 dari permukaan bumi berupa air, namun tidak
semua jenis air dapat digunakan secara langsung. Oleh sebab itu
persediaan air bersih yang terbatas dapat menimbulkan masalah yang
cukup serius.
2. Berkurangnya ketersediaan pangan
Bertambahnya populasi memerlukan jumlah pangan yang
cukup banyak. Ketidakseimbangan antara pangan dan manusia
menimbulkan masalah kurang gizi atau kurangnya bahan pangan.
Maka dari itu petani harus bekerja ekstra untuk
memenuhi

kebutuhan

pangan

yang

semakin

hari

semakin banyak.
Peningkatan jumlah penduduk juga menyebabkan kebutuhan
pemukiman dan sarana-sarana umum terus bertambah sehingga
banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan, misalnya untuk tempat
tinggal, pembangunan pabrik dan rumah sakit. Akibatnya, produksi
pertanian akan menurun sehingga bahan pangan harus di impor
terlebih dahulu yang membuat harganya semakin melonjak tinggi.
3. Berkurangnya ketersediaan lahan
Jumlah penduduk yang bertambah memerlukan lahan luas
sebagai sarana tempat tinggal, melakukan kegiatan industri, pertanian,
dan lain-lain. Semakin besar perbandingan populasi manusia dengan
jumlah lahan menyebabkan lahan makin sulit untuk didapatkan.

Akibatnya, banyak pohon dihutan yang harus ditebang untuk


mendapatkan lahan yang diinginkan. Meskipun hal ini dapat dianggap
sebagai solusi, sesungguhnya kegiatan itu merusak lingkungan hidup
yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Jadi peluang
terjadinya kerusakan lingkungan akan meningkat seiring dengan
bertambahnya kepadatan penduduk.
4. Berkurangnya ketersediaan udara bersih
Semakin tinggi kepadatan penduduk, maka kebutuhan oksigen
semakin banyak. Polusi dari sisa pembakaran kendaraan menyebabkan
pencemaran udara, contohnya gas karbon monoksida dan karbon
dioksida yang jumlahnya melebihi normal. Oleh karena itu, diperlukan
pelestarian tumbuhan hijau melalui penghijauan dan reboisasi untuk
membersihkan udara.

Anda mungkin juga menyukai