Anda di halaman 1dari 82

BAB III

DASAR TEORI LOGGING

3.1. Dasar dari Analisa Well Logging


Metode logging pada dasarnya suatu operasi yang dilakukan untuk mendapatkan
sifat-sifat fisik batuan reservoir sebagai fungsi kedalaman lubang bor yang dinyatakan
dalam bentuk grafik. Operasi ini menggunakan suatu instrument khusus (sonde) yang
diturunkan ke dalam lubang bor menggunakan kabel (wireline) pada saat lubang bor
terisi fluida pemboran.
Tujuan utama kegiatan well logging antara lain :
1. Menentukan formasi yang mengandung hidrokarbon (reservoir).
2. Menentukan ketebalan lapisan produktif.
3. Menentukan jenis lithologi formasi (sandstone, limestone, shale).
4. Menentukan geometri dan kontinuitas reservoir (A) melalui korelasi batuan antar
sumur.
5. Menentukan jumlah minyak mula-mula ditempat (OOIP) dan produktivitas sumur.
6. Menentukan sifat fisik batuan reservoir ( dan Sw).
Dimana profil zona invasi yang ideal dapat dilihat pada Gambar 3.1. Oleh
karena itu, log dari sumur pemboran mempunyai peranan yang sangat penting untuk
pencarian hidrokarbon dan sekaligus untuk mengetahui sejauh mana penyebarannya
dengan melakukan suatu interpretasi dari analisa log baik secara kualitatif maupun
secara kuantitatif. Dengan demikian nantinya diharapkan kesimpulan hasil interpretasi
tidak akan menyimpang jauh dari kondisi yang sebenarnya.

Gambar 3.1.
Profil Zona Invasi yang Ideal7)
Adapun persamaan (rumus) dasar yang perlu diketahui dalam pengukuran
logging yaitu dengan menggunakan persamaan Archie. Persamaan Archie memegang
peranan penting, hal tersebut dapat dilihat dengan adanya resistivitas air (Rw) yang
didapat dari Lithologi Tools, resistivitas batuan yang dijenuhi air kurang dari 100 % (Rt)
dari Resistivity Tools dan porositas () dari Porosity Tools . Penggabungan dari harga
masing-masing logging menghasilkan persamaan Archie dengan tujuan mendapatkan
harga saturasi air.

Resistivitas Batuan yang Dijenuhi Air 100 %


Ro, resistivitas batuan yang dijenuhi air 100 % dan nilainya lebih besar dari Rw.
Ro = F . Rw(3-1)
Dimana :
Ro

= Resistivitas batuan yang dijenuhi Air 100% (ohm-m).

Rw

= Resistivitas air (ohm-m).

= Faktor formasi.

Faktor Formasi
Faktor formasi adalah perbandingan resistivitas batuan yang dijenuhi air 100 % (Ro)
dengan resistivitas air (Rw).
F

.(3-2)

Dimana :
F

= Faktor formasi.

= Konstanta batuan yang dipengaruhi oleh tortuosity.


pada sandstone = 0.81 dan limestone = 1

= Porositas batuan (%).

= Faktor sementasi.

Gambar 3.2. merupakan grafik antara faktor formasi (F) dan porositas ()
dengan menganggap a = 1. Grafik ini membentuk garis lurus (straight line) sehingga
didapatkan harga faktor sementasi (m) dengan menghitung sudut yang timbul karena
perpotongan garis antara F vs .

Gambar 3.2.
Grafik Faktor Formasi vs Porositas2)
Tabel III-1
Nilai Faktor Sementasi (m)
Jenis Batuan

Highly cemented (limestone, dolomite,

2.0 2.2

quartzite)
Moderately cemented (consolidated sand)

1.8 2.0

Slightly cemented (friable, crumbly sands)

1.4 1.7

Unconsolidated sands
Resistivitas Batuan yang Dijenuhi Air Kurang Dari 100 %

1.3

Rt, atau resistivitas sebenarnya. Nilai Rt lebih tinggi dari Ro.


Rt = I . Ro(3-3)
Dimana :
Rt

= Resistivitas batuan yang dijenuhi air kurang dari 100% (ohm-m).

Ro

= Resistivitas batuan yang dijenuhi air 100% (ohm-m).

= Resistivitas Indeks.

Resistivity Index (I)


Resistivity Index (I) adalah perbandingan resistivitas batuan yang dijenuhi air kurang
dari 100% (Rt) dengan resistivitas batuan yang dijenuhi air 100% (Ro).
I

..(3-4)

Dimana :
I

= Resistivitas Indeks.

Sw

= Saturasi air.

= Eksponent saturasi.

Saturasi Air (Sw)


Setelah Ro dan Rt diketahui, Archie kemudian membuat rumus dasar logging dengan
menghubungkan keempat eksponent tersebut (Ro, Rt, F, I) untuk mendapatkan harga
dari Saturasi air (Sw), yaitu :
Sehingga Rumus Dasar Archie untuk Logging :
Swn

Sw

Sw

Sw

(3-5)

Parameter m, n, dan a diperoleh dari uji laboratorium terhadap batuan reservoir, dimana
harga m berkisar antara 1.3 2.2 dapat dilihat pada Gambar 3.2. Harga n berkisar
antara 2.31 2.40 dan nilai a untuk sandstone = 0.81 dan limestone = 1. Setelah
dilakukan uji di laboratorium maka harga dari m = n = 2 dan a = 1, oleh karena itu
Rumus Dasar Archie pada persamaan (3-5) berubah menjadi :
Sw

= a

/ ...(3-6)

Berdasarkan Rumus Dasar Archie pada persamaan (3-5), untuk menentukan resistivitas
air (Rw), resistivitas batuan yang dijenuhi air kurang dari 100% (Rt), dan porositas ()
dilakukan pengukuran dengan alat logging antara lain :
Resistivitas air (Rw) didapat dari Lithologi Tools yaitu SP Log.
Resistivitas batuan yang dijenuhi air kurang dari 100% (Rt) didapat dari Resistivity
Tool seperti Induction Log, Laterolog.
Porositas () didapat dari Porosity Tool seperti Density Log, Neutron Log, Sonic
Log.
Karena berbagai log yang ada sehingga jenis-jenis log tersebut akan dibahas pada
subbab berikut ini.
3.2. Lithologi Tools
Langkah awal dalam interpretasi logging adalah mengidentifikasi lapisan yang
porous dan permeabel.
Jenis log yang digunakan untuk identifikasi lapisan permeabel adalah :
Log Spontaneous Potential (SP Log)
Log Gamma Ray (GR Log)
3.2.1. Spontaneous Potential (SP Log)
Prinsip Pengukuran :

Elektroda M diturunkan ke dalam lubang bor sedangkan elektroda N di tanam


pada lubang dangkal (di permukaan) yang diisi oleh lumpur bor. Setelah sampai di dasar
lubang bor, maka elektroda M ditarik perlahan-lahan sambil melakukan pencatatan
perubahan tegangan sebagai fungsi kedalaman (potensial antara elektroda M dalam
lubang bor dengan elektroda N di permukaan).
Skema rangkaian dasar SP Log dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3.
Skema Rangkaian Dasar SP Log7)
Bentuk defleksi positif atau negatif terjadi karena adanya perbedaan salinitas
antara kandungan dalam lapisan dan salinitas lumpur. Bentuk ini terjadi disebabkan
hubungan antara arus listrik dengan gaya-gaya elektromotif (elektrokimia dan
elektrokinetik).
Jika pengaruh SP Log melalui lapisan cukup tebal dan kondisinya bersih dari
clay, maka defleksi kurva akan mencapai maksimum.

Defleksi SP yang demikian disebut statik SP atau SSP, yang dituliskan dalam persamaan
sebagai berikut :
SSP

= K log

(3-7)

Dimana :
SSP

= Statik Spontaneous Potensial (mv).

= Konstanta penyeimbang suhu sebenarnya (61 + 0,13T) .

Rmfe

= Resistivitas filtrat lumpur elektrokimia (ohm-m).

Rwe

= Resistivitas air elektrokimia (ohm-m).

Defleksi kurva SP selalu dibaca dari shale base line, dimana garis ini dapat
ditentukan dengan menarik garis terluar dari sebelah kanan kurva SP log. Satuan
pengukuran SP log adalah mv (millivolts). Harga skala normal per bagian antara 10-20
mv, sedangkan untuk lumpur yang terlalu saline (kadar garam NaCl tinggi) skala yang
sering digunakan per bagian antara 4-5 mv.
SP Log dalam menentukan harga resistivitas air (Rw) tidak dapat berdiri sendiri
karena SP log hanya mampu mendeteksi lapisan permeabel berdasarkan defleksi kurva
ke arah negatif yang mendekati garis sand line tanpa dapat menjelaskan secara rinci isi
kandungan lapisan antara air asin atau hidrokarbon sebenarnya. Oleh karena itu,
diperlukan kombinasi dengan resistivity log sehingga dapat diketahui harga resistivitas
air (Rw) yang sebenarnya.
Defleksi kurva SP Log yang tergambar pada slip log memberikan bentuk-bentuk sebagai
berikut:
- Untuk lapisan shale, kurva SP log akan berbentuk garis lurus dan biasa disebut Shale
Based Line
- Untuk lapisan yang permeabel dengan kandungan air asin, kurva SP Log akan
berkembang negatif (ke kiri) dari shale based line.
- Untuk lapisan permeabel dengan kandungan hidrokarbon, maka kurva SP Log akan
berkembang negatif.

- Untuk lapisan permeabel dengan kandungan air tawar, kurva SP log akan
berkembang positif (ke kanan) dari shale based line.
Contoh defleksi kurva SP Log dengan Resistivity Log dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Gambar 4.7.
Variasi Defleksi Kurva SP Log28)

Gambar 3.4.
Contoh Defleksi Kurva SP Log Dengan Resistivity Log19)
Fungsi Spontaneous Potential Log :
Mengidentifikasi lapisan porous permeabel (sandstone, limestone, dolomite).
Menentukan harga Rw.

Mencari batas pada lapisan permeabel.


Evaluasi Vclay.
Membedakan lapisan yang bersih dari serpih (shale).
Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran SP Log dapat optimum yaitu :
Digunakan pada lumpur jenis water base mud.
Rmf Rw.
Pada clean sand formation.
Open hole.
Invasi lumpur dangkal.
3.2.2. Gamma Ray Log (GR Log)
Gamma Ray Log dapat menggantikan SP Log bila kondisi lubang bor tidak
cocok dengan untuk SP Log.
Prinsip Pengukuran :
Detektor yang ada pada Gamma Ray Log yang dijalankan di dalam lubang bor
merekam intensitas radioaktif (sinar gamma) yang dipancarkan batuan formasi,
kemudian ditransmisikan ke permukaan dengan kabel sebagai impuls listrik dan dicatat
sebagai fungsi dari kedalaman. Intensitas radioaktif alamiah batuan formasi yang di
tangkap oleh detektor sebagai sinar gamma disebabkan oleh disintegrasi unsur-unsur
radioaktif seperti Uranium, Thorium, dan Potassium. Besar kecilnya intensitas
radioaktif tergantung dari jenis batuannya.
Untuk mengetahui prosentase kandungan shale pada lapisan permeabel digunakan
persamaan :
Vclay

GRlog GRmin
GRmax GRmin

...(3-8)

Dimana :
Vclay

= Volume clay.

GRmax

= Dibaca pada slip log maksimum.

GRmin

= Dibaca pada slip log maksimum.

GR log

= Dibaca pada slip log di zona yang bersangkutan.

Bentuk kurva GR Log : alat pencatat defleksi kurva ke arah kanan bila
kandungan radioaktifnya bertambah. Jika dibandingkan dengan SP Log, maka GR Log
akan mempunyai defleksi yang sama. GR Log curve tidak selalu menunjukkan
kandungan radioaktif yang sebenarnya.
Skema rangkaian dasar GR Log dapat dilihat pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5.
Skema Rangkaian Dasar Gamma Ray Log13)
Fungsi Gamma Ray Log :
Menentukan lapisan porous dan permeabel.
Membedakan lapisan shale dan non shale.
Mengetahui besarnya kandungan clay (Vclay).
Mendeteksi mineral-mineral radioaktif.

Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran GR Log dapat optimum yaitu :
Dapat digunakan pada semua jenis lumpur.
Pada kondisi lubang bor cased atau open hole.
Cocok digunakan untuk membedakan lapisan shale karena pada lapisan shale banyak
mengandung unsur radioaktif.
Kedalaman penetrasi 6 - 12 inch.
Resolusi vertikal 3 ft.
Formasi yang keras.
Contoh bentuk defleksi kurva GR Log dapat dilihat pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6.
Contoh Bentuk Defleksi Kurva Gamma Ray Log7)
3.3. Resistivity Tools
Resistivity tool digunakan untuk mengukur tahanan batuan formasi beserta
isinya, yang mana tahanan ini tergantung pada porositas efektif, salinitas air formasi, dan
banyaknya hidrokarbon dalam pori-pori batuan. Resistivitas formasi adalah salah satu
parameter utama yang diperlukan untuk menentukan saturasi hidrokarbon suatu formasi.
Arus listrik dapat mengalir di dalam formasi batuan dikarenakan konduktivitas dari air
yang dikandungnya. Batuan kering dan hidrokarbon merupakan insulator yang baik
kecuali beberapa jenis mineral seperti graphite dan sulfide besi. Oleh sebab itu, formasi
di bawah tanah memilki resistivitas yang dapat diukur secara terbatas karena air yang
terkandung di dalam pori-pori atau yang terserap dalam molekul lempung.
Resistivitas dari formasi tergantung pada : resistivitas air formasi, jumlah air
formasi yang ada, struktur geometri pori-pori. Resistivitas (tahanan jenis) bahan adalah
tahanan yang terukur antara dua sisi permukaan sebuah bahan pada temperatur tertentu.
Ada dua metode dasar untuk pengukuran tahanan batuan formasi dalam lubang bor
yaitu :
Metode konduksi yang hanya dapat digunakan pada lubang sumur yang berisikan
hanya fluida yang konduktif saja.
Metode induksi dapat digunakan pada lubang sumur yang berisikan fluida yang
konduktif dan fluida non konduktif.
Jenis resistivity log yang digunakan dibagi 4 yaitu :
A. Conventional Resistivity Log (Normal Log, Lateral Log, Microlog, Proximity Log).
B. Focused Log (Laterolog 7, Laterolog 3, Laterolog 8,

Dual Laterolog,

Microlaterolog).
C. Induction Log (Dual Induction Log, Spherically Focused Log, Microspherically
Focused Log).

D. Microresistivity Log.
Tabel III-2 adalah suatu penggolongan alat resistivitas utama yang telah
digunakan atau yang digunakan sekarang. Kurva-kurva itu digolongkan dari radius
investigasinya antara lain dalam (lebih dari 3 ft), sedang (1.5 3 ft), dangkal (0.5 1.5
ft) dan zona yang terinvasi filtrat lumpur (1 6 in). Angka-angka itu memberikan kurva
yang mewakili 50% dari dinding lubang bor yang berarti 50% respon dari alat tersebut
berasal dari formasi di kedalaman yang ditandai dan 50% berasal dari luar kedalaman.
Perbandingannya 80% respon kedalaman kira-kira 2 kali 50% kedalaman. Tabel III-2
berlaku bagi daya hambat pada formasi yang seragam.
Semua kurva dalam, sedang, dan dangkal diperoleh dengan elektroda-elektroda
atau bantalan coil-coil di cyclindrical mandrels yang di run atau diletakkan di tengahtengah lubang bor. Pada daerah flushed zone digunakan Microresistivity yang diperoleh
dengan bantalan elektroda-elektroda yang dipasang pada salah satu sisi lubang bor.
Kombinasi pada Tabel III-2 dapat mewakili kurva yang diperoleh secara bersamasama.
Tabel III-2
Pengelompokkan Log Resisivitas7)

3.3.1. Microspherically Focused Log (MSFL)


Serupa dengan Microlog, pengukuran Microspherically Focused Log di buat
dengan sebuah bantalan elektroda khusus yang di tekan ke dinding lubang bor dengan
bantuan sebuah caliper.
Prinsip Pengukuran :
Pada bantalan tersebut di pasang suatu rangkaian bingkai-bingkai logam yang
konsentrik disebut elektroda yang mempunyai fungsi memancarkan, memfokuskan, dan
menerima kembali arus listrik yang hampir sama seperti cara kerja elektroda Laterolog.
Karena bantalannya kecil dan susunan elektrodanya berdekatan, maka hanya beberapa
inchi dari formasi dekat lubang bor yang diselidiki, sekitar 1-3 inchi. Sehingga kita akan
mempunyai suatu pengukuran dari resistivitas di daerah rembesan (flushed zone).
Karena kedalaman investigasi Microspherically Focused Log yang kecil, maka pengaruh
dari mud cake tidak bisa diabaikan, sehingga koreksi terhadap pengaruh mud cake
diperlukan untuk memperoleh Rxo yang benar. Microspherically Focused Log adalah
alat yang memancarkan arus listrik ke dalam formasi.
Hampir sama dengan kedua alat ukur Rxo (Microlog dan Proximity Log). Tetapi
pada Microspherically Focused Log arus Ia yang dikirim dari A0 akan diterima oleh A1
sedangkan Io difokuskan kepada daerah yang dideteksi. Tidak sebagaimana yang terjadi
pada Microlog dan Proximity Log, dimana semua arus difokuskan jauh menembus ke
dalam formasi yang dideteksi.
Fungsi MSFL :
Mengukur Rxo pada tebal mud cake sampai 3/4.
Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran MSFL dapat optimum yaitu :

Cocok digunakan pada daerah flushed zone (1 6 in).


Lumpur yang digunakan yaitu salt water mud.
Rmf < 2Rw atau Rt > 200 ohm-m.
Pada kondisi open hole.
Porositas batuan > 15%.
Kedalaman invasi lumpur > 4.
Ketebalan mud cake < 3/4.
Range tahanan batuan formasi 0,5 100 ohm-meter.
Distribusi arus dan susunan elektroda MSFL dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7.
Distribusi Arus dan Susunan Elektroda MSFL7)
Microspherically Focused Log ini mempunyai dua keuntungan dibanding
dengan peralatan Rxo yang lain. Pertama, dapat dikombinasikan dengan peralatan
logging lain, khususnya Compensated Formation Density dan bersama-sama Dual
Laterolog yang ada. Ini menghilangkan penggunaan logging secara terpisah untuk

memperoleh informasi Rxo. Kedua, memperbaiki hasil peralatan Rxo untuk zona invasi
dangkal.

3.3.2. Induction Log


Pengukuran tahanan listrik batuan formasi dengan Conventional Resistivity Log
memerlukan adanya lumpur bor yang bersifat konduktif agar dapat menghantarkan
listrik ke formasi. Akibatnya tidak satupun peralatan tersebut yang dapat digunakan
apabila lubang bor kosong, terisi minyak, gas, oil base mud, atau udara. Untuk
mengatasi hal-hal semacam ini, maka dikembangkan peralatan khusus yang dapat
digunakan tanpa terpengaruh oleh kondisi-kondisi tersebut diatas. Peralatan tesebut
adalah Induction Log.
Prinsip Pengukuran :
Arus bolak-balik dengan frekuensi tinggi ( 20.000 cps) yang mempunyai
intensitas konstan dikirimkan melalui kumparan pengirim (transmitter coil) sehingga
menghasilkan medan elektromagnetik yang mana akan menimbulkan arus induksi
dalam formasi. Arus induksi yang berputar ini akan menimbulkan pula medan magnet
kedua yang dapat dideteksi oleh receiver coil. Besarnya medan magnet kedua ini akan
sebanding dengan konduktivitas formasi.
Prinsip dasar dari Induction Log dapat dilihat pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8.
Prinsip Dasar Induction Log7)
Pengukuran dengan menggunakan Induction Log akan menghasilkan kurvakurva seperti : SP log, SN, dan Induction Log Resistivity (RIL). Kurva RIL digunakan
untuk mengetahui harga resistivitas pada uninvaded zone (Rt) dan untuk kurva SN
mempunyai defleksi yang relatif tinggi karena rendahnya salinitas air filtrat lumpur
sehingga defleksi kurva RIL mencerminkan tinggi/rendahnya dalam uninvaded zone,
yang mana untuk selanjutnya mencerminkan jenis kandungannya.
Jika kurva RIL jauh lebih besar dari defleksi SN berarti salinitasnya lebih rendah
dari air filtrat, berarti batuan mengandung gas. Apabila defleksi RIL lebih besar sedikit
atau lebih kecil sedikit dari defleksi SN berarti batuan mengandung minyak. Jika kurva
RIL jauh lebih rendah dari defleksi SN serta mendekati harga resistivity shale, berarti
batuan mengandung air.
Fungsi Induction Log :
Menentukan harga Rt.
Untuk korelasi batuan tanpa memandang jenis lumpur yang digunakan.
Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran Induction Log dapat optimum yaitu:
Cocok digunakan pada daerah deep (+ 3 ft).
Lumpur yang digunakan yaitu fresh water mud.
Dapat bekerja saat Rmf > 2 Rw atau Rt < 200 ohm-m.
Resistivitas formasi rendah.
Porositas batuan antara medium-high ( > 15%).
Pada kondisi open hole.

Invasi lumpur > 40.


Keunggulan dari Induction Log adalah pengaruh diameter lubang bor, lapisan
batuan disekitarnya dan pengaruh invasi air filtrat dapat diperkecil. Bila Induction Log
dikombinasikan dengan SP Log dan Short Normal 16 akan membentuk suatu
kombinasi yang lazim disebut IES (Induction Electrical Survey). Didalam kombinasi ini
Short Normal 16 merupakan log pelengkap Induction Log dalam penentuan Rt, selain
itu juga dapat digunakan untuk mengoreksi dan mengontrol Induction Log.
3.4. Porosity Tools
Suatu log yang digunakan untuk mengukur porositas batuan formasi. Terdapat
tiga jenis pengukuran porositas yang umum digunakan dilapangan saat ini yaitu :
Densitas, Neutron, dan Sonic. Penting untuk diketahui bahwa porositas-porositas ini
bisa tidak sama antara satu dengan yang lain atau tidak bisa mewakili porositas benar
(t). Hal tersebut disebabkan karena alat-alat tersebut tidak membaca porositas secara
langsung. Porositas di dapat dari sejumlah interaksi fisika di dalam lubang bor. Hasil
interaksi di deteksi dan di kirim ke permukaan barulah porositas dijabarkan.
3.4.1. Neutron Log
Neutron Log pada dasarnya direncanakan untuk menentukan porositas total
batuan tanpa memandang apakah pori-porinya diisi oleh hidrokarbon atau air formasi.
Prinsip Pengukuran :
Prinsip kerja dari alat ini adalah dengan menembakkan partikel neutron berenergi
tinggi ke dalam formasi secara terus menerus dan konstan dari suatu sumber radioaktif.
Neutron merupakan partikel listrik yang netral dengan massa yang hampir sama dengan
massa atom hidrogen. Partikel neutron yang menembus formasi akan bertumbukan
dengan material-material di dalam formasi (mineral-mineral) dengan tipe tumbukan
billard ball collision. Akibat tumbukan ini neutron akan kehilangan sedikit energi,
yang besarnya tergantung dari perbedaan massa neutron dengan massa material formasi
tersebut. Kehilangan energi yang terbesar yaitu pada saat neutron bertumbukan dengan
material yang memiliki massa hampir sama atau sama, misalnya atom hidrogen.

Hasilnya neutron akan mengalami penurunan hingga level tertentu dan terserap oleh inti
batuan di dalam formasi. Dengan demikian besar hilangnya energi neutron hampir
semuanya tergantung dari banyak/sedikitnya jumlah hidrogen dalam formasi.
Sampai kehilangan energi pada jumlah tertentu, maka neutron akan menyebar
secara tidak teratur di dalam formasi tanpa mengalami kehilangan energi lagi, dan
akhirnya dapat ditangkap oleh inti-inti batuan formasi seperti atom hidrogen, chlorine,
silikon, dan sebagainya. Penangkapan neutron (Gamma Ray Capture) ini akan dapat
dicatat oleh detektor, yang terletak 10-18 inch dari sumber radioaktif. Apabila
konsentrasi atom hidrogen (jumlah) di dalam formasi cukup besar maka hampir semua
partikel neutron mengalami penurunan energi dan dapat ditangkap tidak jauh dari
sumber radioaktifnya, akibatnya hanya sedikit radiasi sinar gamma yang dapat di catat
oleh detektor. Sebaliknya bila konsentrasi atom hidrogen kecil maka partikel-partikel
neutron akan memancar lebih jauh menembus formasi sebelum di tangkap, sehingga
kecepatan menghitung pada detektor akan meningkat sesuai dengan konsentrasi atom
hidrogen yang semakin menurun. Hal inilah yang dijadikan dasar hubungan antara
jumlah sinar gamma yang dicatat oleh detektor per detiknya dengan porositasnya. Bila
jumlah sinar gamma yang dicatat tinggi

berarti porositas batuan tersebut rendah,

sedangkan apabila yang dicatat hanya sedikit maka porositas batuan tersebut cukup
tinggi.
Secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :
Penurunan/hilang energi neutron yang terbesar bila bertumbukan dengan atom-atom
hidrogen.
Besar kecilnya konsentrasi hidrogen dalam batuan berpengaruh terhadap kecepatan
menghitung pada detektor.
Dengan kata lain data-data kecepatan menghitung pada detektor mencerminkan
banyak sedikitnya hidrogen dalam batuan/formasi. Dalam hal ini atom-atom
hidrogen dijumpai sebagai senyawa H2O. Jadi semakin besar konsentrasi atom
hidrogen berarti makin besar jumlah air yang ada.
Apabila jumlah air yang ada dalam batuan besar berarti memerlukan tempat yang
luas pula, ini berarti pori-pori batuan harus besar.

Pengaruh adanya shale dalam batuan dapat dituliskan oleh persamaan :


N ( Vclay x Nclay ) ......(3-9)

Dimana :
N

= Pembacaan Neutron Log (%).

= Porositas Neutron Log yang sebenarnya (%).

Vclay

= Kandungan clay dalam batuan (%).

N clay = Pembacaan Neutron Log pada formasi shale 100 % (%).


Skema rangkaian dasar Neutron Log dapat dilihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9.
Skema Rangkaian Dasar Neutron Log7)
Fungsi Neutron Log :
Untuk menentukan porositas batuan tanpa memandang pori-pori tersebut berisi
hidrokarbon atau air.

Untuk lapisan hidrokarbon yang terjadi separasi positif dengan Density Log.
Lapisan air tawar atau air asin : terjadi separasi, sehingga untuk membedakan
separasi positif antara lapisan air dengan lapisan hidrokarbon, jalan yang terbaik
dengan melihat kurva Resistivity dan kurva SP.
Untuk korelasi batuan.

Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran Neutron Log dapat optimum yaitu :
Pada batuan yang mempunyai porositas rendah (0% - 20%).
Dapat digunakan pada kondisi cased hole maupun open hole .
Dapat digunakan untuk semua jenis lumpur.
Pada kondisi gas filled hole.
Formasi batuan non-shaly.
Diameter lubang bor antara 6 10.
3.4.2. Density Log
Density Log adalah log porositas yang mengukur elektron density dari formasi.
Instrumen pengukuran densitas secara umum terdiri atas sumber energi gamma ray
berupa Cobalt 60 atau Cesium 137 dan dua detektor. Sumber dan detektor terletak pada
bantalan yang diperkuat dengan dinding lubang. Detector spasi panjang untuk membaca
formasi, Detector spasi pendek untuk mengukur material yang terjadi antara bantalan
dan formasi.
Pada kurva Density Log dinyatakan dalam satuan gr/cc karena energi yang
diterima detektor dipengaruhi oleh matrik batuan ditambah kandungan yang ada dalam
pori-pori batuan. Maka densitas batuan dengan satuan gr/cc adalah :
1.

Batuan sangat kompak


Batuan sangat kompak porositasnya mendekati harga nol, sehingga per satuan
volume (cc) seluruhnya/hampir seluruhnya terdiri dari matriks batuan. Dengan

demikian batuan mempunyai densitas paling besar, dimana = 0, dan ini disebut
densitas matriks (ma). Setiap jenis batuan mempunyai harga ma yang berbeda.
2.

Batuan permeabel dengan kandungan air asin


Air asin mempunyai densitas lebih rendah dibanding batuan yang seluruhnya terdiri
dari matriks.

3.

Batuan permeabel dengan kandungan minyak


Batuan yang mengandung minyak, densitasnya lebih rendah daripada berisi air asin,
sebab densitas air asin lebih besar daripada minyak.

4.

Batuan permeabel yang mengandung gas


Batuan yang mengandung gas, densitasnya lebih rendah dibandingkan dengan
batuan yang mengandung minyak.

5.

Batubara (coal)
Batubara mempunyai densitas paling rendah diantara semua jenis batuan.

Prinsip Pengukuran :
Prinsip kerja Density Log yaitu suatu sumber radioaktif dari alat pengukur
dipancarkan sinar gamma dengan intensitas energi tertentu menembus batuan. Batuan
terbentuk dari butiran mineral, mineral tersusun dari atom atom yang terdiri dari proton
dan elektron. Partikel sinar gamma membentur elektron- elektron dalam batuan. Akibat
benturan ini sinar gamma akan mengalami pengurangan energi. Energi yang kembali
sesudah mengalami benturan akan diterima oleh detektor yang berjarak tertentu dari
sumbernya, semakin lemah energi yang kembali maka semakin banyak elektron dalam
batuan yang berarti makin padat butir penyusunan volumenya.
Skema rangkaian dasar Density Log dapat dilihat pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10.
Skema Rangkaian Dasar Density Log7)
Hubungan antara porositas batuan dengan densitas batuan yang diukur oleh Density Log
adalah :
D

ma b

= ma f ....................(3-10)

Dimana :
D

Porositas pada Density Log (fraksi)

= Densitas bulk (gr/cc).

ma

= Densitas matrik (gr/cc).


= 2.65 untuk sand, sandstones, and quartzites
= 2.68 untuk limey sand or sandy limes
= 2.71 untuk limestones
= 2.87 untuk dolomites

= 1.0 untuk fresh mud


= 1.0 + 0.73 N untuk salt mud , dimana N adalah konsentrat sodium
dalam ppm x 10-6.

= Densitas fluida (gr/cc).

Fungsi Density Log :


Menentukan nilai b.
Menentukan porositas batuan.
Mendeteksi gas bearing zone.

klorida

Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran Density Log dapat optimum yaitu :
Densitas batuan formasi rendah.
Unconsolidated sand formation.
Porositas antara 20% - 40%.

Selain dengan menggunakan persamaan (3-10) porositas dapat juga dicari dengan
menggunakan grafik yang ditunjukkan oleh Gambar 3.11.

Gambar 3.11.
Grafik Penentuan Nilai Porositas7)

Contoh kurva defleksi Density Log dapat dilihat pada Gambar 3.12.

Gambar 3.12.
Contoh Defleksi Kurva Density Log18)
3.4.3. Sonic Log
Satu-satunya alat logging yang termasuk dalam golongan log suara adalah Sonic
Log. Log ini merupakan jenis log pengukur porositas, selain Density Log dan Neutron
Log.
Prinsip Pengukuran :
Pada dasarnya Sonic Log adalah merekam kecepatan rambat suara pada batuan
formasi. Kecepatan rambat suara biasanya dikenal sebagai interval transite time (t).
Interval waktu transit didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan oleh gelombang
suara untuk menempuh jarak satu feet suatu bahan (sec/ft). Sistem peralatan Sonic Log
menggunakan sebuah transmitter gelombang suara dan dua buah receiver sebagai alat
penerima. Suara dikirim dari transmitter masuk ke dalam formasi, kemudian pencatatan
dilakukan pada saat pantulan suara yang pertama kali sampai ke receiver. Transmittertransmitter mengirimkan suara secara bergantian dan harga t di catat pada pasanganpasangan receiver yang menerima pantulan suara secara bergantian pula. Harga t ratarata dari receiver-receiver ini dihitung secara otomatis pula memproses transite time
menjadi total travel time.
Kadang-kadang gelombang suara yang dikirim oleh transmitter diterima kembali
oleh receiver terdekat cukup kuat, tetapi diterima oleh receiver yang lebih jauh terlalu
lemah. Hal ini terjadi kemungkinan terhalang sesuatu, sehingga menyebabkan harga t
terlalu besar. Hal ini bisa terjadi karena alat melalui formasi yang unconsolidated (pasir
lepas), rekahan-rekahan pada batuan, adanya gas dalam batuan, lumpur yang banyak

mengandung gelembung-gelembung udara ataupun dinding lubang bor sangat tidak rata
pada lapisan garam.
Batuan dengan porositas nol, berarti batuan per satuan isi terdiri seluruhnya dari
matrik disebut tma. Dengan demikian, besar/kecilnya t yang melalui suatu formasi
tergantung dari jenis batuan dan besarnya porositas batuan serta isi kandungan dalam
batuan.

Skema rangkaian dasar Sonic Log dapat dilihat pada Gambar 3.13.

Gambar 3.13.
Skema Rangkaian Dasar Sonic Log7)

Perambatan suara di dalam formasi tergantung dari matrik batuan, porositas batuan, dan
fluida dalam pori-pori tersebut. Gelombang suara yang merambat dalam formasi akan
dipantulkan kemudian ditangkap oleh receiver.
Berdasarkan persamaan Willey :
t log tma

s = tf tma ..(3-11)
Dimana :
s

= Porositas Sonic Log (fraksi)

tlog

= Transite time kurva Sonic Log ( s/ft).

tma

= Transite time matrik batuan (lihat Tabel III-3) ( s/ft).

tf

= Transite time fluida atau filtrat lumpur (189 s/ft).

Transite time untuk beberapa jenis batuan dapat dilihat pada Tabel III-3.
Tabel III-3
Transite Time (tma) Untuk Beberapa Jenis Batuan
Material
Vma (ft/sec)
tma ( sec/ft)
tma ( sec/ft)
biasa digunakan
Sandstone
18000 19500
55.5 51.0
55.5 51.0
Limestone
21000 23000
47.6 43.5
47.6
Dolomite
23000 26000
43.5 38.5
43.5
Anhydrite
20000
50.0
50.0
Salt
15000
66.7
67.0
Casing (Iron)
17500
57.0
57.0
Hadirnya gas menggantikan cairan akan memperbesar transit time, gas adalah
sangat compressible sehingga menurunkan ragidity dari batuan dan memperlambat
kecepatan suara, meskipun demikian Sonic Log tidak biasa dijadikan indikasi gas yang
reliable.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap t adalah:
a. Shale
Batuan shale mempunyai porositas besar, walaupun permeabilitasnya mendekati
harga nol. Sehingga batuan yang mengandung shale mempunyai harga t semakin
besar.
b. Kekompakan batuan

Kekompakan batuan akan memperkecil porositas, sehingga kurva t akan semakin


rendah.
c. Kandungan air
Adanya kandungan air dalam batuan menyebabkan kurva t cenderung mempunyai
harga yang semakin besar.
d. Kandungan minyak
Air (terutama air asin) mempunyai sifat penghantar suara yang lebih baik
dibandingkan dengan minyak, sehingga adanya minyak dalam batuan akan
berpengaruh memperkecil harga t.

e. Kandungan gas
Gas merupakan penghantar suara yang tidak baik, sehingga pantulan suara akan
lambat diterima oleh receiver. Dengan demikian, adanya gas akan memperkecil harga
kurva t.
Fungsi Sonic Log :
Menentukan nilai t log.
Menentukan porositas batuan.
Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran Sonic Log dapat optimum yaitu :
Kondisi lubang bor yang belum dicasing.
Dapat diturunkan pada semua jenis lumpur, tetapi tidak baik untuk kondisi gas filled
hole.
Porositas 15% - 25%.
Unconsolidated sand formation.
Pada sumur open hole.
3.5. Caliper Log

Caliper Log merupakan suatu kurva yang menunjukkan kondisi diameter lubang
bor. Pada hakekatnya Caliper Log adalah berguna untuk mengetahui adanya lapisan
permeabel.
Pada lapisan permeabel dimana dinding lubang bor terbentuk mud cake, maka
diameter lubang bor akan menjadi lebih kecil daripada ukuran pahatnya. Dalam Caliper
Log, hal ini akan terlihat dengan jelas dimana diameter lubang bor pada lapisan
permeabel akan lebih kecil daripada ukuran pahat yang digunakan. Sedangkan pada
lapisan shale/clay kondisi lubang bornya lebih besar daripada ukuran pahat, ini
menunjukan pada lapisan shale sering terjadi keruntuhan.

Prinsip Pengukuran :
Alat digerakkan di sepanjang sumur, maka pegasnya akan berkontraksi atau
mengembang secara fleksibel sesuai dengan besarnya lubang sumur yang dilewati.
Ujung paling bawah dari pegas tersebut dihubungkan dengan rod. Akibat gerakan ini
rod akan turut bergerak naik turun. Kedudukan dari rod akan menentukan derajat
induksi diantaranya coil yang diletakkan pada bagian atas dari alat dan juga tergantung
kompressi dari spring yang mana kompressi ini tergantung dari ukuran lubang bor. Arus
dan coil perekam membentuk coupling induktif sedemikian rupa sehingga potensial
yang diinduksi dalam coil perekam tergantung pada posisi rod. Hal ini akan
menghasilkan pencatatan voltage yang bervariasi dengan ukuran lubang, yang
selanjutnya di catat oleh suatu instrument di permukaan.
Penggunaan Caliper Log biasanya dikombinasikan dengan log lainnya seperti
Gamma Ray Log, Sonic Log, Density Log, dan Microresistivity Log serta Log-Log
lainnya.
Fungsi Caliper Log :
Mengetahui diameter lubang bor.
Menentukan letak setting packer yang tepat pada operasi DST.

Membantu interpretasi log dengan memberikan ukuran lubang bor yang tepat, karena
diameter lubang bor yang digunakan pada interpretasi log listrik biasanya
diasumsikan sama dengan ukuran bit.
Estimasi ketebalan mud cake didepan zona permeabel yang akan memberikan
dukungan pada analisa logging secara kualitatif.
Perhitungan kecepatan lumpur di annulus, dalam hubungannya dengan pengangkatan
cutting.
Korelasi lithologi batuan.
Kondisi Optimum :
Kriteria yang harus diperhatikan agar pengukuran Caliper Log dapat optimum yaitu :
Digunakan untuk sumur open hole.
Pada saat terjadi mud cake dan filtrat lumpur.
Skema rangkaian Caliper Log dapat dilihat pada Gambar 3.14.

Gambar 3.14.
Skema Rangkaian Caliper Log13)
3.6. Interpretasi Log
Tujuan dilakukan interpretasi logging adalah untuk mendapatkan data dari
lubang bor sebagai sarana pada penilaian formasi dan penentuan letak zona produktif.
Maka setelah operasi logging dilakukan, hasil yang diperoleh berupa kurva yang perlu
diinterpretasikan dan dianalisa sehingga didapatkan hasil yang seakurat mungkin.
Interpretasi logging dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif
adalah menganalisa kurva log yang dipilih dan menganalisa lapisan-lapisan yang
diindikasikan sebagai lapisan prospek. Sedangkan secara kuantitatif adalah menentukan
harga parameter batuan sebagai petunjuk dalam menentukan jenis kandungan lapisan
prospek. Parameter batuan yang digunakan untuk menentukan kandungan lapisan
adalah saturasi air (Sw), dimana dalam penentuannya diperlukan parameter lainnya
seperti porositas batuan, densitas matrik batuan, volume clay, dan sebagainya.
3.6.1. Interpretasi Kualitatif
Setelah selesai dilakukan logging maka dapat di lakukan interpretasi terhadap
data pengukuran secara kualitatif guna memperkirakan adanya kandungan fluida. Dalam
menganalisa interpretasi logging diperlukan pengamatan secara cepat pada lapisan
formasi yang diperkirakan sebagai lapisan produktif.
Adapun pengamatan ini berupa :
Identifikasi kedalaman lapisan porous permeabel.
Identifikasi batas dan ketebalan lapisan.
Identifikasi lithologi.
Penentuan GR clean dan GR clay.
Identifikasi minyak, air, dan gas.
3.6.2. Interpretasi Kuantitatif
Setelah dilakukan interpretasi secara kualitatif yang artinya telah diketahui
lapisan mana saja yang merupakan lapisan porous permeabel dan diketahui fluida yang

terkandung didalamnya adalah hidrokarbon maka langkah selanjutnya adalah melakukan


interpretasi kuantitatif. Pada interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan
parameter-parameter reservoir seperti porositas dan saturasi air dimana data tersebut
diolah dari rekaman hasil log menggunakan rumus pendukung dan chart. Data yang
telah diolah dapat digunakan untuk memperkirakan cadangan hidrokarbon ditempat
secara akurat.
A. Penentuan Volume Clay dan Porositas
Untuk mendapatkan harga SW diperlukan beberapa parameter dari kombinasi
Resistivity-Porosity Tool. Dengan melakukan pendekatan terhadap volume shale (V sh),
saturasi air, dan porositas koreksi dapat dihitung menurut metode yang dipilh.
Tidak ada alat logging tunggal yang mampu mengukur Vsh dengan cukup teliti,
maka biasanya harga ini ditaksir/diperkirakan dari beberapa indikator shale. Nilai Vsh
yang digunakan adalah dari salah satu indikator yang memberikan nilai terkecil. Ada dua
indikator yang biasanya digunakan, yaitu perbedaan Density-Neutron Log dan Gamma
Ray (GR) Log. Disamping dua indikator tersebut, masih ada satu indikator lain yaitu :
SP Log, tetapi indikator ini hasilnya kurang dapat dipercaya.
a. Vsh dari Perbedaan Density-Neutron Log
Harga fraksi shale ditentukan berdasarkan persamaan sebagai berikut :
.(3-12)
Dimana :
Vsh

= Volume shale dalam shaly-sand (fraksi).

= Porositas Neutron (fraksi).

= Porositas Density (fraksi).

Nsh

= Porositas Neutron pada lapisan shale (fraksi).

Dsh

= Porositas Density pada lapisan shale (fraksi).

Metode ini tidak dapat digunakan pada lapisan yang mengandung gas karena
akan mempengaruhi nilai N dan D serta mengakibatkan perhitungan nilai Vsh menjadi
terlalu tinggi.

b. Vsh dari Gamma Ray (GR) Log


Defleksi kurva GR akan bertambah pada formasi yang mengandung shale
sehingga indeks shale (Ish) yaitu indeks tingkat kandungan shaliness dari sand,
merupakan interpolasi garis lurus antara level clean-sand dan level shale.
Dirumuskan dengan :
(3-13)
Dimana :
Ish

= Indeks shale (nilainya antara 0 1,0).

GR

= Pembacaan GR pada interval prospek (APIu).

GRcl

= Pembacaan GR pada clean sand (APIu).

GRsh

= Pembacaan GR pada interval shale (APIu).

Fraksi volume shale (Vsh) akan sama dengan indeks shale (Ish) ketika densitas
formasi tidak menyimpang dari kandungan shale. Kondisi ini terjadi pada lapisan
laminar tipis tercampur dalam clean sand sehingga densitasnya sama.
B. Penentuan Permeabilitas
Suatu hubungan empiris yang umum antara permeabilitas dan porositas
dikemukakan oleh Wylie dan Rose, yaitu :
K

C x
y (3-14)
S wi

Kemudian Tixier dan Timur menjabarkan rumus Wylie dan Rose ini kedalam
sesuatu yang dapat diterapkan pada hasil rekaman log sumur, antara lain
1. Rumus Tixier :

(3-15)
2. Rumus Timur :

.(3-16)
C. Penentuan Saturasi
Didalam reservoir umumnya terdapat lebih dari satu macam fluida. Untuk
mengetahui jumlah masing-masing fluida perlu diketahui saturasi masing-masing fluida
tersebut. Umumnya pada zona yang mengandung minyak, kandungan air dalam formasi
disebut Interstial Water atau Connate Water.
Saturasi minyak (So) adalah :
So

volume pori pori yang diisi minyak


volume pori pori total

........................(3-

17)

Saturasi air (Sw) adalah :


Sw

volume pori pori yang diisi air


volume pori pori total

...............................(3-

18)
Saturasi gas (Sg) adalah :
Sg

volume pori pori yang diisi oleh gas


volume pori pori total

.................(3-19)

Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :


Sg + So + Sw = 1 ............(3-20)
Jika diisi oleh minyak dan air saja maka :
So + Sw = 1 ...........(3-21)
Sebagian fluida masih tertinggal di dalam reservoir ketika diproduksikan ke
permukaan, akibat adanya volume fluida yang terdapat dalam pori-pori batuan tidak

dapat bergerak lagi. Saturasi fluida (minyak) yang sudah tidak mampu lagi mengalir
kepermukaan disebut oil residual saturation (saturasi sisa minyak).
D. Penentuan Permeabilitas Relatif dan Fractional Flow atau Water Cut
Permeabilitas Relatif
Permeabilitas relatif, adalah perbandingan antara permeabilitas efektif dengan
permeabilitas absolut.
K ro

Ko
K
K
, Krg g , K rw w ...................................................................(3-22)
K
K
K

Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa kemungkinan
terdiri dari dua fasa atau tiga fasa. Untuk itu dikembangkan pula konsep mengenai
permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. Harga permeabilitas efektif dinyatakan
sebagai Ko, Kg, Kw, dimana masing-masing untuk minyak, gas, dan air. Keterkaitan
antara harga permeabilitas relatif minyak dan air terhadap harga saturasinya
digambarkan oleh suatu kurva grafik yang ditunjukkan Gambar 3.15.

Gambar 3.15.
Kurva Permeabilitas Relatif untuk Sistem Minyak dan Air3)

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan pada kurva permeabilitas relatif untuk sistem
minyak dan air, yaitu :
1.

Pada region A turunnya kro dengan cepat sebagai akibat naiknya


Sw, menunjukkan bahwa adanya sedikit air akan mempersulit aliran minyak dalam
batuan tersebut, demikian pula sebaliknya.

2.

Pada region B terdapat aliran 2 fasa hingga sampai waktu


tertentu karena hal ini terbentuk disebabkan oleh produksi mengalami penurunan
sampai batas Swc dan Soc.

3.

Pada region C turunnya kro tidak sampai batas nol, dimana


sementara masih terdapat saturasi minyak dalam batuan, dengan kata lain di bawah
saturasi minimum tertentu minyak dalam batuan tidak akan bergerak lagi. Saturasi
minimum ini disebut dengan Residual Oil Saturation (Sor), demikian juga untuk air
yaitu Swr (region A).

Fractional Flow atau Water Cut


Pada tahun 1941, Buckley-Laverett memperkenalkan konsep fraksi aliran,
konsep permulaannya terkenal dengan hukum Darcy untuk aliran air dan minyak,
kemudian dikembangkan oleh Laverett sehingga didapatkan persamaan:

1
WC atau fw =

k.k ro dPc

(gsin d )

ut. o dL

............(3-23)
w k0
1
0 kw

Dimana :
fw = Fraksi air yang mengalir di setiap titik batuan, fraksi
k

= Permeailitas batuan, mD

kro = Permeabilitas relatif minyak, mD


ko = Permeabilitas efektif minyak, mD

kw = Permeabilitas efektif air, mD


w = Viskositas minyak, cp
t = Viskositas air, cp
Pc = Tekanan kapiler (P0 Pw), psi
L = Jarak pergerakan searah
g

= Percepatan gravitasi

p = Perbedaan densitas air-minyak = pw p0

d= Sudut kemiringan formasi terhadap bidang horizontal


Ut = Total velocity fluida
Dari persamaan di atas terlihat bahwa fraksi aliran, fw yang diberikan batuan
formasi dan kondisi pendesakan merupakan fungsi saturasi air, karena permeabilias
relatif dan tekanan kapiler adalah fungsi-fungsi saturasi itu sendiri.
Semua faktor yang diperlukan untuk menghitung harga fw secara lengkap telah tersedia
kecuali gradient tekanan kapiler. Gradient ini diformulasikan sebagai berikut:
Pc
Pc.S w

...........................(3-24)
L
S w .L

Oleh karena itu harga Pc/Sw dapat ditentukan secara tepat dari kurva tekanan
kapiler air-minyak, dan harga gradient saturasi, dS w/dL, tidak tersedia, jadi dalam
prakteknya digunakan istilah tekanan kapiler seperti persamaan (3-24) diabaikan dan
karena pendesakan terjadi dalam sistem horisontal maka Persamaan (3-24)
disederhanakan menjadi:
1

fw = 1 w k 0 ..............................(3-25)
0 k w

Persamaan (3-25) di atas merupakan bentuk sederhana dari persamaan fraksi


aliran, dimana permeabilitasnya relatif minyak dan air juga termasuk di dalamnya,
sehingga dapat ditunjukkan sebagai berikut:

1
w k r 0 ..........................(3-26)
fw =
1
0 k rw
dimana kro dan krw masing-masing adalah permeabilitas relatif air dan minyak.

Dari kurva permeabilitas relatif air dan minyak apabila fraksi air sebagai saturasi
meningkat maka harga permeabilitas relatif air meningkat dan permeabilitas minyak
menurun. Persamaan (3-26) ini diaplikasikan untuk sistem aliran horizontal dan
karakteristik permeabilitas relatif minyak dan air yang diberikan batuan, sehingga harga
fw tergantung pada besarnya viskositas minyak dan air.
E. Metode Dual Water
D-W model mempresentasikan bahwa konduktifitas ion akan terbatas pada air
batas dimana ion berada dalam konduktifitas elektrolit terbatas pada air bebas (air
formasi). Dalam D-W model diasumsikan terdapat suatu campuran dari dua macam air,
yaitu air batas (yang menempati sebagian besar ruangan pori-pori batuan) dan air bebas
atau air formasi (yang menempati sisa ruang pori-pori batuan)

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :


Penentuan Vclay :
Metode Gamma Ray Log :
...(3-27a)
Metode Density Neutron Log :
..(3-27b)
Dari 2 metode penentuan Vclay diatas, dipilih metode Density Neutron Log karena
diindikasikan adanya gas.
Penentuan porositas terkoreksi :
dc

= (D VclayND) Dsh..(3-27c)

nc

= (N VclayND) Nsh..(3-27d)

nc dc (adanya indikasi gas)


Penentuan porositas efektif :

..(3-27e)
Penentuan porositas efektif shale :

...(3-27f)
Penentuan porositas total shale :
tsh

= Dsh + (1 ) Nsh...(3-27g)

Penentuan porositas total :


t

= (e + VshND) tsh...(3-27h)

Penentuan saturasi bound water :


Sb

= VshND (tsh / t)..(3-27i)

Penentuan resistivitas bound water :


Rb

= Rsh (tsh2)..(3-27j)

Penentuan resistivitas air rata-rata :


Rwa

= Rt (t2)...(3-27k)

Penentuan b :
b

= Sb (1 Rw/Rb)/2(3-27l)

Penentuan saturasi air terkoreksi :

...(3-27m)
Penentuan saturasi air efektif :
(3-27n)
Penentuan porositas hidrokarbon :
h

= t (1 Swt).(3-27o)

3.7. Coring dan Analisa Core


3.7.1. Coring
Coring adalah suatu usaha untuk mendapatkan contoh batuan (core) dari formasi
di bawah permukaan untuk dianalisa sifat fisik batuan secara langsung. Pekerjaan ini
dilakukan pada saat operasi pemboran sedang berlangsung atau pada saat pemboran
telah selesai. Ada dua metode coring yang umum dilakukan di lapangan yaitu :
1. Bottom hole coring, yaitu cara pengambilan core yang dilakukan pada waktu
pemboran berlangsung.
2. Sidewall coring, yaitu cara pengambilan core yang dilakukan setelah operasi
pemboran selesai atau pada waktu pemboran berhenti.
3.7.1.1. Bottom Hole Coring
Bottom hole coring merupakan cara pengambilan core yang dilakukan pada
waktu pemboran berlangsung. Metode Bottom Hole Coring menggunakan sejenis pahat
yang ditengahnya terbuka dan mempunyai sejenis pahat berupa dougnot shape hole,
sehingga akan meninggalkan plug silindris (core) ditengahnya. Core yang diambil
selama proses pemboran akan menempati core barrel yang berada diatas pahat dan
kemudian dibawa ke permukaan. Berdasarkan peralatan pengambilan core dibedakan
tiga macam yaitu :
Conventional Coring
Pengambilan core dilakukan

dengan

menggunakan

pahat

jenis tertentu

(conventional rotary drill core), lihat Gambar 3.16. Pada waktu pahat berputar dan
bergerak ke bawah, maka core akan masuk ke dalam inner core barrel, dan core
kemudian tidak dapat lagi keluar dari tempatnya karena core barrel memiliki roll dan
ball bearing. Bagian atas dari barrel ditutup dengan check valve yang bekerja
berdasarkan aliran fluida. Untuk memotong core dari formasi dilakukan dengan cara
mengurangi beban di atas pahat (WOB) dan dengan mempercepat putaran pahat. Hal ini
hanya dilakukan dalam beberapa menit saja dan core akan terpotong dari formasi. Untuk
mengeluarkan core dari barrel, maka seluruh rangkaian dicabut dan untuk mendapatkan
core yang lebih panjang maka harus dilakukan round trip.

Keuntungan dari conventional coring diantaranya : diperoleh core dengan


diameter yang lebih besar yaitu antara 3 sampai 5 dan panjang antara 30 sampai 55 ft,
namun pada umumnya diameter core 3 , prosentase dari recovery besar, tidak
diperlukan penambahan peralatan pemboran dipermukaan. Kekurangan dari metoda ini
diantaranya diperlukan biaya yang cukup besar, terutama jika coring dilakukan pada
sumur dalam, karena diperlukan cabut pipa (round trip).

Gambar 3.16.
Conventional Rotary Core8)
Diamond Coring
Prinsip pengambilan core pada metode ini sama dengan conventional coring,
perbedaannya hanya pada jenis pahat yang digunakan serta ukuran core yang dihasilkan.
Jenis pahat yang digunakan pada diamond coring dapat dilihat pada Gambar 3.17.
Kekurangan dari metoda ini adalah diperlukan biaya yang mahal dari pahat dan core
barrelnya. Keuntungan dari metoda Diamond coring ini lebih cocok digunakan pada
batuan sedimen yang keras, selain itu juga dapat menghemat waktu karena pada saat
memotong core tidak diperlukan penambahan rotary speed. Hasil yang diperoleh dari
diamond coring adalah core dengan ukuran diameter 2 7/8 sampai 4 7/8 dan panjang
maksimum 90 feet.

Gambar 3.17.
Diamond Core Bit8)
Wire Line Coring

Wire line coring adalah salah satu cara pengambilan core dengan jalan
menurunkan alat coring bersama-sama dengan overshot dengan menggunakan line
kedalam pipa bor. Core yang diperoleh akan masuk kedalam inner barrel yang kemudian
ditarik ke permukaan tanpa harus mencabut rangkaian pipa bor. Kekurangan dari metoda
ini adalah diperlukan peralatan khusus dipermukaan dan core yang didapatkan kecil
yaitu dengan diameter 11/8 sampai 1 3/4 dan panjangnya 10-20 feet sedangkan
kelebihan dari metoda ini adalah biayanya murah, dan lebih cocok jika dilakukan pada
sumur yang dalam, sehingga menghemat waktu yang dipergunakan untuk round trip.
3.7.1.2. Sidewall Coring
Sidewall coring merupakan salah satu cara pengambilan core dari dinding lubang
bor. Proses ini dilakukan pada saat operasi pemboran dihentikan. Pengambilan core
dilakukan dengan cara menurunkan peralatan core (Gambar 3.18.), dilengkapi dengan
peluru berlubang (sebagai tempat core) dan diikat dengan kawat baja.
Peluru-peluru tersebut dioperasikan secara elektris dari permukaan dan dapat
ditembakkan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Dengan menembusnya peluru
kedalam dinding lubang bor maka core akan terpotong dan terlepas dari formasi. Dengan
adanya kabel baja yang berhubungan dengan peluru, maka side wall coring beserta
corenya dapat diangkat ke permukaan.

Gambar 3.18.
Sidewall Coring8)
Kekurangan dari metode ini adalah core yang dihasilkan sering dalam keadaan
rusak akibat terjadinya benturan antara peluru dengan formasi yang mengakibatkan
kompaksi. Akibat yang lebih lanjut adalah terjadinya perubahan pada harga sifat-sifat
fisik core dari keadaan mula-mula.
3.7.2. Analisa Core
Analisa core adalah salah satu metoda untuk menentukan besaran fisik formasi
atau batuan secara langsung dari core yang diambil dari lapisan-lapisan tertentu yang
ditembus oleh lubang bor. Setelah core terangkat sampai kepermukaan segera
dikeluarkan dari core barrel. Untuk mengurangi hilangnya fluida yang terdapat dalam
core, maka core dimasukkan dalam kotak aluminium atau dibungkus dengan kantong
dari bahan polyetheline. Setiap core yang diterima di laboratorium setelah disusun sesuai
dengan nomor sample dan urutan kedalamannya kemudian dianalisa satu persatu.
Analisa core ini untuk mengukur besaran-besaran petrofisik dari core secara langsung
meliputi pengukuran porositas, permeabilitas, saturasi, wettabilitas, tekanan kapiler dan
kompresibilitas. Core yang diperoleh tersebut, paling tidak telah mengalami dua proses,
yaitu proses pemboran dan proses perubahan kondisi (tekanan dan temperatur) dari
kondisi formasi ke kondisi permukaan. Pada saat pemboran, akan dipengaruhi oleh
adanya air filtrat, lumpur bor yang dipergunakan, sehingga harga saturasi core akan
berubah. Sedangkan adanya perubahan kondisi dari kondisi formasi ke permukaan,
mempengaruhi harga saturasi core akibat terjadinya ekspansi gas.
Analisa core yang sering dipergunakan terdiri dari dua macam, yaitu analisa core
rutin dan analisa core special.
3.7.2.1. Analisa Core Rutin
Analisa core rutin meliputi pengukuran porositas, permeabilitas absolut, dan
saturasi. Sedangkan analisa core spesial meliputi pengukuran permeabilitas relative,
tekanan kapiler, wettabilitas, dan kompresibilitas. Pengukuran dari sifat-sifat fisik batuan
memerlukan sampel bersih dan kering, sampel yang dipergunakan untuk permeabilitas

dan porositas secara keseluruhan dicuci dan semua fluida yang tertinggal kemudian
dikeringkan. Proses pencucian biasanya dilaksanakan dengan peralatan ekstraksi.
Sampel ditempatkan dalam ekstraktor dengan suatu solvent (pentan, naftan, toluene atau
tetraklorida) dan dididihkan sampai beberapa jam.
Pengukuran Porositas
Porositas () didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang poripori terhadap volume batuan total (bulk volume). Besar-kecilnya porositas suatu batuan
akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara matematis porositas
dapat dinyatakan sebagai :

Vb Vg Vp

x 100% ......................(3-28)
Vb
Vb

Dimana :
Vb

= Volume batuan total (bulk volume), (cm3)

Vg

= Volume butiran (volume grain), (cm3)

Vp

= Volume ruang pori-pori batuan, (cm3)

= Porositas, (%)

Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua dilihat dari segi teknik
reservoir, yaitu:
Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume batuan total
(bulk volume).
abs

Volume seluruh pori total


100%
Volume batuan total

....................(3-29)

Porositas efektif, adalah persen volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap
volume batuan total (bulk volume).
eff

Volume pori yang berhubungan


100% ...................(3-30)
Volume batuan total

Selanjutnya porositas efektif digunakan dalam perhitungan karena dianggap sebagai


fraksi volume yang produktif. Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka
porositas dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas primer adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen
diendapkan.

2. Porositas sekunder adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan sedimen
terendapkan.
Untuk pengukuran porositas dilaboratorium dengan menganalisa core memakai alat
Mercury Injection Pump seperti pada Gambar 3.19. dengan

cara pengukurannya

sebagai berikut :
Memastikan permukaan Hg pada bagian bawah dari picnometer.
Menutup penutup picnometer dan buka valve picnometer.
Mengatur volume skala pada harga tertentu, misalnya: 50 cc.
Memutar hand wheel searah jarum jam sampai mercury pertama kali muncul pada
valve picnometer.
Menghentikan pemutaran hand wheel dan baca volume skala dan hand wheel (miring
kanan) misalnya: 30,8 cc.
Hitung volume picnometer = (50 30,8) cc = a cc.
Kembalikan kedudukan mercury pada keadaan semula dengan memutar hand wheel
berlawanan dengan jarum jam (pada volume skala 50 cc).
Membuka penutup picnometer dan masukkan sampel core (core nomor satu)
kemudian tutup lagi penutup picnometer (valve picnometer tetap terbuka).
Memutar hand wheel sampai mercury untuk pertama kalinya muncul pada valve
picnometer, catat volume scale dan dial hand wheel (miring kanan) misalnya: 38,2
cc.
Hitung volume picnometer yang terdiri sampel core = (50 38,2) cc = b cc.
Hitung volume bulk dari sampel core = (b-a) cc = d cc.
Melanjutkan percobaan untuk menentukan volume pori (Vp) yaitu dengan menutup
valve picnometer. Kemudian atur core space scale pada angka nol.
Untuk langkah ini, akan tetapi perlu di catat besarnya angka yang ditunjukkan dial
hand wheel (miring kiri) setelah pengukuran Vp (dicatat ini sebagai skala awal).
Memutar hand wheel searah jarum jam sampai tekanan pada pressure gauge
menunjukkan angka 750 psig (dicatat ini sebagai skala akhir).
Hasil dimana Vp didapat dari perhitungan skala awal skala akhir.

Hitung besarnya porositas : = Vp / Vb x 100 %

Gambar 3.19.
Mercury Injection Pump2)
Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah
batuan konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.
2. Rekahan yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya kerusakan struktur
batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti : lipatan, sesar, atau patahan.
Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi karena bentuknya tidak teratur.
3. Dolomitisasi, dalam proses ini batugamping (CaCO 3) ditransformasikan menjadi
dolomite (CaMg(CO3)2) atau menurut reaksi kimia :
2CaCO3 + MgCl2

CaMg(CO3)2 + CaCl2

Porositas merupakan fungsi dari sortasi / pemilahan. Besar-kecilnya porositas


dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran butir (semakin baik distribusinya,
semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan butir berbentuk kubus mempunyai

porositas lebih baik (47,6%) dibandingkan bentuk rhombohedral mempunyai porositas


(25,96%), kompaksi dan sementasi (kompaksi batuan akan mengakibatkan mengecilnya
porositas, karena penekanan batuan diatasnya, sehingga batuan menjadi rapat, sementasi
yang kuat akan memperkecil porositas).
Pengukuran Permeabilitas
Permeabilitas batuan merupakan nilai yang menunjukkan kemampuan suatu
batuan porous untuk mengalirkan fluida. Henry Darcy (1856), dalam percobaan dengan
menggunakan sampel batupasir tidak kompak yang dialiri air. Batupasir silindris yang
porous ini 100% dijenuhi cairan dengan viskositas (cp), dengan luas penampang A
(cm2), dan panjangnya L (cm). Kemudian dengan memberikan tekanan masuk P1 (atm)
pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q (cm 3/sec), sedangkan
P2 (atm) adalah tekanan keluar. Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q. .L/A.(P1P2) adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak
tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan. Dengan
mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran turbulen, maka diperoleh
harga permeabilitas absolut batuan.
Definisi batuan mempunyai permeabilitas 1 darcy menurut hasil percobaan ini
adalah apabila batuan mampu mengalirkan fluida dengan laju 1 cm 3/s berviskositas 1 cp,
sepanjang 1 cm dan mempunyai penampang 1 cm 2, perbedaan tekanan sebesar 1 atm.
Sehingga persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :
K

Q.
P ...............(3-31)
A.(
)

Dimana :
K

= Permeabilitas media berpori, (Darcy)

= Debit aliran, (cm3/s)

= Viskositas fluida yang menjenuhi, (cp)

= Luas penampang media, (cm2)

= Beda tekanan masuk dengan tekanan keluar, (atm)

= Panjang media berpori, (cm)

Beberapa anggapan yang digunakan oleh Darcy dalam Persamaan (3-4) adalah:
1. Alirannya mantap (steady state)
2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal
6. Fluidanya incompressible
Pengukuran

permeabilitas

absolut

batuan

dengan

menganalisa

core

dilaboratorium menggunakan alat Ruska Universal Permeameter, seperti pada Gambar


3.20. dari alat ini data dapat diperoleh dengan menginjekkan media gas atau liquid pada
aliran yang mantap (steady state). Cara kerja alat ini yaitu :

Masukkan core ke dalam core holder.

Mengisi burette dengan test liquid (air).

Membuka core holder valve dan burette akan diisi.

Jika burette sudah terisi melalui batas atas tutup cut off valve.

Mengatur tekanan yang diinginkan pada pressure gauge dengan mengatur


regulator.

Mengembalikan discharge fill valve ke discharge.

Mencatat waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan fluida dari batas atas
hingga batas bawah burette.

Perhitungan :
K=

.V.L
A. P. t

dimana q =

V
t

Dimana :
K = Permeabilitas dari sampel, (Darcy)
= Viskositas dari cairan test, (cp)
V = Volume cairan yang dialirkan melalui sampel, (cm3)
L = Panjang dari sampel, (cm)
P = Tekanan, (atm) dibaca dari pressure gauge

t = Waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan cairan melalui sampel (50cc, 10cc, atau
5 cc), (detik)

Gambar 3.20.
Model Alat Ruska Universal Permeameter2)

Pengukuran Saturasi Fluida


Pengukuran untuk menentukan saturasi fluida dengan menggunakan alat Dean

& Stark Apparatus, seperti pada Gambar 3.21. Cara kerja alat sebagai berikut:
1. Mengambil fresh core atau core yang telah dijenuhi air dan minyak.
2. Menimbang core tersebut, misal beratnya = a gr.
3. Memasukkan core tersebut kedalam labu Dean and Stark yang telah diisi dengan
toluena. Lengkapi dengan water trap dan refluk condensor.
4. Memanaskan selama + 2 jam hingga air tidak tampak lagi.
5. Mendinginkan dan baca air yang tertampung di water trap, misalnya = b cc = b
gram.
6. Mengeringkan sampel dalam oven + 15 menit ( pada suhu 110 0C ). Mendinginkan
dalam exicator + 15 menit, kemudian timbang core kering tersebut, misalnya = c
gram.
7. Hitung berat minyak = a - ( b - c ) gram = d gram.

8. Hitung volume minyak :


d
BJ min yak

= e cc

9. Hitung saturasi minyak dan air :


e

So = Vp

Sw = Vp

Gambar 3.21.
Metode Dean and Stark Apparatus2)
3.7.2.2. Analisa Core Spesial
Semua data sifat fisik batuan memerlukan pengukuran yang akurat. khususnya
pengukuran data distribusi fluida dan karakteristik aliran multifasa dari batuan reservoar
merupakan hal yang penting untuk studi reservoar secara detail. Pada analisa core
special diperlukan sampel yang segar (fresh), namun pada prakteknya sampel
dibersihkan dengan cara ekstraksi dan dikembangkan ke kondisi mula-mula.
Secara umum parameter yang dapat diukur dengan analisa core spesial adalah
distribusi fluida di reservoar, karakteristik aliran dua fasa (minyak-gas dan minyak-air).
a. Pengukuran Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada antara
permukaan dua fluida yang tidak tercampur dimana keduanya dalam keadaan statis di
dalam sistem kapiler. Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara
fluida non-wetting fasa (Pnw) dengan fluida wetting fasa (Pw). Berdasarkan Gambar
3.22. sebuah pipa kapiler dalam suatu bejana terlihat bahwa air naik ke atas di dalam

pipa akibat gaya adhesi antara air dan dinding pipa yang arah resultannya ke atas. Gayagaya yang bekerja pada sistem tersebut adalah :
Besar gaya tarik keatas adalah 2rAT, dimana r adalah jari-jari pipa kapiler.
Sedangkan besarnya gaya dorong ke bawah adalah r2 h g (w - o).
Di reservoir biasanya air sebagai fasa yang membasahi (wetting fasa), sedangkan
minyak dan gas sebagai non-wetting fasa atau tidak membasahi.
Pc = Po - Pw........................(3-32)
Perbedaan tekanan permukaan antara minyak dengan air berhubungan dengan perbedaan
densitas dan ketinggian dari kenaikan air.
Pc = (w o) g h...............................................................................................(3-33)
Dimana :
Po

= Tekanan fasa non-wetting (oil = minyak), (dyne/cm2)

Pw

= Tekanan fasa wetting (water = air), (dyne/cm2)

Pc

= Tekanan kapiler, (dyne/cm2)

= Densitas air, (gr/cm3)

= Densitas minyak, (gr/cm3)

= Ketinggian kenaikan air pada pipa kapiler, (cm)

Gambar 3.22.
Hubungan Tekanan Dalam Pipa Kapiler2)
Pada kesetimbangan yang tercapai kemudian, gaya keatas akan sama dengan gaya ke
bawah yang menahannya yaitu gaya berat cairan. Secara matematis dapat dinyatakan
dalam persamaan sebagai berikut :
2 r AT = r2 g h
Dan
Pc = g h , AT = cos

Pc

maka,

2 cos
g h ....................(3r

34)
Dimana :

= Tegangan permukaan antara dua fluida, (dyne/cm)

cos

= Sudut kontak permukaan antara dua fluida, (dyne/cm)

= Jari-jari lengkung pori-pori, (cm)

= Perbedaan densitas dua fluida, (gr/cm3)

= Percepatan gravitasi, (cm/dt2)

= Tinggi kolom, (cm)


Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tekanan kapiler adalah Restored

State Capillary Pressure Apparatus, dimana konsep ini dikeluarkan oleh Bruce dan
Welge seperti yang terlihat pada Gambar 3.23. Prinsip kerja metode ini adalah
mengukur tekanan dan air yang keluar cell sampai tidak ada pertambahan air pada suatu
tekanan yang diberikan. Cara kerja dari metode ini adalah:
1. Menjenuhi core dengan air yang telah diketahui porositas dan permeabilitasnya.
Core yang telah terjenuhi diletakkan pada membran yang bersifat water wet, yaitu
membran yang hanya dapat dilalui oleh fluida yang sifatnya membasahi (wetting).
2. Kemudian fluida non wetting seperti udara, nitrogen, minyak dan sebagainya
dipompakan perlahan-lahan kedalam cell, tekanan pemompaan (Pc) dipertahankan
konstan sampai interval waktu tertentu.
3. Fluida non wetting (udara) ini akan masuk semua kepori-pori batuan sehingga air
akan keluar dari cell melalui membran. Tekanan dari udara dan air yang keluar
diukur dan dicatat sampai tidak ada pertambahan air pada suatu tekanan yang
diberikan.
4. Proses yang berikut serupa dilakukan untuk tekanan yang lebih besar, sampai
kenaikan tekanan tidak lagi memberikan penambahan volume air. Saturasi air pada
keadaan ini adalah saturasi air residual.

Gambar 3.23.
Skema Peralatan Restored State8)
Tekanan kapiler mempunyai dua pengaruh penting dalam reservoir minyak atau
gas, yaitu mengontrol distribusi fluida di dalam reservoir dan mekanisme pendorong
minyak dan gas untuk bergerak atau mengalir melalui ruang pori-pori reservoir sampai
mencapai batuan yang impermeabel. Pada Gambar 3.24. menyatakan bahwa h akan
bertambah jika perbedaan densitas fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap.
Untuk reservoir minyak yang mempunyai API gravity rendah maka kontak minyak-air
akan mempunyai zona transisi yang panjang. Ukuran pori-pori batuan reservoir sering
dihubungkan dengan besaran permeabilitas. Batuan reservoir dengan permeabilitas yang
besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan ketebalan zona transisinya lebih
tipis dari pada reservoir dengan permeabilitas yang rendah.

Gambar 3.24.
Variasi Pc terhadap Sw4)
a) Untuk Sistem Batuan yang Sama dengan Fluida yang Berbeda
b) Untuk Sistem Fluida yang Sama dengan Batuan yang Berbeda
b. Pengukuran Wettabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai kecenderungan fluida untuk melekat pada
permukaan batuan. Apabila dua fluida bersinggungan dengan benda padat, maka salah
satu fluida akan bersifat membasahi permukaan benda padat tersebut, hal ini disebabkan

adanya gaya adhesi yaitu gaya tarik-menarik partikel yang berlainan. Besaran
wettabilitas dapat dilihat pada Gambar 3.25. ini sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu :
1). Jenis mineral yang terkandung dalam batuan reservoir
2). Ukuran butir batuan, semakin halus ukuran butir batuan maka semakin besar gaya
adhesi yang terjadi
3). Jenis kandungan hidrokarbon yang terdapat di dalam minyak mentah (crude oil)
Dalam sistem minyak-air benda padat, gaya adhesi AT yang menimbulkan sifat air
membasahi benda padat adalah :
AT = so - sw = wo. cos wo ....................(3-35)
Dimana :
AT

= Gaya adhesi, (dyne/cm)

so

= Tegangan permukaan minyak-benda padat, (dyne/cm)

sw

= Tegangan permukaan air-benda padat, (dyne/cm)

wo

= Tegangan permukaan minyak-air, (dyne/cm)

wo

= Sudut kontak minyak-air


Suatu cairan dikatakan membasahi zat padat jika tegangan adhesinya positif ( <

90o), yang berarti batuan bersifat water wet (Kejadian ini sebagai akibat dari gaya adhesi
yang lebih besar pada sudut lancip yang dibentuk antara air dengan batuan dibandingkan
gaya adhesi pada sudut yang tumpul yang dibentuk antara minyak dengan batuan).
Sedangkan bila air tidak membasahi zat padat maka tegangan adhesinya negatip ( >
90o), berarti batuan bersifat oil wet.
Pada umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air cenderung untuk melekat
pada permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak di antara fasa air. Jadi minyak
tidak mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan dan akan lebih mudah mengalir.

Gambar 3.25.
Kesetimbangan Gaya-Gaya pada Batas Air-Minyak-Padatan2)
Pengukuran wettabilitas dapat menggunakan Metode Amott (dengan alat
laboratorium yaitu Spontaneous Imbibition) yang ditunjukkan pada Gambar 3.26. Cara
pengukurannya sebagai berikut:

Dilakukan percobaan pertama, core yang dijenuhi air dimasukkan


kedalam Spontaneous Imbibition (SI) yang selanjutnya diisi oleh minyak.
Kemudian didiamkan selama 20 jam, jika ada air yang didesak oleh
minyak dalam SI dicatat sebagai Vwsp (dengan melihat skala buret).

Kemudian dilakukan percobaan kedua, core lain yang dijenuhi oleh


minyak dimasukkan kedalam alat Spontaneous Imbibition yang
selanjutnya diisi oleh air. Kemudian didiamkan selama 20 jam, jika
adanya minyak yang didesak oleh air dalam SI, dicatat sebagai V osp
(dengan melihat skala buret).

Volume air yang didesak sampai Swi (Saturation water initial) dalam core
oleh minyak (yang didapat dari percobaan dengan menggunakan
coreflood apparatus dengan prinsip kerja, core yang digunakan telah
dipakai dalam SI jenuh minyak kemudian didesak kembali oleh minyak)
dan ditambah dengan Vwsp dicatat sebagai Vwt.

Volume minyak didalam core yang didesak oleh air sampai Sor(saturation
oil residual) (yang didapat dari percobaan dengan menggunakan
coreflood apparatus dengan prinsip kerja, core yang digunakan telah
dipakai dalam SI jenuh air kemudian didesak kembali oleh air) dan
ditambah dengan Vosp dicatat sebagai Vot.

Hitung indeks wettabilitas dari metode Spontaneous Imbibition sebagai


berikut :

1. o =

V wsp
V wt

2. w =

Vosp
Vot

Sehingga I ( indeks wettabilitas ) = w - o


Dimana : jika 0 < I < 1 water wet
jika -1 < I < 0 oil wet
Keterangan :
Vwsp = Volume air yang didesak oleh minyak dalam SI
Vwt

= Jumlah volume air yang didesak oleh minyak pada Spontaneous

Imbibition

dan coreflood apparatus.


Vosp = Volume minyak yang didesak oleh air dalam SI
Vot

= Jumlah volume minyak yang didesak oleh air pada Spontaneous


Imbibition dan coreflood apparatus.

Gambar 3.26.
Spontaneous Imbibition15)
c. Pengukuran Kompressibilitas Batuan
Kompressibilitas batuan didefinisikan sebagai perubahan volume batuan yang
disebabkan karena adanya perubahan tekanan batuan. Pengosongan fluida dari ruang
pori-pori batuan reservoir akan mengakibatkan perubahan tekanan dalam dari batuan,

sehingga resultan tekanan pada batuan juga akan mengalami perubahan. Adanya
perubahan tekanan ini akan mengakibatkan perubahan pada butir-butir batuan, pori-pori
dan volume total (bulk) batuan reservoir. Menurut Geerstma (1957) ada tiga konsep
tentang kompressibilitas batuan, antara lain :

Kompressibilitas matriks batuan, Cr


Didefinisikan sebagai fraksi perubahan volume material padatan (grains) terhadap
satuan perubahan tekanan. Secara matematis persamaan koefisien kompressibilitas
sebagai berikut :
Cr

1
Vr

Vr

Dimana :

Cr

= Koefisien kompressibilitas matrik batuan, (psi-1)

Vr

= Volume material padatan (cm3)

= Temperatur konstan

Kompressibilitas bulk, CB
Didefinisikan sebagai fraksi perubahan volume dari batuan terhadap satuan
perubahan tekanan. Secara matematika dirumuskan koefisien kompressibilitas
1 Vb

CB = Vb P

Dimana :

Cr

= Koefisien kompresibilitas batuan, (psi-1)

Vb

= Volume bulk, (cm3)

Kompressibilitas pori-pori batuan, CP


Didefinisikan sebagai fraksi perubahan volume pori dari batuan terhadap satuan
perubahan tekanan. Secara matematika dirumuskan koefisien kompressibilitas
sebagai :
CP =

1
VP

VP

Dimana :
Cp = Koefisien kompresibilitas pori batuan, (psi-1)
Vp = Volume pori batuan (cm3)
P = Tekanan pori, (psi)
Diantara konsep diatas kompressibilitas poripori batuan dianggap paling
penting dalam teknik reservoir khususnya. Batuan yang berada pada kedalaman tertentu
akan mengalami dua tekanan, yaitu :
a. Internal stress, yang berasal dari desakan fluida yang terkandung di dalam poripori batuan (tekanan fluida formasi).
b. Eksternal stress, yang berasal dari pembebanan batuan yang ada di atasnya
(tekanan overburden).
Pengukuran kompressibilitas batuan dengan menggunakan alat Hydrostatic Load
Cell, seperti pada Gambar 3.27. Untuk mengukur kompressibilitas terhadap volume
pori, alat ini dapat mengalirkan tekanan internal (tekanan fluida dalam inti batuan) dan
tekanan eksternal (tekanan hidrostatik) sebagai tekanan overburden. Sebuah tabung
kapiler yang kecil digunakan untuk mengukur perubahan volume pori yang diukur dari
volume fluida yang keluar dari ruang pori. Cara pengukuran kompressibilitas sebagai
berikut:
Core terlebih dahulu dibersihkan, dikeringkan kemudian ditimbang. Dicatat sebagai
volume batuan, misalkan = a gram
Kemudian core dijenuhi fluida minyak lalu ditimbang, misalkan = b gram.
Hitung berat minyak = (b a ) gram = c gram.
Hitung volume minyak =

c
= d cc.
o

Volume minyak ini sebagai volume pori batuan.


Kemudian memasukkan core yang telah dijenuhi minyak kedalam Hydrostatic load
cell. Lalu diberi tekanan hidrostatik (tekanan eksternal) yang dijaga konstan.
Bersamaan dengan itu tekanan internal (laju air formasi yang dimasukkan kedalam
core) diturunkan, ini sebagai fungsi (dP) psi, kemudian perubahan tekanan ini dicatat.

Dengan tekanan diturunkan akan mempengaruhi volume fluida minyak yang keluar
akibat terdorong dari air formasi sehingga menuju outlet, ini sebagai fungsi (dVp) cc.
Volume fluida minyak yang keluar ditampung pada tabung kapiler, volume cairan ini
dicatat.
Sehingga kompressibilitas pori dapat dihitung dengan persamaan :
Cp = -

1 dV p
-1

, psi .
V p dP

Gambar 3.27.
Pengukuran Kompressibilitas Volume Pori15)
Pengukuran Permeabilitas Relatif
Metode umum untuk mengukur permeabilitas relatif menggunakan metode
apparatus yang ditunjukkan pada Gambar 3.28. Metode ini merupakan modifikasi dari
metode Penn State dan dikembangkan oleh morse. Sampel uji didapat pada akhir
pengujian diantara sampel uji lainnya dengan tipe yang sama. Kesamaan dari tiga core
tersebut yaitu bertujuan untuk mengurangi efek tekanan kapiler pada akhir (terutama
pada akhir downstream)dari sampel uji. Ini menjadi bukti bahwa saturasi dari berbagai

macam distribusi fluida akan seragam selama aliran steady state masih berjalan. Katup
hilir juga digunakan sebagai campuran utama dari injeksi fluida. Saturasi awal dilakukan
pada core dengan fluida yang didesak, (biasanya minyak), dan berat pengujian dicatat.
Aliran minyak yang konstan membuktikan bahwa tekanan akan turun secara mendadak.
Aliran minyak kemudian didesak tiba-tiba dan fluida pendesak (gas atau air)
menstimulasi injeksi dengan cukup untuk menjaga tekanan turun. Keseimbangan terjadi
ketika volume yang masuk dan keluar adalah sama. Salah satu saturasi yang baik yaitu
secara gravimetri dengan memindahkan dan membebani sampel, atau secara elektrik
dengan pengukuran resistivity. Lalu, aliran minyak akan berkurang sedangkan gas atau
air akan naik. Ulangi prosedur ini secukupnya hingga perhitungan menjadi sama sampai
langkah terkecil yaitu permeabilitas dari berbagai fasa dengan saturasi yang beragam.
Saturasi tentu dihitung pada tahap selanjutnya. Porositas dan permeabilitas absolut core
diukur pada awal pengujian..

Gambar 3.28.
Modifikasi Penn State Permeabilitas Apparatus8)
3.8. Pengolahan Data Karakteristik reservoar

Dari berbagai data yang diperoleh dari berbagai macam sumber kemudian
ditentukan data-data yang dapat mewakili (representative) dari keadaan reservoar
tersebut. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data reservoar yang representative
diantaranya adalah metode statistik dan metode cut-off.
3.8.1. Metode statistik
Analisa parameter-parameter reservoar dengan metode statistik meliputi analisa
secara vertikal dan lateral pada suatu reservoar. Secara vertikal meliputi penentuan harga
average pada setiap sumur, sedangkan secara lateral digunakan korelasi regresi dari
suatu tempat ke tempat yang lain.
3.8.1.1. Metode Rata-Rata
Jika kita melakukan pengamatan terhadap data sampel atau distribusi
frekuensinya, maka kita akan memperoleh kesan bahwa sebagian besar data tersebut
terdiri dari nilai-nilai observasi yang bertendensi untuk memusatkan diri pada sekitar
suatu nilai tertentu. Gejala pemusatan demikian disebut tendensi sentral. Tiga ukuran
dari tendensi sentral yang umum digunakan adalah : Mean, Median, Modus serta
Standar Deviasi.
A. Mean
Mean adalah harga rata-rata dari random variabel. Bila data sampel tidak terlalu
banyak, maka rata-rata hitung (arithmetic mean) dirumuskan sbb :
i n

Xa

Xi
i 1

.......................................................................................................(3-36)

Dimana :
X

= Nilai rata-rata hitung.

Xi

= Harga sampel ke-i

= Jumlah observasi/sampel

Selain dari arithmetic mean, ada kalanya rata-rata dihitung dengan tertimbang
(weighted average). Rata-rata ini diperoleh dengan memasukkan faktor timbangan untuk
tiap-tiap observasi, sehingga :

in

Xw

XiWi
i 1
i n

Wi

.................................................................................................(3-37)

i 1

Dimana :
Wi

= Faktor timbangan

Xi

= Nilai observasi ke-i

Jika perbandingan tiap dua data berurutan tetap atau hampir tetap, rata-rata ukur
(geometric mean) lebih baik dipakai daripada rata-rata hitung, apabila dikehendaki rataratanya.
Harga geometric mean untuk L jumlah data diberikan oleh persamaan berikutnya :
Xg = (X1.X2.X3....XL) =

i n

Xi

1
L

.....................................................................(3-38)

i 1

Jika harga ruas kiri dan kanan dilogkan maka persamaan (3-38) menjadi :
Log Xg = 1/L (Log X1 + Log X2 + Log X3)
iL

Log Xg =

LogXi
i 1

......(3-39)

L
Bila jumlah observasi banyak, maka data terlebih dahulu disusun dalam
distribusi frekuensi, sehingga memudahkan dalam perhitungan, persamaannya :
in

Xa

Xifi .....(3-40)
i 1

i n

Log Xg =

fiLogXi .(3-41)
i 1

Dimana :
Xi

= Titik tengah interval kelas]

fi

= Frekuensi pada interval kelas ke-I, fraction

= Jumlah observasi

B. Median

Median adalah nilai sentral dari sebuah distribusi frekuensi sampel yang secara
teoritis membagi seluruh jumlah observasi atau pengukuran sampel kedalam dua bagian
yang sama. Jumlah frekuensi nilai-nilai observasi sampel yang lebih kecil dari sampel
median akan sama dengan jumlah frekwensi nilai-nilai observasi sample yang lebih
besar dari median tersebut.
Median = Li

( 1 n ( f )l )
2
C ...................................................................(3-42)
f med

Dimana :
Li

= Batas bawah kelas median

= Banyaknya observasi sampel

( f )l

= Jumlah frekuensi kelas yang lebih rendah dari kelas median

fmed

= Frekuensi kelas median

= Interval kelas

C. Modus
Modus adalah harga dari variabel random yang paling sering terjadi atau dapat
juga dikatakan bahwa modus dari suatu kumpulan harga yang mempunyai frekuensi
terbesar. Secara umum modus dapat ditentukan dengan persamaan :
Modus = Xo C 2

f1 f 2
....................................................................(3-43)
2 f o f 1 f 1

Dimana :
Xo

= Titik tengah kelas modus

= Interval kelas

fo

= Frekuensi kelas modus

f1

= Frekuensi kelas sesudah kelas modus

f2

= Frekuensi kelas sebelum kelas modus

D. Standart Deviasi
Standart deviasi adalah akar kuadrat dari rata-rata penyimpangan kuadrat mean.
Setiap harga yang mungkin dari random variabel berlokasi pada jarak tertentu dari harga

rata-ratanya yang diukur di sepanjang sumbu horizontal. Standart deviasi didefinisikan


sebagai berikut :
n

Sd =

(X
i 1

X a ) 2 . f i ..................................................................................(3-44)

Dimana :
fi

= Frekuensi untuk kelas interval ke-i, fraction

Xi

= Titik tengah setiap interval

Xa

= Mean

3.8.1.1.1. Analisa data porositas


Parameter arithmetic average dan weighted average merupakan salah satu
metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi sifat fisik batuan reservoir,
khususnya data porositas bernilai tunggal dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
i n

Arithmetic average

i 1

...(3-45)

i n

Weighted average

h
i 1
i n

i i

(3-46)

Metode statistik yang digunakan untuk menyatakan besarnya rata-rata (central


tendency) dari kurva histogram yaitu : median porosity dan arithmetic mean porosity.
i n

a i f i ...................................................................................................(3-47)
i 1

Dimana :
a

= Arithmetic mean porosity

= Harga porositas pada mid plot dari kelas interval atau range ke-i.

fi

= Frekuensi untuk klas interval ke-i, fraction

= Jumlah kelas interval

Harga geometric mean untuk L jumlah data diberikan oleh persamaan berikut :

i n

Log g

Log
i 1

.........................................................................................(3-48)

Untuk data-data yang diklasifikasikan maka persamaan (3-48) dapat dituliskan sebagai
berikut :
iL

Log g f i .Logi .....................................................................................(3-49)


i 1

Dimana kelas interval (range) dalam skala logaritma dan aplikasinya akan
memberikan evaluasi permeabilitas.
Untuk menentukan harga standart deviasi maka persamaan yang diberikan adalah:

Sd

i n

( X i X a ) . fi
i 1

..............................................................................(3-50)

Dimana :
Xa

= Arithmetic mean

Untuk kurva distribusi normal maka fungsi frekuensi dinyatakan dengan :

1
1
e 2 ( x xa ) S .......................................................................(3-51)
1
2
S d (2 )

f ( x)
Dimana :
e

= Bilangan pokok dari natural logaritma = 2,717828

= Harga variabel

Xa

= Arithmetic mean

3.8.1.1.2. Analisa data permeabilitas


Prosedur yang digunakan untuk menentukan weighted average dari permeabilitas
sama dengan prosedur weighted average porosity. Bila permeabilitas dinyatakan dengan
klas interval tertentu yang setara dengan interval logaritma permeabilitas yang telah
diberikan oleh Law, maka harga weighted average permeability dinyatakan dengan
persamaan :

i n

Aritmethic average K

K
i 1

..................................................................................(3-52)

i n

K h
Weighted average K

i 1
i n

....................................................................................(3-53)

Dua kemungkinan variasi permeabilitas yang menarik bagi engineering adalah


efek dari variasi vertikal atau tipe zona yang berbeda materailnya dan efek dari variasi
daerah. Studi yang mendalam dari analisa core, electric log, dan radioaktif log akan
mengindikasikan jika dua atau lebih sistem permeabilitas yang berbeda dalam arah
vertical pada reservoir. Jika tidak ada indikasi variasi vertical, data core harus dianalisa
dengan batas daerah.
Jika klasifikasi yang diberikan Law : log 2 (kj/ki) = j, dimana j = 1,2,3,....dst,
menghasilkan distribusi normal untuk selanjutnya persamaan fungsi frekuensi (3-46)
digunakan untuk menggambarkan variasi permeabilitas dengan frekuensi kumulatif atau
jumlah sampel. Muskat memberikan distribusi permeabilitas yang tidak normal, akan
tetapi mendekati distribusi eksponensial. Sampel diplotkan pada kertas semilog sebagai
fungsi dari harga kumulatif sampel yang mempunyai harga permeabilitas rendah. Plot
yang sama akan menghasilkan garis lurus, dinyatakan dengan persamaan (3-54), jika
permeabilitas diplot sebagai fungsi frekuensi kumulatif.
Log 10k

= m . N + b ............................................................................(3-54)

Dimana :
N

= Jumlah sampel dengan harga permeabilitas rendah

= Slope dari kurva

= Intercept harga log k jika N berharga 0

= Permeabilitas

Bila jumlah sampel (N) diganti dengan frekwensi kumulatif (F) maka akan merubah
sudut kurva (slope).
Untuk mendapatkan harga permeabilitas rata-rata, maka dapat dipergunakan
harga geometric mean sebagai berikut :

i n

Log .k g

Logk
i 1

........................................................................................(3-55)

sedangkan untuk data-data yang diklasifikasikan (kelompok) persamaan dapat


dituliskan sebagai berikut :
Log .k g

F .Log (ka)
i

..............................................................................(3-56)

Dimana:
kg

= Geometric mean permeability

ki

= Permeabilitas dari sampel ke i

(ka)j

= Arithmetic average permeability dari klas interval logaritma ke-j

Fj

= Frekuensi kumulatif dari interval ke j, fraction

Harga permeabilitas dapat digunakan untuk menentukan net sand dalam


mengkalkulasi banyaknya hidrokarbon. Pemilihan harga permeabilitas dapat diseleksi
dari kurva yang dihilangkan (cut-off permeability).
3.8.1.1.3. Analisa data saturasi air
Saturasi air dapat digambarkan sebagai fungsi dari tekanan kapiler dan juga
dapat dihubungkan dengan permeabilitas, ada empat pendekatan untuk menentukan
kandungan air pada reservoir yaitu :
1. Metode Pertama
Berdasarkan harga geometric mean dari permeabilitas yang muncul dari suatu
reservoar dan mengevaluasi saturasi air sebagai fungsi ketinggian diatas free water table.
2. Metode Kedua
Menentukan harga rata-rata saturasi air dari tekanan kapiler pada volumetric mid
point dari reservoar hidrokarbon. Dengan menggunakan tekanan kapiler dan geometric
mean permeability, saturasi air dapat dilihat secara langsung dari penurunan data tekanan
kapiler.
3. Metode Ketiga
Secara matematik identik dengan metode kedua dimana plot logaritma
permeabilitas versus saturasi air akan menghasilkan garis lurus. Saturasi air untuk

tekanan kapiler pada mid point pada klas permeabilitas dengan range logaritma dibaca
dari data penurunan tekanan kapiler di lapangan.
4. Metode Keempat
Merupakan metode perhitungan yang lebih detail, dimana pertambahan volume
diseleksi dan semakin kecil seleksinya maka akan semakin teliti. Setiap data pada
pertambahan volume dianalisa dan permeabilitas rata-rata serta ketinggian mid point
ditentukan. Kemudian hubungan saturasi air dibaca dari penurunan data tekanan kapiler.

Saturasi rata-rata didefinisikan dengan persamaan sebagai berikut :


i n

S wi

V S
i 1
L

wi

W S
i 1

.......................................................................................(3-57)
wj

S wi W j S wj ........................................................................................(3-58)
i 1

Dimana:
L

= Jumlah sampel

Wj = Weight factor volume batuan sampel dengan total volume batuan hidrokarbon.
Swj = Saturasi sampel ke-j
Vj = Volume pori sampel ke-j
3.8.1.2. Metode korelasi-regresi
Kelayakan analisa data berhubungan dengan suatu variabel lainnya. Bila terdapat
suatu hubungan antar variabel atau hubungan tersebut dapat dirumuskan, maka variabelvariabel tersebut dikatakan berhubungan secara fungsional. Suatu variabel dapat
diramalkan dari variabel lain apabila antara variabel yang diramalkan (dependent
variable), dan variabel yang digunakan untuk meramalkan (independent variable)
terdapat korelasi yang signifikan. Hubungan antara dependent variable dengan

independent variable dapat dilukiskan dalam suatu garis. Garis ini disebut garis regresi,
sedangkan persamaan yang menyatakannya disebut persamaan regresi.
A. Analisa Korelasi
Analisa korelasi adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan
kuatnya atau terjadinya derajat hubungan dua garis lurus antara variabel. Semakin linier
garis tersebut semakin erat hubungan antara dua variabel tersebut. Ukuran yang
menyatakan hubungan garis lurus dinamakan koefisien korelasi.
Dalam analisa korelasi sederhana, variabel yang digunakan semua random dan
keduanya bivariate normal. Untuk menentukan korelasi diantara dua variabel X 1 dan
X2 penelitian harus mengambil sejumlah sampel dari suatu populasi dan mengukur X 1
dan X2 secara sendiri-sendiri dalam sampel Selanjutnya untuk mempelajari hubungan
antara sepasang variable X1 dan X2 tersebut adalah setelah data dikumpulkan, dapat
digambarkan pada diagram pencar (scatter diagram).
Diagram pencar adalah suatu plot antara satu variabel versus variabel lainnya,
dimana pada ordinatnya menunjukkan dependent variable sedangkan pada absisnya
untuk melakukan plotting data yang berasal dari independent variable. Tetapi hal ini
tidak

selalu

dapat

dilakukan

dalam

diagram

pencar,

sebab

sukar

mengklasifikasikan antara dependent variable dan independent variable.


Tabel III.4.
Harga Standart Koefisien Korelasi Kuadrat (r2)
Significance Level
One Independent
Two
Variable
Df
1
2
3
4
5
6
8
10
12
15
20

0,95
0,994
0,902
0,771
0,656
0,569
0,500
0,399
0,332
0,283
0,232
0,179

0,99
1,000
0,980
0,920
0,841
0,764
0,696
0,585
0,501
0,437
0,367
0,288

0,95
0,998
0,951
0,865
0,776
0,699
0,632
0,527
0,450
0,393
0,329
0,259

Independent
Variable
0,99
1,000
0,990
0,953
0,901
0,841
0,785
0,684
0,602
0,536
0,458
0,370

untuk

25

0,145

0,237

0,213

0,308

Jika kenaikan didalam suatu variabel tersebut diikuti dengan kenaikan variabel
yang lain, maka dapat dikatakan bahwa kedua variabel tersebut mempunyai korelasi
positif. Tetapi kenaikan suatu variabel diikuti penurunan variabel yang lain, maka dapat
dikatakan kedua variabel tersebut mempunyai korelasi negatif. Jika tidak ada perubahan
pada suatu variabel walaupun variabel yang lain berubah.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ukuran yang digunakan untuk
mengukur derajat korelasi linier dinamakan koefisien korelasi, yang dinyatakan dengan
r dan didefinisikan sebagai berikut :

X1 X 2 X 2 X
X1 X 2 X 2 X 2

.............(3-59)

atau dapat dihitung dengan persamaan berikut :

X1 . X 2 X1 . X 2 / N
2
2
X1 X1 / N . X 2 X 2 / N
2

.....

(3-60)
kuadrat dari r menyatakan fraksi varian total yang dipindahkan oleh korelasi. Harga r
selalu terletak diantara -1 sampai +1, dimana untuk :
r = +1

menyatakan korelasi positif sempurna antara X1 dan X2

r = -1

menyatakan korelasi negatif sempurna antara X1 dan X2

r=0

menyatakan tidak ada korelasi antara X1 dan X2

B. Analisa Regresi
Analisa regresi adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan
kemungkinan bentuk hubungan variabel-variabel. Tujuan pokok dalam memperkirakan
nilai dari satu variabel dalam hubungannya dengan variabel yang lain yang telah
diketahui. Seperti juga pada analisa korelasi, maka dalam analisa regresi data akan
diperkirakan, terlebih dahulu harus digambarkan dalam diagram pencar. Selanjutnya dari
hubungan yang nampak dari diagram tersebut dapat ditentukan perkiraan bentuk

hubungan tersebut apakah hubungan garis lurus, kuadratik, eksponensial ataupun


logaritmik.
Didalam analisa regresi yang dibicarakan hanya hubungan antara variabel X dan
Y, mempunyai hubungan linier jika hubungan mereka dapat ditunjukkan dengan model
statis garis lurus sebagai berikut :
Yi = A + B . Xi + Ei

.............(3-61)

Dimana :
Yi

= Banyaknya nilai observasi dari variable random Y

Xi

= Banyaknya nilai observasi dari variable random X

= Konstanta regresi

= Konstanta korelasi

Ei

= Kesalahan acak yang dikaitkan dengan Yi untuk setiap harga Xi

Nilai A dan B dalam model diatas dikenal dengan parameter dari model, nilainya
hanya dapat ditentukan jika keseluruhan nilai populasi dari (x,y) diketahi, kebanyakan
nilai yang diketahui hanya nilai sample dari (x,y) sehingga nilai A dan B yang dapat
dihitung hanya nilai perkiraan saja. Misalnya nilai bo menunjukkan hasil estimasi untuk
A dan bi nilai estimasi untuk B, maka menentukan b o dan bi dapat menggunakan metode
kuadratik terkecil. Untuk memperkirakan harga A dan B dicapai dengan meminimumkan
jumlah kuadrat dari kesalahan.
n

i 1

i 1

Ei 2 yi A B.xi .....(3-62)
2

setelah persamaan (3-62) ini kita deferensialkan, maka dapat diperoleh dua persamaan
yang digunakan untuk memperkirakan harga bo dan bi, yaitu :
yi = n . bo + bi . xi

.............(3-63)

xi.yi = bo.xi + bi.xi2

.................(3-64)

kedua persamaan diatas dinamakan persamaan normal untuk garis lurus kuadrat terkecil.
Penyelesaian persamaan normal ini diperoleh dengan aturan Crammer yaitu dengan
menggunakan determinan atau dengan cara eleminasi atau substitusi sederhana.
Seandainya digunakan salah satu metode penyelesaian tersebut, maka akan diperoleh :

x . y x. y x
N x x .....(3-65)
N . x. y x y
b
...
N x x
2

bo

..(3-66)
Suatu ciri dari garis regresi adalah bahwa garis tersebut selalu melalui (x,y) harga
rata-rata dari semua data. Dengan kata lain (x,y) dan b1 mempengaruhi garis regresi.
Keadaan ini diperlihatkan pada persamaan berikut :
Bo = y b1.x

.(3-67)

Berdasarkan kenyataan ini, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga sumber
penyimpangan yang mempengaruhi regresi garis lurus, yaitu : penyimpangan disekitar
mean, penyimpangan disebabkan slope dan penyimpangan residu.
Variasi residu yang dinyatakan dengan penyimpangan harga observasi y dan
garis lurus, harus lebih kecil dari variasi yang disebabkan oleh slope, oleh karenanya
analisa ketiga penyimpangan ini yang lebih dikenal dengan analisa variasi, merupakan
jumlah kuadrat kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam regresi linier. Bila dinyatakan
dalam persamaan menjadi :

Residual sum of squares = y


2

y
N

b1.

x
y

x. y
N

...(3-

68)
Dimana :

y
2

b1.

= Jumlah kuadrat kesalahan disekitar harga rata-rata

x
y

x. y
N

= Jumlah kuadrat kesalahan dari slope garis lurus

variasi koefisien regresi b1 dapat diperkirakan dengan rumus :


2

Se
a b1

x x 2

Se

Dimana :

.........(3-69)

Se

= Standard error estimate yang dinyatakan dengan rumus :

Se

Re sidual sum of square


( N a ) 0 .5

...............................................................(3-70)

3.8.2. Metode Cut Off


Cut off reservoir didefinisikan sebagai suatu harga tertentu, dimana diatas atau
dibawah harga tersebut parameter reservoir tidak berlaku lagi untuk dipertimbangkan.
Penentuan cut off reservoir dilakukan dengan plot variabel-variabelnya pada kertas
kartesian sehingga didapatkan suatu trend garis lurus yang mewakili semua data dan
kemudian ditentukan cut off reservoir tersebut. Fungsi cut off reservoir adalah untuk
mengelimir nilai-nilai parameter reservoir yang dapat dianggap mempengaruhi potensi
sebagai bagian reservoir yang produktif dengan mempertimbangkan faktor ekonomi.
Cut off reservoir dapat ditentukan berdasarkan analisa data reservoir dengan
metode coring, well logging dan well testing.
Sedangkan parameter reservoir yang dapat ditentukan cut off-nya adalah :
1.

Cut Off Permeabilitas

2.

Cut Off Porositas

3.

Cut Off Saturasi air

4.

Cut Off Vclay

3.8.2.1. Penentuan Cut Off Porositas


Cut-off porositas didefinisikan sebagai suatu harga porositas dimana harga-harga
porositas dibawah harga tersebut tidak berlaku lagi untuk dipertimbangkan. Persen
kumulatif yang dipertimbangkan adalah persen kumulatif storage pada harga porositas
diatas harga porositas cut-off anggapan.
Porositas batuan berhubungan erat dengan permeabilitas batuan. Pada batuan
permeabel dapat dipastikan batuan tersebut porous, namun belum tentu batuan porous
tersebut permeabel. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa permeabilitas merupakan
fungsi dari porositas, k = f().
Y a b X .....................................(3-71)

Dimana bentuk diatas tidak linier bila diplot pada kertas grafik biasa, tetapi akan
linier apabila diplot pada kertas grafik semi log seperti Gambar 3.29 dan sesuai dengan
persamaan berikut :
Log Y Log a X Log b ...............(3-72)

Untuk mendapatkan konstanta a dan b maka digunakan persamaan least


squares sebagai berikut :

Y X X XY
.................(3-73)
N X X
N XY X X Y
b
.............(3-74)
N X X
2

Dengan memasukkan harga cut-off permeabilitas pada grafik hubungan antara


porositas dengan permeabilitas, maka cut-off permeabilitas tersebut akan memotong
trend garis linier, selanjutnya ditarik ke bawah sejajar dengan ordinatnya maka garis
tersebut memotong absisnya.
Perpotongan antara garis tersebut dengan absisnya akan mendapatkan harga cutoff porositas.

Gambar 3.29.
Plot Persamaan Garis Hubungan Permeabilitas dan Porositas
Serta Penentuan Cut-Off Porositas17)
3.8.2.2. Penentuan Cut Off Permeabilitas
Cut-off permeabilitas didefinisikan sebagai suatu harga permeabilitas, dimana
dibawah harga tersebut permeabilitas sudah tidak berlaku lagi untuk dipertimbangkan
dalam perhitungan. Penentuan cut-off permeabilitas dapat ditentukan dengan melakukan
plot antara persen kumulatif kh dari hasil well test versus data permeabilitas hasil
analisa core, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.30.
Dari data rekaman DST didapatkan harga kh untuk masing-masing ketebalan
dimana dilakukan test dengan menggunakan persamaan :
kh

qo Bo o
...............(3-75)
7.08 m

Cut-off permeabilitas didapatkan dengan cara membaca harga permeabilitas hasil


analisa core pada persen kumulatif kh, yang dalam contoh diatas adalah 2%, sehingga
didapat harga permeabilitas cut-off adalah 20 mD.

Gambar 3.30.
Plot Persen Kumulatif kh versus Permeabilitas9)
3.8.2.3. Penentuan Cut Off Saturasi Air
Cut-off saturasi air didefinisikan sebagai harga saturasi air dimana harga saturasi
air diatas harga tersebut tidak lagi dipertimbangkan. Cut-off saturasi air didapatkan dari
harga cut-off porositas.
Pada Gambar 3.31, harga-harga porositas diplot terhadap harga saturasi air pada
kertas kartesian, sehingga didapat suatu garis linier setelah terlebih dahulu dilakukan
interpolasi. Maka harga cut-off saturasi air pada titik perpotongan antara garis linier
dengan garis yang ditarik secara horizontal.

Gambar 3.31.
Penentuan Cut-Off Saturasi Air17)
3.8.2.4. Penentuan Cut Off Vclay
Cut-off Vclay didefinisikan sebagai harga Vclay dimana Vclay diatas harga tersebut
tidak lagi dipertimbangkan. Hasil penentuan cut-off porositas selain dapat digunakan
untuk menentukan cut-off saturasi air juga dapat digunakan untuk menetukan cut-off
Vclay, adapun prosedur penentuannya adalah:
1. Hasil defleksi kurva gamma ray log dan porositas hasil well logging pada koordinat
kartesian, dimana gamma ray unit sebagai ordinat dan porositas sebagai absisnya.
2. Data-data tersebut apabila dihubungkan secara interpolasi akan diperoleh trend garis
lurus.
3. Bila ditarik garis lurus keatas sejajar dengan ordinatnya, maka akan memotong garis
trend tersebut. Selanjutnya ditarik kekiri sejajar dengan absisnya, maka akan
memotong sumbu ordinatnya.

4. Dari titik perpotongan ini diperoleh harga cut-off gamma ray unit, seperti yang
terlihat pada Gambar 3.32.
5. Selanjutnya harga cut-off gamma ray unit tersebut dimasukkan kedalam persamaan :
Vclay

cut off

GRcut off GRmin


GRmax GRmin

...................(3-76)

Gambar 3.32.
Penentuan Net Pay dengan Parameter Cut-Off Reservoir17)
3.9. Teori Dasar Software Interactive Petrophysics
Interactive Petrophysics adalah software yang digunakan untuk menginterpretasi
log baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Interactive Petrophysics data dasarnya
berupa chart log.

Data yang diperlukan antara lain :

Data core seperti permeabilitas core (k core), porositas core ( core), konstanta
batuan (a), faktor sementasi batuan (m), dan faktor eksponen saturasi (n).

Data analisa air formasi yaitu resistivitas air formasi (Rw).

Data pada header log seperti resistivitas lumpur (Rm), resistivitas filtrat lumpur
(Rmf), temperatur maksimum (Tmaks).

Hasil yang didapatkan yaitu :


A. Dapat menentukan lithologi batuan.
B. Dapat mengetahui zona porous permeabel.
C. Dapat menentukan parameter-parameter fisik reservoir seperti volume clay
(Vclay), porositas total clay (tclay), porositas total (t), porositas efektif (e),
saturasi air sisa (Swirr), permeabilitas (k).